Anda di halaman 1dari 51

PROPOSAL

HUBUNGAN FUNGSI KELUARGA DENGAN TINGKAT DEPRESI


PADA SISWA SMA NEGERI 1 DOMPU

OLEH :
NUR ZEN APRIANTI
077 STYC 16

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JENJANG S.1
MATARAM
2020

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Depresi adalah keadaan abnormal individu yang di tandai dengan

menurun nya mood sikap pesimis, kehilangan spontanitas dan gejala fisik lain

nya Beck davison, neale & kring (dalam devi ananda, 2018). Depresi sering

terjadi pada usia 15 sampai 24 tahun. The anxiety and deperession associatin

of America menuliskan bahwa depresi 18% dari 40 juta populasi terjadi pada

usia 18 tahun ke atas. Prevelensi di indonesia menujukan sebesar 6,1% untuk

usia 15 tahun ke atas atau sekitar 11 juta orang (Liputan6.com)

Hasil studi menyebut remaja dengan usia 12 hingga 17 tahun mengalami

peningkatan prevalensi, dari sebelumnya 8,7 persen pada tahun 2005 menjadi

11,3 persen pada 2014. Untuk kategori dewasa muda dengan usia 18 hingga

25 tahun, peningkatan juga terjadi meskipun lebih rendah, dari 8,8 persen pada

2005 menjadi 9,6 persen pada 2014 (Detik Health,2016)

Salah satu dampak yang dapat ditimbulkan depresi adalah memicu

penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, masalah dengan sekolah,

gangguan makan, rendah diri, kecanduan internet, perilaku sembrono dan

bunuh diri (Intisari onlline). Adapun tanda dan gejala depresi pada remaja

yaitu gangguan pola tidur, menurun nya asensitife, merasa tidak berguna,

kehilangan rasa percaya diri, bersalah, perasaan terbebani (Lubis,2018)

(WHO,2016). Sekitar 350 juta orang atau 20,35% penduduk di dunia

mengalami depresi. Sementara sekitar 61% dari remaja di Indonesia menderita

depresi. Depresi pada remaja mengalami perubahan pada pikiran seperti


prestasi disekolah yang buruk, masalah dalam berkosentrasi, takut mati,

kehilangan minat dan motivasi, saat belajar disekolah berada pada resiko yang

lebih tinggi untuk depresi. Dan berdasarkan hasil riset kesehatan, dr. evy

mengatakan daerah NTB masih tergolong daerah yang memiliki angka

gangguan jiwa berat, gangguan jiwa berat, gangguan mental emosional dan

depresi, sebesar 10% di tahun 2018 (Dinas kominfo NTB)

Salah satu faktor mengapa anak yang depresi rentan bunuh diri adalah

kurangnya pengetahuan orang tua. Jika saja orang tua paham mengenai gejala-

gejala depresi yang ditunjukkan oleh anak, bunuh diri bisa dicegah (detik

Health,2016). Orang tua merupakan pengaruh dan model yang sangat kuat

bagi anak. Menurut Hurlock (dalam ananda, 2018) menyatakan bahwa remaja

yang kurang mendapatkan pengertian, perhatian dan kasih sayang dapat

menyebabkan remaja mengalami stress dan tidak sedikit yang mengalami

depresi. Orang tua yang tidak hadir secara emosional, berada dalam konflik

pernikahan, atau memiliki masalah ekonomi dapat menimbulkan munculnya

depresi pada remaja.

Jurnal Depresi pada Remaja dan Permasalahannya oleh dianovinina Vol

6, No. 1 juni 2018. Hasil penelitian menunjukan bahwa prevelensi mahasiswa

baru yang mengalami depresi adalah 8% dan yang berpotensi depresi sebesar

28%. Pada subjek yang mengalami depresi, jenis kelamin perempuan lebih

besar di banding laki-laki yaitu 7% dan 1%, begitu juga pada subjek yang

berpontensi mengalami deperesi, jenis perempuan juga lebih besar di

bandingkan laki-laki yaitu 24% dan 4%. Pada remaja yang mengalami depresi

menunjukan gejala depresi berupa merasa diri sebagai pribadi yang benar
benar buruk (82%), tidak dapat berkosentrasi sebaik biasanya (65%), tidak

tertarik untuk melakukan apapun (41%) dan terjadi perubahan berat badan

yang cukup drastis (35%). Sedangkan untuk subjek yang berpontensi

mengalami depresi, sebagian besar menujukan gejala depresi berupa tidak

dapat berkosentrasi sebaik biasanya (57%), terjadi perubahan berat badan

yang cukup drastis (38%), merasa sebagai pribadi yang benar benar buruk

(37%), (31%) dan tidak dapat tidur serta terjaga sepanjang malam. Apabila

dilihat dari gejala yang terukur oleh alat ukur CDI yang peneliti gunakan

menunjukan bahwa dari keseluruhan gejala yang tampak lebih tinggi di

bandingkan dengan yang lain adalah negative mood dan anhedonia.

Studi pendahuluan dilakukan di salah satu sekolah menengah di

Kabupaten Dompu. Dari hasil wawancara dengan guru BK/BP, di dapatkan

bentuk pelanggaran yang cenderung dilakukan siswa adalah datang terlambat,

bolos sekolah, ketikdak hadiran (absen), dan rendahnya minat belajar karena

tidak sesuai dengan minat dan bakat, dan mengosumsi minuman keras.

Keterlibatan dengan orang tua terhadap anak, ada beberapa orang tua yang

tidak pernah datang jika di panggil ke sekolah, selain itu ada juga beberapa

oang tua yang langsung memarahi dan menghukum anak jika ia di panggil ke

sekolah karena ketahuan melakukan kesalahan. (Wawancara, 10 Desember,

2019).

Wawancara dengan beberapa siswa juga yang bermasalah 3 orang

mengatakan bahwa ia’ sering bolos karena rasa malas dengan proses belajar

dan mengajar, 5 orang siswa mengatakan bahwa ia’ sering tidak masuk karena

harus membantu ke dua orang tua serta saudara nya dalam hal bekerja dan
menjaga anak. Dan 2 orang siswa mengatakan bahwa mereka sering

meninggalkan kelas di karenakan sedang ada masalah dengan keluarga. Dari

kursioner yang di bagikan peneliti kepada siswa, hasil kursioner terdapat 2

siswa mengalami tingkat depresi berat, dengan skor 46 dan 40 dengan gejala

siswa sudah tidak mampu menjelaskan atau melaporkan situasi yang di

alaminya, siswa mengalami tingkat depresi rendah 2 siswa dengan skor 14

dan 15 tidak mengalami gejala apapun dan masih beraktivitas seperti

biasanya, depresi sedang di alami 6 siswa dengan skor rata- rata 16-23

dengan gejala sulit melakukan aktivitas seperti biasa, sulit mengerjakan Tugas

dan kesulitan berinteraksi dengan keluarga dirumah. Gejala yang sering

muncul pada 10 respoden yaitu merasa bahwa diri dihukum dan minat seks

yang berubah, sesuai dengan total score item yang paling tinggi, yaitu p6

dengan score 15 dan p21 dengan total yang sama yaitu dengan score 15. Hasil

pengukuran, fungsi keluarga juga ada 3 kategori fungsi keluarga. Fungsi

keluarga tinggi 4 dan fungsi keluarga sedang ada 4 dan fungsi keluarga

rendah 2 dari hasil total item fungsi keluarga yang tidak berjalan berada pada

fungsi sosialisasi, fungsi perawatan kesehatan dan fungsi afektif dengan

total item 6 dan 7 yang menunjukan fungsi keluarga siswa tersebut rendah

atau tidak berjalan dengan semestinya,di ukur dengan kursionoer Family

Assesment Device. Hasil mengukur tingkat depresi dan fungsi keluarga

dilampirkan Tabel Master yang dilampirkan (Wawancara, 10 Desember

2019).

Jurnal Fungsi keluarga dan Self Control terhadap kenakalan remaja

oleh Lia Rahmawati Dkk Vol 2 No.2 oktober 2015. Dengan menggunakan
metode kuantitatif dengan subjek penelitian sebanyak 71 siswa SMK, tehnik

sampling yang di gunakan sampling jenuh dengan uji Chi Squar. Berdasarkan

hasil analisis Multivarite Correlation R yang diperoleh 0,639 artinya terdapat

peran yang sigfinikan antara fungsi keluarga dan Self Control terhadap

kenakalan remaja. Peran fungsi keluarga terhadap kenakalan remaja

berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan metode korelasi

Bivarite diperoleh ( r ) sebesar -0,316. Artinya bahwa bila peran fungsi

keluarga kurang maka kenakalan remaja semakin tinggi. Hal ini sesuai

dengan pendapat Schwab, Gray-Ice, dan Prentice (2002) menyebutkan fungsi

keluarga adalah hal yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian dan

pembentukan karakter masing masing individu di keluarga serta kualitas

hidup masyarakat yang lebih luas. Jika keluarga berfungsi dengan baik maka

remaja akan memperoleh pengertian tentang kewajiban, hak-hak dan tangung

jawab atas semua yang dilakukan untuk diri nya dan terhadap orang lain.

