Anda di halaman 1dari 7

1.

Aki
● Identitas
o Judul : Aki
o Pengarang : Idrus
o Penerbit : Balai Pustaka
o Tahun Terbit : 1949
o Tebal Buku : 62 Halaman
● Sinopsis
Aki, yang menjadi pelaku utama berumur 29 tahun tapi terlihat
sudah berumur 42 tahun, karena penyakit paru-parunya. Walaupun
berpenyakit Aki sangat rajin masuk kantor dan merupakan orang yang
baik walau tidak rajin beribadah. Aki merasa ia tidak akan lagi hidup
lama di dunia ini. Ia berpendapat bahwa penyakit yang dideritanya
bukanlah suatu keaiban dan kematian bukanlah suatu yang
menakutkan. Walaupun dalam keadaan seperti itu, Sulasmi, istri Aki,
tetap sabar merawatnya. Kedua anaknya, Akbar dan Lastri seperti
belum tahu apa yang terjadi dengan ayahnya, karena keduanya masih
kecil.

Pada suatu hari, Aki terpaksa tidak dapat masuk ke kantor


karena penyakitnya kambuh dan bertambah hebat. Sulasmi sudah
merasa tidak dapat hidup dengan suaminya lebih lama lagi, maka sedih
dan putus asa dirasakannya. Tapi tiba-tiba Sulasmi gembira karena Aki
telah mengatakan bahwa ia baru akan mati setahun lagi pada tanggal 16
Agustus pukul tiga sore. Sejak itu, mereka mempersiapkan segala
keperluan untuk kematian Aki. Berita kematian Aki diketahui sepnya
dan Sep Aki bingung dan heran akan kelakuan Aki. Tak lama berita
kematian itu terdengar oleh semua pegawai di kantor Aki.

Tibalah hari kematian Aki tanggal 16 Agustus. Aki sudah rapi


dengan pakaian terbagusnya. Kedua anaknya pun dimintakan izin tidak
bersekolah . Pukul tiga kurang seperempat Aki berbaring di tempat tidur
ditemani istrinya. Tapi Sulasmi harus membelakangi agar tidak
mengetahui saat Aki menentang maut. Hampir setengah jam Sulasmi
membelakangi Aki. Sekitar pukul tiga lebih dua puluh menit, Sulasmi
baru membalikkan dirinya dengan cepat dan selintas pandang dia
melihat mata Aki sudah tertutup, saat dipanggil tidak menjawab,
Sulasmi berpendapat Aki sudah meninggal. Dia keluar kamar sambil
menangis dan dilihatnya diluar pekarangan rumah banyak orang yang
hendak melayat Aki. Mereka kawan-kawan Aki sekantor dan
kawan-kawan Sulasmi.
Melihat Sulasmi menangis, semua tamu berkeyakinan Aki sudah
meninggal. Saat merekan ke kamar, tiba-tiba ada keributan, tamu-tamu
lari pontang-panting karena melihat Aki sedang duduk sambil merokok
di atas tempat tidur. Setelah orang-orang tidak ada Sulasmi baru
kembali ke kamar. Aki berkata bahwa tadi ia hanya tidur dan terkejut
karena banyak suara orang. Pada Sulasmi, Aki berkata bahwa dia baru
akan mati setelah berumur 60 tahun. Saat Aki berumur 42 tahun, dia
terlihat berumur 29 tahun. Dia diangkat menjadi kepala kantor
menggantikan sepnya dahulu karena sudah meninggal dan dia kuliah di
fakultas Hukum untuk mencapai gelar Master in de Rechten. Aki berkata
kepada Sulasmi ia tidak jadi mati pada umur 60 tahun, tapi mau hidup
seratus tahun lagi.

● Tokoh
o Aki, Sulasmi
2. Tanah Gersang
● Identitas
Judul : Tanah Gersang
Pengarang : Mochtar Lubis
Penerbit : Pustaka Jaya
Tahun Terbit : 1964

● Sinopsis
Tiga pemuda dengan latar belakang kehidupan berbeda,
merencanakan perampokan. Mereka adalah Joni, Sukandar, dan
Yusuf. Sasarannya adalah toko emas Ciu Lan Fong. Joni, salah
seorang di antaranya, bertindak sebagai pengemudi. Dua
lainnya, yaitu Sukandar dan Yusuf, bertugas sebagai pelaksana,
beraksi menguras perhiasan yang ada di dalam toko emas itu.
Operasi mereka berjalan sesuai rencana. Mereka berhasil kabur
dengan hasil rampokannya.

