Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

PEMERIKSAAN UMUM FISIOTERAPI


KARDIOVASKULER DAN RESPIRASI

OLEH :

NAMA : DEWI SATRIANI

NIM : PO713241181009

PRODI JURUSAN : D3 FISIOTERAPI TK. 2

POLITEKNIK KEMENTRIAN KESEHATAN MAKASSAR

JURUSAN FISIOTERAPI

2020

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum WarahmatullahWabarakatuh

Puji syukur  senantiasa selalu kita panjatkan kepada Allah SWT yang
telah memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul “Anatomi Fisiologi
Kardiovaskuler dan Sistem Respirasi”. Penyusunan makalah ini dalam
rangka memenuhi tugas mata kuliah kardiovaskuler pulmonal. Dan tak lupa
pula shalawat serta salam kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW
yang telah membawa kita ke jalan yang benar.

Makalah ini saya susun dengan kemampuan yang semaksimal


mungkin. Namun, saya menyadari bahwa dalam penyusunan ini tentu tidak
sempurna dan masih banyak kesalahan serta kekurangan. Maka dari itu
saya sebagai penyusun mohon saran dan pesan dari semua yang membaca
makalah ini terutama Dosen sebagai bahan koreksi untuk saya.

Wassalamu’alaikumWarahmatullahWabarakatuh

Makassar, 11 Maret 2020

Penyusun

DAFTAR ISI

1
Kata Pengantar ……………………………………………………...…… 1

Daftar Isi ………………………………………………………………… 2

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang ……………………………………………… 3

B.Rumusan Masalah …………………………………………… 3

C.Tujuan ……………………………………………………….. 3

BAB II PEMBAHASAN

A. Anatomi Fisiologi Sistem Kardiovaskuler …………………… 4

B. Anatomi Fisiologi Sistem Respirasi ……….….….………..….. 15

BAB III PENUTUP

A.Kesimpulan……………………………………………………. 26

B.Saran………………………………………………………….... 26

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

2
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kardiovaskuler terdiri dari dua suku kata yaitu cardiac dan
vaskuler. Cardiac yang berarti jantung dan vaskuler yang berarti pembuluh
darah. Sistem kardiovaskuler bertugas mengedarkan darah ke seluruh tubuh
dimana darah mengandung oksigen dan nutrisi yang diperlukan sel/jaringan
untuk metabolisme. Sistem kardiovaskuler juga membawa sisa
metabolisme untuk dibuang melalui organ-organ eksresi.

Sistem kardiovaskular merupakan suatu sistem transport tertutup


yang terdiri atas: Jantung, yang berfungsi sebagai pemompa yang
melakukan tekanan terhadap darah agar dapat mengalir ke jaringan.
Pembuluh darah, berfungsi sebagai saluran yang digunakan agar darah
dapat didistribusikan ke seluruh tubuh. Darah, berfungsi sebagai media
transportasi segala material yang akan didistribusikan ke seluruh tubuh.

Hanya dalam beberapa hari setelah konsepsi sampai kematian,


jantung terus-menerus berdetak. Jantung berkembang sedemikian dini, dan
sangat penting seumur hidup. Hal ini karena sistem sirkulasi adalah sistem
transportasi tubuh. Fungsi ini akan berfungsi sebagai sistem vital untuk
mengangkut bahan-bahan yang mutlak dibutuhkan oleh sel-sel tubuh.

B.     Rumusan Masalah


Beberapa topik permasalahan yang akan dibahas adalah :
1. Apa itu anatomi fisiologi sistem kardiovaskuler pulmonal?
2. Apa itu anatomi fisiologi sistem respirasi?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberi pengetahuan
kepada pembaca mengenai anatomi fisiologi sistem kardiovaskuler
sistem respirasi.

3
BAB II
PEMBAHASAN

1. DATA UMUM
1. Anamnesis
a. Anamnesis Umum
Anamnesis dapat dilakukan melalui pasien atau keluarganya, tentang
identitas berupa nama, umur, agama, pekerjaan.
b. Anamnesis khusus
Berisi tentang keluhan pasien,  riwayat medis, gangguan keterbatasan
fungsional, riwayat sosial.

2. INSPEKSI

Inspeksi dada terutama untuk mencari adanya asimetri bentuk dada.


Adanya asimetri bentuk rongga dada dapat menyebabkan timbulnya
hipertensi pulmonal dalam jangka panjang. Asimetri dada dapat
diakibatkan oleh penyebab yang sama dengan penyebab kelainan jantung
(misalnya prolaps katup mitral, gangguan katup 12 aorta pada sindroma
Marfan dan sebagainya) atau menjadi akibat dari adanya kelainan jantung
akibat aktifitas jantung yang mencolok semasa pertumbuhan.

