Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Tujuan Percobaan
1. Mengenal dan memahami sifat-sifat pembiasan cahaya pada lensa
2. Menentukan jarak fokus lensa
3. Mengamati cacat bayangan (aberasi) dan penyebabnya
4. Mengurangi terjadinya cacat-cacat bayangan

B. Dasar Teori

Lensa adalah benda tembus cahaya yang dibatasi oleh dua bidang
lengkung, biasanya bidang bola, kadang-kadang bidang silinder, atau satu
bidang lengkung dan satu bidang datar. Lensa terdiri dari beberapa
jenis; ada lensa cembung, ada lensa cekung. Lensa cembung ialah lensa
yang bagian tengahnya lebih tebal daripada bagian pinggirnya; sedangkan
lensa cekung bagian tengahnya lebih tipis daripada bagian pinggirnya.
(Hilliday,1985)

Jarak focus lensa sederhana dapat pula dihitung dengan rumus:


2

Dengan metode Bessel lensa positif dapat dihitung dengan rumus :

Dimana D = S2 – S1

Lensa adalah benda bening yang dibatasi oleh dua bidang bias. Ada 2
jenis lensa yaitu: ( Alonso, 1980 )

1. Lensa Cembung (konveks)

Lensa cembung adalah lensa yang bagian tengahnya lebih tebal


daripada bagianpinggirnya.Lensa cembung terdiri atas 3 macam bentuk
yaitu lensa bikonveks (cembung rangkap), lensa plankonveks (cembung
datar) dan lensa konkaf konveks (cembung cekung).Lensa cembung
disebut juga lensa positif karena jarak fokusnya (f) selalu bertanda positif..
Lensa cembung memiliki sifat dapat mengumpulkan cahaya
(konvergen).Apabila ada berkas cahaya sejajar sumbu utama mengenai
permukaan lensa, maka berkas cahaya tersebut akan dibiaskan melalui
satu titik.

Lensa cembung terdiri atas 3 macam bentuk yaitu lensa bikonveks


(cembung rangkap), lensa plankonveks (cembung datar) dan lensa konkaf
konveks (cembung cekung).

Sinar-sinar istimewa pada lensa cembung


3

1. Sinar datang sejajar sumbu utama dibiaskan menuju titik fokus


2. Sinar datang melalui titik fokus dibiaskan sejajar sumbu utama
3. Sinar datang melalui titik pusat lensa diteruskan (tanpa dibiaskan)

2. Lensa Cekung
Lensa cekung adalah lensa yang bagian tengahnya lebih tipis
daripada bagian pinggirnya.Lensa cekung ada 3 macam bentuk yaitu lensa
bikonkaf (cekung rangkap), lensa plankonfaf (cekung datar) dan lensa
konveks konkaf (cekung cembung).Lensa cekung disebut juga lensa
negatif. Lensa cekung memiliki sifat dapat menyebarkan cahaya
(divergen) Lensa cekung disebut lensa divergen karena dapat
memancarkan berkas sinar cahaya yang sejajar sumbu utama dan seolah-
olah berasal dari satu titik di depan lensa. Apabila seberkas cahaya sejajar
sumbu utama mengenai permukaan lensa cekung, maka berkas cahaya
tersebut akan dibiaskan menyebar seolah-olah berasal dari satu titik.

Tiga sinar istimewa pada lensa cekung :

 Sinar datang sejajar sumbu utama lensa dibiaskan seakan-akan


berasal dari titik fokus aktif F.
 Sinar datang seakan-akan menuju titik fokus pasif F2 dibiaskan
sejajar sumbu utama.
 Sinar datang melalui titik pusat optik O diteruskan tanpa
pembiasan.

Lensa adalah benda bening yang dibatasi oleh dua bidang bias
dengan minimal satu permukaan tersebut merupakan bidang lengkung.
Beberapa bentuk standar dari lensa ditunjukkan pada Gambar 1.
4

Gambar 1. Bentuk standar lensa: (a) lensa positif dan (b) lensa negatif.

