Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PENGARUH PANDEMI COVID-19 DI INDONESIA


TERHADAP RESIKO PASAR DAN RESIKO KREDIT
Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Risiko Bisnis

Disusun Oleh:

Cendikia Andriawan

180910202023

Kelas C2

Dosen Pengampu:

Dr. Akhmad Toha, M.Si.

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI BISNIS


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JEMBER
2020
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Dialah yang telah mengizinkan kami untuk membuat dan menyelesaikan tugas
makalah mengenai “Analisis Risiko Pasar Dan Risiko Kredit Terhadap Pandemi
Covid-19 Di Indonesia” ini. Maka kami sangat bersyukur atas izin yang telah Dia
berikan. Serta tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada dosen
pengampu, Bapak Dr. Akhmad Toha, M.Si karena dengan adanya tugas
pembuatan makalah ini kami dapat belajar mengenai Risiko Bisnis yang telah ada,
namun yang sebelumnya belum pernah kami pelajari.
Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan untuk
menyelesaikan pembelajaran Mata Kuliah Risiko Bisnis. Dalam penulisan
makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan
maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki oleh penulis. Untuk itu
kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini. Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
terhingga kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah
ini.
Dan penulis juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca dalam kehidupannya. Semoga dengan adanya makalah ini mahasiswa
dapat terbantu dengan masalah dari pembelajaran Mata Kuliah Risiko Bisnis.
Apabila terdapat salah kata ataupun penulisan kami selaku penulis dan juga
penyusun makalah ini memohon maaf sebesar- besarnya.

Jember, 20 April 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................i

DAFTAR ISI.........................................................................................................ii

BAB I : PENDAHULUAN..................................................................................iii

1.1. Latar Belakang..........................................................................................iii

1.2. Rumusan Masalah....................................................................................iii

1.3. Tujuan.......................................................................................................iii

BAB II : PEMBAHASAN.....................................................................................1

2.1. Risiko Pasar...............................................................................................1

2.2. Risiko Kredit..............................................................................................2

2.3. Pengaruh pandemi covid-19 di Indonesia terhadap resiko pasar dan resiko
kredit..........................................................................................................4

BAB III : PENUTUP.............................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................10

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Wabah covid-19 telah menimbulkan berbagai masalah di dalam aspek kehidupan di seluruh
dunia termasuk di Indonesia salah satunya roda perekonomian yang mengalami krisis, beberapa
usaha mengalami penurunan penjualan barang atau jasa atau malah menghentikan operasi. Tidak
berlebihan jika banyak ahli ekonomi yang memprediksi bahwa Indonesia di ambang krisis
keuangan. Dengan adanya pandemi covid-19 ini pemerintah mengeluarkan kebijakan yang salah
satunya berupa social distancing dan juga pembatasan aktivitas diluar rumah dan pembatasan
perjalanan antar wilayah. Dengan adanya kebijakan tersebut akan membuat roda perekonomian
terhambat dan terjadinya krisis ekonomi. Saat ini mungkin terlalu dini mengatakan bahwa krisis
keuangan telah terjadi, namun ketidakpastian kapan berakhirnya wabah covid-19 semakin
memperbesar peluang terjadinya krisis ekonomi di Indonesia. Dari adanya pandemi covid-19 ini
akan banyak menimbulkan suatu resiko, salah satunya seperti risiko pasar dan risiko kredit.
Resiko pasar merupakan suatu risiko yang timbul karena menurunnya nilai suatu investasi karena
pergerakan pada faktor-faktor pasar. Setelah timbulnya risiko pasar, maka muncul juga risiko
kredit. Sehingga dibutuhkan analisis risiko yang tepat agar para pelaku ekonomi dapat bertahan
sampai pandemi ini hilang dan seluruh aktivitas berjalan normal kembali.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa yang dimaksud dengan risiko pasar?

