Anda di halaman 1dari 8

1.

setelah anda mengetahui bahan2 alam yang dapat digunakan sebagai


kosmetik, bagaimana atau metode apakah yang biasanya digunakan untuk
mengambil senyawa aktif tersebut?

ekstraksi senyawa metabolit sekunder yang umum digunakan antara lain :

1.    Maserasi
Maserasi merupakan proses perendaman sampel dengan pelarut organik yang
digunakan pada temperatur ruangan. Proses ini sangat menguntungkan dalam
isolasi senyawa bahan alam karena dengan perendaman sampel tumbuhan akan
terjadi pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara
didalam dan diluar sel sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma
akan terlarut dengan pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena
dapat diatur lama perendaman yang dilakukan. Pemilihan pelarut untuk proses
maserasi akan memberikan efektifitas yang tinggi dengan memperhatikan
kelarutan senyawa bahan alam pelarut tersebut. Secara umum pelarut metanol
merupakan pelarut yang paling banyak digunakan dalam proses isolasi senyawa
organik bahan alam, karena dapat melarutkan seluruh golongan metabolit
sekunder.
2.    Perkolasi
Merupakan proses melewatkan pelarut organik pada sampel sehingga pelarut akan
membawa senyawa organik bersama-sama pelarut. Tetapi efektifitas dari proses ini
hanya akan lebih besar untuk senyawa organik yang sangat mudah larut dalam
pelarut yang digunakan. 
3.    Solketasi
Solketasi menggunakan soklet dengan pemanasan dan pelarut akan dapat di hemat
karena terjadinya sirkulasi pelarut yang selalu membasahi sampel. Proses ini
sangat baik untuk senyawa yang tidak terpengaruh oleh panas.
4.    Destilasi uap
Proses destilasi lebih banyak digunakan untuk senyawa organik yang tahan pada
suhu yang cukup tinggi, yang lebih tinggi dari titik didih pelarut yang digunakan.
Pada umumnya lebih banyak digunakan untuk minyak atsiri. 
5.    Pengempaan
Metode ini banyak digunakan dalam proses industri seperti pada isolasi CPO dari
buah kelapa sawit dab isolasi katecin dari daun gambir. Dimana dalam proses tidak
menggunakan pelarut.
Hasil yang diperoleh berupa ekstrak yang mana seluruh spade senyawa
bahan alam yang terlarut dalam pelarut yang digunakan akan berada pada ekstak
ini.
Penentuan jumlah komponen senyawa dapat dideteksi dengan kromatografi
lapis tipis (KLT) dengan menggunakan plat KLT yang sudah siap pakai.
Terjadinya pemisahan komponen – komponen pada KLT dengan  Rf  tertentu
dapat dijadikan sebagai panduan untuk memisahkan komponen kimia tersebut
dengan mengggunakan kolom kromatografi dan sebagai fas diam dapat digunakn
silika gel dan eluan yang digunakan berdasarkan hasil yang diperoleh dari KLT
dan akan lebih baik kalau kepolaran eluen pada kolom kromatografi sedikit
dibawah kepolaran eluen pada KLT.
Pemilihan eluen sebaiknya dimulai dari pelarut organik yang tidak polar
seperti heksana dan peningkatan kepolaran dengan etil asetat atau pelarut yang
lebih polar lainnya masing – masing pelarut.
Selanjutnya suatu senyawa bahan alam hasil isolasi akan diidentifikasi
berdasarkan kimia, fisika, dan identifikasi dengan spektroskopi. Dari isolasi yang
menggunakan metode standar tidak semua senyawa akan secara utuh seperti yang
terdapat dalam tumbuhan tesebut, karena sebagian senyawa ada yang terlarut dan
terpecah dalam proses isolasi dan hasil terjadi seperti putusnya ikatan glikosida
membentuk aglikon dan gula dengan adanya air.
Identifikasi senyawa metabolit sekunder dan elusidasi struktur senyawa
ditemukan merupakan pekerjaan yang sangat menentukan dalam proses mengenal,
mengetahui dan pada akhirnya menetapkan rumus molekul yang sebenarnya dari
senyawa tersebut.
Di antara metode identifikasi dan elusidasi struktur yang diperoleh dapat
dilakukan dengan metode standar yang sudah dikenal untuk menentukan senyawa
kimia dan termasuk derivat – derivatnya antara lain:
1.    Metode Spektroskopi

