Anda di halaman 1dari 2

NAMA : FARAH DIBA AINAYA

NPM : 1801270048
KELAS : B1 PAGI PERBANKAN SYARIAH

DAMPAK COVID-19 TERHADAP EKONOMI KHUSUSNYA MONETER MENURUT


BANK INDONESIA

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo akan terus memantau kondisi ekonomi
dunia karena dampak penyebaran virus corona atau covid-19 yang terus meluas. Perry mengakui
virus corona telah menekan sejumlah mata uang di dunia termasuk Rupiah di Indonesia. Saat ini
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tengah menuju Rp16.000 per USD. Di
mana saat ini Rupiah berada di Rp15.712 per USD menurut referensi Jakarta Interbank Spot
Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI).
Bank Indonesia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020, dari 5,0-5,4
persen menjadi 4,2-4,6 persen. Proyeksi tersebut dipengaruhi adanya kasus pandemi virus corona
(Covid-19) yang juga melanda Indonesia. Pasca berakhirnya Covid-19, pertumbuhan ekonomi
2021 diprakirakan kembali meningkat menjadi 5,2-5,6 persen. Menurut Gubernur BI, Perry
Warjiyo, pulihnya perekonomian pada tahun depan, dipengaruhi upaya pemerintah memperbaiki
iklim investasi melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja dan
Perpajakan.

Sebelumnya, Perry menjelaskan kondisi Covid-19 terhadap perekonomian global.


Perkembangan Covid-19 ini menurutnya, menyebabkan ketidakpastian yang sangat tinggi dan
menurunkan kinerja pasar keuangan global, menekan banyak mata uang dunia, serta memicu
pembalikan modal kepada aset keuangan yang dianggap aman. Prospek pertumbuhan ekonomi
dunia juga menurun akibat terganggunya rantai penawaran global, menurunnya permintaan
dunia, dan melemahnya keyakinan pelaku ekonomi. Data Februari 2020 menunjukkan berbagai
indikator dini global seperti keyakinan pelaku ekonomi, Purchasing Manager Index (PMI), serta
konsumsi dan produksi listrik menurun tajam. Menurutnya, BI, pemerintah dan otoritas terkait
dalam menghadapi masa sulit ini akan berupaya menyakinkan investor bahwa perekonomian
Indonesia masih berdaya tahan. Pasar keuangan juga akan tetap dijaga terutama stabilitas nilai
tukarrupiah.

Untuk itu, berbagai stimulus telah dikeluarkan oleh pemerintah dari sisi fiskal
diantaranya pembebasan PPh pasal 21 dan 25 untuk industri manufaktur. Kemudian BI
melonggarkan kebijakannya dengan menurunkan suku bunga serta menurunkan giro wajib
minimum (GWM) baik berdominasi rupiah maupun valas. OJK juga telah menempuh langkah-
langkah untuk menjaga kesehatan perbankan dan lembaga keuangan non-bank, serta bekerjanya
pasar modal.BI juga menekankan, akan selalu ada di pasar dengan melakukan triple intervention
agar rupiah tetap sesuai fundamentalnya melalui pasar spot, DNDF dan pembelian SBN yang
dilepas asing di pasar sekunder.

Kebijakan yang bagaimana dilakukan pemerintah terhadap


mewabahnya covid-19 :
1.Menurunkan harga bahan-bahan pokok
2.Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi
3.Memerhatikan kembali belanja APBN dan juga belanja di Pemda APBD-APBD di daerah-
daerah.
4.Tetap memperbolehkan pelaku usaha dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
sehingga bisa tetap berproduksi dan terhindar terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK)

5.Memberikan bantuan-bantuan sosial kepada masyarakat