Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI

MANUSIA
PERCOBAAN KE-3
SISTEM PENCERNAAN

Disusun oleh:
Kelompok B/1

Melinda Athirah Putri 10060316042


Adellya Fardiani 10060316043
Syifani Khalda Maisa 10060316044
Shintya Amalia Safira 10060316045
Resi Yulianti 10060316046

Asisten: Dian Rosdiana., S.Farm

Tanggal praktikum : 4 September


2017
Tanggal pengumpulan: 11 Oktober 2017

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT D –


ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DA ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1348H/2017
I . Tujuan

1. Menjelaskan proses pencernaan kimiawi di mulut.

2. Menjelaskan proses pencernaan kimiawi di lambung oleh enzim pepsin.

3. Menjelaskan kondisi optimum yang diperlukan bagi aktivitas kerja

pepsin.

4. Menjelaskan proses pencernaan kimiawi di usus halus.

5. Mengenal histologi organ-organ yang membangun sistem pencernaan.

I I . Alat dan Bahan

Alat :

1. Batang pengaduk

2. Corong

3. Erlenmeyer

4. Gelas kimia

5. Inkubator

6. Kaca objek

7. Kaca penutup

8. Kertas saring

9. Lampu spirtus

10. Mikroskop

11. Penangas air

12. Pipet tetes

13. Plat tetes


14. Stopwatch

15. Tabung reaksi

16. Termometer

Bahan:

1. Akuades

2. Indikator universal

3. Larutan CuSO4

4. Larutan HCl 0,4%

5. Larutan Iodium 2%

6. Larutan NaOH 40%

7. Larutan Na.Karbonat 0,5%

8. Larutan pepsin 5%

9. Larutan pankreatin

10. Pasta Amilum 3%

11. Saliva

I I I .Prosedur

3.1. Anatomi sistem pencernaan

3.2. Fisiologi sistem pencernaan

a. Memeriksa komponen saliva

Uji Mikroskop
Satu tetes saliva diwarnai dengan metilen biru dan ditempatkan diatas

kaca objek . kemudian ditutup dengan kaca penutup. Adanya sel-sel epitel, butir-

butir lemak, leukosit, dan bakteri di amati dibawah mikroskop.

b. Pencernaan karbohidrat di mulut

Salah seorang dari anggota kelompok menyumbangkan salivanya. Lalu

saliva ditampung didalam gelas piala. Agar saliva yang didapat tidak terdapat

gelembung, saat mengeluarkan saliva dilewatkan pada batang pengaduk. Tabung

reaksi yang sudah diisi dengan pasta amilum 5% sebanyak 5 ml disiapkan. Lalu

ditambahkan saliva sebanyak 5 ml kedalam tabung reaksi, lalu dikocok hingga

tercampur rata dan didiamkan selama 1 menit. 8 tabung yang sudah diisi dengan

benedict disiapkan dan disiapkan pula 1 buah plat tetes. Setelah campuran saliva

dan pasta amilum dibiarkan selama 1 menit, diambil satu tetes untuk diteteskan ke

plat tetes,lalu ditambahkan 1-2 tetes Iodium. Secara bersamaan diamnil 3 tetes

dari campuran pasta amilum dan saliva untuk diteteskan kedalam tabung reaksi

yang berisi larutan Benedict.

Larutan pasta amilum + saliva dengan Iodium : timbul warna merah. Hal

ini menunjukkan amilum telah menjadi eritodekstrin.Larutan pasta amilum +

saliva + Iodium : lama kelamaan menimbulkan larutan yang tidak berwarna. Hal

ini menunjukkan bahwa proses pemecahan amilum telah menghasilkan

akromodekstrin. Tahap ini disebut akromik. Bila telah tercapai titik akromik,

panaskan semua tabung reaksi (yang berisi campuran pasta amilum + saliva

dengan larutan Benedict) di penangas air yang mendidih,selama 5 menit. Sebagai

pembanding digunakan tabung yang berisi larutan Benedict ysng dicampur


dengan 2ml glukosa 10%. Dibiarkan menjadi dingin. Perubahan warna yang

terjadi diamati. Perubahan warna yang terjadi dapat dijadikan indikator

apakahamilum telah dicerna oleh enzim-enzim dalam saliva dan proses

pencernaan tersebetut telas sampai pada taha mana.

