Anda di halaman 1dari 19

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA REFARAT

FAKULTAS KEDOKTERAN MEY 2020


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

KONJUNGTIVITIS VIRUS

OLEH :
Fadhilah Nur Azizah
11120191025

PEMBIMBING
dr. Marliyanti Nur Rahmah Akib, Sp.M(K), M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2020

1
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa :

Nama : Fadhilah Nur Azizah


NIM : 11120191025
Judul Presentasi : Konjungtivitis Virus

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada dibawakan


dalam rangka tugas kepaniteraan klinik Bagian Ilmu Kesehatan Mata, Fakultas
Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Makassar, 2020
Konsulen Pembimbing

dr. Marliyanti Nur Rahmah Akib, Sp.M(K), M.Kes

2
BAB I
PENDAHULUAN

Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang


membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebra) dan
permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan
dengan kulit pada tepi kelopak mata (persambungan mukokutan) dan dengan
epitel kornea di limbus. Konjungtiva mengandung kelejar musin yang dihasilkan
oleh sel Goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea.1,2
Ketika kelopak mata tertutup, oksigen yang disuplai oleh pembuluh darah
konjungtiva bertanggung jawab untuk menjaga oksigenasi kornea. Konjungtivitis
mengacu pada peradangan pada konjungtiva. Infeksi konjungtiva dapat berupa
bakteri atau virus.1,2
Ada jaringan limfatik yang padat, dengan drainase ke kelenjar preauricular
dan submandibular yang sesuai dengan kelopak mata. Ini memiliki peran
pelindung utama, memediasi kekebalan pasif dan aktif. Secara anatomi, dibagi
menjadi kongtiva palpebral, kongtiva fornix, konjungtiva bulbar.1
Konjungtivitis adalah inflamasi jaringan konjungtiva yang dapat
disebabkan oleh invasi mikroorganisme, reaksi hipersensitivitas atau perubahan
degeneratif di konjungtiva. dan penyebab mata merah yang paling umum ditemui
oleh penyedia perawatan primer. Di antara etiologi konjungtivitis, konjungtivitis
virus adalah yang paling umum. Meskipun pasien dengan konjungtivitis mungkin
hanya tampak beberapa iritasi kecil pada mata, mereka biasanya tidak mengeluh
sakit pada mata atau kehilangan penglihatan. Meskipun banyak yang telah
meneliti tentang karakterisasi konjungtivitis berdasarkan sifat dari discharge, satu
metaanalisis gagal menemukan bukti diagnostik dari tanda-tanda atau gejala
klinis dalam membedakan konjungtivitis bakteri dari konjungtivitis virus.3
Konjungtivitis adalah salah satu presentasi oftalmik yang paling umum
ke departemen darurat (ED) baik di Australia dan di seluruh Australia globe. Ini
mempengaruhi pasien di semua kelompok umur dan smua kelas sosial ekonomi.

3
Konjungtivitis virus adalah penyebab infeksi yang paling umum
konjungtivitis, terhitung 60-75% dari kasus. Ini juga memiliki dampak ekonomi
dan sosial yang cukup besar karena berbagai faktor. 4
Ada beberapa studi epidemiologi pada pola konjungtivitis viral di
Australia dalam 30 tahun terakhir. Cuaca juga tampaknya mempengaruhi kejadian
konjungtivitis adenoviral, dengan wabah di Australia, Cina, dan Amerika Serikat
cenderung lebih sering terjadi pada bulan-bulan musim panas. Sementara
pemakaian lensa kontak dikenal sebagai faktor risiko tunggal terbesar untuk
keratitis mikroba, tidak ada bukti saat ini yang mengatakan pemakaian lensa
kontak merupakan faktor risiko independen untuk mengembangkan virus
konjungtivitis. Diagnosis konjungtivitis virus didasarkan pada klinis dan temuan
laboratorium. Selain itu, sulit untuk membedakan secara klinis antara
konjungtivitis folikuler yang disebabkan oleh adenovirus, virus herpes simpleks
(HSV), virus varicella zoster (VZV), Chlamydia trachomatis, medicamentosa
permukaan okular, dan rosacea okular. Identifikasi etiologi yang benar dan dini
memungkinkan perawatan yang tepat dan menghindari komplikasi jangka
panjang.4

