Anda di halaman 1dari 33

KEGIATAN PRAKTIKUM ANATOMI DAN

FISIOLOGI TUBUH MANUSIA


KELAS PSPB B 2017
11 MEI 2020

NAMA KELOMPOK: VII (TUJUH)

NAMA ANGGOTA: 1. AHMAD RASYID RIDHO.A (4174541001)


2. NADYA (4174541002)
3. EVI SYAHFRIANI (4172141004)
4. EMIA PEHULISA (4172141022)

JUDUL MATERI: ALAT INDRA

TINJAUAN TEORITIS:
Setiap individu diciptakan dengan sistem indera yang digunakan yang lengkap untuk
mampu berinteraksi dengan keadaan lingkungan sekitar, yang dapat diperoleh melalui
indera, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit. Informasi tersebut dihantarkan ke otak
untuk diolah dan diartikan sehingga individu dapat melihat, mendengar, mencium,
mengecap, dan meraba. Jadi, masing-masing alat indra memiliki kepekaan terhadap
rangsangan dari luar yang disebut reseptor (Setiadi, 2007).
Alat indera kita memiliki bagian yang dapat menerima rangsang berupa ujung-ujung
saraf sensorik atau sel-sel reseptor. Satu macam reseptor hanya mampu menanggapi satu
macam rangsangan, rangsangan yang diterima oieh sel reseptor terlebih dulu diubah menjadi
impuls saraf dan kemudian dihantarkan ke pusat susunan saraf melalui serabut saraf
sensorik. Di dalam pusat susunan saraf, impuls saraf tersebut diolah dan diartikan sehingga
individu mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita. Setelah itu, otak memerintahkan jenis
tanggapan yang akan diberikan. Perintah dari otak disampaikan ke otot atau kelenjar sebagai
efektor yang bertugas memberi tanggapan terhadap rangsang tersebut (Setiadi, 2007).
Menurut Bimo Walgito jenis-jenis persepsi berdasarkan panca indera yaitu sebagai
berikut:
1. Persepsi melalui indera penglihatan
Mata hanyalah merupakan salah satu alat atau bagian yang menerima stimulus, dan
stimulus ini dilangsungkan oleh syaraf sensoris ke otak, hingga akhirnya individu dapat
menyadari apa yang dilihatnya Persepsi melalui indera pendengaranDalam pendengaran
individu dapat mendengar apa yang mengenai reseptor sebagai suatu respons terhadap
stimulus tersebut. Kalau individu dapat menyadari apa yang didengar, dan terjadilah
suatu pengamatan atau perepsi.
2. Persepsi melalui indera pencium
Stimulusnya berwujud benda-bendayang bersifak khemis atau gas yang menguap, dan
mengenai alat-alat penerima yang ada dalam hidung, kemudian oleh syaraf sensoris ke
otak, dan sebagai respon dari stimulus tersebut orang dapat menyadari apa yang
diciumnya yaitu bau yang diciumnya
3. Persepsi melalui indera pencecap
Stimulusnya merupakan benda cair. Zat cair itu mengenai ujung sel penerima yang
terdapat pada lidah, yang kemudian dilangsungkan oleh syaraf sensoris ke otak, hingga
akhirnya orang dapat menyadari atau mempersepsi tentang apa yang dicecapnya itu
4. Persepsi melalui indera kulit
Indera ini dapat merasakan rasa sakit, rabaan, tekanan, dan temepratur. Rasarasa
tersebut di atas merupakan rasa-rasa kulit yang primer, sedangkan disamping itu masih
terdapat variasi yang bermacam-macam (Bimo Walgito, 2010).
A. Pengertian Sistem Pengindraan
Sistem penginderaan manusia adalah organ akhir yang dikhususkan untuk menerima
rangsangan tertentu yang terdiri dari indera penglihatan, indera pendengar, indera penciuman,
indera pengecap, dan indera peraba. Menurut Syaifuddin:
“Sistem pengindraan adalah organ akhir yang dikhususkan menerima jenis rangsangan
tertentu. Serabut saraf yang menanganinya merupakan alat perantara yang membawa kesan
rasa dari organ indra menuju ke otak tempat perasaan ini di tafsirkan” [1]
Setiap individu diciptakan dengan sistem indera yang digunakan yang lengkap untuk
mampu berinteraksi dengan keadaan lingkungan sekitar, yang dapat diperoleh melalui indera,
yaitu mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit. Informasi tersebut dihantarkan ke otak untuk
diolah dan diartikan sehingga individu dapat melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan
meraba. Jadi, masing-masing alat indra memiliki kepekaan terhadap rangsangan dari luar
yang disebut reseptor (Setiadi, 2007).
Alat indera kita memiliki bagian yang dapat menerima rangsang berupa ujung-ujung
saraf sensorik atau sel-sel reseptor. Satu macam reseptor hanya mampu menanggapi satu
macam rangsangan, rangsangan yang diterima oieh sel reseptor terlebih dulu diubah menjadi
impuls saraf dan kemudian dihantarkan ke pusat susunan saraf melalui serabut saraf sensorik.
Di dalam pusat susunan saraf, impuls saraf tersebut diolah dan diartikan sehingga individu
mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita. Setelah itu, otak memerintahkan jenis tanggapan
yang akan diberikan. Perintah dari otak disampaikan ke otot atau kelenjar sebagai efektor
yang bertugas memberi tanggapan terhadap rangsang tersebut (Setiadi, 2007).
Menurut Bimo Walgito jenis-jenis persepsi berdasarkan panca indera yaitu sebagai
berikut:
1. Persepsi melalui indera penglihatan
Mata hanyalah merupakan salah satu alat atau bagian yang menerima stimulus, dan
stimulus ini dilangsungkan oleh syaraf sensoris ke otak, hingga akhirnya individu dapat
menyadari apa yang dilihatnya Persepsi melalui indera pendengaranDalam pendengaran
individu dapat mendengar apa yang mengenai reseptor sebagai suatu respons terhadap
stimulus tersebut. Kalau individu dapat menyadari apa yang didengar, dan terjadilah suatu
pengamatan atau perepsi.
2. Persepsi melalui indera pencium
Stimulusnya berwujud benda-bendayang bersifak khemis atau gas yang menguap, dan
mengenai alat-alat penerima yang ada dalam hidung, kemudian oleh syaraf sensoris ke otak,
dan sebagai respon dari stimulus tersebut orang dapat menyadari apa yang diciumnya yaitu
bau yang diciumnya
3. Persepsi melalui indera pencecap
Stimulusnya merupakan benda cair. Zat cair itu mengenai ujung sel penerima yang
terdapat pada lidah, yang kemudian dilangsungkan oleh syaraf sensoris ke otak, hingga
akhirnya orang dapat menyadari atau mempersepsi tentang apa yang dicecapnya itu
4. Persepsi melalui indera kulit
Indera ini dapat merasakan rasa sakit, rabaan, tekanan, dan temepratur. Rasarasa tersebut
di atas merupakan rasa-rasa kulit yang primer, sedangkan disamping itu masih terdapat variasi
yang bermacam-macam (Bimo Walgito, 2010).
B. Macam-Macam Indra Yang Dimiliki Manusia
I. INDERA PENGLIHATAN
Indra penglihatan adalah alat yang digunakan untuk melihat lingkungan sekitarnya
dalam bentuk gambar sehingga mampu mengenali benda – benda yang ada di sekitarnya.
Mata dapat melihat benda karena adanya pantulan cahaya dari benda. ( sumber : Ilmu
Pengetahuan Alam, djoko Arisworo, hal. 63). Menurut Syaifuddin:
“Indra penglihatan yang terletak pada mata yang terdiri dari organ alat bantu mata dan
bola mata. Saraf indra penglihatan, saraf optikus (urat saraf kranila kedua), muncul dari sel-
sel ganglion dalam retina, bergabung untuk membentuk saraf optikus”. [2]

