Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap orang pasti pernah mengalami luka, baik luka ringan maupun
luka berat. Kita akan menemui banyak kasus luka, Sebelum kita melakukan
perawatan luka pada pasien, sebaiknya kita mengetahui lebih dalam tentang
penyembuhan atau yang disebut juga dengan Healing. Penyembuhan
merupakan hal yang paling penting, sebelum terjadinya penyembuhan luka,
rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat jaringan yang mengalami cedera,
seperti karena terbakar, atau terinfeksi. Oleh karena itu setiap penyakit baik
luka dan penyakit yang lain perlu adanya healing atau penyembuhan
khususnya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa Itu Healing ?


2. Bagaimana Proses Healing itu sendiri ?
3. Bagaimana Pengendalian Molekul Proses Penyembuhan ?
4. Bagaimana Proses Penyembuhan Luka ?
5. Faktor – Faktor yang menyebabkan seseorang luka ?
6. Dampak Komplikasi apa saja yang di timbulkan dari luka.
7. Bagaimana Proses Penyembuhan Patah Tulang yang diderita sesorang ?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Healing

Healing merupakan istilah pengobatan alami yang sering di ucapkan


dan di jadikan kata kata yang umumnya di lakukan oleh praktisi pengobatan
alami, seperti self healing, other healing, natural healing dan lain lain. Di
saat ini kata kata healing sudah hal yang biasa di dengar oleh masyarakat,
sejak maraknya acara talk show reiki, dan berbagai talk show acara
alternatif lainnya yang sering tayang di TV. Jadi masyarakat umumnya
kebanyakan sudah memahami kalau healing itu adalah istilah kesehatan
untuk pengobatan alami. healing yang kemudian terjadi pada jaringan yang
rusak ini ialah penyembuhan.

2.2 Proses Penyembuhan

Merupakan proses perbaikan sel-sel tubuh untuk berfungsi normal


kembali. Setelah sel-sel tubuh mendapatkan nutrisi yang lengkap dari
Liqua Health maupun Liqua Spirulina, maka sel-sel tubuh memiliki
kekuatan untuk mengeluarkan zat-zat beracun/toxin dari dalam tubuh
secara alamiah. Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk
melindungi dan memulihkan dirinya. Peningkatan aliran darah ke daerah
yang rusak, membersihkan sel dan benda asing dan perkembangan awal
seluler bagian dari proses penyembuhan. Proses penyembuhan terjadi
secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa bahan perawatan dapat
membantu untuk mendukung proses penyembuhan. Sebagai contoh,
melindungi area yang luka bebas dari kotoran dengan menjaga kebersihan
membantu untuk meningkatkan penyembuhan jaringan.
 
 Fase Inflamasi :
Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira – kira
hari kelima.. pembuluh darah yang terputus pada luka akan
menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha menghentikannya
dengan vasokonstriksi, pengerutan ujung pembuluh yang putus
(retraksi), dan reaksi hemostasis. Hemostasis terjadi karena trombosit
yang keluar dari pembuluh darah saling melengket, dan bersama
dengan jala fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari
pembuluh darah. Sementara itu terjadi reaksi inflamasi.
Sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamine
yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi
cairan, penyebukan sel radang, disertai vasodilatasi setempat yang
menyebabkan udem dan pembengkakan. Tanda dan gejala klinik reaksi
radang menjadi jelas berupa warna kemerahan karena kapiler melebar
(rubor), suhu hangat (kalor), rasa nyeri (dolor), dan pembengkakan
(tumor).
Aktifitas seluler yang terjadi adalah pergerakan leukosit menembus
dinding pembuluh darah (diapedesis) menuju luka karena daya
kemotaksis. Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu
mencerna bakteri dan kotoran luka. Limfosit dan monosit yang
kemudian muncul ikut menghancurkan dan memakan kotoran luka dan
bakteri (fagositosis). Fase ini disebut juga fase lamban karena reaksi
pembentukan kolagen baru sedikit dan luka hanya dipertautkan oleh
fibrin yang amat lemah.