1.2.2 Apa yang dimaksud dengan risiko kredit?

1.2.3 Bagaimana pengaruh pandemi Covid-19 terhadap risiko pasar dan risiko kredit?

1.3 Tujuan

1.3.1 Untuk mengerti dan mengetahui tentang risiko pasar

1.3.2 Untuk mengerti dan mengetahui tentang risiko kredit

1.3.3 Untuk mengetahui dampak apa yang muncul saat pandemi Covid-19 di Indonesia
terhadap risiko pasar dan risiko kredit.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Risiko Pasar


Risiko pasar muncul karena harga pasar bergerak dalam arah yang merugikan organisasi.
Misal, suatu perusahaan mempunyai portofolio sekuritas saham yang dibelidengan harga Rp 1
miliar. Misalkan harga saham jatuh,sehingga nilai pasar saham tersebut turun menjadi Rp 800
juta. Perusahaan tersebut mengalami kerugian karena nilai portofolio sahamnya turun sebesar Rp
200 juta. Kerugian tersebut disebabkan karena harga saham bergerak kearah yang kurang
menguntungkan (dalam hal ini turun). Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.
13/24/DPNP tanggal 25 Oktober 2011, risiko pasar ialah risiko pada posisi neraca dan rekening
administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan kondisi pasar, termasuk risiko
perubahan harga option. Menurut Veithzal (2013:569) Resiko pasar merupakan risiko yang
timbul karena adanya pergerakan variable pasar dari portofolio yang dimiliki oleh bank, yang
dapat merugikan bank atau adverse moment. Risiko pasar seringdisebut juga sebagai risio yang
menyeluruh, karena sifat umumnya adalah bersifat menyeluruh dan di alami oleh seluruh
perusahaan. Contohnya krisis ekonomi dunia tahun 1930-an, krisis ekonomi Indonesia 1997 dan
1998, coupd’tat yang terjadi di Filipina pada saat presiden Marcos di ambil alih oleh kekuatan
People Power hingga Corazon Aquinomenjadi presiden, Amerika Serikat pada kasus Subrime
Mortgage 2007, Thailand pada saatBank Sentral Thailand melakukan devaluasi Bath yang
menyebabkan terjadinya kegoncangan pada ekonomi Thailand secara keseluruhan, perang Teluk
yang menyebabkan beberapa Negara di kawasan Timur Tengah seperti Irak dan Kuwait
mengalami kegoncanganekonomi, dan berbagai kasus yang menyeluruh lainnya. Secara umum
resiko pasar ada 2 (dua) bentuk yaitu :
1. General market risk (risiko pasar secara umum)
General market risk ini di alami oleh seluruh perusahaan yang disebabkan oleh
suatukebijakan yang dilakukan oleh lembaga terkait yang mana kebijakan tersebut
mampumemberi pengaruh bagi seluruh sektor bisnis.Contohnya pada saat bank sentral
suatu Negaramelakukan kebijakan tight money policy (kebijakan uang ketat) dengan
berbagaiinstrumennya seperti menaikkan suku bunga BI rate. Dimana kebijakan
menaikkan BI rate iniakan membawa pengaruh secaramenyeluruh pada seluruh sektor

