Anda di halaman 1dari 22

KERTAS KERJA AUDIT DAN KEWAJARAN LAPORAN KEUANGAN

Mata Kuliah : Praktikum Pengauditan dan PDE A2

Dosen : Dr. I Dewa Nyoman Badera, S.E., M.Si., Ak

KELOMPOK 9 :

Vebyeta Listiani (1707531139)

Felisia Metanoia (1707531147)

Niellashastri Shania Gayatri (1707531156)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2020
A. Kertas Kerja Neraca
Neraca lajur (work sheet) adalah kertas kerja berkolom yang digunakan sebagai kertas
kerja dalam penyusunan laporan keuangan. Penggunaan neraca lajur, dapat mengurangi
kesalahan terlupakannya salah satu ayat jurnal penyesuaian yang harus dilakukan. Di
samping itu, neraca lajur juga dapat digunakan untuk memeriksa ketepatan perhitungan yang
dilakukan, dan memungkinkan penyusunan data secara logis. Dalam kertas kerja neraca ini
memuat nama perusahaan, nama kertas kerja dan jangka waktu yang dicakup.
Bentuk neraca lajur terdiri dari kolom untuk nomor dan nama akun serta 5 pasang kolom
debit dan kredit (sehingga seluruhnya menjadi 10 kolom). Judul dari lima pasang kolom
debit-kredit tersebut adalah neraca saldo, jurnal penyesuaian, neraca saldo disesuaikan,
laporan laba rugi dan neraca.

B. Laba Rugi
Laporan laba rugi (income statement) adalah laporan keuangan yang melaporkan kinerja
keuangan perusahaan dalam periode waktu tertentu. Laporan laba rugi meringkas jumlah
biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan selama beroperasi serta keuntungan yang diperoleh
perusahaan selama menjalankan usaha. Laporan laba rugi merupakan bagian laporan yang
penting dari sebuah perusahaan karena dari laporan ini terlihat pendapatan bersih perusahaan
yang dapat dinilai bersama apakah perusahaan meraih keuntungan selama beroperasi atau
justru merugi. Setidaknya ada 4 unsur yang ada dalam laporan laba rugi, berikut ini adalah ke
empat elemen tersebut lengkap dengan penjelasannya :
1) Pendapatan. Pertama adalah unsur pendapatan, pendapatan atau revenues adalah arus kas
masuk atau peningkatan aktiva lainnya dari perusahaan, atau ada penyelesaian liabilitas
dalam periode tertentu. Hal ini terjadi karena adanya pengiriman barang atau produksi
barang dan menyelesaikan jasa.
2) Beban-beban. Elemen beban-beban, merupakan sebuah catatan yang terjadi pada arus
kelaur atau adanya penggunaan aktiva yang kemudia menimbulkan liabilitas selama
periode tertentu. Misalnya karena adanya pengiriman atau produksi barang. (Pengertian
dan Cara Mudah Menghitung Harga Pokok Penjualan)
3) Keuntungan. Provit atau keuntungan merupakan salah satu elemen yang ada pada laporan
laba rugi. Elmem ini menunjukan pada adanya peningakatan ekuitas yang terjadi karena
adanya transaksi pada perusahaan yang bersifar periferal atau seacara kebetulan dihasilan
dari pendapatan atau investasi dari pemilik perusahaan.
4) Kerugain. Terakhir adalah elemen loss atau kerugian, meruapak elemen yang
mengambarkan adanya penurunan ekuitas, hal ini terjiadi biasanya karena adanya
transaksi perusahaan yang sifanya periferal atau secara kebetulan dihasilkan dari beban
atau pendistribusian ke pemilik perusahaan.

