Anda di halaman 1dari 14

Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), July 2016, 1-14

ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)


Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

PSIKOEDUKASI TENTANG RISIKO PERKAWINAN USIA MUDA


UNTUK MENURUNKAN INTENSI PERNIKAHAN DINI PADA REMAJA

Zainul Anwar 1* , Maulida Rahmah 2


1,2
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang, Indonesia

ABSTRACT

There were several reason people married at an early age, one of the reason was their
strong intention. Married at an early age intention is the tendency to get married before
the age of 20. The increasing tendency to get married at the early age can be solved, psych
education is one way to that can be done. The aim of the research is to know the effect of
psych education given to decrease the intention of getting married at the early age. 55
teenagers participated as respondent. Purposive sampling was used as sampling technique.
Quasi-experimental with pre-test and post-test one design was used as research method.
There were significant differences on score between group with psych education and group
without psych education t (-39,305; p = 0.000 <0.05). Therefore, psych education is an
effective method to decrease the intention of getting married at an early age.

Keywords: Psych education, Marriage at an early age intention, Teenager.

ABSTRAK

Berbagai alasan bagi seseorang melakukan pernikahan usia dini, salah satunya adalah
kondisi seseorang yang memiliki keinginan kuat untuk menikah pada usia muda. Intensi
pernikahan dini merupakan kecenderungan menikah diusia remaja atau di bawah umur 20
tahun. Meningkatnya intensi pernikahan dini dapat diatasi, salah satunya dengan
memberikan psikoedukasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya
pengaruh pemberian psikoedukasi perkawinan usia muda dalam menurunkan intensi
pernikahan dini pada remaja. Subjek penelitian berjumlah 55 remaja yang diambil secara
purposive. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen quasi. Jenis penelitian ini
menggunakan metode pre experimental design dengan jenis pre-test and post-test one
group design. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan skor yang signifikan
terhadap perlakuan tanpa psikoedukasi dan dengan diberikan perlakuan psikoedukasi t (-
39,305; p = 0.000 <0.05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa psikoedukasi dapat
digunakan untuk menurunkan intensi pernikahan dini.

Kata kunci: Psikoedukasi, Intensi pernikahan dini, Remaja

1
Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), June 2016, 1-14
ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)
Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara ke-37 dengan


Pernikahan dini merupakan pernikahan jumlah pernikahan dini terbanyak di dunia di
pada remaja dibawah usia 20 tahun yang tahun 2007. Untuk level ASEAN, tingkat
seharusnya belum siap untuk melaksanakan pernikahan dini di Indonesia berada diurutan
pernikahan. Masa remaja juga merupakan masa kedua terbanyak setelah Kamboja.
yang rentan resiko kehamilan karena pernikahan Riskesdas (2010) Perempuan muda di
dini (usia muda). Diantaranya adalah Indonesia dengan usia 10-14 tahun menikah
keguguran, persalinan prematur, berat badan sebanyak 0,2 persen atau lebih dari 22.000
lahir rendah (BBLR), kelainan bawaan, mudah wanita muda berusia 10-14 tahun di Indonesia
terjadi infeksi, anemia pada kehamilan, sudah menikah. Jumlah dari perempuan muda
keracunan kehamilan dan kematian. Dampak berusia 15-19 tahun yang menikah lebih besar
dari pernikahan dini yang dilakukan remaja jika dibandingkan dengan laki-laki muda
yakni akan mengalami tekanan psikis yang berusia 15-19 tahun (11,7% perempuan dan
berakibat pada pernikahannya maupun kepada 1,6% laki-laki usia 15-19 tahun). Di antara
anaknya jika kelak ia memiliki anak. Lebih jauh kelompok umur perempuan 20-24 tahun lebih
lagi, pernikahan dini akan mempengaruhi dari 56,2% sudah menikah. Selain itu jumlah
kualitas keluarga dan berdampak langsung pada aborsi di Indonesia diperkirakan mencapai 2,3
rendahnya kesejahteraan keluarga. Dikalangan juta pertahun. Sekitar 750.000 diantaranya
remaja pernikahan dini dianggap sebagai jalan dilakukan oleh remaja. Sedangkan berdasarkan
keluar untuk menghindari dosa yaitu seks bebas. data Riskesdas tahun 2010 yang dirilis
Ada juga yang melakukannya karena terpaksa Kementerian Kesehatan RI.
dan hamil diluar nikah. Fenomena tersebut Menurut Adiningsih (2002) dalam
sering kita dengar di masyarakat, namun bukan Pikiran Rakyat (2010), pengetahuan tentang
kah pernikahan itu tidak hanya sekedar ijab kesehatan reproduksi pada remaja sangatlah
qabul dan menghalalkan yang haram. minim, informasi yang kurang akurat dan benar
Melainkan kesiapan moril dan materil untuk tentang kesehatan reproduksi sehingga
mengarungi dan berbagi apapun kepada memaksa remaja untuk melakukan eksplorasi
pasangan tercinta (Kusmiran, 2011). sendiri, baik melalui media (cetak maupun
Menurut United Nations Development elektronik) dan hubungan pertemanan, yang
Economic and Social Affairs (UNDESA, 2010), besar kemungkinannya justru salah. Ternyata