Fungsi keluarga akan menjamin keluarga akan menjalankan fungsi-fungsi nya

dalam kehidupan sehari- hari dan terhindar dari kecendrungan kenakalan

remaja.

Fungsi keluarga merupakan kualitas kehidupan keluarga berupa level

sistem maupun subsistem dan berhubungan dengan kesejahtraan,

kompentensi, kekuatan dan kekurangan keluarga. Semakin tinggi fungsi

keluarga maka semakin tinggi pengungkapan diri remaja pada orang tua. Hal

ini didukung oleh jozefiak dan wallander (2016). Bahwa fungsi keluarga

secara signifikan memediasi hubungan longitudinal antara psokotopalogi dan

kualitas hidup keluarga yang merupakan kelompok sosial yang penting bagi
remaja dan menjadi pertimbangan penting saat mencoba mengurangi

psikotopalogi dan meningkatkan kualitas hidup di masa remaja menurut

Joefiak (dalam ananda devi,2016)

Menurut Friedman (dalam Mursafitri Dkk,2015). Mengindentifikasi lima

fungsi dasar keluarga, yaitu fungsi afektif, fungsi sosialisasi, fungsi reproduksi

fungsi ekonomi, dan fungsi keperawatan keluarga. Keluarga di kota besar sulit

untuk dilaksanakan fungsi dan peranan nya secara penuh yang di sebabkan

oleh kecendrungan adanya kesibukan orang tua dan kondisi kehidipan kota

yang membatasi pelaksanaan fungsi keluarga dan peran menurut Cahyo

(dalam Mursafitri Dkk,2015)

Berdasarkan dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian untuk mengetahui apakah ada ‘Hubungan fungsi keluarga dengan

tingkat depresi pada siswa SMA Negeri 1 Dompu

1.2. Rumusan Masalah

Dari uraian di atas peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan fungsi

keluarga dengan tingkat depresi siswa SMA Negeri 1 Dompu?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Mengindentifikasi hubungan fungsi keluarga dengan tingkat depresi

pada siswa SMA Negeri 1 Dompu.


1.3.2. Tujuan khusus

1. Mengetahui gambaran fungsi keluarga siswa di SMA Negeri 1

Dompu.

2. Mengetahui tingkat depresi siswa SMA Negeri 1 Dompu.

3. Menganalisa hubungan fungsi keluarga dengan tingkat depresi

siswa di SMA Negeri 1 Dompu.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Menambah khazanah keilmuan yang dapat di jadikan sebagai

refrensi bagi penelitian selanjutnya.

2. Memahami ilmu tentang fungsi keluarga

3. Memahami ilmu tentang depresi pada remaja

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi dinas kesehatan

Sebagai bahan masukan dan informasi dalam pengambilan kebijakan

untuk pengembangan program kesehatan khusus nya remaja dengan

tingkat depresi.

2. Bagi sekolah

Hasil penelitian dapat di gunakan sebagai informasi dan pertimbangan

bagi SMA Negeri 1 Dompu melalui guru BK/BP untuk mengarahkan

dan membimbing remaja supaya kebutuhan nya terpenuhi dan

kepribadian nya berkembang dengan kea rah yang lebih baik.


3. Bagi profesi keperawatan

Mampu menambah pemahaman mengenai tingkat depresi pada remaja

serta keberfungsian keluarga

4. Bagi remaja

Dapat mengetahui dan menghindari tanda dan gejala serta menghindari

faktor depresi

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Peneliti akan meneliti Hubungan fungsi keluarga dengan tingkat depresi

pada siswa SMA Negeri 1 Dompu. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis

fungsi keluarga serta tingkat depresi siswa SMA Negeri 1 Dompu, alat ukur

yang digunakan yaitu skala/kursioner fungsi keluarga (family assement

device (FAD) dan mengunakan kursioner Beck depression inventory-II.

yang di kemukakan oleh Epstein Mengukur tingkat depresi remaja. Desain

penelitian cross sectional study. Dengan metode korelasi. Populasi

penelitian ini adalah semua siswa kelas XII yang akan menghadapi ujian

nasional yang berjumlah 253 siswa.

1.6. Keaslian Penelitian

No Judul Metode Analisis Persamaan Perbedaan


penelitian / penelitian data
penulis
1. Fungsi Metode Analisis di Menggunak Tempat,
keluarga dan kuantitatif lakukan an metode jumlah
Self Control subjek dengan korelasional populasi
terhadap penelitian Multivate , dengan serta kriteria
kenakalan sebanyak Correlation megunakan independed
remaja 71 siswa ujiChi di dipenden
Erdina SMK X di Squar. tehnik
indarwati,Dkk, Jakarta pengambilan
2019 Utara. sample,meto
Tehnik de penelitian
sampling dan desain
yang di penelitian
gunakan serta tehnik
adalah analisis data
sampling
jenuh.
Metode
yang di
gunakan
untuk
menganalis
is data
adalah
Bivarite
Correlatio
n dan
Multivarit
e
Correlatio
n
2. Hubungan Desain Analisa Menggguna Pengambilan
dukungan penelitian univariat kan motode data rentan
keluarga yang di dan korelasional umur,
dengan tingkat gunakan bivariate , subbjek Tempat,
depresi remaja adalah menggunak yan di jumlah
di lembaga deskriptif an chi gunakan populasi
pemasyarakata korelasi square. remaja, serta kriteria
tan dengan independen
Lia rahmawati, pendekatan dan dipenden
Dkk,2015 Cross Desain
Sectional penelitian,wa
sampel ktu tempat,
yang di metode
gunakan penelitian
berjumlah serta sample
46 remaja, yang di
metode gunakan
pengambil
an sample
yang di
gunakan
adalah
total
sampling.
Alat yang
pengumpul
an data
berupa
kursioner.
Analisa
data yang
di gunakan
adalah
analisa
univariat
dan
bivariate,
analisa
bivariate
mengguna
kan chi
square
3. Depresi pada Purposive Menggguna Menggunak Pengambilan
remaja : gejala sampling kan an metode data rentan
dan partisipan Distribusi kuantitatif umur,
permasalahan adalah frekuensi deskriptif Tempat,
nya remaja jumlah
Ktut mahasiswa populasi
Dianovinina, baru di serta kriteria
2018 universitas independed
Surabaya di dipenden
rentan usia metode serta
18-19 analisis data,
tahun tidak ada
kriteria
khusus
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Fungsi keluarga

2.1.1. Definisi Fungsi keluarga

Fungsi keluarga adalah ukuran dari bagaimana sebuah keluarga

beroperasi sebagai unit dan bagaiamana anggota keluarga berinteraksi

satu sama lain. Hal ini mencerminkan gaya pengasuhan, konflik

keluarga, dan kualitas hubungan keluarga. Fungsi keluarga

mempengaruhi kapasitas kesehatan dan kesehjetraan seluruh anggota

keluarga (Families,2010).

Keluarga merupakan perkumpulan dua atau lebih individu yang

terikat oleh hubungan darah ataupun adopsi, dan setiap anggota

keluarga saling berinteraksi satu dengan lain nya. Sedangkan menurut

UU No. 52 tahun 2009, mendifinisikan keluarga sebgai unit terkecil

dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya. Atau ayah

dan anaknya, atau ibu dan anakya (Wirdhana et al,2012)

Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi

perkembangan individu, karena sejak kecil anak tumbuh dan

berkembang dalam lingkungan keluarga. Karena itulah peranan orang

tua menjadi amat sentral dan sangat besar bagi pertumbuhan dan

perkembangan anak, baik itu secara langsung maupun tidak langsung

(Ariani,2009)

11
Depkes RI (1998) mengemukakan alasan keluarga sebagai salah

satu unit dalam pelayanan kesehatan lainya adalah :

1. Keluarga merupakan unit terkecil dari komunitas masyarakat,

keluarga merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan

masyarakat. dari keluarga yang sehat akan tercipta komunitas yang

sehat, demikian sebalik nya.

