Anda di halaman 1dari 6

Nama : Dahliana

NIM : 05181024
Mata Kuliah : Kimia Fisika

Larutan Ideal dan Larutan Non Ideal


 Larutan Ideal
Larutan ideal didefinisikan sebagai larutan yang memenuhi Hukum Roult. Jika tekanan uap
hasil pengamatan tidak sama dengan tekanan uap berdasarkan perhitungan Hukum Roult, maka
larutan tersebut tidak ideal.
Hukum Raoult yaitu “Tekanan uap parsial dari sebuah komponen di dalam campuran
adalah sama dengan tekanan uap komponen tersebut dalam keadaan murni pada suhu tertentu
dikalikan dengan fraksi molnya dalam campuran tersebut“, dengan persamaan :
PA = xA . PAo
PB = xB . PBo
Tekanan Total (Ptot) = PA + PB
Bila interaksi antarmolekul komponen-komponen larutan sama besar dengan interaksi
antarmolekul komponen-komponen tersebut pada keadaan murni, maka terbentuklah suatu
idealisasi yang disebut larutan ideal. Larutan ideal mematuhi Hukum Roult, yaitu bahwa tekanan
uap pelarut (cair) berbanding tepat lurus dengan fraksi mol pelarut dalam larutan.

 Ciri - Ciri Larutan Ideal


Ciri – ciri larutan ideal :
A. Tidak ada perubahan sifat dari komponen (selain dari pengenceran) ketika zat bercampur
B. Tidak ada panas yg diserap dan dilepaskan
C. Tidak ada penyusutan volume
D. Mengikuti Hukum Raoult
Ciri lain larutan ideal adalah bahwa volumenya merupakan penjumlahan tepat volume
komponen-komponen penyusunnya. Pada larutan non-ideal, penjumlahan volume zat terlarut
murni dan pelarut murni tidaklah sama dengan volume larutan.
Nama : Dahliana
NIM : 05181024
Mata Kuliah : Kimia Fisika

 Larutan Ideal dan Gaya Intermolekuler


Dalam sebuah larutan, beberapa molekul yang berenergi besar dapat menggunakan
energinya untuk mengalahkan daya tarik intermolekuler permukaan cairan dan melepaskan diri
untuk kemudian menjadi uap. Semakin kecil daya intermolekuler, semakin banyak molekul yang
dapat melepaskan diri pada suhu tertentu.

Apabila anda mempunyai larutan kedua, hal yang sama juga terjadi. Pada suhu tertentu,
sebagian dari molekul-molekul yang ada akan mempunyai energi yang cukup untuk melepaskan
diri dari permukaan larutan.

Pada sebuah larutan ideal dari campuran kedua larutan ini, kecenderungan dari dua macam
molekul di dalamnya untuk melepaskan diri tidak berubah. Diagram ini menunjukkan campuran
50/50 dari dua larutan. Yang berarti bahwa hanya ada separuh dari tiap jenis molekul yang
berada di permukaan campuran larutan dibanding jumlah tiap jenis molekul pada permukaan
larutan awalnya. Apabila proporsi dari tiap jenis molekul yang melepaskan diri tetap sama, tentu
saja hanya ada separuh dari tiap jenis molekul yang dapat melepaskan diri dari campuran larutan
pada suatu waktu tertentu.
Nama : Dahliana
NIM : 05181024
Mata Kuliah : Kimia Fisika

Apabila molekul-molekul merah masih mempunyai kecenderungan yang sama untuk


melepaskan diri sebesar sebelumnya, ini berarti daya intermolekuler antara dua molekul merah
persis sama dengan besar daya intermolekuler antara sebuah molekul merah dan sebuah molekul
biru. Apabila daya tersebut berubah, kecenderungan molekul untuk melepaskan diri juga akan
berubah.
Demikian halnya dengan daya antara dua molekul biru dan daya antara sebuah molekul biru
dan sebuah molekul merah. Daya tersebut juga harus sama dan kalau tidak, kecenderungan
molekul biru untuk melepaskan diri juga akan berubah. Apabila anda dapat mengikuti penjelasan
ini, anda akan mengerti bahwa daya tarik intermolekuler antara dua molekul merah, dua molekul
biru dan antara sebuah molekul merah dan sebuah molekul biru akan persis sama dalam
campuran ideal.
Inilah sebabnya mengapa larutan dari campuran seperti hexane dan heptane mendekati
campuran ideal. Mereka memiliki besar molekul yang hampir sama dan mempunyai daya tarik
Van der Waals yang sama di antara mereka. Namun begitu, tetap saja, besar molekul keduanya
tidak persis sama, sehingga walaupun campuran ini mendekati campuran ideal, tetap saja bukan
merupakan larutan ideal.