2
bisnis yang berhubungandengan interest rate related instrument (berbagai instrument
yang berhubungan dengan suku bunga). Bahwa salah satu pihak yang saling urgen
dianggap langsung berhubungan dekatdengan interest rate related instrument adalah
perbankan. Dengan begitu mereka mengambil kredit dan mendepositokan sejumlah
uangnya ke bank. Contoh pada saat BI rate dinaikkan maka suku bunga kredit
diperbankan akan mengikuti kondisi tersebut yaitu turut menaikkan suku bunga kredit,
terutama jika perbankan tersebut menerapkan perhitungan bunga secara sliding rate.
Perhitungan berupa kredit secara sliding rate adalah hitungan pada pembebanan bunga
terhadap nilai pokok pinjaman akan mengalami penurunan dari setiap bulan ke bulan
berikutnya, yang mana ini disesuaikan dengan menurunnya besar nilai dari pokok
pinjaman sebagai efek dari adanya pembayaran cicilan pokok pinjaman yang dilakukan
oleh seorang debitur.
2. Specific market risk adalah suatu bentuk risiko yang hanya dialami secara khusus
padasatu sektor atau sebagian bisnis saja tanpa bersifat menyeluruh. Contohnya :
a) Pengumuman yang dikeluarkan oleh suatu lembaga penilai dimana lembaga penilai
tersebut memiliki reputasi yang baik dan diakui oleh publik. Bahwa mereka
mengumumkan PT.XYZ memiliki kinerja yang rendah dan memiliki utang yang
besar serta laporan yang di publikasikan selama ini kepada public tidak sesuai dengan
sebenarnya. Sehingga atas berita tersebut saham danobligasi perusahaan tersebut
langsung jatuh. Dan jatuhnya saham serta obligasi perusahaan tersebut tidak diikuti
oleh perusahaan lain.
b) Salah satu perusahaan dimana pihak manajemen atau komisaris perusahaan terlibat
tindak kriminal yang luar biasa dan diekspose oleh berbagai media. Sehingga opini
publik telah terbentuk bahwa perusahaan tersebut tidak baik dan jelek
c) Produk yang dijual oleh perusahaan tersebut dianggap mengandung bahan yang
berbahaya atau bersifat haram. Contoh suatu produk makanan yangmengandung
lemak babi. Secara Islam makanan yang mengandung lemak babi haram hukumnya.
Ketika hal itu di ekspose oleh media massa baik cetak maupun elektronik akan
menyebabkan terjadinya penurunan drastis pada penjualan produk perusahaan yang
berpengaruh pada perusahaan laba perusahaan.

2.2. Risiko Kredit

3
Risiko kredit didefinisikan sebagai risiko kerugian yang terkait dengan kemungkinan
kegagalan debitur memenuhi kewajibannya atau risiko bahwa debitur tidak membayar kembali
utangnya. Risiko kredit dapat diakibatkan oleh terkonsentrasinya penyediaan dana pada debitur,
wilayah geografis, produk, jenis pembiayaan, atau lapangan usaha tertentu. Risiko ini lazim
disebut Risiko konsentrasi kredit dan wajib diperhitungkan pula dalam penilaian risiko inheren.
Risiko kredit juga timbul dari tidak dipenuhinya berbagai bentuk kewajiban pihak lain kepada
bank, seperti kegagalan memenuhi kewajiban pembayaran dalam kontrak derivatif.Untuk
sebagian Bank, Risiko kredit merupakan risiko terbesar yang dihadapi. Pada umumnya, marjin
yang diperhitungkan untuk mengantisipasi risiko kredit hanyalah merupakan bagian kecildari
total kredit yang diberikan bank dan oleh karnanya kerugian pada kredit dapat menghancurkan
modal bank dalam waktu singkat. Penyebab utama terjadinya risiko pembiayaan adalah terlalu
mudahnya bank memberikan pinjaman atau melakukan investasi karena terlalu dituntut untuk
memanfaatkan kelebihan likuiditas, sehingga penilaian kredit kurang cermat dalam
mengantisipasi berbagai kemungkinanrisiko usaha yang dibiayainya. Risiko menjadi semakin
terlihat manakala perekonomian mengalami krisis atau resesi. Kelesuan ekonomi akan
berdampak langsung pada menurunnya omzet penjualan perusahaan, sehingga perusahaan akan
mengalami kesulitan untuk dapat memenuhi kewajiban membayar utang-utangnya. Demikian
pula jika terjadi kenaikan tingkat bunga.Lebih lanjut berdasarkan peraturan Bank Indonesia, PBI
No.7/2/PBI/2006 tanggal 20 Januari 2005 klasifikasi kredit sebagai berikut:
a. Lancar : 0 hari .
b. Dalam perhatian khusus : 1 - 90 hari.
c. Kurang lancer : 91 - 120 hari.
d. Diragukan : 121 - 180 hari.
e. Macet : >181 hari.
Penaksiran klasifikasi risiko kredit yaitu :
 Risiko rendah (low) bila risiko kredit masih berada di bawah 5%.
 Risiko sedang (moderate) bila risiko kredit berada pada 5%-10%.
 Risiko tinggi (high) bila risiko kredit berada di atas 10%.
Beberapa risiko kredit tak dapat dihindari, karena tanpa risiko tidak akan ada pendapatan.
Bank dapat mengkompensasikan dengan mengatur, bahwa pemberian kredit yang mempunyai
risikotinggi harus diimbangi dengan pendapatan yang lebih tinggi, dengan suku bunga di atas

