Anda di halaman 1dari 2

Vitamin dan mineral merupakan nutrisi atau zat yang sangat berperan

penting bagi tubuh dan merupakan salah satu indikator penentu kesehatan pada
tubuh manusia. Vitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat
dibutuhkan oleh tubuh yang sangat berperan penting untuk membantu
pengaturan atau proses kegiatan pada tubuh manusia sedangkan mineral
merupakan mikronutrien yang berfungsi untuk proses pertumbuhan, pengaturan,
dan perbaikan fungsi tubuh [1].
Kekurangan atau defisiensi terhadap vitamin dan mineral dapat menjadi
masalah bagi kesehatan manusia sehingga menimbulkan berbagai penyakit pada
tubuh. Banyak yang tidak mengetahui bahwa gejala yang dirasakan pada tubuh
merupakan akibat dari defisiensi suatu vitamin atau mineral tertentu sehingga
seringkali terlambat untuk diketahui dan mengakibatkan perlunya kunjungan ke
dokter.1
Kurang vitamin A (KVA) di Indonesia masih merupakan masalah gizi utama. Meskipun
KVA tingkat berat (xeropthalmia) sudah jarang ditemui, tetapi KVA tingkat subklinis, yaitu
tingkat yang belum menampakkan gejala nyata, masih menimpa masyarakat luas terutama
kelompok balita. KVA tingkat subklinis ini hanya dapat diketahui dengan memeriksa kadar
vitamin A dalam darah di laboratorium.

Padahal KVA subklinis yang ditandai dengan rendahnya kadar vitamin A dalam darah masih
merupakan masalah besar yang perlu mendapat perhatian. Hal ini menjadi lebih penting lagi,
karena erat kaitannya dengan masih tingginya angka penyakit infeksi dan kematian pada
balita. Kondisi ini jelas menunjukkan bahwa KVA sangat berhubungan dengan tingkat
infeksi terutama pada balita. Yang nantinya juga sangat berpengaruh pada status gizi, status
kesehatan, angka morbiditas dan mortalitas balita.

Pathogenesis

Salah satu fungsi vitamin A yang berhubungan dengan faali tubuh adalah diferensiasi sel.
Diferensiasi sel terjadi bila sel-sel tubuh mengalami perubahan dalam sifat atau fungsi
semulanya. Perubahan sifat dan fungsi sel ini adalah salah satu karakteristik dari kekurangan
vitamin A yang dapat terjadi pada tiap tahap perkembangan tubuh, seperti pada tahap
pembentukan sperma dan sel telur, pembuahan, pembentukan struktur dan organ tubuh,
pertumbuhan dan perkembangan janin, masa janin, bayi, anak-anak, dewasa dan masa tua.
Diduga vitamin A dalam bentuk asam retinoat memegang peranan penting dalam kegiatan inti
sel, dalam pengaturan faktor genetik mensintesis protein, yang berpengaruh pada diferensiasi sel.
Sel-sel yang paling nyata mengalami diferensiasi adalah sel-sel epitel khusus, terutama sel-sel
goblet, yaitu sel kelenjar yang mensintesis dan mengeluarkan mucus atau lendir. Mukus
melindungi sel-sel epitel dari serbuan mikroorganisme dan partikel lain yang berbahaya. Bila
terjadi infeksi, sel-sel goblet akan mengeluarkan lebih banyak mucus yang akan mempercepat
pengeluaran mikroorgnisme tersebut. Kekurangan vitamin A menghalangi fungsi kelenjar yang
mengeluarkan mucus dan digantikan oleh sel-sel epitel bersisik dan kering (keratinized). Kulit
menjadi kering dan kasar dan luka sukar sembuh. Membran mukosa tidak dapat mengeluarkan
cairan mucus dengan mukosa dengan sempurna sehingga mudah terserang bakteri (infeksi). Alur
transport vitamin A di dalam tubuh.

Sedangkan pengaruh vitamin A pada kekebalan tubuh, mekanismenya belum diketahui secara
pasti. Retinol tampaknya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan diferensiasi limfosit B (leukosit
yang berperan dalam proses kekebalan humoral). Disamping itu kekurangan vitamin A
menurunkan respon antibody yang bergantung pada sel-T (limfosit yang berperan pada kekebalan
selular). Dengan demikian, apabila terjadi kekurangan vitamin A fungsi kekebalan tubuh
menurun, sehigga mudah terserang infeksi bibit penyakit. Sebaliknya infeksi dapat memperburuk
kekurangan vitamin A. Vitamin A dinamakan juga vitamin anti infeksi.

Dapus: pratiwi yunita satya. kekurangan vitamin a (kva) dan infeksi. vol. 3, no. 2. fakultas
ilmu kesehatan, universitas muhammadiyah jember.2013