2. Keluarga sebagai kelompok yang dapat menimbulkan, mencegah,

mengabaikan atau memperbaiki masalah kesehatan yang ada. Jika

salah satu anggota keluarga sakit atau mengalami masalah

kesehatan, maka akan mempengaruhi kesehatan anggota keluarga

secara keseluruhan, hal tersebut lebih Nampak pada kasus dimana

salah satu anggota keluarga ada yang mengalami penyakit menular,

maka seluruh anggota keluarga memiliki potensi untuk mengalami

hal yang sama

3. Masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan. Misal nya ibu

hamil mengalami kurang gizi, akan mengalami penurunan daya

tahan tubuh sehingga mudah terserang penyangkit, pada akhirnya

mudah mengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin yang

dikandungnya dan seterusnya

4. Dalam menyelesaikan masalah kesehatan, keluarga sebagai

pengambil keputusan. Keluarga pada akhirnya yang akan

menentukan apakah masalah kesehatan akan di hilangkan, di biarkan

atau bahkan mendatangkan masalah kesehatan lain, sehingga dalam


hal ini kita penting untuk mempengaruhi keluarga untuk mengambil

keputusan yang tepat terhadap masalah kesehatan yang di alami.

5. Keluarga merupakan perantara yang efekif dan, mudah untuk

mengatasi berbagai masalah kesehatan masyarakat.

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat di simpulkan secra

umum bahwa keluarga itu terjadi jika kalau ada

a. ikatan atau persekutuan (perkawinan/kesepakatan)

b. hubungan darah

c. ikatan emosional

d. tinggal bersama dalam satu atap

e. ada peran masing-masing anggota keluarga

f. anggota keluarga berinterkasi satu sama lain

g. mempunyai tujuan

2.1.2. Tujuan dasar keluarga

Karena keluarga merupakan unit dasar dari masyarakat. Unit

dasar ini yang memilki pengaruh yang begitu kuat terhadap

perkembangan individu-individu yang dapat menentukan keberhasilan

kehidupan individu tersebut. Keluarga berfungsi sebagai perantara

antara masyarakat dan individu. Yakni mewujudkan semua harapaan

dan kewajiban masyarakat dengan memenuhi kebutuhan setiap

anggota keluarga serta menyiapakan peran anggotanya menerima

peran di masyarakat.

Keluarga juga merupakan sistem terbuka sehingga dipengaruhi

oleh supra sistemnya yaitu lingkungan nya, lingkungan nya disini


adalah masyarakat dan sebaliknya sebagai subsistem dari lingkungan

(masyarakat). Oleh karna itu betapa pentingnya peran dan fungsi

keluarga membentuk manusia sebagai anggota masyarakat yang sehat

biospsikososial dan spiritual. Hal itu terlepas bahwa setiap anggota

keluarga memiliki kebutuhan dasar baik yang menyangkut kebutuhan

fisik, sosial. Sebuah keluarga di harapkan dapat bertanggung jawab

untuk memenuhi kebutuhan anggota nya yang beraneka ragam, pada

saat yang bersamaan masyarakat mengharapkan setiap anggota

memenuhi kewajiban-kewajiban sebagai anggota masyarakat.

2.1.3. Struktur keluarga

Struktur keluarga menggambarkan bagaimana keluarga

melaksanakan fungsi keluarga di masyarakat.ada beberapa strukur

keluarga yang ada di Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam, di

antaranya adalah:

1. Patrilineal

Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah

dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu di susun melalui

jalur ayah.

2. Matrilinear

Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah

dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu di susun melalui

jalur ibu.
3. Matrilokal

Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah

ayah.

4. Keluarga kawin

Adalah hubungan suami istri sebgai dasar bagi pembinaan keluarga,

dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena

adanya hubungan dengan suami atau istri.

1) Ciri-ciri struktur keluarga

a. Terorganisasisaling berhubungan, salingketergantungan

antara anggota keluarga

b. Ada keterbatasan setiap anggota keluarga memiliki

kebebasan, tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam

menjalangkan fungsi dan tugas nya masing-masing

c. Ada perbedaan dan kehususan setiap anggota keluarga

mempunyai peranan dan fungsi masing- masing

2) Struktur peran (role)

Peran menujukan pada beberapa set perilaku yang bersifat

homogen dalam situasi sosial, peran biasanya menyangkut posisi

dan posisi mengidentifikasi status atau tempat seseorang dalam

suatu sistem sosial tertentu.

3) Struktur nilai (value)

Nilai adalah sistem ide-ide, sikap dan keyakinan yang

mengikat anggota keluarga dalam budaya tertentu, sedangkan

norma adalah perilaku yang diterima padalingkungan sosial


tertentu. Sistem nilai keluarga di anggap sangat memperngaruhi

nilai-nilai masyarakat. Sebuah nilai-nilai ini akan menentukan

bagaimana keluarga mengatasi masalah kesehatan dan stressor-

stressor lain.

4) Proses komunikasi

Komunikasi keluarga merupakan suatu proses simbolik,

tranksional untuk menciptakan dan mengukapkan pengertian

dalam keluarga. Komunikasi yang jelas dan fungsional dalam

keluarga merupakan saran penting untuk mengembangkan

makna diri.

a. Komunikasi fungsional dalam keluarga

Komunikasi keluarga dipandang sebagai kunci

keberhasilan keluarga. Komunikasi dalam keluarga yang sehat

merupakan proses dua arah yang dinamis, sehingga tercipta

interaksi fungsional.

b. Komunikasi disfungsional dalam keluarga

Di artikan sebagai pengiriman dan penerimaan isi dari

pesan yang tidak jelas, tidak langsung atau sepadan, faktor

utama sebagai penyebab nya adalah harga diri keluarga,

khusus nya orang tua rendah penyebab rendah dari diri

sendiri, perlu persetujuan total kurang nya empati.

5) Struktur kekuasaan (power)

Kekuasaan keluarga adalah kemampuan individu untuk

mengontrol, mempengaruhi dan merubah tingkah laku anggota


keluarga. Komponen utama dari kekuasaan keluarga adalah

pengaruh dan pengambilan keputusan. Pengaruh sinonim dengan

kekuasaan yaitu tingkat penggunaan tekanan oleh anggota

keluarga dan berhasil dalam memaksakan pandangan nya,

sedangkan pengambilan keputusan menunjukan pada proses

percapaian kesepakatan dan persetujuan anggota keluarga untuk

melakukan serangkaian tindakan atau menjaga status quo.

Bentuk-bentuk kekuasaan yang lazim terjadi dalam keluarga

adalah :

a. Kekuasaan yang syah

b. Kekuasaan tak berdaya atau putus asa

c. Kekuasaan referen

d. Kekuasaan sumber/ahli

e. Kekuasaan pengahrgaan

f. Kekuasaan memaksa

g. Kekuasaan efekrif

h. Kekuasaan menejemn ketegangan

Dalam perkembanganya kekuasaan dipengaruhi oleh :

hirarki kekuasaan keluarga, tipe keluarga, koalisi, jaringan

komunikasi, kelas sosial, tahap perkembangna keluarga, latar

belakang budaya dan agama, variable individu dan

ketergantungan emosi.
2.1.4. Fungsi keluarga

Berkaitan dengan peran keluarga yang bersifat ganda, yakni satu

sisi keluarga berperan sebgai matriks bagi anggotanya, disisi lain

keluarga harus memenuhi tuntutan dan harapan masyarakat menurut

Friedman (Harmoko,2013) mengidentifikasi lima fingsi dasar

keluarga, yakni :

1. Fungsi afektif

Yang berhubungan dengan fungsi internal keluarga yang

merupakan basis kekuatan dari keluarga. Fungsi afektif berguna

untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilana fungsi

afektif tampak melalui keluarga yang bahagia. Anggota keluarga

mengembangkan konsep diri yang positif, rasa dimiliki dan

memiliki, rasa berati serta merupakan sumber kasih sayang,

reinforcement dan support dipelajari dan di kembangkan melalui

interaksi dalam keluarga.

2. Fungsi sosialisasi

Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang di

alami individu yang mengahasilkan interkasi sosial dan belajar

berperan dalam lingkungan social menurut Friedman

(Hamoko,2013) sedangkan soekanto (2002) mengemukakan dalam

sosialisasi adalah suatu proses dimana masyarakat yang baru

mempelajari norma-norma masyarakat dimana dia menajadi

anggota. Sosialiasasi di mulai sejak individu dilahirkan dan berakhir

setelah meninggal. Keluarga merupakan tempat dimana individu


melakukan sosialisasi. Tahap perkembangan individu dan keluarga

akan dicapai melalui interkasi atau hubungan yang diwujudkan

dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, memiliki

nilai/norma, budaya dan prilaku melalui interaksi dalam keluarga

sehingga individu mampu berperan di masyarakat.

3. Fungsi reproduksi

Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan

meningkatkan sumber daya manusia. Dengan adanya program

keluarga berencana, maka fungsi ini sedikit dapat terkontrol.

Namun disisi lain banyak kelahiran yang tidak di harapkan atau di

luar ikatan perkawinan sehingga lahir nya keluarga baru dengan

satu orang tua (single parent)

4. Fungsi ekonomi

Untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti makanan,

pakaian dan rumah, maka keluarga memelurkan sumber keuangan.