4
normal. Namun, pemberian putusan kredit harus dapat dijamin, apakah akan lebih banyak
memberikankredit dengan tingkat pendapatan dan pengembalian tinggi, atau terlalu berisiko,
karena dapat mengakibatkan risiko potensial dalam bisnis. Manajeman Risiko Kredit akan
membantu dalam menentukan tingkat risiko yang dapat diterima, dengan membuat sistim, guna
menentukan risiko yang dapat diterima sebelum kredit diberikan, sehingga dapat diketahui
apakah sebaiknya semua permintaan kredit akan diterima atau ditolak. Sekali kredit diberikan,
kondisi dari nasabah harus dapat dipantau, dan bilamana terjadi tanda-tanda kemunduran
terhadap posisi nasabah akan dapat diketahui, sehingga risiko kemungkinan pembayaran
terlambat dapat diantisipasi secara dini. Risiko Kredit terbagi menjadi dua macam, yakni Risiko
Kredit Jangka Pendek dan Risiko Kredit Jangka Panjang. Risiko Kredit Jangka Pendek Risiko
yang bersifat jangka pendek (Short Term Risk) adalah risiko yang disebabkan karna
ketidakmampuan suatu perusahaan memenuhi dan menyelesaikan kewajiban yang bersifat
jangka pendek. Risiko Kredit Jangka Panjang Risiko yang bersifat jangka panjang (Long Term
Risk) adalah ketidakmampuan suatu perusahaan menyelesaikan kewajiban jangka panjangnya.

2.3. Pengaruh pandemi covid-19 di Indonesia terhadap resiko pasar dan resiko kredit
Pandemi Covid-19 sudah terjadi di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Akibat
dari munculnya pandemi ini terasa diberbagai sektor kehidupan, termasuk pada sektor ekonomi.
Dalam sektor ekonomi berdampak pada segala bagian pada ekonomi, baik makro maupun mikro.
Imbasnya masyarakat pun kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan pokok karena harga-harga
mulai tidak stabil, ekspor-impor yang terhambat mengakibatkan pemasukan negara berkurang
dan stok beberapa jenis barang habis karena bahan baku yang didapat tersendat pengadaannya,
banyak karyawan yang dirumahkan atau bahkan di PHK, banyak warga yang penghasilannya
berkurang atau bahkan kehilangan penghasilan karena terdampak pandemi ini dan lain
sebagainya. Perusahan-perusahaan pun mengalami dampak yang cukup besar, karena daya beli
menurun sehingga pemasukan berkurang. Perusahaan terpaksa harus mengurangi jumlah
produksi atau mengurangi jumlah karyawannya untuk menyelamatkan perusahaan agar tidak
mengalami kerugian yang semakin besar. Pandemi ini menimbulkan risiko yang besar termasuk
dalam risiko pasar serta dalam risiko kredit yang sangat berpengaruh dalam perekonomian.
Dengan adanya kebijakan dari pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus covid-19 berupa
pembatasan dalam beraktivitas diluar rumah dan physical distancing serta diberlakukannya
pembatasan perjalanan antar wilayah membuat berbagai sektor ekonomi menerima imbasnya dan

5
memunculkan berbagi risiko bisnis yang beberapa diantaranya berupa risiko pasar dan risiko
kredit.