Dalam pembahasan tentang lensa, dikenal apa yang dinamakan


titik fokus pertama (F1) dan titik fokus kedua (F2). Titik fokus pertama
merupakan titik benda pada sumbu utama yang bayangannya berada di
tempat yang sangat jauh (tak hingga), sedangkan titik focus kedua adalah
titik bayangan pada sumbu utama dari benda yang letaknya sangat jauh
(tak hingga). ( Tiper, 1991 )

1. Lensa Tipis
Lensa tipis adalah lensa sederhana yang ketebalannya dapat
diabaikan bila dibandingkan dengan panjang titik fokusnya. Lensa yang
ketebalannya tidak dapat diabaikan dibandingkan dengan jarak titik fokus
diamakan lensa tebal. Untuk lensa tipis, titik fokus dapat dihitung dari
jarak benda, s, dan jarak bayangan yang dibentuk, s’, dengan persamaan:

2. Lensa Gabungan

Lensa gabungan sering digunakan pada alat‐alat optic dengan


maksud mengurangi cacat bayangan atau merubah sifat bayangan agar
bisa dilihat oleh mata manusia. Untuk suatu sistem lensa gabungan yang
terdiri dari dua buah lensa tipis dan masing‐masing mempunyai titik fokus
f1 dan f2 seta dipisahkan oleh jarak d.
5

BAB II

METODE KERJA

2.1 ALAT DAN BAHAN


2.1.1 ALAT
- Bangku optik
- Diafragma
- Kabel – kabel penghubung dengan sumber tenaga listrik
- Lampu pijar untuk benda
- Layar untuk menangkap bayangan
- Lensa negati ( - )
- Lensa positif kuat ( + + )
- Lensa positif lemah ( + )
2.1.2 BAHAN
- Benda berupa panah
2.2 CARA KERJA
# Menentukan jarak fokus lensa
A. Menentukan jarak focus lensa
1. Diukur tinggi atau panjang anak panah yang dipergunakan sebagai
benda
2. Disusun sistem optik berurutan sebagai berikut:
- Benda dengan lampu dibelakangnya
- Lensa positif lemah (tanda +)
- Layar
3. Diambil jarak layar lebih besar dari satu meter
4. Diukur dan dicatat jarak benda ke layar
5. Digeser-geserkan lensa agar mendapat bayangan yang tegas/jelas pada
layar
6. Dicatat kedudukan lensa dan diukur tinggi bayangan pada layar
7. Digeser kembali kedudukan lensa sehingga didapat bayangan jelas
yang lain (jarak benda ke layar L tidak diubah)
6

8. Diulangi percobaan no.3 sampai dengan no.7 beberapa kali dengan


harga L yang berlainan
9. Diulangi percobaan no2 sampai no.8 untuk lensa positif kuat (tanda +
+)
10. Untuk menentukan jarak lensa negatif dibuat bayangan yang jelas dari
benda O pada layar dengan pertolongan lensa positif
11. Kemudian diletakkan lensa negatif antara lensa positif dan layar.
Diukur jarak lensa negatif ke layar = S
12. Digeser layar sehingga terbentuk bayangan yang jelas pada layar. Dan
diukur jarak lensa negatif ke layar = S’
13. Diulangi percobaan no.10 sampai no.12 beberapa kali
14. Untuk menentukan jarak focus lensa bersusun, dirapatkan lensa positif
kuat (++) dengan lensa positif lemah (+) serapat mungkin
15. Digunakan cara Bessel untuk menentukan jarak focus bersusun
tersebut. Serta diulangi beberapa kali dengan harga L yang diubah-
ubah

# Mengamati Cacat Bayangan

1. Untuk mengamati aberasi khromatik digunakan lensa positif kuat (++)


dan lampu pijar sebagai benda. (anak panah sebagai benda
disingkirkan)
2. Digeser-geserkan layar, ,maka kita akan dapat mengamati bahwa suatu
kedudukan akan terdapat bayangan dengan tepi merah dan pada
kedudukan lain bayangan dengan tepi biru
3. Dicatat masing-masing kedudukan lensa yang memberikan bayangan
dengan tepi berbeda warna
4. Dipasang diafragma didepan lampu pijar. Diulangi percobaan no. 17
dan 18 apa yang terjadi pada bayangan dari lampu
5. Diulangi percobaan no.14 dengan menggunakan diafragma yang
berlainan
6. Untuk mengamati astigmatisme diletakkan benda miring terhadap
sumbu sistem layar. Diletakkan kaca baur (benda) didepan lampu
7

7. Digeser-geserkan layar dan diamati bayangan dari benda (letak garis


tegak tak sama dengan letak garis datar)
8. Kemudian diletakkan diafargma didepan benda (kaca baur), lalu
digeser-geserkan kembali layarnya. Perubahan apa yang terjadi pada
bayangan dari benda.