Itulah pengalaman pertama bagi ketiga pemuda itu. Bagi Joni,


tindak kriminal itu sesungguhnya lebih merupakan pelarian. Ia
sebenarnya anak keluarga kaya. Ayahnya, Maimun Habsyah,
adalah politikus terkenal yang karena kesibukannya, baik yang
menyangkut kegiatan partainya, maupun kegiatan mengunjungi
dua istri mudanya, menyerahkan pendidikan anak-anaknya
hanya dengan lembaran-lembaran uang.

Nyonya Maimun Habsyah sendiri yang makin tak


mendapat perhatian suaminya, lebih banyak menimpakan
kejengkelannya kepada kedua orang anaknya. Dalam suasana
keluarga yang demikian itulah, Joni merasa sebagai orang asing
di tengah keluarganya.

Tambahan lagi, masa lalunya, saat Joni dititipkan pada pamannya di


Sukabumi, di Tasikmalaya, dan kemudian di Yogyakarta, telah
menyeretnya untuk menemukan jati dirinya.Kini, sungguhpun
ia masih duduk di kelas satu SMA di sebuah sekolah di Jakarta,
Joni merasa hanya sebagai orang asing, tak ada yang
memberikan perhatian khusus pada dirinya.

Dalam suasana hati yang penuh kekecewaan itu, Joni


berkenalan dengan Sukandar dan Yusuf, dua pemuda yang
bekerja sebagai pencatut karcis di bioskop Metropole.

Berbeda dengan Joni, Yusuf yang kedua orang tuanya tewas dibunuh
NICA, terpaksa ikut bersama bibinya, Rafiah yang
bersuamikan seorang pelaut. Untuk menghidupi dirinya dan
keponakannya itu, betapa bibinya tidak hanya perlu
mendapatkan kehangatan laki-laki lain, tetapi juga perlu
memperoleh penghasilan agar mereka tetap dapat hidup.

Adapun Sukandar lebih malang lagi. Ia sama sekali tak mengenal


kedua orang tuanya karena sejak masih bayi ia sudah dibuang
ibunya. Beruntung, seseorang menemukannya dan
membawanya ke rumah sakit. Namun, sejak itu, ia tinggal di
sebuah rumah panti asuhan.

Hanya beberapa tahun ia tinggal di sana. Kemudian, ia terpaksa kabur


gara-gara berkelahi dengan sesama anak panti asuhan. Sebelum
kabur, ia sempat mencuri uang di kas panti itu. Namun, sial
bagi Sukandar, uang hasil curiannya itu dicuri lagi oleh orang
lain.

Dalam keadaan bingung, seorang Tionghoa mengajaknya untuk


bekerja di tokonya. Namun, juga tidak lama. Ia lalu bekerja di
rumah pelacuran hingga akrab dengan kehidupan dunia hitam.

Begitulah masa lalu ketiga pemuda tanggung itu, telah


menghadirkan perasaan senasib pada diri masing-masing.
Terutama Joni yang di rumahnya selalu dikekang dan
disalahkan, merasa mendapat kebebasan dan ketenangan,
apabila berada di rumah Yusuf. Terlebih lagi Rafiah, bibi
Yusuf, benar-benar telah membuat Joni merasa sebagai
laki-laki. Maka, hubungan ketiga pemuda itu pun semakin
akrab.

Lalu, ketika Joni secara iseng-iseng mengajak melakukan perampokan,


mereka pun sepakat. Joni pula yang kemudian menjadi
pengaturnya. Jadi, perampokan toko emas Ciu Lan Fong
merupakan tindak kriminal mereka yang dirancang Joni.

Dalam suatu kesempatan, Joni berkenalan dengan Lisa, seorang


bintang film yang sedang naik daun. Reputasinya sebagai artis
cantik, banyak dimanfaatkan untuk menguras uang laki-laki
yang tertarik kepadanya, termasuk juga Joni. Dalam waktu
singkat, uang hasil rampokan habis.