C. Jurnal Penyesuaian dan Reklasifikasi


Jurnal penyesuaian merupakan jurnal yang dibuat pada akhir periode akuntansi untuk
membandingkan antara pendapatan dengan beban pada periode pengakuan yang sama. Jurnal
ini digunakan untuk memastikan bahwa antara prinsip pengakuan pendapatan dan prinsip
penandingan sudah terpenuhi. Penandingan antara pendapatan dan beban dilakukan untuk
memenuhi pelaporan keuangan yang dibagi dalam periode akuntansi. Untuk menentukan
periode mana pelaporan pendapatan atau beban tergantung pada sistem yang digunakan,
apakah menerapkan cash basis atau accrual basis.
Jika asumsi yang digunakan adalah acrual basis, maka pengakuan terhadap pendapatan
diakui pada saat terjadi, bukan pada saat menerima atau mengeluarkan kas. Sistem ini
mengharuskan organisasi untuk mengakui pendapatn setiap kas yang diterima atau akan
diterima dari penghasilan. Penandingan pendapatan dengan beban pada periode yang sama
mensyaratkan dibuatnya jurnal penyesuaian agar data update sesuai dengan keadaan
sebenarnya.
Menyusun jurnal penyesuaian untuk transaksi yang di awal sudah dicatat dengan benar,
bertujuan untuk memperbaharui data agar dapat menentukan dengan tepat besarnya jumlah
penerimaan yang diterima di muka yang telah menjadi pendapatan untuk periode berjalan,
besarnya jumlah penerimaan yang diterima di muka dalam periode berjalan yang akan
ditangguhkan sebagai pendapatan untuk periode mendatang, berapa besarnya bagian dari
jumlah pengeluaran yang telah menjadi beban untuk periode berjalan, besarnya bagian dari
jumlah pengeluaran periode berjalan yang akan ditangguhkan sebagai beban untuk periode
mendatang, jumlah beban periode berjalan yang harus diakui meskipun pembayarannya
belum dilakukan, dan berapa besarnya jumlah pendapatan periode berjalan yang harus diakui
meskipun penagihan kasnya belum diterima.
Sedangkan jurnal reklasifikasi atau pembetulan atau koreksi digunakan untuk
memperbaiki kesalahan dalam pencatatan transaksi. Secara garis besar, semua kesalahan
seharusnya dikoreksi. Tapi ada beberapa kondisi yang menyebabkan tidak semua kesalahan
dibuat jurnal koreksinya karena dengan sendirinya akan betul diperiode berikutnya.

D. Lembar Prosedur Analitis


Menurut SAS No. 56 (AU 329,02) prosedur analitis adalah "evaluasi informasi keuangan
yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang logis antar data keuangan maupun
nonkeuangan yang meliputi pembandingan jumlah-jumlah yang tercatat atas harapan yang
dikembangkan oleh auditor". Prosedur analitis dapat digunakan untuk tujuan sebagai berikut:
1. ·Sebagai alat perencanaan,untuk menentukan nature, timing dan perluasan prosedur audit
lainnya, memahami bisnis klien, dan mengidentifikasi area yang mungkin memiliki
risiko.
2. Sebagai uji substantif, untuk mendapatkan bukti audit yang nyata tentang asersi terkait
saldo akun atau transaksi.
3. Sebagai review keseluruhan dari laporan keuangan dalam tahap penyelesaian audit,
mengidentifikasi kenaikan atau penurunan tidak biasa yang tidak terdeteksi dalam tahap
perencanaan dan pengujian audit, dan untuk memastikan bahwa laporan keuangan telah
disajikan secara wajar.

Prosedur analitis yang digunakan dalam perencanaan audit harus focus pada:
1. Meningkatkan pemahaman uditor pada bisnis klien.
2. Mengidentifikasi area yang mungkin terdapat risiko.