 Fase Proliferasi
Fase proliferasi disebut juga fase fibroplasia karena yang menonjol
adalah proses proliferasi fibroblast. Fase ini berlangsung dari akhir
fase inflamasi sampai kira – kira akhir minggu ketiga. Fibroblast
berasal dari sel mesenkim yang belum berdiferensiasi, menghasilkan
mukopolisakarida, asama aminoglisin, dan prolin yang merupakan
bahan dasar kolagen serat yang akan mempertautkan tepi luka.
Pada fase ini serat dibentuk dan dihancurkan kembali untuk
penyesuaian diri dengan tegangan pada luka yang cenderung mengerut.
Sifat ini, bersama dengan sifat kontraktil miofibroblast, menyebabkan
tarikan pada tepi luka. Pada akhir fase ini kekuatan regangan luka
mencapai 25% jaringan normal. Nantinya, dalam proses penyudahan
kekuatan serat kolagen bertambah karena ikatan intramolekul dan antar
molekul.
Pada fase fibroplasia ini, luka dipenuhi sel radang, fibroblast, dan
kolagen, membentuk jaringan berwarna kemerahan dengan permukaan
yang berbenjol halus yang disebut jaringan granulasi. Epitel tepi luka
yang terdiri dari sel basal terlepas dari dasarnya dan berpindah mengisi
permukaan luka. Tempatnya kemudian diisi oleh sel baru yang
terbentuk dari proses mitosis. Proses migrasi hanya bisa terjadi ke arah
yang lebih rendah atau datar, sebab epitel tak dapat bermigrasi ke arah
yang lebih tinggi. Proses ini baru berhenti setelah epitel saling
menyentuh dan menutup seluruh permukaan luka. Dengan tertutupnya
permukaan luka, proses fibroplasia dengan pembentukan jaringan
granulasi juga akan berhenti dan mulailah proses pematangan dalam
fase penyudahan.

 Fase Penyudahan (Remodelling)


Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan
kembali jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya
gravitasi, dan akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk.
Fase ini dapat berlangsung berbulan – bulan dan dinyatakan berkahir
kalau semua tanda radang sudah lenyap. Tubuh berusaha menormalkan
kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan.
Udem dan sel radang diserap, sel muda menjadi matang, kapiler baru
menutup dan diserap kembali, kolagen yang berlebih diserap dan
sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada. Selama proses ini
dihasilkan jaringan parut yang pucat, tipis, dan lemas serta mudah
digerakkan dari dasar. Terlihat pengerutan maksimal pada luka. Pada
akhir fase ini, perupaan luka kulit mampu menahan regangan kira –
kira 80% kemampuan kulit normal. Hal ini tercapai kira – kira 3-6
bulan setelah penyembuhan

Berikut Macam - macam jenis penyembuhan yang sering di pakai oleh


para berbagai praktisi pengobatan alami :
1. Penyembuhan diri biasa di sebut dengan self healing
2. Penyembuhan orang lain biasa di sebut dengan istilah other healing
3. Penyembuhan dengan media herbal serta energi chi tanpa obat obatan
medis biasa di sebut dengan natural healing
4. Penyembuhan dengan sarana munajat berdoa kepada tuhan biasa di
sebut dengan rukyah healing
5. Penyembuhan dengan sarana energi chi secara jarak jauh biasa di
ucapkan dengan kata kata distance healing.

