Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTIKUM

MANAJEMEN STRATEJIK

Nama Instruktur :

Dr. Rohmat Dwi Jatmiko, M.M

Oleh :
Kelompok : 5 (Lima)

Anggota Kelompok:
1. Wiwi Nowia T 201710160311427
2. Nur Rofika 201710160311437
3. Amilia Putri 201710160311440
4. Leila Dwi A.S 201710160311442
5. Miftakhul Khoir 201710160311446
6. Ichlasul Amal 201710160311447

LABORATORIUM MANAJEMEN

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayahNya yang
telah dilimpahkan kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan makalah praktikum manajemen
strategis mengenai study kasus perusahaan Ichiban dan tepat pada waktunya. Pada makalah ini
penulis ingin memaparkan tentang analisis masalah dan menetapkan strategi untuk
menyelesaikan masalah. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Praktikum Manajemen
Strategis.

Selesainya penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan, support, arahan dan
bimbingan banyak pihak. Oleh sebab itu penyusun ingin menyampaikan terima kasih kepada
Tuhan Yang Maha Esa, Kedua orang tua serta saudara-saudara tercinta yang telah memberikan
nasihat, doa, dan dukungan moral maupun materil untuk penulis dalam menuntut ilmu,
sehingga penyusunan makalah penelitian ini dapat terselesaikan, Segenap dosen Jurusan
Manajemen atas segala ilmu dan bimbingannya, Teman-teman angkatan 2017 yang telah saling
memotivasi dan membantu terselesainya makalah ini.

Penulis menyadari bahwa tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

Malang, 19 April 2020

Kelompok 5

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...............................................................................................1
Profil Perusahaan
B. 2
BABA 2 PEMBAHASAN
A. Lembar Kerja 1..............................................................................................4
B. Lembar Kerja 2..............................................................................................5
C. Lembar Kerja 3..............................................................................................8
D. Lembar Kerja 4..............................................................................................10
E. Lembar Kerja 5..............................................................................................13
F. Lembar Kerja 6..............................................................................................21
G. Lembar Kerja 7..............................................................................................27
H. Lembar Kerja 9..............................................................................................29

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegiatan praktikum di laboratorium manajemen FEB UMM, belajar dengan
menggunakan metode studi kasus yang mengambil contoh kehidupan nyata di dunia bisnis,
bertujuan untuk menghasilkan diskusi terbuka di antara para praktikum melalui ilustrasi
realistis. Metode ini membutuhkan ketelitian dan disiplin intelektual. Hal ini tentu berbeda
dengan mekanisme pembelajaran klasik yang dilakukan pada saat kuliah, yang bergantung
pada teori untuk memperoleh aplikasi praktis.

Metode pembelajaran dengan model studi kasus juga sangat baik digunakan, karena
memberikan praktikan kesempatan untuk berlatih mengenal parameter masalah,
mengidentifikasi dan mengartikulasikan ide, menilai opsi untuk tindakan, dan berlatih
berdebat dengan menggunakan berbagai sudut pandang yang berbeda (ini akan mengajar dan
mengasah kemampuan praktikan tentang bagaimana cara melakukan kamunikasi yang
professional). Dengan studi kasus praktikan akan mengasah kemampuan dalam diagnosa,
analisis masalah, dan merumuskan secara logis jalan keluar atau saran untuk solusi
pemecahan masalah.

Praktikum manajemen strategis kali ini akan membahas mengenai study kasus yang
terjadi pada perusahaan alat tulis Ichiban. Dalam hal ini praktikan diharapkan mampu
mendiagnosa hal-hal yang terjadi pada perusahaan ini. Kemudian menganalisis untuk
menemukan masalah dasar yang terjadi pada Ichiban untuk mengetahui dampak atas masalah
yang terjadi tersebut. Setelah ditetapkan masalah dan penyebabnya, maka praktikan
merumuskan strategi-strategi yang memungkinkan menjadi jalan keluar atas permasalahan
perusahaan Ichiban. Lalu menetapkan strategi terbaik yang akan dijalankan untuk
menyelesaikan permasalahan dalam mencapai tujuan perusahaan Ichiban.

1
B. Profil Perusahaan
“ICHIBAN” adalah perusahaan produsen alat tulis khususnya bolpion (ballpoint) dan
spidol boardmarker yang didirikan oleh Liem An, seorang warga keturunan yang dilahirkan
di Solo tahun 1923. Di tahun 1971, dia memutuskan untuk berbisnis alat tulis; alasan
dasarnya bahwa, alat tulis adalah perangkat yang di butuhkan semua kalangan. Karena belum
mempunyai modal sendiri makan dia memulai dengan melakukan import barang jadi dan
pilihannya jatuh pada merk “ICHIBAN” dari jepang. Pada awalnya hanyan melakukan
import untuk jenis spidol yang tintanya tidak dapat dihapus, mengingat pada masa itu di
Indonesia belum ada yang menggunakan white board, tetapi menggunakan black board
dengan kapur sebagai alat tulisnya. Pemasaran pada saat itu hanya dilakukan dengan cara
konvensional yakni melalui saluran pemasaran yang anggotanya adalah produsen, grosir dan
pengecer, dimana masing-masing merupakan intensitas terpisah dan independen.

Seiring berjalannya waktu akhirnya Liem An memiliki modal sendiri untuk


mendapatkan lisensi dari produsen asal “ICHIBAN” di jepang agar bisa melakukan produk
sendiri dan di tahun 1977 dia mendapatkan lisensi dan mendirikan pabrik dengan nama “PT.
ALAT TULIS”. Liem An mengawali produksi dengan 4 unit mesin molding Injection dan 1
unit mesin Assembling. Molding Injection adalah utnuk membuat bahan setengah jadi seperti
body, tail dan cap spidol.

Liem An menjalankan bisnisnya dengan sistem manejemen keluarga, artinya seluruh


anggota keluarga sering dilibatkan dalam pekerjaan karena masih ada hubungannya dengan
pemilik perusahaan. Ada yang terlibat dalam operasional perusahaan sehari-hari ada pula
yang bertugas mengawasi kinerja karyawan. Hingga akhirnya anggota keluarga yang lain pun
ikut tergabung dalam pemenuhan modal untuk perusahaan secara langsung.