2
Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), June 2016, 1-14
ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)
Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

sebagian besar remaja merasa tidak cukup dalam arti kemantapan berpikir dan berbuat.
nyaman curhat dengan orang tuanya, terutama Pada umumnya remaja yang melangsungkan
bertanya seputar masalah seks. Oleh karena itu, perkawinan dibawah umur 20 tahun belum
remaja lebih suka mencari tahu sendiri melalui memiliki pandangan dan pengetahuan yang
sesama temannya dan menonton blue film. cukup tentang bagaimana seharusnya peran
Selain itu pengetahuan tentang akibat seorang ibu dan seorang istri atau peran seorang
pernikahan dini dan kesiapan secara fisik laki-laki sebagai bapak dan kepala rumah
merupakan salah satu hal yang harus tangga. Keadaan semacam ini merupakan titik
diperhatikan pada pasangan yang menikah rawan yang dapat mempengaruhi keharmonisan
diusia muda terutama pihak wanitanya. Hal ini dan kelestarian perkawinan. Menurut Badan
berkaitan dengan kehamilan dan proses Kependudukan dan Keluarga Berencana
melahirkan. Secara fisik, tubuh mereka belum Nasional (BKKBN), menikah diusia dini bagi
siap untuk melahirkan anak dan melahirkan perempuan besar kemungkinan melahirkan anak
karena tulang panggul mereka yang masih kecil dengan berat badan rendah dan memiliki tubuh
sehingga membahayakan persalinan. Hal pendek atau stunting (kontet). Anak stunting itu
tersebut sangat mempengaruhi angka kematian tubuhnya pendek, kecil, dan ukuran otak kecil.
ibu dan angka kematian bayi sebagai standart Risikonya mudah kena penyakit jantung dan
derajat kesehatan suatu negara. pembuluh darah (BKKBN, 2012).
Menikah diusia dini terutama di bawah Dari fakta yang didapat, dengan melihat
usia 20 tahun ternyata memiliki risiko yang dan menelaah bahwa mereka yang menikah
cukup mengkhawatirkan. Secara mental belum muda akan lebih cenderung untuk mengalami
siap menghadapi perubahan yang terjadi saat kegagalan dalam rumah tangga mereka. Namun
kehamilan, belum siap menjalankan peran dalam alasan perceraian bukan karena alasan
sebagai seorang ibu dan belum siap menghadapi nikah muda, melainkan ekonomi dan lain
masalah-masalah berumah tangga yang sering sebagainya. Tetapi masalah tersebut tentu saja
kali melanda kalangan keluarga yang baru sebagai salah satu dampak dari pernikahan yang
melangsungkan perkawinan, karena masih dilakukan tanpa kematangan usia dan
dalam proses penyesuaian. Sementara itu remaja psikologis. Perkawinan yang masih muda juga
yang melangsungkan perkawinan diusia dini banyak mengundang masalah yang tidak
umumnya belum memiliki kematangan jiwa diharapkan dikarenakan segi psikologisnya

3
Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), June 2016, 1-14
ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)
Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