c. Pencernaan protein di lambung

i. Percobaan proses pencernaan protein secara in vitro

Putih telur dipotong-potong lalu dimasukkan kedalam gelas kimia. Putih

telur direndam dengan larutan pepsin 5%. Banyaknya putih telur dan larutan

pepsin 5% yang dipakai dicatat. HCl 0,4% ditetekan sampai tercapai pH 1,5-2

(indikator universal digunakan). Gelas kimia yang berisi putih telur dan pepsin

ditutup dengan plastik dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 1 hari. Setelah

diinkubasi selama 1 hari, saring campuran putih telur + pepsin, kemudian

dilakukan uji biuret. Uji Biuret dimaksudkan untuk melihat apakah sudah terjadi

hasil urai protein. Warna ungu kemerahan atau merah keunguan menunjukkan

telah terjadi hasil urai protein berupa campuran proteosa dan pepton. Sebagai

kontrol dapat digunakan pepton. Pepton diambil sedikit kemudian direaksikan

dengan Biuret.

ii. Kondisi optimum untuk aktivitas pepsin

5 tabung reaksi disiapkan. Pada tabung 1 diisi dengan pepsin 5%

sebanyak 5ml. Pada tabung 2 diisi dengan HCl 0,4% sebanyak 5ml. Pada tabung 3

diisi dengan pepsin 5% sebanyak 5 ml dan HCl 0,4% sampai dengan pH1,5-2.

Pada tabung 4 diisi dengan pepsin 5% sebanyak 2 ml dan Na2CO3 0,5% sebanyak

5 ml. Pada tabung 5 diisi dengan akuades sebanya 5 ml. Pada tabung 1-5
ditambahkan sedikit protein. Kemudian tabung 1-5 dimasukkan kedalam

inkubator atau water bath pada suhu 40°C selama 30 menit. Diamati perubahan

yang terjadi pada tabung1-5 dengan cara dilakukannya uji biuret pada setiap

tabung. Isi tabung 1 dan 2 dicampurkan. Lalu diinkubasikan selama20 menit pada

suhu 40°C, lalu perubahan yang terjadi diamati.

d. Pencernaan kimiawi di usus halus

i. Percobaan untuk membandingkan kecepatan pencernaan

albumin dan serum darah

2 buah vial disiapkan (vial 1 dan 2). Vial 1 diisi dengan 5ml larutan

pankreatin dan sedikit putih telur. Sedangkan vial 2 diisi dengan 5 ml larutan

pankreatin dan serum darah. Vial 1 dan 2 diinkubasikan padasuhu 40°C. Tiap

selang 15 menit, sedikit larutan diambil dari vial 1 da 2, diamati dan dilakukan uji

biuret. Dilakukan sampat t90.

ii. Kerja garam empedu terhadap pencernaan lemak

2 tabung reaksi disiapkan (tabung 1 dan tabung 2). Tabung diisi dengan

air dan garam empedu 5% (sama banyak 1:1). Kedalam tabung 1 dan tabung 2

diteteskan 1 tetes minyak sayur yang telah dicampur dengan pewarna. Tabung 1

dan 2 dikocok, dan dibiarkan selama 5-10 menit. Diamati dan dibandingkan pada

tabung mana minya terdispersi atau teremulsi (terlihat dari pecahnya minyak

menjadi tetesan kecil-kecil).


I V . Hasil Pengamatan

4.1. Memeriksa komponen saliva

Gambar 4.1 Data pengamatan memeriksa komponen saliva

4.2. Pencernaan karbohidrat di mulut

Tabel 4.2 Data pengamatan pencernaan karbohidrat di mulut


Waktu setelah
pencampuran Warna yang terjadi pada uji Warna yang terjadi pada uji
saliva dan Iodium Benedict
pasta amilum
5 menit Kuning Tidak terjadi perubahan

10 menit Kuning Tidak terjadi perubahan

15 menit Kuning pucat Terdapat warna hijau sedikit

20 menit Kuning Terdapat warna hijau sedikit


Terdapat 2 lapisan warna
25 menit Cokelat oranye
hijau dan biru
Terdapat 2 lapisan warna
30 menit Cokelat
hijau dan biru
35 menit Cokelat kuning Terdapat warna hijau

40 menit Cokelat Terdapat warna hijau


Gambar 4.2 Data pengamatan pencernaan karbohidrat di mulut

4.3. Pencernaan protein di lambung

4.3.1. Pencernaan protein secara in vitro

Setelah putih telur ditambahkan dengan pepsin dan HCl sampai pH

1,5-2 awalnya tidak berwarna setelah diinkubasi selama 24 jam terjadi perubahan

warna menjadi ungu muda.