Prosedur analitis digunakan dalam setiap fase auditing dengan tujuan sebagai berikut :
1. Pada fase perencanaan, untuk membantu auditor dalam merencanakan sifat, waktu,
lingkup dan prosedur audit.
2. Pada fase pengujian, untuk memperoleh bukti mengenai masing-masing asersi yang
berhubungan dengan saldo akun atau jenis-jenis transaksi.
E. Surat Pernyataan Manajemen
Surat pernyataan manajemen atau surat representasi manajemen (management
representation letter) adalah surat yang ditujukan kepada auditor, ditandatangani oleh direksi
dan kepala keuangan klien. Selama audit, manajemen membuat banyak surat representasi
kepada auditor. Representasi tertulis dari manajemen merupakan penegasan atas pernyataan
lisan yang diberikan kepada auditor dan mengurangi kemungkinan kesalahpahaman. SA
Seksi 333 menyatakan bahwa Surat Representasi Manajemen adalah bagian dari bukti audit
yang diperoleh auditor, tetapi tidak merupakan pengganti bagi penerapan prosedur audit yang
diperlukan untuk memperoleh dasar memadai bagi pendapat auditor atas laporan keuangan.
Auditor memperoleh representasi tertulis dari manajemen untuk melengkapi prosedur audit
lain yang dilakukannya. Dalam banyak hal, auditor menerapkan prosedur audit terutama
didesain untuk memperoleh informasi yang mendukung masalah yang juga direpresentasikan
secara tertulis. Jika suatu representasi yang dibuat oleh manajemen bertentangan dengan
bukti audit lain, auditor harus menyelidiki keadaan tersebut dan mempertimbangkan
keandalan representasi tersebut. Berdasarkan keadaan tersebut, auditor harus
mempertimbangkan apakah keandalan representasi manajemen yang berkaitan dengan aspek
lain laporan keuangan memadai dan beralasan.
Representasi tertulis dari manajemen harus diperoleh untuk semua laporan keuangan dan periode
yang dicakup oleh laporan audit. Sebagai contoh, jika laporan keuangan komparatif dilaporkan,
representasi tertulis yang diperoleh pada penyelesaian audit yang terkini harus mencakup semua
periode yang dilaporkan. Representasi tertulis tertentu yang diperoleh auditor akan tergantung pada
keadaan perikatan dan sifat dan basis penyajian laporan keuangan. Dalam hubungannya dengan audit
laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia,
representasi tertentu harus berhubungan dengan hal-hal berikut ini:
1. Laporan Keuangan
a. Pengakuan manajemen mengenai tanggung jawabnya untuk menyajikan laporan
keuangan secara wajar, posisi keuangan, basil usaha, dan arus kas sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
b. Keyakinan manajemen bahwa laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
2. Kelengkapan Informasi
a. Keyakinan manajemen bahwa laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip yang
berlaku umum di Indonesia.
b. Ketersediaan catatan keuangan dan data yang berkaitan.
c. Kelengkapan dan ketersediaan semua notulen rapat pemegang saham, direksi, dan
dewan komisaris.
d. Komunikasi dari badan pengatur tentang ketidakpatuhan dengan atau kekurangan
dalam praktik pelaporan keuangan.
e. Tidak adanya transaksi yang tidak dicatat.
3. Pengakuan, Pengukuran, dan Pengungkapan
a. Informasi tentang kecurangan yang melibatkan (1) manajemen, (2) karyawan yang
memiliki peran signifikan dalam pengendalian intern, atau (3) pihak lain yang
kecurangannya berdampak material atas laporan keuangan.
b. Rencana atau maksud yang mungkin akan mempengaruhi nilai atau klasifikasi aktiva
atau kewajiban.
c. Informasi mengenai transaksi antarpihak yang memiliki hubungan istimewa dan