Kelainan dada akibat penyakit kardiovaskuler dapat berbentuk :

 Kifosis : Tulang belakang berdeviasi pada kurvatura lateral.


Sering terjadi pada kelainan jantung, misalnya ASD (Atrial Septal
Defect) atau PDA (Patent Ductus Arteriosus). Sering disertai dengan
perubahan membusur ke belakang (kifoskoliosis), yang mempersempit
rongga paru dan merubah anatomi jantung.
 Voussure cardiaque : Penonjolan bagian depan hemitoraks kiri.
Hampir selalu terdapat pada kelainan jantung bawaan atau karena
demam rematik, terutama berkaitan dengan aktifitas jantung yang
berlebihan pada masa pertumbuhan.

Inspeksi juga berguna untuk mencari iktus kordis (punctum


maximum). Pada sebagian besar orang normal (20-25%) dapat dilihat

4
pulsus gerakan apeks menyentuh dinding dada saat sistolik pada sela iga 5
di sebelah medial linea midklavikularis sinistra. Bila terjadi pembesaran
jantung iktus kordis dapat tampak bergeser dari posisi normal. Disamping
itu pada inspeksi dapat dilaporkan ada tidaknya jaringan parut paska
operasi jantung

3. PALPASI

Dengan palpasi kita mencari iktus kordis (bila tidak terlihat pada
inspeksi) dan mengkonfirmasi karakteristik iktus kordis. Palpasi dilakukan
dengan cara : meletakkan permukaan palmar telapak tangan atau bagian 1/3
distal jari II, II dan IV atau dengan meletakkan sisi medial tangan, terutama
pada palpasi untuk meraba thrill. Identifikasi BJ1 dan BJ2 pada iktus kordis
dilakukan dengan memberikan tekanan ringan pada iktus. Bila iktus tidak
teraba pada posisi terlentang, mintalah pasien untuk berbaring sedikit
miring ke kiri (posisi left lateral decubitus) dan kembali lakukan palpasi.
Jika iktus tetap belum teraba, mintalah pasien untuk inspirasi dan ekspirasi
maksimal kemudian menahan nafas sebentar.

Pada saat memeriksa pasien wanita, mammae akan menghalangi


pemeriksaan palpasi. Sisihkan mammae ke arah atas atau lateral, mintalah
bantuan tangan pasien bila perlu.

Setelah iktus ditemukan, karakteristik iktus dinilai dengan


menggunakan ujungujung jari dan kemudian dengan 1 ujung jari.

Pada beberapa keadaan fisiologis tertentu, iktus dapat tidak teraba,


misalnya pada obesitas, otot dinding dada tebal, diameter anteroposterior
kavum thorax lebar atau bila iktus tersembunyi di belakang kosta. Pada
keadaan normal hanya impuls dari apeks yang dapat diraba. Pada keadaan
hiperaktif denyutan apeks lebih mencolok. Apeks dan ventrikel kiri
biasanya bergeser ke lateral karena adanya pembesaran jantung atau
dorongan dari paru (misalnya pada pneumotorak sinistra). Pada kondisi
patologis tertentu, impuls yang paling nyata bukan berasal dari apeks,
seperti misalnya pada hipertrofi ventrikel kanan, dilatasi arteri pulmonalis
dan aneurisma aorta.

Setelah iktus teraba, lakukan penilaian lokasi, diameter, amplitudo


dan durasi impuls apeks pada iktus.

5
 Lokasi : Dinilai aspek vertikal (biasanya pada sela iga 5 atau 4) dan
aspek horisontal (berapa cm dari linea midsternalis atau
midklavikularis). Iktus bisa bergeser ke atas atau ke kiri pada kehamilan
atau diafragma kiri letak tinggi. Iktus bergeser ke lateral pada gagal
jantung kongestif, kardiomiopati dan penyakit jantung iskemi.
 Diameter : Pada posisi supinasi, diameter impuls apeks kurang dari 2.5
cm dan tidak melebihi 1 sela iga, sedikit lebih lebar pada posisi left
lateral decubitus. Pelebaran iktus menunjukkan adanya pelebaran
ventrikel kiri.
 Amplitudo : Amplitudo iktus normal pada palpasi terasa lembut dan
cepat. Peningkatan amplitudo terjadi pada dewasa muda, terutama saat
tereksitasi atau setelah aktifitas fisik berat, tapi durasi impuls tidak
memanjang. Peningkatan amplitudo impuls terjadi pada hipertiroidisme,
anemia berat, peningkatan tekanan ventrikel kiri (misal pada stenosis
aorta) atau peningkatan volume ventrikel kiri (misal pada regurgitasi
mitral). Impuls hipokinetik terjadi pada kardiomiopati.
 Durasi : Untuk menilai durasi impuls, amati gerakan stetoskop saat
melakukan auskultasi pada apeks atau dengarkan bunyi jantung dengan
stetoskop sambil mempalpasi impuls apeks. Normalnya durasi impuls
apeks adalah 2/3 durasi sistole atau sedikit kurang, tapi tidak berlanjut
sampai terdengar BJ2.