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Konjungtivitis virus sering terlihat pada epidemi dan paling sering
disebabkan oleh anggota keluarga Adenovirus. Biasanya, konjungtivitis virus
dimulai pada satu mata dan menyebar ke mata lain beberapa hari kemudian.
Konjungtiva tampak merah dan bengkak, dengan watery discharge berlebihan
Konjungtivitis virus dapat sembuh sendiri, berlangsung 10 hingga 14 hari.
Kelenjar getah bening preauricular yang lunak, menunjukkan adanya
konjungtivitis viral atau klamidia. Manajemen harus diarahkan pada kebersihan
yang cermat. Pasien harus diberitahu bahwa infeksi mereka sangat menular.
Mereka harus menghindari kontak dekat dengan orang lain (mis., Handuk, kontak
langsung, kolam renang) selama 2 minggu dan sering mencuci tangan untuk
mencegah penyebaran infeksi mereka. Antibiotik topikal telah diresepkan untuk
mencoba mencegah superinfeksi bakteri, tetapi tidak ada bukti yang baik bahwa
mereka memiliki dampak yang signifikan. Pengobatan simtomatik dengan
kompres dingin dan vasokonstriktor topikal dapat membantu. Konjungtivitis baru-
baru ini (akhir 2015) telah dilaporkan pada pasien dengan virus Zika.4
Konjungtivitis virus adalah infeksi mata eksternal yang umum, adenovirus
(virus DNA beruntai ganda yang tidak diselubungi) menjadi agen penyebab yang
paling sering (90%). Ini dapat terjadi dalam epidemi di lingkungan seperti tempat
kerja (termasuk rumah sakit), sekolah dan kolam renang. Penyebaran infeksi yang
sangat menular ini difasilitasi oleh kemampuan partikel virus untuk bertahan
hidup di permukaan kering selama berminggu-minggu dan oleh fakta bahwa
pelepasan virus dapat terjadi selama beberapa hari sebelum gambaran klinis
terlihat. Penularan umumnya melalui kontak dengan sekresi pernapasan atau mata,
termasuk melalui fomites seperti handuk yang terkontaminasi.4

2.2 Anatomi dan Fisiologi Konjungtiva

5
Konjungtiva merupakan lapisan terluar dari mata yang terdiri dari membran
mukosa tipis yang melapisi kelopak mata, kemudian melengkung melapisi
permukaan bola mata dan berakhir pada daerah transparan pada mata yaitu
kornea. Secara anatomi, konjungtiva dibagi atas 3 bagian yaitu konjungtiva tarsal
yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari tarsus, konjungtiva
bulbi menutupi sclera dan mudah digerakkan dari sclera dibawahnya dan
konjungtiva forniks yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dan
konjungtiva bulbi. Namun, secara letak areanya, konjungtiva dibagi menjadi 6
area yaitu area marginal, tarsal, orbital, forniks, bulbar dan limbal. Konjungtiva
bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak (persambungan mukokutan) dan
dengan epitel kornea pada limbus. Secara histologis, lapisan sel konjungtiva
terdiri atas dua hingga lima lapisan sel epitel silindris bertingkat, superfisial dan
basal. Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang
mensekresi mukus yang diperlukan untuk dispersi air mata. Sel-sel epitel basal
berwarna lebih pekat dibandingkan sel-sel superfisial dan dapat mengandung
pigmen.1,2
Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisialis) dan
satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid
dan tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Lapisan
fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus dan
tersusun longgar pada mata. Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteria siliaris
anterior dan arteria palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan
bersama dengan banyak vena konjungtiva membentuk jaringan vaskular
konjungtiva yang sangat banyak. Konjungtiva juga menerima persarafan dari
percabangan pertama nervus V dengan serabut nyeri yang relatif sedikit.
Konjungtiva palpebralis melekat kuat pada tarsus, sedangkan bagian bulbar
bergerak secara bebas pada sklera kecuali yang dekat pada daerah kornea.1,2

6
Pada konjungtiva terdapat pembuluh darah:

 Arteri konjungtiva posterior yang meperdarahi konjungtiva bulbi

 Arteri siliar anterior atau episklera yang memberikan cabang:

a. Arteri episklera masuk kedalam bola mata dan dengan


arteri siliar posterior lomus bergabung membentuk arteri
sirkular mayor atau pleksus siliar, yang akan memperdarahi
iris dan badan siliar.

b. Arteri perikornea yang memperdarahi kornea

c. Arteri episklera yang terletak diatas sclera, merupakan


bagian arteri siliar anterior yang memberikan perdarahan ke
dalam bila mata.