2.3.1. Dalam Resiko Pasar

Munculnya Risiko Pasar ini karena kebijakan-kebijakan pemerintah yang


mengakibatkan Perdangangan antar negara semakin memburuk, pasalnya dengan adanya
pandemi ini banyak negara yang menutup akses masuk atau keluar negara untuk mencegah
penularan semakin meluas, sehingga aktivitas ekspor-impor pun terhambat. Indonesia
mengalami dampak cukup besar karena hal tersebut, karena beberapa mitra dagangnya
mengalami masalah serupa, tak terkecuali China yang merupakan eksportir terbesar dunia dan
salah satu mitra terbesar Indonesia.. Penurunan permintaan bahan mentah dari China seperti
batu bara dan kelapa sawit akan mengganggu sektor ekspor di Indonesia yang dapat
menyebabkan penurunan harga komoditas dan barang tambang. Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik (BPS), ekspor migas dan non-migas mengalami penurunan yang dikarenakan China
merupakan importir minyak mentah terbesar. Selain itu, pandemi ini mengakibatkan penurunan
produksi di China yang menjadi pusat produksi barang dunia. Apabila China mengalami
penurunan produksi maka global supply chain akan terganggu dan dapat mengganggu proses
produksi yang membutuhkan bahan baku dari China. Indonesia juga sangat bergantung dengan
bahan baku dari China terutama bahan baku plastik, bahan baku tekstil, part elektronik,
komputer dan furnitur. Investasi pun mengalami dampak karena Pandemi Covid-19 ini, hal ini
dikarenakan masyarakat akan lebih berhati-hati saat membeli barang maupun berinvestasi.
Virus Corona juga memengaruhi proyeksi pasar. Investor bisa menunda investasi karena
ketidak jelasan supply chain atau akibat asumsi pasarnya berubah. Pada 2019, realisasi investasi
langsung dari China menenpati urutan ke dua setelah Singapura. Terdapat investasi di Sulawesi
berkisar US $5 miliar yang masih dalam proses tetapi tertunda karena pegawai dari China yang
terhambat datang ke Indonesia.
Jasa transportasi pun mengalami dampak cukup besar, salah satunya transportasi udara.
Indonesia menjadi salah satu negara yang melakukan larangan perjalanan ke dan dari China
untuk mengurangi penyebaran virus Corona. Larangan ini menyebabkan sejumlah maskapai
membatalkan penerbangannya dan beberapa maskapai terpaksa tetap beroperasi meskipun
mayoritas bangku pesawatnya kosong demi memenuhi hak penumpang. Para konsumen banyak

6
yang menunda pemesanan tiket liburannya karena semakin meluasnya penyebaran virus Corona.
Bukan hanya di Indonesia yang membatasi perjalanan ke China, namun negara-negara yang lain
seperti Italia, China, Singapura, Rusia, Australia dan negara lain juga memberlakukan hal yang
sama Pandemi ini juga sangat berdampak pada sektor pariwisata. Data Badan Pusat Statistik
(BPS) menunjukkan bahwa wisatawan asal China mencapai 2.07 juta orang pada tahun 2019
yang mencakup 12.8% dari total wisatawan asing sepanjang 2019. Pandemi ini menyebabkan
berkurangnya jumlah wisatawan yang berkunjung di Indonesia. Sektor-sektor penunjang
pariwisata seperti hotel, restoran maupun pengusaha retail pun juga akan terpengaruh dengan
adanya virus Corona. Okupansi hotel mengalami penurunan sampai 40% yang berdampak pada
kelangsungan bisnis hotel. Sepinya wisatawan juga berdampak pada restoran atau rumah makan
yang sebagian besar konsumennya adalah para wisatawan. Melemahnya pariwisata juga
berdampak pada industri retail dan daerah-daerah paling terdampak adalah Manado, Bali,
Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Medan dan Jakarta. Penyebaran virus Corona juga
berdampak pada sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) karena para wisatawan yang
datang ke suatu destinasi biasanya akan membeli oleh-oleh. Jika wisatawan berkurang, maka
omset UMKM juga akan menurun. Berdasarkan data Bank Indonesia, pada tahun 2016 sektor
UMKM mendominasi unit bisnis di Indonesia dan jenis usaha mikro banyak menyerap tenaga
kerja.