Gambar 4.3 Data pengamatan pencernaan protein di lambung secara in vitro


4.3.2. Kondisi optimum aktivitas pepsin

Tabel 4.3 Data pengamatan pencernaan protein di lambung kondisi optimum


aktivitas pepsin
Tabung Perubahan

1 Tidak berwarna menjadi ungu muda

2 Tidak terjadi perubahan

3 Tidak berwarna menjadi ungu (++)

4 Tidak berwarna menjadi ungu (+)

5 Tidak terjadi perubahan

Gambar 4.3 Data pengamatan pencernaan protein di lambung kondisi optimum


aktivitas pepsin

4.4. Pencernaan kimiawi di usus halus

4.4.1.Perbandingan kecepatan pencernaan albumin dan serum

darah

Tabel 4.4 Data pengamatan pencernaan kimiawi di usus halus

Waktu setelah Hasil Uji Biuret


pencampuran
dengan Albumin Serum darah
pankreatin
15 menit Ungu muda (++) Ungu (+)
30 menit Ungu(+++) Ungu(+)
45 menit Ungu(+++) Ungu(+)
60 menit Ungu(++++) Ungu (++)
75 menit Ungu(++++) Ungu(++)
90 menit Ungu (++++) Ungu (+++)
Gambar 4.4 Data pengamatan pencernaan kimiawi di usus halus

4.4.1.Kerja garam empedu terhadap pencernaan lemak

Tabung 1 : akuades pada tabung reaksi + 1 tetes minyak sayur kemudian

dikocok menjadi keruh terdapat gelembung dan lapisan minyak diatas permukaan

larutan (teremulsi). Tabung 2 : akuades + garam empedu sama banyak + minyak

sayur kemudian dikocok berubah menjadi keruh tidak terdapat gelembung

terdapat lapisan putih diatasnya permukaan (terdispersi).


Gambar 4.4 Data pengamatan pencernaan kimiawi di usus halus

V . Pembahasan

5.1. Memeriksa komponen saliva

Sistem pencernaan merupakan salah satu komponen vital dalam

menunjang kehidupan, sebab sistem pencernaan manusia terdiri dari semua organ

yang berfungsi untuk mengunyah, menelan, mencerna, dan mengabsorpsi

makanan serta mengeliminasi makanan yang tidak dapat dicerna dan tidak dicerna

tubuh. Sistem pencernaan pada manusia, prosesnya meliputi: memasukkan,

menyimpan makanan sementara, mencerna secara fisik dan kimiawi, absorbsi, dan

defekasi. (Watson, 2002)

Pada uji makroskopik, sampel diwarnai dengan metilen biru yang

ditempatkan dibawah mikroskop menunjukkan adanya sel epitel dan

mikroorganisme. Menurut (Muchtadi D, 2009), pemeriksaan mikroskopis seluruh

saliva ditemukan dalam mulut selalu menunjukkan adanya sel-sel epitel mulut

yang mati spt lekosit (polimorfonuklear lekosit) yang masuk dari sulkus gingiva.

Komponen saliva yang dalam keadaan larut disekresikan oleh kelenjar

saliva, dapat dibedakan atas komponen organik dan anorganik. Namun demikian,

kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan serum, karena pada

saliva bahan utamanya adalah air yaitu sekitar 99,5%. Komponen anorganik saliva

antara lain: sodium, kalsium, kalium, magnesium, bikarbonat, khlorida, rodanida,

dan thiocynate (CNS), fosfat, potassium dan nitrat. Sedangkan komponen

anorganik pada saliva meliputi protein yang berupa enzim amilase, maltase, serum
albumin, asam urat, kretinin, musin, vitamin C, beberapa asam amino, lisosim,

laktat, dan berapa hormon seperti testosteron dan kortisol. (Raden, 2010)