2.3 Pengendalian Molekul Proses Penyembuhan

penyembuhan luka adalah proses dinamis yang melibatkan tindakan


terpadu dari sejumlah jenis sel, matriks ekstra selular, dan mediator larut
disebut sitokin. Dalam beberapa tahun terakhir kemajuan yang cukup besar
telah dibuat dalam penelitian, pengetahuan, dan pemahaman tentang faktor
pertumbuhan. faktor pertumbuhan, pada dasarnya, protein yang
berkomunikasi kegiatan sel. Fungsi mereka adalah tergantung pada situs
reseptor mereka menempel. faktor pertumbuhan awalnya nama untuk jenis
respon yang dihasilkan oleh mereka, tetapi penelitian baru menunjukkan
bahwa banyak sel-sel ini dapat mencapai berbagai jenis respon. Peran
Faktor pertumbuhan dalam perbaikan luka adalah komponen penting dari
resolusi sukses luka. faktor pertumbuhan membantu mengatur banyak
kegiatan yang terlibat dalam penyembuhan. Peran dan fungsi faktor
pertumbuhan merupakan daerah berkembang ilmu pengetahuan dan
menawarkan potensi alternatif pengobatan di masa depan. Proses
penyembuhan luka mulai segera setelah proses perbaikan cedera luka
membutuhkan kontrol dekat proses degradatif dan regeneratif yang
melibatkan berbagai jenis sel dan interaksi kompleks antara beberapa
kaskade biokimia. faktor pertumbuhan dirilis di daerah trauma
mempromosikan migrasi sel ke daerah luka (kemotaksis), merangsang
pertumbuhan sel-sel epitel, dan fibroblas (mitogenesis) menginisiasi
pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis) dan merangsang
pembentukan matriks dan renovasi dari wilayah yang terkena dampak
Penelitian pada hewan telah menunjukkan bahwa eksogen menambahkan
faktor pertumbuhan dapat mempercepat proses penyembuhan normal. faktor
pertumbuhan telah berhasil digunakan pada manusia untuk mengobati luka
yang sebelumnya tidak bisa disembuhkan. Faktor-faktor pertumbuhan yang
paling intensif dipelajari adalah faktor epidermal pertumbuhan (EGF),
faktor pertumbuhan fibroblast (FGF), hormon pdgf (PDGF), mengubah
faktor pertumbuhan (TGF) -α, dan TGF-β. Masing-masing faktor saat ini
fokus pengembangan komersial intens

2.4 Penyembuhan Luka


Luka sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara mendapatkan
luka itu dan menunjukkan derajat luka.
1.   Berdasarkan tingkat kontaminasi :
a)    Clean Wounds (Luka bersih), :
Yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi proses
peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan,
pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya
menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan
drainase tertutup. Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1%
– 5%.
b)    Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi),
merupakan luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan,
genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi
tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3%
– 11%.
c)    Contamined Wounds (Luka terkontaminasi),
Termasuk luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi
dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi
dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut,
inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% – 17%.
d)    Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi),
Yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka.

2. Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka :


a)     Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) :
Yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.
b)  Stadium II : Luka “Partial Thickness” :
Yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian
atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda
klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
c)    Stadium III : Luka “Full Thickness” :
Yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis
jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak
melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada
lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot.
Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan
atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
d)  Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan
otot, tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang
luas.

2.5 Faktor – Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Luka


Secara garis besar penyebab luka di bagi menjadi tiga bagian yaitu:
fisik, mekanik, dan zat kimia
1. Penyebab luka Secara Fisik
  - Karena Paparan Suhu
     a. Suhu Panas
       b. Suhu Dingin
  - Karena Aliran Listrik
2. Penyebab luka secara Mekanik
- Luka karena Akibat trauma benda tajam
  - Luka karena Akibat trauma benda Tumpul
  - Luka akibat senjata api
- Luka karena bahan peledak
3. Penyebab luka karena Bahan Kimia tertentu
  - Karena paparan zat Asam
  - Karena Paparan Zat basa