Bola mata dilekatkan oleh beberapa otot pada tulang tengkorak. Otot-otot tersebut
terdiri atas tiga pasang otot yang ketiganya disebut otot silindris. Ketiganya berfungsi sebagai
penggerak bola mata ke atas, ke bawah, ke kanan atau ke kiri.
Kornea berfungsi mengatur cahaya yang masuk ke mata. Lapisan tengah mata atau
koroid berwarna gelap. Lapisan ini banyak mengandung pembuluh darah dan berfungsi
menyerap cahaya. Selain itu juga berfungsi menyerap cahaya. Selain itu juga berfungsi
mengurangi berkas cahaya yang memantul di sekitar mata bagian dalam. Bagian depan
selaput ini terputus dan membentuk selaput pelangi atau iris. Selaput tersebut ada yang
berwarna hitam, bu-abu, biru atau hijau. Bagian inilah yang menentukan warna mata orang.
Pada bagian tengah iris terdapat lubang untuk masuknya cahaya ke dalam mata. Lubang ini
disebut pupil. Besar kecilnya pupil diatur oleh iris yang berhubungan dengan banyak atau
sedikitnya cahaya yang masuk.
Lapisan dalam mata atau retina disebut juga selaput jala. Bagian ini merupakan reseptor
mata. Pada retina terdapat bintik kuning. Bintik kuning sangat peka terhadap cahaya dan
warna. Oleh karena itu, jika kita melihat suatu benda dan bayangannya jatuh pada bintik
kuning, bnda tersebut akan tampak jelas dan tajam.
Cahaya yang ditangkap mata berturut-turut akan melalui kornea, aqueous humor, pupil,
lensa, vitreus humor, dan akhirnya pada retina. Retina sebagai reseptor akan meneruskan ke
otak melalui sel saraf sensorisnya dan otak akan menerjemahkan bayangan yang tertangkap
oleh retina. (Sumber: Ilmu Pengetahuan Alam, djoko Arisworo, hal. 62)
II. INDERA PENDENGARAN
Indra pendengaran merupakan salah satu alat pancaindra untuk mendengar. Telinga
merupakan alat indra yang angat peka terhadap rangsang suara. Hal ini karena telinga
memiliki saraf-saraf pendengaran. (Sumber : Ilmu Pengetahuan Alam, djoko Arisworo,
hal.66)
Anatomi telinga terdiri dari telinga bagian luar,tengah,dan dalam.
Menurut Evelyn C. Pearce:
“Indra pendengaran adalah alat indra yang memiliki fungsi untuk mendengar suara
yang ada di sekitar dan telinga merupakan indra pendengaran yang menerima rangsangan
berupa suara(fonoreseptor). dan menjadi alat keseimbanan tubuh”.[3]
Bagian – bagian dari telinga yaitu :
a. Telinga bagian luar
Terdiri dari Aurikula (daun telinga), Meatus akustikus eksterna (liang telinga), Membran
timpani. Daun tlinga berfungsi membantu memusatkan gelombang suara yang masuk ke
saluran pendengaran. Selaput gendang atau membrane timpani berfungsi menangkap
gelombang suara.
b. Telinga bagian tengah
Terdiri dari tiga macam tulang, yaiitu tulang martil (malleus), tulang landasan (incus),
dan tulang sanggurdi (stapes). Ketiga tulang tersebut berfungsi meneruskan dan mengubah
gelombang suara dari gendang telinga atau selaput gendang ke bagian dlam teinga. Dibagian
ini juga terdapat saluran yang berhubungan dengan pangkal tenggorokan. Saluran ini disebut
saluran estachius. Saluran ini berfungsi menyeimbangkan tekanan udara di telinga bagian luar
dan tengah.
c. Telinga bagian dalam
Telinga bagian dalam terletak pada bagian tulang keras pilorus temperalis,terdapat
reseptor pendangaran , dan alat pendengar ini disebut labirin. Telinga bagian dalam terdiri
atas bagian rumah siput (koklea) dan tiga saluran setengah lingkaran. Koklea berfungsi
sebagai reseptor karena didalamnya terdapat sel saraf sensoris yang berhubungan dengan
otak. Tiga saluran setengah lingkaran berfungsi menjaga keseimbangan tubuh. (Sumber : Ilmu
Pengetahuan Alam, djoko Arisworo, hal. 67).
III. INDERA PENCIUMAN
Indra penciuman adalah indra yang digunakan untuk mengenali lingkungan sekitar atau
sesuatu aroma yang dihasilkan. Hidung merupakan indra pembau yang peka tehadap rangsang
berbentuk gas dan uap. Di dalam rongga hidung terdapat sel-sel reseptor yang dilengkapi
dengan rambut-rambut halus berselaput lender. Pada waktu kamu mencium aroma makanan,
zat berbau yang menguap dari masakan tersebut terhirup bersama udara pernapasan.
Kemudian larut bersama selaput lender di dalam rongga hidung. Hal ini merangsang ujung sel
saraf pembau di didalam rongga hidung. Dari ujung sel saraf pembau ini impuls akan
diteruskan ke otak. Setelah dari otak, kamu dapat mengatakan bahwa masakan tersebut
harum.
Fungsi indra pembau akan hilang jika terjadi penyumbatan rongga hidung (misalnya
oleh polip atau tumor) dan adanya infeksi pada reseptor pembau oleh virus. Hilangnya fungsi
indra penciuman ini disebut anosmia. (Sumber : Ilmu Pengetahuan Alam, djoko Arisworo,
hal. 68)