5.2. Pencernaan karbohidrat di mulut

Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan, kerongkongan,

lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga

meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati

dan kandung empedu. (Raden, 2010)

Proses pencernaan dimulai dalam mulut, tepat dimana makanan

dihancurkan sambil diaduk dengan lidah. Ludah juga mengandung musin, yang

berfungsi “melumas” makanan sehingga lebih mudah ditelan. Dalam

kerongkongan (esofagus) yang panjangnya ± 5cm, makanan kemudian didorong

dengan gerakan peristaltik melalui katub gestroesofaus pada ujung esofagus

kearah lambung gerakan berombak ini yang terdiri dari gerakan kontraksi dan

relaksasi ditimbulkan oleh otot-otot pada dinding esofagus. (Endro Nugroho,

2007)

Pada percobaan uji pencernaan karbohidrat di mulut, praktikan yang

menyumbangkan salivanya diuji dengan benedict, iodium, dan uji mikroskopik

dengan metilen biru untuk melihat kompenen yang terdapat dalam saliva. Saliva

yang di uji dengan benedict pada selang waktu setiap lima menit sekali, di menit

kelima sampai keduapuluh tidak terjadi perubahan warna. Pada menit ke duapuluh

lima sampai ketiga puluh terjadi perubahan warna yang menunjukkan dua lapis

warna, dimana lapisan atas berwarna hijau dan lapisan bawah berwarna biru.

Sedangkan menit ketiga puluh lima dan keempat puluh tidak menunjukkan adanya
perubahan warna. Warna hijau di menit kedua puluh lima dan ke tigapuluh

menunjukkan waktu pada saat karbohidrat diuraikan enzim amilase dan mencerna

sebagian pati. Menurut (Endro Nugroho, 2007) kelenjar air liur dan sekresi enzim

amilase (ptyalin) yang dapat menguraikan karbohidrat. Pemecahan karbohidrat

terdiri dari polisakarida utama, seperti amilum, disakarida seperti sukrosa dan

laktosa dan monosakarida seperti glukosa dan fruktosa. Selama proses

pencernaan, polisakarida dipecah menjadi rantai yang lebih pendek dan akhirnya

menjadi disakarida atau monosakarida. Disakarida dipecah menjadi

monosakarida. Pencernaah karbohidrat berlanjut di usus oleh amilase pankreas.

Beberapa jenis enzim disakarida yang dihasilkan oleh mikrovili dari epitel usus

mencerna disakarida menjadi monosakarida

Uji menggunakan benedict dilakukan untuk mengetahui adanya gula

pereduksi. Endapan warna merah bata akan timbul pada sampel jika di dalam

larutan terdapat gula pereduksi. Pereaksi ini berupa larutan yang mengandung

kupri sulfat, natrium karbonat, dan natrium sitrat. Glukosa dapat mereduksi ion

Cu2+ dari kupri sulfat menjadi ion Cu+ yang kemudian mengendap menjadi

sebagian Cu2+. Natrium karbonat dan natrium sitrat membuat peraksi benedict

bersifat basa lemah. (Sutikno 2008)

Uji iodium merupakan salah satu uji dalam karbohidrat yang bertujuan

menentukan polisakarida. Prinsip uji iodium adalah mengetahui kandungan

polisakarida seperti adanya dekstrin, amilum, atau pati dan glikogen pada sampel.

Amilum atau pati yang terdapat dalam sampel akan menimbulkan warna biru,

dekstrin menghasilkan warna merah ungu, glikogen dan sebagian pati yang
terhidrolisis bereaksi dengan iodium mengasilkan warna merah coklat atau hitam.

Semakin pekat perubahan warna pada sampel, maka semakin besar kandungan

polisakarida yang terkandung dalam sampel (Muchtadi D, 2009). Pada percobaan

saliva yang diuji dengan iodium, menunjukan hasil bwarna semakin coklat pekat

pada lubang pelat keempat sampai kedelapan. Hal tersebut menunjukan semakin

besar kandungan polisakarida yang terkandung dalam sampel saliva.

5.3. Pencernaan protein di lambung

i. Proses pencernaan protein secara in vitro

Padapercobaanini, putihtelurdipotongkecil,

laludimasukankedalamgelaskimia.