2.6 Komplikasi Yang Ditimbulkan Dari Luka dan Faktor Penghambat


Penyembuhan

Terhentinya proses penyembuhan luka dapat menyebabkan komplikasi


seperti : perdarahan, hematoma, infeksi gangren dan mutasi sel. Terapi
farmakologi maupun terapi non-farmakologi dapat dikombinasikan untuk
mengatasi luka kronik. Berdasarkan lamanya penyemuhan, luka dapat
digolongkan menjadi dua yaitu :
1. Luka Akut
Merupakan luka yang baru terjadi yang dapat disembuhkan sesuai
dengan lama fase penyembuhan yang normal ( waktu penyembuhan
dapat diperkirakan).
2. Luka Kronik
Merupakan luka yang telah berlangsung lama karena penyembuhan
yang normal atau luka yang sering kambuh ( waktu penyembuhan luka
tidak dapat diperkirakan)
Berikut Faktor – faktor penghambat penyembuhan :
1. Kurang Nutrisi
Kurang memakan makanan yang sehat dan bergizi seimbang dapat
memperlambat proses penyembukan pada luka. Proses penyembuhan
luka memerlukan protein, karbohidrat, lemak, vitamin C dan A, dan
mineral seperti Fe, Zn yang memadai.
2. Kurang Menjaga Kebersihan
Kurang menjaga kebersihan dapat mengundang bakteri dan benda asing
seperti kotoran atau mikroorganisme yang dapat mengganggu proses
sirkulasi dan oksigenasi jaringan sehingga menghambat penyembuhan
luka.
3. Kegemukan
Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka sedikit lebih lambat
dikarenakan jaringan lemak membuat luka lebih sulit menyatu.
4. Diabetes
Orang yang memiliki hambatan terhadap sekresi insulin akan
mengakibatkan peningkatan gula darah, sehingga nutrisi tidak dapat
masuk ke dalam sel dan akan terjadi penurunan protein kalori tubuh
yang dapat menghambat penyembuhan luka.
5. Gangguan Pembuluh Darah
Orang dewasa yang menderita gangguan pembuluh darah, hipertensi,
diabetes militus dan anemia akan mengalami gangguan peredaran darah
sehingga oksigen pada darah yang membawa nutrisi untuk proses
penyembuhan luka menjadi berkurang.
6. Kelainan Pembekuan Darahn
Penderita kelainan pembekuan darah pada kondisi tertentu tidak boleh
disunat sebelum mendapatkan perawatan khusus dari dokter.
7. Merokok
Kandungan nikotin pada rokok dapat menyebabkan radikal bebas
sehingga menyebabkan aliran oksigen pada darah berkurang.
8. Faktor Infeksi 
Jika seseorang terkena infeksi maka daya tahan tubuh menjadi
berkurang, karena tubuh berusaha melawan infeksiter sebut sehingga
memperlambat proses penyembuhan luka.

2.7 Proses Penyembuhan Tulang ( Fracture Healing )


Tahap-Tahap Penyembuhan Fraktur Secara ringkas tahap penyembuhan
tulang adalah sebagai berikut :
1. Stadium Pembentukan Hematom Hematom terbentuk dari darah yang
mengalir yang berasal dari pembuluh darah yang robek Hematom
dibungkus jaringan lunak sekitar (periosteum & otot) Terjadi sekitar 1-2
x 24 jam
2. Stadium Proliferasi sel/inflamasi sel-sei berproliferasi dari lapisan
dalam periosteum, sekitar lokasi fraktur Sel-sel ini menjadi precursor
osteoblast Sel-sel ini aktif tumbuh kearah fragmen tulang Proliferasi
juga terjadi di jaringan sumsum tulang Terjadi setelah hari ke-2
kecelakaan terjadi
3. Stadium Pembentukan Kallus Osteoblast membentuk tulang lunak
(kallus) Kallus memberikan rigiditas pada fraktur Jika terlihat massa
kallus pada X-ray berarti fraktur telah telah menyatu Terjadi setelah 6-
10 hari setelah kecelakaan terjadi
4. Stadium Konsolidasi Kallus mengeras danerjadi proses konsolidasi.
Fraktur teraba telah menyatu Secara bertahap menjadi tulang mature
Terjadi pada minggu ke 3-10 setelah kecelakaan
5. Stadium Remodeling Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya
pada lokasi eks fraktur Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast
Pada anak-anak remodeling dapat sempurna, pada dewasa masih ada
tanda penebalan tulang
Dan berikut masalah yang terjadi Dalam Proses Penyembuhan Tulang
• Compartment syndrome Setelah terjadi fraktur terdapat pembengkakan
yang hebat di sekitar fraktur yang mengakibatkan penekanan pada
pembuluh darah yang berakibat tidak cukupnya supply darah ke otot
dan jaringan sekitar fraktur.
• Neurovascular injury Pada beberapa fraktur yang berat dapat
mengakibatkan arteri dan saraf disekitarnya mengalami kerusakan.
• Post traumatic arthritis Fraktur yang berhubungan dengan sendi (intra
artikuler fraktur) atau fraktur yang mengakibatkan bertemunya tulang
dengan sudut abnormal di dalam sendi yang dapat mengakibatkan
premature arthritis dari sendi.
• Growth abnormalities Fraktur yang terjadi pada open physis atau
growth plate pada anak – anak dapat menyebabkan berbagai macam
masalah. Dua dari masalah ini adalah premature partial atau penutupan
secara komplit dari physis yang artinya salah satu sisi dari tulang atau
kedua sisi tulang berhenti tumbuh sebelum tumbuh secara sempurna.
Jika seluruh tulang seperti tulang panjang berhenti tumbuh secara
premature dapat mengakibatkan pendeknya salah satu tulang panjang
dibandingkan tulang panjang lainnya, membuat salah satu tulang kaki
Lebih pendek dibandingkan dengan tulang kaki lainnya.
BAB III
PENUTUP