Fungsi ini sulit untuk dipenuhi oleh keluarga dibawah garis

kemiskinan (Gakin atau pra keluarga sejatehra). Perawat

berkontribusi untuk mencari sumber-sumber di masyarakat yang

dapat digunakan keluarga meningkatkan status kesehatan mereka.

5. Fungsi perawatan kesehatan

Fungsi lain keluarga adalah perawatan kesehatan. Selain keluarga

menyediakan makanan, pakaian dan rumah, keluarga juga

berfungsi melakukan asuhan kesehatan terhadap keluarga nya baik

untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan memelurkan


bantuan atau pertolongan tenaga profesional. Kemampuan ini

sangat mempengaruhi status kesehatan individu dan

keluarga.Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan

kesehatan terhadap anggotanya dapat dilihat dari tugas kesehatan

keluarga yang dilaksanakan. Tugas kesehatan keluarga tersebut ada

menurut Friedman (Hamoko,2013) :

a. Mengenal masalah kesehatan

b. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan

c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit

d. Mempertahankan suasana rumah yang sehat

e. Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat.

Kelima tugas kesehatan tersebut saling terkait dan perlu dilakukan

oleh keluarga. Perawat perlu melakukan pengkajian untuk

mengetahui sejauh mana keluarga dapat melaksanakan kelima tugas

tersebut dengan baik, selanjutnya memberikan bantuan atau

pembinaan terhadap keluarga untuk memenuhi tugas kesehatan

keluarga tersebut.

2.1.5. Tugas keluarga

Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut

1. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggota keluarga nya

2. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga

3. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan

kedudukan nya masing-masing

4. Sosialisasi antar anggota keluarga


5. Pengaturan jumlah anggota keluarga

6. Membangkitkan dorongan dan semnagat para anggotanya.

2.1.6. Ciri-ciri keluarga

Menurut Robert Mac Iver dan Charles Horton

1. Keluarga merupakan hubungan perkawinan

2. Keluarga membentuk suatu kelembagaan yang berkaitan dengan

hubungan perkwinan yang sengaja dibentuk atau dipelihara

3. Keluarga mempuanyai suatu system tata nama (nomen clatur)

termaksud perhitungan garis keturunan

4. Keluarga mempunyai fungsi ekonomi yang dibentuk oleh anggota-

anggotanya berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai

keturunan dan membesarkan anak.

5. Keluarga merupakan tempat tinggal bersama, rumah ataupun rumah

tangga.

2.2. Konsep Depresi

2.2.1. Definisi Depresi

Depresi adalah kata yang memiliki banyak nuansa arti.Sebagian

besar di antara kita pernah merasa sedih atau jengkel, menjalani

kehidupan yang penuh masalah,merasa kecewa, kehilangan dan

frustasi, yang dengan mudah menimbulkan ketidakbahagiaan dan

keputuasaan. Namun, secara umum prasaan demikian itu cukup normal

dan merupakan reaksi sehat yang berangsung cukup singkat dan

mudah di halau (Lubis,2018)


Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di

tengah masyarakat. Berawal dari stress yang tidak diatasi, maka

seseorang bisa jatuh ke fase depresi. Penyakit ini kerap kali diabaikan

karena di anggap bisa hilang sendiri tampa pengobatan.

Menurut Rattus (dalam Lubis,2018) menyatakan Orang yang

mengalami depresi umumnya mengalami gangguan yang meliputi

keadaan emosi, motivasi, fungsional, dan gerakan tingkah laku

kognisi. Menurut Atkinson (1991) depresi sebagai suatu gangguan

Mood yang dicirikan takada harapan dan patah hati, ketikberdayaan

yang berlebihan, tak mampu kosentrasi, tak punya semangat hidup,

selalu tegang, dan mencoba bunuh diri.

2.2.2. Faktor penyebab terjadi nya depresi

Seperti halnya penyakit lain, penyebab depresi yang

sesungguhnya tidak dapat diketahui secara pasti namun telah

ditemukan sejumlah faktor yang dapat memengaruhinya. Seperti

halnya dengan gangguan lain, ada penyebab biogenetis dan sosial

lingkungan yang diajukan menurut BDI

1. Faktor Fisik

a. Faktor genetik

Seseorang yang dalam keluarganya diketahui menderita depresi

berat memiliki resiko lebih besar menderita gangguan depresi

daripada masyarakat pada umumnya. Gen berpengaruh dalam

terjadinya depresi, tetapi ada banyak gen di dalam tubuh kita dan

tidak ada seorangpun peniliti yang mengetahui secara pasti


bagaimana gen bekerja. Dan tidak ada bukti langsung bahwa ada

penyakit depresi yang disebabkan oleh faktor keturunan.

Seseorang tidak akan menderita depresi hanya karena ibu, ayah,

atau saudara menderita depresi, tetapi risiko terkena depresi

meningkat. Gen lebih berpengaruh pada orang-orang yang

punya periode dimana mood mereka tinggi dan mood rendah

atau gangguan bipolar. Tidak semua orang bisa terkena depresi,

bahkan jika ada depresi dalam keluarga, biasanya diperlukan

suatu kejadian hidup yang memicu terjadinya depresi.

b. Susunan kimia otak dan tubuh

Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang

peranan yang besar dalam mengendalikan emosi kita. Pada

orang yang depresi ditemukan adanya perubahan dalam jumlah

bahan kimia tersebut. Hormone noradrenalin yang memegang

peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktivitas tubuh,

tampaknya berkurang pada mereka yang mengalami depresi.

Pada wanita, perubahan hormon dihubungkan dengan kelahiran

anak dan menopause juga dapat meningkatkan resiko terjadinya

depresi. Secara biologis, depresi terjadi di otak. Otak manusia

adalah pusat komunikasi paling rumit dan paling canggih. 10

miliar sel mengeluarkan milirian pesan tiap detik. Ketika

neotransmitter berada pada tingkat yang normal, otak bekerja

dengan harmonis. Kita merasa baik, punya harapan dan tujuan.

Walaupun kadang kita mengalami kesenangan dan kesusahan


hidup, mood secara keseluruhan adalah baik.

c. Faktor usia

Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa golongan usia

muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena

depresi. Hal ini dapat terjadi karena pada usia tersebut terdapat

tahap-tahap serta tugas perkembangan yang penting, yaitu

peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja, remaja ke

dewasa, masa sekolah ke masa kuliah atau bekerja, serta masa

pubertas hingga ke pernikahan.Namun sekarang ini usia rata-

rata penderita depresi semakin menurun yang menunjukkan

bahwa remaja dan anak-anak semakin banyak yang terkena

depresi. Survei masyarakat terakhir melaporkan adanya

prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depresi pada

golongan usia dewasa muda yaitu 18-44.

d.Gender

Wanita dua kali lebih sering terdiagnosis menderita depresi

daripada pria. Bukan berarti wanita lebih mudah terserang

depresi, bisa saja karena wanita lebih sering mengakui adanya

depresi daripada pria dan dokter lebih dapat mengenali depresi

pada wanita.

e. Gaya hidup

Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat berdampak pada

penyakit, misalnya penyakit jantung juga dapat memicu

kecemasan dan depresi. Tingginya tingkat stress dan


kecemasan digabung dengan makanan yang tidak sehat dan

kebiasaan tidur serta tidak olahraga untuk jangka waktu yang

lama dapat menjadi faktor beberapa orang mengalami depresi.

Penelitian menunjukkan bahwa kecemasan dan depresi

berhubungan dengan gaya hidup yang tidak sehat pada pasien

berisiko penyakit jantung.

f. Penyakit fisik

Penyakit fisik dapat menyebabkan penyakit. Perasaan terkejut

karena mengetahui kita memiliki penyakit serius dapat

mengarahkan pada hilangnya kepercayaan diri dan

penghargaan diri, juga depresi. Beberapa penyakit

menyebabkan depresi karena pengaruhnya terhadap tubuh.

Depresi dapat menyertai penyakit Parkinson dan multiple

sclerosis karena efeknya terhadap otak. Penyakit yang

mempengaruhi hormon dapat menyebabkan depresi.

g.Obat-obatan

Beberapa obat-obat untuk pengobatan dapat menyebabkan

depresi. Namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan

depresi, dan menghentikan pengobatan dapat lebih berbahaya

daripada depresi.

h.Obat-obatan terlarang

Obat-obatan terlarang telah terbukti dapat menyebabkan

depresi karena memengaruhi kimia dalam otak dan

menimbulkan ketergantungan.
i. Kurangnya cahaya matahari

Kebanyakan dari kita merasa lebih baik di bawah sinar

matahari daripada hari mendung, tetapi hal ini sangat

berpengaruh pada beberapa individu. Mereka baik-baik saja

ketika musim panas tetapi menjadi depresi ketika musim

dingin. Mereka disebut menderita seseonal affective disorder

(SAD).SAD berhubungan dengan tingkat hormon yang disebut

melatonin yang dilepaskan dari kelenjar pineal ke otak.

