Anda di halaman 1dari 8

Available online at AL-KAUNIYAH: Journal of Biology

Website: http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/kauniyah
AL-KAUNIYAH; Journal of Biology, 12(1), 2019, 38-45

FITOREMEDIASI DENGAN WETLAND SYSTEM MENGGUNAKAN ECENG


GONDOK (Eichhornia crassipes), GENJER (Limnocharis flava), DAN
SEMANGGI (Marsilea crenata) UNTUK MENGOLAH AIR LIMBAH
DOMESTIK
PHYTOREMEDIATION BY WETLAND SYSTEM USING WATER HYACINTH (Eichhornia
crassipes), GENJER (Limnocharis flava), AND CLOVER (Marsilea crenata) FOR DOMESTIC
WASTE WATER TREATMENT
Iin Inayatun Nadhifah*, Putri Fajarwati, Eka Sulistiyowati
Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jl. Marsda Adi Sucipto Yogyakarta 55281
*Corresponding author: inayatunnadhifah@yahoo.com

Naskah Diterima: 14 Mei 2018; Direvisi: 05 September 2018; Disetujui: 28 November 2018

Abstrak
Semakin banyaknya pemukiman yang dibangun di bantaran sungai di Yogyakarta membuat sungai
tercemar limbah rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas tanaman eceng
gondok (Eichhornia crassipes), genjer (Limnocharis flava), dan semanggi (Marsilea crenata)
sebagai fitoremediator dengan wetland system dalam pengolahan air limbah domestik. Tahap
pelaksanaan penelitian fitoremediasi diawali dengan pengukuran parameter air limbah yaitu pH,
suhu, DO, BOD, dan TDS. Setelah itu, dilakukan aklimatisasi tanaman pada reaktor yang berisi air
dan wetland selama 1 minggu. Terdapat empat perlakuan (P1, P2, P3, dan P4) yang digunakan,
yaitu P1: air limbah + wetland (sebagai kontrol), P2: air limbah + wetland + 1 eceng gondok, P3: air
limbah + wetland + 1 genjer, P4: air limbah + wetland + 1 semanggi. Terdapat 2x pengulangan
selama masa retensi 12 hari, 2 variasi pengenceran yaitu 10x dan 100x. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tanaman genjer mampu meningkatkan kadar DO sebesar 50% dan
menurunkan kadar BOD sebesar 78%, serta tanaman semanggi mampu menurunkan kadar TDS
sebesar 41,4%. Angka ini mencerminkan bahwa penggunaan tanaman-tanaman tersebut memiliki
potensi besar dalam membantu pemurnian air.
Kata kunci: Fitoremediasi; Limbah domestik; Wetland system

Abstract
The increasing number of settlements built along the river banks in Yogyakarta resulted in household waste
entering the river. This study aims at determining the effectiveness of water hyacinth (Eichhornia crassipes),
genjer (Limnocharis flava), and clover (Marsilea crenata) as phytoremediators, in a wetland system. Firstly,
wastewater parameters such as pH, temperature, DO, BOD, and TDS are measured. After that, plants were
acclimatized in the reactors containing water and substrate derived from a wetland for 7 days. There were
four treatments applied in this research (P1, P2, P3, and P4), P1: wastewater + wetland (as control), P2:
wastewater + wetland + 1 water hyacinth, P3: wastewater + wetland + 1 genjer, P4: wetland water +
wetland + 1 clover. Each treatment was replicated twice during the 12 days retention period, and 2
variations of dilution of 10x and 100x. The results indicated that genjer plant was capable of increasing the
DO level by 50% and lowering the BOD level by 78%, and the clover plant was able to decrease the TDS
level by 41.4%. Those results reveal that the use of the plants has huge potential in helping water
purification.
Keywords: Domestic wastewater; Phytoremediation; Wetland system
Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/kauniyah.v12i1.7792

Copyright © 2019, AL-KAUNIYAH: Journal of Biology,


P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720
AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 12(1), 2019