Menurut Roger Watson: 
“Alat indra untuk merasakan cita rasa dari berbagai makanan dan untuk mengenali
lingkungan atau suatu aroma yang dihasilkan. Alat pencium terdapat dalam rongga hidung
dari ujung saraf, otak, nervus olfaktorius”.[4]
Reseptor pencium dan pengecap keduanya adalah kemoreseptor yang dirangsang oleh
molekul-molekul dalam larutan dalam cairan hidung dan mulut. Akan tetapi, kedua indra ini
secara anatomis sangat berbeda reseptor pencium adalah reseptor jauh (teleseptor) lintasan
penciuman tidak mempunyai sambungan dalam talamus dan tidak terdapat daerah proyeksi
dalam neokorteks untuk penciuman.
a. Membran Mukosa Penciuman
Reseptor pencium terletak pada bagian khusus dari mukosa hidung, membran mukosa
pencium berpigmen kekuning-kuningan.  Sel-sel penyangga mensekresi lapisan mukus yang
terus menerus melapisi epitel dan mengirimkan banyak mikrofili rambut halus ke dalam
mukus ini. Tersebar diantara sel-sel penyangga membran mukosa ini terdapat 10-20 juta
reseptor. Tiap-tiap reseptor pencium adalah satu neuron.
Membran mukosa penciuman dikatakan merupakan tempat dimana sistem saraf paling
dekat dengan dunia luar. Neuronnya mempunyai dendrit yang pendek dan tebal dengan
ujung-ujung yang melebar dan dinamakan batang pencium atau (olfactory rods). Dari batang
ini cilia diulurkan ke permukaan mukus.
Akson dari neuron reseptor pencium menembus laminal cribosa dari os ethmoidale dan
masuk ke dalam bulbus olfactorius.
b. Bulbus olfactorius
Di dalam bulbus olfactorius akson reseptor berakhir diantara dendrit-dendrit dari sel-sel
mitral dan sel-sel berjambul (tufted) untuk membentuk kompleks sinaps bulat yang
dinamakan glomeruli olfactori. Rata-rata 26.000 akson sel reseptor berkonvergensi pada tiap-
tiap glomerulus. Akson dari sel mitral dan berjambul melintas ke posterior melalui stria
olfactori media unutk berakhir pada substantia perforata anterior dan trigonom olfactorium.
Implus yang berhubungan dengan refleks penciuman melintas dari daerah ini ke sisi sistem
limbik dan hipotalamus. Sebagian besar akson dari sel-sel mitral, melintas dari glomeruli
melalui stria olfactori lateral ke korteks dan bagian medial dari nukleus amigdalae ipsilateral
dan ke korteks prepiriform dan periamigdalae. Disamping input dari luar berasal dari
membran mukosa penciuman melalui nervus olfactorius, terdapat pula tiga input dari lain-lain
bagian otak masuk ke dalam bulbus olfactorius. Satu dari input sentral berasal dari nukleus
cabang horisontal jalur diagonal (serabut sentrifugal). Input lain berasal dari nukleus
olfactorius anterior sisi yang sama, sedangkan input yang ketiga berasal dari nukleus
olfactorius anterior kontralateral dan mencapai bulbus olfactorius melalui commissuraanterior
c. Fisologi Penghidung 
1. Perangsang reseptor
Reseptor-reseptor penciuman hanya memberi respon terhadap zat yang bersentuhan
dengan epitel penciuman dan larut dalam lapisan mukus yang tipis. Ambang penciuman untuk
berbagai zat representatif melukiskan kepekaan yang menyolok dari reseptor penciuman
terhadap beberapa zat. Misalnya, metil merkaptan, yaitu zat yang memberi bau yang khas
pada bawang, dapat dicium pada konsentrasi yang kurang dari sepersatu juta miligram perliter
udara. Apabila molekul berbau merangsang reseptor maka timbulah potensial reseptor.
Satu teori mengemukakan bahwa molekul berbau menekan aktivitas sistem enzim
epitel dan menyebabkan perubahan pada reaksi-reaksi kimia. Teori lain mengemukakan
bahwa molekul berbau mengubah permukaan sel-sel reseptor yang menyebabkan total
listriknya. Teori yang ketiga mengemukakan bahwa molekul hanya mengubah permeabilitas
Na dari membran reseptor.
2. Mendengus
Bagian rongga hidung yang mengandung reptor pencium mendapat fentilasi yang
sangat sedikit. Sebagian besar udara biasanya bergerak dengan tenang melalui bagian bawah
rongga hidung pada setiap siklus pernapasan. Jumlah udara yang mencapai bagian ini sangat
meningkat dengan mendengus yaitu suatu gerakan yang menyertakan kontraksi bagian bawah
lubang.Hidung pada septum untuk membantu membiasakan arus udara ke atas.  Mendengus
adalah respon semirefleks yang biasanya terjadi apabila bau yang baru menarik perhatian.
3. Peranan serabut-serabut nyeri dalam hidung
Ujung-ujung telanjang dari banyak serabut nyeri N. trigeminus ditemukan dalam
membrana mukosa penciuman. Serabut-serabut ini terangsang oleh zat-zat yang menyangat,
dan perasaan menyengat komponen yang timbul dari trigeminus merupakan komponen
dari”bau” yang khas dari zat seperti minyak permen, menthol, dan klor. Ujung-ujung ini jugsa
yang bertanggung jawab untuk menimbulkan refleks bersin, mengeluarkan air mata, sesak
nafas, dan respon refleks lainnya terhadap iritan terhadap hidung
4. Adaptasi
Telah diketahui umumnya bahwa bila seseorang secara terus menerus terkena bau
yang paling tidak enakpun, persepsi dari bau itu menurun dan akhirnya berhenti. Fenomena
yang kadang-kadang berguna ini disebabkan karena adaptasi yang agak cepat yang terjadi
pada sistem penciuman. Adaptasi ini adalah spesifik untuk bau tertentu yang dicium, ambang
untuk bau-bau lainnya tidak berubah. Adaptasi penciuman sebagian adalah peristiwa sentral,
tetapi juga karena perubahan pada reseptor.
II. INDRA PENGECAP
Lidah adalah alat indera yang peka terhadap rangsangan berupa zat kimia larutan.
Lidah memiliki otot yang tebal, permukaannya dilindungi oleh lendir dan penuh dengan
bintil-bintil. Kita dapat merasakan rasa pada lidah karena terdapat reseptor yang dapat
menerima rangsangan. Reseptor itu adalah papilla pengecap atau kuncup pengecap. Kuncup
pengecap merupakan kumpulan ujung-ujung saraf yang terdapat pada bintil-bintil lidah.
Papilla agak kasar karena memiliki tonjolan-tonjolan pada permukaan lidah. Di dalam papila
terdapat banyak kuncup-kuncup pengecap (taste bud) yaitu suatu bagian berbentuk bundar
yang terdiri dari dua jenis sel yaitu sel-sel penyokong dan sel-sel pengecap yang berfungsi
sebagai reseptor (Pearce, 2009).
Ganguan yang bersifat permanent misalnya terjadi padan orang yang mengalami trauma
pada bagian tertentu otak. Pada lidah juga sering terjadi iritasi karena luka atau kekurangan
vitamin C (Pearce, 2009).
III. INDRA PERABA
Kulit dapat dengan mudah dilihat dan diraba, hidup dan menjamin kelangsungan hidup.
Kulit menyokong penampilan dan kepribadian sesorang dan  menjadi ciri berbagai tanda
kehidupan yaitu ras, genetik, estetik, budaya, bangsa dan agama.
Kulit juga dapat menjadi indikator kesehatan, kemakmuran, kemiskinan, dan kebiasaan,
di samping sarana komunikasi non verbal antara individu satu dengan lainnya.  Kulit juga
dapat menjadi sarana kontak seksual, cinta, persahabatan, atau kebencian. Kerusakan lebih
dari 30% luas kulit, misalnya akibat luka bakar, dapat segera menyebabkan kematian, karena
kulit mempunyai faal yang vital bagi tubuh manusia.
Pada kulit terdapat ujung-ujung saraf peraba yang penyebarannya tidak merata
diseluruhh kulit. Ujung jari, telapak tangan, dan telapak kaki banyak mengandung ujung saraf
yang peka terhadap sentuhan. Akibatnya, kamu dapat merasakan permukan yang halus dan
kasar. Pada ujung dan kar rambut juga terdapat ujung saraf yag peka terhadap sentuhan.
Selain itu, pada kulit juga terdapat ujung-ujung saraf penerima rasa sakit atau nyeri. (Sumber :
Ilmu Pengetahuan Alam, djoko Arisworo, hal. 71)
Bagian-bagian kulit terdiri dari : 
a. Epidermis
Epidermis terdiri dari sel epitel yang mengalami keratinisasi yang mengandung bahan
lemak yang menjadikan kulit kedap air. Sel superfisial dari stratum ini secara kostan
dilepaskan dan diganti. Sel lain mengandung cairan berminyak. Lapisan ketiga tediri dari sel-
sel yang mengandung granula yang mampu merefraksi cahaya dan membantu memberikan
warna putih pada kulit. Lapisan keempat mengandung sel yang memproduksi melamin, suatu
bahan yang bertindak sebagai perlindungan terhadap pengaruh sinar UV. Epidermis tidak
mengandung pembuluh darah, tetapi limfe bersirkulasi dalam ruang interselular.
b. Dermis
Dermis terdiri dari jaringan fibrosa yang lebih padat pada bagian superficial
dibandingkan bagian dalamnya. Dapat diidentifikasi 2 lapisan : yang pertama mengandung
akhiran saraf sensorik, pembuluh darah dan limfatika ; yang kedua mengandung serat
kolagen, serat elastik, glandula sebasea, glandula sudorifera, folikel rambut dan muskulus
arrektor pilli.
c. Hipodermis
Ini merupakan zona transisional diantara kulit dan jaringan adiposa di bawahnya.
Mengandung sel lemak demikian juga jaringan ikat putih dan kuning, kumparan dari sejumlah
glandula sebasea dan radiks dari sejumlah rambut.  Pemberian zat makanan dermis atau
porium tergantung pada vena dan limfatika. Baik saraf bermielin maupun tidak bermielin
ditemukan dalam kulit yang berisi organ akhir dan banyak serat saraf. Organ ini memberikan
respon sensasi panas, dingin, nyeri, gatal, dan raba ringan.
d. Kelenjar Keringat
Kelenjar keringat terdiri dari glomerolus atau bagian sekresi dan duktus. Secara relatif
terdapat catu darah yang kaya dan menskresi keringat yang agak keruh, hampir tidak berbau,
hampir mengandung 99% air, dan sejumlah kecil khlorida, urea, amonium, asam urat dan
kreatinin. Berbagai tipe kelenjar keringat ditemukan pada area seperti genetalia, anus, aksila
dan puting susu dan masing-masing juga mempunyai bau yang khas.
e. Appendises
Appendises termasuk rambut dan kuku. Rambut berasal epitel dan terbentuk dari sel
tanduk yang mengalami modifikasi yang timbul dalam struktur yang kompleks, yaitu folikel
yang terletak dalam lapisan dermis yang lebih dalam. Pada saat rambut melintasi lapisan
permukaan dari dermis maka rambut dilapisi oleh sebum yang merupakan eksresi dari
glandula kecil yang terletak berdekatan dengan batang rambut. Fungsinya adalah melumasi
kulit dan menjaga kulit tetap lentur, bertindak sebagai penolak air dan melindungi kulit dari
udara yang kering.
Kuku terdiri dari sel tanduk yang mengalami modifikasi yang bersatu dengan kuat. Pada
bagian proksimal kuku terbentuk dalam matriks kulit. Dasar kuku terdiri dari sel prickle yang
mengalami modifikasi pada mana kuku melekat dengan kuat. Kuku sebagian memperoleh
warna dari darah dan sebagian dari pigmen dalam epidermis terutama melanin. Sebagai
penitup bagian luar maka kulit mempunyai banyak fungsi yang tidak saja besifat protektif,
tetepi juga termasuk yang berikut :
1) Bertindak sebagai barier terhadap infeksi asal berada dalam keadaan utuh, tetapi dapat
juga dirusak oleh mikroorganisme dengan aksi dari asam lemak rantai panjang yang
ditemukan dalam kulit. Invasi bakteri dapat juga terhalang oleh keasaman kulit.
2) Ketahanan jaringan yang kuat melindungi jaringan di bawahnya.
3) Kulit bertindak sebagai insulator (hipoderm) dan membantu mengatur suhu tubuh.
Pengendalian suhu tubuh juga merupakan fungsi dari glandula sudorifera dan pembuluh
darah. Ketika hari panas, glandula menskresi keringat, dan penguapannya menyebabkan
pendinginan ; pembuluh darah berdilatasi untuk memungkinkan keluarnya panas tubuh
dengan meningkatkan aliran darah dekat dengan permukaan tubuh. Ketika hari dingin,
pembuluh darah berkonstriksi, menurunkan aliran darah dan dengan demikian
menurunkan kehilangan panas.
4) Karena mengandung akhiran saraf sensorik, sensasi dari kulit memainkan peranan penting
dalam mempertahankan kesehatan.
5) Sampai tingkat tertentu, kulit bertindak sebagai organ ekskresi untuk mengeluarkan
produk sampah tubuh. Karena itu memainkan peranan dalam mempertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit.
6) Dalam kondisi yang sesuai, kulit mencatu vitamin D tubuh. Vitamin ini terbentuk dengan
aksi fotokimia dari sinar UV pada sterol yang diduga diekskresikan dalam sebum.

KEGIATAN PRAKTIKUM:
1. PENGECAP
A. Tujuan Praktikum
1. Menentukan kecermatan pengecapan praktikan pada penggunaan beberapa bahan.
2. Menentukan daerah penyebaran reseptor dari keempat sensasi kecap primer,
berdasarkan 3. kepekaan tertinggi terhadap bahan yang bersangkutan.
3. Menentukan daerah penyebaran reseptor kecap selain sensasi primer.
B. Alat dan Bahan
1. Alat: Cotton bud, Sapu tangan, Cawan petri, Peta rasa (gambar lidah), Gelas kimia,
Tissue/kapas
2. Bahan: Larutan NaCl (asin), Larutan kopi tanpa gula (pahit), Larutan asam, Larutan
cabe/merica (pedas), Laruatan glukosa (manis), Air putih
C. Prosedur Kerja
1. Sebelum percobaan dimulai, bersihkan dulu gusi dan lidah dari sisa-sisa makanan
dengan berkumur. Kemudian bersihkan lidah dengan tissue/kapas agar tidak basah
oleh air ludah.
2. Tuangkan cairan pada cawan petri dan rendam cotton bud pada tiap-tiap larutan
3. Tutup mata praktikan, agar tidak mengetahui larutan apa yang dipergunakan.
4. Sentuhkan cotton bud pada tempat-tempat pusat pengecap dan praktikan diminta
untuk mengatakan rasa apa yang dirasakan setiap kali sentuhan dan pada tempat
mana yang paling terasa macam larutan yang disentuhkan.
5. Ulangi percobaan ini dengan cotton bud yang lain sesuai larutannya. Tanyakan:
Apakah pada daerah yang disentuh dirasakan rasa larutan tertentu (sesuai/tidak
dengan macam larutan yang dicobakan).
6. Bila jawaban praktikan sesuai dengan larutan yang dicobakan, maka pada gambar
lidah diberi tanda + dan bila tidak sesuai diberi tanda –
7. Ulang percobaan ini pada orang lain dengan cotton bud yang berbeda. Kemudian
bandingkan hasilnya. Perlu diingat: Setiap penggantian larutan, praktikan harus
berkumur lebih dahulu.