Metode spektroskopi saat ini sudah merupakan metode standar dalam penentuan
struktur senyawa organic pada umumnya dan senyawa metabolit sekunder pada
khususnya. Metode tersebut terdiri dari beberapa peralatan dan mempunyai hasil
pengamatan yang berbeda, yaitu :
a.    Spektroskopi UV

Merupakan metode yang akan memberikan informasi adanya kromofor dari


senyawa organik dan membedakan senyawa aromatic atau senyawa ikatan rangkap
yang berkonjugasi denga senyawa alifatik rantai jenuh.
b.    Spektroskopi IR

Metode yang dapat menentukan serta mengidentifikasi gugus fungsi yang terdapat
dalam  senyawa organik, yang mana gugus fungsi dari senyawa organik akan dapat
ditentukan berdasarkan ikatan tiap atom dan merupakan bilangan frekuensi yang
spesifik.
c.    Nuklir Magnetik Resunansi Proton
Metode ini akan mengetahui posisi atom – atom karbon yang mempunyai proton
atau tanpa proton. Disamping itu akan dikenal atom – atom lainnya yang berkaitan
dengan proton.

d.   Nuklir Magnetik Kesonansi Isotop Karbon 13

Digunakan untuk mengetahui jumlah atom karbon dan menentukan jenis atom
karbon pada senyawa terebut.
e.    Spektroskopi Massa

Mengetahui berat molekul senyawa dan ditunjang dengan adanya fragmentasi ion
molekul yang menghasilkan pecahan – pecahan spesifik untuk suatu senyawa
berdasarkan m / z dari masing – masing fragmen yang terbentuk. Terbentuknya
fragmen – fragmen denga terjadinya pemutuan ikatan apabila disusun kembali
akan dapat menentukan kerangka struktur senyawa yang diperiksa. 

2.    Kromatografi
Penggunaan kromatografi sangat membantu dalam pendeteksian senyawa
metabolit sekunder dan dapat dijadikan sebagai patokan untuk proses pengerjaan
berikutnya dalam menentukan struktur senyawa.
Berbagai jenis kromatografi yang umum digunakan antara lain: 

a. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) : Merupakan salah satu metode identifikasi


awal untuk menentukan kemurnian senyawa yang ditemukan atau dapat
menentukan jumlah senyawa dari ekstrak kasar metabolit sekunder. Cara ini sangat
sederhana dan merupakan suatu pendeteksian awal dari hasil isolasi. b.
Kromatografi Kolom : Digunakan untuk pemisahan campuran bebrapa senyawa
yang diperoleh dari isolasi tumbuhan. Dengan menggunakan fasa padat dan fasa
cair maka fraksi – fraksi senyawa akan menghasilkan kemurnian yang cukup
tinggi. c. Kromatografi Gas : Pemisahan campuran senyawa yang cukup stabil
pada pemanasan, karena sampel yang digunakan akan dirubah menjadi fasa gas
dan dengan adanya  perbedaan keterikatan senyawa pada fasa padat yang
digunakan terhadap senyawa organik sehingga terjadi pemisahan masing – masing
senyawa dari campurannya. d. Kromatografi Cair : Lebih dikenal dengan HPLC
(High Pressure Liquid Chromatography ) dan lebih dari 75 % dari pemakaian
HPLC menggunakan fasa padat ODS (Oktadesil Sifane) atau C – 18 sedangkan
fasa cair sebagai pelarut pembawa senyawa dapat diganti kepolarannnya pada saat
digunakan dan kondisi seperti itu dikenal sebagai fasa gradien. Pada kondisi
gradien, senyawa nonpolar akan diadsorpsi lebih lemah oleh fasa padat dan akan
dielusi dengan pelarut nonpolar dan sebaiknya senyawa polar akan diadsorpsi lebih
kuat dan membutuhkan pelarut polar. Jika sampel mempunyai polaritas luas,
pemisahan harus dilakukan dengan merubah kepolaran pelarut yang digunakan.
Efisiensi penggunaan HPLC ditentukan dengan pengaturan dan penggunaan
pelarut sebagai pembantu dalam pemakaian HPLC.