piutang atau utang antarpihak yang memiliki hubungan istimewa.
d. Jaminan, tertulis atau lisan, yang menyebabkan entitas memiliki utang bersyarat.
e. Estimasi signifikan dan pemusatan material yang diketahui oleh manajemen yang
harus diungkapkan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
f. Pelanggaran atau kemungkinan pelanggaran hukum atau peraturan yang dampaknya
harus dipertimbangkan untuk diungkapkan dalam laporan keuangan atau sebagai
dasar untuk mencatat rugi bersyarat.
g. Tuntutan yang belum dinyatakan atau prakiraan yang telah dikemukakan oleh
penasihat hukum merupakan tuntutan yang kemungkinan besar akan terjadi harus
diungkapkan sesuai dengan PSAK Akuntansi untuk Kontijensi.
h. Tuntutan yang tidak diungkapkan meskipun telah diberitahukan kemungkinannya
oleh penasihat hukum klien.
i. Hak atas aktiva, hak gadai atas aktiva, dan aktiva yang dijaminkan.
j. Kepatuhan dengan pasal-pasal perjanjian kontrak yang mungkin berdampak terhadap
laporan keuangan.
F. Laporan Auditan
Laporan Auditan merupakan media yang dipakai oleh auditor dalam berkomunikasi
dengan masyarakat lingkungannya. Dalam laporan tersebut auditor menyatakan pendapatnya
mengenai kewajaran laporan keuangan auditan. Pendapat auditor tersebut disajikan dalan
suatu laporan tertulis yang umumnya Berikut beberapa pengertian laporan audit :
Menurut Boynton Johnson Kell, laporan audit adalah media formal yang digunakan oleh
auditor dalam mengkomunikasikan kepada pihak yang berkepentingan tentang kesimpulan
atas laporan keuangan yang di audit.
Menurut Mulyadi, laporan audit adalah suatu media yang dipakai oleh auditor dalam
berkomunikasi dengan masyarakat lingkungannya. Dalam laporan tersebut auditor
menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran laporan keuangan auditan.
Yang dimaksud dengan laporan audit atau audit report yaitu laporan auditor yang
menyatakan bahwa pemeriksaan telah dilakukan dengan norma pemeriksaan akuntan, disertai
dengan pendapat mengenai kewajaran atas laporan keuangan perusahaan yang diperiksa,
jenis pendapat yang dikenal ialah wajar tanpa syarat (unqualified clean), wajar dengan syarat
(qualified), menolak dengan memberikan pendapat (adverse), dan menolak tanpa
memberikan pendapat sama sekali (disclaimer).berupa laporan audit baku.
Laporan audit baku terdiri dari tiga paragraf :
1. Paragraf pengantar dicantumkan sebagai paragraf pertama laporan audit baku. Terdapat 3
fakta yang diungkapkan oleh auditor dalam paragraf pengantar ;
 Tipe jasa yang diberikan auditor
 Objek yang diaudit
 Pengungkapan tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dan tanggung
jawab auditor atas pendapat yang diberikan atas laporan keuangan berdasarkan
hasil auditnya.
2. Paragraf lingkup berisi pernyataan ringkas mengenai lingkup audit yang dilaksanakan
auditor. Dan paragraf pendapat berisi pernyataan ringkas mengenai pendapat auditor
tentang kewajaran laporan keuangan auditan.
3. Paragraf ketiga dalam laporan audit baku merupakan paragraf yang digunakan oleh
auditor untuk menyataka n pendapatnya mengenai laporan keuangan yang disebutkannya
dalam paragraf pengantar. Dalam paragraf ini auditor menyatakan pendapatnya mengenai
kewajaran laporan keuangan auditan , dalam semua hal yang material, yang didasarkan
atas kesesuaian penyusunan laporan keuangan tersebut dengan prinsip akuntansi
berterima umum.
G. Surat Kepada Manajemen
Manajemen Letter merupkan suatu surat yang dibuat oleh Kantor Akuntan Publik (KAP),
ditujukan kepada manajemen perusahaan yang diperiksa laporan keuangannya (di audit),
