Anda di halaman 1dari 2

5.

IMAM JA’FAR AS-SIDDIQ

Dia dilahirkan di Madinah pada tanggal 17 Rabiul Awwal 83 Hijriyah atau kurang lebih
pada tanggal 20 April 702 . Dia merupakan anak pertama dari Muhammad Al Baqir bin Ali
Zainal A‟bidin bin Husein bin Ali bin Abi Tholib Kw , sedangkan ibunya bernama Fatimah
(beberapa riwayat menyatakan Ummu Farwah) binti Al Qosim bin Muhammad bin Abu
Bakar. Melalui garis ibu, ia dua kali merupakan keturunan Abu Bakar, karena Al Qosim
menikahi putri pamannya, Abdullah bin Abu Bakar. Dia dilahirkan pada masa pemerintahan
Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayyah.
Beliau menerima dari Nabi Saw “Dua Garis Warisan Suci”: Rahasia Nabi Saw melalui
sayyidina Ali dan Rahasia Nabi Saw melalui Sayyidina Abu Bakar Ra. Dalam dirinya
bertemu dua garis silsilah dan karena itu Beliau mendapat julukan “Pewaris Maqam
Kenabian (Maqam an-Nubuwa) dan Pewaris Maqam Kebenaran (Maqam as-Siddiqiyya).”
Dalam dirinya terpancar cahaya makrifat dan Hakekat. Cahaya kemilau itu terus bersinar dan
tersebar luas melalui dirinya sepanjang hayatnya.
Imam Ja‟far berkata, “Tawassul/Wasilah terbaik yang saya harapkan adalah
Tawassul/Wasilah dari sayyidina Abu Bakar as-Siddiq Ra. Dari beliau juga dinyatakan ada
sebuah do‟a sebagai berikut : “ Ya ALLAH, Engkau menjadi saksiku bahwa aku mencintai
Sayyidina Abu Bakar (Ra) dan aku mencintai Sayyidina Umar al-Faruq (Ra) dan jika apa
yang saya katakan ini tidak benar, Semoga Alloh memotong bagiku Wasilah dari Nabi
Muhammad Saw.”
Beliau mengambil pengetahuan hadits dari dua sumber utama, dari ayahnya yang
bersumber dari Sayyidina Ali Kw dan dari garis ibunya yang bersumber dari Kakeknya
Sayyidina Qosim bin Abu Bakar Ra. Kemudian beliau meningkatkan pengetahuannya
tentang hadits dengan „Urwa, „Aata, Nafi‟dan Zuhri. Dua ulama bernama Sufyan, Sufyan
Ath-Thawri dan Sufyan ibn Uyayna, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Al-Qottan
semuanya menarasikan Hadist melalui beliau sebagaimana banyak ulama- ulama hadist di
kemudian hari. Beliau adalah seorang Muffasir Al-Qur‟an, Ulama dalam Fiqh dan salah satu
Mujtahid Besar .
Suatu ketika seorang laki-laki mengadu kepada Al-Mansur, gubernur madinah, tentang
Ja‟far.Mereka membawa Ja‟far kehadapan Al-Mansyur dan kemudian leleaki tersebut ditanya
perihal yang diadukannya, “Kamu yakin bahwa Ja‟far melakukan sesuatu seperti yang kamu
katakan?” orang tersebut menyaut,”Saya yakin dengan apa yang dia lakukan.” Kemudian
Ja‟far menjawab, ”Biarkan dia bersumpah bahwa saya telah melakukan sesuatu seperti yang
telah ia dakwakan kepada saya dan biarkan dia untuk bersumpah bahwa ALLAH akan
menghukumnya bila ia berdusta.” Lelaki tersebut tetap pada dakwahannya dan Ja‟far tetap
berpendapat bahwa lelaki tersebut harus diambil sumpah.Akhirnya lelaki tersebut mengambil
sumpah. Tidak lama kemudian setelah sumpah keluar dari mulutnya, lelaki tersebut jatuh dan
meninggal.
Suatu ketika beliau mendengar berita bahwa Al-Hakim bin Al-„Abbas Al-Kalbi
menyalib pamannya Sayyidina Zaid pada sebatang pohon kurma. Beliau begitu bersedih
mendengar berita tersebut dan kemudian beliau mengangkat tangan nya seraya berdo‟a, ”Ya
