Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK II

“PEMERIKSAAN PROTEIN DARAH”

OLEH

NAMA : ISMA INDARWATI


NIM : 18 3145 353 202
KELAS : 2018 E

PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS


FAKULTAS FARMASI TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Serum adalah cairan yang tersisa setelah darah menggumpal atau


membeku . Serum merupakan salah satu sampel untuk pemeriksaan kimia
klinik sehingga serum yang diperoleh harus memenuhi syarat yaitu serum
tidak hemolisis, tidak ikterik dan tidak lipemik. Serum lipemik adalah serum
yang keruh, putih atau seperti susu karena hiperlipidemia . Kekeruhan
lipemik disebabkan juga oleh adanya partikel besar lipoprotein seperti
chylomicrons atau Very Low Density Lipoprotein (VLDL) dan komponen
lipid utama yaitu trigliserida. Salah satu pemeriksaan yang dilakukan di
laboratorium klinik adalah pemeriksaan kadar protein total. Pemeriksaan ini
diperlukan untuk pemantauan resiko penyakit hati dan ginjal. Salah satu
metode pemeriksaan ini adalah metode Biuret yang menggunakan prinsip
pengukuran dengan spektrofotometri, sehingga jika sampel yang diperiksa
adalah serum lipemik akan memengaruhi hasil pemeriksaan dan
menyebabkan kesalahan diagnosis,(Sujono,dkk 2016 Vol. 5 No. 1).

I.2 MAKSUD DAN TUJUAN PERCOBAAN


I.3 PRINSIP PERCOBAAN
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Salah satu panel pemeriksaan profil metabolik adalah pemeriksaan protein


total beserta fraksi utamanya (albumin dan globulin). Proteinogram merupakan uji
tambahan yang penting, membantu untuk biokimia klinis, dan merupakan salah
satu metode yang paling dapat diandalkan untuk identifikasi protein darah .
Peningkatan atau penurunan konsentrasi protein total dianggap sebagai suatu
abnormalitas. Peningkatan atau penurunannya dalam sirkulasi darah dipengaruhi
oleh konsentrasi albumin atau globulin atau keduanya Menurut Penentuan
konsentrasi protein total serum dapat digunakan sebagai alat bantu diagnostik
yang penting dalam biokimia klinis, (Iz,dkk 2014 Vol. 19 No. 2).
Konsentrasi protein total dan nilai hematokrit meningkat pada kasus
dehidrasi, diikuti dengan peningkatan konsentrasi albumin dan globulin
.Penurunan konsentrasi protein total disebabkan oleh malnutrisi dan malabsorbsi,
penyakit hati, diare kronis maupun akut, terbakar, ketidakseimbangan hormon,
penyakit ginjal (proteinuria), rendahnya konsentrasi albumin, rendahnya
konsentrasi globulin dan kebuntingan, (Iz,dkk 2014 Vol. 19 No. 2).
Globulin merupakan salah satu fraksi utama protein dalam darah. Berguna
untuk sirkulasi ion, hormon dan asam lemak. Beberapa jenis globulin mengikat
hemoglobin, beberapa lainnya mengikat zat besi, berfungsi untuk melawan
infeksi, dan bertindak sebagai faktor koagulas, (Iz,dkk 2014 Vol. 19 No. 2).
Albumin adalah protein plasma yang dihasilkan oleh hepar dan penting
dalam memelihara tekanan cairan intravaskuler. Selain itu albumin juga berperan
dalam fisiologis tubuh, termasuk memelihara tekanan osmotik dan mengikat zat
utama seperti rantai panjang lemak asam, asam empedu, bilirubin, hematin,
kalsium, dan magnesium. Penurunan kadar albumin plasma (hipoalbuminemia)
dapat menimbulkan terjadinya udema karena cairan keluar dari ruang vaskular
dan masuk ke ruang interstisial (Horne dan Pamela, 2000). Hiperalbuminemia
dapat berhubungan dengan terjadinya dehidrasi dalam tubuh, (Rahman, dkk 2018
Vol. 12 No. 1).
Albumin merupakan salah satu protein darah yang paling banyak ditemukan.
Albumin ini memiliki berat molekul yang tinggi dibandingan dengan beberapa jenis
protein lain yang terdapat dalam darah. Terkait dengan penurunan konsentrasi
albumin dapat disebabkan mekanisme katabolisme protein albumin. melaporkan
bahwa dalam batas tertentu pemberian ion mineral dapat meningkatkan kadar
albumin darah, sebagai dampak stimulasi potensial aksi sistem syaraf ke sistem syaraf
tepi (SST), sehingga sel-sel memproduksi banyak albumin untuk mempertahankan
buffer darah dalam mengimbangi peningkatan ion mineral. Sekaligus potensial aksi
tersebut memdorong peningkatan produksi hormon corticosterone dan aldosterone, (
Wardhana, dkk 2014).
Globulin merupakan protein darah yang sangat berguna dalam sistem
kekebalan tubuh dan membawa hormon steroid, lipid, dan fibrinogen yang
diperlukan untuk pembekuan darah (Bastiansyah, 2008). Globulin juga membantu
dalam mengatur fungsi sistem peredaran darah. Jika jumlah globulin dalam darah
tidak normal dapat menyebabkan masalah kesehatan. Globulin dapat meningkat
karena infeksi kronis, penyakit hati, sindrom karsinoid, kadar globulin juga dapat
menurun karena nephrosis, anemia hemolitik akut, dan disfungsi hati(Rahman,
dkk 2018 Vol. 12 No. 1).
Keberadaan globulin dalam protein dalam plasma menjadi penting karena
merupakan bagian dari protein total dalam plasma dan juga menjadi salah satu
indikator ketidakseimbangan total kandungan protein dalam tubuh. Pada kondisi
tubuh terpapar suatu zat toksik, sistem imun tubuh akan melawan infeksi termasuk
dengan hepar. Mekanisme ini akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada sel-sel
hepar dan akhirnya akan menurunkan fungsi hepar dalam sintesa protein. Albumin
dan globulin yang merupakan bagian dari protein juga akan menurun kadarnya,
( sasongko dan Mushollaeni, 2017).
Faktor lain yang dapat mempengaruhi kadar protein darah adalah pakan
dan lingkungan. pakan yang kurang memadai dan lingkungan yang kurang
mendukung juga menjadi faktor yang mempengaruhi pemeriksaan kimiawi darah.
Umur, jenis kelamin, ras, genetik, tinggi badan, berat badan, kondisi klinik, status
nutrisi dan lingkungan dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium,
(Rahman, dkk 2018 Vol. 12 No. 1).
Peningkatan konsentrasi albumin umumnya disebabkan oleh naik-
turunnya volume darah. Volume albumin dapat bertambah jumlahnya apabila
tekanan osmotik darah menurun karena terjadi pergerakan aliran darah menuju
ruang ektravaskuler yang mengakibatkan albumin akan berdifusi ke luar sirkulasi
darah (Peters, 1995). Penurunan konsentrasi albumin dalam darah tidak hanya
disebabkan oleh penurunan sintesisnya, namun melibatkan proses multifaktor
yang meliputi sintesis, kerusakan albumin, kebocoran pembuluh darah dan
kekurangan asupan protein, (Rahman, dkk 2018 Vol. 12 No. 1).
BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat
III.2 Bahan