BAB III

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

Keadaan ruangan P (cm)Hg T (℃) C (%)


Sebelum percobaan 75,7 (cm)Hg 25℃ 56%
Sesudah percobaan 75,8 (cm)Hg 24℃ 48%
Tabel 1 (Lensa Cembung)

L
No Jenis Lensa S1 S1’ F1 H1 H1’ M1 S2 S2’ F2 H2 H2’ M2
(cm)
Cembung 110 9 104 14,85 1,5 9 6 105 11 9,16 1,5 0,3 0,2
1
kuat (++) cm cm cm cm cm cm cm cm cm cm cm cm cm
Cembung 110 10 100 1,5 6 4 100 10 13,3 1,5 0,3 0,2
2 20 cm
lemah (+) cm cm cm cm cm cm cm cm cm cm cm cm

Tabel 2 (Lensa cekung)

No Jenis lensa L (cm) S S’ F H H’ M


110 11,71
1 Cekung(-) 21 cm 89 cm 1,5 cm 10 cm 6,6 cm
cm cm

Tabel 3 (Lensa bersusun)

L
No Jenis lensa S S’ F e H H’ M
(cm)
Cembung
110 9,63 1,5 10
1 + 6 cm 106 cm 4 cm 15 cm
cm cm cm cm
Cekung
Tabel 4 (abrasi khromatik)

No Warna L (cm) S S’ F
1 Merah 115 cm 105 cm 9 cm 8,31 cm
8

2 Biru 115 cm 105 cm 11 cm 9,96 cm

Tabel 5 (Asigmatisma )

No Posisi L(cm) S S’ F
1 Vertikal 112 cm 10 cm 102 cm 9,10 cm
2 Horizontal 112 cm 11 cm 101 cm 9,91 cm

Perhitungan :

# Percobaan 1 Cembung Kuat (++)

Diketahui : L = 110 cm S = 9 cm S’= 104 cm


H = 1,5 cm H’= 9 cm

Penyelesaian :

S' H'
F= M=
1+ M H

104 9
= =
1+ 6 1,5

104
= = 6 cm
7

= 14,85

# Percobaan 2 Cembung kuat (++)

Diketahui : L = 110 cm S = 105 cm S’= 11 cm

H = 1,5 cm H’= 0.3 cm

Penyelesaian :

S' H'
F= M=
1+ M H

11 0,3
= =
1+ 0,2 1,5

11
= = 0,2 cm
1,2
9

= 9,16 cm

# Percobaan 1 Cembung lemah (+)

Diketahui : L = 110 cm S = 16 cm S’= 100 cm

H = 1,5 cm H’= 6 cm

Penyelesaian :

S' H'
F= M=
1+ M H

100 6
= =
1+ 4 1,5

100
= = 4 cm
5

= 20 cm

# Percobaan 2 Cembung lemah (+)

Diketahui : L = 110 cm S = 100 cm S’= 16 cm

H = 1,5 cm H’= 0,3 cm

Penyelesaian :

S' H'
F= M=
1+ M H

16 0,3
= =
1+ 0,2 1,5

16
= = 0,2 cm
1,2

= 13,33 cm

# Lensa Cekung

Diketahui : L = 110 cm S = 21 cm S’= 89 cm


10

H = 1,5 cm H’= 10 cm

Penyelesaian :

S' H'
F= M=
1+ M H

89 10
= =
1+ 6,6 1,5

89
= = 6,6 cm
7,6

= 11,71 cm

# Lensa Bersusun

Diketahui : L = 110 cm S = 10 cm S’= 106 cm

H = 1,5 cm H’= 15 cm e = 4 cm

Penyelesaian :