Pelepasannya sensitif terhadap cahaya, lebih banyak

dilepaskan ketika gelap.

2. Faktor Psikologis

a. Kepribadian

Aspek-aspek kepribadian ikut pula mempengaruhi tinggi

rendahnya depresi yang dialami serta kerentanan terhadap

depresi. Ada individu-individu yang lebih rentan terhadap

depresi, yaitu yang mempunyai konsep diri serta pola piker

yang negatif, pesimis.

b. Pola piker

Pada tahun 1967 psikiatri Amerika Aaron Beck

menggambarkan pola pemikiran yang umum pada depresi

dan dipercaya membuat seseorang rentan terkena depresi.

Secara singkat, dia percaya bahwa seseorang yang merasa

negatif mengenai diri sendiri rentan terkena depresi.

Kebanyakan dari kita punya cara optimis dalam berpikir


yang menjaga kita bersemangat. Kita cenderung untuk tidak

mempedulikan kegagalan kita dan memerhatikan kesuksesan

kita. Beberapa orang yang rentan terhadap depresi berpikir

sebaliknya. Mereka tidak mengakui kesuksesan dan berfokus

pada kegagalan- kegagalan mereka.

c. Harga diri

Harga diri merupakan salah satu faktor yang sangat

menentukan perilaku individu. Setiap orang menginginkan

penghargaan yang positif terhadap dirinya, sehingga

seseorang akan merasakan bahwa dirinya berguna atau

berarti bagi orang lain meskipun dirinya memiliki kelemahan

baik secara fisik maupun mental. Menurut penelitian,

rendahnya harga diri pada remaja memengaruhi seorang

remaja untuk terserang depresi. Depresi dan self-esteem

dapat dilihat sebagai lingkaran setan. Ketidakmampuan

untuk menghadapi secara positif situasi sosial dapat

menyebabkan rendahnya self-esteem yang mengakibatkan

depresi. Depresi nantinya menyebabkan ketidakmampuan

untuk berhubungan dengan orang lain dan diterima dalam

kelompok sosial yang menyebabkan perasaan rendahnya

self-esteem.
d. Stres

Kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, pindah

rumah, atau stres berat yang lain dianggap dapat

menyebabkan depresi. Reaksi terhadap stress sering kali

ditangguhkan dan depresi dapat terjadi beberapa bulan

sesudah peristiwa itu terjadi. Berhm (Lubis, 2009: 80)

menyatakan bahwa depresi dapat diakibatkan oleh adanya

peristiwa-peristiwa negatif yang menyebabkan perubahan,

pengalaman penuh stress yang ekstrem seperti bencana alam,

perang, kematian, pertengkaran, perceraian, serta

mikrostressor yang meliputi aktivitas-aktivitas sehari-hari.

e. Lingkungan keluarga

Kehilangan orang tua ketika masih anak-anak juga

mempengaruhi terjadinya depresi. Kehilangan yang besar ini

akan membekas secara psikologis dan membuat seseorang

lebih mudah terserang depresi, tetapi di satu sisi mungkin

saja membuat seseorang lebih tabah. Akhibat psikologis,

sosial, dan keuangan yang ditimbulkan oleh kehilangan

orang tua yang lebih penting daripada kehilangan itu sendiri.

f. Penyakit jangka panjang

Ketidaknyamanan, ketidakmampuan, ketergantungan, dan

ketidakamanandapat membuat seseorang cenderung menjadi

depresi. Kebanyakan dari kita suka bebas dan suka bertemu

orang-orang. Orang yang sakit keras menjadi rentan terhadap


depresi saat mereka dipaksa dalam posisi dimana mereka

tidak berdaya atau karena energi yang mereka perlukan

untuk melawan depresi sudah.

2.2.3. Perbedaan depresi dengan gangguan lainnya

Sangat penting bagi kita untuk mengetahui perbedaan antara

depresi dan gangguan psikologis lainnya, seperti stress dan kecemasan

agar kita dapat menetukan bentuk gangguan psikologis yang sedang di

derita sehingga dapat memperoleh terapi yang baik. Depresi dan

kecemasan

Depresi sulit di bedakan dari gangguan cemas (anxiety).

Penderita mungkin tampil dengan kecemasan yang mencolok sehingga

gejala-gejala depresi yang lebih ringan seperti kehilangan selera

makan, gangguan tidur, dan capai sering kali terlewatkan. Kecemasan

adalah tanggapan dari sebuah ancaman, nyata maupun khayal.Individu

mengalami kecemasan karena seseorang yang mengahadapi masalah

penting dan belum mendapat penyelesaian yang pasti. Kecemasan juga

bisa berkembang menjadi suatu gangguan jika menimbulkan ketakutan

yang hebatdan menetap pada individu tersebut. Salah satu definisi dari

kecemasan adalah takut akan kelemahan. Kecemasan adalah perasaan

yang anda alami ketika berpikir tentang sesuatu tidak menyenangkan

yang akan terjadi. Menurut Prof. Robert Priest (dalam Lubis, 2018 )

sumber-sumber umum dari kecemasan yaitu

1. Pergaulan

2. Kesehatan
3. Anak-anak

4. Kehamilan

5. Menuju usia tua

6. Kegoncangan rumah tangga

7. Pekerjaan

8. Kenaikan pangkat

9. Kesulitan keuangan

10. Problem-problem

2.2.4. Gejala depresi

Menurut Beck Depression Iventory seacara garis besar gejala-

gejala yang nampak pada penderita depresi dapat diklafisikasikan

menjadi 4 yaitu:

1. Simton afektif meliputi, kesedihan hilangnya kesenangan, apatis,

hilang nya perasaan cinta terhadap orang lain, hilang nya respon

terhadap kegembiraan dan kecemasan.

2. Simton motivasional meliputi, adanya harapan untuk melarikan diri

dari kehidupan, (biasanya ada keinginan untuk bunuh diri)

keinginan untuk menghindari dari masalah, meskipun hanya

masalah kehidupan sehari- hari.

3. Simton kognitif meliputi, kesulitan kosentrasi, perhatian pada

masalah sempit, kesulitan mengingat, adanya pola piker yang

menyimpang (cognitive distortion) yang meliputi pandangan

negative terhadap diri nya sendiri, dunia dan masa depan nya,
persepsi keputusaan, hilang nya harga diri, rasa bersalah dan

penyiksaan terhadap diri nya sendiri.

4. Simton perilaku merupakan, merupakan refleksi simton-simton

meliputi: kepastian menarik diri dari hubungan dengan orang lain.

Simton fisik atau vegetative meliputi: gangguan tidur, gangguan

nafsu makan (meningkat atau bahkan nafsu makan menurun)

2.2.5. Jenis- jenis depresi

Menurut klasifikasi organisasi kesehatan dunia WHO (dalam

http://www.workingwell.org.au/) berdasarkan tingkat penyakitnya,

depresi di bagi menajadi :

1. Mild depression/minor depression dan dysthymic discorder

Pada depresi ringan, Mood yang rendah datang dan pergi dan

penyakit datang setelah kejadian stressfull yang spesifik. Individu

akan merasa cemas dan juga tidak bersemangat. Perubahan gaya

hidup biasanya dibutuhkan unntuk mengurangi depresi jenis ini.

1. Minor depression di tandai dengan adanya dua gejala pada

depression episode (lihat kriteria DSM IV-TR untuk mayor

depresi) namun tidak lebih dari lima gejala depresi ringan dalam

jangka waktu yang lama sehingga seseorang tidak adapa bekerja

optimal. Dirasakan minimal dalam jangka waktu dua tahun.

2. Moderate depression pada depresi sedang Mood yang rendah

berlangsung terus dan individu mengalami simtom fisik juga

walaupun berbeda-beda tiap individu. Perubahan gaya hiudp


bisa saja tidak cukup dan bantuan diperlukan untuk

mengatasinya.

3. Severe depression/major depression depresi berat adalah

penyakit yang tingkat depresinya parah. Individu akan

mengalami gangguan dalam kemampuan unntuk bekerja, tidur,

makan, dan menikmati hal yang menyenangkkan dan penting

untuk mendapatkan bantuan medis secepat mungkin. Depresi ini

dapat muncul sekali dua kali atau beberapa kali selama hidup.

Major depression ditandai dengan adanya lima simtom yang

ditunjukan dalam major depression episode dan berlangsung

selama 2 minggu berturut turut.

