Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS JURNAL (TUGAS KAS)

OLEH :
NUR ZEN APRIANTI
077STYC16

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JENJANG S.1
MATARAM
2020
1. Analisis jurnal sistem Respirasi Covid-19
a. Judul jurnal “Tatalaksana klinis infeksi saluran pernapasan akut berat
(SARI) suspek penyakit COVID-19”
b. Ringkasan jurnal
 Latar belakang : penyangkit coronavirus 2019 (COVD-19) adalah
infeksi saluran pernapasan yang di sebabkan oleh coronavirus
yang baru muncul yang pertama kali muncul di wuhan, tingkok,
pada bulan desember 2019. Pengurutan genetika virus ini
mengindikasikan bahwa virus ini berjenis betacoronavirus yang
terkait erat dengan dengan virus SARS. Meskipun sebagian besar
orang yang terjangkitCOVID-19 hanya mengalami penyangkit
yang ringan atau tanpa komplikasi, seitar 14% menderita
penyangkit parah yang memelurkan perawatan rumah sakit dan
dukungan oksigen 5% perlu di masukan ke unit perawatn intensif.
(1) Dalam kasus-kasus parah , COVID-19 dapat diperburuk
dengan sindrom gawat pernapasan akut (ARDS), sepsis dan septic
shock, gagal multiorgan, termkasud gagal ginjal atau gagal jantung
akut (2) Usia lanjut dan penyankit penyerta di laporkan menjadi
factor resiko kematian, dan analisis multivariabel baru
mengonfirmasi usia lanjut, skor SOFA (sequential organ failure
assessment ) dan dimer> 1ug/L saat masuk faselitas di kaitan
dengan kematian yang lebih tinggi studi ini juga mengamati
durasi median deteksi RNA viral selama 20,0 hari (IQR 17,0-
24,0) pada penyintas, tetapi virus COVID-19 masih dapat
terdekteksi hingga kematian pada bukan penyintas. Durasi sheding
virus terlama yang di amati pada penyintas adalah 37 hari.
 Skrining dan triase : pengenalan diri pasien dini oasien SARI
terkait COVID-19
Skrining dan triase : skrining dan isolasi semua pasien suspek
COVID19 pada titik kontak pertamma dengan sistem pelayanan
kesehatan seperti (gawat darurat atau bagian / klinik rawat jalan)
jadikan COVID19 sebagai kemungkinan etiologi untuk pasien
pasien dengan penyankit saluran pernapasan akut dalam kondisi-
kondisi tertentu (lihat tabel 1) triase pasien menggunakan panduan
triase standard an jalankan pengobatan lini pertama.
 Penerapan segera langkah-langkah PPI yang sesuai : PPI adalah
bagian penting dan tidak terpisahkan dalam tatalaksana klinis
pasien
 Pengambilan specimen untik diagnosis labolatorium
 Tatalaksana COVID19 ringan : pengobatan gejala dan monitoring :
pasien dengan penyangkit ringan tidak memelurkan intervensi
rumah sakit, tetapi isolasi di perlukan unntuk mencegah penularan
virus lebih luas sesuai strategi dan sumber daya nasional.
 Tatalaksana COVID19 berat: terapi oksigen dan monitoring,
segera beri beri terapi oksigen tambahan pada pasien SARI dan
gawat pernapasan, hipoksaemia atau renjatan dan target
SpO2>94%.
 Tatalaksana COVID19 berat: pengobatan koinfeksi, beri anti
mikroba empris untuk mengobati semua kemungkinan petogen
penyebab SARI dan sepsis sesegra mungkin, dalam waktu 1 jam
setelah penilaian awal untuk pasien sepsis.
 Tatalaksana COVID19 kritis : sindrom gawat pernapasan akut
(ARDS), kenali kegagalan pernapasan hiposekmik berat jika tidak
ada tanggapan dari pasien gawat pernapasan terhadap terapi
oksigen standard an persiapan dukungan oksigen/ventilasi
lanjutan.
