Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN MINI RISET ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA

“PENGARUH ZAT STIMULAN TERHADAP KECEPATAN TANGGAP SARAF”

DISUSUN OLEH:
Afika Nazura (4183141025)
Debora S C Hutapea (4182141017)
Dwi Eka Ningrum (4183341002)
Hana Getika Sihombing (4183341003)
Joevan H Nahampun (4183141035)
Ratih Nimas Santri (4183141079)

KELAS
PENDIDIKAN BIOLOGI DIK A 2018

DOSEN PENGAMPU:
Widya Ningsih, M.Pd

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatnya sehingga mini
riset kami yang berjudul “Pengaruh zat stimulant terhadap kecepatan tanggap saraf” ini dapat
terselesaikan. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampu bu Widya
ningsih dan beberrapa pihak lain yang telah berkontribusi dengan memberikan bantuan dalam
bentuk mater dan pengetahuannya.
Kami berharap agar para pembaca dapat memberikan bantuan berupa gagasan dan
pengetahuan lain agar kami dapat memperbaiki karya ilmiah kami kedepannya baik dan kami
juga berharap agar Laporan mini riset ini dapat berguna dalam menambah pengetahuan dan
pengalaman para pembaca,

Medan, 23 Maret 2020

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar..................................................................................................... 2
Daftar Isi................................................................................................................ 3
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................4
B. Rumusan masalah.......................................................................................4

BAB II : PEMBAHASAN
a) Pengertian Rangka dan Fungsi Tulang....................................................
b) Proses pembentukan tulang .....................................................................
c) Kelainan dalam pertumbuhan Tulang......................................................
d) Struktur tulang.........................................................................................
e) Skleton aksial...........................................................................................
f) Skleton appendicular................................................................................
g) Sistem artikulasi.......................................................................................
h) Penyakit dan kelainan pada tulang...........................................................

BAB III : PENUTUP


A. Kesimpulan....................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................
BAB I
LATAR BELAKANG dan RUMUSAN MASALAH

A. Latar Belakang
Tubuh kita tersusun atas banyak jaringan dan setiap jaringan akan saling
berkomunikasi setiap kali adanya rangsangan/Impuls masuk. Sistem komunikasi tubuh kita
memiliki pusat pengendali, yaitu otak dan sumsum tulang belakang. Otak berfungsi seperti
sentral otomatis pada sistem telekomunikasi telepon. Sedangkan urat saraf atau tali saraf
berfungsi seperti kabel telepon. Urat saraf merupakan gabungan dari sel-sel saraf. Pesan
komunikasi yang diterima reseptor (penerima rangsang) diubah dan dikirim dalam bentuk
impuls saraf otak. Sistem saraf manusia dapat dibagi menjadi sistem saraf pusat dan sistem
saraf tepi. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Alat tubuh yang
berfungsi sebagai reseptor rangsangan adalah indera. Indera adalah bagian tubuh yang
memiliki ujung saraf sensorik yang peka terhadap rangsangan tertentu. Saraf sensorik akan
meneruskan rangsang dari indera kesaraf pusat. Dari saraf pusat, reaksi atau tanggapan akan
disampaikan keefektor melalui saraf motorik. Efektor adalah organ atau jaringan yang
bereaksi terhadap rangsangan, misalnya otot dan kelenjar. Reaksi atau tanggapan oleh efektor
dapat berupa gerakan, ucapan, dan sekresi kelenjar.
Rangsangan adalah perubahan lingkungan yang dapat diterima oleh reseptor.
Rangsang dibedakan menjadi 2, yaitu rangsangan dari luar tubuh dan rangsangan dari dalam
tubuh. Rangsangan dari luar tubuh misalnya suara, cahaya, bau, panas, dll. Sedangkan
rangsang dari dalam tubuh misalnya lapar, haus, rasa nyeri, dll. Menurut jenisnya,
rangsangan dibedakan menjadi rangsang mekanis, kimiawi dan fisis. Rangsangan mekanis
misalnya sentuhan dan tekanan. Rangsangan kimiawi misalnya rasa manis, asam, pahit dan
bau. Sedangkan rangsang fisis berupa suhu, listrik, gravitasi, dll. Impuls saraf dapat
dipercepat dan diperlambat. Beberapa bahan yang diketahui sebagai sumber gangguan dalam
transmisi impuls saraf, yaitu: pestisida, racun ular dan obat bius, namun Proses transmisi
impuls saraf juga dapat berlangsung lebih cepat akibat pengaruh dari konsumsi zat-zat yang
tertentu. Oleh sebab itu, kami ingin melakukan mini riset mengenai zat-zat apa sajakah yang
dapat mempercepat proses pengantaran impuls dari saraf menuju pusat saraf kita.
B. Rumusan Masalah
1. Kandungan zat apa yang dapat mempercepat pengantaran impuls saraf dari reseptor
ke sistem saraf pusat?
2. Minuman apa sajakah yang mengandung zat-zat itu?
3. Dampak negative apa yang ditimbulkan oleh kandungan zat itu?
BAB II
KONSEP dan HIPOTESIS