2. Carilah sebuah jurnal tentang Analisis senyawa aktif pada bahan alam (dapat
tumbuhan, bahan hewan atau bahan mineral), yang metode analisisinya
menggunakan isntrumentasi!

Cosmeceutical potentials and bioactive compounds of rice bran fermented


with single and mix culture of Aspergillus oryzae and Rhizopus oryzae

3. Merujuk pada jurnal yang anda dapatkan, senyawa aktif apakah yang diduga
berperan sebagai bahan ksometik?

Senyawa aktif yang diduga ialah senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan

4. bagaiaman mendapatkan senyawa aktif tersebut dari bahan alam?


Dengan mengekstrak beras dan fermentasi beras

5. Deskripsikan analisis senyawa aktif dan metode pengambilannya dalam


kosmetik bahan alam!

Senyawa fenolik merupakan senyawa bahan alam yang cukup luas penggunaannya saat
ini. Kemampuannya sebagai senyawa biologik aktif memberikan suatu peran yang besar
terhadap kepentingan manusia. Sudah banyak penelitian diarahkan pada pemanfaatan
senyawa fenolik pada berbagai bidang industri. Pada industri makanan dan minuman,
senyawa fenolik berperan dalam memberikan aroma yang khas pada produk makanan
dan minuman, sebagai zat pewarna makanan dan minuman, dan sebagai antioksidan.
Pada industri farmasi dan kesehatan, senyawa ini banyak digunakan sebagai antioksidan,
antimikroba, antikanker dan lain-lain, contohnya obat antikanker (podofilotoksan),
antimalaria (kuinina) dan obat demam (aspirin). Manfaat asam fenolik yang paling
penting yaitu anti-penuaan yang berhubungan dengan anti-oksidan yang  mengurangi
aktivitas dan mencegah pertumbuhan sel abnormal. Asam fenolat berguna dalam
mengendalikan peradangan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan meningkatkan
sirkulasi darah, semua yang menghasilkan signifikan manfaat anti penuaan dalam tubuh.

Metode yang digunakan ialah analisis total fenolik, pengujian DPPH dan
FRAP, pengujian asam fenolat dengan HPLC

Potensi antioksidan dari sampel yang telah di uji dengan metode frap
didapatkan hasil sebesar 160 µg AAE/g sedangkan untuk screening
antioksidan laiinya digunakan metode DPPH didapatkan hasil sebesar
93,41%. Pada uji asam fenolat dengan HPLC didapatkan 8 jenis senyawa
asam fenolat
4. Bagaimana prinsip dari metode yang dipilih dari jurnal yang anda dapatkan?

Penentuan total fenolik dilakukan dengan menggunakan metode Folin-Ciocalteu.


1ml aliquot sampel dicampur dengan 5ml Folin-Ciocalteu dan 4 ml dari 7,5%
larutan natrium carbonat didiamkan ada suhu kamar selama 2 jam diruangan yang
gelap kemudian diukur dengan spectrofotometer pada panjang gelombang 778nm.

Metode FRAP dengan mencampurkan buffer asetat sebanyak 25 ml, 2,5 TPTZ, 2,5
ml FeCl3.6H2O setalah itu diukur dengan spectrofotometer pada panjang
gelombang 593 nm.

DPPH 150 µl sampel dicampur dengan larutan DPPH segar sebanyak 2850 µl
selanjutnya didiamkan selama 30 menit dalam ruangan yang gelap

HPLC larutan sampel sebanyak 10 µl sampel dipisahkan dengan colom analitik


fase terbalik dengan fase gerak berupa asam format:methanol selanjutnya
membandingkan waktu retensi dan spectrum uv pada panjang gelombang 280 dan
325 nm