Bila terjadi pelebaran pembuluh-pembuluh darah diatas maka akan terjadi


mata merah.

Fungsi dari konjungtiva adalah memproduksi air mata, menyediakan


kebutuhan oksigen ke kornea ketika mata sedang terbuka dan melindungi mata,
dengan mekanisme pertahanan nonspesifik yang berupa barier epitel, akt ivitas
lakrimasi, dan menyuplai darah. Selain itu, terdapat pertahanan spesifik berupa
mekanisme imunologis seperti sel mast, leukosit, adanya jaringan limfoid pada
mukosa tersebut dan antibodi dalam bentuk IgA 1,2

Pada konjungtiva terdapat beberapa jenis kelenjar yang dibagi menjadi dua
grup besar yaitu1,2

1. Penghasil musin
a. Sel goblet; terletak dibawah epitel dan paling banyak ditemukan pada daerah
inferonasal.

7
b. Crypts of Henle; terletak sepanjang sepertiga atas dari konjungtiva tarsalis
superior dan sepanjang sepertiga bawah dari konjungtiva tarsalis inferior.
c. Kelenjar Manz; mengelilingi daerah limbus.
2. Kelenjar asesoris lakrimalis. Kelenjar asesoris ini termasuk kelenjar Krause dan
kelenjar Wolfring. Kedua kelenjar ini terletak dalam dibawah substansi propria.
Pada sakus konjungtiva tidak pernah bebas dari mikroorganisme namun
karena suhunya yang cukup rendah, evaporasi dari cairan lakrimal dan suplai
darah yang rendah menyebabkan bakteri kurang mampu berkembang biak. Selain
itu, air mata bukan merupakan medium yang baik.1
2.3 Patofisiologi
Konjungtiva merupakan jaringan ikat longgar yang menutupi permukaan
mata (konjungtiva bulbi), kemudian melipat untuk membentuk bagian dalam
palpebra (konjungtiva palpebra). Konjungtiva melekat erat dengan sklera
pada bagian limbus, dimana konjungtiva berhubungan dengan kornea.
Glandula lakrima aksesori (Kraus dan Wolfring) serta sel Goblet yang
terdapat pada konjungtiva bertanggung jawab untuk mempertahankan
lubrikasi mata. Seperti halnya membrane mukosa lain, agen infeksi dapat
melekat dan mengalahkan mekanisme pertahanan normal dan menimbulkan
gejala kinis seperti mata merah, iritasi serta fotofobia. Pada umumnya
konjungtivitis merupakan proses yang dapat menyembuh dengan sendirinya,
namun pada beberapa kasus dapat menimbulkan infeksi dan komplikasi yang
berat tergantung daya tahan tubuh dan virulensi virus tersebut.
2.4 Epidemiologi
Konjungtivitis virus adalah infeksi mata eksternal yang umum, adenovirus
(virus DNA beruntai ganda yang tidak diselubungi) menjadi agen penyebab
yang paling sering (90%). Ini dapat terjadi dalam epidemi di lingkungan
seperti tempat kerja (termasuk rumah sakit), sekolah dan kolam renang.
Penyebaran infeksi yang sangat menular ini difasilitasi oleh kemampuan
partikel virus untuk bertahan hidup di permukaan kering selama berminggu-
minggu dan oleh fakta bahwa pelepasan virus dapat terjadi selama beberapa
hari sebelum gambaran klinis terlihat. Penularan umumnya melalui kontak

