Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

L
DENGAN DIAGNOSA MEDIS HM ( HEMATEMESIS MALENA) DI
RUANG JEMPIRING RSUD KABUPATEN BULELENG PADA
TANGGAL 04 APRIL 2019

KOMANG KRISMONITA
NIM. 17089014048

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BULELENG


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
2019
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. M
DENGAN DIAGNOSA MEDIS HM ( HEMATEMESIS MALENA) DI
RUANG JEMPIRING RSUD KABUPATEN BULELENG PADA
TANGGAL 04 APRIL 2019

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Definisi
Pengertian Hematemesis adalah muntah darah yang disebabkan oleh
adanya perdarahan saluran makan bagian atas. Warna hematemesis
tergantung pada lamanya hubungan atau kontak antara darah dengan asam
lambung dan besar kecilnya perdarahan, sehingga dapat berwarna seperti
kopi atau kemerah-merahan dan bergumpal-gumpal. (Menurut Sjaifoellah
Noer, dkk, 1996). Hematemesis adalah muntah darah dan melena adalah
pengeluaran feses atau tinja yang berwarna hitam sepert iter
(MenurutSoeparman, 1997).
Hemetemesis melena adalah suatu kondisi dimana pasien menglami
munth darah yang diserti dengan buang air besar dan berwarna hitam.
Hematemesis melana merupakan suatu pendarahan yang terjadi pada
saluran cerna pada bagian atas dan merupakan kedaan gawat darurat yang
sering di jumpai di rumah sakit di seluruh rumah sakit di dunia.

2. Epidemiologi
Di Indonesia sebagian besar (70-80%) perdarahan SCBA berasal
dari pecahnya varises esophagus karena sirosis hati. Dari 1673 kasus
pedarahan saluran cerna bagiantas di SMF penyakit dalam RSU dr.Soetomo
Surabaya penyebabnya 76,9%, pecahnya varises esofagus,19,2% gastritis
esofagus, 1% tukakpeptik, 0,6% tukak lambung, dan 2,6% karena sebab-
sebab lain. Laporandari RS pemerintah di  jakarta,bandung,dan Jogjakarta
urutan ke-3 terbanyak perdarahan SCBA sama dengan RSU dr.Soetomo
Surabaya .sedangkan laporan RS di ujung pandang tukak peptic menempati
urutan pertama penyebab pertama perdarahan SCBA. Di Negara barat ,
tukak peptic menempati urutan pertama penyebab perdarahan SCBA
dengan frekwensi sebesar 50% walaupun pengelolaan SCBA telah
berkembang namun mortalitasnya relative tidak berubah ,masih sekitar 80%
hal ini dikarenakan kasus perdarahan dengan usia lanjut dan akibat
komorbiditas yang menyertai.
3. Etiologi
Hematemesis terjadi bila ada perdarahan di daerah proksimal jejunum.
Paling sedikit terjadi perdarahan sebanyak 50-100 ml, baru dijumpai keadaan
melena. Banyaknya darah yang keluar selama hematemesis atau melena sulit
dipakai sebagai patokan untuk menduga besar kecilnya perdarahan saluran
makan bagian atas. Hematemesis merupakan suatu keadaan yang gawat dan
memerlukan perawatan segera di rumah sakit.
(Menurut Sjaifoellah Noer, dkk, 1996) Etiologi dari Hematemesis adalah :
1. Kelainan esofagus :varise, esofagitis, keganasan.
2. Kelainan lambung dan duodenum: tukak lambung dan duodenum,
keganasan dan lain-lain.
3. Penyakit darah: leukemia, DIC (disseminated intravascular
coagulation), purpura trombosit openia dan lain-lain.
4. Penyakit sistemik lainnya: uremik, dan lain-lain.
5. Pemakaian obat-obatan yang ulser ogenik: golongan Sali silat, kortikos
teroid, alkohol, dan lain-lain.
Penting sekali menentukan penyebab dan tempat asal perdarahan
saluran makan bagian atas, karena terdapat perbedaan usaha penanggulangan
setiap macam perdarahan saluran makan bagian atas. Penyebab perdarahan
saluran makan bagian atas yang terbanyak dijumpai di Indonesia adalah
pecahnya varies esophagus dengan rata-rata 45-50 % seluruh perdarahan
saluran makan bagian atas (Menurut Hilmy 1971: 58 %)
4. Patofisiologi Terjadinya Penyakit
Penyebab terjadinya hematemesis melena salah satunya yaitu stress,
rokok, asam lambung dan penyakit lainnya yang dapat mengakibatkan erosi
pada mukosa lambung sampai mencapai mukosa muskularis disertai dengan
kerusakan kemampuan mukosa untuk mensekresi muskus sebagai
pelindung. Hal ini akan menimbulkan peradangan pada sel yang akan
menjadi granulasi dan akhirnya menjadi ulkus dan dapat mengakibatkan
hemoragi gastrointestinal.
Penyebab hematemesis melena yang lainnya adalah alkohol dan
hipertensi portal berat dan berkepanjangan yang dapat menimbulkan suara
kolateral bypass: melalui vena koronaria lambung ke dalam vena esophagus
dan akan menjadi varises pada vena esophagus. Vena yang melebar dan
berkeluk-keluk terutama terletak di submucosa esophagus distal dan
lambung  proksimal, disertai penonjolan tidak teratur mukosa diatasnya ke
dalam lumen. Dapat mengalami ulserasi superficial yang menimbulkan
radang, beku darah yang melekat dan kemungkinan rupture, mengakibatkan
hemoragi gastrointestinal. Gagal hepar sirosis kronik, kematian sel dalam
hepar termasuk  penyebab hematemesis melena yang dapat mengakibatkan
peningkatan tekanan vena porta. Sebagai akibatnya terbentuk saluran
kolateral pada dinding abdominal anterior. Dengan meningkatnya tekanan
dalam vena ini, maka vena tersebut menjadi mengembang oleh darah dan
membesar. Pembuluh yang  berdilatasi ini disebut varises dan dapat pecah,
mengakibatkan hemoragi gastrointestinal. Hemoragi gastrointestinal dapat
menimbulkan hematemesis melena. Hematemesis biasanya bersumber di
atas ligamen Treitz (pada jungsi denojejunal). Dari hematemesis akan
timbul muntah darah. Muntah dapat  berwarna merah terang atau seperti
kopi, tergantung dari jumlah kandungan lambung pada saat perdarahan dan
lamanya darah telah berhubungan dengan sekresi lambung. Asam lambung
mengubah hemoglobin merah terang menjadi hematin coklat dan
menerangkan tentang warna seperti kopi drainase yang dikeluarkan. Cairan
lambung yang berwarna merah marun atau merah terang diakibatkan dari
perdarahan hebat dan sedikit kontak dengan asam lambung. Sedangkan
melena terjadi apabila darah terakumulasi dalam lambung dan akhirnya
memasuki traktus intestinal. Feses akan seperti ter. Feses ter dapat
dikeluarkan bila sedikitnya 60 ml darah telah memasuki traktus intestinal.
WOC
Proses regenerasi sel dalam bentuk tergaanggu