PENDAHULUAN yang disebut dengan fitoremediasi. Fito-


Berdasarkan keadaan geografisnya, remediasi merupakan pemanfaatan tanaman
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan asosiasinya dengan mikroorganisme untuk
memiliki luas wilayah terkecil kedua di mengurangi, mendegradasi, ataupun meng-
Indonesia. Luas wilayahnya hanya mencapai isolasi bahan pencemar lingkungan (Favas et
3.185,80 km2 atau 0,17% dari seluruh wilayah al., 2014). Adanya penggunaan tanaman
daratan NKRI (Mutijo et al., 2016). Jumlah menjadikan teknik fitoremediasi lebih ramah
penduduknya mencapai 3.679.176 jiwa dengan lingkungan dan mampu menambah estetika
kepadatan sebesar 1.174,3 tiap km2 pada tahun serta murah dan mudah diterapkan (Moosavi &
2015. Kepadatan penduduk DIY menempati Mohamd, 2013).
peringkat ke-4 terpadat dari seluruh daerah di Beberapa tanaman yang dapat digunakan
Indonesia (Kementerian Kesehatan, 2015). sebagai agen fitoremediator antara lain
Kepadatan jumlah penduduk tersebut berakibat Eichhornia crassipes (eceng gondok).
pada padatnya pemukiman. Hal tersebut juga Tanaman ini mampu tumbuh pada perairan
memicu adanya pembangunan pemukiman di tercemar dan mampu menghasilkan biomassa
bantaran sungai. Akibatnya, sungai menjadi (Rai & Singh, 2016), Limnocharis flava
tercemar karena dijadikan tempat pembuangan (genjer), dan Marsilea crenata (semanggi)
limbah rumah tangga. yang mampu mendeteksi adanya logam Pb dan
Kandungan limbah pencemar air antara meng-akumulasinya (Nurhayati et al., 2015).
lain dapat berupa logam berat, bakteri fecal Masing-masing tanaman memiliki kemampuan
coliform, fosfat, sodium, nitrogen, virus, dan yang berbeda-beda dalam mengurangi tingkat
bakteri patogen yang dapat mengganggu pencemaran air, salah satunya adalah tanaman
kesehatan masyarakat dan memengaruhi genjer, berdasarkan penelitian Kamarudzaman
ekosistem perairan (Botkin & Edward, 2011). et al. (2011), tanaman ini mampu meng-
Kandungan bahan pencemar tersebut dalam akumulasi nutrien (HN3-N dan PO4-P) dan
kadar tertentu dapat dijadikan sebagai indikator logam berat (Fe dan Mn) dari polutan air
kualitas air. Indikator kualitas air selain bahan paling optimal pada jaringan akar. Kemampu-
pencemar adalah biological oxygen demand an tanaman-tanaman tersebut dibandingkan
(BOD) dan dissolved oxygen (DO) untuk mengetahui keefektifan masing-masing
(Cunningham & Mary, 2010). BOD sebagai agen fitoremediator pada penelitian ini.
merupakan jumlah oksigen yang digunakan Fitoremediasi dapat dilakukan meng-
oleh dekomposer untuk memecah bahan gunakan sistem lahan basah (wetland system).
organik dalam jumlah tertentu (Enger & Sistem wetland buatan ini merupakan bentuk
Bradley, 2009). DO merupakan kandungan tiruan dari proses penjernihan air yang terjadi
oksigen terlarut dalam air yang mendukung di rawa, dimana tumbuhan air (Hydrophita)
kelangsungan hidup berbagai jenis organisme yang hidup di rawa tersebut memegang
akuatik (Cunningham Mary, 2010). peranan penting dalam mengembalikan
Indikator lain dapat berupa total kualitas air (Mardianto et al., 2014).
dissolved solid (TDS) dan total suspended
solid (TSS). TDS merupakan ukuran zat MATERIAL DAN METODE
organik maupun anorganik yang terlarut pada Penelitian ini dilakukan pada bulan
suatu perairan (Agustira et al., 2013). TSS Oktober-November 2016 di Laboratorium
merupakan padatan yang tersuspensi (tidak Terpadu UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Alat
terlarut) dalam air. Padatan ini terdiri atas yang digunakan dalam penelitian ini adalah 16
lumpur, pasir halus, serta jasad-jasad renik ember plastik berukuran diameter 40 cm dan
yang disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi tinggi 20 cm, termometer, indikator pH
yang masuk ke dalam perairan (Alaert, 1994). universal, TDS meter, seperangkat alat titrasi
Indikator-indikator penentu kualitas air DO, dan botol gelap, sedangkan bahan-bahan
tersebut memiliki nilai yang berbeda-beda yang dibutuhkan yaitu air limbah rumah tangga
dimana air dapat dikatakan tercemar atau tidak. dari Sungai Gajah Wong Yogyakarta, air,
Air yang tercemar dapat dikurangi kadar tanah sawah sebagai wetland yang diambil dari
bahan pencemarnya dengan salah satu teknik