Pemotonganputihtelurtersebutdilakukanuntukmenyamai proses matikasimakanan

yang terjadidalammulutdanlambungmanusia. Zat yang terkandungdalamtelur,

protein albumin, berperansebagaiobjekpercobaan. (Ward, 2005: 79)

Potonganputihtelurkemudiandirendamdalamlarutan pepsin 5%. Pepsin

berperansebagaipemecah protein albumin

menjadipeptondanproteosa.Semakinbanyakjumlah pepsin dalamgelaskimia,

semakintinggiaktivitasnya.

Lalu, ditambahkanHCl 0,4% kedalamgelaskimiahingga pH-nya 1,5-2,0.

KeasamanlarutanHCldimanfaatkanuntukmembunuhkumandanmengaktifkan

pepsin daribentukinaktifnyayaitu pepsinogen. Pepsinogen

diproduksiolehselchiefmukosalambung.

SedangkanHCldiproduksiolehsekelompokselterspesialisasi, yaitusel parietal.

(Ward, 2005: 79)


Gelaskimiatersebutkemudianditutupmulutnyamenggunakanplastik,

dandiinkubasipadasuhu 37°C selama 1 harisambildijaga pH-nya (1,5-2,0). Suhu

37°C digunakanuntukmenyamakansuhutubuhmanusia normal,

danmengoptimalkanaktivitasenzim. Padasuhu yang terlalutinggi,

enzimdapatrusak. Seharusnya proses inkubasicampurandilakukanselama 3 hari,

untukmenyamakankondisimukosadindinglambung yang

akanbergantipadahariketiga. Namun, karenaketerbatasanwaktupraktikum, proses

inidilakukanselama 1 hari. Dindingmukosalambungakanbergantitiap 3

harikarenasifatdesktruksifHCl yang bersifatasamkuat yang

dapatmencernalambung (jikalambungtidakdilapisilapisanproteksi,

yaitumukosa).pHasamharusselaludijaga, agar pepsin dalamcampurantidakter-

inaktivasi di tengah proses pemecahan protein selamainkubasi. Semakinjauh pH

optimum, akansemakinmenurun pula aktivitascampurandalamgelaskimia.(Ward,

2005: 77)

Setelahdiinkubasi, campurandalamgelaskimiadisaringdandilakukanuji

Biuret. Gunanyaadalahuntukmendapatkancairan yang

mengandunghasilpemecahan protein, yaitupeptonuntukdiujikankeberadaannya.

Terjadiperubahanwarnacairandalamgelaskimia,

yaitudaritidakberwarnamenjadimerahmuda.

Warnamerahmudainimengindikasikanbahwaadanyapeptondalamlarutangelaskimia

yang berasal dari kompleks koordinasi antara Cu2+ dengan gugus amida karboksil

dari ikatan peptida dalam larutan basa. (Poedjiadi,2005)

ii. Kondisi optimum aktivitas pepsin


Pada percobaan ini disiapkan 5 tabung, tabung 1 diisi dengan pepsin 5%,

tabung 2 diisi dengan HCl 0,4%, tabung 3 diisi dengan pepsin dan HCl sampai pH

1,5 – 2, tabung 4 diisi dengan pepsin dan Na 2CO3 dan tabung 5 diisi dengan

akuades. Tujuan penambahan pepsin adalah sebagai sampel yang akan diamati.

Tujuan penambahan HCl sebagai pengaktif enzim pepsin pada pH 1,5-2. Tiap

tabung ditambahkan sedikit protein, lalu diinkubasi pada suhu 40°C selama 30

menit. Tujuan sampel diinkubasi pada suhu 40°C adalah untuk menyamakan suhu

tubuh sehingga enzim dapat bekerja dengan baik. Setelah diinkubasi sampel diuji

dengan uji Biuret. Uji Biuret didapatkan dari mereaksikan NaOH dan CuSO 4.