Dengan palpasi dapat ditemukan adanya gerakan jantung yang


menyentuh dinding dada, terutama jika terdapat peningkatan aktifitas
ventrikel, pembesaran ventrikel atau ketidakteraturan kontraksi ventrikel.
Gerakan dari ventrikel kanan biasanya tak teraba, kecuali pada hipertrofi
ventrikel kanan, dimana ventrikel kanan akan menyentuh dinding dada
(ventrikel kanan mengangkat). Kadangkadang gerakan jantung teraba
sebagai gerakan kursi goyang (ventricular heaving) yang akan mengangkat
jari pemeriksa pada palpasi.

Gerakan jantung kadang teraba di bagian basis, yang biasanya


disebabkan oleh gerakan aorta (pada aneurisma aorta atau regurgitasi
aorta), gerakan arteri pulmonalis (pada hipertensi pulmonal) atau karena
aliran tinggi dengan dilatasi (pada ASD) yang disebut tapping.

6
Thrill (getaran karena adanya bising jantung) sering dapat diraba.
Bising jantung dengan gradasi 3-4 biasanya dapat teraba sebagai thrill.
Sensasi yang terasa adalah seperti meraba leher kucing. Bila pada palpasi
pertama belum ditemukan adanya thrill sedangkan pada auskultasi
terdengar bising jantung derajat 3-4, kembali lakukan palpasi pada lokasi
ditemukannya bising untuk mencari adanya thrill. Thrill sering menyertai
bising jantung yang keras dan kasar seperti yang terjadi pada stenosis aorta,
Patent Ductus Arteriosus, Ventricular Septal Defect, dan kadang stenosis
mitral.

4. PERKUSI

Perkusi berguna untuk menetapkan batas jantung, terutama pada


pembesaran jantung. Perkusi batas kiri redam jantung (LBCD - left border
of cardiac dullness) dilakukan dari lateral ke medial dimulai dari sela iga 5,
4 dan 3. LBCD terdapat kurang lebih 1-2 cm di sebelah medial linea
midklavikularis kiri dan 16 bergeser 1 cm ke medial pada sela iga 4 dan 3.
Batas kanan redam jantung (RBCD - right border of cardiac dullness)
dilakukan dengan perkusi bagian lateral kanan dari sternum. Pada keadaan
normal RBCD akan berada di medial batas dalam sternum. Kepekakan
RBCD diluar batas kanan sternum mencerminkan adanya bagian jantung
yang membesar atau bergeser ke kanan. Penentuan adanya pembesaran
jantung harus ditentukan dari RBCD maupun LBCD. Kepekakan di daerah
dibawah sternum (retrosternal dullness) biasanya mempunyai lebar kurang
lebih 6 cm pada orang dewasa. Jika lebih lebar, harus dipikirkan
kemungkinan adanya massa retrosternal. Pada wanita, kesulitan akan
terjadi dengan mammae yang besar, dalam hal ini perkusi dilakukan setelah
menyingkirkan kelenjar mammae dari area perkusi dengan bantuan tangan
pasien.

5. AUSKULTASI

Auskultasi memberikan kesempatan mendengarkan perubahan-


perubahan dinamis akibat aktivitas jantung. Auskultasi jantung berguna
untuk menemukan bunyi-bunyi yang diakibatkan oleh adanya kelainan
struktur jantung dan perubahan-perubahan aliran darah yang ditimbulkan
selama siklus jantung. Untuk dapat mengenal dan menginterpretasikan

7
bunyi jantung dengan tepat, mahasiswa perlu mempunyai dasar
pengetahuan tentang siklus jantung.

Bunyi jantung diakibatkan karena getaran dengan masa amat pendek.