 Tatalaksana penyakit dan COVID19 kritis : pencegahan
komplikasi, terapkan intervensi-intervensi berikut untuk mencegah
komplikasi terkait penyakit kritis, intervensi-intervensi ini di
dasarkan pada panduan survving sepsis atau panduan lain nya dan
secara umum di batasi untuk rekomendasi yang dapat dilakukan
berdasarkan bukti yang menyakitkan.
 Tatalaksana penyakit COVID19 kritis : septik shock, kenali septic
shock pada pasien dewasa suspek atau terkonfirmasi DAN
vasopressor dibutuhkan untuk menjaga MAP>65mmg DAN
laktat>2mmol/L, jika tidak terjadi hipovelemia.
 Terapi- terapi penunjang unntuk covid19 : kortikosteroid
 Merawat pasien perempuan hamil terjankit COVID19
 Merawat pasien anak dan ibu COVID19 : PPI dan menyusui
 Penelitian klinis dan pengobatan spesifik anti COVID19
c. Pembahasan “ dari berbaggai uraian dapat di di jelaskan bahwa penting
nya tenaga kesehatan khususnya para perawat dapat mengklarifikasi
bahwa tanda dan gejala yang dialami pasien sudah memiliki penangan
masing-masing sesuai dengan tanda dan gejala. Berangkat dari panduan
berdasarkan bukti yang di kebangkan oleh panel multidisplin penyedia
layanan kesehatan yang berpengalaman dalam bidang klinis pasien
COVDI-19 dan infeksi virus lainya seperti SARS dan MERS, serta sepsis
dan ARDS. Panduan ini menjadi dasar keperawatan suportif yang di
optimalisasi untuk memastikan kemungkinan bertahan hidup sebaik
mungkin serta mengmukinkan dilakukan perbadingan yang dapat di
percaya antara intervensi-intervensi terapeutik yang masih di teliti dalam
uji acak terkendali
d. Implikasi keperawatan “ catatan untuk pasien dewasa : pasien dewasa
yang menunjukan tanda-tanda darurat (pernapasan terhalang atau apnea,
gawat pernapasan, sianosis sentral, renjatan, koma, atau kejang) perlu
menerima tatalaksana saluran pernapasan dan terapi oksigen untuk
mencapai SpO2>94%. Mulai berikan terapi oksigen 5L/menit dan atur
titrasi untuk mencapai target SpO2>93% selama resuitasi atau gunakan
sungkup tutup muka dengan kantong reservoir (dengan tingkat 10-
15L/min) jika pasien dalam kondisi kritis. Setelah pasien stabil, tergetnya
adalah >90% SpO2 pada pasien dewasa tidak hamil dan >92—95% pada
pasien hamil”. “Catatan untuk pasien anak : pasien anak dengan tanda
tanda darurat ( pernapasan terhalang atau apnea,gawat pernapasan,
sianosis sentral, renjatan, koma, atau kejang) perlu menerima tatalaksan
saluran pernapasan dan terapi oksigen untuk mencapai SpO2>94% jika
CHFtidak menunjukan tanda-tanda darurat, target SpO2 adalah >90%.
Disarankan menggunakan prong hidung (nasal prong) atau kanula hidung
untuk pasien anak yang masih kecil karena lebih adapat diterima. Pantau
dengan teliti tanda-tanda pemburukan klinis pada pasien COVID-19,
seperti kegagalan pernapasan progesif cepat dan sepsis dan segra beri
intervensi perawatan suportif, perhatikan kondisi komorbid pasien untuk
menyesuaikan tatalaksana penyakit kritis, gunakan tatalaksana cairan
konservatif pada pasien SARI jika belum ada bukti renjatan.
