Anda di halaman 1dari 1

KONSEP DAN HIPOTESIS

Salah tujuan dari pembangunan peternakan di Indonesia,baik dalam Pelita I (1969-1978)


maupun dalam Pelita III yang akan datang (1979-1983) adalah meningkatkan populasi ternak baik
kuantitas maupun kualitas. Berhasil atau tidaknya usaha yang telah dilakukan ,khususnya dalam
meningkatkan jumlah populasi ternak masing-masing. Bila tingkat perkembangannya positif berarti
populasi ternak yang bersangkutan meningkat,sebaliknya bila tingkat perkembangannya negatif berarti
populasi ternak yang bersangkutan menurun.

Peningkatan populasi ternak ini, baik kualitas maupun kuantitas perlu dilakukan agar
peningkatan permintaan yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk yang disertai oleh
meningkatnya sadar gizi dan mampu gizi masyarakat tidak disambut oleh pengurasan populasi yang ada.
Bila hal ini terjadi artinya peningkatan produksi ,khususnya produksi daging tidak dapat mengimbangi
permintaan sehingga harus dipenuhi oleh pengurasan populasi maka tidak dapat disangsikan bahwa
populasi ternak akan terus menurun dengan tingkat penurunan yang terus meningkat. Hal ini tidak
dapat dibiarkan berlarut-larut sebab dapat mengakibatkan musuhnya populasi ternak.

Semua jenis ternak baik yang dipelihara penghasil susu ataupun untuk tenaga kerja,penghasil
telur dan lebih-lebih yang dipelihara secara khusus untuk penghasil daging,dapat menhasilkan daging.
Lebih-lebih untuk kondisi Indonesia,dimana kualitas daging belum mendapat perhatian konsumen,setiap
jenis ternak yang muda maupun yang tua,setelah dipotong,dagingnya dapat dijual dengan harga yang
relatif sama.

Ternak lokal pada umumnya memiliki ukuran badannya yang relatif lebih kecil namun
menyumbang sekitasr 70% untuk mencukupi kebutuhan konsumsi daging di Indonesia. Sumbangan
ekonomi ternak lokal dalam kenyataannya sangat besar dibandingkan dengan ternak eksotik. Dalam
upaya untuk meningkatkan produktivitas ternak lokal maka perlu dipelajari secara mendalam
karakteristik,potensi serta permasalahan ternak lokal sebagai basis perencanaan ke depan. Berbagai
teknologi cukup tersedia untuk meningkatkan produktivitas ternak lokal,namun penerapannya banyak
tergantung pada nilai komersialnya. Ternak sapi lebih banyak mendapat perhatian dari ternak
kerbau,begitu juga dengan penerapan teknologi reproduksi