belum matang khususnya bagi perempuan laki pada usia itu kondisi psikis dan fisiknya
(Walgito, 2000). sangat kuat, hingga mampu menopang
Basri, (1996) mengatakan secara fisik kehidupan keluarga untuk melindungi baik
biologis yang normal seorang pemuda atau psikis emosional, ekonomi dan sosial.
pemudi telah mampu mendapatkan keturunan, Pernikahan yang dilakukan pada usia
tetapi dari segi psikologis remaja masih sangat muda bukanlah hal yang bisa dikatakan
hijau dan kurang mampu mengendalikan batera menguntungkan bahkan jelas dapat merepotkan
rumah tangga di samudra kehidupan. Selain itu kaum perempuan. Dalam hal ini mereka dituntut
remaja juga belum siap dan mengerti tentang untuk mengurus rumah tangga, melayani suami,
hubungan seks, sehingga akan menimbulkan mengandung dan melahirkan pada usia muda
trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa sangat beresiko tinggi bagi kesehatan. Oleh
remaja yang sulit disembuhkan. Remaja akan sebab itu dalam hal ini peneliti menyatakan
murung dan menyesali hidupnya yang berakhir bahwa manfaat dari penundaan usia perkawinan
pada perkawinan yang dia sendiri tidak mengerti meliputi empat aspek, yaitu : aspek kesiapan
atas putusan hidupnya. Selain itu, ikatan biologis, kesiapan psikologis, kesiapan sosial
perkawinan akan menghilangkan hak remaja dan kesiapan ekonomi. Hal ini berarti bahwa
untuk memperoleh pendidikan (Wajar 9 tahun), semakin positif sikap subjek penelitian terhadap
hak bermain dan menikmati waktu luangnya psikoedukasi yang diberikan untuk memiliki
serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri intensi pernikahan dini, maka akan semakin kuat
anak. Berapa banyak keluarga dalam perkawian intensi penundaan pernikahan dini pada subjek
terpaksa mengalami nasib yang kurang penelitian. Pada penelitian ini, peneliti memiliki
beruntung dan bahkan tidak berlangsung lama beberapa indikator yang akan diungkap dalam
karena usia terlalu muda dari para pelakunya, penelitian, yaitu: menumbuhkan rasa intensi
baik salah satu atau keduanya. Usia ideal penundaan dengan cara memberikan psiedukasi
perempuan untuk menikah adalah 19-25 tahun terhadap pernikahan dini, mengubah persepsi
sementara laki-laki 25-28 tahun karena di usia terhadap cara pandang pernikahan dini,
itu organ reproduksi perempuan secara memberikan pemahaman terhadap pentingnya
psikologis sudah berkembang dengan baik dan intensi penundaan pernikahan dini untuk
kuat serta siap untuk melahirkan keturunan menurunkan pernikahan usia dini.
secara fisik pun mulai matang. Sementara laki-

4
Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), June 2016, 1-14
ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)
Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

Berdasarkan uraian tersebut rumusan usia yang seharusnya belum siap untuk
masalahnya, yaitu bagaimana pengaruh melaksanakan pernikahan (Lutfiati, 2008;
psikoedukasi tentang risiko perkawinan usia Nukman, 2009 ). Jika intensi dikaitkan dengan
muda dalam menurunkan intensi pernikahan pernikahan dini maka dapat disimpulkan bahwa
dini pada remaja, sehingga risiko dari intensi pernikahan dini merupakan penundaan
pernikahan dini dapat diminimalisir Tujuan suatu perkawinan yang ingin menikah diusia
penelitian yaitu untuk mengetahui adanya remaja atau dibawah umur 20 tahun, dimana
pengaruh sebelum dan sesudah pemberian pada masa remaja ini ketegangan emosi
psikoedukasi perkawinan usia muda dalam meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik
menurunkan intensi pernikahan dini pada dan kelenjar.
remaja. Manfaat penelitian untuk mendapatkan Aspek Intensi Pernikahan Dini
kontribusi perbaikan dalam intensi pernikahan Menurut Ajzen & Fishben (1975) dan
dini pada remaja. Ajzen (2005), intensi mengandung empat
Intensi Pernikahan Dini elemen yang berbeda yaitu :
Intensi merupakan probabilitas atau a) Tindakan (action) yaitu tindakan apa yang
kemungkinan yang bersifat subjektif, yaitu dilakukan oleh seseorang terhadap suatu
perkiraan seseorang mengenai seberapa besar objek. Chaplin (2005) menambahkan
kemungkinannya untuk melakukan suatu bahwa tindakan adalah hasil perbuatan atau
tindakan tertentu. Artinya, mengukur intensi tingkah laku yang bertujuan.
adalah mengukur kemungkinan seseorang b) Sasaran (target) yaitu apa yang ingin dituju
dalam melakukan perilaku tertentu untuk atau sasaran apa yang ingin dicapai,
memprediksi perilaku manusia yang merupakan sasaran yang hendak dicapai
menunjukkan kekuatan motivasi seseorang dari perilaku spesifik tersebut.
untuk menghasilkan perilaku yang dimaksud c) Konteks (context) yaitu situasi atau keadaan
(Anwar, Bakar, & Harmaini, 2005; Eagly & yang dikehendaki untuk manampilkan
Chaiken 1993). perilaku tertentu, meliputi tempat, situasi
Pernikahan dini yaitu merupakan intitusi atau keadaan pada individu itu sendiri.
agung untuk mengikat dua insan lawan jenis d) Waktu (time) yaitu meliputi waktu yang
yang masih remaja dalam satu ikatan keluarga. diperlukan untuk mewujudkan perilaku
Pernikahan dini umumnya dilakukan dibawah tertentu. Intensi untuk berperilaku dapat