A. KONSEP
Sel saraf dalam system saraf berfungsi untuk menjalarkan impuls. Impuls dapat menjalar
pada sebuah sel saraf, juga dapat menjalar pada sel lain dengan melintasi sinapsis. Penjalaran
impuls dapat terjadi dengan cara transmisi elektrik atau transmisi kimiawi yang
menggunakan bantuan neurotransmitter. Proses transmisi sinapsis dapat berlangsung lebih
lambat atau mengalami gangguan. Formasio Retikularis adalah suatu jaringan atau network
yang dibentuk oleh sel-sel saraf yang tampak tidak beraturan. Jaringan ini dapat dijumpai
pada batang otak, medulla spinalis,dan juga telencephalon. Jaringan ini menerima impuls dari
hampir semua reseptor sensoris yang mempunyai hubungan efferent dengan semua tingkatan
di susunan saraf pusat. Formasio Retikularis turut memegang peranan dalam menentukan
tingkat kepekaan dan kewaspadaan seseorang (Daniel Wibowo,1994).
Formasio Retikularis terdiri dari pusat eksitasi dan pusat inhibisi. Kafein yang terdapat
dalam minuman energi bekerja pada pusat eksitasi yang berpengaruh terhadap peningkatan
ketelitian dan kewaspadaan (Guyton & Hall,1997).
Menurut John W. Kimball (1994: 644) menyatakan bahwa Jika neuron ditusuk dengan
mikroelektroda, maka akan kita ketahui bahwa bagian dalam neuron tersebut bermuatan
negatif terhadap bagian luarnya. Besarnya muatan ini (terkadang dinamakan potensial rehat)
kira-kira 70 milivolt (mV). Besaran ini hanya dipertahankan selama neuron itu melakukan
oksidasi glukosa yang perlahan-lahan namun tidak henti-hentinya untuk menghasilkan ATP.
ATP digunakan untuk transpor ion-ion natrium (Na+) secara aktif dari bagian dalam neuron
ke cairan ekstraselula (ECF/CES) dan ion-ion kalium (K+) dari ECF ke bagian dalam.
Hasilnya ialah konsentrasi Na+ dalam ECF sepuluh kali sama besarnya seperti yang terdapat
dalam sitoplasma dan konsentrasi K+ dalam sitoplasma sepuluh kali lebih besar daripada
yang ada dalam ECF.
Kemudian menurut John W. Kimball (1994: 688) menyatakan bahwa Stimulan yang
paling luas digunakan ialah kafein (pada kopi, the, dan minuman cola), nikotin (pada sigaret),
amfetamin, dan kokain. Setiap stimulan ini menstimulasi sistem saraf simpatik, mungkin
melalui pengendalian pusat-pusat di hipotalamus. Setiap kegiatan (umpamanya, percepatan
laju jantung, pengecilan pupil, peningkatan gula darah) yang dikemukakan dalam bahasan
tentang medula adrenal dan mengenai sistem saraf simpatik ditingkatkan oleh obat-obat ini.
Kafein merupakan ksantin paling kuat, sedangkan teobromin merupakan SSP
paling lemah dan mungkin tidak aktif pada manusia (Niefort and Cohen, 1995).
Efek dari tonikum(zat stimulan) adalah efek yang dapat memacu dan memperkuat
semua sistem organ serta menstimulasi perbaikan sel-sel tonus otot (Ramali dan
Pamoentjak, 2000). Efek tonik ini terjadi karena efek stimulasi yang dilakukan sistem
saraf pusat dan dapat digolongkan ke dalam golongan psikostimulansia. Senyawa
psikostimulansia dapat meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dan kapasitas yang
bersangkutan (Mutschler, 1986).
Kafein merupakan salah satu senyawa ksantin, selain teofilin dan teobromin
(Boushey, 2001). Kafein dan teofilin memiliki efek yang poten pada sistem saraf
pusat, sedangkan teobromin efeknya relatif kecil. Teofilin memiliki efek yang besar
pada sistem kardiovaskuler. Kafein dan teofilin bekerja pada ginjal sebagai diuretik,
menstimulasi otot jantung dan relaksasi otot polos ( Witters dan Witters, 1983).
Kafein merupakan senyawa yang memberikan efek psikotonik yang paling kuat dapat
menghilangkan gejala kelelahan dan menaikkan kemampuan berkonsentrasi dan
kapasitas yang bersangkutan (Mutschler, 1986).