8
dengan sekresi pernapasan atau mata, termasuk melalui fomites seperti
handuk yang terkontaminasi.4
Data epidemiologi menunjukkan bahwa konjungtivitis dapat ditemukan
secara global dan merupakan salah satu penyakit mata yang umum.
Konjungtivitis viral adalah penyebab utama, diikuti dengan konjungtivitis
bakterial di posisi kedua. 4
 Global
Secara global kasus konjungtivitis dapat terjadi pada semua kelompok
usia, dari mulai neonatus hingga lansia. Kasus konjungtivitis ditemukan pada
1% kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan tingkat pertama. Di Amerika
Serikat diperkirakan ada sekitar 6 juta kasus baru konjungtivitis viral per
tahunnya. Konjungtivitis viral dapat bersifat sporadik maupun epidemik
(misalnya di sekolah, di rumah sakit, di klinik). Adenovirus merupakan
penyebab di hampir 90% kasus konjungtivitis viral. Insidensi konjungtivitis
bakterial di Amerika Serikat adalah 135 kasus per 10.000 populasi per tahun.
Di Paraguay, konjungtivitis bakterial pada pasien dewasa paling banyak
disebabkan oleh Staphylococcus. Di Thailand, paling banyak disebabkan
oleh Pseudomonas, dan di India oleh Streptococcus. Staphylococcus aureus,
Streptococcus pneumoniae, dan Moraxella catarrhalis. Infeksi Haemophilus
influenzae lebih banyak ditemukan pada konjungtivitis yang terjadi di anak-
anak. Pada neonatus dapat ditemukan konjungtivitis akibat Chlamydia
trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae. Konjungtivitis vernal lebih banyak
ditemukan di negara dengan iklim hangat, kering, atau beriklim subtropis,
seperti di negara-negara Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan, serta
negara-negara Asia seperti Jepang, Thailand, dan India.

2.5 Jenis dan Tanda Klinis


Konjungtivitis folikuler virus akut dapat muncul sebagai gejala yang ringan dan
sembuh sendiri hingga gejala berat yang menimbulkan kecacatan.1
a. Konjungtivitis folikel akut non-spesifik adalah bentuk klinis paling
umum dari konjungtivitis virus dan biasanya disebabkan oleh infeksi

9
adenoviral oleh berbagai varian serologis. Berair pada unilateral mata,
kemerahan, iritasil, mata kontralateral umumnya terkena 1-2 hari kemudian,
sering kurang parah. Kondisi ini biasanya lebih ringan daripada bentuk
klinis konjungtivitis adenoviral lainnya. Pasien mungkin memiliki gejala
sistemik yang menyertai (biasanya ringan), seperti sakit tenggorokan atau
pilek. Meskipun tidak ada pengobatan yang efektif untuk konjungtivitis
virus, beberapa gejala dapat dikurangi dengan kompres dingin, antihistamin
topikal. Obat antivirus saat ini belum terbukti bermanfaat. Antibiotik topikal
dan penggunaan tetes mata dapat memperumit presentasi klinis dan
meningkatkan risiko penyebaran infeksi.9
b. Demam faringokonjungtival
Tipe ini biasanya disebabkan oleh adenovirus tipe 3 dan kadang-kadang tipe
4 dan 7. Demam faringokonjungtival ditandai oleh demam 38,3 - 400C, sakit
tenggorokan, dan konjungtivitis pada satu atau dua mata. Folikel sering
mencolok pada kedua konjungtiva, dan pada mukosa faring. Penyakit ini
dapat terjadi bilateral atau unilateral. Mata merah dan berair mata sering
terjadi, dapat disertai keratitis superficial sementara ataupun sedikit
kekeruhan di daerah subepitel. Limfadenopati preaurikuler yang muncul tidak
disertai nyeri tekan. Sindrom yang ditemukan pada pasien mungkin tidak
lengkap, hanya terdiri atas satu atau dua gejala utama (demam, faringitis, dan
konjungtivitis).1
Supportive treatment dengan kompres dingin biasanya cukup.9
c. Keratokonjungtivitis epidemika:
Keratokonjungtivitis epidemika disebabkan oleh adenovirus subgroup D tipe
8, 19, 29, dan 37. Konjungtivitis yang timbul umumnya bilateral. Awitan
sering pada satu mata kemudian menyebar ke mata yang lain. Mata pertama
biasanya lebih parah. Gejala awal berupa nyeri sedang dan berair mata. Fase
akut ditandai dengan edema palpebra, kemosis, dan hiperemia konjungtiva.
Dalam 24 jam sering muncul folikel dan perdarahan konjungtiva. Kadang-
kadang dapat terbentuk pseudomembran ataupun membran sejati yang dapat
meninggalkan parut datar ataupun symblepharon. Konjungtivitis berlangsung