39 | Copyright © 2019. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 12(1), 2019

sawah daerah Nologaten-Sleman-Yogyakarta, daerah Banguntapan-Bantul-Yogyakarta di-


tanaman eceng gondok, semanggi, dan genjer. pilih yang seragam ukurannya, dibersihkan
dari kotoran yang menempel di akarnya.
Rancangan Percobaan Kemudian, tanaman diaklimatisasi dengan cara
Percobaan dilakukan menggunakan sim- ditanam pada reaktor dari ember yang berisi air
pel random desain, dengan total keseluruhan dan wetland. Tanaman masing-masing di-
rancangan penelitian dengan 4 perlakuan, 2 aklimatisasi selama 1 minggu dan diamati
variasi pengenceran, dan 2 waktu pengukuran. pertumbuhannya (Ratnani et al., 2010).
Pada penelitian ini diterapkan 4 perlakuan,
perlakuan I (air limbah + wetland), perlakuan Pengukuran Parameter Air Limbah
II (air limbah + wetland + 1 eceng gondok), Air limbah yang diukur berasal dari dua
perlakuan III (air limbah + wetland + 1 genjer), outlet yang berbeda. Limbah yang diambil dari
dan perlakuan IV (air limbah + wetland + 1 outlet A disebut limbah A dan yang diambil
semanggi). Perlakuan I digunakan sebagai dari outlet B disebut limbah B. Keduanya
kontrol, karena tidak ada treatment fito- sama-sama merupakan air limbah rumah
remediasi. Penentuan jumlah tanaman pada tangga. Perbedaannya hanya terletak pada
setiap perlakuan didasarkan pada jurnal dari sumber air limbah tersebut berasal. Keduanya
Taner dan Vivian (1997) yang menyatakan diambil dari dua sumber pembuangan limbah
bahwa kerapatan tanaman untuk perlakuan berbeda yang sama-sama dialirkan ke sungai
wetland adalah 4 tanaman tiap meter persegi. Gajah Wong Yogyakarta. Pengambilannya
Reaktor yang akan digunakan berukuran luas dilakukan dalam waktu yang sama, yaitu pagi
0,23 m2, sehingga jumlah tanaman yang hari. Setelah itu masing-masing limbah baik
digunakan sebanyak 1 tanaman. Penentuan 1 dari outlet A maupun outlet B diukur
tanaman berdasarkan kelengkapan bagian parameter pH menggunakan indikator pH
tubuhnya. Tanaman yang dipilih merupakan universal, suhu menggunakan termometer,
tanaman yang lengkap bagian tubuhnya, yaitu TDS menggunakan TDS meter, serta DO dan
terdapat akar, batang, dan daun. Tanaman yang BOD menggunakan metode titrasi Mikro
digunakan hanya diambil 1 roset akar yang Winkler (APHA, 1999).
bagian tubuhnya lengkap. Pengenceran yang Suhu diukur dengan menggunakan
dilakukan dibuat 2 variasi, yaitu pengenceran termometer air. Termometer dicelupkan ke
10x dan 100x. Pengenceran 10x artinya 11 mL dalam air limbah pada masing-masing bak
sampel air limbah diencerkan dengan 99 mL perlakuan dan kontrol sampai diketahui
air pengencer. Sedangkan untuk pengenceran suhunya. Kemudian hasilnya dicatat. pH
100x, hasil dari pengenceran 10x tersebut diukur dengan menggunakan indikator pH
diambil 11 mL kemudian diencerkan kembali universal.
dengan 99 mL air pengencer (HACH Pengukuran DO dilakukan dengan
Company, 2007). Untuk masa retensi di- metode Micro Winkler menurut Silalahi
lakukan selama 12 hari dengan waktu (2010). Prinsip pengukuran BOD yaitu
pengukuran parameter 2x yaitu pada hari ke-6 mengukur kandungan oksigen terlarut awal
dan ke-12. Penentuan masa retensi didasarkan (DOi) dari sampel segera setelah pengambilan
pada penelitian Syuhaida et al. (2014) yang contoh, kemudian meng-ukur kandungan
menyatakan bahwa waktu normal untuk oksigen terlarut pada sampel yang telah
mengetahui efek akumulasi polutan terhadap diinkubasi selama 5 hari pada kondisi gelap
tanaman pada treatment fitoremediasi yaitu 10 dan suhu tetap (20 C) yang disebut dengan
hari. Sedangkan waktu pengukuran pada hari DO5. Selisih DOi dan DO5 (DOi-DO5)
ke-6 didasari dari hasil penelitian Sitompul et merupakan nilai BOD yang dinyatakan dalam
al. (2013) yang menyatakan bahwa tanaman miligram oksigen per liter (mg/L) (Agustira et
eceng gondok efektif untuk mengolah air al., 2013). Satuan mg/L bisa juga dinyatakan
limbah dengan waktu kontak 6 hari. dalam part per million (ppm) karena memiliki
nilai yang sama (Boguski, 2006). Pengukuran
Aklimatisasi TDS dilakukan menggunakan alat TDS meter.
Tanaman eceng gondok, genjer, dan
semanggi yang diambil dari lingkungan di