Joni sendiri menghabiskannya untuk sekadar dapat kencan dengan artis


cantik itu. Namun, akibatnya, pemuda itu selalu penasaran
untuk dapat merasakan tubuh Lisa. Apa saja yang diminta artis
itu selalu diturutinya walaupun mesti mengeluarkan uang yang
tidak sedikit. Untuk itu pula, Joni mencuri perhiasan ibunya.

Dengan hasil penjualan perhiasan itu, ditambah uang hasil rampokan


pada beberapa penumpang oplet, Joni memang dapat
memenuhi rasa penasarannya pada diri Lisa. Namun, sikap Lisa
yang dingin, makin menyadarkan dirinya bahwa sesungguhnya
ia sama sekali tidak mencintai artis itu. Itu artinya, tidak ada
persoalan jika ia menjauhi Lisa.

Akan tetapi, hubungan dengan dua sahabatnya, Yusuf dan Sukandar,


kembali menyeretnya untuk memikirkan kejahatan baru.
Sebuah rencana perampokan yang berkedok penjualan sepeda
selundupan, dirancang lagi. Mangsanya kali ini, seorang
penadah Tionghoa.

Semula, semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Namun, ternyata


orang Cina yang jadi penadah itu, mengajak penadah Cina
lainnya. Ketika mereka membawa kedua orang Cina itu dengan
oplet sewaan ke tempat yang sepi, baru diketahui bahwa
penadah satunya lagi adalah pemilik toko emas Ciu Lan Fong,
korban perampokan pertama mereka. Tak ada pilihan bagi Joni
maupun kedua temanya, kecuali membunuh kedua orang Cina
itu. Sukandar-lah yang kemudian bertindak menghabisi nyawa
kedua orang Cina yang malang itu.

Kali ini, kejahatan mereka benar-benar telah mengganggu pikiran


masing-masing. Joni kembali menekuni pelajarannya,
sungguhpun ia merasa selalu dihantui mayat kedua orang Cina
itu. Kini, ia mulai jarang mendatangi kedua orang temannya.
Begitu juga terhadap Lisa. Joni mulai berusaha melupakannya.
Lebih dari itu, sikapnya juga sudah jauh berbeda.

Dalam suatu pesta dansa, tanpa diduga, Joni bertemu dengan


Dewi, adik Lisa. Pertemuan yang tak sengaja ini, rupanya awal
untuk pertemuan selanjutnya. Serangkaian pertemuan itu pula
yang menyebabkan keduanya jatuh cinta.
Sementara itu, Lisa yang mengetahui adiknya berhubungan dengan
Joni, melarang keras hubungan itu. Lisa tak ingin adiknya
menjadi korban lelaki yang sudah sangat dikenalnya itu.
Namun rupanya, larangan itu justru memicu keduanya untuk
berbuat nekat. Lalu, keputusan Joni adalah: kawin lari.
Keduanya kemudian sepakat untuk kabur ke Medan.

Di Medan, berkat bantuan Kapten Nizar, teman Joni, Joni


melangsungkan pernikahan dengan Dewi. Bulan madu, mereka
tentukan di Prapat. Itulah hari-hari bahagia pengantin baru itu.
Saat Joni benar-benar merasakan kebahagiaan itu menjadi
miliknya, ia tewas, tenggelam di Danau Toba karena perahunya
diterjang ombak.

Sebelum itu, Joni sempat membaca sebuah surat kabar yang


memberitakan bahwa Yusuf dan Sukandar telah ditangkap
polisi. Joni tenggelam bersama ketakutannya, cintanya, dan
sekaligus keinsafannya. Saat menjelang kematiannya itulah,
Joni untuk pertama kalinya menyebut nama Tuhan dan
memohon ampun kepada-Nya.