B. HIPOTESIS
Zat stimulan adalah zat yang terdapat pada bahan mini riset kami. Zat inilah yang mampu
meningkatkan kecepatan dalam pengantaran impuls saraf ke otak dan akan menimbulkan
efek disaat tubuh kita sudah menyerapnya, yaitu: menaikkan tingkat kewaspadaan, itulah
mengapa ketika kita meminum Hemaviton jreng, dan kukubima energy kita akan kesulitan
tidur dan itu jugalah yang menyebabkan zat stimulant banyak digunakan degan tujuan terapi.
BAB III
TEKNIK PENGUMPULAN DATA

A. Metode Observasi
Diantara berbagai metode penelitian dalam bidang seni, metode observasi tampaknya
merupakan metode yang penting dan harus mendapat perhatian selayaknya. Observasi
mengungkapkan gambaran sistematis mengenai peristiwa, tingkah laku, benda atau karya
yang dihasilkan dan peralatan yang digunakan. Penggunaan metode observasi secara tepat
yang sesuai dengan persyaratan yang digunakan dalam teknik-tekniknya, baik digunakan
secara tersendiri maupun digunakan secara bersama-sama dengan metode lainnya dalam
suatu kegiatan di lapangan, akan sangat bermanfaat untuk memperoleh data yang tepat,
akurat, dan dapat dipertanggungjawab kan.
Metode observasi yang digunakan dalam kegiatan ini adalah dengan pengamatan langsung
terhadap subjek uji dalam praktikum. Hal yang pertama dilakukan adalah menugaskan subjek
uji untuk menangkap sebuah penggaris dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanan dan kiri
secara bergantian yang diletakkan didepan mukanya. Hal tersebut dilakukan sebanyak 5 kali
ditangan kanan dan 5 kali ditangan kiri. Setelah itu menyuruh subjek uji untuk meminum zat
stimulan dan menunggu hingga 30 menit. Setelah 30 menit, tugaskan lagi subjek uji untuk
menangkap penggaris dengan ibu jadi dan telunjuk dengan tangan kanan dan kiri secara
bergantian, dan amati perbedaannya.

B. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun
dan menganalisis dokumen-dokumen baik yang tertulis maupun elektronik. Metode ini
digunakan untuk memperoleh data apa saja yang berkaitan dengan penelitian misalnya
dokumentasi foto, alat dan bahan yang digunakan dan data-data lain yang berhubungan
dengan hasil penelitian.
BAB IV
ANALISIS DATA

Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Analisis deskriptif


digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data
yang telah terkumpul sebagaimana adanya (Sugiyono, 2011). Berikut adalah tabel hasil
percobaan yang dilakukan
Tabel 1. Data hasil skala penggaris (Cm)
Merek Sebelum Sesudah
Nama
Minuman
Subjek Uji Kanan Kiri Kanan Kiri
Berenergi
Ratih Hemaviton 1. 0 1. 0 1. 0 1. 25 cm
Nimas S energi 2. 0 2. 0 2. 22 2. 0
3. 0 3. 0 cm 3. 24,5 cm
4. 0 4. 0 3. 27 4. 18 cm
5. 0 5. 0 cm 5. 30 cm
4. 26
cm
5. 0
Hana Kratingdaen 1. 30 1. 0 1. 0 1. 23 cm
Getika g cm 2. 18 cm 2. 28 2. 24 cm
2. 0 3. 0 cm 3. 20 cm
3. 21 4. 0 3. 26 4. 18 cm
cm 5. 18 cm cm 5. 14 cm
4. 0 4. 15
5. 18.5c cm
m 5. 18
cm
Joevan M-150 1. 27 1. 28 cm 1. 0 1. 28 cm
Houten cm 2. 26,5 2. 30 2. 23 cm
2. 0 cm cm 3. 28,5 cm
3. 7 cm 3. 22 cm 3. 0 4. 13,5 cm
4. 0 4. 23 cm 4. 17 5. 0
5. 21 5. 13 cm cm
cm 5. 22
cm
Dwi Eka Aqua 1. 0 1. 30 cm 1. 0 1. 21,5 cm
2. 0 2. 0 2. 12 2. 12,5 cm
3. 0 3. 0 cm 3. 0
4. 27,5 4. 30 cm 3. 17 4. 19,5 cm
cm 5. 23,5 cm 5. 30 cm
5. 0 cm 4. 30
cm
5. 12
cm

Tabel diatas merupakan hasil 5 kali pecobaan sesudah dan sebelum meminum
minuman berenergi dengan 3 merek berbeda yaitu Hemaviton energi, Kratingdaeng, dan M
150 dan 1 lagi merupakan air mineral (aqua). Berikut adalah tabel rata-rata skala pada setiap
subjek.
Tabel 2. Rata-rata skala setiap subjek
Nama Merek Sebelum Sesudah
Subjek Minuman
Kanan Kiri Kanan Kiri
Uji Berenergi
Ratih Hemavito 0 0 15 cm 19,5 cm
Nimas S n energi
Hana Kratingd 13,9 cm 7,2 cm 17,4 cm 19,8 cm
Getika aeng
Joevan M 150 11 cm 22,5 cm 13,8 cm 18,6 cm
Houten
Dwi Eka Aqua 5,5 cm 16,7 cm 14,2 cm 16,7 cm

Dari tabel rata-rata diatas terlihat pada subjek pertama Ratih Nimas S terjadi
peningkatan panjang skala setelah meminum Hemaviton Energi baik pada tangan kanan
maupun tangan kiri. Pada subjek kedua yaitu Hana Getika juga terjadi peningkatan panjang
skala saat penangkapan penggaris setelah meminum Kratingdaeng baik pada tangan kanan
maupun tangan kiri. Hal yang hampir serupa juga terjadi pada subjek ke 3 yaitu Joevan
Houten yang memimum M150 dimana hanya bagian tangan sebelah kanan yang mengalami
peningkatan skala, sedangkan tangan sebelah kiri tidak mengalami kenaikan. Untuk subjek
yang terakhir yaitu Dwi Eka Ningrum yang meminum air mineral terjadi peningkatan skala di
tangan kanan, tetapi tidak terjadi peningkatan atau penurunan pada tangan sebelah kanan.
Pada tubuh, reaksi awal saat individu meminum minuman berenergi adalah
meningkatnya konsentrasi, daya ingat. Energi dan kewaspadaan (Pratiwi, 2017).
Penningkatan cepat tanggap yang terjadi pada subjek membuktikan bahwasannya minuman
berenergi atau minuman yang mengandung zat stimulan dapat meningkatkan cepat tanggap
saraf manusia. Hal tersebut dikarenakan minuman berenergi mengandung zat stimulan seperti
kafein, dan taurin (Putriastuti, dkk., 2007).