2.3.2. Dalam Resiko Kredit

Selain risiko pasar, Risiko Kredit pun bisa muncul yang diakibatkan pandemi Covid-19
dikarenakan timbulnya ke khawatiran pihak bank atas tidak diterpenuhinya debitur atau pihak
lain dalam memenuhi kewajibannya. Hal ini terjadi dikarenakan banyak kebijakan-kebijakan
pemerintah terkait penanganan pandemi ini yang berakibat munculnya risiko pasar yang juga
akan menimbulkan risiko kredit. Akibat kebijakan pemerintah terkait pandemi ini disamping
aktifitas operasionalnya terhambat bisa jadi juga tidak terpenuhinya kewajiban perusahaan atas
pihak bank sebagai kreditur. Dilihat lebih dalam lagi, ketika pemasukan perusahaan berkurang
maka perusahaan akan melakukan langkah-langkah untuk menyelamatkan perusahaan agar
tidak mengalami kebangkrutan, salah satunya dengan pemotongan gaji atau mengurangi jumlah
karyawan sehingga beban biaya perusahaan bisa sedikit berkurang. Imbas ketika pemotongan
gaji atau pengurangan karyawan yaitu ketika karyawan yang mengambil kredit atau pinjaman

7
ke bank maka berpotensi pemenuhan kewajiban kepada pihak bank akan tidak terpenuhi.

Keluarnya kebijakan dari Pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai
relaksasi penundaan bayar cicilan kredit dan pembiayaan dari bank dan multifinance kepada
masyarakat untuk meringankan beban mereka selama pandemi ini. Kebijakan ini diberikan
demi meringankan beban pengembalian pokok dan bunga kredit atau pembiayaan bagi
masyarakat. Penyebaran Covid-19 membuat pekerjaan dan ekonomi masyarakat terganggu
dan dikhawatirkan akan menekan kemampuan masyarakat melunasi cicilan kredit dan
pembiayaan yang mereka pinjam. Keringanan ini memang mau tidak mau harus diberikan, jika
tidak dilakukan dikhawatirkan permasalahan tersebut bakal meningkatkan rasio kredit
bermasalah di bank (Non Performing Loan/NPL). Walupun belum ada perhitungan pasti,
namun NPL bisa melewati 5% pada tahun ini jika tidak ada kebijakan relaksasi tunda bayar
cicilan kredit. Begitu pula dengan rasio pembiayaan macet di multifinance (Non Performing
Financing/NPF) yang juga bisa meningkat bila tidak ada kebijakan ini. Hanya saja, masalah
memang tidak bisa langsung selesai dengan kebijakan ini. Sebab, relaksasi kredit dan
pembiayaan sejatinya tidak diobral ke semua debitur, sehingga pada akhirnya tidak semua bisa
merasakan. Bank dan multifinance tetap dituntut memberikan relaksasi secara berhati-hati dan
penuh perhitungan manajemen risiko. Sehingga relaksasi hanya diberikan kepada debitur yang
punya rekam jejak baik dan pastinya terdampak tekanan ekonomi akibat pandemi corona.
Sementara debitur yang tidak terimplikasi langsung, diharapkan 'tahu diri' untuk tidak
mengajukan relaksasi penundaan bayar cicilan kredit atau pembiayaan.

