Anda di halaman 1dari 4

C.

Menggali Sumber Historis, Sosiologis, Politik tentang Identitas Nasional Indonesia

1. Bendera Negara Sang Merah Putih

Bendera merupakan satu diantara identitas nasional. Hal ini dikarenakan


bendera adalah simbol dari suatu negara agar berbeda dengan Negara lain. Seperti yang
sudah tertera dalam UU No. 24 Tahun 2009 pasal 1, yang menyatakan bahwa “Bendera
Negara Kesatuan republic Indonesia yang selanjutnya disebut Bendera Negara adalah
Sang Merah Putih”. Secara filosofis, merah artinya berani, dan putih artinya suci. Merah
itu melambangkan tubuh manusia, sedangkan putih merupakan jiwa manusia itu sendiri.
Kedua warna ini saling melengkapi dan membuat Indonesia sempurna. Gelar “Sang”
pada bendera Merah Putih berarti kemegahan turun menurun, sehingga Sang Saka berarti
bendera warisan yang dimuliakan.

Bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di
Jalan Pegangsaan timur 56, Jakarta, saat proklamasi dilaksanakan. Namun, mulai tahun
1969 Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih tidak dapat dikibarkan lagi lantaran sudah
tua. Pada saat ini, Bendera Pusaka tersebut disimpan di Monumen Nasional Jakarta. Dan
sebagai gantinya, dikibarkanlah duplikat dari bendera Merah Putih yang terbuat dari
sutera alam Indonesia.

Pada tanggal 18 Agustus tahun 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia


(PPKI) mengadakan siding yang pertama untuk menetapkan Undang-undang Dasar
Republik Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Undang-undang dasar 1945 (UUD
1945). Dalam UUD 1945 pada pasal 35 menetapkan bahwa bendera Negara Indonesia
ialah Sang Merah Putih.

Menurut Icha Dwi Cahaya Hastiani dalam jurnalnya yang berjudul “Identitas
Nasional Falsafah Negara Pancasila”, bahwa fungsi dari bendera negara yaitu sebagai
identitas dan jati diri bangsa, kedaulatan bangsa, dan merupakan lambang tertinggi dari
sebuah bangsa.

2. Bahasa Negara Bahasa Indonesia

Sumpah Pemuda yang dihasilkan Kongres Pemuda Indonesia tanggal 28 Oktober


1928 berisi tiga deklarasi tentang nasionalisme Indonesia terkait dengan kesatuan bangsa,
tanah air, dan bahasa persatuan Indonesia. Pada UU No. 24 Tahun 2009 pada Bab 1,
pasal 1, butir kedua, menyatakan bahwa “Bahasa Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang selanjurnya disebut Bahasa Indonesia adalah bahasa esmi nasional yang digunakan
di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Selanjutnya dijelaskan pada
pasal 25 ayat 2, bahwa bahasa Indonesia berfungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggaan
nasional, sarana pemersatu berbagai suku bangsa, serta sarana untuk komunikasi
antardaerah dan antarbudaya daerah.
Menurut Muslich dan Oka (2010) yang dikutip oleh Akhmad Yazidi dalam
jurnalnya yang berjudul “Bahasa Indonesia Sebagai Identitas Nasional Bangsa
Indonesia”, Antara bahasa Indonesia dan rasa kebangsaan rakyat Indonesia terdapat suatu
hubungan kejiwaan yang saling menentukan. Bahkan dapat dikatakan bahwa terdapat
adanya hubungan simbiosis antara bahasa Indonesia dan nasionalisme kita. Kesamaan
lingua franca (bahasa Melayu) antarsuku bangsa juga ikut andil dalam memicu rasa
nasionalisme rakyat Indonesia, begitu juga sebaliknya nasionalisme dapat memperkuat
bahasa Melayu sebagai lingua franca yang akhirnya menjadi bahasa nasional bangsa
Indonesia.