Copyright © 2019. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720 | 40


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 12(1), 2019

Analisis Data fitoremediator. Peningkat-an DO tersebut


Teknik analisis data yang digunakan mencapai 2,5 ppm (50%), dari sebelum
adalah secara deskriptif. Data hasil pengukuran perlakuan sebesar 2,5 ppm (Tabel 1) menjadi 5
parameter dibandingkan dengan parameter ppm setelah perlakuan. Perlakuan dengan
baku mutu air limbah cair domestik sesuai genjer untuk air limbah pengenceran 10x juga
Keputusan Menteri Negara No. 82 tahun 2001 mengalami peningkatan dari 2,5 ppm menjadi
tentang baku mutu air limbah domestik dan 4,6 ppm. Peningkatan tersebut masih lebih
Peraturan Daerah Kota Yogyakarta No. 7 tahun tinggi dibandingkan perlakuan meng-gunakan
2016 tentang baku mutu air limbah. Efektivitas tanaman semanggi (4,4 ppm pada pengenceran
tanaman dapat diketahui melalui data yang 10x) dan eceng gondok (4,4 ppm pada
dihasilkan dari pengukuran parameter air pengenceran 100x).
limbah setelah dilakukan treatment
fitoremediasi. Tanaman yang paling efektif Biological Oxygen Demand (BOD)
adalah tanaman yang mampu menurunkan Penurunan BOD tertinggi terdapat pada
kadar TDS, meningkatkan kadar DO, dan perlakuan limbah cair pengenceran 10x dengan
menurunkan kadar BOD paling tinggi tanaman genjer sebagai agen fitoremediator.
dibandingkan tanaman lain. Kadar penurunan BOD pada perlakuan tersebut
mencapai 5,5 ppm yaitu dari kadar awal 7 ppm
HASIL (Tabel 1) menjadi 1,5 ppm pada perlakuan hari
Penelitian fitoremediasi dengan wetland ke-12 (Gambar 2).
system dilakukan untuk mengolah air limbah
domestik dari perumahan di bantaran Sungai Total Dissolved Solid (TDS)
Gajah Wong Yogyakarta menggunakan Kadar TDS terendah terdapat pada
tanaman genjer, eceng gondok, dan semanggi. kontrol pengenceran 10x dengan penurunan
Pengukuran parameter limbah tersebut sebesar 171 ppm. Perlakuan fitoremediasi
dilakukan sebelum dan setelah dilakukan menggunakan tanaman semanggi pengenceran
treatment fitoremediasi. Hasil pengukuran 100x juga menunjukkan penurunan kadar TDS
parameter dapat dilihat pada Tabel 1. lebih besar dibandingkan perlakuan yang lain,
Hasil pengukuran parameter air limbah walaupun masih lebih rendah dibandingkan
domestik pada Tabel 1 selanjutnya dijadikan kontrol (Gambar 3). Penurunan kadar TDS
acuan untuk mengetahui kualitas air limbah tersebut sebesar 164,5 ppm (41,4%) dari kadar
setelah melalui proses fitoremediasi wetland awal 397,5 ppm (Tabel 1) menjadi 233 ppm
system dengan masa retensi selama 12 hari. Air setelah perlakuan fitoremediasi dengan
limbah yang digunakan dalam fitoremediasi wetland system.
dengan wetland system merupakan air limbah
campuran limbah A dan limbah B dengan Suhu
perbandingan 1:1. Sehingga, yang dijadikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa
acuan adalah parameter campuran dari limbah perubahan suhu sebelum perlakuan (Tabel 1)
A dan B. Berikut ini merupakan hasil dan setelah perlakuan (Gambar 4) masih dalam
pengukuran parameter limbah dengan 8 rentang normal, yaitu antara 28–29 C.
perlakuan fitoremediasi dengan wetland system Rentang suhu tersebut juga berlaku untuk air
pada hari ke-12: tawar.