BAB V
KESIMPULAN dan SARAN

A. Kesimpulan
Zat stimulan adalah kandungan zat yang terdapat pada hemaviton jreng, dan
kukubima energy. Kandungan inilah yang akan menaikkan kegiatan sistem saraf simpatetik,
sistem saraf pusat, atau keduanya sekaligus. Beberapa stimulan menghasilkan sensasi
kegembiraan berlebih, khusunya jenis stimulan yang memberikan pengaruh terhadap sistem
saraf pusat (Riddle, dll. 2005). Pada minuman yang mengandung stimulan seperti minuman
yang mengandung taurin, kafein, royall jelly, gingseng, dll.Air putih tidak mengandung zat
stimulan karena air putih memiliki komposisi yang tidak dimiliki oleh zat yang ada dalam zat
stimulan. Data yang didapatkan adalah bahwa air dapat meningkatkan kecepatan tanggap
saraf, hal tersebut mungkin terjadi karena faktor objek yang dipakai lebih peka saat
menangkap penggaris setelah perlakuan. (Marieb, dll. 2007).
Minuman yang mengandung taurin, royal jelly dan gingseng adalah minuman
kratingdeng, extrajoss, hemaviton jreng, dan kuku bima. Minuman yang mengandung royal
jelly dapat meningkatkan stamina yang akan meningkatkan kecepatan bantuan tanggap saraf,
(asam amino) karena dapat meningkatkan kinerja saat melakukan aktivitas fisik.
Meningkatkan performa mental. Tingkat taurin yang tinggi dalam tubuh dapat meningkatkan
level kewaspadaan dan penalaran verbal. Meningkatkan performa atletik. Kafein merupakan
obat perangsang sistem pusat saraf pada manusia dan dapat mengusir rasa kantuk secara
sementara.
Meskipun zat stimulant memiliki dampak positif yang cukup besar, namun juga akan
memberikan efek samping, yaitu pada kafein bisa menyebabkan tekanan darah meningkat
dan jantung terasa berdebar-debar, terutama bagi mereka yang sensitif. Reaksi yang
berbahaya pada minuman energi yang bisa terjadi antara lain rasa pusing, mual, sakit mag.
Kandungan gula yang tinggi pada minuman energi juga bisa menyebabkan penyerapan air ke
dalam tubuh terhambat sehingga menimbulkan risiko dehidrasi yang memperburuk performa,
baik saat sedang beraktivitas maupun duduk di belakang meja. Selain itu, gula tinggi pada
minuman energi bisa memicu peningkatan kadar gula darah, merusak gigi, dan menyebabkan
pertambahan berat badan.

B. Saran
Pada pengamatan uji Pengaruh zat stimulan terhadap kecepatan tanggap saraf, pada
saat praktikum sedang dilaksanakan. Para praktikan harus benar – benar lebih jeli dalam
memahami teori /materi, ketika diberi instruksi dan pada saat melakukan pengujian bahan
yang akan di lakukan pengamatan pada saat proses praktikum dari awal hingga selesai, Agar
praktikan benar-benar mendapatkan hasil uji yang sesuai dengan literatur tanpa ada kesalahan
ataupun kegagalan dalam pelaksanaan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Kimball, John W. 1994. Biologi, jilid 2. Jakarta: Erlangga


Pratiwi, G. C. 2017. Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Konsumsi Minuman
Berenergi pada Pekerja di Sentra Industri Tahu Tempe Kelurahan Jomblang Semarang.
Skripsi. FK. Ilmu Keperawatan. Universitas Diponegoro: Semarang
Putriastuti, dkk. 2007. Persepsi, Konsumsi, Dan Preferensi Minuman Berenergi.
Jurnal Gizi dan Pangan. 2(3): 13-25.
Sastraningtyas, Awin Purba Jati. Uji Efek Tonik Infusa Herba Sambiloto
(Andrographis paniculata Nees (Burm. f)) Terhadap Mencit Putih Jantan Galur Swiss
Webster. Diss. Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2007.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitataif dan R&B. Bandung:
Alfabeta.