S' H'
F= M=
1+ M H

106 15
= =
1+ 10 1,5

106
= = 10 cm
11

= 9,63 cm

# Abrasi khromatik

Merah

Diketahui : L = 115 cm S = 107 cm S’= 9 cm


11

Penyelesaian :

sx s '
F=
s +s '

107 x 9
=
107+ 9

963
=
116

= 8,3 cm

Biru

Diketahui : L = 115 cm S = 105 cm S’= 11 cm

Penyelesaian :

sx s '
F=
s +s '

105 x 11
=
105+11

1155
=
116

= 9,95 cm

# Asigmatisma

Vertikal

Diketahui : L = 112 cm S = 10 cm S’= 102 cm

Penyelesaian :

sx s '
F=
s +s '

10 x 102
=
10+102

1020
=
112
12

= 9,10 cm

Horizontal

Diketahui : L = 112 cm S = 11 cm S’= 101 cm

Penyelesaian :

sx s '
F=
s +s '

11 x 101
=
11+101

1.111
= = 9,91 cm
112

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini tentang sifat lensa dan cacat bayangan. Sifat- sifat
lensa bermacam-macam tergantung dengan lensa yang digunakan, lensa cembung
mempuyai sifat bayangan di perbesar dan terbalik serta lensa cekung bersifat
memperkecil bayangan. Adapun cacat bayangan pada praktikum kali ini yaitu
aberasi kromatik yaitu dimana cacat bayangan terjadi akibat dispersi cahaya saat
ada kegagalan lensa untuk mengarahkan seluruh gelombang warna pada titik yang
sama, dan astigmatisma yaitu cacat bayangan yang memperlihatkan garis
horizontal dan garis vertikal tampak fokus dan tajam pada jarak yang berbeda.
Pada percobaan yang pertama menggunakan 3 lensa yaitu lensa cembung
kuat (++), cembung lemah (+) dan cekung (-). Langkah pertama yang dilakukan
adalah mengukur jarak antara benda ke layar (L) dengan ketentuan lebih dari 100
cm sehingga di ukur sebesar 110 cm dan di ukur tinggi benda sebesar 1,5 cm.
pada lensa cembung kuat diukur jarak dari benda ke lensa (s) sebesar 9 cm dan
jarak dari lensa ke layar (s’) yaitu 104 cm. Diukur tinggi bayangan yang
dihasilkan yaitu 9 cm. Sehingga didapat jarak fokus lensa cembung yaitu 14,85
cm dengan pembiasan ( M ) sebesar 6 cm. Percobaan ini dilakukan 2 kali dimna
jarak fokus yang didapat yaitu 9,16 cm dengam pembiasan ( M ) sebesar 0,2 cm
dimna pembiasaan pada percobaan kedua lebih kecil.
13