10
selama 3-4 minggu. pengobatan EKC berfokus pada menghilangkan gejala
dan meminimalkan penyebaran penyakit yang sangat menular ini. Pasien
biasanya menular selama 10 hingga 14 hari setelah onset. Kompres dingin,
air mata buatan, dan mungkin obat tetes mata dekongestan merupakan
pengobatan utama. Pengangkatan selaput dan pseudomembran, bersama
dengan pemberian steroid topikal, sering memiliki efek signifikan pada
kenyamanan pasien. 1,9
D. Konjungtivitis hemoragik akut biasanya terjadi di daerah tropis.
Konjungtivitis hemoragika akut disebabkan oleh enterovirus tipe 70 dan
kadang-kadang oleh virus coxsakie tpe A24. Yang khas pada konjungtivitis
tipe ini adalah masa inkubasi yang pendek (sekitar 8-48 jam) dan berlangsung
singkat (5-7 hari). Onsetnya cepat dan hilang dalam 1-2 minggu . Gejala dan
tandanya adalah rasa sakit, sensasi benda asing, banyak mengeluarkan air
mata, edema palpebra, dan perdarahan subkonjungtiva. Kadang-kadang dapat
timul kemosis. Perdarahan subkonjungtiva yang terjadi umumnya difus,
namun dapat diawali oleh bintik-bintik perdarahan. Perdarahan berawal dari
konjungtiva bulbi superior menyebar ke bawah. Pada sebagian besar kasus,
didapatkan limfadenopati preaurikular, folikel konjungtiva, dan keratitis
epithelia. Pada beberapa kasus dapat terjadi uveitis anterior dengan gejala
demam, malaise, dan mialgia. Transmisi terjadi melalui kontak erat dari
orang ke orang melalui media sprei, alat-alat optic yang terkontaminasi, dan
air.1 Pengobatan lagi-lagi suportif.9
e. Konjungtivitis virus herpes simpleks (HSV)1
Konjungtivitis HSV umumnya terjadi ada anak-anak dan merupakan keadaan
luar biasa yang ditandai pelebaran pembuluh darah unilateral, iritasi, disertai
sekret mucoid. Konjungtivitis dapat muncul sebagai infeksi primer HSV atau
pada episode kambuh herpes mata. Sering disertai keratitis herpes simpleks,
dengan kornea menampakkan lesi-lesi eptelial tersendiri yang umumnya
menyatu membentuk satu ulkus atau ulkus epithelial yang bercabang banyak
(dendritik). Konjungtivitis yang terjadi umumnya folikuler namun dapat juga
pseudomembranosa. Vesikel herpes kadang-kadang muncul di palpebra dan

11
tepian palebra, disertai edema berat pada palpebra. Nodus preaurikuler yang
nyeri tekan adalah gejala yang khas untuk konjungtivitis HSV.1 antiviral
topikal dan sistemik.9

Konjungtivitis Viral Menahun8


a. Blefarokonjungtivitis: Molluskum Kontagiosum Nodul moluskum di tepi atau
kulit palpebra dan alis mata dapat menimbulkan konjungtivitis folikuler menahun
unilateral, keratitis superior, pannus superior, atau mungkin menyerupai
trakhoma. Terdapat reaksi radang mononuklear yang berbeda dengan reaksi pada
trakhoma. Ciri khas moluskum kontagiosum adalah lesi bulat, berombak, putih
mutiara, dan non-radang di bagian pusat. Histopatologi menunjukkan inklusi
sitoplasma eosinofilik yang memenuhi seluruh sitoplasma sel yang membesar dan
mendesak inti ke satu sisi. Terapi dengan cara eksisi atau krioterapi,
b. Blefarokonjungtivitis Varisela-Zoster Ciri khas herpes zoster adalah hiperemia,
konjungtivitis, dan erupsi vesikuler sepanjang dermatom nervus trigeminus
cabang oftalmika. Konjungtivitis biasanya berbentuk papiler, namun dapat
ditemukan folikel, pseudomembran, dan vesikel temporer yang kemudian
mengalami ulserasi. Terdapat limfonodus preaurikuler yang nyeri tekan pada awal
penyakit. Sekuele berupa jaringan parut di palpebra, entropion, dan bulu mata
tumbuh salah arah. Pada herpes zoster dan varisela, kerokan vesikel palpebra
mengandung sel raksasa dan leukosit polimorfonuklear sedangkan kerokan
konjungtiva mengandung sel raksasa dan monosit. Virus dapat diperoleh dari
biakan jaringan sel embrio manusia. Terapi blefarokonjungtivitis varisella-zoster
adalah menggunakan asiklovir oral dosis tinggi (800mg oral lima kali sehari
selama 10 hari). Jika pengobatan diberikan pada awal perjalanan penyakit dapat
mengurangi dan menghambat penyakit.
c. Keratokonjungtivitis Morbilli Pada awal penyakit, konjungtiva tampak mirip
kaca yang dalam beberapa hari diikuti pembengkakan lipatan semiluner. Beberapa
hari sebelum erupsi kulit, timbul konjungtivitis eksudatif dengan sekret
mukopurulen, dan pada saat muncul erupsi kulit, timbul bercak koplik di
konjungtiva dan kadang-kadang di karunkulus. Pada pasien imunokompeten,
keratokonjungtivitis morbili hanya meninggalkan sedikit atau sama sekali tanpa