Bunyi yang timbul akibat aktifitas jantung dapat dibagi dalam :

a. BJ1 : Disebabkan karena getaran menutupnya katup atrioventrikuler


terutama katup mitral, getaran karena kontraksi otot miokard serta aliran
cepat saat katup semiluner mulai terbuka. Pada keadaan normal
terdengar tunggal.
b. BJ2 : Disebabkan karena getaran menutupnya katup semilunaris aorta
maupun pulmonalis. Pada keadaan normal terdengar pemisahan
(splitting) dari kedua komponen yang bervariasi dengan pernafasan
pada anak-anak atau orang muda.
c. BJ3 : Disebabkan karena getaran cepat dari aliran darah saat pengisian
cepat (rapid filling phase) dari ventrikel. Hanya terdengar pada anak-
anak atau orang 17 dewasa muda (fisiologis) atau keadaan dimana
komplians otot ventrikel menurun (hipertrofi/ dilatasi).
d. BJ4 : Disebabkan kontraksi atrium yang mengalirkan darah ke ventrikel
yang kompliansnya menurun. Jika atrium tak berkontraksi dengan
efisien misalnya fibrilasi atrium maka bunyi jantung 4 tak terdengar.

Bunyi jantung sering dinamakan berdasarkan daerah katup dimana


bunyi tersebut didengar. M1 berarti bunyi jantung satu di daerah mitral, P2
berarti bunyi jantung kedua di daerah pulmonal. Bunyi jantung 1 normal
akan terdengar jelas di daerah apeks, sedang bunyi jantung 2 dikatakan
mengeras jika intensitasnya terdengar sama keras dengan bunyi jantung 1
di daerah apeks. Bunyi jantung 1 dapat terdengar terpisah (split) jika
asinkroni penutupan katup mitral dan trikuspid lebih mencolok, misalnya
pada RBBB (Right Bundle Branch Block) atau hipertensi pulmonal. Bunyi
jantung 2 akan terdengar terpisah pada anak-anak dan dewasa muda. Pada
orang dewasa bunyi jantung 2 akan terdengar tunggal karena komponen
pulmonalnya tak terdengar disebabkan aerasi paru yang bertambah pada
orang tua. Jika bunyi jantung 2 terdengar terpisah pada orang dewasa ini
menunjukkan adanya hipertensi pulmonal atau RBBB. Bunyi jantung 2
yang terdengar tunggal pada anak-anak mungkin merupakan tanda adanya
stenosis pulmonal.

8
Bunyi tambahan merupakan bunyi yang terdengar akibat adanya
kelainan anatomis atau aliran darah yang dalam keadaan normal tidak
menimbulkan bunyi atau getaran. Bunyi tambahan dapat berupa :

 Klik ejeksi : Disebabkan karena pembukaan katup semilunaris pada


stenosis/ menyempit. Ketukan perikardial : bunyi ekstrakardial yang
terdengar akibat getaran/ gerakan perikardium pada perikarditis/ efusi
perikardium.
 Bising gesek perikardium : Bunyi akibat gesekan perikardium dapat
terdengar dengan auskultasi dan disebut friction rub. Sering terdengar
jika ada peradangan pada perikardium (perikarditis).
 Bising jantung : Merupakan bunyi akibat getaran yang timbul dalam
masa lebih lama. Jadi perbedaan antara bunyi dan bising terutama
berkaitan dengan lamanya bunyi /getaran berlangsung. Untuk
mengidentifikasi dan menilai bising jantung, beberapa hal harus
diperhatikan : di mana bising paling jelas terdengar, fase terjadinya
bising (saat sistole atau diastole) dan kualitas bising.

Auskultasi dimulai dengan meletakkan stetoskop pada sela iga II


kanan di dekat sternum, sepanjang tepi kiri sternum dari sela iga II sampai
V dan di apeks. Bagian diafragma stetoskop dipergunakan untuk auskultasi
bunyi jantung dengan nada tinggi seperti BJ1 dan BJ2, bising dari
regurgitasi aorta dan mitral serta bising gesek perikardium. Bagian
mangkuk stetoskop (bell) yang diletakkan dengan tekanan ringan lebih
sensitif untuk suara-suara dengan nada rendah seperti BJ3 dan BJ4 serta
bising pada stenosis mitral. Letakkan bagian mangkuk stetostop pada apeks
lalu berpindah ke medial sepanjang tepi sternum ke arah atas.

Cara askultasi :

1. Lakukan auskultasi di seluruh prekordium dengan posisi pasien


terlentang.
2. Pasien berbaring miring ke kiri (left lateral decubitus) sehingga
ventrikel kiri lebih dekat ke permukaan dinding dada.
a. Tempatkan bagian mangkuk dari stetoskop di daerah impuls apeks
(iktus).