yang isinya memberitahukan kelemahan dari pengendalian intern perusahaan (baik material
maupun immaterial weaknesses) yang ditemukan selama pelaksanaan pemeriksaan, disertai
dengan saran-saran perbaikan dari KAP.
Menurut Whittington, O. Ray dan Kurt Paniy (2001), management letter adalah suatu
laporan kepada manajemen yang berisi rekomendasi untuk perbaikan kelemahan-kelemahan
yang diungkapkan akuntan public setelah mempelajari dan mengevaluasi pengendalian intern
perusahaan. Disamping untuk menyampaikan informasi-informasi yang bermanfaat kapada
manajemen, management letter juga membantu membatasi tanggung jawab akuntan public
seandainya dikemudian hari kelemahan pengendalian intern mengakibatkan kerugian bagi
perusahaan.
Dalam menjalankan usahanya, KAP tidak diperbolehkan mengiklankan kantornya atau
jasa yang diberikan kantornya, karena jika hal tersebut dilakukan berarti KAP tersebut
melanggar Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik – IAI. Salah satu cara untuk
mendapatkan langganan adalah bekerja sebaik mungkin dalam memeriksa laporan keuangan
suatu perusahaan, sehingga jika perusahaan tersebut puas atas jasa pemeriksaan dari KAP,
diharapakan manajemen perusahaan akan merekomendasikan kepada teman-teman usahanya
untuk menggunakan jasa KAP tersebut.
Untuk mempelajari dan mengevaluasi pengendalian intern, akuntan public bisa
menggunakan:
a) Internal Control Questionnaires
b) Flow Chart, menggambarkan arus dokumen dalam memproses suatu transaksi, dari awal
sampai akhir dengan menggunakan symbol-simbol tertentu.
c) Menggunakan Narrative Memo (penjelasan tertulis dari system dan prosedur akuntansi)
d) Dari ketiga cara tersebut, akuntan publik akan mendapatkan suatu gambaran mengenai
pengendalian intern mengenai pengendalian intern yang ada di perusahaan secara teoritis.
Hal tersebut masih harus dibuktikan lebih lanjut dengan menggunakan Complience test
(test ketaatan).
Dalam compliance test, yang diperiksa adalah:
1) Transaksi pengeluaran kas
2) Transaksi penerimaan kas
3) Transaksi penjualan
4) Transaksi pembelian
5) Transaksi pembayaran gaji
6) Transaksi koreksi/penyesuaian
Dalam hal ini yang diperhatikan adalah hal-hal berikut:
˗ Apakah setiap transaksi didukung oleh dokumen pendukung yang lengkap
˗ Apakah setiap transaksi diotorisasi oleh pejabat perusahaan yang berwenang
˗ Apakah perhitungan matematis dalam dokumen pembukuan sudah benar
˗ Apakah pendebitan dan pengkreditan transaksi ke masing-masing perkiraan buku besar
sudah benar.
Setelah melakukan compliance test, akuntan public harus menarik kesimpulan mengenai
kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam pengendalian intern
perusahaan. Kemudian hasil temuan tersebut harus diberitahukan kepada manajemen
perusahaan, beserta saran-saran perbaikannya dalam sebuah surat yang disebut Manajemen
Letter.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.cekkembali.com/neraca-lajur/
https://zahiraccounting.com/id/blog/apa-sih-perbedaan-jurnal-penyesuaian-dengan-jurnal
koreksi/
http://kamusbisnis.com/arti/surat-representasi-manajemen/
http://memebali.blogspot.com/2013/05/auditing-dan-atestasi-surat.html
https://jtanzilco.com/blog/detail/1080/slug/prosedur-analitis
http://eleks-mulyadi.blogspot.com/2010/01/management-letter-auditing.html
PT SUGUS
DAFTAR JURNAL KOREKSI DAN REKLASIFIKASI
TAHUN 2018
DEBIT KREDIT
NO KETERANGAN Ref
(Rp) (Rp)
1 Penjualan 10,000,000
PPN 1,000,000
Piutang Usaha PT. Krakatau 11,000,000
(Koreksi penjualan dicatat dua kali)