III. 3 Prinsip Reaksi

III. 4 MetodeKerja

III. 5 Cara Kerja

.
DAFTAR PUSATAKA

Sujono, dkk 2016 “ Kadar Protein Total dan Ureum Dengan dan Tanpa
Penambahan γ-cyclodextrin Pada Serum Lipemik”: Poltekkes Kemenkes
Yogyakarta.
https://www.teknolabjournal.com/index.php/Jtl/article/download/71/50/

Rahman abdul,dkk 2018 “Albumin and Globulin Levels of Sumatran Elephants’


(Elephas maximus sumatranus) Blood at Elephant Conservation Center of
Saree, Aceh Besar” :Program Studi Pendidikan Dokter Hewan Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
http://jurnal.unsyiah.ac.id/JMV/article/download/4312/8037

Iz Irfan, dkk 2014 Vol 19 No.2 ”Profil Protein Total, Albumin, Globulin dan
Rasio Albumin Globulin Sapi Pejantan” : DepartemenKlinik, Reproduksi
dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB
http://medpub.litbang.pertanian.go.id/index.php/jitv/article/view/1040

Wardhana F. Jati, Dkk 2014 “ Konsentrasi Albumin Dan Globulin Darah Itik
Dengan Perbedaan Imbangan Elektrolit Ransum Yang Dipelihara Intensif
Minim Air” : Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
http://journal.unpad.ac.id/ejournal/article/download/6286/3193

Sasongko dan Mushollaeni, 2017 Vol. 17 No.2 “Efek Paparan Alginat Dalam
Pangan Terhadap Kadar Protein Total, Albumin Dan Globulin
Darah” :Fakultas Pertanian Universitas Tribhuwana T unggadewi Malang
https://jurnal.unitri.ac.id/index.php/buanasains/article/download/819/785