Di tahun 1987, Liem An yang sudah merasa tua menyerahkan kepemimpinan


perusahaan pada anaknyan Liem Ko ditambahkan lagi dengan makin ketatnya persaingan
dibidang yang serupa seperti masuknya produk pilot (asal Jepang), Artliner, dan Faber-
Castell yang ikut masuk ke Indonesia. Dengan begitu Liem Ko mulai berfikir untuk
memperluas pasar melalui diversifikasi produk dengan memproduksi alat tulis bolpoin.

2
Modal awal produksi didapat dari modal sendiri yang mana itu merupakan cirikhas perusahaan
yang berbasis keluarga. Keuntungannya, perusahaan tidak terbebani hutang; kerugiannya,
perluasan usaha tidak bisa maksimal apabila dananya terbatas. Disaat itu pula sudah banyak
beredar bolpoin merk import yang sudah menjadi “penguasa” pasar yaitu pilot dan BIC yang
membuat Liem Ko merasa tertantang untuk kembali meraih posisi penguasa pasar untuk balpoin
“ICHIBAN” miliknya.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Lembar Kerja 1

Visi Perusahaan:

Menjadikan perusahaan yang unggul dan termuka dengan menyediakan alat tulis yang
bermutu, dan menjadikan perusahaan sebagai market leader pada tahun 2020.

Misi Perusahaan

1. Menguasai pasar pada beberapa tahun kedepan.

2. Membangun relasi atau kerja sama secara professional dengan distributor, guna
berperan dalam kegiatan perusahaan

3. Memberikan produk yang berkualitas dan murah serta melakukan inovasi pada
produk yang dapat dibutuhkan oleh semua kalangan.

4. Mememenuhi kebutuhan alat tulis serta menyediakan layanan untuk semua jenis
alat tulis.

Tujuan

Mampu menyediakan kebutuhan alat tulis yang berkualitas dengan harga yang terjangkau
dan dapat memuaskan pelanggan.

Sasaran

Meningkatkan penjualan dan potensi pasar untuk mendapat peluang usaha yang
menjamin masa depan perusahaan melalui sinergi internal dan eksternal.

4
B. Lembar Kerja 2

Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (Eksternal Factor Evaluasi-EFE)

Nilai
Faktor Faktor Eksternal Bobot Peringkat
Tertimbang
Utama
1 2 1*2
Nilai/Total
Peluang Nilai
Nilai
Produk alat tulis
merupakan kebutuhan
semua kalangan termasuk
spidol boardmarker dan
bulpoin oleh karena itu hal 86 0,204 3 258
tersebut merupakan
peluang untuk berbisnis
alat tulis seperti spidol
boardmarker dan bulpoin.
Tidak adanya pesaing bagi
produk spidol permanent
boardmarker sehingga hal
90 0,214 4 360
tersebut menjadikan
“ICHIBAN” sebagai
market leader.
Adanya bahan baku plastik
yang murah untuk
90 0,214 4 360
pembuatan spidol
boardmarker dan bulpoin.
Adanya lisensi yang
didapat Liem An untuk 75 0,178 2 150
mendirikan pabrik sendiri.
Jaringan pemasaran
konvensional yang berupa 80 0,190 3 240
BTL semakin luas.
Jumlah 420 1 16 1368

Ancaman
Banyaknya produk bolpoin 90 0,189 4 360
dari segala merk import

5
dan lokal sebelumnya yang
menguasai pasar.
Saluran distribusi kurang
80 0,168 3 240
tersebar luas.
Banyaknya produk
imporyang membuka
85 0,178 4 340
pabrik di Indonesia untuk
memperluas pasar.
Penjualan faster terus
bertumbuh menyaingi 75 0, 157 2 150
ichiban.
Produk bulpoin
“ICHIBAN” merupakan
pemain baru sedangkan 67 0,140 1 67
pesaingnya merupakan
pemain kelas dunia.
Adanya keterbatasan
80 0,168 3 240
modal.
Jumlah 477 1 17 1397

Keterangan:

 Peringkat 1 : Paling tidak berpengaruh


 Peringkat 2 : Cukup berpengaruh
 Peringkat 3 : Berpengaruh
 Peringkat 4 : Sangat berpengaruh
Kesimpulan:
Faktor Peluang
Poin tertinggi pada faktor peluang yaitu 90 sepertiTidak adanya pesaing bagi produk
spidol permanent boardmarker sehingga hal tersebut menjadikan “ICHIBAN” sebagai
market leader dan Adanya bahan baku plastik yang murah untuk pembuatan spidol
boardmarker dan bulpoin.Sedangkan poin terendah yaitu 75 seperti Adanya lisensi yang
didapat Liem An untuk mendirikan pabrik sendiri.
Faktor Ancaman

6
Poin tertinggi pada faktor ancaman yaitu 90 seperti Banyaknya produk bolpoin dari
segala merk import dan lokal sebelumnya yang menguasai pasar. Sedangkan poin
terendah pada faktor ancaman yaitu 67 seperti Produk bulpoin “ICHIBAN” merupakan
pemain baru sedangkan pesaingnya merupakan pemain kelas dunia.

7
C. Lembar Kerja 3

Matriks Profil Kompetitif (Competitive Profile Matrix- CPM)


Perusahaan 1 Perusahaan 2 Perusahaan 3
Bobot (Strandard) (Zebra) (Faster)
Faktor faktor
Nilai
keberhasilan Peringkat Nilai Peringkat Nilai Peringkat Nilai
1 2 (1*2) 3 (1*3) 4 (1*4)
Pertumbuhan 80 0,140 2 0,28 3 0,42 4 0,56
Kualitas produk 90 0,159 4 0,636 2 0,318 3 0,477
Desain yang
70 0,123 3 0,369 3 0,369 4 0,492
menarik
Pemanfaatan
85 0,149 3 0,447 3 0,447 3 0,447
teknologi
Pencapaian target
80 0,140 4 0,56 3 0,42 2 0,28
peroduksi
Memiliki harga jual
85 0,149 4 0,596 3 0,447 2 0,298
yang bersaing
Pangsa pasar 80 0,140 3 0,42 4 0,56 2 0,28
Total 570 1 3,308 2,981 2,834

Keterangan:

 Peringkat 1 : Paling tidak berpengaruh


 Peringkat 2 : Cukup berpengaruh
 Peringkat 3 : Berpengaruh
 Peringkat 4 : Sangat berpengaruh
Kesimpulan:

Matriks profil kompetitif (competitive profile matriks- CPM) dapat dijelaskan bahwa
Pesaing yang kami pilih adalah “ZEBRA” dan “FASTER