9
b. Posisi ini membuat bising-bising area katub mitral (misalnya pada
stenosis mitral) dan bunyi jantung akibat kelainan bagian kiri jantung
(misalnya BJ3 dan BJ4) lebih jelas terdengar.
3. Pasien diminta untuk duduk dengan sedikit membungkuk ke depan.
a. Mintalah pasien untuk melakukan inspirasi dan ekspirasi maksimal
kemudian sejenak menahan nafas.
b. Bagian diafragma dari stetoskop diletakkan pada permukaan
auskultasi dengan tekanan ringan.
c. Lakukan auskultasi di sepanjang tepi sternum sisi kiri dan di apeks,
dengan secara periodik memberi kesempatan pasien untuk
mengambil nafas.
d. Posisi ini membuat bising-bising yang berasal dari daerah aorta lebih
jelas terdengar.

6. TOLERANSI LATIHAN

Tes toleransi latihan ( ETT ) adalah merekam aktivitas kelistrikan


jantung selama latihan fisik yang berdampak terhadap peningkatan
kebutuhan oksigen pada jantung. Latihan fisik yang dilakukan pasien dapat
berupa pasien berjalan pada ban berjalan atau treadmill.

Treadmill Test adalah suatu tindakan untuk menguji efek aktivitas


stress atau berlatih terhadap jantung seseorang. Test ini memberi suatu
pengertian umum tentang kesehatan jantung. Tes beban dengan
menggunakan treadmill adalah cara yang paling sering digunakan. Alat
tersebut berupa ban berjalan dengan kecepatan mulai 1-10 mil/jam. Sudut
ban berjalan bisa diatur mulai dari 0 o sampai 20o seperti layaknya jalan
yang mendaki. Klien dapat disuruh berjalan atau berlari sesuai kecepatan
ban dan mendatar atau mendaki sesuai besar sudut ban. Pada saat tes,
dipasang alat pantau tekanan darah dan EKG sadapan ganda.

Nama lain dari Treadmill test ini adalah:


- Exercise ECG
- ECG - exercise treadmill
- EKG - exercise treadmill
- Stress ECG

10
- Exercise electrocardiography
- Stress test - exercise treadmill

Sebagaimana tubuh melakukan kerja keras selama latihan/test, hal ini


juga membutuhkan oksigen yang lebih banyak, sehingga memaksakan
jantung untuk melakukan pompa lebih banyak darah sesuai yang
dibutuhkan. Test ini juga dapat menunjukkan jika suplay darah mulai
berkurang dalam arteri koroner.

Adapun tujuan dari pelaksanaan Treadmill Test ini adalah sebagai berikut :
a. Mencari diagnose penyebab sakit dada
b. Menilai fungsi jantung sesudah serangan infark atau pembedahan
c. Mendeteksi penyakit jantung koroner yang tidak/belum menimbulkan
gejala (asimtomatik)
d. Mendeteksi aritmia yang timbul pada saat kerja fisik
e. Menilai hasil pengobatan dengan obat-obatan antiaritmia atau anti
angina

Menurut protokol Bruce latihan treadmill diawali dengan kecepatan


rendah (1,7 mil perjam), dan tiap 3 menit kecepatan ditingkatkan. Lalu tes
dilanjutkan maksimum 27 menit (biasanya dapat dicapai pada individu
yang terlatih) atau sampai pasien timbul gejala iskemik dan aritmia. Rata –
rata waktu pada usia dewasa muda 8-10 menit. Cara lain untuk mengukur
kapasitas fungsional adalah mengukur kebutuhan oksigen selama aktivitas
yang dikonversikan kedalam metabolik equivalen (METs), dimana 1 METs
sebanding dengan 3.5 mL O2/kg/min.

Beberapa hal yang penting diperhatikan oleh perawat dalam melakukan


persiapan pasien sebelum Treadmill Test, antara lain:
a. Pasien puasa tiga jam sebelum prosedur, dengan tujuan untuk
menghindari terjadinya rasa mula muntah. Pasien diabetes yang sedang
menjalani terapi insulin akan mendapat instruksi atau pengawasan
khusus dari dokter
b. Petugas perlu mengetahui obat-obat yang dikonsumsi pasien sebelum
melaksanakan tes ini. Obat spesifik jantung sebaiknya dihentikan dua
hari sebelum prosedur dimulai. Namun apabila memungkinkan,