2. PEMBAU
A. Tujuan Praktikum
Mengetahui pentingnya pengaruh rangsangan bau terhadap kepekaan seseorang.
B. Alat dan Bahan
1. Alat: Spuit/syringe 2,5 mL, sapu tangan, kapas
2. Bahan: Minyak menthol, Minyak angin, Parfum, Minyak cengkih
C. Prosedur Kerja
1. Praktikan tidak boleh flu/pilek.
2. Tutup mata yang bersangkutan.
3. Ambil parfum dengan jarum syringe secukupnya, kemudian lepaskan jarum dan
biarkan syringe dalam kondisi posisi terbalik (lubang jarum menghadap ke atas).
4. Sisipkan ujung penutup pada bagian belakang dalam hidung melalui lubang hidung
satu sisi, sedangkan sisi lain lubang hidung ditutup dengan kapas, agar yang
membau hanya satu sisi saja. Kemudian praktikan membau/menghirup. Tanyakan
bau apa yang dibauinya. Catat hasilnya

Setelah itu posisi syringe diarahkan ke atas dan disuruh menghirup lagi.
Tanyakan bau apa yang dibauinya dan mana yang lebih bau pada posisi pertama
atau posisi kedua. Bandingkan. Catat hasilnya.
5. Ulangi percobaan di atas dengan bahan yang lain
6. Tutup lubang hidung yang satu dengan kapas dan yang satu tetap terbuka.
7. Tuang bahan pada spuit secukupnya.
8. Pegang syringe dan dekatkan pada hidung yang terbuka dengan jarak 1,5 cm di
depan hidung. Kemudian mintalah praktikan untuk menghirup dan hembuskan
lewat mulut.
9. Ulangi hal ini berkali-kali sampai tidak lagi membau bahan tersebut.
10. Hitunglah Olfactory Fatigue Times (OFT), yaitu waktu yang dibutuhkan untuk
mencapai ketidakpekaan (kelelahan) pembau, artinya sampai tidak lagi dapat
membau sesuatu. Ulangi 3×, kemudian hitung rata-ratanya.
11. Hitunglah Olfactory Recovery Times (ORF), yaitu waktu yang dibutuhkan untuk
kesembuhan pembau, artinya sampai dapat membau kembali. Ulangi 3×, kemudian
hitung rata-ratanya.
12. Ulangi semua percobaan di atas dengan praktikan yang lain dan bandingkan
hasilnya.
13. Di antara bahan-bahan yang ada, bau apa yang lebih merangsang praktikan?
Jelaskan, mengapa?

3. HUBUNGAN PEMBAU DAN PENGECAP


A. Tujuan Praktikum
Mengetahui pentingnya pengaruh bau terhadap kesan pengecapan.
B. Alat dan Bahan.
1. Alat: Tusuk gigi, pisau, kapas/tissue, sapu tangan
2. Bahan: Bengkoang, Kentang, Apel, Air putih
C. Prosedur Kerja
1. Tutup mata praktikan dan hidungnya ditutup dengan sapu tangan.
2. Lidah dibersihkan dengan kapas atau tissue.
3. Letakkan sekerat bahan, secara bergantian. Tanyakan, apa yang dirasakan setiap kali
bahan diletakkan di lidah, dan tanyakan juga apakah ia dapat membau atau
mengecap.
4. Ulangi percobaan, akan tetapi pada keadaan hidung terbuka.
5. Ulangi percobaan 2X pada praktikan yang sama dan ulangi percobaan untuk
praktikan yang lain. Bandingkan.

4. RESEPTOR PANAS DAN DINGIN


A. Tujuan Praktikum:
Mengetahui banyaknya reseptor panas dan dingin.
B. Alat dan Bahan
1. Alat: Penggaris, jarum pentul, gelas kimia, spidol
2. Bahan: Air hangat, Air dingin
C. Prosedur Kerja
1. Buatlah kotak sepanjang 28 mm dan dibagi dalam 14 kotak pada tangan bagian dorsal.
2. Masukkan jarum ke dalam gelas kimia yang berisi air hangat dan jarum lain pada air
dingin.
3. Tunggu lima menit, sentuhkan sebentar masing-masing jarum itu ke dalam kotak
bujursangkar pada praktikan secara berurutan.
4. Untuk mempertahankan suhu jarum, masukkan lagi jarum ke gelas kimia.
5. Catat hasilnya, tanda + untuk kotak yang merasakan dan tanda – untuk kotak yang
tidak merasakan.
6. Ulangi percobaan untuk tangan bagian ventral pada praktikan yang sama.

5. PENGARUH DINGIN TERHADAP RASA SAKIT


A. Tujuan Praktikum
Mengetahui adanya pengaruh dingin terhadap rasa sakit/nyeri
A. Alat dan Bahan
1. Alat: Jam/stopwatch, tissue
2. Bahan: Es batu
C. Prosedur Kerja
1. Praktikan duduk dan telapak tangannya mendatar di atas meja.
2. Cubit telapak tangannya dengan intensitas sedang hingga dia mulai sakit dan
meneruskan hingga dia tidak merasakan sakit/nyeri.
3. Ulangi cubitan pada tempat yang tadi setelah membiarkan praktikan beberapa saat.
4. Usap es dengan gerakan memutar sekitar daerah itu dan keringkan dengan tissue.
5. Catat waktu begitu ia tidak merasakan sakit.
6. Usap es tetapi pada daerah terdekat dengan area cubitan tadi.
7. Lakukan pada telapak tangan yang lain.
8. Lakukan pada praktikan yang lain. Bandingkan

6. KEPEKAAN SENTUHAN
A. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui letak kepekaan terhadap sentuhan dari bagian kulit.
2. Melatih kepekaan terhadap sentuhan.
B. Alat dan Bahan: Sapu tangan, Penggaris, Spidol, Jangka
C. Prosedur Kerja
1. Praktikan ditutup matanya dan salah satu lengannya diletakkan di atas meja.
2. Letakkan kaki jangka pada jarak 3 cm dan sentuhkan dengan tekanan ringan kedua
kaki jangka tadi secara bersama-sama pada bagian ventral lengan bawah praktikan.
Jika ia merasakan dua titik maka jarak kedua kaki jangka diperkecil, sebaliknya bila
praktikan merasakan satu titik maka jarak kedua kaki diperbesar.
3. Dilakukan sedikit demi sedikit hingga memperoleh jarak terpendek yang masih
dirasakan dua titik oleh praktikan.
4. Catat data yang diperoleh.
5. Ulangi pada praktikan yang lain.
6. Ulangi kegiatan di atas pada lengan bawah bagian dorsal, telapak tangan bagian
ventral dan dorsal, ujung jari tangan kiri dan tangan kanan, dahi, pipi, tengkuk dan
bibir.

7. BINTIK BUTA
A. Tujuan Praktikum
Menentukan jarak benda yang bayangannya jatuh pada bintik buta.
B. Alat dan Bahan: Mata uang logam 5 buah, Kertas karton, Penggaris
C. Prosedur Kerja
1. Susunlah 5 buah mata uang logam berdiri lurus ke belakang dengan jarak masing-
masing 8 mm.
2. Tutuplah salah satu mata praktikan dengan karton tebal. Sedangkan mata yang
satunya tertuju pada bagian tengah dari uang logam yang terdepan.
3. Tanyakan, berapa banyak uang logam yang tampak? Uang logam mana yang tidak
kelihatan? jarak mata uang logam itu ke mata merupakan jarak benda yang
bayangannya jatuh pada bintik buta.
4. Coba ubah (memperbesar/ memperkecil) jarak antar mata dengan uang logam itu,
bagaimana hasilnya? Bandingkan.
5. Ujilah juga mata yang sebelah lagi dan ulangi pada praktikan yang lain. Benda yang
bayangannya jatuh pada bintik buta suatu mata, bayangannya tidak akan jatuh pada
bintik buta mata sebelahnya. Orang tidak memperoleh kesan penglihatan dari
bayangan yang jatuh pada tempat yang tidak mengandung sel batang dan sel kerucut.

8. REFLEKS PUPIL TERHADAP INTENSITAS CAHAYA


A. Tujuan Praktikum
Mengetahui refleks pupil ketika ada cahaya yang masuk.
B. Alat dan Bahan: Penggaris. Sapu tangan, Senter.
C. Prosedur Kerja
1. Ukur dan catat diameter pupil praktikan, dengan meletakkan penggaris di bawah
salah satu matanya.
2. Praktikan diminta untuk memejamkan mata dan ditutup dengan tangan atau
saputangan, sedang penggaris tetap dipegang.
3. Secara mendadak mintalah praktikan dan ukur diameter pupil matanya. Bandingkan
dengan hasilnya !
4. Praktikan diminta kembali untuk memejamkan matanya. Akan lebih baik hasilnya
apabila praktikan berada di tempat gelap.
5. Secara mendadak terangi mata dengan senter, ukur diameter pupil.
6. Ulangi pada manusia coba yang lain. Bandingkan.

9. REFLEKS PUPIL TERHADAP AKOMODASI MATA


A. Tujuan Praktikum
Mengetahui refleks pupil terhadap akomodasi mata.
B. Alat dan Bahan: Penggaris
C. Prosedur Kerja
1. Ukur diameter pupil pada keadaan normal praktikan, dengan meletakkan penggaris
di bawah salah satu matanya.
2. Praktikan diminta melihat benda-benda yang jauh letaknya, ukur diameter pupilnya.
3. Praktikan diminta melihat benda-benda yang dekat letaknya, ukur diameter pupilnya.
4. Ulangi percobaan pada praktikan yang lain.