2. Analisis jurnal Sistem kardiovaskuler CHF
a. Judul jurnal “ DEEP BREATHING EXERCISE DAN ACTIVE RANGE
PF MOTION EFEKTIF MENURUNKAN DYSPENA PADA PASIEN
CONGESTIVE HEART FAILURE”
b. Ringkasan jurnal : “ Dsypnea merupakan manifestasi klinis congestive
heart failure (CHF) akibat kurang nya suplai oksigen karena penimbunan
cairan di alveoli. Merupakan factor ppenting yang memengaruhi kualitas
hidup pasien. Penimbunan tersebut membuat jantung tidak mampu
memompa darah dengan maksimal. Dampak perubahan terjadi
peningkatan sensasi dyspnea pada otot respiratori. Penaktalaksanaan non
farmakologi berupa tindakan bertujuan menjaga stabilitas fisik,
menghindari perilaku yang dapat memperburuk kondisi dan mendekteksi
gejala awal perburukan gagal jantung. Penyankit jantung dan pembuluh
darah merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Negara maju
maupun berkembang. Penyakit ini menjadi penyebab nomor 1 di kematian
di dunia dengan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 23,3
juta pada tahun 2030.(Yancy,2013; Depkes, 2014) masalah tersebut juga
menjadi masalah kesehatann yang progresif dengan angka mortalitas dan
morbilitas yang tinggi di Indonesia. METODE penelitian yang digunakan
desain quasy ex-priment dengan rancangan pretest-posstest control group
design di RS PKU Muhamadiyah Yogyakarta dan RS PKU Muhamadiyah
gamping Yogyakarta. Tehnik pemilihan responden adalaj dengan metode
stratified random sampling dengan klasifikasi grade CHF NYHA II dan
III. Randomisasi pada kedua stratifikasi tersebut di dapatakan dengan
membagi jumlah sampel dengan jumlah stratifikasi NYHA sehingga
masing-masing klasifikasi NYHA mendapatkan proporsi responden yang
hampir sama. Karakteristik yang di dapatkan dari responden dari rekam
medic dan wawancara kepada pasien. Setelah responden mendatangani
informant concent peneliti melakukan pengukuran dyspnea sebelum
intervensi dengan menggunakan modified borg scale. Nilai dyspnea
antara 0 samapi 10 dengan skor terendah 0 berati pasien tidak ada
kesulitan bernafas dan skor tertinggii adalah 10 yang berate pasien
kesulitan bernafas dan skor tertinggi adalah 10 yang berati pasien
kesulitan bernafas normal.
c. Pembahasan : Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan
distribusi responden sebagian besar adalah perempuan dengan jumlah 18
responden (56,3%0 sehingga sejalan dengan penelitian caroline (2011)
yang menyatakan bahwa penyakit CHF lebbih banyak terjadi pada
perempuan dengan presentasi 57,5% dalm penelitian nya. Perempuan
dengan usia >60 pada umum nya mengalami menopause yang
menyebabkan kolestrol LDL meningkat sehingga perempuan lebih banyak
menderita penyakit jantung. Penyakit hipertensi menjadi penyakit yang
paling banyak di alami oleh responden selain penyakit yang paling banyak
di alami oleh responden selain CHF yang dimiliki. Prosentase mencapai
43% pada kelompok intervensidan 62,5% pada kelompok control. Hal ini
karena peningkatan tekanan darah yang bersifat kronis membuat jantung
menebal dan membesar. Hal ini mengakibatkan irama jantung menjadi
kaku sehingga irama denyut nadi tidak teratur. Pemompaan yang kurang
efektif ini dapat mengakibatkan gagal jantung (Riaz,2012)
d. Implikasi keperawatan : deep breathing exercise merupakan aktivitas
keperawatan yang berfungsi meningkatkan kemampuan otot-otot
pernafasan untuk meningkatkan compliance paru dalam
meningkatkanfungsi ventilasi dan memperbaiki oksigenasi. Oksigenasi
yang adekuat akan menurunkan dyspnea, latihan pernafasan juga akan
meningkatkan relaksasi otot, menghilangkan kecemasan, menyingkirkan
pola aktivitas otot-otot pernafasan yang tidak bergunan dan tidak
tekoordianasi, melambatkan frekuensi pernafasan. Penarfasan yang
lambat, rileks belirama membantu dalam mengontrol pasien saat
mengalami dyspnea. (Westerdahl,2014)
3. a. judul jurnal “upaya pencegahan cedera pada klien idiopatik
trombositopenia purpura di RSUD pandan arang”
b. ringkasan jurnal “ indiopatik trombositpenia purpura merupakan
gangguan autoimun karena adanya antibody terhadap trombosit yang
menyebabkan penghacuran trombosit secara dini sehingga trombosit secara
dini sehingga trombosit darah perifer<150.000/mL. ITP menjadi salah satu
penyebab kelainan perdarahan dengan insidens simptomatik berkisar 3 sampai
8 per 100.000 anak pertahun. DI RSUD pandan arang boyolali pada tahuun
2015 tercatat terdapat 11 anak dari 1869 anak yang mengalami ITP.
