Anda di halaman 1dari 5

Nama : Rengganis Permatahati

NIM : 1765050395
Topik Tinjauan Pustaka : Infeksi Virus Dengue
Sumber : Buku Pedoman Pelayanan Medis IDAI 2011, Jurnal Sari Pediatri Keamanan
Vaksin Dengue Tahun 2019

Infeksi Virus Dengue


Definisi
Infeksi virus dengue merupakan suatu penyakit demam akut yang disebabkan oleh
virus genus Flavivirus, famili Flaviviridae, mempunyai 4 jenis serotipe yaitu DEN-1, DEN-
2, DEN-3, dan DEN-4, melalui perantara nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus.
Keempat serotipe dengue terdapat di Indonesia, DEN-3 merupakan serotipe dominan dan
banyak berhubungan dengan kasus berat, diikuti serotipe DEN-2. Pada saat ini jumlah kasus
masih tetap tinggi rata-rata 10-25 per 100.000 penduduk, namun angka kematian telah
menurun bermakna <2%. Umur terbanyak yang terkena infeksi dengue adalah kelompok
umur 4-10 tahun, walaupun makin banyak kelompok umur lebih tua. Spektrum klinis infeksi
dengue dapat dibagi menjadi (1) gejala klinis paling ringan tanpa gejala (silent dengue
infection), (2) demam dengue (DD), (3) demam berdarah dengue (DBD) dan (4) demam
berdarah dengue disertai syok (sindrom syok dengue/DSS).

Diagnosis
Anamnesis
- Demam merupakan tanda utama, terjadi mendadak tinggi, selama 2-7 hari
- Disertai lesu, tidak mau makan, dan muntah
- Pada anak besar dapat mengeluh nyeri kepala, nyeri otot, dan nyeri perut
- Diare kadang-kadang dapat ditemukan
- Perdarahan paling sering dijumpai adalah perdarahan kulit dan mimisan

Pemeriksaan Fisik
 Gejala klinis DBD diawali demam mendadak tinggi, facial flush, muntah, nyeri
kepala, nyeri otot dan sendi, nyeri tenggorok dengan faring hiperemis, nyeri di bawah
lengkung iga kanan. Gejala penyerta tersebut lebih mencolok pada DD daripada
DBD.
 Sedangkan hepatomegali dan kelainan fungsi hati lebih sering ditemukan pada DBD.
Perbedaan antara DD dan DBD adalah pada DBD terjadi peningkatan permeabilitas
kapiler sehingga menyebabkan perembesan plasma, hipovolemia dan syok.
 Perembesan plasma mengakibatkan ekstravasasi cairan ke dalam rongga pleura dan
rongga peritoneal selama 24-48 jam.
 Fase kritis sekitar hari ke-3 hingga ke-5 perjalanan penyakit. Pada saat ini suhu turun,
yang dapat merupakan awal penyembuhan pada infeksi ringan namun pada DBD
berat merupakan tanda awal syok.
 Perdarahan dapat berupa petekie, epistaksis, melena, ataupun hematuria.

Tanda-tanda syok
- Anak gelisah, sampai terjadi penurunan kesadaran, sianosis
- Nafas cepat, nadi teraba lembut kadang kadang tidak teraba
- Tekanan darah turun, tekanan nadi <10 mmHg
- Akral dingin, capillary refill menurun
- Diuresis menurun sampai anuria

Apabila syok tidak dapat segera diatasi, akan terjadi komplikasi berupa asidosis metabolik
dan perdarahan hebat.

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
 Darah perifer, kadar hemoglobin, leukosit & hitung jenis, hematokrit, trombosit. Pada
apusan darah perifer juga dapat dinilai limfosit plasma biru, peningkatan
15% menunjang diagnosis DBD
 Uji serologis, uji hemaglutinasi inhibisi dilakukan saat fase akut dan fase konvalesens
 Infeksi primer, serum akut <1:20, serum konvalesens naik 4x atau lebih namun tidak
melebihi 1:1280
 Infeksi sekunder, serum akut < 1:20, konvalesens 1:2560; atau serum akut
1:20, konvalesens naik 4x atau lebih
 Persangkaan infeksi sekunder yang baru terjadi (presumptive secondary infection):
serum akut 1:1280, serum konvalesens dapat lebih besar atau sama
 Pemeriksaan radiologis (urutan pemeriksaan sesuai indikasi klinis)
 Pemeriksaan foto dada, dilakukan atas indikasi (1) dalam keadaan klinis ragu-
ragu, namun perlu diingat bahwa terdapat kelainan radiologis pada perembesan
plasma 20-40%, (2) pemantauan klinis, sebagai pedoman pemberian cairan.
 Kelainan radiologi, dilatasi pembuluh darah paru terutama daerah hilus
kanan, hemitoraks kanan lebih radio opak dibandingkan kiri, kubah diafragma kanan
lebih tinggi dari pada kanan, dan efusi pleura.
 USG: efusi pleura, ascites, kelainan (penebalan) dinding vesica felea dan vesica
urinaria.

Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria klinis dan laboratorium (WHO tahun 1997):

Kriteria klinis
 Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama
2-7 hari.
 Terdapat manifestasi perdarahan, termasuk uji bendung positif, petekie, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, dan/melena.
 Pembesaran hati.
 Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi, kaki dan
tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah.

Kriteria laboratorium:
 Trombositopenia (100.000/µl atau kurang).
 Hemokonsentrasi, dilihat dari peningkatan hematokrit 20% menurut standar umur dan
jenis kelamin.
 Dua kriteria klinis pertama disertai trombositopenia dan hemokonsentrasi, serta
dikonfirmasi secara uji serologik hemaglutinasi.

Tata laksana
Terapi infeksi virus dengue dibagi menjadi 4 bagian, (1) Tersangka DBD, (2) Demam
Dengue (DD) (3) DBD derajat I dan II (4) DBD derajat III dan IV (DSS).
DBD tanpa syok (derajat I dan II)

Medikamentosa
 Antipiretik dapat diberikan, dianjurkan pemberian parasetamol bukan aspirin.
 Diusahakan tidak memberikan obat-obat yang tidak diperlukan (misalnya
antasid, antiemetik) untuk mengurangi beban detoksifikasi obat dalam hati.
 Kortikosteroid diberikan pada DBD ensefalopati, apabila terdapat perdarahan saluran
cerna kortikosteroid tidak diberikan.
 Antibiotik diberikan untuk DBD ensefalopati.

Suportif
 Mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler
dan perdarahan.
 Kunci keberhasilan terletak pada kemampuan untuk mengatasi masa peralihan dari
fase demam ke fase syok disebut time of fever differvesence dengan baik.
 Cairan intravena diperlukan, apabila (1) anak terus-menerus muntah, tidak
mau minum, demam tinggi, dehidrasi yang dapat mempercepat terjadinya syok, (2)
nilai hematokrit cenderung meningkat pada pemeriksaan berkala.

DBD disertai syok (Sindrom Syok Dengue, derajat III dan IV)
 Penggantian volume plasma segera, cairan intravena larutan ringer laktat 10-20
ml/kgbb secara bolus diberikan dalam waktu 30 menit. Apabila syok belum teratasi
tetap berikan ringer laktat 20 ml/kgbb ditambah koloid 20-30 ml/kgbb/jam, maksimal
1500 ml/hari.
 Pemberian cairan 10ml/kgbb/jam tetap diberikan 1-4 jam pasca syok. Volume
cairan diturunkan menjadi 7ml/kgbb/jam, selanjutnya 5ml, dan 3 ml apabila tanda
vital dan diuresis baik.
 Jumlah urin 1 ml/kgbb/jam merupakan indikasi bahwa sirkulasi membaik.
 Pada umumnya cairan tidak perlu diberikan lagi 48 jam setelah syok teratasi.
 Oksigen 2-4 l/menit pada DBD syok.
 Koreksi asidosis metabolik dan elektrolit pada DBD syok.

Indikasi pemberian darah:


 Terdapat perdarahan secara klinis
 Setelah pemberian cairan kristaloid dan koloid, syok menetap, hematokrit turun,
diduga telah terjadi perdarahan, berikan darah segar 10 ml/kgbb
 Apabila kadar hematokrit tetap > 40 vol%, maka berikan darah dalam volume kecil
 Plasma segar beku dan suspensi trombosit berguna untuk koreksi gangguan
koagulopati atau koagulasi intravaskular desiminata (KID) pada syok berat
yang ,menimbulkan perdarahan masif.
 Pemberian transfusi suspensi trombosit pada KID harus selalu disertai plasma segar
(berisi faktor koagulasi yang diperlukan), untuk mencegah perdarahan lebih hebat.