5
Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), June 2016, 1-14
ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)
Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

muncul dengan mempertimbangkan suatu menambah kesan kesukaran untuk


waktu tertentu (jam), suatu periode tertentu menjalankan perilaku yang bersangkutan.
(bulan) atau sebuah waktu yang tidak Dalam hal ini, dua komponen pertama
terbatas (masa yang akan datang). sudah cukup untuk memunculkan intensi,
Komponen yang Bisa Memunculkan Intensi sebagaimana disebut dalam teori reasoned
Teori Perilaku Terencana (Theory of behavior yang diajukan oleh Fishbein (Fishbein
Planned Behavior) yang dikemukakan Ajzen & & Ajzen, 1975) sebelum kemudian
Fishben (1975); Ajzen (2005); Azwar (1995) disempurnakan oleh Ajzen (Ajzen, 2005) lewat
menyebutkan adanya tiga komponen yang bisa teori planned behavior. Faktor ketiga sifatnya
memunculkan intensi, yaitu : memerkuat atau memerlemah intensi. Jika
a) Sikap terhadap perilaku (attitude toward perilaku tersebut dipandang mungkin untuk
the behavior) yaitu mengacu pada penilaian dilakukan, intensi menguat. Jika perilaku itu
individu bahwa perilaku yang akan dianggap sulit atau tidak mungkin dilakukan,
dilakukan itu baik atau buruk, suka atau intensi menyurut atau menurun.
tidak suka menjalankan perilaku itu.
Psikoedukasi
b) Norma subjektif (subjective norm) yaitu
Psikoedukasi adalah suatu intervensi
mengacu pada persepsi individu terhadap
yang dapat dilakukan pada individu, keluarga,
tekanan sosial yang mengharuskan atau
dan kelompok yang fokus pada mendidik
melarangnya untuk menjalankan perilaku
partisipannya mengenai tantangan signifikan
yang bersangkutan.
dalam hidup, membantu partisipan
c) Persepsi atas kendali perilaku (perceived
mengembangkan sumber-sumber dukungan dan
behavioral control) yaitu mengacu pada
dukungan sosial dalam menghadapi tantangan
keyakinan individu bahwa ia mampu atau
tersebut bahkan mengembangkan keterampilan
tidak mampu menjalankan perilaku
coping untuk menghadapi tantangan tersebut.
tertentu. Keyakinan ini dapat berasal dari
Berdasarkan pengertian tersebut dapat
pengalaman dengan perilaku yang
ditarik kesimpulan bahwa fokus dari
bersangkutan di masa lalu, perolehan
psikoedukasi yaitu: (a) Mendidik partisipaan
informasi tidak langsung mengenai perilaku
mengenai tantangan dalam hidup. (b)
tersebut dan dapat pula dipengaruhi oleh
Membantu partisipan mengembangkan sumber-
faktor-faktor lain yang mengurangi atau
sumber dukungan dan dukungan sosial dalam

6
Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), June 2016, 1-14
ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)
Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

menghadapi tantangan hidup (c) Hipotesis


Mengembangkan keterampilan coping untuk Ada pengaruh pemberian psikoedukasi
menghadapi tantangan hidup. (d) perkawinan usia muda dalam menurunkan
Mengembangkan dukungan emosional. (e) intensi pernikahan dini pada remaja.
Mengurangi sense of stigma dari partisipan. (f)
Mengubah sikap dan belief dari partisipan METODE PENELITIAN
terhadap suatu gangguan (disorder). (g)
Rancangan Penelitian
Mengidentifikasi dan mengeksplorasi perasaan
Termasuk penelitian eksperimen quasi.
terhadap suatu isu. (h) Mengembangkan
Desain eksperimen yang pengendaliannya
keterampilan penyelesaian masalah. (i)
terhadap variabel-variabel non eksperimental
Mengembangkan keterampilan crisis-
yang tidak begitu ketat dan penentuan
intervention (Griffiths, 2006 dikutip Walsh,
sampelnya dengan tidak randomisasi. Metode
2010).
yang digunakan berupa pre experimental design
Psikoedukasi adalah suatu bentuk
dengan jenis pre-test and post-test one group
pendidikan ataupun pelatihan terhadap
design. Metode ini diberikan pada satu
seseorang dengan gangguan psikiatri yang
kelompok saja tanpa kelompok pembanding.
bertujuan untuk proses treatment dan
Subjek Penelitian
rehabilitasi. Sasaran dari psikoedukasi adalah
Subjek penelitian ditentukan secara
untuk mengembangkan dan meningkatkan
purposive, yaitu siswa-siswi kelas VII, VIII dan
penerimaan pasien terhadap penyakit ataupun
IX dari 2 sekolah yang rawan pernikahan dini,
gangguan yang ia alami, meningkatkan
berusia antara 13-15 tahun. Adapun setelah
pertisipasi pasien dalam terapi dan
dilakukan screening didapatkan subjek
pengembangan coping mechanism ketika pasien
penelitian sebanyak 55 subjek dengan kategori
menghadapi masalah yang berkaitan dengan
intensi pernikahan dini sedang, tinggi, dan
penyakit tersebut (Goldman, 1998 dikutip dari
sangat tinggi.
Bordbar & Faridhosseini, 2010). Psikoeduakasi
Prosedur dan Analisa Data Penelitian
adalah treatment yang diberikan secara
Tahap pertama yaitu persiapan, hal ini
profesional dimana mengintegrasikan intervensi
dimulai dari peneliti untuk melakuakan suatu
psikoterapeutik dan edukasi (Lukens &
pendalaman materi dan adaptasi alat ukur yang
McFarlane, 2004).
harus sudah bisa diterapkan bagi subjek yang