Pada percobaan menggunakan lensa cembung lemah ( + ) diukur jarak dari


benda ke lensa (s) yaitu 10 cm dan jarak antara lensa dengan layar (s’) yaitu 100
cm. Setelah itu didapat tinggi bayarngan sebesar 6 cm, sehingga didapat jarak
fokus sebesar 20 cm dengan pembiasan sebesar 4 cm. Percobaan ini dilakukan 2
kali dimna jarak fokus yang didapat yaitu 13,3 cm dengan pembiasan 0,2 cm, hal
ini berbeda dengan lensa cembung kuat dimna jarak fokus lebih lebih dekat
karena lensa cembung digunakan adalah kuat.
Percobaan selanjutnya menggunakan lensa cekung (-). Diletakkan lensa
cekung didepan diafragma sampai mendapatkan bayangan yang tegas dilayar.
Diukur jarak dari benda ke lensa dan (s) yaitu 21 cm dan jarak dari lensa ke layar
(s’) yaitu 89 cm. kemudian diukur tinggi bayangan yang dihasilkan sebesar 10 cm
sehingga menghasilkan jarak fokus sebesar 11,71 cm dengan pembiasan sebesar
6,6 cm. Lensa cekung menghasilkan bayangan maya, tegak dan diperkecil karena
lensa cekung identik dengan menyatukan atau memusatkan cahaya.
Pada percobaan lensa bersusun, lensa yang pertama diletakkan adalah
lensa cembung kuat (++). Disini menggunakan lensa cembung kuat karena untuk
mendapatkan bayangan yang lebih tegas daripada lensa cembung lemah (+). Lalu
diletakan lensa cekung (-) sebagai pemusat cahaya. Lensa cembung dan cekung
dirapatkan agar pengaturan cahaya pada kedua lensa tersebut tidak keluar dari
lebar lensa. Lensa bersusun digerakkan menjauh dari lampu pijar agar
mendapatkan bayangan yang tegas di layar. Pengukuran (s) dan (s’) berturut-turut
yaitu 6 cm dan 106 cm. Dimana didapat tinggi bayangan sebesar 15 cm, sehingga
di dapat jarak focus sebesar 9,63 cm dengam pembiasan sebesar 10 cm.
Untuk aberasi khromatik diperlukan cahaya biru dan merah pada
sekeliling bayangan dengan bantuan lensa cembung kuat (++). Cahaya biru
ditandakan bahwa panjang gelombang tersebut panjang yaitu dengan titik fokus
9,96 cm dan cahaya merah memiliki panjang gelombnag cahaya pendek yaitu 8,31
cm karena pemantulan cahaya pada lensa cembung kuat (++).
Pada astigmatisma digunakan penghalang cahaya berupa kaca garis kotak-
kotak yang berfungsi sebagai pencacat bayangan. Dimana didapat bayangan garis
vertical dengan titik fokus sebesar 9,1 cm dan bayangan garis horizontal pada titik
fokus sebesar 9,91 cm.
14

BAB VI
KESIMPULAN

Dari percobaan, pengamatan dan perhitungan yang telah dilakukan dapat di


simpulkan ,bahwa setiap lensa memiliki sifat masing – masing yaitu :

- Lensa cembung ( + ) yaitu lensa yang menghasilkan bayangan nyata, terbalik


dan diperbesar. Hal ini disebabkan karena lensa cembung menyebarkan
cahaya.
- Lensa cekung ( - ) yaitu lensa yang menghasilkan bayangan maya, terbalik
dan diperkecil. Hal ini di sebabkan karena lensa cekung memusatkan cahaya.

Cacat bayangan (aberasi) terjadi karena adanya penghalang cahaya seperti


kaca garis pada aberasi astigmatisma yang tidak meratakan bayangan hal ini yang
menyebabkan bayangan garis horizontal dan vertikal terlihat jelas pada jarak yang
berbeda. Serta pada aberasi kromatik dimana terlihat warna biru dan merah oleh
akibat dispersi cahaya dimna lensa gagal untuk mengarahkan gelombang warna
pada titik fokus yang sama.

Lensa cembung mengurangi cacat bayangan dengan cara memfokuskan


cahaya lalu di pantulkan ke kaca garis .
15

DAFTAR PUSTAKA

Alonso, Marcello & Edward J. Finn. 1980. Dasar – Dasar Fisika Universitas.
Jakarta : Erlangga

Hilliday,David & Robert Resnick . 1985 . Fisika.Jakarta : Erlangga.

Tiper, Paul A. 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Erlangga
16

TUGAS AKHIR

Semua hasil pengukuran dan perhitungan dibawah ini supaya diberi


ketidakpastiannya dengan menggunakan teori kesalahan.

Hitung jarak fokus lensa positif lemah (+) dan lensa postif kuat (++) dengan
persamaan (1-3) !

JAWAB :

Lensa cembung kuat (++)

E = L2 – 4 . L . f
= (110)2 – 4 . 110 . 12,005
= 12.100 – 5.282,2
= 6.817,8
= 82,56 cm

F = L2 – e2
4L
= (110)2 – (82,56)2
17

4 . 110
= 12.100 – 6.816,15
440
= 5.283,85
440
= 12,008 cm

Lensa cembung (+)

E = L2 – 4 . L . f

= (110)2 – 4 . 110 . 16,65


= 12.100 – 7.326
= 4.774
= 69,09 cm

F = L2 – e2

4L

= (110)2 – (69,09)2

4 . 110

= 12.100 – 4.773,4

440

= 7.326,6
440
= 16,65 cm