Dissolved Oxygen (DO) pH


Setelah dilakukan treatment Hasil pengukuran pH pada hari ke-12 dari
fitoremediasi selama 12 hari, terjadi semua perlakuan limbah menggunakan genjer,
peningkatan kadar DO dari kisaran 2–3 ppm eceng gondok, semanggi, maupun kontrol
sebelum perlakuan (Tabel 1) menjadi kisaran dengan variasi pengenceran 10x dan 100x
3–5 ppm setelah perlakuan (Gambar 1). menunjukkan nilai 7. Hasil tersebut
Peningkatan DO tertinggi terdapat pada menunjukkan tingkat penurunan yang konstan,
perlakuan air limbah dengan pengenceran 100x yaitu dari pH sebelum perlakuan sebesar 8
menggunakan genjer sebagai agen (Tabel 1) menjadi 7 setelah perlakuan.

41 | Copyright © 2019. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 12(1), 2019

Tabel 1. Karakteristik awal air limbah domestik dari perumahan di bantaran Sungai Gajah Wong
Yogyakarta sebelum dilakukan treatment
Parameter
Limbah
pH Suhu (C) TDS (ppm) DO (ppm) BOD (ppm)
A 8,00 29,10 405,00 3,00 10,00
B 8,00 29,00 390,00 2,00 4,00
Campuran A & B 8,00 29,05 397,50 2,50 7,00
Keterangan: Limbah A: air limbah domestik dari outlet A; Limbah B: air limbah domestik dari outlet B

Gambar 1. Kadar DO treatment fitoremediasi limbah cair domestik dari perumahan di bantaran
Sungai Gajah Wong Yogyakarta pada hari ke-12
Keterangan perlakuan limbah dengan variasi pengenceran: a. kontrol (10x), b. kontrol
(100x), c. genjer (10x), d. genjer (100x), e. eceng gondok (10x), f. eceng gondok
(100x), g. semanggi (10x), h. semanggi (100x)

Gambar 2. Kadar BOD treatment fitoremediasi limbah cair domestik dari perumahan di bantaran
Sungai Gajah Wong Yogyakarta pada hari ke-12
Keterangan perlakuan limbah dengan variasi pengenceran: a. kontrol (10x), b. kontrol
(100x), c. genjer (10x), d. genjer (100x), e. eceng gondok (10x), f. eceng gondok
(100x), g. semanggi (10x), h. semanggi (100x)

Gambar 3. Kadar TDS treatment fitoremediasi limbah cair domestik dari perumahan di bantaran
Sungai Gajah Wong Yogyakarta pada hari ke-12
Keterangan perlakuan limbah dengan variasi pengenceran: a. kontrol (10x), b. kontrol
(100x), c. genjer (10x), d. genjer (100x), e. eceng gondok (10x), f. eceng gondok
(100x), g. semanggi (10x), h. semanggi (100x). Pengenceran 100x pada semanggi
memiliki kadar TDS lebih rendah daripada pengenceran 10 x, berbeda dengan
perlakuan lainnya

Copyright © 2019. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720 | 42


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 12(1), 2019

Gambar 4. Kadar suhu treatment fitoremediasi limbah cair domestik pada hari ke-12
Keterangan perlakuan limbah dengan variasi pengenceran: a. kontrol (10x), b. kontrol
(100x), c. genjer (10x), d. genjer (100x), e. eceng gondok (10x), f. eceng gondok
(100x), g. semanggi (10x), h. semanggi (100x)