Kegagalan Hipertensi portal Enselfalopati Ascites


parenkim hati

Varises esofagus
Penekanan difrgma
Nafsu makan
menurun
Tekanan meningkat
Ruang paru
menyempit
Mual muntah
Pembuluh darah
pecah

Kelemhan,cepat Sesak nafas


lelah

Ketidakseimbangan Ketidakefektifan
nutrisi kurang dari pola nafas
kebutuhan tubuh

Sakit
Hematemisis Melena
perut

Risiko mulut
Kering

Ketidakseimbangan Cemas
volume cairn

Keletihan

Resiko kerusakan
integritas jaringan kulit
5. Gejala Klinis
Gejala terjadi akibat perubahan morfologi dan lebih menggambarkan
beratnya kerusakan yang terjadi dari pada etiologinya. Didapatkan gejala
dan tanda sebagai berikut :
a. Gejala-gejala intestinal yang tidak khas seperti anoreksia, mual,
muntah dan diare.
b. Demam, berat badan turun, lekas lelah.
c. Ascites, hidratonaks dane demo.
d. Ikterus, kadang-kadang urin menjadi lebih tua warna nyaata uke
coklatan.
e. Hematomegali, bila telah lanjut hati dapat mengecil karena fibrosis.
Bila secara klinis didapati adanya demam, ikterus dan asites,
dimana demam bukan oleh sebab-sebab lain, ditambahkan sirosis
dalam keadaan aktif. Hati-hati akan kemungkinan timbulnya
prekoma dan koma hepatikum
f. Kelainan pembuluh darah seperti kolateral-kolateral dinding, koput
medusa, wasir dan varises esofagus.
g. Kelainan endokrin yang merupakan tanda dari hipere strogenisme
yaitu: Impotensi, atrositestis, ginekomastia, hilang nyaram butaxila
dan pubis.
h. Amenore, hiperpigmentasi areola mamae 
i. Spider nevi dan eritema
j. Hiperpigmentasi
k. Jari tubuh

6. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum  
b. Pemeriksaan persistem
c. Sistem persepsi dan sensori (pemeriksaan panca indera : penglihatan,
pendengaran, penciuman,  pengecap, perasa)
d. Sistem persarafan (Pemeiksaan neurologik)
1. Pemeriksaan motorik
2. Pemeriksaan sensorik.
3. Straight leg Raising (SLR), test laseque (iritasiradisks L5 atau S 1)
cross laseque (HNP median) Reverse Laseque (iritasi radiklum
balatas)
4. Sitting knee extension (iritasi lesi iskia dikus)
5. Pemeriksaan system otonom
6. Tanda Patrick (lasi coxae) dan kontra Patrick (lesi sakroiliaka)
7. Tes Naffziger
8. Tes valsava.
e. Sistem pernafasan (Nilai frekuensi nafas, kualitas, suara, dan jalan
nafas)
f. Sistem kardiovaskuler (Nilai tekanan darah, nadi, irama, kualitas, dan
frekuensi).
g. Sistem Gastrointestinal (Nilai kemampuan menelan,nafsu makan,
minum, peristaltic dan eliminasi).
h. Sistem Integumen (Nilai warna, turgor, tekstur dari kulit pasien).
i. Sistem Reproduksi (Untuk pasien wanita).  
j. Sistem Perkemihan (Nilai Frekuensi Bak, warna, bau, volume).

7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Laboratorium
1. Darah : Hb menurun / rendah
2. SGOT, SGPT yang meningkat merupakan petunjuk kebocoran dari
sel yang mengalami kerusakan.
3. Albumin, kadar albumin yang merendah merupakan cerminan
kemampuan sel hati yang kurang
4. Pemeriksaan kadar elektrolit penting dalam penggunaan diuretik dan
pembatasan garam dalam diet.
5. Peninggian kadar gula darah.
6. Pemeriksaan marker serologi pertanda ureus seperti
HBSAg/HBSAB, HBeAg, dll
b. Radiologi
1. USG untuk melihat gambaran pembesaran hati, permukaan
splenomegali, acites
2. Esofogus untuk melihat perdarahan esofogus
3. Angiografi untuk pengukuran vena portal

8. Diagnosis
1. Hemoptisis
2. Hematochesia

9. Therapy
a. Istirahat cukup ditempat tidur
b. Diet rendah protein, rendah garam, diet tinggi kalori
c. Antibiotik
d. Memperbaiki keadaan gizi, bila perlu dengan pemberian asam amino
esensial berantai cabang dan glukosa.
e. Robansia vitamin B kompleks

10. Komplikasi
1. Syok hipovolemik
2. aspirasi pneumonia
3. gagal ginjal akut
4. anemia karena perdarahan
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian HM
1. Data umum
 Identitas pasien yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin,
tempat tanggal lahir, no RM
 Identitas penanggung jawab yang meliputi nama, hubungan
dengan pasien, umur, alamat, dan telp/no.HP
a. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan saat ini :
 Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien)
 Alasan berobat (hal/kejadian apa yang menyebabkan pasien
berobat kerumah sakit)
 Riwayat penyakit (Tanya pada pasien atau keluarga pasien
apakah memiliki riwayat penyakit sebelumnya)
b. Riwayat kesehatan dahulu
 Penyakit yang pernah dialami
 Riwayat perawatan (apakah pernah melakukan perawatan atau
mendapat perawatan di rumah sakit atau tidak pernah)
 Riwayat operasi (apakah pernah mengalami operasi)
 Riwayat pengobatan (apakah pernah melakukan pengobatan)
 Kecelakaan yang pernah dialami (apakah pernah mengalami
kecelakaan)
 Riwayat alergi (tanyakan pada pasien apakah memiliki alergi
terhadap makanan atau obat)
c. Riwayat psikologi dan spiritual
1. Riwayat psikologi meliputi :
tempat tinggal, lingkungan
rumah, hubungan antara anggota
keluarga, dan pengasuh anak.
2. Riwayat spiritual meli[puti :
support system, kegiatan
keagamaan.
3. Riwayat hospittalisasi : pemahaman keluarga tentang
sakit dan rawat inap rumah sakit.
2. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
a. Persepsi dan Manajemen
Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang
terasa pada payudaranya kerumah sakit karena menganggap itu
hanya benjolan biasa.
b. Nutrisi – Metabolik
Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia,
muntah dan terjadi penurunan berat badan, klien juga ada riwayat
mengkonsumsi makanan mengandung MSG.
c. Eliminasi
Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami
melena, nyeri saat defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.
d. Aktivitas dan Latihan
Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan lathan
klien terganggu karena terjadi kelemahan dan nyeri.
e. Kognitif dan Persepsi
Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga
kemungkinan ada komplikasi pada kognitif, sensorik maupun
motorik.
f. Istirahat dan Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.
g. Persepsi dan Konsep Diri
Payudara merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau
kehilangan akibat operasi akan membuat klien tidak percaya diri,
malu, dan kehilangan haknya sebagai wanita normal.
h. Peran dan Hubungan
Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan
dalam melakukan perannya dalam berinteraksi social.
i. Koping dan Toleransi Stress
Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial
dan keputus asaan.
j. Nilai dan Keyakinan
Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima
kondisinya dengan lapang dada.

3. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d mual,
muntah, dan nafsu makan menurun (ketidakmampuan
memproses makanan)
2. Keletihan berhubungan dengan intoleransi aktifitas
3. Ketidakseimbangan volume cairan tubuh lebih dari kebutuhan
tubuh b/d asam lambung
4. Risiko mulut kering berhubungan dengan pembatasan cairan.
5. Ketidak efektifan pola nafas berdasarkan dengn hambatan
upaya nafas
6. Resiko kerusakan jaringan kulit berhubungan dengan gangguan
turgor kulit
7. Cemas berhubungan dengan adanya cairan pada lambungnya.
NO DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVEN RASIONAL
SI (NIC)
1. Ketidakseimbangan NOC : Nutritional O:kaji mengetahui
nutrisi kurang dari Status : food and adanya apakah pasien
kebutuhan b.d mual, Fluid Intake alergi alergi
muntah, dan nafsu Tujuan: makanan makannan atau
makan menurun Setelah dilakukan N:monitor tidak
(ketidakmampuan tindakan selama mual dan - mengurangi
memproses makanan) …x24 jam muntah kekurangan
diharapkan : E:informasik njutrisi
Kriteria Hasil : an keluarga -untuk
1.Adanya dan pasien mengetahui
peningkatan berat tentang pentingnya
badan sesuai manfaat nutrisi
dengan tujuan nutrisi -diet yang tepat
2.Berat badan C:kolaborasi dalam
ideal sesuai dengan memenuhi
dengan tinggi ahli gizi nutrisi pasien
badan dalam
3.Mampu menentuk
mengidentifikasi an diet
kebutuhan nutrisi yang
4. Tidak ada tanda tepat.
tanda malnutrisi
5. Tidak terjadi
penurunan berat
badan yang berarti
2. Keletihan Setelah dilakukan O:observasi -untuk
adanya
berhubungan dengan asuhan mencegah
tanda-
intoleransi aktivitas keperawatan tanda terjadinya
keletihan
selam ..x.. jam keletihan
N:lakukan
diharapkan perubuha -agar px
n pola
keletihan pada px merasa lebih
diet
berkurang dengan E:anjurkan nyaman
px untuk
kriteria hasil : -agar px
mengatur
Px tidak posisi tidur merasa lebih
C:kolaborasi
mengalami aman dan
kan
keletihan yang nyaman
dengan
berhubungn -agar px tidak
ahli gizi
dengan intoleransi cemas dan
aktivitas dapat mersa
nyaman
3. Risiko mulut kering Setelah dilakukan O:kaji -untuk
berhubungan dengan asuhan adanya mengetahui
pembatasan cairan. keperawatan ...x24 penyebabn penyebab
jam diharapkan risiko mulut kering
dapat kriteria hasil mulut -agar keluarga
: kering dan px dapat
- N:monitor lebih nyaman
-tekana darah px mulut -untuk
dapat menurun kering mendpatkan
E:informasik penangan yang
an keluarga sesuai
dan px
untuk lebih
banyak
minum air
putih
C:kolaborasi
dengan
dengan
dokter
untuk
penangan
mulut
kering

