Anda di halaman 1dari 4

Nama : Arif Firmansyah

NPM : 18311087
Kelas : IK4L

RESUME BUKU GRIFFIN CHAPTER 4

Interaksi Simbolik masuk dalam tataran Komunikasi Interpesonal. Interaksi simbolik itu
sendiri memiliki makna sebagai sebuah proses berkelanjutan baik berupa bahasa lisan dan
tulisan (verbal) maupun tingkah laku (nonverbal) sebagai antisipasi dari reaksi yang
diberikan oleh orang lain. Mead beranggapan bahwa kegiatan yang paling manusia adalah
orang dapat terlibat dalam sebuah percakapan dengan orang lain, atau yang biasa kita sebut
Komunikasi dengan orang lain. Teori pertama Blumer menyatakan bahwa individu
berperilaku kepada masyarakat atau objek berdasarkan apa yang mereka pahami secara
mendasar mengenai masyarakat atau objek tersebut. Individu bertindak sesuai dengan apa
yang dia maknai dalam sebuah situasi yang sedang ia hadapi. Dalam kasus ini persepsi yang
kita hasilkan mengenai seseorang, situasi dan objek-lah yang membentuk pola perilaku kita
dalam Realitas Sosial. Teori kedua Blumer menyatakan bahwa makna tumbuh melalui
interaksi sosial antara satu sama lain atau antara individu yang satu dengan individu yang
lain. Bahasa merupakan sumber dari makna yang disampaikan oleh seseorang terhadap
sesuatu hal yang terjadi atau yang ada dihadapannya, walau Bahasa tidak sepenuhnya dapat
memaknai realitas yang sebenarnya namun setidaknya bahasa dapat menjadi wakil dari
realitas itu sendiri. Teori ketiga Blummer menyatakan bahwa interpretasi individu mengenai
simbol dibentuk oleh pemikirannya. Blumer dalam teorinya yang ketiga menggambarkan
manusia sebagai individu yang memiliki kapasitas untuk mengambil peran dari orang lain
yang berarti proses dimana kita secara sadar menilai diri sendiri melalui pandangan orang
lain. Kita menciptakan sebuah standar yang harus dicapai oleh diri kita sendiri yaitu
kesuksesan, kebahagiaan, dll. Dan dalam tahap tertentu kita berusaha membayangkan apa
yang orang lain pikirkan jika melihat diri kita, sukseskah kita dimata mereka? Bahagiakah
kita? normalkah? dsb.. Proses tersebut ikut membentuk konsep mengenai diri individu.
Kembali kepada konsep Mead, dimenyatakan bahwa kita melukis potret diri kita dengan
sapuan kuas yang datang dari mengambil peran orang lain, membayangkan bagaimana kita
melihat orang lain. Dalam pernyataan di atas tegaskan bahwa konsep diri tidak semata-mata
ada begitu saja atau bawaan lahir melainkan sebuah konsep yang dihasilkan oleh masyarakat
sosial sebagai hasil dari interaksinya terhadap lingkungan. Dalam kehidupan kita sehari-hari,
kita tidak hanya terhubung dengan keluarga kita sendiri atau orang-orang dekat kita saja.
Namun, kehidupan kita mencakup dunia yang lebih luas seperti dunia akademik,
professional, dll, dimana kita diharuskan untuk bisa berinteraksi dengan semua orang yang
ada. Peran-peran sosial, perilaku yang ditekankan oleh kelompok masyarakat, serta
komunitas sosial dimana kita berada