Penaktalaksanaan ITP pada anak dapat meliputi tindakan suportif dan terapi
farmakologis. Tindakan suportif penting dalam penaktalaksanaan ITP pada
anak seperti membatasi aktifitas fisik, mencegah terjadinya trauma,
menghindari obat yang menekan produksi trombosit serta memberikan
pengertian kepada orang tua mengenai penyakit pada anak (setyoboedi,2004).
Pada penderita ITP mengalami jumlah trombosiy yang kurang dari normal,
jika penderita ITP mengalami cedera maka akan mudah mengalami
pendarahan karena trombosit yang berperan sebagai factor keunggulan
berkurang dan mempergaruhi proses hemostasis normal (sudoyo,dkk,2009).
Metode studi kasus yang dilakukan pada satu pasien dengan idiopatik
trombositpenia purpura di bangsal eldewes RSUD pandan arang boyoyali.
c. pembahasan : An. A mengalami masalah kesehatan berupa pendarahan
dibawah kulit yang di dasarkan pada anamesis, pemeriksaan penunjang.
Berdasarkan anamesis pada An. A didapatkan perdarahan dibawah kulit,
tampa di pengaruhi trauma sebelum nya, tidak di temukan adanya perdarahan
gusi, perdarahan hidung spontan dan hematuria ( Handayani&
haribowo,2008). Tidak di temukan ada nya perdarahan gusi, perdarahan
hidung spontan dan hematuria yang dapat meningkatkan jumlah trombosit
dengan mengurangi kadar autoantibodi dan mengurangi resiko perdarahan
massif. Dari gambar satu dapat memperjelas bahwa factor yang memicu
autoantibodi tidak di ketahui. Kebanyakan penderita ITP memiliki auto
antibody terhadap glikoprotein yang terdapat pada permukaan trombosit. Pada
gambar satu dijelaskan bahwa glikoprotein IIb/IIa dikenali oleh auntotibodi,
sedangkan antibody yang mengenali glikoprotein IB/IX yang terdapat pada
proses adhesi belum terbentuk pada tahap ini. Trombosit kemudian diselimuti
oleh autoantibodi dan berikatan dengan sel penyaji (makrofag) melalui
reseptor Fcg yang kemudian yang mengalami proses internalisasi dan
degradasi.
d. implikasi keperawatan : asuhan keperawatan di lakukan dalam waktu
3x24 jam. Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis sesuai dengan
rencana keperawatan antara lain mengobservasi kebutuhan keamanan pasien,
memberikan penyeluhan kesehatan tenntang penyebab, tanda dan gejala dan
pencegahan cedera pada ITP, memberikan obat : cefotaxime 250mg, methyl
prednisone 20mg, mengobsevasi tanda-tanda perdarahan, memberikan
informasi ada nya perubahan status kesehatan.