2.2.6. Depresi pada remaja

Depresi pada remaja sebagian besar tidak terdiagnosis sampai

akhirnya mereka mengalami kesulitan yang serius dalam sekolah,

pekerjaan dan penyesuian pribadi yang sering berlanjut pada masa

dewasa menurut Black man (lubus,2018). Lebih jauh dikatakan alasan

mengapa depresi pada remaja luput dari diagnosis adalah karena masa

remaja adalah masa ketakutan emosi, instropeksi yang berlebihan,

kisah yang besar, sensitivitas yang tinggi. Masa remaja adalah masa

pemberontakan dan percobaaan tingkah laku. Tantangan dari psikolog

adalah untuk mrngindentifkasi simtomatologi depresi pada remaja

mungkin bersembunyi dalam badai perkembangan (Siswanto,2007).

Depresi juga bisa timbul akibat dari kejadian yang tidak

menyenangkan, misal nya kematian dari anggota keluarga atau teman,


putus cinta, atau kegagalan di sekolah. Remaja yang memiliki tingkat

kepercayaan diri yang rendah, selalu tidak puas dengan diri sendiri,

atau merasa tidak berdaya ketika suatu kajadian buruk lebih berisiko

terkena depresi ketika suatu kejadian buruk terjadi lebih berisiko

terkena depresi ketika mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.

Di antara faktor resiko depresi bagi seorang remaja adalah :

1. Kejadian yang sangat menimbulkan stress

2. Child abuse kekerasan terhadap anak, baik secara fisik maupun

seksual

3. Pengasuhan yang tidak stabil, kemampuan social yang kurang

4. Penyakit krotis seperti penyakit ginjal, kanker

5. Sejarah keluarga yang mengalami depresi

Simtom–simtom depresi yang biasanya dialami oleh remaja adalah

sebagai berikut :

1. Mood yang suram atau mudah tersinggung

2. Kemarahan

3. Hilangnya minta melakukan sesuatu

4. Berkurangnya kesenangan melakukan aktivitas sehari hari

5. Perubahan napsu makan

6. Perubahan berat badan

7. Kesulitan tidur

8. Mengantuk di siang hari

9. Kelelahan

10. Kesulitan kosentrasi


2.2.7. Tingkatan depresi

Depresi menurut PPDGJ-III, (2001) di bagi dalam tiga tingkatan

yaitu ringan, sedang, dan berat dimana perbedaan antara episode

depresif ringan, sedang, berat terletak pada penilaian klinis yang

kompleks yang meliputi jumlah, bentuk dan keparahan gejala yang di

temukan.

1. Depresi ringan

a. Sekurang kurang nya harus ada dua gejala utama depresi

b. Ditambah sekurang kurang nya dua dari gejala yang lain.

c. Tidak boleh ada gejala yang berat di antara nya

d. Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang kurang nya

sekitr 2 minggu

e. Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan

sosialnyang bisa di lakukan

2. Depresi sedang

a. Sekurang kurang nya ada dua dari dari gejala utama depresi

seperti pada episode depresi ringan

b. Ditambah kurang sekurang nya tiga sebaik nya empat gejala dari

gejala lainya

c. Lama nya seluruh episode berlangsung minimal 2 minggu

d. Menghadapi kesulitan nyata unntuk meneruskan kegiatan sosial,

pekerjaan dan urusan rumah tangga.

3. Depresi berat

a. Semua tiga dari tiga gejala depresi harus ada


b. Di tambah sekurang kurang nya empat dari gejala lainya dan

beberapa di antaranya berintensitas berat.

c. Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi

psikomotor) yang jelas, maka pasien tidak mau atau tidak

mampu untuk melaporkan gejala secara rinci dalam hal

demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap episode depresi

berat masih dapat di benarkan

d. Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang kurang

nya dua minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan terjadi

sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakan

diagnosis dalam kurun waktu dua minggu

e. Sangat tidak mungkin pasien akan mampu melanjutkan kegiatan

sosial, pekerjaan ataupun urusan rumah tangga, kecuali pada

tingkat yang sangat keras.

2.2.8. Alat ukur depresi

Beck depression inventory (BDI) merupakan instrument untuk

mengukur derajat depresi dari Dr. Aaron T. Beck. Skala BDI telah

dibuktikan memiliki validitas dan reabilitas cukup tinggi untuk

melakukan pengukuran depresi. Kondisi ini menunjukan

bahwapengukuran depresi dengan menggunakan skala BDI akan

diperoleh hasil yang valid dan reliabel. BDI mengandung skala depresi

yang terdiri dari 21 item. Setiap gejala dirangking dalam skala

intensitas 4 poin dan nilainya ditambahkan untuk memberi total nilai

dari 0-63, nilai yang lebih tinggi mewakili tingkat depresi yang lebih
berat. 21 item tersebut mengambarkan kesedihan, pesmitrik, perasaan

gagal ketikdakpuasaan dan rasa bersalah, perasaan akan hukuman,

kekecewaan terhadap diri sendiri, menyalahkan diri sendiri, keinginan

bunuh diri, menangis, iritabilitas, hubungan social, pengambilan

keputusan, ketikdak berhargaan diri, kehilangan tenaga, insomnia,

perasaan marah, anoreksia, kesulitan berkonsentrasi, kelelahan dan

penurunan libido menurut Beck (Lubis,2018)

Penilaian di lakukan dengan menggunkan kursioner, dimana skor :

1. Skor 0-9 menunjukan tidak ada gejala depresi adalah normal

2. Skor 10-15 menunjukan adanya depresi ringan

3. Skor 16-23 menunjukan adanya depresi sedang

4. Skor 24-63 menunjukan adanya depresi berat.

2.2.9. Pencegahan Depresi

Depresi memang dapat diobati namun depresi juga dapat

dicegah,ingat mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut adalah

cara mencegah depresi :

1. Usahakan untuk selalu punya seseorang yang dekat untuk bercurah

hati. Jangan pernah untuk menyimpan sendiri beban hidup kita.

Karena hal ini dapat memperburuk depresi yang sudah dialami

maupun dapat mengakibatkan depresi

2. Berpartisipasi dalam suatu kegiatan yang dapat membuat diri lebih

baik, hal ini dapat mengalihkan perhatian kita terhadap masalah

yang sedang kita hadapi. Ingat kita bkan lari dari masalah tetapi
labih cenderung menyegarkn pikiran kita sehingga kita lebih siap

untuk menghadapinya lagi nanti.

3. Berpikir realistis, jangan terlalu menghayal dan berimajinasi.

Hilangkan kata “seandainya saya…” dalam hidup kita

4. Melakukan olahraga, aktif dalam kelompok agama dan sosial,

kegiatan tersebut membuat kita lebih jarang melamun

5. Mengubah suasana hati, Usahakan untuk selalu membuat suasan

hati kita gembira karena hal tersebut dapat menghindarkan diri dari

menyalahkan diri sendiri

6. Jangan banyak berpengharapan

7. Berpikir positif

8. Lapang hati dan sabar dalam mengadapi segala cobaan hidup dapat

menjauhkan diri kita dari depresi.

2.3. Konsep Remaja

2.3.1. Definisi Remaja

Pada akhir abad ke-19 dan pada awal abad ke-20, para ahli

menemukan suatu konsep yang sekarang kita sebut sebagai remaja

(adolescence). Ketika buku Stanley Hall mengenai remaja

dipublikasikan di tahun 1904, buku ini sangat berperan dalam

merestrukturisasi gagasan-gagasan mengenai remaja. Masa remaja

disebut sebagai periode transisi perkembangan antara masa kanak-

kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan

biologis, kognitif, dan sosioemosional (Santrock, 2007).


Masa remaja, menurut Mappiare berlangsung antara umur 12

tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai

dengan 22 tahun bagi pria. Remaja yang dalam bahasa aslinya disebut

adolescence, berasal dari bahasa latinadolescere yang artinya “tumbuh

untuk mencapai kematangan”. Perkembangan lebih lanjut, istilah

adolescence sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencakup

kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, dalam Ali &

Asrori, 2012).

WHO (World Health Organization) mendefinisikan remaja

secara konseptual, dibagi menjadi tiga kriteria yaitu biologis,

psikologis dan sosial ekonomi (Sarwono, 2012). Secara lengkap

definisi tersebut berbunyi sebagai berikut:

1. Remaja berkembang mulai dari pertama kali menunjukkan tanda-

tanda rasa ingin tahu sampai mencapai kematangan.

2. Remaja mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi

dari kanak-kanak menjadi dewasa.

3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi menuju

keadaan yang relatif lebih mandiri.