2 Beban Piutang Tak Tertagih 11,000,000


Piutang Usaha PT. ORIENTASI 11,000,000
(Koreksi Penghapusan Piutang Usaha)

3 Piutang Apiliasi PT PELITA 10,357,027,600


Piutang Usaha PT PELITA 10,357,027,600

4 Piutang Usaha PT USAHA LANCAR 198,000,000


Penjualan 180,000,000
PPN 18,000,000

5 Beban lain-lain 20,000


Kas besar 20,000

6 Hasil cash count untuk kas kecil terdapat selisih sebesar Rp 200,000:
Uang Muka Berjalan 30,000
Biaya Bensin 20,000
Biaya Pakir & Tol 50,000
Biaya Materai 120,000
Kas kecil 220,000

7 Untuk pengeluaran kas kecil yang belum di-reimburse maka dilakukan koreksi sebagai berikut:
Beban perjalanan & akomodasi 100,000
Biaya yang masih harus dibayar 100,000

8 Bank Loppo 33,750,000


Piutang Dagang 33,750,000

9 Hutang usaha 990,000


Bank CAB 990,000
(koreksi terhadap kesalahan pencatatan pembayaran hutang PT Berkat)

10 Piutang usaha 2,200,000


Bank CAB 2,200,000
(koreksi untuk tolakan kliring PT Krakatau)

11 Bank CAB 10,600,000


Piutang usaha 10,600,000
(koreksi untuk penerimaan piutang PT Lestari yang belum dicatat)

12 Bank CAB 131,500


Beban bank 25,000
Pendapatan bunga 156,500
(koreksi untuk mencatat biaya administrasi bank dan jasa giro bulan Desember 2017)

13 Bank Loppo 52,226


Beban Bank 23,000
Pendapatan bunga 75,226

14 Bank Loppo 3,350,000


Piutang Usaha 3,350,000

15 Deposito berjangka 150,000,000


Laba Valuta Asing 150,000,000

16 Surat Berharga 500,000


Laba Penjualan Surat Berharga 500,000

17 Investasi 30,000,000
Pendapatan lain-lain 30,000,000

18 Gedung 22,500,000
Investasi 22,500,000

19 Beban lain-lain 100,000,000


Bangunan & prasarana 100,000,000

20 Bangunan & prasarana 30,000,000


PPN keluaran 30,000,000
21 Kendaraan bermotor- baru 59,371,000
Akumulasi depresiasi-kendaraan 16,000,000
Rugi aktiva tetap 4,629,000
Kendaraan bermotor-lama 80,000,000

22 Aktiva tetap sewa guna usaha 160,000,000


Kendaraan bermotor 160,000,000

23 Kewajiban sewa guna usaha 27,981,000


Aktiva tetap sewa guna usaha 27,981,000

24 Peralatan kantor 9,890,000


beban lain-lain 9,890,000

25 Akumulasi depresiasi-peralatan kantor 1,600,000


Rugi aktiva tetap 400,000
Peralatan kantor 2,000,000

26 Akumulasi depresiasi-bangunan & prasarana 67,250,000


Akumulasi depresiasi-Kendaraan bermotor 168,181,600
Akumulasi depresiasi-Peralatan kantor 15,489,200
Depresiasi-beban operasi 183,670,800
Depresiasi-beban produksi tak langsung 67,250,000

27 Beban depresiasi 22,003,167


Akumulasi depresiasi-aktiva sewa guna usaha 22,003,167

28 Hutang sewa guna usaha-jk panjang 68,480,000


Hutang sewa guna usaha-lancar 68,480,000

29 Beban bunga 9,327,000


Hutang sewa guna usaha-jk panjang 9,327,000

30 Beban komisi (beban lain-lain) 60,000,000


Beban perjalanan dinas&akomodasi 60,000,000

31 Beban jamuan & representasi 4,500,000


Perlengkapan kantor 4,500,000

32 Beban jamuan & representasi 20,000,000


Pendapatan lain-lain 20,000,000

33 Saldo laba 10,000,000


Kesejahteraan karyawan 10,000,000

34 Beban pajak penghasilan 84,560,200


Hutang pajak 84,560,200

35 Beban pajak ditangguhkan 63,978,417


Hutang pajak ditangguhkan 63,978,417

TOTAL 11,835,129,910 11,835,129,910


WP PER AUDIT PER AUDIT Kenaikan (penurunan)
KETERANGAN
REF 31-12-17 31-12-18 Rp %
ASET

Aset Lancar
Kas dan setara kas 67,695,350 17,764,050 (49,931,300) (74)
Investasi jangka pendek 1,200,000,000 430,000,000 (770,000,000) (64)
Piutang Usaha 8,497,922,298 12,118,573,240 3,620,650,942 43
Piutang lain-lain 65,000,000 85,000,000 20,000,000 31
Persediaan 1,808,167,030 2,738,098,700 929,931,670 51
Beban dibayar dimuka 40,000,000 95,700,000 55,700,000 139
Total aset lancar 11,678,784,678 15,485,135,990 3,806,351,312 33
Ʌ
Investasi pada entitas asosiasi - -