7
Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), June 2016, 1-14
ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)
Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

akan di psikoedukasi. Namun teknik pengolahan Tahap ketiga yaitu penyebaran skala
data digunakan untuk menilai keampuhan pertama terhadap 2 sekolah yang dianggap
instrumen penelitian. Langkah-langkah yang rawan terjadinya pernikahan dini dengan berupa
ditempuh dalam penyusunan instrumen pre-test. Pada penyebaran skala ini bertujuan
dilakukan dalam beberapa tahap, baik dalam untuk mengkategorikan kelayakan subjek untuk
pembuatan atau uji cobanya. Untuk lebih mengikuti psikoedukasi yang akan diberikan
jelasnya dapat dilihat pada bagan berikut : oleh peneliti serta didampingi oleh guru BK

Kisi-kisi /
ataupun Psikolog.
Instrumen Uji-coba
Pengembangan
Instrumen Penelitian
Penelitian Instrumen Pada tahap keempat, peneliti mulai
memberikan psikoedukasi terhadap penurunan
intensi pernikahan dini. Hal ini dilakukan untuk
Revisi Instrumen Jadi mengubah persepsi para remaja yang sudah
memiliki keinginan untuk melakukan

Gambar 1. Prosedur Penyusunan Instrumen pernikahan usia dini, dengan cara memberikan
pemahaman kepada mereka terhadap dampak
Pada tahap kedua yaitu peneliti
dari pernikahan dini serta hal-hal yang
menyusun modul psikoedukasi. Setelah modul
mencangkup dalam pernikahan dini. Pada saat
selesai disusun, selanjutnya dilakukan uji coba
psikoedukasi ini, subjek sudah diseleksi
modul, agar modul benar-benar reliabel sesuai
berdasarkan hasil pre-test yang masuk dalam
dengan tujuan penelitian. Langkah-langkah
kategori sedang, tinggi dan sangat tinggi. Subjek
penyusunan modul sebagaimana bagan berikut:
yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah
55 orang. Peneliti memilih subjek sesuai dengan
Kisi-kisi /
Modul Uji-coba kategori yang sudah ditentukan karena untuk
Pengembangan Modul
Penelitian Modul
Penelitian
mengetahui adanya pengaruh sebelum diberikan
perlakuan berupa psikoedukasi dan sesudah

Pelaksanaan
pemberian psikoedukasi. Peran peneliti dalam
Evaluasi
Penelitian
eksperimen berupa pemberian psikoedukasi ini
adalah sebagai narasumber.
Gambar 2. Prosedur penyusunan modul Tahap kelima yaitu analisis data secara
keseluruhan hasil dari penelitian. Data-data

8
Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), June 2016, 1-14
ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)
Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

yang sudah diperoleh dari hasil pre-test dan penelitian ini secara keseluruhan subjek
post-test diinput, diolah dengan menggunakan berjumlah 55 orang.
program SPSS for window ver. 20, yaitu analisis Tabel 2. Deskriptif Uji Paired Sample t Test
Data Pre-test dan Post-test
parametrik Paired Sample t Test. Hasil dari
analisis ini mendapatkan suatu perbedaan antara N Rerata Correlation T P
Skor
sebelum diberikan perlakuan (pre-test) dan Pre Post
sesudah diberikan perlakuan (post-test). 55 11.25 22.33 0.265 -39.305 0.000

HASIL PENELITIAN Berdasarkan tersebut, selanjutnya

Berdasarkan hasil penelitian dapat menganalisis skor intensi pernikahan dini pada
diuraikan sebagaimana berikut; remaja sebelum diberikan perlakuan dan