12
sekuel, namun pada pasien kurang gizi atau imunokompromis, penyakit mata ini
sering disertai infeksi virus herpes atau infeksi bakteri sekunder oleh
S.pneumonia, H.influenza, dan organisme lain. Bakteri tersebut dapat
menimbulkan konjungtivitis purulen disertai ulserasi kornea dan penurunan
penglihatan yang berat. Infeksi herpes juga dapat menimbulkan ulserasi kornea
berat dengan perforasi. Hal tersebut mengakibatkan pasien kehilangan penglihatan
terutama pada anak-anak kurang gizi Kerokan konjungtivitis menunjukkan reaksi
sel mononuklear. Pada sedian yang dipulas giemsa tampak sel-sel raksasa. Terapi
hanya berupa tindakan penunjang karena tidak ada terapi spesifik, kecuali jika
terdapat infeksi sekunder.

Tanda Klinis Secara Umum


a. Edema kelopak mata berkisar dari yang biasa sampai parah.
b. Limfadenopati sering terjadi: preauricular lunak
c. hiperemia dan folikel konjungtiva biasanya menonjol. Papila juga dapat
terlihat, terutama pada konjungtiva tarsal superior.

2.6 Diagnosis
Presentasi klinis tidak spesifik; tanda dan gejala mungkin tidak berkorelasi
dengan penyebab yang mendasarinya. Konjungtivitis bakteri biasanya dimulai
secara unilateral dan menjadi bilateral, sedangkan konjungtivitis virus dapat
unilateral atau bilateral.6
Pendekatan algoritmik menggunakan riwayat perjalanan penyakit dan
pemeriksaan sederhana dengan penlight dan loupe dapat untuk mengarahkan
diagnosis dan memilih terapi. Konjungtivitis dan penyakit mata lain dapat
menyebabkan mata merah, sehingga diferensial diagnosis dan karakteristik tiap
penyakit penting untuk diketahui Penamaan diagnosis konjungtivitis virus
bervariasi, tetapi umumnya menggambarkan gejala klinis khas lain yang
menyertai konjungtivitis dan dari gambaran klinis khas tersebut dapat diduga
virus penyebabnya.8

13
Meskipun ada beberapa tumpang tindih dalam mendiagnosis, perbedaan
klinis antara alergi, bakteri, dan konjungtivitis virus kadang-kadang dapat
disimpulkan oleh konstelasi gejala dan tanda yang khas:6
Pada konjungtivitis alergi ditandai oleh keluarnya lendir putih atau white mucoid
discharge, injeksi ringan hingga sedang, pruritus menonjol, bilateral, tidak ada
limfadenopati. Pada Infeksi virus sering unilateral, dengan watery discharge,
injeksi ringan hingga sedang, pruritus ringan, limfadenopati, dan gejala infeksi
saluran pernapasan atas. Pada konjungtivitis bakteri dapat mulai secara unilateral
tetapi kemudian sering menjadi bilateral, keluarnya cairan purulen, injeksi sedang
hingga berat, kadang disertai dengan limfadenopati.
Anamnesis yang teliti mengenai keluhan pasien dan riwayat terdahulu
sangat penting dalam menegakkan diagnosis konjungtivitis virus. Sebagian dari
pasien akan mengalami pembengkakan di daerah kelenjar getah bening di bagian
depan telinga (preaurikula). 6
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pengecatan giemsa. Pada
konjungtivitis virus ditemukan sel mononuklear dan limfosit pada konjungtivitis
adenoviral dan sel raksasa berinti banyak pada infeksi herpes. 3
Kultur virus dengan isolasi adalah standar rujukan tetapi mahal dan cukup
lama (berhari-hari hingga berminggu-minggu) dan membutuhkan media
transportasi khusus. Sensitivitasnya bervariasi tetapi spesifisitasnya sekitar 100%.
Tes imunokromatografi 'point-of-care' membutuhkan waktu 10 menit
untuk mendeteksi antigen adenoviral dalam air mata; sensitivitas dan spesifisitas
sangat baik. 3
Serologi untuk IgM atau peningkatan titer antibodi IgG ke adenovirus
dapat dilakukan namun jarang digunakan. Inokulasi merupakan teknik
pemeriksaan dengan memaparkan organism penyebab kepada tubuh manusia
untuk memproduksi kekebalan terhadap penyakit itu. Deteksi terhadap antigen
virus dan klamidia dapat dipertimbangkan. Polymerase chain reaction (PCR)
merupakan pemeriksaan yang digunakan untuk mengisolasi virus dan dilakukan
pada fase akut.3