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. PENGECAP
Rasa Subyek 1 Subyek 2

- -

++ ++
++ ++
Asin (NaCl)
++ ++
+ +
+b +b
- bb - bb
++ ++
b+ b+
+ +
+ +
++ ++

- -
Pahit (Kopi tanpa - -
gula)
- -
- -
b b
- b - b
- -
b b
b b
+ +
- + - +
+ +
+- ++
+- ++
Asam (Jeruk)
++ ++
+ +
+bb +bb
- bb+ - bb+
++ ++
++ ++
- -

++ ++
++ ++
Pedas (Cabe)
++ ++
++ ++
bb bb
- -
++ bb ++ bb
++ ++
Manis (Gula) + +
-
-
-
- -
-
-
- -
b -
- b b
++ b - b
+ ++ b
+ b
+ +
+
+
Pada eksperimen indera pengecap praktikan mempunyai kecermatan yang baik dalam
mengetahui bahan yang digunakan. (asin, pahit, pedas asam, dan manis). Kelima rasa
tersebut direspon oleh lidah pada tempat yang berbeda-beda. Rasa asin direspon oleh lidah
bagian samping depan dan belakang, pangkal lidah sensitif terhadap rasa pahit, bagian
samping belakang dan depan juga peka terhadap rasa asam, ujung lidahnya sensitif terhadap
rasa manis, dan rasa pedas direspon oleh seluruh permukaan lidah kecuali pada pangkal lidah.
Praktikan mempunyai kecermatan yang baik dalam mengetahui bahan yang digunakan.
(asin, pahit, pedas asam, dan manis). Hal ini disebabkan karena terdapat kemoreseptor untuk
merasakan respon rasa asin, asam, pahit, dan rasa manis. Tiap rasa tersebut direspon oleh
lidah pada tempat yang berbeda-beda. . Rasa asin direspon oleh lidah bagian samping depan
dan belakang, pangkal lidah sensitif terhadap rasa pahit, bagian samping belakang dan depan
juga peka terhadap rasa asam, ujung lidahnya sensitif terhadap rasa manis, dan rasa pedas
direspon oleh seluruh permukaan lidah kecuali pada pangkal lidah.
Lidah merupakan indera pengecap, yang mempunyai kuncup-kuncup pengecap yang
merupakan reseptor rasa. Kuncup pengecap tersebut berbentuk seperti bawang kecil, terletak
pada permukaan epitelium dan pada tonjolan-tonjolan kecil (papilla) pada permukaan atas
lidah. Kuncup pengecap juga terdapat pada langit-langit rongga mulut, laring, dan faring.
Kuncup pengecap tergolong kemoreseptor yang menerima rangsangan zat-zat kimia dalam
makanan. Zat-zat kimia tersebut mencapai kuncup pengecap melalui pori pengecap (taste
pores). Pada ujung sel reseptor yang menghadap ke lubang pengecap dilengkapi dengan
mikrifili yang disebut rambut pengecap (rambut gustatori). Sel-sel reseptor tersebut akan
berhubungan dengan ujung dendrite saraf pengecap yang akan meneruskan impulsnya ke
korteks otak, kemudian korteks otak akan menanggapi atau memberi respon terhadap zat-zat
kimia tersebut, selanjutnya indera pengecap (lidah) dapat mengatahui rasa apa yang sedang
dirasakan.
2. PEMBAU

Terbalik Dekat Hidung


Subyek Bahan Pengulangan OFT ORF OFT ORF
(detik) (detik) (detik) (detik)

Minyak menthol I 138 5 77 23

(balsem) II 142 10 92 17
  III 110 8 83 15
  X 130 7,67 84 18,33

Minyak angin I 76 10 50 37

(kayu putih) II 131 21 108 25


  III 118 15 87 27
I
  X 108,33 15,33 81,67 29,67
I 103 10 127 27
II 122 5 149 18
Parfum(cendana)
III 145 19 133 23
X 123,33 11,33 136,33 22,67
I 131 9 81 29
II 172 8 148 25
Minyak cengkeh
III 155 6 136 31
X 152,67 7,6 121,67 28,33

Minyak menthol I 96 6 85 11

(balsem) II 81 13 62 23
  III 59 20 43 18
II
  X 78,67 13 63,33 17,33

Minyak angin I 57 21 46 7

(kayu putih) II 196 48 104 19


  III 162 7 153 11
  X 138,33 25,33 101 12,33
I 343 6 256 22
II 128 30 188 35
Parfum(cendana)
III 112 10 171 41
X 194,33 15,33 205 32,67
I 275 5 215 6
II 276 5 187 13
Minyak cengkeh
III 110 8 243 10
X 220,33 6 215 9,67

Pada eksperimen indera pembau praktikan (subjek I dan II) mempunyai kepekaan yang
baik dalam rangsangan bau minyak menthol, minyak angin, parfum dan minyak tanah.
Kedua-duanya dapat membedakan jenis bau-bauan meskipun dengan mata tertutup. Hal ini
disebabkan karena sel pembau pada permukaan epitelium mengandung beberapa rambut-
rambut pembau yang bereaksi terhadap bahan kimia bau-bauan di udara.
Praktikan (subjek I dan II) mempunyai kepekaan yang baik dalam rangsangan bau
minyak menthol, minyak angin, parfum dan minyak cengkeh. Kedua-duanya dapat
membedakan jenis bau-bauan meskipun dengan mata tertutup Hal ini disebabkan karena
adanya kemoreseptor di permukaan dalam hidung yang mampu menanggapi rangsangan
berupa bau. Sel epitelium pembau mengandung 20 juta sel-sel olfaktori yang khusus dengan
aksonakson yang tegak sebagai serabut-serabut saraf pembau yang bereaksi terhadap bahan
kimia bau-bauan di udara.
Pada praktikum indra pembau ini didapatkan OFT dan ORF pada masing-masing posisi
yaitu terbalik dan dekat hidung sangat beragam, pada subyek 1 dan subyek 2 pun juga
memiliki nilai kecepatan membau bervariasi dalam setiap pengulangan dan jenis zat yang
dibau. Didapatkan bahwa pada posisi sumber bau terbalik lebih cepat dalam proses indra
pembau untuk membau (OFT) dan membau kembali setelah kemampuan membau hilang
untuk sementara waktu (ORF). Pada subyek satu maupun subyek dua pun juga
memperlihatkan hal yang sama. Hal ini dapat diakibatkan karena pada posisi terbalik, zat
kimia yang ditangkap oleh olfaktori lebih banyak, sehingga rangsangan yang dihasilkan
menjadi semakn banyak. Selain itu, apabila zat kimia yang diposisikan sejajar dengan lubang
hidung atau dekat dengan hidung akan lebih sering terkena hembusan nafas, sehingga cepat
berkurang. Akibatnya adalah kurangnya rangsangan yang dihasilkan.
3. HUBUNGAN PEMBAU DAN PENGECAP

Buah-buahan
Subjek Keadaan
Apel Bengkoang Kentang Air
Hidung
+ + - +
tertutup
I
Hidung
+ + + +
terbuka
Hidung
+ + + +
tertutup
II
Hidung
+ + + +
terbuka

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pada keadaan hidung tertutup maka indera
pengecapan kurang terasa. Hal ini karena subjek 1 saat tidak dapat menebak nama bahan yang
di ujikan yakni kentang saat hidung tertutup. Sedangkan untuk subjek 2, semuanya dapat
tertebak dengan benar. Hal ini berarti tingkat kepekaan indra pengecap subjek 2 lebih baik
dibandingkan subjek 1. Akan tetapi baik menurut subjek 1 maupun 2, ketika hidung tertutup
mereka hanya mengandalkan rasa manis dari masing-masing bahan untuk menebak nama
bahan makanan tersebut. Dari ketiga bahan yang ada apel memiliki rasa yang paling manis,
disusul dengan bengkoang lalu yang terakhir kentang. Pada keadaan hidung tertutup, saat
makanan dimasukkan kemulut subjek tidak dapat menebak nama bahan, baru ketika subjek
mengunyah bahan makanan tersebut mereka mencoba menebak nama bahan berdasarkan
tingkat kemanisannya. Sedangkan pada keadaan hidung terbuka, ketika bahan makanan
dimasukkan ke mulut secara bergantian mereka sudah dapat menebak nama bahan makanan
tersebut tanpa harus mengunyahnya terlebih dahulu.
Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa ada hubungan antara indera pembau dan
pengecap. Masing-masing makanan memiliki bau yang khas, dan biasanya dari bau itulah kita
dapat mengenali jenis makanan itu walaupun tanpa memakannya. Ketika makanan masuk ke
mulut, hidung sebagai indra pembau terlebih dahulu mengirimkan impuls ke otak untuk
mengenali jenis makanan tersebut. Dan dari situ setidaknya kita sudah dapat membayangkan
rasa makanan tersebut, sensasi ini akan diperkuat ketika papilla-papila pada lidah sebagai
indera pengecap sudah menerima rangsangan zat kimia dari makanan tentang rasa makanan
apakah manis, asam, asin atau pahit. Sehingga di sini dapat dikatakan bahwa antara indra
pembau dan pengecap memiliki hubungan yang dapat menguatkan sensasi rasa dan bau dari
makanan sehingga subjek akan dengan mudah menebak bahan makanan bila indra pembau
(hidung) dan indra pengecap (lidah) bekerja dengan baik.
4. RESEPTOR PANAS DAN DINGIN

DINGIN PANAS

TANGAN TANGAN TANGAN TANGAN


PRAKTI
BAGIAN BAGIAN BAGIAN BAGIAN
KAN
DORSAL VENTRAL DORSAL VENTRAL

+ - + - + - + -

1 12 1 14 1 11 1 13 1

2 11 4 12 2 12 2 12 2

3 11 3 12 1 13 1 11 3

Berdasarkan hasil percobaan diketahui bahwa, reseptor dingin lebih banyak terdapat
pada tangan bagian ventral, ini berarti tangan bagian ventral memiliki reseptor dingin lebih
peka dan sensitif. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya tanda + pada tangan bagian ventral
daripada tangan bagia dorsal. Sedangkan reseptor terhadap panas juga terdapat pada tangan
bagain ventral yang ditunnukkan dengan banyaknya tanda + pada tangan bagian ventral
daripada tangan bagian dorsal. Dari data tersebut juga dapat diketahui bahwa tangan bagian
ventral ternyata memiliki lebih banyak reseptor dingin dan panas dibandingkan dengan tangan
bagian dorsal.
Kulit berfungsi sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai
alat peraba dengan dilengkapi bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai rangsangan;
sebagai alat ekskresi; serta pengatur suhu tubuh. Sehubungan dengan fungsinya sebagai alat
peraba, kulit dilengkapi dengan reseptor-reseptor khusus. Reseptor untuk rasa sakit ujungnya
menjorok masuk ke daerah epidermis. Reseptor untuk tekanan, ujungnya berada di dermis
yang jauh dari epidermis. Reseptor untuk rangsang sentuhan dan panas, ujung reseptornya
terletak di dekat epidermis.
Indra peraba merupakan indera yang sederhana, umumnya tersebar pada kulit mamalia
dan sedikit sekali pada vertebrata rendah. Kepekaan peraba pada manusia sangat besar,
terutama di ujung jari dan bibir.