ALLAh kirimkan padanya salah satu dari anjing-anjing Mu untuk memberinya sebuah
pelajaran.” Hanya dalam waktu singkat berlalu al-Hakim diberitakan telah dimakan oleh
seekor singa padang pasir.
Imam At-Tabari menceritakan bahwa Wahb berkata, “Saya mendengar Layth ibn Sa‟d
berkata, saya pergi untuk berhaji pada tahun 113 H, dan setelah saya melaksanakan Sholat
„Asr saya beberapa membaca beberapa ayat suci Al-Qur‟an dan saya melihat seseorang
duduk di sampingku dan menyebut nama ALLAH berulang-ulang hingga hilang satu tarikan
nafas „Ya Allah…..‟. kemudian di lanjutkan dengan mengatakan „Ya Havy, Ya Havy….‟
Hingga tarikan nafasnya kembali hilang. Dia kemudian mengangkat kedua tangannya dan
berdo‟a, “Ya ALLAH, aku telah berhasrat untuk memakan anggur, beri aku ALLAH aku
mohon anugerahiku jubah yang baru.”Laith bin Sa‟d berkata, “Ketika dia hampir
menyelesaikan doanya, sekeranjang anggur terlihat berada di depannya, dan pada saat itu
bukanlah waktunya musim anggur. Disamping sekeranjang anggur terlihat juga dua setel
jubah yang sangat bagus yang belum pernah saya lihat sebelumnya.”
Kemudian saya berbicara kepadanya, Oh….sahabatku biarkan aku ikut berbagi
denganmu‟, dia menjawab, „Bagaimana kamu mengatakan sebagai sahabat?‟ saya membalas,
„Ketika kamu berdo‟a, saya ikut meng- amien-kan.” Kemudian dia berkata, “ Kalau begitu
datanglah kemari dan makanlah bersamaku,‟ dan dia memberiku satu jubah tersebut”.
Kemudian dia berjalan hingga bertemu dengan seorang lelaki yang berkata, “Wahai
ketununan Nabi Saw, selimuti aku karena aku tidak punya apa-apa selain baju yang sudah
compang-camping yang ku pakai ini,” Dia segera memberi lelaki tersebut sebuah jubah yang
baru saja dia terima. Kemudian saya menghampiri lelaki tersebut, „siapakah dia?‟ lelaki
tersebut menjawab, „Dia adalah Imam besar, Ja‟far as-Sadiq‟. Saya berusaha mengejar untuk
menemukannya tetapi dia telah menghilang.
Dari pengetahuannya Beliau sering berkata kepada Sufyan ath-Thawri, “Jika Allah
menganugerahimu sebuah kebaikan dan kenikmatan, dan kamu berharap kenikmatan itu terus
terjaga, maka kamu harus banyak-banyak memuji-Nya dan berterima kasih kepada-Nya.
Karena DIA berkata,”jika kalian pandai bersyukur, ALLAH akan menambahkannya
untukmu” [14:7]. DIA juga berkata, “Jika pintu rizki tertutup untukmu, maka kamu harus
memperbanyak istigfar (memohon ampunan), karena ALLAH berkata, “Carilah ampunan
Tuhanmu, karena sesungguhnya Tuhanmu Maha Pemberi Maaf‟” [11:52]. Dan beliau juga
berkata kepada Sufyan ath-Thawri, “Jika kamu marah akan kedzaliman seorang penguasa
atau bentuk penindasan lainnya yang kamu saksikan, katakanlah “LA HAULA WALAA
QUWWATA ILLA BILLAH, karena itu adalah kunci pertolongan dan salah satu dari
kekayaan surgawi.”
Imam Ja‟far meninggal dunia pada tanggal 25 Syawal 148 H atau kurang lebih pada
tanggal 4 Desember 765 dan di makamkan di Jannat ul-Baqi‟ seperti halnya Ayahnya, Imam
Muhammad Al-Baqir , Kakeknya, Imam Ali Zain al-Abidin , dan paman dari Kakeknya,
Sayyidina Hasan ibn Ali . Beliau mewariskan Rahasia dari Rantai Emas kepada penerusnya,
Sulthonul Arifin Tayfur Abu Yazid Al-Bustami , yang kemudian lebih di kenal sebagai Abu
Yazid Al-Bustami .