11
penggunaan obat penghambat beta sebaiknya tidak dihentikan bila
memang sangat diperlukan pasien walau dapat mempengaruhi hasil test.
c. Pasien memakai baju dan sepatu yang nyaman untuk melakukan
prosedur
d. Jelaskan pada pasien bahwa prosedur test ini akan dilakukan selama
satu jama, termasuk persiapan.
e. Lakukan anamnese tentang riwayat penyakit pasien dan kemampuan
aktivitas fisik pasien terakhir.
f. Lakukan pemeriksaan TTV awal dalam keadaan istirahat pada pasien
dalam posisi yang nyaman.
g. Persiapan juga dilakukan terhadap kebersihan kulit agar tidak
menimbulkan banyak artefak pada rekaman EKG.
h. Lakukan tes awal EKG dengan 12 lead pada posisi berbaring dan
berdiri.
i. Berikan penjelasan kepada pasien tentang prosedur yang akan
dilakukan. Surat informed concern perlu ditandatangi oleh pasien

Selama latihan, arteri koroner yang sehat mengalami dilatasi


daripada arteri koroner yang mengalami gangguan. Hal ini menyebabkan
banyaknya darah yang dikirimkan untuk memenuhi kebutuhan koroner
hanya disediakan oleh arteri yang masih normal saja. Aliran darah yang
terbatas ini akan mengurangi sejumlah darah yang akan dibutuhkan oleh
area jantung tersebut. Hal ini menyebabkan otot jantung yang terlibat akan
mengalami kekurangan darah (starvasi) selama latihan. " Starvasi" ini akan
menghasilkan gejala seperti tidak nyaman pada dada atau shortness of
breath (SOB) dan dapat ditemukan kelainan pada gambaran EKG.

Bagaimana suatu Treadmill Test Dilakukan?


- Pertama-tama catat Heart Rate dan ukur tekanan darah dalam kondisi
istirahat (diam). Hal ini dilakukan di ruang laboratorium dimana
kegiatan akan dilaksanakan.
- Rekatkan electroda pada dinding dada, bahu dan pinggul kemudian
hubungkan ECG ke bagian mesin.
- 12-LEAD EKG akan direkam secara tertulis. Setiap lead dari EKG akan
menunjukkan hasil yang berbeda dari jantung.
Sebagai contoh:
 v Lead 2, 3, dan aVF = menunjukan bagian inferior jantung.

12
 v V1 dan V2 = Septum jantung
 v V3, V4, V5 dan V6 = Anterior jantung.
 v Lead 1 dan aVL = Superior jantung.
 v aVR menunjukan ruang (cavity) jantung dan tidak memberikan
nilai klinik yang bermakna dalam mengidentifikasi coronary desease.

Komplikasi dapat diketahui segera bila kita tetap melakukan


pengawasan pada tekanan darah, mengawasi hasil rekaman EKG, bertanya
kepada pasien tentang gejala yang dialami dan gejala keletihan serta
melakukan penilaian terhadap semua gejala atau tanda yang muncul saat
test. Selama test berlangsung sebaiknya lengan pasien tidak memegang
dengan kencang pada tempat pegangan agar tidak menimbulkan hasil yang
tidak sesuai dengan kemampuan pasien.

7. TES FUNGSI PARU


Uji fungsional paru meliputi pengukuran volume paru, fungsi ventilatory, mekanisme
pernapasan, difusi, dan pertukaran gas. Tes ini bergun sebagai uji skreening.
Uji fungsi paru berguna untuk membedakan antara penyakit paru obstruktif dan
restriktif, serta untuk mengukur tingkat (ringan, sedang atau berat) gangguan paru
obstruktif atau restriktif
Pada pengujian fisiologi paru, paru dipantau dengan menggunakan banyak
peralatan dan alat uji yang kompleks. Peralatan yang paling dasar digunakan adalah
spirometer. Alat tersebut digunakan untuk mengukur aliran, volume dan kapasitas paru.
Tergantung pada masing-masing uji paru masalah klinis
Penyakit obstruktif: emfisema, bronkitis, bronkietasis, bronkospasme, sekresi
bronkial, inflamasi saluran nafas yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus, asma.
Penyakit restriktif: fibrosis paru, pneumonia, tumor paru, penyakit neromuskular,
trauma dada, obesitas, skleroderma, edema paru, pembedahan pengangkatan jaringan
paru, insisi abdominal bagian atas.

8. GRADUATEDD EXECRCISE

11. PENGGUNAAN VAS PADA DYSPNEA

Dispnea adalah sensasi subjektif yang sulit diukur karena sangat


bervariasi antara individu dan dapat dipengaruhi oleh keadaan mental
seseorang. Dua alasan utama melakukan pengukuran terhadap dispnea

13
adalah untuk membedakan beratnya gejala antar individu dan menilai
perjalanan dispnea individu. Metode psikofisik dan skala klinis telah
digunakan untuk menilai dispnea walaupun manfaat klinis pengukurannya
masih dalam perdebatan. 