Aset Tetap
Harga perolehan 4,403,670,000 6,799,069,000 2,395,399,000 54
Akumulasi penyusutan 472,468,000 790,142,167 317,674,167 67
Nilai buku 3,931,202,000 6,008,926,833 2,077,724,833 53
Ʌ
Aset Lainnya 386,573,000 - (386,573,000) (100)

Total Aset 15,996,559,678 21,494,062,823 5,497,503,145 34

Klien : Dibuat Oleh : Diperiksa oleh : Indeks


PT SUGUS Lita Dimjati ARP 2.1
Skedul : Tanggal: Tanggal : Periode
Kertas kerja Neraca 20-01-19 10-02-19 31-12-18
WP PER AUDIT PER AUDIT Kenaikan (penurunan)
KETERANGAN
REF 31-12-17 31-12-18 Rp %
KEWAJIBAN DAN EKUITAS

Kewajiban jangka pendek


Pinjaman bank dan cerukan 200,000,000 200,000,000 - -
Utang usaha 1,068,203,500 1,278,926,000 210,722,500 20
Utang lain-lain 29,185,800 191,193,058 162,007,258 555
Utang pajak 133,753,747 652,137,645 518,383,898 388
Biaya yang masih harus dibayar 5,787,490 162,088,980 156,301,490 2,701
Utang bank 833,304,163 1,299,438,759 466,134,596 56
Utang sewa pembiayaan jangka
pendek 30,720,000 -
Total kewajiban jangka pendek 2,300,954,700 3,783,784,442 1,513,549,742 66

Kewajiban jangka panjang


Utang bank 8,235,352,644 10,175,357,444 1,940,004,800 24
Utang sewa pembiayaan jangka
panjang 20,480,000 103,134,000 82,654,000 404
Total kewajiban jangka panjang 8,255,832,644 10,278,491,444 2,022,658,800 24

EKUITAS
Modal saham Rp.2.200.000 per lembar 2,220,000,000 2,220,000,000 - -
Saldo laba 3,219,772,334 5,211,786,937 1,992,014,603 62
Total Ekuitas 5,439,772,334 7,431,786,937 1,992,014,603 37

Total kewajiban dan ekuitas 15,996,559,678 21,494,062,823 5,528,223,145 35

Klien : Dibuat Oleh : Diperiksa oleh : Indeks


PT SUGUS Lita Dimjati ARP 2.2
Skedul : Tanggal: Tanggal : Periode
Kertas kerja Neraca 20-01-19 10-02-19 31-12-18
WP PER AUDIT PER AUDIT Kenaikan (penurunan)
KETERANGAN
REF 31-12-17 31-12-18 Rp %
PENJUALAN NETO 30,621,597,850 42,586,834,000 11,965,236,150 39

BEBAN POKOK PENJUALAN 24,883,531,468 33,216,197,959 8,332,666,491 33

LABA BRUTO 5,738,066,382 9,370,636,041 3,632,569,659 63


Ʌ
BEBAN USAHA 1,858,952,040 4,093,832,296 2,234,880,256 120

LABA USAHA 3,879,114,342 5,276,803,745 1,397,689,403 36


Ʌ
(PENDAPATAN) DAN BEBAN LAIN-LAIN
(Laba)/ rugi aset tetap - (2,500,000)
(Laba)/ rugi valuta asing 105,300,600 120,500,600 15,200,000 14
Pendapatan bunga (8,654,500) (9,696,765) (1,042,265) 12
Beban bunga 1,886,400,000 2,101,607,415 215,207,415 11

BEBAN LAIN-LAIN NETO 1,983,046,100 2,209,911,250 229,365,150 12


Ʌ
LABA SEBELUM PAJAK 1,896,068,242 3,066,892,495 1,168,324,253 62

BEBAN PAJAK PENGHASILAN 437,336,772 1,074,877,892 637,541,120 146

LABA NETO 1,458,731,470 1,992,014,603 530,783,133 36

Klien : Dibuat Oleh : Diperiksa oleh : Indeks


PT SUGUS Lita Dimjati ARP 2.3
Skedul : Tanggal: Tanggal : Periode
Kertas kerja Laba rugi 20-01-19 10-02-19 31-12-18
PT SUGUS
LAPORAN LABA RUGI
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2017 DAN 2018
(Dinyatakan dalam Rupiah)
CATAT
KETERANGAN 2018 2017
AN
PENJUALAN NETO 42,586,834,000 30,621,597,850