8
 Tingkatpertumbuhan/growthbolpoint faster memiliki pertumbuhan yang paling
cepat disusul dengan zebra dan ichiban
 Faktor kualitas produk memiliki point tertinggi karena kelompok kami merasa
bahwa faktor kunci keberhasilan utama dalam suatu usaha adalah dari kualitas
suatu produk. Dari kualitas produk bolpoin merek ichiban unggul karena prinsip
yang diterapkan oleh ichiban dengan memeintingkan kualitas dengan harga yang
murah sehingga lebih unggul dibandingan bolpoin merek zebra dan faster.
 Faktor desain memiliki point terendah karena menurut kelompok kami
masyarakat lebih mementingkan kualitas dan harga, khususnya untuk msyarakat
menengah kebawah. Pada tabel terlihat bolpoint faster memiliki desain yang lebih
menarik dibandingkan standart dan zebra sehingga preingkat bolpoint faster lebih
tinggi daripada zebra dan standart.
 Dalam faktor teknologi poin yang dimiliki ichiban , faster dan zebra memiliki
point yang seimbang dikarenakan hampir semua cara produksinya yang masih
melibatkan banyak tenaga sumber daya manusia daripada mesin untuk bagian
pengolahan produk
 Faktor pencapaian target produksi memiliki nilai yang sama dengan faktor
pertumbuhan karena menurut kami jika target produksi dan penjualan meningkat
maka akan berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhannya. Pulpen ichiban selalu
memenuhi target produksi sehingga peringkat ichiban lebih tinggi dibandingkan
faster dan zebra.
 Harga jual merupakan faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan suatu usaha
dimana ichiban lebih unggul dibandingkan pulpen dengan merek lain.Dilihat dari
pasar pulpen standar lebih murah dari pada faster dan zebra yang harganya
RP20.00-RP27.000 per 12 pcs
 Pangsa pasar juga berpengaruh penting karena degan pangsa pasar yang luas
maka perusahaan dapat meningkatkan penjualannya di dalam studi kasus kita
dapat melihat bahwa bolpoint merek zebra lebih luas dibandingkan ichiban dan
faster.

9
D. Lembar Kerja 4

Matriks Evaluasi Faktor Internal (Internal Factor Evaluation - IFE)

Nilai
Bobot Peringkat
Faktor-Faktor Internal Utama Tertimbang
1 2 (1*2)
Kekuatan: Nilai/total
Nilai
nilai
Menggunakan modal sendiri sehingga
80 0,129 3 240
perusahaan tidak terbebani hutang
Brand image (harga lebih murah
dengan terjamin kualitasnya) dan harga
85 0,137 3 255
yang ditawarkan lebih murah
dibandingkan produk kompetitor
Promosi menggunakan sistem BTL
sehingga konsumen tertarik untuk
membeli karena mendapatkan bonus 85 0,137 3 255
dan hadiah ketika membeli produk
“ICHIBAN”
Adanya pelatihan karyawan bagian
70 0,113 2 140
perakitan
Bolpoint “ICHIBAN” memiliki desain
yang bagus, stylish dan enak digunakan 60 0,097 1 60
untuk menulis
Penambahan grosir untuk mencapai
target penjualan dan merevisi target
80 0,129 3 240
dengan menambah kenaikan sebesar
3,5% setiap tahunnya
Adanya tunjangan insentif untuk
70 0,113 2 140
meningkatkan produktifitas karyawan
Adanya kerjasama dengan Mr. YY di
90 0,145 4 360
tahun 2011
Jumlah 620 1 21 1690

Kelemahan:

10
Menggunakan saluran pemasaran
70 0,103 1 60
konvensional
Sistem manajemen keluarga 80 0,118 4 360
Tidak ada sistem dan prosedur yang
85 0,125 3 255
baku dalam operasional perusahaan
Tidak ada struktur organisasi sesuai
90 0,132 1 60
dengan skill
Proses perakitan menggunakan sistem
85 0,125 2 140
manual
Sistem keuangan tidak ada transparasi
atau tertutup (hanya pemilik dan istri
yang tahu) dan hanya menggunakan
70 0,103 2 140
modal pribadi sehingga dapat
menghambat jika terjadi kurangnya
pendanaan untuk pengembangan usaha
Perluasan usaha hanya mengandalkan
60 0,088 3 240
kemampuan “dalam negeri”
Dalam realisasi produksi, karyawan
bagian assembling tidak bisa mencapai
target produksi yang dicanangkan,
dimana produksi hanya mencapai
98.34% dari target, walaupun sudah 60 0,088 3 255
dilakukan "pengawasan kerja"
karyawan bagian assembling bolpoin
oleh para pengawas dan penambahan
insentif
Ketika perusahaan mengalami
kenaikan penjualan, maka membuat
para pekerja yang dibagian perakitan
80 0,118 3 240
harus bekerja overtime (kerja lembur),
karena belum adanya ukuran
produktifitas untuk karyawan
Jumlah 680 1 22 1750

Keterangan :

Peringkat:

1 : Paling tidak berpengaruh

11
2 : Cukup berpengaruh

3 : Berpengaruh

4 : Sangat berpengaruh

Kesimpulan:

Pada Perusahaan PT Alat tulis pada faktor kekuatan terdapat poin terendah yaitu
sebesar 60 dimana Bolpoint “ICHIBAN” memiliki desain yang bagus, stylish dan enak
digunakan untuk menulis, sehingga faktor tersebut tidak begitu berpengaruh pada
kekuatan perusahaan tersebut. Faktor kekuatan yang memiliki poin tertinggi yaitu sebesar
90 dimana adanya kerjasama dengan Mr. YY di tahun 2011 yang menyebabkan
perubahan yang sangat drastis di perusahaan, dengan adanya kerjasama ini perusahaan
PT Alat Tulis mampu untuk menjadi market leader serta dapat memenuhi target
penjualan yang sudah dibuat.

Pada faktor kelemahan PT Alat Tulis memiliki poin terendah yaitu sebesar 60
dimana perluasan usaha hanya mengandalkan kemampuan “dalam negeri” dan 60
dalamrealisasi produksi, karyawan bagian assembling tidak bisa mencapai target produksi
yang dicanangkan, dimana produksi hanya mencapai 98.34% dari target, walaupun sudah
dilakukan "pengawasan kerja" karyawan bagian assembling bolpoin oleh para pengawas
dan penambahan insentif. Faktor kelemahan memiliki poin tertinggi yaitu sebesar 90
yaitutidak ada struktur organisasi sesuai dengan skill sehingga dapat menghambat
kegiatan perusahaan.Perusahaan membutuhkan struktur organisasi untuk mempermudah
dalam melaksanakan koordinasi dan juga hubungan, karena adanya keterkaitan dalam
penyelesaian mengenai suatu fungsi yang telah dipercayakan kepada seseorang atau
anggota.