Intensitas nyeri dapat diukur dengan menggunakan numerical rating


scale (NRS), verbal rating scale (VRS), visual analog scale (VAS) dan
faces rating scale. VAS (Visual Analogue Scale) telah digunakan sangat
luas dalam beberapa dasawarsa belakangan ini dalam penelitian terkait
dengan nyeri dengan hasil yang handal, valid dan konsisten.VAS adalah
suatu instrumen yang digunakan untuk menilai intensitas nyeri dengan
menggunakan sebuah tabel garis 10 cm dengan pembacaan skala 0–100
mm dengan rentangan makna:

SKALA VAS INTERPRESTASI

>0 – 10 mm Tidak nyeri

≥10 – 30 mm Nyeri ringan

≥30 – 70 mm Nyeri sedang

≥ 70 – 90 mm Nyeri berat

≥ 90 – 100 mm Nyeri sangat berat

Cara penilaiannya adalah penderita menandai sendiri dengan pensil


pada nilai skala yang sesuai dengan intensitas nyeri yang dirasakannya
setelah diberi penjelasan dari peneliti tentang makna dari setiap skala
tersebut. Penentuan skor VAS dilakukan dengan mengukur jarak antara
ujung garis yang menunjukkan tidak nyeri hingga ke titik yang ditunjukkan
pasien.

Persyaratan melakukan pengukuran nyeri dengan menggunakan skala VAS

14
a. Penderita sadar atau tidak mengalami gangguan mental/kognitif
sehingga dapat berkomunikasi dengan fisioterapis
b. Penderita dapat melihat dengan jelas, sehingga penderita dapat
menunjuk titik pada skala VAS berkaitan dengan kualitas nyeri yang
dirasakannya.
c. Penderita kooperatif, sehingga pengukuran nyeri dapat terlaksana.
Catatan: anak kecil, meskipun sadar, namun tidak kooperatif untuk
berkomunikasi.

Agar pengukuran dapat berjalan sebagai mestinya, sebelum


dilakukan pengukuran pasien diberi penjelasan mengenai pengukuran yang
akan dilakukan beserta prosedurnya. Kemudian pasien diminta untuk
memberi tanda pada garis sesuai dengan intensitas nyeri yang dirasakan
pasien.

VAS merupakan metode pengukuran intensitas nyeri yang sensitif,


murah dan mudah dibuat, VAS lebih sensitif dan lebih akurat dalam
mengukur nyeri dibandingkan dengan pengukuran deskriptif, Mempunyai
korelasi yang baik dengan pengukuran yang lain, VAS dapat diaplikasikan
pada semua pasien, tidak tergantung bahasa bahkan dapat digunakan pada
anakanak di atas usia 5 tahun, VAS dapat digunakan untuk mengukur
semua jenis nyeri namun VAS juga memiliki kekurangan yaituVAS
memerlukan pengukuran yang teliti untuk memberikan penilaian, pasien
harus hadir saat dilakukan pengukuran, serta secara visual dan kognitif
mampu melakukan pengukuran.VAS sangat bergantung pada pemahaman
pasien terhadap alat ukur 0 mm 100 mm 0 mm 10 20 30 40 50 60 70 80 90
100 mm tersebut. Sehingga edukasi / penjelasan terapis / pengukur tentang
VAS terhadap pasien sangat dibutuhkan.

15
12. SKALA BORG

Skala ini berupa garis vertikal yang diberi nilai 0 sampai 10 dan tiap
nilai mempunyai deskripsi verbal untuk membantu penderita
menderajatkan intensitas sesak dari derajat ringan sampai berat. Nilai tiap
deskripsi verbal tersebut dibuat skor sehingga tingkat aktivitas dan derajat
sesak dapat dibandingkan antar individu. Skala ini memiliki
reproduksibilitas yang baik pada individu sehat dan dapat diterapkan untuk
menentukan dispnea pada penderita penyakit kardiopulmoner serta untuk
parameter statistik.