BEBAN POKOK PENJUALAN 33,216,197,959 24,883,531,468

LABA BRUTO 9,370,636,041 5,738,066,382

BEBAN USAHA 4,093,832,296 1,858,952,040

LABA USAHA 5,276,803,745 3,879,114,342

(PENDAPATAN) DAN BEBAN LAIN-LAIN


(Laba)/ rugi aset tetap (2,500,000) -
(Laba)/ rugi valuta asing 120,500,600 105,300,600
Pendapatan bunga (9,696,765) (8,654,500)
Beban bunga 2,101,607,415 1,886,400,000

BEBAN LAIN-LAIN NETO 2,209,911,250 1,983,046,100

LABA SEBELUM PAJAK 3,066,892,495 1,896,068,242

BEBAN PAJAK PENGHASILAN 1,074,877,892 437,336,772

LABA NETO 1,992,014,603 1,458,731,470

* Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian tidak terpisah dari laporan keuangan secara keseluruhan
NERACA
31 Desember 2018
(Dinyatakan dalam rupiah)
ASET 2018 2017 KEWAJIBAN DAN EKUITAS 2018 2017
ASET KEWAJIBAN DAN EKUITAS

Aset Lancar Kewajiban jangka pendek


Kas dan setara kas 17,764,050 67,695,350 Pinjaman bank dan cerukan 200,000,000 200,000,000
Investasi jangka pendek 430,000,000 1,200,000,000 Utang usaha 1,278,926,000 1,068,203,500
Piutang Usaha 12,118,573,240 8,497,922,298 Utang lain-lain 191,193,058 29,185,800
Piutang lain-lain 85,000,000 65,000,000 Utang pajak 652,137,645 133,753,747
Persediaan 2,738,098,700 1,808,167,030 Biaya yang masih harus dibayar 162,088,980 5,787,490
Beban dibayar dimuka 95,700,000 40,000,000 Utang jangka panjang yg jatuh tempo dalam 1 thn - -
Total aset lancar 15,485,135,990 11,678,784,678 Utang bank 1,299,438,759 833,304,163
Ʌ Utang sewa pembiayaan jangka pendek - 30,720,000
Investasi pada entitas asosiasi - Total kewajiban jangka pendek 3,783,784,442 2,300,954,700
Ʌ
Aset Tetap Kewajiban jangka panjang
Utang jangka panjang yang telah dikurangi bagian
Harga perolehan 6,799,069,000 4,403,670,000 yang jatuh tempo dalam waktu 1 thn -
Akumulasi penyusutan 790,142,167 472,468,000 Utang bank 10,175,357,444 8,235,352,644
Nilai buku 6,008,926,833 3,931,202,000 Utang sewa pembiayaan jangka panjang 103,134,000 20,480,000
Ʌ Total kewajiban jangka panjang 10,278,491,444 8,255,832,644
Aset Lainnya 386,573,000 Ʌ
EKUITAS
Modal saham Rp.2.200.000 per lembar 2,220,000,000 2,220,000,000
Saldo laba 5,211,786,937 3,219,772,334
Total Ekuitas 7,431,786,937 5,439,772,334
Ʌ
Total Aset 21,494,062,823 15,996,559,678 Total kewajiban dan ekuitas 21,494,062,823 15,996,559,678

* Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian tidak terpisah dari laporan keuangan secara keseluruhan
PT SUGUS
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2018
(Dinyatakan dalam rupiah)

MODAL SAHAM SALDO LABA JUMLAH


Saldo 31 Desember 2016 2,220,000,000 2,220,000,000

Laba neto -

Saldo 31 Desember 2017 2,220,000,000 3,219,772,334 5,439,772,334

Laba neto 1,992,014,603

Saldo 31 Desember 2018 2,220,000,000 5,211,786,937 7,431,786,937


* Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian tidak terpisah dari laporan keuangan secara keseluruhan
uhan