12
E. Lembar Kerja 5

Tabel 1: Matriks Kekuatan-Kelemahan, Peluang–Tantangan


KEKUATAN KELEMAHAN
(Strength- S) (Weaknesses –W)
1. Menggunakan modal 1. Menggunakan saluran
sendiri sehingga pemasaran konvensional.
perusahaan tidak terbebani 2. Sistem manajemen
hutang keluarga.
2. Brand image (harga lebih 3. Tidak ada sistem dan
murah dengan terjamin prosedur yang baku dalam
kualitasnya) operasional perusahaan.
3. Promosi menggunakan 4. Tidak ada struktur
sistem BTL organisasi.
4. Adanya pelatihan 5. Proses perakitan
karyawan bagian perakitan menggunakan sistem
5. Adanya perencanaan manual.
darurat yaitu karyawan 6. Sistem keuangan tertutup
bagian assembling bolpoin (hanya pemilik dan istri
akan dilemburkan atau yang tahu).
dilakukan penambahan 7. Perluasan usaha hanya
karyawan, apabila progress mengandalkan kemampuan
pencapaian target “dalam negeri”.
penjualan melampaui 8. Dalam realisasi produksi,
target, sementara target karyawan bagian
produksi tidak terpenuhi assembling tidak bisa
atau ada kenaikan mencapai target produksi
penjualan diatas target yang dicanangkan, dimana
penjualan yang tidak produksi hanya mencapai
tercover produksi. 98.34% dari target,
6. Penambahan grosir untuk walaupun sudah dilakukan

13
mencapai target penjualan "pengawasan kerja"
dan merevisi target dengan karyawan bagian
menambah kenaikan assembling bolpoin oleh
sebesar 3,5% setiap para pengawas.
tahunnya. 9. pemberian insentif pada
7. Adanya tunjangan insentif karyawan bagian
untuk meningkatkan assembling ternyata belum
produktifitas karyawan. cukup untuk meningkatkan
8. Adanya kerjasama dengan target produksi, meskipun
Mr. YY. terjadi kenaikan tetapi
pencapaian secara total dan
per tipe, tidak ada yang
mencapai 100%.
PELUANG STRATEGI (SO) STRATEGI (WO)
(Opportunities – O)
1. Liem An menyadari 1. Meningkatkan jumlah 1. Menjalin kerjasama
bahwa alat tulis penjualan produk dengan perusahaan lain
merupakan kebutuhan (S1,S2,S6,O1,03) (W1,W7,O4)
semua kalangan 2. Meningkatkan penjualan 2. Mulai membentuk struktur
termasuk spidol spidol(S1,S2,S6,O1,O2,O3 dan SOP perusahaan
boardmarker dan ) dengan baik
bulpoin oleh karena itu 3. Memperluas market share (W2,W3,W4,O2,O4)
hal tersebut merupakan pada perusahaan 3. Mengembangkan media
peluang untuk berbisnis (S3,S8,O2,O4) promosi dengan
alat tulis seperti spidol 4. Meningkatkan mutu atau impelementasi promosi
boardmarker dan kualitas dari SDM dengan social media
bulpoin. perusahaan(S4,S5,S7,04) (W8,W9,O1)
2. Tidak adanya pesaing
bagi produk spidol
permanent boardmarker
sehingga hal tersebut

14
menjadikan
“ICHIBAN” sebagai
market leader.
3. Adanya bahan baku
plastik yang murah untuk
pembuatan spidol
boardmarker dan bulpoin.
4. Adanya lisensi yang
didapat Liem An untuk
mendirikan pabrik sendiri.

ANCAMAN (Threats-T) STRATEGI (ST) STRATEGI (WT)

1. Masuknya produk Mempertahankan kualitas Membuat SOP yang jelas


bulpoin merk pilot asal dan harga agar tetap menjadi untuk proses operasional
Jepang ke Indonesia pilihan masyarakat dengan guna mendapatkan kinerja
2. Masuknya boardmarker tetap menjaga hubungan yang maksimal
merk artliner dan faber- baik dengan supplier untuk (W3,W5,T1,T2,T3)
castell di Indonesia efisiensi biaya bahan baku
3. Produk bulpoin (S2,T1,T2,T3)
“ICHIBAN” merupakan
pemain baru sedangkan
pesaingnya merupakan
pemain kelas dunia

Keterangan:

Membandingkan Antara Target Dan Realisasi

1. Liem ko membuat perencanaan 5 tahun kedepan (2007-2011) khusus untuk produk


bulpoin, yaitu produk bulpoin “ICHIBAN” yang berada diperingkat 5 besar, harus bisa
“naik kelas” ke posisi 4 besar, melalui peningkatan penjualan secara bertahap (3% per
tahunnya).

15
2. Lim Ko menginginkan target kenaikan penjualan untuk bulpoin jenis B-2 dan C-2 harus
lebih tinggi di bandingkan jenis bulpoin “ICHIBAN” lainnya, karena 2 tipe bulpoin
tersebut penjualannya hanya sekitar 6% dari rata-rata penjualan “ICHIBAN” tahun 2002-
2006.

3. Mulai tahun 2007 ditambah 3% setiap tahunnya, sehingga di tahun 2011 penjualan
diharapkan mendekati 130 juta unit. Cara yang dilakukan Liem Ko untuk mencapai target
penjualan tersebut adalah menambah 1 grosir di Jakarta dan 1 grosir di Surabaya. Pada
semua grosir tersebut sama dalam pola penjualannya, yaitu menjual semua tipe bulpoin
“ICHIBAN”. Selain itu, Liem Ko tidak melakukan perubahan harga. Untuk mencapai
target penjualan seperti yang dicanangkan, Liem Ko melakukan aktifitas promosi “Below
The Line” (BTL).

4. Perencanaan produksi mulai tahun 2007 (untuk 5 tahun kedepan). Dengan cara
meningkatkan kapasitas mesin Injection, mesin extruder dan juga mesin refill.
Selanjutnya, karyawan bagian perakitan bulpoin diberikan target produksi karena
sebelumnya perusahaan belum pernah memberikan target pada karyawan). Karyawan
khususnya bagian perakitan bolpoin, diberikan pelatihan tambahan.