Pemantauan
Pemantauan selama perawatan
 Tanda klinis, apakah syok telah teratasi dengan baik, adakah pembesaran hati, tanda
perdarahan saluran cerna, tanda ensefalopati, harus dimonitor dan dievaluasi untuk
menilai hasil pengobatan.
 Kadar hemoglobin, hematokrit, dan trombosit tiap 6 jam, minimal tiap 12 jam.
 Balans cairan, catat jumlah cairan yang masuk, diuresis ditampung, dan
jumlah perdarahan.
 Pada DBD syok, lakukan cross match darah untuk persiapan transfusi darah apabila
diperlukan.

Faktor risiko terjadinya komplikasi:


- Ensefalopati dengue, dapat terjadi pada DBD dengan syok atupun tanpa syok.
- Kelainan ginjal, akibat syok berkepanjangan dapat terjadi gagal ginjal akut.
- Edem paru, seringkali terjadi akibat overloading cairan.

Kriteria memulangkan pasien


- Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
- Nafsu makan membaik
- Secara klinis tampak perbaikan
- Hematokrit stabil
- Tiga hari setelah syok teratasi
- Jumlah trombosit > 50.000/ml
- Tidak dijumpai distres pernapasan

Vaksinasi DBD
Pada tahun 2011, sebuah penelitian mengenai vaksin hidup, chimeric yellow fever
tetravalent dengue vaccine (CYD-TDV) memasuki fase III uji klinis.Vaksin ini pertama
kalinya mendapat lisensi di Meksiko, Brazil dan Filipina, dan selanjutnya di 19 negara
Asia, Amerika Latin dan Australia. Tahun 2016, WHO Strategic Advisory Group of
Experts on Immunization (SAGE) merekomendasikan penggunaan vaksin dengue hanya
pada anak usia >9 tahun di negara endemis (seroprevalens) >70%, dan tidak
direkomendasikan jika seroprevalens <50%.8
Pada tahun 2018, salah satu rumah sakit di Filipina menyatakan tiga resipien vaksin
meninggal enam bulan sampai satu tahun setelah injeksi vaksin terkait dengue. Food and
Drug Administration (FDA) menarik sementara izin edar, penjualan dan distribusi
Dengvaxia® di Filipina. Bulan April 2018, WHO SAGE merevisi rekomendasi
penggunaan CYD-TDV yang menitikberatkan skrining pre-vaksinasi.
Kasus kematian resipien vaksin dengue yang dikaitkan dengan dengue di Filipina pada
tahun 2017 dan pencabutan izin edar vaksin dengue secara permanen oleh FDA di negara
tersebut telah menimbulkan keraguan di masyarakat mengenai keamanan vaksin.
Meskipun, kasus kematian tersebut tidak terbukti secara medis akibat dengue. Laporan
kematian serupa tidak didapatkan di 19 negara lainnya yang telah mendapat izin edar
vaksin dengue. Di Brazil, vaksin ini masih dijadikan program sub-nasional dan di
Australia dan Asia Pasifik sebagai vaksin non-program.
Beberapa penelitian sudah menguji keamanan vaksin dengue hingga empat tahun
setelah injeksi pertama, sebagaimana yang direkomendasikan WHO, yaitu untuk
memverifikasi bahwa respons imun terhadap vaksinasi tidak memberikan kecenderungan
terhadap dengue berat dan bahwa risiko dengue berat tidak meningkat seiring waktu akibat
berkurangnya titer antibodi yang diinduksi vaksin pada individu yang kekebalannya belum
meningkat secara alami.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menerbitkan rekomendasi vaksin dengue pada
tahun 2017 yaitu :
1. Pemberian vaksin tiga kali dengan interval enam bulan, pada anak usia 9-16 tahun.
2. Vaksin dengue hanya digunakan untuk mengurangi risiko kejadian dan keparahan
demam berdarah dengue pada anak usia 9-16 tahun yang sebelumnya pernah
terinfeksi virus tersebut, dan tidak boleh digunakan pada individu yang belum
pernah terinfeksi.
Di Indonesia, vaksin demam berdarah termasuk vaksin yang masih baru dan kisaran harga
untuk vaksin ini cukup mahal.

Sumber :
1. Pudjiadi Antonius H, Hegar Badriul, Handryastuti Setyo. Buku Pedoman Pelayanan
Medis. Ikatan Dokter Anak Indonesia.2011:141-149.
2. Hindra Irawan Satari dkk. Keamanan vaksin dengue. Departemen Ilmu Kesehatan
Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sari Pediatri 2019;Vol.21:No.2.