salah satu hal yang dapat berpengaruh besar terhadap konsep diri adalah ekspektasi/ harapan,
serta penilaian orang lain terhadap diri kita yang berusaha kitawujudkan dalam
perilaku/tindakan.seperti seorang anak yang diberikan semangat bahwa ia memiliki
kemampuan untuk memenangkan olimpiade, anak tersebut pasti akan merasakan tekanan
lebih pada dirinya untuk menang dan belajar keras. Apa yang telah dikemukakan oleh Mead
mengenai konsep Interaksi Simbolik memang merupakan sesuatu hal yang sangat besar bagi
perkembangan dunia Komunikasi. Namun dalam paparan mengenai Interaksi Simbolik
tersebut Mead melupakan satu hal yang sangat penting yang nyata keberadaanya dalam
realitas sosial, yaitu keterbatasan individu dalam menerima simbol dengan baik karena
kecacatan pada organ tubuh atau genetik, seperti kebutaan, tuna rungu, bisu dsb. Seseorang
dengan keterbatasan dalam berbicara akan sangat sulit dalam memaknai hal lewat bahasa,
Apabila kita secara sadar menilai standar diri sendiri melalui pandangan orang lain maka kita
juga akan dapat mencapai sebuah kesuksesan dan kebahagian di realitas sosial. Konsep diri
itu bukan bawaan lahir atau tidak datang begitu saja melainkan hasil interaksi sosial dengan
masyarakat. Contoh kasus dalam kehidupan sehari – hari, apabila seorang anak yang
dibesarkan secara positif oleh orang tuanya, selalu di beri kata-kata positif bahwa dia
disayangi, dicintai, dll akan tumbuh menjadi individu positif yang memiliki konsep diri yang
baik pula. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh orang lain,
demikian pula perilaku orang tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, maka kita
dapat mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca simbol
yang ditampilkan oleh orang lain.
Dalam konsepsi interaksionisme simbolik dikatakan bahwa kita cenderung menafsirkan diri
kita lebih kepada bagaimana orang - orang melihat atau menafsirkan diri kita. Kita cenderung
untuk menunggu, untuk melihat bagaimana orang lain akan memaknai diri kita, bagaimana
ekspektasi orang terhadap diri kita. Oleh karenanya konsep diri kita terutama kita bentuk
sebagai upaya pemenuhan terhadap harapan. Kita mencoba memposisikan diri ke dalam
orang lain, dan mencoba melihat bagaimanakah perspektif orang tersebut ketika memandang
diri kita. Konsep diri ini sendiri pada nantinya terbentuknmelalui konsep pembicaraan itu
sendiri, melalui bahasa. Contoh nya adalah bagaimana proses komunikasi dan permainan
bahasa yang terjadi dalam hubungan antara dua orang, terutama pria dengan wanita. Ketika
mereka berkomunikasi dengan menggunakan simbol bahasa SAYA dan ANDA, maka
konsep diri yang terbentuk adalah dia ingin diri saya dalam status yang formal. Atu misalkan
simbolisasi bahasa yang dipakai adalah ELO dan GUE maka konsep diri yang terbentuk
adalah dia ingin menganggap saya sebagai teman atau kawan semata. Dan tentunya akan
sangat berbeda jika simbolisasi yang digunakan adalah kata AKU dan KAMU, maka konsep
diri yang lebih mungkin adalah dia ingin saya dalam status yang lebih personal, yang lebih
akrab atau lebih merujuk kepada konsep diri bahwa kita sudah jadian atau pacaran. Misalkan.
Jadi, dalam suatu proses komunikasi, simbolisasi bahasa yang digunakan akan sangat
berpengaruh kepada bagaimana konsep diri yang nantinya akan terbentuk. Lebih luas lagi
pada dasarnya pola komunikasi ataupun pola interaksi manusia memang bersifat demikian.
Artinya, lebih kepada proses negosiasi dan transaksional baik itu antar dua individu yang
terlibat dalam proses komunikasi maupun lebih luas lagi bagaimana konstruksi sosial
mempengaruhi proses komunikasi itu sendiri. Pikiran atau kemampuan untuk menggunakan
simbol-simbol untuk merespon apa yang kita lihat kemudian untuk difikirkan dalam benak
kita. Dengan menggunakan bahasa dan berinteraksi dengan orang lain, kita akan
mengembangkan apa yang kita pikirkan dan menghasilkan makna.