Klasifikasi reseptor antara lain:


Berdasarkan tipe energi khusus atau kepekaan terhadap modalitas tertentu:
1. Termoreseptor (peka terhadap perubahan suhu).
2. Mekanoreseptor (peka terhadap sentuhan dan tekanan).
3. Kemoreseptor (peka terhadap perubahan kimiawi).
4. Osmoreseptor (peka terhadap perubahan tekanan osmotik).
5. PENGARUH DINGIN TERHADAP RASA SAKIT
Subjek I (sekon) Subjek II (sekon)
Perlakuan
Kanan Kiri Kanan Kiri
Sebelum diusapkan es
14 15 17 5
batu
Setelah diusapkan es
9 9 9 8
batu

Berdasarkan hasil percobaan dapat diketahui bahwa rata-rata rasa sakit atau nyeri pada subjek
1 dan 2 akibat cubitan akan hilang lebih lama sebelum diusap es batu, dan kebalikan dari itu
sakit atau nyeri akan cepat hilang bila diusap dengan es batu. Sakit atau nyeri yang timbul
diakibatkan oleh cubitan yang memang disengaja. Pada praktikum kali ini tidak bisa dikontrol
kadar cubitan, karena subjek akan dicubit hingga mereka merasa kesakitan. Hal ini sesuai
dengan Kozier dalam Kartika (2003), bahwa nyeri merupakan keadaan tertinggi dari
ketidaknyamanan sensasi yang sangat bersifat subyektif sehingga tidak dapat disamakan
dengan orang lain. Meskipun setiap individu mendapatkan stimulus nyeri yang sama tetapi
reaksi yang ditimbulkan oleh setiap individu berbeda. Adapun rasa nyeri tersebut dapat
berangsur-angsur hilang karena kemampuan tubuh yang dapat memproduksi hormon
endorphin. Tapi produksi hormon ini pada tubuh secara alami relatife sedikit sehingga
hilangnya rasa nyeri sedikit lebih lama. Pemberian rasa dingin oleh es batu pada area yang
terasa nyeri akan memberikan stimulus bagi kulit untuk meningkatkan produksi hormon
endorphin sehingga rasa nyeri yang ditimbulkan akan lebih cepat hilang. "Teori Endorphins“.
Endhorpin merupakan zat penghilang rasa nyeri yang diproduksi oleh tubuh. Semakin tinggi
kadar endorphin seseorang, semakin ringan rasa nyeri yang dirasakan. Produksi endorphin
dapat ditingkatkan melalui stimulasi kulit. Stimulasi kulit meliputi massase, penekanan jari-
jari dan pemberian kompres hangat atau dingin. (Arthur dalam Kartika, 2003). Stimulasi kulit
dengan pemberian kompres dingin ini merangsang serabut saraf berdiameter luas dan lebih
cepat mengahantar impuls (serabut A-delta) yang banyak terdapat di kulit yang
mengakibatkan pintu gerbang spinal cord menutup, sehingga impuls nyeri tidak dapat
memasuki spinal cord dan tidak dapat diteruskan ke kortek serebri untuk diintepretasikan
sebagai nyeri (Guyton dalam Kartika 2007). Oleh karena itu baik subjek 1 dan 2 pada
praktikum kali ini rata-rata merasakan nyeri akan cepat hilang bila diusap dengan es batu.
Akan tetapi pada percobaan tangan kiri subjek 2 rasa sakit sebelum diusap es batu lebih cepat
hilang dibandingkan dengan diusap es batu. Kemungkinan hal ini dikarenakan cubitan yang
diberikan tidak sekeras saat sesudah diusap es batu.
6. KEPEKAAN SENTUHAN
Lengan Telapak Telapak Ujung jari Ujung jari
Lengan
Nama bawah tangan tangan tangan tangan Dahi Pipi tengkuk bibir
bawah
dorsal ventral dorsal kiri kanan
Indah 12 mm 22 mm 1 mm 16 mm 1 mm 1 mm 10 mm 25 mm 25 mm 1 mm
Putri 18 mm 12mm 1 mm 12 mm 1 mm 1 mm 20 mm 30 mm 30 mm 1 mm
Kevin 16 mm 18 mm 6 mm 20 mm 8 mm 6 mm 5 mm 20 mm 21 mm 5 mm

Berdasakan hasil pengamatan yang telah dilakukan bahwa gerak refleks adalah gerakan
yang tidak disadari yang timbul karena adanya rangsangan dan merupakan mekanisme
pertahanan tubuh yang terjadi jauh lebih cepat dari gerak biasa. Gerak refleks ada yang
monosinaps dan polisinaps. Refleks monosinaps apabila gerakan yang terjadi hanya satu
sedangkan refleks polisinaps apabila gerakan yang terjadi terdiri dari dua atau lebih gerakan.
Kulit adalah alat indera kita yang mampu menerima rangsangan temperatur suhu,
sentuhan, rasa sakit, tekanan, tekstur, dan lain sebagainya. Pada kulit terdapat reseptor yang
peka terhadap rangsang fisik (mekanoreseptor). Kulit berfungsi sebagai alat pelindung bagian
dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai alat peraba dengan dilengkapi bermacam reseptor
yang peka terhadap berbagai rangsangan; sebagai alat ekskresi; serta pengatur suhu tubuh.
Terdapat berbagai bentuk impuls yang dapat diterima oleh indra, yaitu:
5. Rangsang Kimia diterima oleh Kemoreseptor
Pada proses penerimaan rangsang kimia (kemoresepsi), terjadi interaksi antara bahan
kimia dengan kemoreseptor membentuk kompleks bahan kimia-kemoreseptor. Kompleks
tersebut mengawali proses pembentukan potensial generator pada reseptor, yang akan segera
menghasilkan potensial aksi pada sel saraf sensoris dan sel berikutnya sehingga akhirnya
timbul tanggapan (Villee, 1999).
2. Rangsang Mekanik diterima oleh Mekanoreseptor
Proses peneriman rangsang mekanik dinamakan mekanoresepsi. Mekanisme
mekanoresepsi adalah sebagai berikut; Rangsang mekanik yang menekan reseptor
menyebabkan membrane mekanoreseptor meregang. Peregangan membrane mekanopreseptor
tersebut menimbulkan perubahan konformasi protein penyusun pintu ion Na+. Pintu ion Na+
terbuka diikuti terjadinya perubahan elektrokimia yang mendepolarisasikan mekanoreseptor
(campbell, 2004).

7. BINTIK BUTA
Jarak Subjek I Subjek II
Jumlah mata No. Mata uang Jumlah mata No. Mata uang
uang yg yg tak tampak uang yg yg tak tampak
tampak tampak
Kanan Kiri Kanan Kiri Kanan Kiri Kanan Kiri
4 mm 1 1 1 1 1 1 1 1
8 mm 1 2 1 1 1 1 2 1
16 mm 2 4 1 1 3 2 4 3
Berdasarkan analisis data, pada subjek I diperoleh pada jarak 4 mm (jarak terkecil)
hanya bisa melihat 1 mata uang dan yang tak terlihat nomor 1 baik pada mata kiri dan mata
kanan. Hal ini menandakan bahwa dia melihat 4 keping mata uang (nomor 2,3,4,5) seperti
melihat 1 keping saja.
Pada jarak 8 mm, dia dapat melihat 1 mata uang pada mata kanan, hal ini menandakan
bahwa dia melihat 4 keping mata uang seperti melihat 1 keping saja. Melihat 2 mata uang
pada mata kiri, berarti melihat 4 keping tampak 2 keping saja. Sedang pada jarak 16 mm
subjek 1 dapat melihat 2 mata uang pada mata kanan, berarti melihat 4 keping tampak 2
keping saja. Melihat 4 mata uang pada mata kiri, berarti bisa melihat 4 keping.
Pada subjek II diperoleh pada jarak 4 mm (jarak terkecil) hanya bisa melihat 1 mata
uang dan yang tak terlihat nomor 1 baik pada mata kiri dan mata kanan. Hal ini menandakan
bahwa dia melihat 4 keping mata uang (nomor 2,3,4,5) seperti melihat 1 keping saja.
Pada jarak 8 mm, dia dapat melihat 1 mata uang pada mata kanan, hal ini menandakan
bahwa dia melihat 4 keping mata uang seperti melihat 1 keping saja. Melihat 2 mata uang
pada mata kiri, berarti melihat 4 keping tampak 2 keping saja. Sedang pada jarak 16 mm
dapat melihat 3 mata uang pada mata kanan, berarti melihat 4 keping seperti hanya tampak 3
keping saja, dan pada mata kiri melihat 2 keping, berarti dia melihat 4 keping seperti 2 keping
saja yang tampak.
Dengan demikian jarak benda (di 16 mm) yang masuk ke bintik buta lebih sedikit dari
pada yang jaraknya 4 dan 8 mm, sehingga benda yang semula pada jarak yang berdekatan (4
mm dan 8 mm) hanya bisa tampak 1 atau 2 keping saja akan berubah menjadi lebih banyak
yang kelihatan, karena bayangan benda sebagian besar bisa ditangkap oleh retina.