5. Target penjualan tahun 2007 adalah 114.041 unit dan untuk target produksi tahun 2007
adalah 114.516 unit. Liem Ko membuat perencanaan yang sifatnya darurat, yaitu
karyawan bagian assembling bolpoin akan dilemburkan atau dilakukan penambahan
karyawan, apabila progress pencapaian target penjualan melampaui target, sementara
target produksi tidak terpenuhi atau ada kenaikan penjualan diatas target penjualan yang
tidak tercover produksi.

6. Realisasi penjualan tahun 2007 adalah 112.316 unit dan pada realisasi produksi tahun
2007 112.614 unit.

7. Pada realisasi pencapaian target tahun 2007 kenaikannya masih dibawah target tahun
2007. Secara total, realisasi penjualan hanya mencapai 98,49 %, dan juga per tipe bolpoin
tidak ada yang mencapai target 100%. Disamping itu, kenaikan penjualan tipe C-2 secara
% juga masih di bawah kenaikan tipe lainnya, kecuali tipe B-2 dan C-2 masih dibawah
rata-rata kenaikan secara keseluruhan. Dalam realisasi produksi, karyawan bagian

16
assembling tidak bisa mencapai target produksi yang dicanangkan, dimana produksi
hanya mencapai 98,34 % dari target, walaupun sudah dilakukan peningkatan pengawasan
kerja oleh para pengawas yang notabene nya adalah keluarga dari Liem Ko.

8. Liem Ko memberikan target baru yang didasarkan pada realisasi penjualan tahun 2007
yaitu 112.316.000 unit ditambah 3,5 % nya sehingga total = 116.247.000 unit.Liem Ko
tetap mensyaratkan % kenaikan penjualan bolpoin tipe B-2 dan C-2 harus lebih tinggi
dibandingkan tipe bolpoin lainnya agar tidak semakin tertinggal.Upaya pencapaian target
penjualan tersebut dilakukan dengan menambah grosir di Jakarta dan Surabaya masing-
masing 1 grosir. Dan semua grosir memasarkan seluruh tipe bolpoin “ICHIBAN”. Selain
itu, Liem Ko melakukan penurunan harga jual ratarata 6% untuk semua tipe.

9. Target penjualan bolpoin tahun 2008 adalah 116.247 unit sedangkan realisasi penjualan
tahun 2008 adalah 114.632 unit.

10. Untuk departemen produksi khususnya di bagian assembling juga direvisi target
produksinya dengan kenaikan sebesar 3,5% per tahun, mengacu pada produksi tahun
2007 yang 112.614.000 unit, artinya target tahun 2008 adalah 112.614.000 unit ditambah
kenaikan 3,5% sehingga total = 116.556.000 unit. Akan tetapi realisasi produksi tahun
2008 yaitu 114.713.

11. Penambahan grosir baik di Jakarta maupun di Surabaya, juga penurunan penjualan
memang meningkatkan penjualan tetapi belum cukup bisa mendongkrak secara maksimal
target penjualan, yang diharapkan mendahului Zebra dan tidak didahului Faster.
Disamping itu % kenaikan penjualan tipe B-2 dan C-2 masih di bawah kenaikan rata-rata,
sehingga jaraknya semakin jauh. Pemberian insentif pada karyawan bagian assembling
ternyata belum cukup untuk meningkatkan target produksi, meskipun terjadi kenaikan
tetapi pencapaian secara total dan per tipe, tidak ada yang mencapai 100%.

12. Di tahun 2009, Liem Komemutuskan meng “hired” professional yaitu Mr. YY untuk
mengelola perusahaannya.

13. Target penjualan tahun 2009 adalah 118.644.000, ini di dasarkan atas realisasi penjualan
tahun 2008 yang sebesar 114.632.000 ditambah kenaikan 3,5%. Realisasi pencapaian
target pada tahun 2009 diatas rata-rata yaitu 118.845.

17
14. Pada realisasi target 2009-2011 Untuk spidol tahun 2009-2011 posisi market leader tetap
bisa di pertahankan (di kisaran 20%). Realisasi penjualan bolpoin, sangat
menggembirakan karena achievement target penjualan secara rata-rata terpenuhi setiap
tahunnya, bahkan pada tahun 2010 dan 2011 mencapai diatas 100%. Bahkan tipe B-2 dan
C-2 ternyata mengalami kenaikan penjualan yang sangat signifikan dengan tingkat
pencapaiannya diatas 100% setiap tahunnya. Bila dibandingkan, target tahun 2007 tidak
sesuai dengan realisasi hal tersebut dapat dilihat dari data realisasi penjualan dan
produksi pada tahun 2007 yang menunjukkan angka kurang dari target yang telah
ditentukan. Hal yang sama terjadi pada realisasi pencapaian target tahun 2008,
pencapaian yang didapatkan perusahaan tidak sesuai dengan harapan meskipun Liem Ko
telah melakukan berbagai upaya seperti penambahan grosir dan penurunan harga jual
tetapi belum cukup bisa mendongkrak secara maksimal target penjualan, yang diharapkan
bisa mendahului Zebra dan tidak didahului oleh Faster, dan pemberian insentif pada
karyawan bagian assembling ternyata belum cukup meningkatkan target produksi.

Di hari pertama di tahun 2009, Liem Ko meng “hired” professional yaitu Mr. YY. Sejak
saat itu menjadi awal tercapainya target tahun 2009 hingga 2011. Berhasilnya target
2009-2011 dikarenakan adanya evaluasi menyeluruh yang dilakukan oleh Mr. YY
terhadap operasional perusahaan selama ini dan mengambil keputusan awal.

Table 2: MelihatGejala-Gejala Atau Akibat Yang Ada Pada Kasus, Karena Gejala/Akibat
BiasanyaAkan MenuntunKe ArahMasalah

Masalah -1

Target Naik Kelas TidakTercapai


(Gejala/Akibat)
Karena Kinerja Perusahaan
Kurangnya menejemen control dan motivasi yang diberikan perusahan kepada karyawan b
erakibat pada efektifitas, efisiensi dan kepuasan kinerja yang dirasakan karyawan dan mem
buat kinerja karyawan menurun.
(Gejala/Akibat)
Produksiperusahaantidakmencapai target.
Karena ChanelOfDistribution

18
Perusahaan hanya mendistribusikan produknya di Jakarta dan Surabaya. Akibatnya dalam
mendistribusikan produk perusahaan belum dapat menjangkau konsumen dengan maksima
l.
(Gejala/Akibat)

Perluasan usaha tidak bisa maksimal, hanya di Surabaya dan Jakarta,


karenabiaya yang terbatas.
Karena Pola Kerja Sama
Pola kerjasama dalam mendistribusikan produk perusahaan masih menggunakan cara konv
ensional akibatnya dalam memperluas jaringan distribusi belum maksimal.
(Masalah/Sebab)
Perluasan jaringan distribusi belum maksimal karena perusahaan hanya berfokus pada du
a perusahaan yaitu Jakarta dan Surabaya.

