Anda di halaman 1dari 5

Nama : Jessy Yanty

NIM : P07220217018
Prodi : Sarjana Terapan Keperawatan Tk.4
Dosen : Ismansyah, S.Kp., M. Kep

RESUME GADAR KARDIOPULMONAL

CARDIAC ARREST
Definisi
Cardiac arrest adalah hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba dan mendadak, bisa
terjadi pada seseorang yang memang didiagnosa dengan penyakit jantung ataupun
tidak. Waktu kejadiannya tidak bisa diperkirakan, terjadi dengan sangat cepat begitu
gejala dan tanda tampak (American Heart Association,2010).

Proses terjadinya cardiac arrest


Kebanyakan korban henti jantung diakibatkan oleh timbulnya aritmia: fibrilasi
ventrikel (VF), takhikardi ventrikel (VT), aktifitas listrik tanpa nadi (PEA), dan
asistol (Diklat Ambulans Gawat Darurat 118, 2010).
a) Fibrilasi ventrikel
Merupakan kasus terbanyak yang sering menimbulkan kematian mendadak,
pada keadaan ini jantung tidak dapat melakukan fungsi kontraksinya, jantung
hanya mampu bergetar saja. Pada kasus ini tindakan yang harus segera
dilakukan adalah CPR dan DC shock atau defibrilasi.
b) Takhikardi ventrikel
Mekanisme penyebab terjadinyan takhikardi ventrikel biasanya karena adanya
gangguan otomatisasi (pembentukan impuls) ataupaun akibat adanya gangguan
konduksi. Frekuensi nadi yang cepat akan menyebabkan fase pengisian
ventrikel kiri akan memendek, akibatnya pengisian darah ke ventrikel juga
berkurang sehingga curah jantung akan menurun. VT dengan keadaan
hemodinamik stabil, pemilihan terapi dengan medika mentosa lebih diutamakan.

c) Pulseless Electrical Activity (PEA)


Merupakan keadaan dimana aktifitas listrik jantung tidak menghasilkan
kontraktilitas atau menghasilkan kontraktilitas tetapi tidak adekuat sehingga
tekanan darah tidak dapat diukur dan nadi tidak teraba. Pada kasus ini CPR
adalah tindakan yang harus segera dilakukan.
d) Asistole
Keadaan ini ditandai dengan tidak terdapatnya aktifitas listrik pada jantung,
dan pada monitor irama yang terbentuk adalah seperti garis lurus. Pada kondisi
ini tindakan yang harus segera diambil adalah CPR

EDEMA PARU
Edema paru adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya cairan ekstravaskular yang
patologis pada jaringan parenkim paru. Edema paru adalah akumulasi cairan di paru-
paru secara tiba- tiba akibat peningkatan tekanan intravaskular.

Manifestasi Klinis
Gejala yang paling umum dari pulmonary edema adalah sesak napas. Ini
mungkin adalah penimbulan yang berangsur-angsur jika prosesnya berkembang
secara perlahan, atau ia dapat mempunyai penimbulan yang tiba-tiba pada kasus dari
pulmonary edema akut. Gejala-gejala umum lain mungkin termasuk mudah lelah,
lebih cepat mengembangkan sesak napas daripada normal dengan aktivitas yang
biasa (dyspnea on exertion), napas yang cepat (tachypnea), kepeningan, atau
kelemahan.
Tingkat oksigen darah yang rendah (hypoxia) mungkin terdeteksi pada pasien-
pasien dengan pulmonary edema. Lebih jauh, atas pemeriksaan paru-paru dengan
stethoscope, dokter mungkin mendengar suara-suara paru yang abnormal, sepeti
rales atau crackles (suara-suara mendidih pendek yang terputus-putus yang
berkoresponden pada muncratan cairan dalam alveoli selama bernapas).

SHOCK KARDIOGENIK
Shock kardiogenik Syok merupakan sindrom gangguan patofisiologik
berat yang berhubungan dengan metabolisme seluler yang abnormal, yang
umumnya disebabkan oleh perfusi jarigan yang buruk. Disebut juga kegagalan
sirkulasi perifer yang menyeluruh dengan perfusi jaringan yang tidak adekuat.
Kardiogenik syok adalah syok yang disebabkan kegagalan jantung,
metabolisme miokard. Apabila lebih dari 40% miokard ventrikel mengalami
gangguan, maka akan tampak gangguan fungsi vital dan kolaps kardiovaskular.
Definisi Kardiogenik syok adalah keadaan menurunnya cardiac output dan
terjadinya hipoksia jaringan sebagai akibat dari tidak adekuatnya volume
intravaskular. Kriteria hemodiamik hipotensi terus menerus (tekanan darah sistolik <
90 mmHg lebih dari 90 menit) dan bekurangnya cardiac index (<2,2/menit per m2)
dan meningginya tekanan kapiler paru (>15 mmHg). Sebagian besar disebabkan oleh
infark miokardial akut (Hollenberg, 2004).