Tabel 1. Deskripsi Data Intensi Pernikahan sesudah diberikan perlakuan berupa


Dini psikoedukasi perkawinan usia muda dengan

Kategori N Rerata Skor menggunakan uji Paired Sample t Test untuk


Pre-test Post-test melihat perbedaan pre-test dan post-test. Pada
Laki-laki 22 10.97 21.77
Perempuan 33 11.48 22.69 bagian ini diperoleh hasil korelasi 0.265, hal ini
Jumlah 55 menyatakan bahwa korelasi antara sebelum dan

Berdasarkan tersebut diperoleh hasil sesudah pemberian psikoedukasi berhubungan

yang menunjukkan bahwa hasil rata-rata laki- secara nyata. Sedangkan terlihat pada tabel nilai

laki yang berjumlah 22 orang dan perempuan t (-39,305) dan hasil uji analisis Paired Sample

yang berjumlah 33 orang memiliki perbedaan. t Test diperoleh nilai P< 0,05 (p = 0,000). Hasil

Pada subjek laki-laki dalam rata-rata pre-test tersebut menunjukkan adanya perbedaan skor

mendapatkan hasil 10.97 dan rata-rata post-test yang signifikan terhadap perlakuan tanpa

mendapatkan hasil 21.77. Sedangkan pada psikoedukasi (pre-test) dan dengan perlakuan

subjek perempuan dalam rata-rata pre-test psikoedukasi (post-test). Hal ini menunjukkan

mendapatkan hasil 11.48 dan rata-rata post-test bahwa adanya perbedaan sebelum diberikan

mendapatkan hasil 22.69. Hal ini dapat psikoedukasi dan sesudah diberikan perlakuan

disimpulkan bahwa pada saat sebelum diberikan psikoedukasi.

perlakuan subjek perempuan lebih cenderung


untuk melakukan intensi pernikahan dini. Pada

9
Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), June 2016, 1-14
ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)
Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

PEMBAHASAN (2002) dalam Pikiran Rakyat (2010),


Berdasarkan hasil dari penelitian ini, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi pada
menunjukkan bahwa adanya penurunan intensi remaja sangatlah minim, informasi yang kurang
pernikahan dini pada remaja melalui akurat dan benar tentang kesehatan reproduksi
psikoedukasi perkawinan usia muda. Hal ini sehingga memaksa remaja untuk melakukan
dibuktikan dengan adanya perbedaan sebelum eksplorasi sendiri, baik melalui media (cetak
diberikan perlakuan psikoedukasi dimana hasil dan elektronik) dan hubungan pertemanan, yang
dari pre-test menunjukkan bahwa subjek yang besar kemungkinannya justru salah. Ternyata
terpilih, masuk dalam kategori yang sudah di sebagian besar remaja merasa tidak cukup
tentukan oleh peneliti dan sesudah diberikannya nyaman curhat dengan orang tuanya, terutama
perlakuan psikoedukasi dimana intensi bertanya seputar masalah seks.
pernikahan dini pada subjek mengalami Psikoedukasi secara umum dapat
penurunan. Tingkat keberhasilan ini mendidik dan membantu partisipan
berdasarkan uji analisis Paired Sample t Test mengembangkan sumber-sumber dukungan
dengan memiliki perbedaan yang signifikan dalam menghadapi tantangan hidup dan pada
sebelum dan sesudah diberikannya perlakuan. penelitian kali ini mengacu pada penurunan
Secara umum menurut Riskesdas, intensi seseorang dengan setiap aspeknya terkait
(2010) Perempuan muda di Indonesia dengan keinginan individu untuk melakukan pernikahan
usia 10-14 tahun menikah sebanyak 0,2 persen dini. Psikoedukasi (Griffiths, 2006 dikutip
atau lebih dari 22.000 wanita muda berusia 10- Walsh, 2010) merupakan suatu intervensi yang
14 tahun di Indonesia sudah menikah. Hal ini di dapat dilakukan pada individu, keluarga, dan
buktikan dengan hasil dari pre-test antara laki- kelompok yang fokus untuk mendidik
laki dan perempuan mengalami perbedaan. Pada partisipannya mengenai tantangan signifikan
subjek laki-laki dalam rata-rata pre-test dalam hidup, membantu partisipan
mendapatkan hasil 10.97 sedangkan subjek mengembangkan sumber-sumber dukungan dan
perempuan dalam rata-rata pre-test dukungan sosial dalam menghadapi tantangan
mendapatkan hasil 11.48. Pada dasarnya tersebut dan mengembangkan keterampilan
perempuan memiliki keinginan yang lebih coping untuk menghadapi tantangan tersebut.
tinggi dalam melakukan suatu pernikahan Hasil yang didapat dengan menggunakan
dengan kurangnya pengetahuan. Adiningsih, psikoedukasi ini berpengaruh positif dalam