Masalah -2:

Target Naik Kelas TidakTercapai


(Gejala/Akibat)
Karena Kinerja Perusahaan
Perusahaan dalam melakukan perluasan usaha masih mengunakan modal sendiri. Akibatny
a dalam melakukan perluasan usaha terhambat dan kurang maksimal
(Gejala/Akibat)
Produksiperusahaantidakmencapai target.
Karena Program
Program perusahaan meningkatkan jumlah produksi dengan memberi jam kerja yang lebih
lama kepada kariawan khususnya di bidang perakitan ini berakibat pada kepuasan kerja.
(Masalah/Sebab)
Penambahan jam kerja karyawan pada perakitan tanpa ada penambahan gaji, upah, insen
tif yang diberikan, hal tersebut membuat karyawan kurang maksimal dalam mengerjakan
pekerjaannya.

Masalah -3

Target ProduksiTidakTercapai

19
(Gejala/Akibat)
Karena Sumberdaya Manusia
Pemberian pelatihan dan penambahan jam kerja hanya terfokus pada bagian perakitan saja
akibanya bagian-bagian yang lainya belum dapat menigkatkan kinerjanya secara maksimal.
Kurangmaksimalnya proses produksikaryawanbagianAssembling.
(Gejala/Akibat)
Karena Motivasi
Jam kerja di tambah dan kapasitas produksi ditambah namun perusahaan masih menguakan
sihif-shif yang sama seperti sebelumya tanpa ada pemberian insentif, tunjangan sebagai pe
ndorong semgat kerja karyawan. Akibatnya kinerja karyawan menjadi menurun.
(Gejala/Akibat)
Kurangnyainsentifyangdiberikan olehperusahaanuntukmeningkatkan target produksikarya
wanbagianAssembling
Karena Sistem Kerja
Penambahan karyawan dan jam kerja yang dilakukan perushaan ini juga berakibat pada pe
nambahan biaya yang seharusnya dihindari agar mendapat keuntungan yang maksimal.
(Gejala/Akibat)

karenaprogram
Program perusahaan menigkatkan jumlah produksi dengan meberi jam kerja yang lebih la
ma kepada kariawan khusunya di bidang perakitan ini berakibat pada kepuasan kerja.
(Masalah/Sebab)
Perusahaan dalam melakukan perluasan usaha masih mengunakan dana sendiri. Akibatnya
dalam melakukan perluasan usaha terhambat dan kurang maksimal.

20
F. Lembar Kerja 6

Matriks perencanaan strategi kuantitatif (quantitative strategic planning matrix- QSPM)


Alternatif strategi
Mengembangka Membuat SOP
Memperluas n media yang jelas untuk
Faktor kunci Bobot market share promosi dengan proses operasional
pada impelementasi guna
perusahaan promosi dengan mendapatkan
social media kinerja maksimal
Faktor eksternal kunci AS TAS AS TAS AS TAS
peluang
Produk alat tulis
merupakan kebutuhan
semua kalangan termasuk
spidol boardmarker dan
bulpoin oleh karena itu hal 0,204 3 0,612 3 0,612 2 0,408

tersebut merupakan
peluang untuk berbisnis
alat tulis seperti spidol
boardmarker dan bulpoin.
Tidak adanya pesaing bagi
produk spidol permanent
boardmarker sehingga hal
0,214 2 0,428 2 0,428 2 0,428
tersebut menjadikan
“ICHIBAN” sebagai
market leader.
Adanya bahan baku plastik
yang murah untuk
0,214 1 0,214 1 0,214 2 0,428
pembuatan spidol
boardmarker dan bulpoin.
Adanya lisensi yang 0,178 1 0,178 1 0,178 1 0,178
1
didapat Liem An untuk
mendirikan pabrik sendiri
Jaringan pemasaran
konvensional yang berupa 0,190 2 0,38 3 0,57 1 0,19

BTL semakin luas


Ancaman
Masuknya produk bulpoin
merk pilot asal Jepang ke 0,189 3 0,567 3 0,567 2 0,378

Indonesia
Masuknya boardmarker
merk artliner dan faber- 0,168 3 0,504 4 0,672 1 0,168

castell di Indonesia
Produk bulpoin
“ICHIBAN” merupakan
pemain baru sedangkan 0,178 3 0,534 3 0,534 1 0,178

pesaingnya merupakan
pemain kelas dunia.
Banyaknya produk impor
yang membuka pabrik di
0,157 3 0,471 3 0,471 1 0,157
Indonesia untuk
memperluas pasar.
Faktor internal kunci
kekuatan
Menggunakan modal
sendiri sehingga
0,129 1 0,129 1 0,129 1 0,129
perusahaan tidak terbebani
hutang
Brand image (harga lebih
murah dengan terjamin 0,137 1 0,137 1 0,137 1 0,137

kualitasnya)
Promosi menggunakan 0,137 2 0,274 2 0,274 1 0,137
sistem BTL sehingga
konsumen tertarik untuk
membeli karena