Sementara bagi bank, sejatinya tidak serta merta menyelesaikan beban bank. Sebab,
risiko kredit tetap tinggi dan berpotensi menggerus keuntungan bila tidak dikelola dengan baik.
Misalnya, Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) bank akan meningkat pada tahun ini.
CKPN merupakan cadangan yang dibentuk bank untuk menghadapi risiko kerugian akibat
penanaman dana dalam aktiva produktif. Selain itu, ada risiko penurunan keuntungan bank
yang tercermin dari marjin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM). Hal ini terjadi karena
penyaluran kredit baru pun diperkirakan bakal terhambat pada tahun ini. Sebab, likuiditas yang
seharusnya bisa berputar dari pembayaran cicilan kredit justru harus dipakai untuk menalangi
penundaan bayar dari debitur. Hal ini membuat likuiditas untuk penyaluran kredit baru pun
agak seret, meski rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Rasio/CAR) bank masih relatif
cukup. CAR bank berada di kisaran 22,42% per Februari 2020. Rinciannya, bank BUKU I

8
29,07%, BUKU II 25,06%, BUKU III 25,4%, dan BUKU IV 20,89%.

Akan tetapi dari kecukupan modal, bank tetap perlu berhati-hati karena restrukturisasi
akan membuat perubahan jadwal cash flow di masing-masing bank yang kemudian mendorong
pengetatan likuiditas. Sehingga ketika relaksasi tunda bayar cicilan kredit dan multifinance
diberikan, ada baiknya otoritas turut memberikan kebijakan yang mampu menunjang kebutuhan
likuiditas para lembaga keuangan. Salah satu yang sudah diberikan berupa pelonggaran batas
cadangan kas bank di Bank Indonesia (BI) atau dikenal dengan Giro Wajib Minimum
(GWM). Namun ke depan, tetap perlu ada kebijakan stimulus lagi bagi penjaminan likuiditas
bank.

9
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari yang telah dibahas diatas dapat disimpulkan bahwa pandemi Covid-19 telah
membawa dampak yang besar bagi perekonomian Indonesia. Mulai dari turunnya Kurs, Indeks
Harga Saham Gabungan yang tiap hari kian anjlok, banyaknya karyawan yang di PHK karena
perusahaan harus mengurangi pengeluaran untuk pegawai, Menurunnya penghasilan pegawai
harian dan UMKM banyak yang terpuruk. Aktivitas perekonomian pun terhambat, sehingga
sangat memungkinkan risiko-risiko dalam bisnis muncul, sehingga harus berhati- hati dalam
mengambil suatu keputusan.
Beberapa yang timbul akibat pandemi ini berupa risiko pasar dan risiko kredit. Risiko
pasar muncul dikarenakan kebijakan pemerintah dalam membatasi aktivitas diluar rumah dan
pembatsan perjalanan antar wilayah untuk mengurangi penyebaran pandemi ini, sehingga
membuat aktivitas operasional perekonomian/perusahaan terganggu yang dapat membuat
pemasukan berkurang, sehingga berisiko untuk mengalami kebangkrutan. Risiko kredit pun
muncul ketika risiko pasar muncul, dikarenakan saat pada saat tersebut, dikhawatirkan tidak
mampunya debitur atau pihak lain dalam memenuhi kewajibannya. Hal tersebut sangat berisiko
juga bagi pihak bank. Munculnya risiko-risiko tersebut harus ditangani dengan hati-hati dan
seksama dengan menggunakan manajemen risiko yang baik.

10
DAFTAR PUSTAKA
Fahm, Irham. Manajemen Risiko. Bandung: ALFABETA,2018.
Natalia, Pauline. 2015. Analisis Pengaruh Risiko Kredit, Risiko Pasar, Efisiensi Operasi,
Modal, dan Likuiditas Terhadap Kinerja Keuangan Perbankan (Studi Kasus Pada
Bank Usaha Milik Negara Yang Terdaftar Di Bei Periode 2009-2012). Jurnal
Ekonomi, Manajemen dan Perbankan. 1(2): 62-73.
Djohanputra B. 2006. Manajemen risiko terintegrasi. Jakarta(ID): Penerbit PPM

11