4. Ketidakefektifan NOC: Elektrolit O: monitor mengetahui


volume cairan tubuh and acedbase balance keseimbangan
lebih dari kebutuhan balance tujuan: cairan 24 cairan masuk
tubuh b/d asam Setelah dilakukan jam dan keluar.
lambung asuhan N: memberi -memenuhi
keperawatan ….x posisi yang kebutuhan rasa
24 jam kelebihan nyaman nyaman pasien
volume cairan E: memantau -mengontrol
teratasi dengan masuknya cairan yang
kriteria hasil: cairan/mak masuk
1. elektrolit dalam ana -membantu
batas normal C: kolaborasi pengeluaran
2. intake dan pemberian cairan berlebih
output seimbang obat dalam tubuh
deuretik

5. Ketidak efektifan NOC :Respiratori O: monitor agar tidak


pola nafas Status: airway resprirasi terjadi
berdasarkan dengn patency dan status hipoksia
hambatan upaya Tujuan: O2 -untuk
nafas Setelah dilakukan N: berikan mengurangi
tindakan selama posisi terjadinya
…x 24 jam yang sesak
diharapkan : nyaman / -untuk
1.mampu bernafas semi meningkatkan
dengan normal powler ventilasi
Frekuensi E: anjurkan alveoli
penafasan rentang pasien - untuk
normal . tehnik ketepatan
nafas dalam
dalam pengobatan.
C:
berkolaboras
i dengan
tenaga medis
6. Resiko kerusakan NOC:Tissue O:monitor -Adanya
jaringan kulit integritiskin kulit kemerahan dan
berhubungan dengan danmuccos adanya gatal pada
gangguan turgor kulit membran tujuan . kemerahan kulit.
Setelah dilakukan N:jaga - Kulit yang
tindakan kebersihan basah dapat
keperawatan kulit agar menyebabkan
selama 1x24 jam tetap gatal pada
diharapkan kering dan kulit dan kulit
keruskan integ/ sehat. menjadi
ritas kulit pasien E:anjurkan lembab
berkurang dengan pasien -
kriteria hasil: untuk Menghilangkan
1. integritas kulit kompres ketidak
bisa lembab nyamanan
dipertahankan dan
2. tidak ada luka / dingin
lesi. untuk
menghila
ngkan
tekanan
garukan
pada
pasien
preretus
C:kolaborasi
dalam
menjaga
kebersihan
dan
menggunak
an krim

7. Cemas berhubungan Setelah dilakukan O: monitor - Ketakutan


dengan adanya cairan asuhan tingkat dapat terjadi
pada lambungnya keperwtan ....x24 kecemasa karena nyeri
jam N:jelaskan hebat , penting
Kriteri Hasil: dan dalam prosedur
1.melaporkan persiapan diagnostic dan
sietas menurun untuk pembedahan.
sampai tingkat tindakan -dapat
tertasi prosedur meringkankan
2.tampak rileks sebelum asietas
1. dilakukan terutama ketika
E:anjurkan pemeriksaan
pasien tersebut
istirahat melibatkan
adekuat dan pembedahan
periode -membatasi
menghentika kelemahan dan
n tidur meningkatkan
C:kolaborasi kemampuan
dengan tim koping
medis
lainnya

4. Implementasi
Dalam tahap ini dilaksanakan tindakan keperawatan yang disesuaikan
dengan intervensi atau perencanaan yang dibuat.
5. Evaluasi
Evalusai dibuat dengan melihat perkembangan pasien dan menggunakan
evaluasi sumatif (SOAP)

DAFTAR PUSTAKA
A Suifuddin. 2017. PendekatanDiagnosa Hematemesis. Jakarta :EGC,
Diaksespadatanggal 26 Maret 2019 pukul 06.30 WITA pada
file:///C:/Users/GAMING/Downloads/Documents/128-252-1-PB.pdf
FA Azmi .2016. GambaranEsofagogastro duodenum.Jakarta :EGC,
Diaksespadatanggal 26 Maret 2019 pukul 06.15 WITA pada
http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/429
TI Anindya. 2013. PemicuHematomesis Melena.Jakarta :EGC,
Diaksespadatanggal 26 Maret 2019 pukul 06.00 WITA
padahttp://journals.itb.ac.id/index.php/acta/article/view/5219
Portal Kedokteran. 2008.Hematemesis Melena.Jakarta :EGC,
Diaksespadatanggal 26 Maret 2019 pukul 06.30 WITA pada: http://
Hematemesis Melena.com