Anda di halaman 1dari 2

TUGAS INDIVIDU

Program Pelatihan : Pelatihan Kepemimpinan Administrator


Angkatan : Angkatan I Tahun 2020
Nama Mata Pelatihan : Manajemen Perubahan Sektor Publik
Nama Peserta : Murliadi Palham, S.T., M.Eng
Nomor Daftar Hadir : 34
Lembaga Penyelenggara : Pusbangkom PIMNAS dan Manajerial ASN
Lembaga Administrasi Negara RI

Pendahuluan
Dalam beberapa tahun terakhir, dimulai tahun 2017, Pemerintah Daerah
Kota Tarakan menerapkan kebijakan pengetatan anggaran (austerity).
Pengetatan anggaran meliputi pemangkasan belanja dan mengoptimalkan
pendapatan. Pengetatan dilakukan karena kondisi Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD) Kota Tarakan terus mengalami defisit. Terdapat
berbagai faktor penyebab sehingga terjadi defisit, diantaranya banyak
kegiatan penunjukan langsung (PL) dan proyek tahun jamak (multiyears)
tahun sebelumnya yang belum terbayar serta realisasi penerimaan
pendapatan yang jauh dari prediksi yang telah ditentukan.

Bentuk Perubahan
Kebijakan pengetatan anggaran yang dilakukan dimulai sejak tahap awal
proses penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
yaitu proses penjaringan aspirasi masyarakat melalui musyawarah
perencanaan pembangunan (musrenbang) tingkat Rukun Tetangga (RT),
tingkat kelurahan, tingkat kota, pembahasan bersama DPRD, hingga
penerbitan Surat Penyediaan Dana (SPD).
Pada tahap musrenbang tingkat RT, ditetapkan bahwa setiap RT hanya
dapat mengusulkan dua kegiatan prioritas dengan maksimal nilai
anggaran sebesar Rp50 juta. Sebelum diterapkan kebijakan pengetatan,
usulan dari RT tidak dibatasi baik jumlah maupun nilainya. Demikian pula
halnya dengan penyusunan rencana kegiatan anggaran (RKA) pada semua
Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kegiatan yang tidak bersentuhan
langsung dengan masyarakat dibatasi. Belanja perjalanan dinas maksimal
empat kegiatan setiap OPD. Kegiatan yang bersifat seremonial, rapat-rapat,
dan pertemuan dibatasi dan diupayakan dilaksanakan di gedung-gedung
pemerintah, bukan di hotel. Biaya perawatan, bahan bakar, dan oli
kendaraan dinas yang sebelumnya dianggarkan dalam APBD ditiadakan
dan ditanggung oleh masing-masing pengguna. Penghematan juga
dilakukan pada penggunaan barang-barang pakai habis seperti alat tulis
kantor, listrik, air, serta telepon. Tunjangan Perbaikan Pendapatan (TPP)
seluruh pegawai negeri dipotong 25% dan uang lauk pauk ditiadakan.
Insentif untuk guru honor, Ketua RT, guru ngaji, guru sekolah minggu,
serta petugas kebersihan lingkungan/jalan dipotong sebesar 10%.
Agar kebijakan pengetatan tersebut ditaati dan dijalankan oleh seluruh
OPD, Kepala Daerah melakukan pengontrolan dan evaluasi secara rutin.
Pengontrolan dilakukan mulai pada tahap sebelum kegiatan dilaksanakan
hingga tahap pembayaran. Sebelum melaksanakan kegiatan, pengelola
kegiatan harus memastikan bahwa anggaran atau dana untuk kegiatan
tersebut telah tersedia di kas daerah yaitu setelah mendapat SPD dari
Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) selaku
Bendahara Daerah dan telah diparaf (disetujui) oleh Kepala Daerah.
Selanjutnya, pada saat mengajukan Surat Perintah Membayar, pengelola
kegiatan harus melampirkan SPD yang telah disetujui oleh Kepala Daerah
tersebut.
Setelah tiga tahun berjalan, kebijakan tersebut telah memperlihatkan hasil
sesuai dengan tujuan diterbitkannya. Beberapa hasil yang dicapai seperti
sebanyak 90% dari utang tertunggak telah terbayarkan. Defisit anggaran
dalam APBD pun sudah dapat ditekan. TTP dan uang lauk pauk kembali
dibayarkan 100%. Demikian pula halnya dengan insentif untuk guru
honor, Ketua RT, guru ngaji, guru sekolah minggu, serta petugas
kebersihan.

Simpulan
Kebijakan austeritas yang diambil oleh Pemerintah Daerah Kota Tarakan
merupakan kebijakan yang diambil secara terencana, dilaksanakan dengan
konsisten oleh seluruh pihak terkait, serta dipantau dengan ketat oleh
Kepala Daerah. Setelah berjalan selama tiga tahun dan telah berhasil
menurunkan defisit dalam APBD, maka kebijakan tersebut mulai
dievaluasi dan perlahan pengetatan mulai dikurangi.