8. REFLEKS PUPIL TERHADAP INTENSITAS CAHAYA


Diameter Pupil Subjek I (mm) Subjek II (mm)
Sebelum terpejam 3 5
Sesudah terpejam 4 6
Setelah terpejam 2 3

Pada praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa refleks pupil pada saat
disinari dengan cahaya menyebabkan ukuran pupil mengecil, sedangkan pada saat menutup
atau memejamkan mata maka refleks pupil akan menyebabkan ukuran pupil membesar. Hal
tersebut disebabkan karena jika cahaya disinari ke dalam mata, pupil akan mengecil ini
disebut reflek cahaya pupil. Bila cahaya mengenai retina maka terjadi impuls yang mula-mula
berjalan ke nervus opticus dan kemudian ke nukleus protektalis. Dari sini impuls berjalan
nukleus Edinger-Westphal dan akhirnya kembali melaui syaraf parasimpatis untuk
mengkoneksikan sfinger itu. Dalam keadaan gelap reflek ini dihambat sehingga
mengakibatkan dilatasi pupil.
Pada saat mata kita disinari dengan seberkas cahaya maka mata kita akan melakukan
suatu adaptasi yaitu adaptasi terang. Dalam mekanisme adaptasi mata pada keadaan di tempat
terang terjadi adaptasi pupil, iris dan fotokimiawi.Adaptasi pupil dan iris terjadi setelah
cahaya masuk ke mata. Bila dalam keadaan terang mata akan menerima banyak cahaya. Oleh
karena itu, pupil yang berfungsi sebagai jalan masuknya cahaya ke mata akan akan
melakukan mekanisme untuk mempertahankan kualitas cahaya yang masuk ke bagian mata
yang lebih dalam. Pupil mata akan melebar jika kondisi ruangan yang gelap, dan akan
menyempit jika kondisi ruangan terang. Lebar pupil dipengaruhi oleh iris di sekelilingnya. Iris
berfungsi sebagai diafragma. Iris inilah terlihat sebagai bagian yang berwarna pada mata.
Setelah pupil dan iris beradaptasi maka adaptasi selanjutnya yang dilakukan oleh mata pada
kondisi cahaya yang sangat terang adalah adaptasi fotokimiawi. Adaptasi fotokimiawi
merupakan adaptasi yang terjadi pada sel kerucut dan sel batang pada retina mata. Bila
seseorang berada di tempat yang sangat terang untuk waktu yang lama, maka banyak sekali
fotokimiawi yang yang terdapat di sel batang dan kerucut menjadi berkurang karena diubah
menjadi retinal dan opsin. Selanjutnya, sebagian besar retinal dalam sel batang dan kerucut
akan diubah menjadi vitamin A. Oleh karena kedua efek ini, maka konsentrasi bahan kimiawi
fotosensitif yang menetap dalam sel batang dan kerucut akan sangat banyak berkurang,
akibatnya sensitivitas mata terhadap cahaya juga turut berkurang (Veteriner: 2011).
Sebaliknya pada saat mata kita tertutup atau terpejam, maka mata akan melakukan
adaptasi juga yang dinamakan adaptasi gelap. Ditempat yang gelap dimana intensitas
cahayanya kecil maka pupil akan membesar, agar cahaya dapat lebih banyak masuk ke mata.
Ditempat yang sangat terang dimana intensitas cahayanya cukup tinggi atau besar maka pupil
akan mengecil, agar cahaya lebih sedikit masuk ke mata, bila cahaya diarahkan ke salah satu
mata pupil akan berkontraksi, kejadian tersebut dinamakan refleks pupil atau refleks cahaya
pupil. Bila mata terus berada di tempat gelap dalam waktu yang lama, maka retinal dan opsin
yang ada di sel batang dan kerucut diubah kembali menjadi pigmen yang peka terhadap
cahaya. Selanjutnya, vitamin A diubah kembali menjadi retinal untuk terus menyediakan
pigmen peka cahaya tambahan, dimana batas akhirnya ditentukan oleh jumlah opsin yang ada
di dalam sel batang dan kerucut (Veteriner: 2011).
Fungsi refleks cahaya adalah untuk membantu mata mengadakan adaptasi dengan cepat
sekali terhadap perubahan keadaan cahaya. Untuk subjek I untuk ukuran pupil normalnya
sebesar 3 mm. Sedangkan, pada saat mata disinari dengan cahaya maka pupil akan mengecil
menjadi 2 mm. Dan pada saat dipejamkan beberapa saat maka ukuran pupil membesar
menjadi 4 mm. Dalam hal ini ukuran pupil setiap orang memang berbeda, sehingga diperoleh
hasil yang berbeda pula pada saat pengukuran pupil. Selain itu, hal tersebut dikarenakan
jumlah cahaya yang memasuki mata melalui pupil sebanding dengan luas pupil atau dengan
kuadrat diameter pupil. Diameter pupil mata manusia dapat menjadi sekecil kira-kira 1,5 mm
dan membesar 8 mm. Oleh karena itu, batas adaptasi cahaya dapat dipengaruhi oleh refleks
pupil sekitar 30 banding 1 (Ramses: 2008).
9. REFLEKS PUPIL TERHADAP AKOMODASI MATA
Diameter Pupil Subjek I (mm) Subjek II (mm)
Keadaan Normal 4 4
Setelah melihat benda-
5 3
benda yang jauh
Setelah melihat benda-
6 5
benda yang dekat

Berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh dapat diketahui bahwa akomodasi mata
dapat mengalami perubahan terhadap diameter pupil. Pada keadaan normal cahaya berasal
dari jarak tak berhingga atau jauh akan terfokus pada retina, demikian pula bila benda jauh
tersebut didekatkan, hal ini terjadi akibat adanya daya akomodasi lensa yang memfokuskan
bayangan pada retina. Jika berakomodasi, maka benda pada jarak yang berbeda-beda akan
terfokus pada retina. Akomodasi adalah kemampuan lensa di dalam mata untuk mencembung
yang terjadi akibat kontraksi otot siliar. Akibat akomodasi, daya pembiasan lensa yang
mencembung bertambah kuat. Kekuatan akan meningkat sesuai dengan kebutuhan, makin
dekat benda makin kuat mata harus berakomodasi. Refleks akomodasi akan bangkit bila mata
melihat kabur dan pada waktu melihat dekat. Bila benda terletak jauh bayangan akan terletak
pada retina. Bila benda tersebut didekatkan maka bayangan akan bergeser ke belakang retina.
Akibat benda ini didekatkan penglihatan menjadi kabur, maka mata akan berakomodasi
dengan mencembungkan lensa.

Refleks akomodasi adalah gerak refleks yang terjadi pada pupil. Mata sebagai reseptor
rangsangan harus menyesuaikan posisi benda yang dekat dengan posisi benda yang jauh. Pada
pengamatan tersebut pupil mata akan mengecil jika melihat benda pada posisi yang jauh dari
mata sedangkan pupil mata akan membesar jika melihat benda pada posisi yang dekat dari
mata. Hal ini disebabkan karena adanya rangsangan berupa cahaya yang diterima oleh pupil.
Proses ini melewati lengkung saraf dengan satu sinaps sehingga termasuk refleks monosinaps.
Atau lensa mata akan cembung jika melihat benda yang dekat dan akan memipih jika melihat
benda yang jauh. Ini adalah cara lensa mata agar menempatkan bayangan yang dilihat secara
tepat pada retina.

Dari praktikum yang telah dilakukan untuk subjek I dengan jenis kelamisn laki-laki dan
subjek II dengan jenis kelamin perempuan didapatkan hasil yang berbeda. Hal ini dikarenakan
pada subjek laki-laki memiliki sedikit gangguan dengan matanya. Oleh karena itu hasil yang
didapaatkan tidak sesuai dengan teori yang ada.