2.7. Penatalaksanaan

14
Pengobatan konjungtivitis adenoviral yaitu mencegah penularan dan
komplikasi serta memberikan terapi sesuai gejala. Kasus yang dicurigai harus
diperiksa di area yang terpisah dari pasien lain. Setelah diagnosis klinis, pasien
harus disarankan untuk menghindari kontak pribadi, untuk mencuci tangan setelah
menyentuh mata, dan untuk menghindari berbagi handuk, bantal, dan barang
pribadi apa pun yang dapat terkontaminasi oleh sekresi mata. 7
Anak-anak harus diperingatkan untuk menghindari kegiatan sosial selama
sakit. Orang dewasa juga harus menghindari kontak dekat. Dianjurkan untuk
membatasi aktivitas profesional kesehatan (kontak langsung dengan pasien)
selama minimal 14 hari (setelah onset). Pemeriksa harus mencuci tangan sebelum
dan sesudah setiap pemeriksaan dengan menggunakan tisu.7
Selain itu, pembersihan dan desinfeksi wajib dilakukan untuk semua
peralatan yang digunakan selama pemeriksaan. Dalam penelitian wabah
nosokomial yang dilaporkan 27 tingkat deteksi DNA adenoviral pada usap
lingkungan adalah 81%. Larutan pelepas klorin (mis. Larutan natrium hipoklorit
2%) dan povidone-iodine efektif melawan virus.7
Kompres dingin dapat meredakan gejala sementara, tetapi beberapa pasien
tidak mendapat manfaat darinya. Pertimbangan bahwa manipulasi mata dan
adneksa tidak dianjurkan pada pasien dengan konjungtivitis virus (untuk
menghindari kontaminasi tangan dan infeksi sekunder). Kacamata hitam dapat
membantu pasien yang fotofobia.
Infeksi adenoviral biasanya terjadi dalam 2-3 minggu, jadi pengobatan
khusus biasanya tidak diperlukan. Belum ada agen antivirus dengan aktivitas yang
bermanfaat secara klinis melawan adenovirus.
Pseudomembran dan membran harus dilepas jika terdeteksi. Kapas dapat
digunakan dalam prosedur tetapi forsep biasanya diperlukan. Steroid topikal
seperti prednisolon 0,5% empat kali sehari bisa digunakan untuk konjungtivitis
adenoviral membran yang parah atau pseudomembran. Steroid dapat
meningkatkan replikasi virus dan memperpanjang periode di mana pasien tetap
dapat menularkan. Tekanan intraokular harus dipantau jika pengobatan
diperpanjang.3

15
Pemberian kortikosteroid menurunkan peradangan dan pemulihan gejala
yang signifikan, tetapi agen ini harus diresepkan secara bijaksana. Penggunaan
kortikosteroid topikal dapat diberikan dalam kasus dengan konjungtivitis
membran atau pseudomembranosa, iridosiklitis, keratitis berat (tidak termasuk
grade 0 dan I). Obat tetes mata dengan potensi terbatas (prednisolon asetat 0,12%,
fluorometholon 0,1%, rimexolone 1%, deksametason 0,001%, dan loteprednol
etabonate 0,5%) harus diberikan tiga hingga empat kali sehari selama 1 hingga 3
minggu. Rupanya, 0,12% prednisolon adalah yang paling kuat dari persiapan ini,
dengan kemungkinan terhindar dari efek lain dengan pembersihan virus.7
Antiviral topikal yang efisien akan membantu dalam memperpendek
perjalanan penyakit, mengurangi replikasi virus, dan menurunkan jumlah antigen
virus. Trifluridine telah diuji, tetapi tidak ada perbedaan dengan kontrol (air mata
buatan) terdeteksi.7
Ganciclovir (GcV) menunjukkan efek dalam menghambat aktivitas
terhadap serotipe Adenovirus dalam kultur sel virus. Evaluasi in vivo dari 3%
GcV topikal pada mata tikus yang diinokulasi dengan tipe adenovirus 5
menunjukkan tren yang secara statistik tidak signifikan terhadap peningkatan
insidensi, durasi dan titer virus. Data serupa juga ditemukan dalam uji klinis acak
tersamar ganda dengan 33 pasien pada 0,15% GcV atau air mata buatan.7