Piaget (dalam Ali & Asrori, 2012) mengatakan bahwa secara

psikologis, remaja adalah suatu usia ketika individu menjadi

terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia saat anak tidak

merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua

melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar, dari-definisi tersebut

diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja adalah suatu usia ketika
individu mulai menunjukkan tanda-tanda keingin tahuanya sampai

mencapai kematangan, mengalami perkembangan psikologis dan pola

identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa, terjadi peralihan dari

ketergantungan sosial ekonomi menuju keadaan yang relatif lebih

mandiri, menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, serta

individu tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang

yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar

(WHO, dalam Sarwono, 2012)

2.3.2. Pembagian Usia Remaja

Sa’id (farhan,2018) membagi usia remaja menjadi tiga fase

sesuai tingkatan umur yang dilalui oleh remaja. Menurut Sa’id, setiap

fase memiliki keistimewaannya tersendiri. Ketiga fase tingkatan umur

remaja tersebut antara lain:

a. Remaja Awal (early adolescence) Tingkatan usia remaja yang

pertama Adalah remaja awal. Pada tahap ini, remaja berada pada

rentang usia 12 hingga 15 tahun. Umumnya remaja tengah berada di

masa sekolah menengah pertama (SMP). Keistimewaan yang terjadi

pada fase ini adalah remaja tengah berubah fisiknya dalam kurun

waktu yang singkat. Remaja juga mulai tertarik kepada lawan jenis

dan mudah terangsang secara erotis.

b. Remaja Pertengahan (middle adolescence) Tingkatan usia remaja

selanjutnya yaitu remaja pertengahan, atau ada pula yang

menyebutnya dengan remaja madya. Pada tahap ini, remaja berada

pada rentang usia 15 hingga 18 tahun. Umumnya remaja tengah


berada pada masa sekolah menengah atas (SMA). Keistimewaan

dari fase ini adalah mulai sempurnanya perubahan fisik remaja,

sehingga fisiknya sudah menyerupai orang dewasa. Remaja yang

masuk pada tahap ini sangat mementingkan kehadiran teman dan

remaja akan senang jika banyak teman yang menyukainya.

c. Remaja Akhir (late adolescence) Tingkatan usia terakhir pada

remaja adalah remaja akhir. Pada tahap ini, remaja telah berusia

sekitar 18 hingga 21 tahun. Remaja pada usia ini umumnya tengah

berada pada usia pendidikan di perguruan tinggi, atau bagi remaja

yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka bekerja dan

mulai membantu menafkahi anggota keluarga. Keistimewaan pada

fase ini adalah seorang remaja selain dari segi fisik sudah menjadi

orang dewasa, dalam bersikap remaja juga sudah menganut nilai-

nilai orang dewasa.

2.3.3. Tugas Perkembangan Remaja

Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya

meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha

untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa.

Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Hurlock

(dalam Ali &Asrori, 2012) adalah berusaha:

1. Mampu menerima keadaan fisiknya.

2. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.

3. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang

berlainan jenis.
4. Mencapai kemandirian emosional.

5. Mencapai kemandirian ekonomi.

6. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang

sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota

masyarakat.

7. Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan

orangtua.

8. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan

untuk memasuki dunia dewasa.

9. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.

10. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab

kehidupan keluarga.

Tugas-tugas perkembangan fase remaja ini amat berkaitan dengan

perkembangan kognitifnya, yaitu fase operasional formal. Kematangan

pencapaian fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam

melaksanakan tugas-tugas perkembangannya dengan baik.

2.3.4. Adaptasi Psikologis Remaja Sosial dan Fisik

Permasalahan utama yang sering dialami oleh remaja adalah

permasalahan fisik dan kesehatan pada remaja yang sudah selesai masa

pubertasnya permasalahan fisik yang sering terjadi berhubungan

dengan ketidak puasan atau keprihatinan mereka terhadap keadaan

fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang

diinginkan. Konsumsi tramadol dikalangan remaja adalah masalah

kesehatan serius, tramadol berdampak negatif bagi kesehatan dan


sosial masyarakat. Individu yang sudah sampai pada fase

penyalahgunaan dan ketergantungan tramadol dapat berperilaku anti

sosial seperti mencuri, suka berkelahi dan marah-marah, acuh dan

apatis terhadap permasalahan dan kondisi sosialnya, hingga berdampak

bagi kesehatannya yaitu mengalami gangguan perkembangan otak,

bunuh diri dan depresi, kehilangan memori, resiko tinggi terhadap

perilaku seksual, kecanduan, pengambilan keputusan terganggu,

prestasi akademis yang buruk, kekerasan, dan kecelakaan kendaraan

bermotor (cedera dan kematian) (Agoes Dariyo,2004).

2.3.5. Hambatan psikologi pada remaja

Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen

ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu, yaitu di awal abad ke-20

oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley

Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan

tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip

orang (Agoes Dariyo,2004).

a. Neurose atau gangguan jiwa pada taraf ringan seperti : Ketegangan

batin, rendah diri, rasa kuatir yang berlebihan, gelisah/cemas, takut

yang tidak beralasan, mudah tersinggung, putus asa, pikiran-pikiran

buruk, mudah marah, mudah merasa bersalah dan sebagainya.

b. Psychose atau gangguan jiwa pada taraf yang berat seperti :

Histeria, kepribadian dari segala segi, seperti tanggapan

perasaan/emosi terganggu, tidak ada integritas, hidup jauh dari alam

kenyataan.
2.4. Kerangka teori

Penyebab terjadinya depresi


menurut BDI (Lubis,2018)
Faktor fisik
Tugas perkembangan
1. genetik
remaja menurut padila
2. susunan kimia otak dan
(farhan,2018)
tubuh
3. faktor usia 1. mampu menerima
4. gender keadaan fisik
5. gaya hidup
Fungsi keluarga menurut 6. penyangkit fisik 2. mencapai kemandirian
friedman (Hamoko,2013) 7. obat-obatan teralarang emosional
1. Fungsi afektif 8. kurang nya cahaya
matahari 3. mampu mebina
2. Fungsi sosialisasi hubungan baik
3. Fungsi reproduksi Faktor psikologi
4. Fungsi ekonomi 4. mencapai kemandirian
1. kepribadian ekonomi
5. Fungsi perawatan 2. pola piker
kesehatan 3. harga diri 5. mampu bertanggung
4. stress jawab

FUNGSI KELUARGA DEPRESI REMAJA

Gejala depresi menurut BDI Faktor yang


Tugas keluarga menurut mempengaruhi
friedman (darwiyo,2004) 1. Simtonn afektif, menurut padila (farhan,
kesedihan,hilangnya 2018) depresi pada
1. Mengenal kesenangan,apatis,hilang prasaan remaja
kesehatan keluarga cinta pada orang lain,hilangnya
stress
2. Pengambil respon terhadap orang lain.
2. Child abuse
keputusan 2. Simton motivasional,adanya ide
3. Kemampuan sosial
bunuh diri, ingin lari dari masalah.
3. Memberi yang kurang
3. Simton kognitif,kosentrasi
keperawatan bagi kurang,pola pikir 4. Penyakit
keluarga yang menyimpang,mudah lupa
malas 4. Simton perilaku,menarik diri dari
4. Mempertahankan orang, gangguan tidur, nafsu
suasana rumah makan menurun/meningkat.
yang ramah

Gambar 2.5 Kerangka Teori : (Lubis,2018, Padila2012,& Agus darwiyo,2004)


BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Diagram Alir

Secara sistematis langkah-langkah dalam menulis penelitian ini seperti

gambar berikut.
Studi Literatur

Pengumpulan Data

Hubungan fungsi keluarga dengan tingkat depresi


siswa SMA Negeri 1 Dompu

Fungsi keluarga,tingkat depresi, siswa SMA

Analisis

Kesimpulan dan Saran

Gambar 3.1 Diagram Alir Konsep Konseling Sebaya Untuk

Meningkatkan Resiliensi Remaja Yang Adiksi Media

Sosial
3.2 Studi Literatur

Penelitian ini menggunakan metode studi literatur, yaitu dengan

metode mengumpulkan data dari studi pencarian sistematis database

terkomputerisasi (PubMed, BM, Cochrain Review, Google cendekia)

berbentuk jurnal penelitian dan artikel review dalam lima tahun terakhir.