Adapun tujuan dilakukan uji Biuret adalah untuk menunjukkan adanya ikatan

peptida dalam suatu zat yang diuji. reaksi positif pada uji biuret ini ditandai

dengan adanya perubahan warna menjadi ungu. Warna ungu yang terbentuk

berasal dari kompleks koordinasi antara Cu2+ dengan gugus amida karboksil dari

ikatan peptida dalam larutan basa.(Poedjiadi,2005)

Mekanisme reaksi uji Biuret

Tabung 1 yang berisi pepsin dan albumin menunjukan adanya perubahan

warna menjadi biru namun itu bukan perubahan karena adanya aktivitas
pencernaan protein tetapi karena pepsin itu sendiri merupakan protein yang

membuat perubahan warna biru pada uji biuret. Tidak terjadi aktivitas pepsin

karena pepsin tidak aktif diseabkan karena tidak terdapat HCl yang merangsang

pepsin menjadi aktif. Pada tabung 2 yang berisi HCl dan albumin tidak terjadi

perubahan karena tidak ada pepsin yang dapat diaktifkan. Pada tabung 3 yang

berisi pepsin, HCl pH 1,5-2 dan albumin terjadi perubahan warna menjadi ungu

perubahan itu terjadi karena ada aktivitas pepsin yang aktif karena dirangsang

oleh HCl pH1,5-2. Pada suasana pH 1,5-2 merupakan suasanan yang optimal bagi

enzim pepsin untuk aktif mencerna protein menjadi pepton.(Hawab, 2004)

Tabung 4 yang berisi pepsin, Na2CO3, dan albumin, terjadi perubahan warna

menjadi biru tetapi itu bukan karena adanya aktivitas pepsin. Pepsin yang ada

didalam tabung tidak aktif karena berada pada pH basa. Tabung 5 yang diisi

dengan akuades dan albumin tidak terjadi perubahan warna karena akuades

merupakan pH netral dan tidak ada pepsin. Pada isi tabung 1 dan tabung 2

dicampurkan dan diinkubasi selama 20 menit. Setelah diinkubasi tidak terjadi

perubahan karena pepsin tidak aktif pada pH yang tidak terukur. Jadi, pada

percobaan ini yang menggambarkan kondisi optimum aktivitas pepsin adalah

percobaan pada tabung 3 dimana pepsin menjadi aktif karena dirangsang oleh HCl

pada pH 1,5-2 sehingga pepsin aktif dan dapat membantu mencerna protein dalam

lambung yaitu mengubah protein menjadi pepton.

5.4. Pencernaan kimiawi di usus halus

i. Perbandingan kecepatan perncernaan albumin dan serum

darah
Pada praktikum kimiawi di usus halus tepatnya pada percobaan

membandingkan kecepatan pencernaan albumin dan serum darah. Hal pertama

yang dilakukan adalah disiapkan 2 vial. Pada vial pertama dimasukkan 5 ml

larutan pankreatin dan sedikit putih telur. Tujuan penambahan pankreatin adalah

pankreatin berperan sebagai pengurai protein dan fungsi dari putih telur adalah

beperan sebagai protein ( albumin). Pada vial kedua dimasukan 5 ml larutan

pankreatin dan sedikit serum darah. Tujuan dari penambahan serum darah adalah

sebagai sampel yang diuji untuk membandingkan kecepatan pencernaannya

dengan albumin. Pada kedua vial tersebut selanjutnya dilakukan inkubasi pada

suhu 40° C. Tujuan dari dilakukannya inkubasi adalah untuk menyamakan pada

suhu tubuh sehingga enzim dapat bekerja dengan baik.Tiap selang 15 menit

larutan vial pertama dan larutan vial kedua diambil. Dan dilakukan uji biuret.

Tujuan dari dilakukannya uji biuret adalah untuk menguji kandungan protein dan

pengujian ini untuk melihat perbedaan kecepatan pencernaan antara albumin dan

serum darah dengan berubahnya warna. Pada 15 menit pertama perubahan yang

terjadi pada vial pertama adalah yang awalnya larutan tidak berwarna menjadi

agak kuning pucat hal ini menunjukkan bahwa albumin sudah mulai dicerna

(diurai) oleh pankreatin. Setelah diamati perubahan warnanya selanjutnya larutan

tersebut diteteskan pada plat tetes kemudian ditambahkan 1 tetes biuret dan hasil

akhirnya adalah menjadi warna ungu muda. Pada vial kedua setelah dilakukannya

inkubasi larutan tidak terjadi perubahan (larutan tetap tidak berwarna) dan

selanjutnya diteteskan pada plat tetes dan ditambahkan biuret maka perubahan

warna yang terjadi adalah menjadi warna ungu muda akan tetapi tidak sepekat
warna ungu pada larutan vial pertama. Hal ini akan terus dilakukan hingga menit