PEMBAHASAN suhu normal air di perairan Indonesia pada


Menurut Etim (2012), fitoremediasi umumnya berkisar antara 28–31 C. Rentang
sudah ada sejak 1991 untuk menjelaskan suhu tersebut juga berlaku untuk air tawar.
kegunaan tanaman dalam mengurangi volume, Berdasarkan hasil penelitian Irwan et al.
mobilitas, maupun toksisitas dari kontaminan (2017) suhu yang berkisar antara 26–31 C
dalam tanah, air tanah, maupun media lainnya. masih tergolong normal dan tidak
Hasil fitoremediasi yang peneliti lakukan membahayakan kehidupan biota akuatik
diketahui dengan membandingkan hasil karena masih di bawah lethal temperature (35–
pengukuran parameter air sebelum treatment 40 C).
dan setelah treatment. Hasil yang disajikan Pengukuran TDS pada limbah A meng-
dalam Tabel 1, menunjukkan pH dengan nilai hasilkan nilai sebesar 405 ppm dan limbah B
8 yang berarti air limbah domestik cenderung sebesar 390 ppm. Secara umum, TDS
basa. Menurut Wirawan et al. (2014), nilai pH merupakan garam inorganik, zat-zat organik,
yang cenderung basa dapat disebabkan dan material lain yang terlarut di dalam air
masuknya zat yang bersifat basa yang berasal (Scannell & Laura, 2001). Standar nilai TDS
dari sabun, shampoo, maupun deterjen. Hal ini untuk air tawar adalah 100–1000 ppm
karena sampel air limbah yang diukur berasal (Stephanie, 2012). Sehingga hasil pengukuran
dari outlet rumah warga yang memang dalam menunjukkan nilai normal. Setelah dilakukan
aktifitas sehari-hari tidak terlepas dari peng- treatment fitoremediasi selama 12 hari, hasil-
gunaan sabun, shampoo, dan deterjen. pH nya menunjukkan bahwa terjadi penurunan
merupakan ukuran keasaman ataupun kadar TDS pada setiap perlakuan (Gambar 3).
alkalinitas suatu perairan (Stephanie, 2012). Kadar oksigen terlarut juga sangat
pH pada suatu perairan dipengaruhi oleh memengaruhi kehidupan organisme akuatik.
aktivitas fotosintesis tumbuhan air, suhu, dan Hasil pengukuran DO pada limbah A dan
salinitas (Azis, 2013). limbah B tidak berbeda jauh. Limbah A
Hasil pengukuran parameter suhu memiliki kadar DO sebesar 3 ppm dan limbah
menunjukkan bahwa suhu air limbah sebesar B sebesar 2 ppm. Setelah dilakukan treatment
29,1 C dan 29 C masih dalam kisaran fitoremediasi selama 12 hari, terjadi
normal. Suhu air limbah tersebut dipengaruhi peningkatan kadar DO dari kisaran 2–3 ppm
oleh sinar matahari, karena waktu pengambilan sebelum perlakuan (Tabel 1) menjadi kisaran
sampel sekitar jam 8–10 pagi dimana intensitas 3–5 ppm setelah perlakuan. Berdasarkan hasil
cahaya matahari pada jam-jam tersebut mulai penelitian di atas, peningkatan tersebut
meningkat (Wijayanto & Nurunnajah, 2012). menunjukan perubahan status kualitas air dari
Setelah dilakukan treatment fitoremediasi tercemar sedang menjadi tercemar ringan
selama 12 hari, terjadi perubahan suhu, yang (Gambar 1) (Silalahi, 2010).
masih dalam rentang normal juga yaitu antara Parameter selanjutnya yang diukur
28–29 C (Gambar 4). Menurut Patty (2013), setelah parameter DO adalah BOD5. Hasil