Berdasarkan uraian mengenai sumber – sumber Healing tersebut dapat


disimpulakan, bahwa Healing atau disebut juga dengan Penyembuhan adalah
metode alami proses pemulihan revitilisasi sel sel tubuh akibat dari pengobatan
alami baik dengan cara penyembuhan diri, atau penyembuhan transfer energi chi
dari orang lain, dengan herbal, dengan sarana berdoa dan cara cara alami ilmiah
ilahiah yang lain.
Setelah seseorang di obati dengan sistem pengobatan alami maka si pasien atau
klien akan mengalami proses penyembuhan, tentunya hasil penyembuhan setiap
orang akan berbeda beda tergantung dari sistem pengobatan yang di pakai,
ketaaatan si pasien dalam melakukan pengobatan atau terapi, dan yang paling
penting semua tergantung mukjizat pertolongan dari sang kuasa Allah SWT. 
Ingat secanggih apapun sistem pengobatan alat yang di pakai, sepintar apapun si
terapis, sekuat apapun obatnya tanpa campur tangan pertolongan dari sang kuasa
Allah SWT, maka mukjizat keajaiban kesembuhan tidak akan ada, atau
penyembuhan akan lambat bahkan gagal. 
DAFTAR PUSTAKA

Kumar, Cotran dan Robbins. 2009. Buku Ajar Patologi Edisi 9. Jakarta : elsevier.

Rulam. Wound Healing; Diunduh dari :


http://www.infodiknas.com/penyembuhan-luka-wound-healing.html
April 02, 2017. Pukul 21.32 WIB

Gledys Tham Puti. Makalah Patologi ; Diunduh dari :

https://www.scribd.com/doc/169321659/makalah-patologi
April 02, 2017 . Pukul 22.05 WIB

Nqthibbunnabawi. Healing Penyembuhan Pengobatan ; Diunduh dari :


http://www.nqthibbunnabawi.com/2014/07/healing-penyembuhan-
pengobatan.html
April 02, 2017. Pukul 22.15 WIB

Wahyudo Riyan. Tahap-Tahap Penyembuhan Fraktur ; Diunduh dari :


http://gardamd.blogspot.co.id/2011/01/tahap-tahap-penyembuhan-fraktur.html
April 03, 2017. Pukul 22.30 WIB

Saputra, Yoseph Ivan. Fisiologi Penyembuhan Luka dan Faktor Penghambat


Penyembuhan Luka Kronik; Diunduh dari :
https://www.scribd.com/doc/219233120/Fisiologi-Penyembuhan-Luka-dan-Faktor-
Penghambat-Luka-Kronik
April 03, 2017 pukul 22.36 WIB