2.8 Prognosis
Prognosis penderita konjungtivitis baik karena sebagian besar kasus dapat sembuh
spontan (self-limited disease), namun komplikasi juga dapat terjadi apabila tidak
ditangani dengan baik.6

16
BAB III
KESIMPULAN
Konjungtivitis adalah penyebab mata merah yang paling umum ditemui.
Di antara etiologi konjungtivitis, konjungtivitis virus adalah yang paling umum.
Meskipun pasien dengan konjungtivitis mungkin hanya tampak beberapa iritasi
kecil pada mata, mereka biasanya tidak mengeluh sakit pada mata atau kehilangan
penglihatan.
Konjungtivitis virus sering terlihat pada epidemi dan paling sering
disebabkan oleh anggota keluarga Adenovirus. Biasanya, konjungtivitis virus
dimulai pada satu mata dan menyebar ke mata lain beberapa hari kemudian.
Konjungtiva tampak merah dan bengkak, dengan watery discharge berlebihan.
Konjungtivitis virus dapat sembuh sendiri, berlangsung 10 hingga 14 hari. Dan
terapinya bersifat suportif.
Meskipun ada beberapa tumpang tindih dalam mendiagnosis, perbedaan
klinis antara alergi, bakteri, dan konjungtivitis virus kadang-kadang dapat
disimpulkan oleh konstelasi gejala dan tanda yang khas:6
Pada konjungtivitis alergi ditandai oleh keluarnya lendir putih atau white mucoid
discharge, injeksi ringan hingga sedang, pruritus menonjol, bilateral, tidak ada
limfadenopati. Pada Infeksi virus sering unilateral, dengan watery discharge,
injeksi ringan hingga sedang, pruritus ringan, limfadenopati, dan gejala infeksi
saluran pernapasan atas. Pada konjungtivitis bakteri dapat mulai secara unilateral
tetapi kemudian sering menjadi bilateral, keluarnya cairan purulen, injeksi sedang
hingga berat, kadang disertai dengan limfadenopati.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. John F. FRSC.2020. Kanski's Clinical Ophthalmology ninth ed.


https://www.clinicalkey.com/#!/content/book/3-s2.0-
B9780702077111000066?scrollTo=%23hl0000522
2. Kettent P. Cheng. 2018. Opthalmology Zitelli and Davis' Atlas of Pediatric
Physical Diagnosis, Seventh Edition. Elsevier.
https://www.clinicalkey.com/#!/browse/book/3-s2.0-C20140035599
3. Dorsch. John. 2020. Conn's Current Therapy. Elsevier.
https://www.clinicalkey.com/#!/browse/book/3-s2.0-C20180046599
4. Marinos Emmanuel. 2020. Viral conjunctivitis: a retrospective study in an
Australian hospital. Journal
Elsevierhttps://www.clinicalkey.com/service/content/pdf/watermarked/1-
s2.0-S1367048419300621.pdf?locale=en_US&searchIndex=
5. Crouch. Earl R. 2018. Opthalmology Textbook of Family Medicine Ninth
Edition. Elsevier ClinicalKey
6. American Academy of Ophthalmology Cornea/External Disease Panel:
Preferred Practice Pattern Guidelines: Conjunctivitis. American Academy
of Ophthalmology. Published November 2018.
7. Mannis, Mark J., MD FACS. 2017. Cornea, Fourth Edition. Elsevier
https://www.clinicalkey.com/#!/content/book/3-s2.0-
B978032335757900042X?scrollTo=%23top
8. Sitompul Ratna. 2017. Konjungtivitis Viral: Diagnosis dan Terapi di
Pelayanan Kesehatan Primer. Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK
Universitas Indonesia.RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
9. Mandell, Douglas, and Bennett's.2020. Principles and Practice of
InfectiousDiseases . Ninth Edition. Elsevier.
https://www.clinicalkey.com/#!/content/book/3-s2.0-
B9780323482554001120?scrollTo=%23hl0000375

18
19