(Pratiwi,2019) 

3.3 Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah data

primer dan data sekunder. Data primer yaitu data penelitian yang di peroleh

secara langsung dari sumber asli nya yang berupa wawancara, jajak pendapat

dari individu atau kelompok (orang) maupun hasil observasi dari suatu

obyek, kejadian atau hasil pengujian benda. Data sekunder adalah sumber

data penelitian yang di peroleh melalui media perantara atau secara tidak

langsung yang berupa buku, catatan, bukti yang telah ada, atau arsip baik

yang di publikasikan maupun yang tidak di publikasikan secara umum

(Kanalingfo, 2016)

Data primer dalam penelitian ini didapat melalui hasil studi

pendahuluan yang dilakukan peneliti kepada siswa SMA Negeri 1 Dompu

yang berada di kabupaten dompu, dan data skunder diperoleh dari jurnal yang

terpublikasi, artikel ilmiah, literature review, buku, dokumentasi, dan internet

yang berisikan tentang konsep konseling sebaya untuk meningkatkan

resiliensi remaja yang adiksi media social


3.4 Analisis

Data yang didapat kemudian diperhatikan dari yang paling relevan,

relevan, dan cukup relevan. Cara lain dapat juga, misalnya dengan melihat

tahun penelitian diawali dari yang paling mutakhir, dan berangsur-angsur

mundur ke tahun yang lebih lama.

Kemudian membaca dan mencermati abstrak dari setiap penelitian lebih

dahulu untuk memberikan penilaian apakah permasalahan yang dibahas

sesuai dengan yang hendak dipecahkan dalam penelitian. Kemudian mencatat

bagian-bagian penting dan relevan dengan permasalahan penelitian disertai

dengan sumber yang jelas


DAFTAR PUSTAKA

American Nurses Association (ANA). (1986), Standard of Home Care Nursing


Pratice, Washitong, DC : Author

Ariani D. Wahyu 2009. Manajemen Oprasi Jasa : Graha ilmu

Abied Lutfi Safitri. (2013). Pengaruh Earning per Share, Price Earning Ratio,
Return On Asset, Debt To Equity Ratio dan Market Value Added
Terhadap harga saham dan kelompok Jakarta Islamic Index 2008-2011.
Management Analysist Jounal Vol. 2 No. 2. Universitas Negeri
Semarang.

Atkinson, R.L. (1998). Pengantar Psikologi (alih bahasa: Nurjanah), Jakarta:


Penerbit Erlangga.

Beck, A. T. (1976). Cognitive Therapy and the Emotional Di sorders. New York:
Meridan.

BDI (The beck depression inventory) https://www.google.com di akses pada


tanggal 22 maret 2020 pukul 09.35

BlackMan, M. (1995). Adolescent Depression. The Canadian Jounal of CME.


May. (online) (13 september2008),tersedia dari World Wide Web:
http://www.mentalhealt.com/mag1p51-dpo1.html

Detik Health (2016). https://m.detik.com/health/anak-dan-


remaja/d334557/peningkat

atan-kasus-depresi-pada-remaja-tak-diiringi-keinginan-untuk-berobat di
akses pada pukul 14:20 WITA tanggal 20 november 2019

Dinas komingfo (2018) https://www.ntbprov.go.id/post/program-


unggulan/komunikasi-keluarga-samawa-obat-depresi-yang-ampuh di akses
pukul 16.00 WITA pada tanggal 20 november 2019

DR. Namora Lumongga Lubis, MSc (2018) Depresi Tinjauan Psikologis, PT


Fajar Interpratama Mandiri, Jakarta
Dinas Kominfo NTB., https://www.google.com/search?
q=dinaskominfo+NTB&aqs=choreme. Di akses pukul 17.00 hari senin

Detik Healt. https://m.detik.com/health/berita-detikhealt/d-


40566615/kenalipenyebab-depresi-dan-cara-menangulanginya. Di akses
pada tanggal 10 November pada pukul 20.35

Elza Mursafitri& Herlina Safitri (2015) Hubungan fungsi afektif keluarga dengan
perilaku kenakalan remaja vol 2 no 2, oktober 2015

Erdina Indrawati& Sri Rahimi Fungsi keluarga dan self control terhadap
kenakalan remaja Vol 3 No 2 juli 2019

Farhan (2018). Pengaruh Focus Group Discussion (FGD) Dengan Self Contrlor
Pada Remaja Pengguna Minuman Keras Oplosan Skripsi Sarjana Ilmu
keperawatan Sekolah tinggi ilmu kesehatan stikes yarsi mataram.

Families, C.a.S.S., 2010. The state of Victoria’s Children 2010. Victoria: Families
communities and social Suport. P 257

Friedman, Marilyn M., (1998). Family nursing : research, Theory and Pratice. 4th
edition, Nowalk CT, Appleton & Lange

Gusti Ayu Putu Prema Jyoti Ananda devi Dkk (2018) Keberfungsian keluarga
dan Depresin Pada Siswa Kelas VII SMP TEUKU UMAR SEMARANG

Hidayat, A Aziz Alimul. (2007). Pengantar Konsep dasar Keperawatan. Jakarta:

Hanson and body (1996), family health care nursing, theory, practice and
research, Philadelpia, FA davis company

Intisari online, https://intisari.grid.id/smp/0358928/8-pengaruh-depresi-pada-


remaja?page=all di akses pada pukul12.46 WITA pada tanggal 29
November

Intan gumilang Pratiwi,Maruni Wiwin Diarti. 2019. Metode non farmakologi


mengurangi nyeri persalinan dengan menggunakan efflurage masagge jam
21:14 Wita. Pada tanggal 7 mei
Jozefiak, T., dan Wallander, J. L. (2016). Perceived family functioning,
Adolescent Psychopathology and Quality O f Life in The General
Population : a 6-mont follow-up study. Quality Of Life Research, 25(4),
959-967.

Julianty, N., dan Siswati. (2014). Hubungan antara keberfungsian keluarga dengan
Pengungkapan Diri Remaja terhadap orang tua pada siswa SMA Krista
Mirta Semarang. Jurnal Empati, 3(4), 422-431.

Junaidi, Iskandar. (2012).Anomali Jiwa. Yogyakarta: ANDI.

Jhonson, L & Leny R, (2010), Keperawatan keluarga, Yogyakarta : Nuha medika

Journal of Obstettrics & Gynecology. 196(6):593e1-593e7, June 2007.

Kasuda, Mursito Kabu. (1996). Hidup tentram dan Bahagia Tampa Stress.
Medan: Kanal informasi 2016. Pengertian data primer dan sekunder
https://www.kanalinfo.web.id/pengertian-data-primer-dan-data-sekunder
Pada 7 Mei 2020, jam 21:19 Wita CV Garda.

Kaplan & Sadock, 2015. Syinopsis Of Psyvhiartry: Behavioral


Sciens/Cinical/Pychyatry-Eleven Edition.

Liputan6.com, Jakarta,https://m.liputan6.com/health/read/4085312/11-juta-
orang-indonesia-indonesia-alami-depresi di akses pada jam 11.56 WITA
pada tanggal 29 november

Lestari, S. (2012). Psikologi Keluarga. Jakarta: Kencana Prenada Media

Lubis, (2009). Depresi: Tinjauan Psikologis. Jakarta Kencana.

Lia Rahmawati Dkk Hubungan dukungan keluarga dengan tingkat depresi

remaja di lembaga pemasrakatan. Vol 2 No.2 oktober 2015

Mathew, Mead. (2007). How di pre- Twentieth Century the ories of the Actiology
of Depression Develop 13 september 2008 tersedia dari Word Wide
Web: http:// www.prori.com/ homol.htm/
Rathus, S.A. & Nevid, J.S. (1994). Abonormal Psyhology. En glewood Cliff,
New Jersey: Prentince- Hall.

Priest, Robert. (1994). Bagaimana cara mencegah dan Mengatasi Stres dan
Depresi. Semarang: Dahara Prize.

Santrock, J ,W (2007). Psikologi perkembangan. Edisi 11jilid 1 Jakarta:Erlangga

Ali,M & Asrori, M (2012). Psikologi Remaja. Jakarta: PT Bumi Aksara

Suryono & Haryanto. (2016). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Rosda .

Stuart, Gail W. 2013. Keperawatan Jiwa Edisi 5. Jakarta: EGC

Sayekti, (1994), Bimbingan dan konseling keluarga, penerbit Menara Mas,.


Yogyakarta

Siswanto, S.psi. M.si. (2007). Kesehatan Mental: Konsep Cakupan dan


Perkembanganya. Yogyakarta: Andi Offset

The anxiety and Depression associatin of America


https://www.google.com/search?

safe=strich&client=ms-androit- oppo&sxsrf di akses pukul 14.00 WITA


pada tanggal 20 november 2019

WHO(2016), Radio Pelita kasih,


https://www.radiopelitakasih.com/2016/10/11/who-350-juta-orang-di-
dunina-mengalami-depresi/ di akses pukul 14.40 WITA pada tanggal 21
november

WHO. (2014) .Word Healt Organisation Reports. Di unduh 20 November dari


http://www.smh.com.au/word/depression-top-cause-of-ilness-in words-
teens-world-healt-organisation-reports pada pukul 13.00 hari sabtu

Wirdhana, L., Dkk 2012 Buku pengantar kader BKR Tentang delapan Fungsi
Keluarga. Jakarta : Badan Kependudukan dan Berencana nasional