● Tokoh
o Joni, Sukandar, Yusuf ,​ Nyonya Maimun Habsyah , Lisa.
3. Surabaya
● Identitas
o Judul : Surabaya
o Pengarang : Idrus
o Penerbit : Merdeka Press
o Tahun Terbit : 1946
o Tebal Buku : 64 Halaman
● Sinopsis

"Surabaya" kata yang dalam ​fragmen​, dengan tidak ada ​karakter


utama​ tunggal.​[5]​ Cerita dimulai dengan sekelompok ​Orang
Indo​ mengibarkan ​bendera Belanda​ diatas ​hotel
Yamato​ kota ​Surabaya​ setelah ​Jepang​ yang ​menginvasi​ pada
tahun 1942 ​menyerah​. Bendera ​diturunkan​ oleh
orang ​pribumi​ pro-nasionalis dan diganti dengan bendera negara
(​bendera Indonesia​) yang baru ​diproklamasikan​.
Kemudian, ​pasukan Sekutu​ mendarat di kota. Setelah pasukan
pribumi mengabaikan ​ultimatum​ untuk menyerahkan senjata
mereka, pertempuran pecah, yang berpuncak
dengan ​pengeboman Surabaya​ pada 10 November 1945.
Penduduk sipil Indonesia meninggalkan kota,
menuju ​Krian​ dan ​Sidoarjo​. Mereka sangat mencurigai dan
membunuh siapapun yang dituduh ​mata-mata​. Dalam kelompok
besar pengungsi, laki-laki dan perempuan menjadi rentan
terhadap perselingkuhan. Sementara itu, tentara muda di
Surabaya berjuang untuk mempertahankan kota tapi dengan
cepat menjadi tertekan karena kurangnya senjata dan
perlengkapan. Cerita berakhir pada bulan Mei 1946.

● Tokoh
o Pribumi dan Tentara
4. Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma
● Identitas
o Judul Buku : Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma
o Penulis : Idrus
o Penerbit : Balai Pustaka
o Tahun terbit : 1948
o Tebal buku : 172 halaman
o No ISBN : 9794072184
● Sinopsis
Buku ini berisi kumpulan cerita yang memiliki latar yang sama yaitu
penjajahan jepang hingga sekutu namun tiap cerita tidak
memiliki koneksi antara satu sama lain. Judul cerita yang
ditulis oleh idrus , ialah Ave Maria, Kejahatan Membalas
Dendam, Kota Harmoni, Jawa Baru, Pasar Malam Jaman
Jepang, Sanyo, Fujinkai, Oh..oh..oh..!, Heiho, Kisah Celana
Pendek, Surabaya, dan Jalan Lain ke Roma. Salah satu
judul yang mengikat hati saya adalah Ave Maria.
Menceritakan tentang seorang penulis yang rela
melepaskan istrinya demi kebahagiaan istri dan kawan
lamanya sendiri. Penulis yang kehilangan arah, bertemu
dengan sebuah keluarga yang menerimanya dengan segala
kekuranganya, dan akhirnya memutuskan untuk berjuang di
jalan yang benar.
● Tokoh
o Zulbahri, Wartini, ishak, Satilawati, sukroso, Gandi,
Kadir, Kartono, Martini,
5. ​Jalan Tak Ada Ujung
● Identitas
o Judul : ​ ​Jalan Tak Ada Ujung
o Penulis : Mochtar Lubis

o Penerbit : Yayasan Obor Indonesia

o Tebal buku : 167 Halaman

o Tahun Terbit : 1952


● Sinopsis
Guru Isa, tokoh utamanya, adalah guru ​sekolah dasar​ yang menggemari
musik dan sepak bola. Ia sangat disegani warga sekitarnya. Ia
menikah dengan Fatimah. Karena tekanan akibat ​pendudukan
Jepang di Indonesia​ dan perang kemerdekaan, Guru Isa mulai
menderita ​disfungsi ​ [2]​ Ia
ereksi​.[1]​ mulai mudah takut dan
menghindari konflik sebisa mungkin. Ia diam-diam bekerja
dengan Hazil untuk meningkatkan kesempatan sukses para
gerilyawan namun keburu ditangkap. Saat ia disiksa, ia melawan
rasa takutnya dan berhasil ereksi kembali.
Hazil adalah gerilyawan muda dan sahabat Guru Isa. Ia sangat antusias
menghadapi perang kemerdekaan dan bertempur dengan berani.
Setelah berkunjung ke rumah Guru Isa, ia tertarik dengan
Fatimah dan mereka pun ​berselingkuh​ singkat. Setelah ditangkap
Belanda, keberanian Hazil pun hilang. Ia memberitahu tempat
persembunyian gerilya lainnya saat disiksa Belanda.

● Tokoh
o Guru Isa, Hazil, Fatimah, Rakhmat.