DISKUSI
1. Tentukan kecermatan pengecapan praktikan pada penggunaan beberapa bahan.
Jawab:
Praktikan mempunyai kecermatan yang baik dalam mengetahui bahan yang
digunakan. (asin, pahit, pedas asam, dan manis). Hal ini disebabkan karena terdapat
kemoreseptor untuk merasakan respon rasa asin, asam, pahit, dan rasa manis. Tiap
rasa tersebut direspon oleh lidah pada tempat yang berbeda-beda. . Rasa asin direspon
oleh lidah bagian samping depan dan belakang, pangkal lidah sensitif terhadap rasa
pahit, bagian samping belakang dan depan juga peka terhadap rasa asam, ujung
lidahnya sensitif terhadap rasa manis, dan rasa pedas direspon oleh seluruh permukaan
lidah kecuali pada pangkal lidah.
2. Tentukan daerah penyebaran reseptor dari keempat sensasi kecap primer, berdasarkan
kepekaan tertinggi terhadap bahan yang bersangkutan.
Jawab:
Daerah penyebaran reseptor dari keempat sensasi kecap primer, berdasarkan kepekaan
tertinggi terhadap bahan yang bersangkutan adalah rasa asin direspon oleh lidah
bagian samping depan dan belakang, pangkal lidah sensitif terhadap rasa pahit, bagian
samping belakang dan depan juga peka terhadap rasa asam, ujung lidahnya sensitif
terhadap rasa manis, dan rasa pedas direspon oleh seluruh permukaan lidah kecuali
pada pangkal lidah.
3. Tentukan daerah penyebaran reseptor kecap selain sensasi primer.
Jawab:
Daerah penyebaran reseptor kecap selain sensasi primer yaitu pada rasa asam yaitu
pada bagian samping belakang dan depan namun untuk sensai primer lebih kepada
samping depan daripada samping belakang.
4. Jelaskan pentingnya pengaruh rangsangan bau terhadap kepekaan seseorang.
Jawab:
Pentingnya pengaruh rangsangan bau terhadap kepekaan seseorang adalah indra
pencium berfungsi sebagai indra pembau yang akan merasakan cita rasa dari berbagai
makanan dan untuk mengenali lingkungan atau suatu aroma yang dihasilkan. Dan jika
terjadi pada seseorang tidak dapat mencium dengan baik maka fungsi pembau tersebut
akan hilang dan terjadi penyumbatan rongga hidung (misalnya oleh polip atau tumor)
sehingga menandakan adanya infeksi pada reseptor pembau oleh virus. Hilangnya
fungsi indra penciuman ini disebut anosmia. (Sumber : Ilmu Pengetahuan Alam, djoko
Arisworo, hal. 68) dan (Menurut Roger Watson)
5. Jelaskan pentingnya pengaruh bau terhadap kesan pengecapan.
Jawab:
Pentingnya pengaruh bau terhadap pengecapan adalah sebagai cara untuk
membedakan jenis makanan atau minuman. Masing-masing makanan memiliki bau
yang khas, dan biasanya dari bau itulah kita dapat mengenali jenis makanan itu
walaupun tanpa memakannya. Ketika makanan masuk ke mulut, hidung sebagai
indera pembau terlebih dahulu mengirimkan impuls ke otak untuk mengenali jenis
makanan tersebut. Sensasi ini diperkuat ketika papilla-papilla pada lidah sebagai
indera pengecap sudah menerima rangsangan zat kimia dari makanan tentang rasa
makanan (manis, asam, asin, atau pahit). Alat indera pembau dan pengecap memiliki
hubungan yang dapat menguatkan sensasi rasa dan bau dari makanan sehingga subjek
akan dengan mudah menebak bahan makanan bila indera pembau (hidung) dan indera
pengecap (lidah) bekerja dengan baik.
6. Jelaskna adanya pengaruh dingin terhadap rasa sakit/nyeri
Jawab:
Adanya pengaruh dingin terhadap rasa sakit/nyeri adalah berkurangnya rasa sakit atau
nyeri yang dialami setelah adanya rasa dingin yang dirasakan oleh indra peraba (kulit).
Hal ini sesuai dengan Kozier dalam Kartika (2003), bahwa nyeri merupakan keadaan
tertinggi dari ketidaknyamanan sensasi yang sangat bersifat subyektif sehingga tidak
dapat disamakan dengan orang lain. Meskipun setiap individu mendapatkan stimulus
nyeri yang sama tetapi reaksi yang ditimbulkan oleh setiap individu berbeda. Adapun
rasa nyeri tersebut dapat berangsur-angsur hilang karena kemampuan tubuh yang
dapat memproduksi hormon endorphin. Tapi produksi hormon ini pada tubuh secara
alami relatife sedikit sehingga hilangnya rasa nyeri sedikit lebih lama. Pemberian rasa
dingin oleh es batu pada area yang terasa nyeri akan memberikan stimulus bagi kulit
untuk meningkatkan produksi hormon endorphin sehingga rasa nyeri yang
ditimbulkan akan lebih cepat hilang. "Teori Endorphins“. Endhorpin merupakan zat
penghilang rasa nyeri yang diproduksi oleh tubuh. Semakin tinggi kadar endorphin
seseorang, semakin ringan rasa nyeri yang dirasakan. Produksi endorphin dapat
ditingkatkan melalui stimulasi kulit. Stimulasi kulit meliputi massase, penekanan jari-
jari dan pemberian kompres hangat atau dingin. (Arthur dalam Kartika, 2003).
Stimulasi kulit dengan pemberian kompres dingin ini merangsang serabut saraf
berdiameter luas dan lebih cepat mengahantar impuls (serabut A-delta) yang banyak
terdapat di kulit yang mengakibatkan pintu gerbang spinal cord menutup, sehingga
impuls nyeri tidak dapat memasuki spinal cord dan tidak dapat diteruskan ke kortek
serebri untuk diintepretasikan sebagai nyeri (Guyton dalam Kartika 2007).
7. Jelaskan letak kepekaan terhadap sentuhan dari bagian kulit
Jawab:
Letak kepekaan terhadap sentuhan dari bagian kulit yaitu lapisan dermis karena dalam
lapisan ini terdapat saraf-saraf yang berfungsi sebagai reseptor. Saraf ini memberikan
variasi sensasi yang berbeda yang mana dalam kulit mampu merasakan sensani
sentuhan, panas, dingin, dan sakit. Saraf ini juga menyadarkan individu agar
berkontraksi dengan lingkungan sekitar. Tetapi ujung saraf ini dapat
diberhentikan sementara fungsinya dengan menggunakan obat analgesik yakni sejenis
obat bius yang biasa digunakan dalam pembedahan agar pasien tidak merasakan sakit
8. Jelaskan bagaimana hasil latihan kepekaan terhadap sentuhan. (Tejatat Tegasen, 2015)
Jawab:
Kepekaan terhadap sentuhan daribagian kulit disebabkan kkarena adanya saraf yang
tedapat pada lapisan kulit. Pada saat kulit mendapatkan sentuhan maka saraf akan
merespon sentuhan yang terjadi pada kulit. Adapun saraf – saraf yang terdapat pada
kulit ialah :
 Korpuskula ruffini merupakan ujung saraf pada kulit yang peka terhadap
rangsangan panas. Ditemukan pada jaringan ikat termasuk dermis dan kapsula
sendi yang memiliki sebuah kapsula jaringan ikat tipis yang mengandung
ujung akhir saraf yang menggelembung.
 Korpuskula meisner merupakan ujuang saraf perasa pada kulit yang peka
terhadap sentuhan. Terletak pada papila dermis, khususnya pada ujung jari,
bibir, puting dan genetalia. Berbentuk silindris (Ahmad Saleh dan
Rizki.W.2016).
9. Tentukan jarak benda yang bayangannya jatuh pada bintik buta.
Jawab:
Berdasarkan hasil penelitian Shanty Chairani. dkk (2013) jarak benda yang
bayangannya jatuh pada bintik buta ialah: Bintik buta adalah area pada retina dimana
saraf-saraf optis dan pembuluh darah meninggalkan retina dengan demikian tidak
memiliki reseptor visual. Pada percobaan ini mata difokuskan pada gambar salib.
Kemudian digerakkan mendekati mata dan dihitung jarak padaorang percobaan. Atika
aulia sari jarak ketika bintik hitam hilang ketika ditutup mata kiri adalah 16 cm dan
pada saat ditutup mata kanan adalah 13 cm.Pada citra hasanah saat ditutup mata kiri
adalah 15 cm dan saat ditutup mata kanan adalah 16,6 cm. Pada elsa herdianti saat
ditutup mata kiri adalah 16.7 cm dan saat ditutup mata kanan adalah 16 cm. Dan pada
rika oktavia saat ditutup mata kiri adalah 16,3 cm dan saat ditutup mata kanan adalah
14 cm.
Dikarenakan beberapa hal, jarak mata dengan objek yang dilihat pada bintik
buta disetiap orang berbeda-beda hal ini disebabkan karena ukuran bola mata,
kecembungan lensa mata dan jarak lensa ke retina pada tiap orang berbeda. Hal inilah
yang menyebabkan perbedaan jarak penglihatan bintik buta tersebut.
10. Jelaskan refleks pupil ketika ada cahaya yang masuk
Jawab:
Pada saat mata kita disinari dengan seberkas cahaya maka mata akan melakukan
suatu adaptasi yaitu terang. Dalama mekanisme adaptasi maa pada keadaan di tempat
terang terjadi adaptasi pupil, iris dan fotokimiawi. Adaptasi pupil dan iris terjadi
setelah cahaya masuk ke mata. Bila dalam keadaan terang mata akan menerima
banyak cahaya. Oleh karena itu, pupil yang
berfungsi sebagai jalan masuknya cahaya ke mata akan akan melakukan mekanisme
untuk mempertahankan kualitas cahaya yang masuk ke bagian mata yang
lebih dalam. Pupil mata akan melebar jika kondisi ruangan yang gelap, dan akan
menyempit jika kondisi ruangan terang. Lebar pupil dipengaruhi oleh iris di
sekelilingnya. Iris berfungsi sebagai diafragma. Iris inilah terlihat sebagai bagian yang
bertarna pada mata. Setelah pupil dan iris beradaptasi maka adaptasi selanjutnya yang
dilakukan oleh mata pada kondis icahaya yang sangat terang adalah adaptasi
fotokimiawii. Adaptasi fotokimiawi merupakan adaptasi yang terjadi pada sel kerucut
dan sel batang pada retina mata. Bila seseorang berada di tempat yang sangat terang
untuk waktu yang lama, maka banyak sekali fotokimia4i yang yang terdapat di sel
batang dan kerucut menjadi berkurang karena diubah menjadi retinal dan opsin.
Selanjutnya, sebagian besar retinal dalam sel batang dan kerucut akan diubah
menjadi vitamin A. Oleh karena kedua efek ini, maka konsentrasi bahan kimiawi
fotosensitif yang menetap dalam sel batang dan kerucut akan sangat banyak
berkurang, akibatnya sensitivitas mata terhadap cahaya juga turut berkurang
(Veteriner, 2011).
Sebaliknya pada saat mata kita tertutup atau terpejam, maka mata akan
melakukan adaptasi juga yang dinamakan adaptasi gelap. Ditempat yang gelap dimana
intensitas cahayanya kecil maka pupil akan membesar, agar cahaya dapat lebih banyak
masuk ke mata. Ditempat yang sangat terang dimana intensitas cahayanya cukup
tinggi atau besar maka pupil akan mengecil, agar cahaya lebih sedikit masuk ke mata,
bila cahaya diarahkan ke salah satu mata pupil akan berkontraksi, kejadian tersebut
dinamakan refleks pupil atau reflekscahaya pupil. Bila mata terus berada di tempat
gelap dalam 4aktu yang lama, maka retinal dan opsin yang ada di sel batang dan
kerucut diubah kembali menjadi pigmen yang peka terhadap cahaya. Selanjutnya,
vitamin A diubah kembali menjadi retinal untuk terus menyediakan pigmen peka
cahaya tambahan, dimana batas akhirnya ditentukan oleh jumlah opsin yang ada
didalam sel batang dan kerucut. (Veteriner, 2011).

DAFTAR PUSTAKA:

Arisworo, Djoko,dkk. 2006. Ilmu Pengetahuan Alam. Bandung: Grafindo Media Prtama

Bimo, Walgito. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: C.V Andi.

Champbell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta : Penerbit Erlangga

Evelyn C Pearce. 2003. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Bandung: Gramedia
Kartika, Annisa Wuri. 2003. “Pengaruh Kompres Dingin Terhadap Penurunan Intensitas
Nyeri Bendungan Payudara Pada Ibu Post Partum di Wilayah Kerja Puskesmas
Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo”. Tugas Akhir. Program Studi Ilmu
Keperawatan, Fakultas Kedokteran. Universitas Brawijaya Malang.

Roger Watson. 2008. Anatomi dan fisiologi. Jakarta: EGC

Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi untuk Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Syaifuddin. 2007. Anatomi fisiologi manusia. Jakarta: Gramedia.

Tejatat Tegasen. 2015. Chairman of the Department of Anatomy and is the former Dean of
the faculty of Medicine. Thailand: University of Chiang Mai Chiang Mai

Villee, Claude A., dkk. 1999. Zoologi Umum. Jilid I. Ed ke-6. Terjemahan Nawangsari sugiri.
Jakarta: Erlangga