PENGKAJIAN

Pemeriksaan Nadi :
Saat memeriksa nadi, faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah: Frekuensi, irama, kualitas
nadi, ciri denyutan atau konfigurasi gelombang dan kualitas pembuluh darah itu sendiri.
Frekuensi : frekuensi nadi normal antara 60-100x/mnt frekuensi nadi dipengruhi oleh latihan
fisik,anxietas, usia.
Irama Nadi : dapat teratur atau tidak teratur. Bila irama tidak teratur maka frekuensi jantung
harus dihitung dengan mengauskultasi denyut apikal selama satu menit penuh sambil meraba
denyut nadi. Setiap perbedaan antara kontraksi yang terdengar dan nadi yang diraba harus
dicatat. Disritmia sering mengakibatkan defisit nadi, suatu perbedaan antara frekkuensi apek
dan frekuensi nadi. Defisit nadi terjadi pada fibrilasi atrium ,flater atrium, kontraksi ventrikel
prematur dan berbagai blok jantung.
Kualitas Nadi: klasifikasi kualitas nadi di ukur dengan skala 0 s/d 4

Inspeksi dan Palpasi


Inspeksi secara keseluruhan dari struktur tulang dada,termasuk sambungan
sternoclavicular, manubrium dan bagian atas sternum adalah merupakan tahap awal
dalam pemeriksaan. Derajat yang didapatkan, angle of Louis,bahwa digambarkan dimana
manubrium dan badan sternum bersatu yang jelas pada garis tengah sternum. Sudut louis
(Angle of louis) terletak pada tulang iga ke 2 dan kemudian dapat digunakan untuk
menghitung ICS dan lokasi area auskultasi spesifik.
Area jantung (prekordial) di inspeksi dan palpasi secara simultan untuk
mengetahui adanya ketidak normalan denyutan atau dorongan.Palpasi dilakukan secara
sistematis mengikuti struktur anatomi jantung mulai dari area aorta,area pulmonal, area
trikuspidalis ,area apikal dan area epigastrik.

Perkusi
Perkusi jantung dilakukan untuk mengetahui ukuran dan bentuk jantung secara
kasar. Perawat melakukan perkusi jantung hanya dalam keadaan yang sangat
diperlukan.Perkusi dilakukan dengan meletakan jari tengah tangan kiri sebagai landasan
pada dinding dada. Perkusi dapat dilakukan dari semua arah menuju letak jantung. Untuk
menentukan batas sisi kanan dan kiri, perkusi di kerjakan dari arah samping ke tengah
dada. Batas atas jantung diketahui dengan perkusi dari atas ke bawah.

Auskultasi
Auskultasi jantung berguna untuk menemukan bunyi-bunyi yang diakibatkan
oleh adanya kelainan pada struktur jantung dengan perubahan-perubahan aliran darah yang
ditimbulkan selama siklus jantung. Stetoskop adalah alat yang dipergunakan dalam
mengauskultasi jantung. Yang terdiri dari 2 bagian yaitu: Bell (untuk mengukur suara yang
nadanya rendah,seperti Bj 3 dan bj 4 ,bising mid sistolik mitral/trikuspid) dan Difragma
(untuk mendengarkan suara yang nadanya tinggi, seperti: Bj 1 dan Bj 2, opening snap, bunyi
ejeksi, perikardial friction rub, bising sistolik dan awal diastolik).

Diagnosa Keperawatan
 Nyeri (akut) berhubungan dengan iskhemia otot jantung sekunder terhadap sumbatan
arteri koroner
 Aktual/Risiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan inotropik
(iskemia miokard transien/memanjang, efek obat)
 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplai oksigen
miokard dan kebutuhan, adanya iskemia/nekrotik jaringan miokard, efek obat depresan
jantung (penyekat beta, antidisritmia)
 Risiko tinggi perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan/ penghentian
aliran darah, contoh vasokontriksi, hipovolemia/kebocoran dan pembentukan
tromboemboli
 Risiko tinggi kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan perfusi organ
(ginjal); peningkatan natrium/retensi air ;peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan
protein plasma (menyerap cairan dalam area interstisial/jaringan)
 Ansietas/ketakutan berhubungan dengan ancaman atau perubahan kesehatan
 Bersihan jalan nafas tidak efektif
 Pola napas tidak efektif