 Larutan ideal dan perubahan entalpi pada proses pencampuran 


Ketika anda membuat suatu campuran larutan-larutan, anda harus mengalahkan daya tarik
intermolekuler (yang membutuhkan energi) dan membuat daya tarik baru (yang menghasilkan
energi). 
Apabila besar semua daya tarik ini sama, tidak akan ada panas yang dihasilkan atau panas
yang diserap. Ini berarti, campuran ideal dari dua larutan akan mempunyai nol energi entalpi.
Apabila suhu campuran naik atau turun pada saat anda mencampur keduanya, ini berarti
campuran tersebut bukan campuran ideal.

B. Larutan Non Ideal


Nama : Dahliana
NIM : 05181024
Mata Kuliah : Kimia Fisika

Larutan non ideal dapat menunjukkan penyimpangan positif (dengan tekanan uap lebih
tinggi daripada yang diprediksikan oleh hukum Raoult) atau penyimpangan negatif (dengan
tekanan uap lebih rendah). Pada tingkat molekul penyimpangan negatif muncul bila zat terlarut
menarik molekul pelarut dengan sangat kuat, sehingga mengurangi kecenderungannya untuk lari
ke fase uap. Penyimpangan positif muncul pada kasus kebalikkannya yaitu bila molekul pelarut
dan zat terlarut tidak saling tertarik satu sama lain (Oxtoby, 2001).
 Sifat koligatif larutan , dimiliki oleh larutan dengan syarat :
1. larutannya harus encer
2. sifat zat terlarutannya mudah menguap
3. berat molekulnya tidak lebih besar.

 Sifat koligatif larutan meliputi :


1. Penurunan tekanan uap ( PAo - PA)
2. Kenaikan titik didih (Δ Td)
3. pemurunan titik beku (Δ Tf)
4. Tekanan osmose (Π)
 Penurunan Tekanan Uap
Larutan ada2 yaitu :
a. larutan ideal : gaya tarik menarik antara mol yang sejenis = gaya tarik menarik antara mol
yang tidak sejenis
b. Larutan non ideal : gaya tarik menarik antara mol sejenis tidak sama gaya tarik menarik mol
yang tidak sejenis.

Untuk larutan encer berlaku Hukum Roult :


Nama : Dahliana
NIM : 05181024
Mata Kuliah : Kimia Fisika

Tekanan uap pelarut(PoA) dengan fraksi mol pelarut tersebut dalam larutan (XA1)

PA = XA x PoA
Untuk larutan biner berlaku hukum dalton : untuk mencari tekanan totalnya
PT = PA + PB XA = 1 - XB
PA = (1-XB) PoA PoA-PA = XB x PoA
PoA-PA = penurunan tekanan uap yang disebabkan adanya zat terlarut

Kenaikan titik didih (Δ Td) / Δ Tb

Δ Td = m. Kd
Δ Td = T1 – T2

Kd = R To2 m1
Δ HV x 1000

Kd = konstanta kenaikan titik didih


m = molalitas zat terlarut
T1 = titik didih larutan murni
To = titik didih solvent (pelarut)
Δ HV = panas penguapan/moL

Penurunan titik beku


Δ Tf = m x kf
Δ Tf = tf pelarut – tf larutan

Kf = konstanta ketetapan titik beku


m = molalitas zat terlarut
Nama : Dahliana
NIM : 05181024
Mata Kuliah : Kimia Fisika

Tekanan osmose (Π)


Π = Δ HV. Δ Tb . Δ T
To2V

T = suhu (oK)
R = konstanta larutan ideal = 0,0820 lt atm/.oK