43 | Copyright © 2019. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 12(1), 2019

pengukuran BOD5 untuk limbah A sebesar 10 Azis, H. (2013). Analisis kualitas perairan
ppm, sangat berbeda jauh dengan limbah B untuk pemanfaatan Pantai Boe sebagai
sebesar 4 ppm (Tabel 1). BOD diartikan tempat wisata pemandian pada musim
sebagai banyaknya oksigen yang dibutuhkan barat di Desa Mappakalompo Kecamatan
oleh mikroorganisme untuk memecah bahan Galesong Kabupaten Takalar (Skripsi).
organik dalam kondisi aerobik (Salmin, 2005). Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas
Seperti halnya hasil pengukuran DO, Hasanuddin, Makassar.
berdasarkan status kualitas air, hasil Boguski, T. K. (2006). Understanding units of
pengukuran BOD limbah awal sebelum measurement. (2006, October). Retrieved
perlakuan (Tabel 1) tergolong tercemar sedang. from https://cfpub.epa.gov.
Status kualitas air tersebut yaitu BOD ≥15 ppm Botkin, D. B., & Edward, A. K. (2011).
tergolong tercemar berat; 5,114,9 ppm Environmental science, earth as a living
tercemar sedang; 3,05,0 ppm tercemar ringan; planet. United State of America: John
dan BOD ≤2,9 ppm tidak tercemar (Silalahi, Wiley and Sons, Inc.
2010). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cunningham, W., & Mary, C. (2010).
nilai BOD mengalami penurunan setelah Principle of environmental science. New
perlakuan fitoremediasi dengan wetland system York: The McGraw-Hill Companies.
selama 12 hari (Gambar 2). Penurunan BOD Enger, E. D., & Bradley, F. S. (2009).
tersebut menunjukkan perubahan status Environmental science, a study of
kualitas air dari tercemar sedang menjadi interrelationships. New York: The
tercemar ringan, kecuali kontrol dengan McGraw-Hill Companies.
pengenceran 100x (6,25 ppm) masih Etim, E. E. (2012). Phytoremediation and its
menunjukkan tercemar sedang. mechanisms: a review. International
Journal of Environment and Bioenergy,
SIMPULAN 2(3), 120-136.
Tanaman Limnocharis flava (genjer), Favas, P. J. C., Joao, P., Mayank, V., Rohan,
Eichhornia crassipes (eceng gondok), D., & Manoj, S. P. (2014).
Marsilea crenata (semanggi) efektif sebagai Phytoremediation of soils contaminated
agen fitoremediator dengan wetland system with metals and metalloids at mining
dalam pengolahan air limbah domestik. areas: potential of native flora. (2014).
Namun, keefektifan ketiga tanaman tersebut Retrieved from http://creative
berbeda-beda. Tanaman genjer mampu me- commons.org/licenses/by/3.0.
ningkatkan kadar DO sebesar 50% dan me- HACH Company. (2007). MPN dilutions
nurunkan kadar BOD sebesar 78%. Sedangkan guidelines, serial dilutions method. USA:
tanaman semanggi lebih efektif dalam Hach Company/ Hach Lange GmbH.
menurunkan kadar TDS yaitu sebesar 41,4%. Kamarudzaman, A. N., Mohd, A. H. Z.,
Roslaili, A. A., & Mohd, F. A. J. (2011).
REFERENSI Study the accumulation of nutrients and
Agustira, R., Lubis, K. S., & Jamilah. (2013). heavy metals in the plant tissues of
Kajian karekteristik kimia air, fisika air Limnocharis flava planted in both
dan debit sungai pada kawasan DAS vertical and horizontal subsurface flow
Padang akibat pembuangan limbah constructed wetland. In (Ed.), .
tapioka. Jurnal Online Agroteknologi, International Conference on
1(3), 617-618. Environment and Industrial Innovation
Alaert, S. S. S. (1994). Metoda penelitian air. IPCBEE Vo.12. Singapore.
Surabaya: Penerbit Usaha Nasional. Irwan, M., Alianto., & Yori, T. T. (2017).
APHA. (1999). Standard methods for the Kondisi fisik kimia air sungai yang
examination of water and wastewater. bermuara di Teluk Sawaibu Kabupaten
America: American Public Health Manokwari. Jurnal Sumberdaya Akuatik
Association, American Water Works Indopasifik, 1(1), 86.
Association, Water Environment
Federation.