ke-90. Hasil akhir secara keseluruhan adalah sebagaimana yang tercantum pada

tabel 4.4yang menjelaskan bahwa pada albumin warna ungu yang dihasilkan

setelah uji biuret lebih pekat dibandingkan dengan serum darah. Hal ini

menunjukkan bahwa albumin lebih cepat dicerna dibandingkan dengan serum

darah.Albumin adalah protein dengan jumlah terbanyak di dalam tubuh. Albumin

sangat  penting demi memelihara tekanan osmosis untuk distribusi fluida tubuh

antara intravascular compartment dan jaringan tubuh. Albumin juga berfungsi

sebagai pengusung plasma dengan secara tidak langsung mengikat beberapa

hormon steroid hidrophobik dan protein pengusung  bagi hemin dan asam lemak

dalam sirkulasinya. (Yohanis, 2009)

Pada percobaan membandingkan kecepatan pencernaan albumin dan

serum darah, salah satu zat yang terkandung di dalam serum adalah albumin yang

merupakan protein globular (Podjiadi, 1994). Protein ini memiliki sifat-sifat yang

khas, salah satunya dapat terdenaturasi atau terjadi perubahan struktur, hal ini

dapat di tandai dengan terbentuknya endapan. Terbentuknya endapan dapat di

lakukan dengan penambahan asam, ion logam, gram divalent, atau dengan

pemanasan. Di dalam tubuh serum darah adalah komponen yang bukan berupa sel

darah, juga bukan faktor koagulasi, serum darah adalah  plasma darah

tanpa fibrinogen. Serum terdiri dari semua protein (yang tidak digunakan untuk

pembekuan darah) termasuk  cairan elektrolit, antibodi, antigen, hormon, dan

semua substansi exogenous. (Arakawa dan Timashiff, 1984).


Makanan yang mengalami pencernaan secara kimiawi adalah

karbohidrat, protein, dan lemak. Hasil akhir pencernaan protein menjadi asam

amino. Larutan pankreatin digunakan untuk mengubah protein menjadi pepton

atau untuk mengeluarkan enzim-enzim protein, protein di usus dicerna menjadi

pepton, maka pepton akan diuraikan oleh enzim tripsin, kimotripsin, dan erepsin

menjadi asam amino.Menurut literatur, penyebab albumin lebih cepat dicerna

dibandingkan dengan serum darah adalah karena albumin mengandung satu

protein sedangkan serum darah mengandung banyak protein sehingga lebih

mudah dan lebih cepat mencerna albumin daripada serum darah.

ii. Kerja garam empedu terhadap pencernaan lemak

Percobaan kedua pada pencernaan kimiawi di usus halus adalah

mengenai kerja empedu terhadap pencernaan lemak. Hal pertama yang dilakukan

adalah menyiapkan 2 tabung reaksi. Pada tabung reaksi pertama hanya diisi

dengan air dan tabung kedua diisi dengan air dan garam empedu 5% dengan

perbandingan antara air dan garam empedu yang sama banyak. Selanjutnya pada

tabung pertama dan kedua diteteskan minyak sayur yang telah dicampur dengan

pewarna. Tujuan dari penambahan minyak sayur ini adalah berperan sebagai

lemak. Lalu kedua tabung dikocok dan dibiarkan selama 5-10 menit. Setelah itu

diamati. Pada tabung pertamaMinyak perlahan- lahan memisahkan diri, kembali

ke permukaan. Minyak dan air tidak dapat bersatu tanpa penambahan emulgator

atau tanpa diberikan perlakuan khusus.Fenomena ini dikenal dengan istilah

teremulsi. Emulsi merupakan jenis koloid dengan fase terdispersinnya berupa fase

cair dengan medium pendispersinya bisa berupa zat padat, cair, ataupun gas.
Emulsi merupakan suatu sistem yang tidak stabil,sehingga dibutuhkan zat

pengemulsi atau emulgator untuk menstabilkan.Emulgator adalah pemecahan

lemak dengan cara hidrolisis dibantu oleh garam empedu yang terdapat dalam

cairan empedu. Dengan adanya garam empedu sebagai emulgator, maka lemak

dapat diurai menjadi partikel-partikel kecil sebagai emulsi, sehingga luas

permukaan lemak bertambah besar. Hal ini menyebabkan proses hidrolisis

berjalan lebih cepat.(Fessenden,1990)