2
mendapatkan bonus dan
hadiah ketika membeli
produk “ICHIBAN”
Adanya pelatihan
0,113 1 0,113 1 0,113 3 0,339
karyawan bagian perakitan
Bolpoint “ICHIBAN”
memiliki desain yang
0,097 1 0,097 1 0,097 1 0,097
bagus, stylish dan enak
digunakan untuk menulis
Penambahan grosir untuk
mencapai target penjualan
dan merevisi target dengan
0,129 2 0,258 3 0,387 2 0,258
menambah kenaikan
sebesar 3,5% setiap
tahunnya
Adanya tunjangan insentif
untuk meningkatkan 0,113 1 0,113 1 0,113 2 0,226

produktifitas karyawan
Adanya kerjasama dengan
0,145 1 0,145 1 0,145 1 0,145
Mr. YY
Kelemahan
Menggunakan saluran
0,103 2 0,206 4 0,412 1 0,103
pemasaran konvensional
Sistem manajemen
0,118 1 0,118 1 0,118 1 0,118
keluarga
Tidak ada sistem dan
prosedur yang baku dalam 0,125 1 0,125 1 0,125 4 0,5

operasional perusahaan
Tidak ada struktur
organisasi sesuai dengan 0,132 1 0,132 1 0,132 1 0,132

skill
Proses perakitan
menggunakan sistem 0,125 1 0,125 1 0,125 3 0,375

manual
Sistem keuangan tidak ada 0,103 1 0,103 1 0,103 1 0,103

3
transparasi atau tertutup
(hanya pemilik dan istri
yang tahu) dan hanya
menggunakan modal
pribadi sehingga dapat
menghambat jika terjadi
kurangnya pendanaan
untuk pengembangan
usaha dan penambahan
insentif
Perluasan usaha hanya
mengandalkan
0,088 2 0,176 2 0,176 1 0,088
kemampuan “dalam
negeri”
Dalam realisasi produksi,
karyawan bagian
assembling tidak bisa
mencapai target produksi
yang dicanangkan, dimana
produksi hanya mencapai
98.34% dari target, 0,088 1 0,088 1 0,088 3 0,264

walaupun sudah dilakukan


"pengawasan kerja"
karyawan bagian
assembling bolpoin oleh
para pengawasdan
penambahan insentif
Ketika perusahaan 0,118 1 0,118 1 0,118 3 0,354
mengalami kenaikan
penjualan, maka membuat
para pekerja yang dibagian
perakitan harus bekerja

4
overtime (kerja lembur),
karena belum adanya
ukuran produktifitas untuk
karyawan
Total 47 6,933 51 10,46 45 13,048

Keterangan :

1. Bobot : 1.00

2. Peringkat:
a. Peringkat 1 : Paling tidakberpengaruh
b. Peringkat 2 : Cukupberpengaruh
c. Peringkat 3 : Berpengaruh
d. Peringkat 4 : Sangatberpengaruh

3. Nilai tertimbang/TAS : ( bobot x peringkat )

Interpretasi :

A. Startegi 1 : Memperluas market share pada perusahaan

Poin tertinggi :

Poin tertinggi pada strategi adalah sebesar 0,612pada pernyataan Produk alat tulis
merupakan kebutuhan semua kalangan termasuk spidol boardmarker dan bulpoin
oleh karena itu hal tersebut merupakan peluang untuk berbisnis alat tulis seperti
spidol boardmarker dan bulpoin.. Maka perusahaan dapat memanfaatkan peluang
tersebut untuk membuat rencana perluasan market share pada perusahaan

B. Strategi 2 : Memperluas market share pada perusahaan

Poin tertinggi :

Poin tertinggi pada strategi adalah sebesar 0,612pada pernyataan Produk alat tulis
merupakan kebutuhan semua kalangan termasuk spidol boardmarker dan bulpoin
oleh karena itu hal tersebut merupakan peluang untuk berbisnis alat tulis seperti

5
spidol boardmarker dan bulpoin.. dengan strategi pemasaran melalui media social
maka akan mempermuda masyarakat mengetahui produk ichiban.

C. Strategi 3 : Membuat SOP yang jelas untuk proses operasional guna mendapatkan
kinerja maksimal.

Poin tertinggi :

Poin tertinggi pada strategi 3 adalah sebesar 0,5 pada pernyataan Tidak ada sistem
dan prosedur yang baku dalam operasional perusahaan maka yang harus dilakukan
perusahaan adalah Membuat SOP yang jelas untuk proses operasional guna
mendapatkan kinerja maksimal.

6
G. Lembar Kerja 7

A. Bidang Pemasaran

Dalam mengimplementasikan strategi pada bidang pemasaran yang harus dilakukan


oleh perusahaan ICHIBAN yaitu sbb:

1. Customer relationship Management, Perusahaan Ichiban perlu


mengidentifikasi target pasar, untuk menciptakan konsumen yang loyal
dengan pengelolaan hubungan yang baik dengan para pelanggan.

2. Marketing Mix, dimana perusahaan harus menyususn strategi marketing yang


efektik untuk perusahaan Ichiban mulai dari produk, price, place, promosi.
Prusahaan Ichiban perlu memutuskan seecara spesifik produk yang akan di
jual, berapa harga yang sesuai, serta dalam mendistribusikan produk yang
dibutuhkan.

3. SNS Operation, yaitu strategi yang menggunakan media sosial untuk


melakukan promosi dan iklan. Salah satu strategi untuk meningkatkan
penjualan yaitu dengan melekukan promosi melalui media sosial yaitu
dengan konten yang menarik. Perusahaan Ichiban dapat melakukan kegiatan
promosi menggunakan jejaring sosial yaitu facebook, website, blog, maupun
situs lainnya, dengan menampilkan produk yang dapat menarik konsumen,
serta dapat berinteraksi langsung dengan para konsumen.

B. Bidang Operasional

1) Menambahkan teknologi mesin berupa perakitan bolpoin agar dapat


mempercepat proses produksi perusahaan.

2) Membuat sistem kerja baku, hal tersebut bertujuan untuk mengatur karyawan
bagian Assembling dalam melakukan pekerjaan agar karyawan tidak bekerja
sesuai jam kerja di bawah pengawasan para mandor.

3) Membuat ukuran produktivitas kerja bagi karyawan, hal tersebut bertujuan


untuk menilai efisiensi konversi sumber dayanya, untuk meningkatkan

7
produktivitas perusahaan dapat ditetapkan berdasarkan tingkat kesenjangan
produktivitas yang direncanakan dan tingkat produktivitas yang diukur.

4) Membuat strategi pengawasan sebagai bentuk upaya pada operasional


perusahaan guna menjaga, mengawasi, dan mengevaluasi jalannya produksi
dalam mencapai target produksi yang diharapkan.

C. Bidang Keuangan

Melakukan transparansi keuangan guna mengetahui jika terjadi kesalahan atau


eror dalam arus keluar masuk kas, sehingga perusahaan dapat lebih memaksimalkan
pengendalian keuangan perusahaan. Transparansi juga dapat digunakan untuk
menarik keuangan investor agar perusahaan dapat mengembangkan usahanya,
dengan adanya transparansi maka perusahaan dapat memperlihatkan pihak investor
bahwa perusahaan Ichiban dapat dipercaya dan pihak investor dapat memonitor
keuangan perusahaan.