Copyright © 2019. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720 | 44


AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, 12(1), 2019

Kementerian Kesehatan. (2015). Ringkasan Scannell, P. W., & Laura, L. J. (2001). Effects
eksekutif data dan informasi kesehatan of total dissolved solids on aquatic
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. organisms. Alaska: Alaska Department
Yogyakarta: Kementerian Kesehatan. of Fish and Game Restoration.
Mardianto, W., Apriani, I., & Hayati, R. Silalahi, J. (2010). Analisis kualitas air dan
(2014). Pengolahan limbah cair rumah hubunganya dengan keanekaragaman
makan menggunakan sistem kombinasi vegetasi akuatik di Perairan Balige
ABR dan wetland dengan sistem kontinu. Danau Toba (Pascasarjana Tesis).
Jurnal Mahasiswa Teknik Lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu
UNTAN, 1(1), 3. Pengetahuan Alam, Sekolah Pasca
Moosavi, S. G., & Mohamd, J. S. (2013). Sarjana Universitas Sumatera Utara,
Phytoremediation: a review. Journal Medan.
Advance in Agriculture and Biology, Sitompul, D. F., Mumu, S., & Kancitra, P.
1(1), 5-11. (2013). Pengolahan limbah cair Hotel
Mutijo., Kusriatmi., Suryono., Gita, O., Fitri, Aston Braga City Walk dengan proses
P. A., & Nurita. (2016). Analisis fitoremediasi menggunakan tumbuhan
informasi statistik pembangunan Daerah eceng gondok. Jurnal Institut Teknologi
Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta: Nasional, 1(2), 10.
Badan Perencanaan Pembangunan Stephanie. (2012). Water quality parameters
Daerah-Badan Pusat Statistik Daerah and indicators. New South Wales:
Istimewa Yogyakarta. Namoi Catchment Management
Nurhayati, A. Y., Hariadi, Y. C., & Lestari, P. Authority, Water Watch New South
(2015). Early detection of lead stress on Wales.
Marsilea crenata using biolectricity Syuhaida, A. W. A., Norkhotijah, S. I. S.,
measurement. Elsevier Procedia Pravena, S. M., & Awang, S. (2014). The
Environmental Sciences, 28(2015), 57- comparison of phytoremediation abilities
66. of water mimosa and water hyacinth.
Patty, S. I. (2013). Distribusi suhu, salinitas ARPN Journal of Science and
dan oksigen terlarut di Perairan Kema, Technology, 4(12), 728. ISSN: 2225-
Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Platax, 7217.
1(3), 150. Taner, C. C., & Vivian, C. K. (1997).
Rai, P. K., & Singh, M. M. (2016). Eichhornia Guidelines for constructed wetland
crassipes as a potential phytoremediation treatment of farm dairy wastewaters in
agent and an important biosource for New Zealand. NIWA Science and
Asia Pasific Region. Article of Technology Series, (48), 42.
Environmental Skeptics and Critics, 5(1), Wijayanto, N., & Nurunnajah. (2012).
12-19. Intensitas cahaya, suhu, kelambaban, dan
Ratnani, R. D., Indah, H., & Laili, K. (2010). perakaran lateral mahoni (Swietenia
Pemanfaatan eceng gondok (Eichornia macrophylla King.) di RPH Babakan
crassipes) untuk menurunkan kandungan Madang, BKPH Bogor, KPH Bogor.
COD (chemical oxygen demand), pH, Jurnal Silvikultur Tropika, 03(01), 8-13.
bau, dan warna pada limbah cair tahu Wirawan, W. A., Ruslan, W., & Liliya, D. S.
(Laporan Penelitian Terapan). Fakultas (2014). Pengolahan limbah cair domestik
Teknik, Universitas Wahid Hasyim, menggunakan tanaman kayu apu (Pistia
Semarang. stratiotes L.) dengan teknik tanam
Salmin. (2005). Oksigen terlarut (DO) dan hidroponik sistem DFT (deep flow
kebutuhan okigen biologi (BOD) sebagai technique). Jurnal Sumber Daya Alam
salah satu indikator untuk menentukan dan Lingkungan, 1(2), 68.
kualitas perairan. Jurnal Oseana
(Majalah Ilmiah Semi Populer), XX(3),
21-26.

45 | Copyright © 2019. AL-KAUNIYAH: Journal of Biology, P-ISSN: 1978-3736, E-ISSN: 2502-6720