10
Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), June 2016, 1-14
ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)
Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

intensi individu agar tidak memiliki keinginan psikoedukasi itu sendiri anak-anak, remaja, dan
atau pun akan melakukan suatu pernikahan dini. orang dewasa.
Psikoedukasi tidak hanya bertujuan Teori-teori yang melatarbelakangi
untuk treatment tetapi juga rehabilitasi. Ini psikoedukasi antara lain adalah teori sistem
berkaitan dengan mengajarkan seseorang ekologi, teori kognitif-perilaku, teori belajar,
mengenai suatu masalah sehingga mereka bisa group practice models, stress and coping
menurunkan intensi yang terkait dengan models, model dukungan sosial, dan pendekatan
pernikahan dini dan mencegah agar masalah naratif (Anderson, Reiss, & Hogarty, 1986,
tersebut tidak terjadi pada masa yang akan dikutip dari Lukens & McFarlane, 2004). Pada
datang. Psikoedukasi juga didasarkan pada penelitian ini lebih mengarah pada teori kognitif
kekuatan partisipan dan lebih fokus pada saat ini dimana lebih berfokus pada penguasaan
dan masa depan dari pada kesulitan-kesulitan di terhadap keterampilan kognisi-emosi yang
masa lalu. Psikoedukasi, baik individu ataupun menjadi komponen dari proses psycho-training.
kelompok tidak hanya memberikan informasi- Kognisi yang dalam penelitian ini adalah
informasi penting terkait dengan permasalahan memberikan pengetahuan kepada subjek terkait
partisipannya tetapi juga mengajarkan dengan pernikahan dini yang dapat berdampak
keterampilan-keterampilan yang dianggap buruk bagi masa remaja mereka dan
penting bagi partisipannya untuk menghadapi psikoedukasi yang diberikan mampu
situasi permasalahannya. Psikoedukasi dapat menanamkan pola hidup yang lebih baik untuk
diterapkan pada berbagai kelompok usia dan merancang masa depan mereka dengan
level pendidikan. Asumpsi lainnya, menunda suatu pernikahan dini. Setelah selesai
psikoedukasi kelompok lebih menekankan pada dilakukannya perlakuan psikoedukasi, peneliti
proses belajar dan pendidikan dari pada self- memberikan kesempatan kepada subjek yang
awareness dan self-understanding dimana dapat review ulang terkait dengan materi
komponen kognitif memiliki proporsi yang psikoedukasi yang sudah disampaikan peneliti.
lebih besar dari pada komponen afektif (Brown, Subjek yang dapat memberikan review ulang
2011). Namun ini tidak berarti bahwa maka peneliti memberikan reward sebagai
psikoedukasi sama sekali tidak menyentuh stimulus. Hal ini bertujuan agar para subjek
aspek selfawareness dan self-understanding. bersemangat dalam mendengarkan materi
Hal ini dikembalikan kepada sasaran dari psikoedukasi.

11
Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), June 2016, 1-14
ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)
Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai perilaku. Secara lebih luas, replikasi dapat
mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana dilakukan pada sampel yang lebih bervariasi
mereka sudah mulai membayangkan sesuatu dalam hal usia, tempat dan waktu karena dengan
yang diinginkan di masa depan. Perkembangan pemilihan subjek yang lebih luas dapat
kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat menggeneralisasikan hasil penelitian pada
dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk populasi yang lebih luas pula.
berpikir lebih logis. Namun pada masa remaja
akan menimbulkan ketakutan-ketakutan
DAFTAR PUSTAKA
terhadap orang tua, karena pada masa remaja
Ahmad, A. H.. (2012). Pernikahan Usia Dini.
masa mencari identitas diri yang kemungkinan Diunduh dari
besar menimbulkan beberapa pertentangan https://hasanzainuddin.wordpress.com
/2012/09/17/pernikahan-dini-ancaman
dengan orang tua. besar-kehidupan-sosial-kalsel/.