Perusahaan juga harus mengalokasian dana untuk membuat strategi keuangan


dalam menaikkan produksi dan penjualan pada bolpoint yang dirasa belum sesuai
dengan target yang telah ditetapkan seperti pada bolpoint jenis B-2 dan C-2,
sehingga dengan naiknya unit produksi dan penjualan maka tingkat keuntungan
yangditerima oleh perusahaan juga semakin besar.

D. Bidang Sumber Daya Manusia

1) Sumber daya manusia yang berada di perusahaan PT Alat Tulis sebaiknya


diberikan pelatihan dan pengembangan kerja agar dapat mengoptimalkan
potensi mereka sehingga produktivitas meningkat. Ketika produktivitas
meningkat, target yang diberikan perusahaan kepada pekerja akan tercapai.

2) Perusahaan PT Alat Tulis memberlakukan sistem shif dan non shif pada
departemen produksi sedangkan pada departemen lainnya tidak ada sistem
shif dan non shif. Sebaiknya karyawan di departemen produksi diberikan
reward karena dalam memenuhi permintaan pasar yang cukup tinggi, mereka
mampu melakukannya.

8
3) Perekruitan tenaga kerja profesional dengan skill yang dibutuhkan
perusahaan dan mengalokasikan pekerja sesuai dengan kompetensi mereka.

4) Tidak mengandalkan sikap kekeluargaan dalam urusan pekerjaan, namun


diberikan tenaga kerja profesional dari luar perusahaan dengan menerapkan
adanya manajer di setiap devisi agar karyawan menjadi lebih disiplin.

H. Lembar Kerja 9

Dari analisis kasus diatas yang kami identifikasi melalui analisis SWOT dan juga
Implementasi Strategi untuk perusahaan, dapat di ambil kesimpulan beberapa
rekomendasi yang kami tawarkan, yaitu mengenai strategi pengawasan organisasi serta
pola produktivitas dalam perusahaan Ichiban.Karena pada dasaranya sebagian besar
permasalahan yang muncul pada perusahaan Ichiban dikategorikan dalam dua hal
tersebut, hal ini juga memengaruhi kurang maksimalnya target peningkatan penjualan
yang diharapkan perusahaan. Dengan adanya rekomendasi ini sebaiknya perusahaan
dapat memperbaiki kinerja dalam perusahaannya, melalaui poin poin yang harus
dilakukan sebagai berikut:

1. Mengalokasikan pekerja sesuai dengan kompetensi mereka masing-masing.


Selain itu untuk mendukung hal ini perlu adanya perekrutan yenaga kerja
professional dari luar perusahaan seperti manager setiap divisi agar para karyawan
menjadi lebih disiplin.

2. Perusahaan harus berani memberikan inovasi pemasaran misalnya melalui media


elektronik maupun media cetak hal ini dapat memperluas jaringan distribusi
perusahaan.

3. Perusahaan harus menambah daya mesin perakitan untuk mempermudah dan


mempercepat proses produksi, sehingga perusahaan ICHIBAN dapat
memproduksi dengan target yang ditentukan.

9
4. Melalui bidang keuangan, seharusnya perusahaan memiliki transparansi keuangan
guna untuk melakukan evaluasi keuangan melalui pelaporan yang jelas sehingga
pihak eksternal dapat mengetahui kondisi dan kemampuan perusahaan.

10
BAB III
KESIMPULAN

PT Alat Tulis memiliki visi perusahaan yaitu menjadikan perusahaan yang unggul
dan termuka dengan menyediakan alat tulis yang bermutu, Sertatelah menjadi market
leader selama lima tahun. Dengan misi sebagai berikut:
1. Membangun relasi atau kerja sama secara professional dengan distributor, guna
berperan dalam kegiatan perusahaan.
2. Berperan dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan membeangun kinerja yang
berkualitas.
3. Memberikan produk yang berkualitas dan murah serta melakukan inovasi pada
produk yang dapat dibutuhkan oleh semua kalanga.

PT Alat Tulis juga memiliki tujuan yaitu mampu menyediakan kebutuhan alat
tulis yang berkualitas dengan harga yang terjangkau. Dan meningkatkan potensi
perusahaan unntuk mendapatkan peluang usaha yang menjamin masa depan perusahaan
melalui sinergi internal dan eksternal.

Terdapat faktor peluang yang mempengaruhi PT Alat Tulis yaitutidak adanya


pesaing bagi produk spidol permanent boardmarker sehingga hal tersebut menjadikan
“ICHIBAN” Sebagai market leader dan adanya bahan baku plastik yang murah untuk
pembuatan spidol boardmarker dan bulpoin.Sedangkan faktor ancaman yang sangat
berpengaruh yaitu banyaknya produk bolpoin dari segala merk import dan lokal
sebelumnya yang menguasai pasar.

Matriks profil kompetitif (competitive profile matriks- CPM) dapat dijelaskan


bahwa tingkat persaingan antara produk “ICHIBAN” dengan produk “ZEBRA” dan
“FASTER dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah
faktor kualitas, desain, teknologi, faktor pencapaian, harga jual dan pangsa pasar.

Pada Perusahaan PT Alat tulis pada faktor kekuatan yang paling berpengaruh
yaitu adanya kerjasama dengan Mr. YY di tahun 2011 yang menyebabkan perubahan
yang sangat drastis di perusahaan, dengan adanya kerjasama ini perusahaan PT Alat Tulis

11
mampu untuk menjadi market leader serta dapat memenuhi target penjualan yang sudah
dibuat. Pada faktor kelemahan PT Alat Tulis yaitutidak ada struktur organisasi sesuai
dengan skill sehingga dapat menghambat kegiatan perusahaan.Perusahaan membutuhkan
struktur organisasi untuk mempermudah dalam melaksanakan koordinasi dan juga
hubungan, karena adanya keterkaitan dalam penyelesaian mengenai suatu fungsi yang
telah dipercayakan kepada seseorang atau anggota.

Setelah melakukan identifikasi melalui analisis SWOT dan juga implementasi


strategi untuk perusahaan, ada beberapa rekomendasi yang kami tawarkanyaitu mengenai
strategi pengawasan organisasi serta pola produktivitas dalam perusahaan Ichiban.Karena
pada dasaranya sebagian besar permasalahan yang muncul pada perusahaan Ichiban
dikategorikan dalam dua hal tersebut, hal ini juga memengaruhi kurang maksimalnya
target peningkatan penjualan yang diharapkan perusahaan.

12