Pada tabung ke dua hal yang terjadi pada air, garam empedu dan miyak

sayur akan saling keterkaitan satu sama lain. Pada saat air diditambahkan dengan

minyak sayur maka hal yang terjadi minyak perlahan- lahan memisahkan diri,

kembali ke permukaan (minyak dan air tidak bersatu). Namun karena dengan

adanya garam empedu yang berperan sebagai emulgator yang menurunkan

tegangan permukaan air dan minyak yang melakukan emulsifikasi, maka minyak

yang berperan sebagai lemak tersebut akan dapat dilarutkan dalam air. Fenomena

ini dikenal dengan istilah terdispersi. Dispersi adalah peristiwa terlarutnya suatu

zat dalam pelarut pendispersinya(Hawab, 2004)

Kedua peristiwa yang terjadi antara air dengan minyak dan air dengan

garam empedu serta minyak dapat diaplikasikan dalam sistem pencernaan dikenal

dengan istilah emulsifikasi lemak. Pentingnya emulsifikasi lemak ini dalam sistem

pencernaan adalah proses emulsifikasi lemak berperan penting dalam membantu

proses makanan yang mengandung lemak yang tidak larut dalam air, sehingga

makanan tersebut dapat dicerna oleh tubuh. Proses pencernaan lemak di dalam

tubuh terjadi di usus halus. Didalam usus halus itu lemak dengan bantuan enzim
intestinal lipase dan pencreatik lipase akan diubah kedalam 3 struktur yang lebih

sederhana, jelasnya sebagai berikut:

1. dipecah menjadi —asam lemak dan gliserol 40%-50%

2. dipecah menjadi— monogliserid 40%-50%

3. dipecah menjadi —gliserida, trigliserida,10%-20%

Adapun kemampuan alat-alat pencernaan dalam mencerna lemak yang

terdapat dalam tubuh adalah bervariasi,sangat tergantung pada kesehatan tubuh.

Pada tubuh yangbenar-benar sehat sekitar 95%-100% lemak yang dapat dicerna,

penggumpalan-penngumpalan lemak tidak terjadi. Lama berlangsungnya proses

pencrnaan lemak sangat bergantung pada panjang pendeknya rantai (jumlah atom

karbon) dalam molekul asam lemak. (Lehninger, 1982)

Empedu memiliki 2 fungsi penting yaitu membantu pencernaan

penyerapan lemak dan berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh,

terutama hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan

kelebihan kolesterol. Secara spesifik beberapa berperan empedu dalam berbagai

proses yaitu garam empedu meningkatkan kelarutan kolesterol, lemak dan vitamin

yang larut dalam lemak untuk membantu proses penyerapan. Selain itu garam

empedu dapat merangsang pelepasan air oleh usus besar untuk membantu

menggerakkan isinya. Bilirubin (pigmen utama dari empedu) dibuang ke dalam

empedu sebagai limbah dari sel darah merah yang dihancurkan.

V I . Kesimpulan
V I I .Daftar Pustaka

Endro Nugroho. 2007. Farmakologi Obat - Obat Dalam Pembelajaran Ilmu

Farmasi dan Dunia Kesehatan. Pustaka Pelajar. Jakarta.

Fessenden, Ralp J.1990. Kimia Organik Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga.

Hawab, HM. 2004. Pengantar Biokimia. Jakarta : Bayu Media Publishing.

Lehninger, Albert L.1982. Dasar-Dasar Biokimia : Jilid I. Diterjemahkan oleh

Meggy Thenawidjaja. Jakarta : Erlangga

Muchtadi, D. 2009. Pengantar Ilmu Gizi. Bandung: Alfabet

Ngili, Yohanis. 2009. Biokimia Struktur dan Fungsi Biomolekul. Graham

Ilmu. Yogyakarta

Poedjiadi,Ana dan F.M. Titin Supriyanti. 2005.Dasar-Dasar Biokimia : Edisi

revisi. Bandung : UIP (UI-Press)

Watson, R. 2002. Anatomi dan Fisiologi Untuk Perawat. Jakarta: EGC