Adiningsih, N. (2002). Kualitas dan


SIMPULAN profesionalisme Guru. Pikiran Rakyat 15
Oktober 2002. Http://www.Pikiran
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Rakyat.com/1-2—2/15 Opini.
psikoedukasi yang diberikan kepada remaja
Azwar, S. (1995) Sikap Manusia Teori dan
mampu menurunkan intensi untuk menikah dini. pengukuranya. Edisi 2. Yogyakarta:
Psikoedukasi untuk menurunkan intensi Pustaka Pelajar Offset.
menikah dini dapat diberikan dalam program Ajzen, I. (2005). Attitudes, Personality, and
Bimbingan dan Konseling di tingkat sekolah. Behavior, Edisi kedua. New York: Open
University Press.
Pada peneliti selanjutnya dapat
Ahmad, S.A., Hakim, E.H., & Makmur, L.
mengulangi penelitian ini dengan berbagai (2009). Ilmu Dan Kegunaan Tumbuh-
variasi dan perbaikan. Variasi dapat dilakukan Tumbuhan Obat Indonesia. Bandung :
ITB.
dengan merancang modul pelatihan lebih
cermat dan menarik, seperti dalam bentuk Anwar, K., Bakar, A., & Harmaini. (2005).
“Hubungan antara Komitmen Beragama
komik atau majalah remaja. Peneliti juga dengan Intensi Prososial Mahasiswa
sebaiknya dapat menindak lanjuti penyuluhan Fakultas Psikologi UIN Suska Riau”,
dalam Jurnal Psikologi, Volume 1, Nomor
psikoedukasi perkawinan usia muda yang tidak 2, Desember 2005. Pekan Baru: Fakultas
hanya menurunkan intensi pernikahan dini pada Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau.
subjek, namun kedalam bentuk perubahan

12
Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), June 2016, 1-14
ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)
Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian, Suatu Esa.un.org. (2010). United Nations


Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Development Economic and Social
Cipta. Affairs, Popilation Division, World
Population Prospects: The 2008 Revision.
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik, Edisi Revisi VI, Gay, L.R. & Diehl. P.L. (1992). Research
Penerbit PT Rineka Cipta, Jakarta. Methods for Business and Management.
MacMillan Publishing Company. New
Basri, H. (1996). Merawat Cinta Kasih. York.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Griffiths, P. (2006). An Introduction to English
Badan Penelitian dan Pengembangan Semantics and Pragmatics. Edinburgh
Kesehatan. (2010). Riset Kesehatan University Press Ltd.
Dasar (Riskesdas 2010), Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Kusmiran, E. (2011).Kesehatan Reproduksi
Remaja Dan Wanita.Jakarta: Salemba
BKKBN. (2012). Pernikahan Usia Dini. Medika.
Scribd.com. Diunduh dari.
Www.acribd.com/doc/171421448/Hasil- Lukens, E. P. & McFarlane, W. R. (2004).
Pernikahan-Usia-Dini-BKKBN-PPT-RS- Journal Brief Treatment and Crisis
Read-Inly#scribd. Intervention Volume 4. Psychoeducation
as Evidence-Based Practice:
Bordbar, M. & Faridhosseini, F. (2010). Consideration for Practice, Research, and
Psychoeducation for Bipolar Mood Policy. Oxford University Press.
Disorder. Jurnal: Clinical, Research,
Treatment Approaches to Affective Lutfiati. (2008). Pernikahan Dini Pada
Disorders. Kalangan Remaja (15-19 tahun).
http://nyna0626.blogspot.com. Diakses 4
Brown, N. W. (2011). Psychoeducational April 2010.
Groups 3rd Edition: Process and Practice.
New York: Routledge Taylor & Francis Nukman, I. (2009). Mind Revolution!.
Group. Jogyakarta: Diva Press.

Chaplin, J.P. (2004). Kamus Lengkap Psikologi, Maulana, S. (2013). Seminar tentang Remaja
cet. ke-9, Penerjemah: Dr. Kartini dalam rangkaian Peringatan Hari
Kartono, Jakarta: Rajawali Pers. Keluarga XX Tingkat Nasional. Hotel
Azahra, Kendari, Sultra.
Eagly, A. H. & Chaiken, S. (1993). The http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx
Psychology of Attitudes. Fort Worth, TX: ?BeritaID=831.
Harcourt Brace Jovanovitch.
Sugiyono. (2002). Metode Penelitian
Echols, J. M., & Shadily, H. (2000).Kamus Administrasi. Bandung: CV Alfabeta.
Inggris Indonesia, cet. ke-25, Jakarta:
Gramedia.

13
Psikologia (Jurnal Psikologi), 1 (1), June 2016, 1-14
ISSN 2338-8595 (print), ISSN 2541-2299 (online)
Journal Homepage: http://ojs.umsida.ac.id/index.php/psikologia
DOI: 10.21070/psikologia.v1i1.749

Walgito, B. (2000). Bimbingan dan Konseling


(Studi dan karier): Penerbit Andi.
Yogyakarta.

Wiggins, J. A., dkk. (1994). Social Psychology


5th Edition. San Fransisco. McGraw-HillI

14