Pada tahun 1954, kongres II bahasa Indonesia mengakui bahwa bahasa Indonesia
berasal dari bahasa Melayu. Menurut Collins (2009) dan Adul (1981), bahasa Melayu
telah ditemukan dalam tulisan dengan aksara Pallawa. Berkaitan dengan hal tersebut
Slametmulyana mengemukakan bahwa dipilihnya bahasa Melayu yang dijadikan
bahasa nasional Indonesia karena 4 faktor yaitu (1) bahasa Melayu sudah
merupakan lingua francadi nusantara. (2) sistem bahasa Melayu sederhana sehingga
mudah dipelajari. (3) suku Jawa, suku Sunda, dan suku lainnya dengan suka rela
menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dan (4)
bahasa Melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan
dalam arti luas (Arifin dan Tasai, 2008:8). Di samping itu, Moeliono (1981: 44)
mengemukakan bahwa bahasa Melayu bukan merupakan bahasa asing di nusantara,
dan karena bahasa Melayu merupakan bahasa dengan penutur yang sangat kecil
(4,9%) sementara bahasa Jawa digunakan oleh penutur 47% dan bahasa Sunda
digunakan oleh penutur 14.5% sehingga tidak ada perasaan kalah dan menang, sehingga
dalam hubungan ini, Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan sebagai mukjizat dan Sapardi
Djoko Damono menganggap sebagai keajaiban.Bahasa Indonesia berasal dari bahasa
Melayu, namun bahasa Indonesia bukan bahasa Melayu, karena bahasa Indonesia
sudah sangat berbeda dengan bahasa Melayu. Dalam perkembangannya, bahasa
Indonesia sangat banyak menyerap kosakata dari berbagai bahasa, baik bahasa
asing maupun bahasa daerah di Indonesia. Bahasa asing yang berkontribusi dalam
pengembangan bahasa Indonesia meliputi bahasa Sanskerta, bahasa India, bahasa
Tamil, bahasa Portugis, bahasa Parsi, bahasa China, bahasa Jepang, bahasa Belanda,
bahasa Jerman, bahasa Arab, dan bahasa Inggris, sedangkan dari bahasa daerah meliputi
bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Batak, bahasa Minang, bahasa Palembang,
bahasa Bugis, bahasa Banjar, bahasa dari Papua, bahasa dari Maluku, dan lain-lain.

3. Lambang Negara Garuda Pancasila


Dalam Undang-undan tahun 2009 No.24, menyatakan bahwa “lambang
Negara Republik Indonesia berbentuk Garuda Pancasila yang kepalanya menoleh
lurus ke sebelah kanan, perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada
leher Garuda, dan semboyan Bhineka Tunggal Ika ditulis di atas pita yang
dicengkram oleh Garuda”. Kemudian dalam Undang-undan Dasar 1945 dalam
pasal 36A juga menyatakan bahwa lambang negara Indonesia adalah Garuda
Pancasila. Garuda Pancasila yang dimaksud adalah burung garuda yang
melambangkan kekuatan bangsa Indonesia. Sedangkan perisai di tengah
melambangkan pertahanan bangsa Indonesia. Warna Merah Putih melambangkan
warna bendera nasional Indonesia. Merah berarti berani dan Putih berarti suci.
Garis hitam tebal yang melintang di dalam perisai melambangkan wila yah
Indonesia yang dilintasi Garis Khatulistiwa. Jumlah bulu melambangkan hari
proklamasi kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945).Pita yang dicengkeram
oleh burung garuda bertuliskan semboyan Negara Indonesia, yaitu Bhineka
Tunggal Ika yang berarti “berbeda -beda, tetapi tetap satu jua”. Simbol di dalam
perisai masing-masing melambangkan sila-sila dalam pancasila, yaitu:
a. Cahaya di bagian tengah perisai berbentuk bintang yang bersudut lima
melambangkan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa;
b. Tali rantai bermata bulatan dan persegi di bagian kri dibawah perisai
melambangkan dasar Kemanusiaan yang Adil dan Beradab;
c. Pohon kiri di bagian kiri atas perisai melambangkan dasar Persatuan
Indonesia;
d. Kepala Banteng yang berada di bagian kanas atas perisai
melambangkan dasar Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan;
e. Kapas dan padi di bagian kanan atas perisai melambangkan dasar
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Dengan demikian dapat dipastikan bahwa lambang negara Garuda Pancasila


mengandung makna pancasila. Dengan kata lain, Pancasila dan lambang negara
yang berbentuk Garuda Pancasila merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan.
Daftar Pustaka

Hastiani, Icha Dwichaya (2017). Identitas Nasional Bendera Negara sang Merah
Putih,

Hastiani, Icha Dwichaya (2017). Identitas Nasional Lambang Negara Garuda


pancasila.

Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera,


Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Lembaran Negara RI
Tahun 2009, No. 109. Sekretariat Negara. Jakarta.

Yazidi, Akhmad (2012). Bahasa Indonesia Sebagai identitas Nasional Bangsa


Indonesia. Vol 2, No, 2