           PERINGKAT          INTENSITAS

                      0                   Tidak sesak sama sekali

                      0,5                Sesak sangat ringan sekali

                      1                   Sesak sangat ringan

                      2                   Sesak ringan

                      3                   Sesak sedang

                      4                   Sesak kadang berat

                      5                   Sesak berat

           6

                      7                   Sesak  sangat berat

           8

16
           9

                     10                  Sesak sangat berat sekali, hampir maksimal

13. GAMBARAN EKG (Elektrokardiogram)

Elektrokardiogram (EKG) atau electrocardiogram (ECG) adalah tes


medis untuk mendeteksi kelainan jantung dengan mengukur aktivitas listrik
yang dihasilkan oleh jantung, sebagaimana jantung berkontraksi. EKG
dapat membantu mendiagnosis berbagai kondisi kesehatan seperti aritmia
jantung, pembesaran jantung, peradangan jantung (perikarditis atau
miokarditis), dan penyakit jantung koroner.

Mesin yang mencatat EKG disebut dengan elektrokardiograf.


Elektrokardiograf akan mencatat aktivitas listrik otot jantung dan
menampilkan data ini pada layar visual atau pada kertas print. Data ini
kemudian ditafsirkan oleh dokter yang ahli. Hasil EKG yang normal dari
jantung memiliki karakteristik yang khas. Irama jantung yang tidak teratur
atau kerusakan pada otot jantung dapat berdampak pada aktivitas listrik
jantung sehingga mengubah bentuk EKG. Seorang dokter mungkin akan
merekomendasikan tes EKG pada pasien yang mungkin berisiko
mengalami penyakit jantung karena adanya riwayat keluarga penyakit
jantung, atau karena kebiasaan merokok, obesitas, diabetes, kolesterol
tinggi, atau tekanan darah tinggi.

Berbagai masalah jantung yang dapat didiagnosis dengan EKG, antara lain:
 Pembesaran jantung
 Cacat jantung bawaan yang melibatkan sistem kelistrikan jantung
 Aritmia (irama jantung abnormal - cepat, lambat atau denyutnya tidak
teratur)
 Kerusakan jantung seperti ketika salah satu arteri jantung tersumbat
(oklusi koroner)
 Suplai darah yang buruk ke jantung

17
 Posisi normal dari jantung
 Peradangan jantung - perikarditis atau miokarditis
 Serangan jantung selama di ruang gawat darurat atau pemantauan di
ruang ICU (intensive care unit)
 Gangguan sistem konduksi jantung
 Ketidakseimbangan kimia darah (elektrolit) yang mengontrol aktivitas
jantung.

Seseorang dengan penyakit jantung bisa jadi menunjukkan hasil


EKG yang normal jika kondisi penyakit jantungnya itu tidak melibatkan
gangguan dalam aktivitas kelistrikan jantung. Untuk kondisi ini disarankan
untuk melakukan metode diagnostik lain.

Elektroda EKG akan ditempelkan pada dada, pergelangan tangan dan


kaki, jadi sebaiknya Anda (terutama wanita) menggunakan pakaian dengan
atasan dan bawahan yang terpisah. Ini untuk mempermudah pemasangan
elektroda EKG. Jika lokasi penempelan elektroda EKG didapati banyak
bulu, bisa saja dokter memerintahkan untuk mencukurnya terlebih dahulu.
Sensor yang disebut dengan elektroda akan dilekatkan pada dada,
pergelangan tangan dan kaki, baik dengan menggunakan semacam cangkir
hisap atau gel lengket. Elektroda ini selanjutnya akan mendeteksi arus
listrik yang dihasilkan jantung yang diukur dan dicatat oleh mesin
elektrokardiograf.

18
Tiga jenis utama EKG, meliputi:
 EKG istirahat (resting ECG) - Pasien berbaring. Selama tes pasien
tidak diperbolehkan bergerak, karena impuls listrik lain dapat dihasilkan
oleh otot-otot lain selain jantung yang dapat mengganggu pemeriksaan
jantung Anda. Jenis EKG ini biasanya memakan waktu lima sampai
sepuluh menit.
 EKG ambulatory (ambulatory ECG) - EKG ambulatory atau Holter
dilakukan dengan menggunakan alat perekam portabel yang dipakai
setidaknya selama 24 jam. Pasien bebas untuk bergerak secara normal
sementara monitor terpasang. Jenis EKG ini digunakan untuk pasien
yang gejalanya intermiten dan mungkin tidak muncul selama tes EKG
istirahat. Orang yang sembuh dari serangan jantung dapat dimonitor
dengan cara ini untuk memastikan ketepatan fungsi jantungnya.
 Test stres jantung - Tes ini digunakan untuk merekam EKG pasien
sementara pasien menggunakan alat seperti sepeda atau berjalan diatas
treadmill.  Jenis EKG ini membutuhkan waktu sekitar 15-30 menit.

16. TES BUERGER – ALLEN EXCERCISE


Latihan Buerger ditambah dengan latihan aktif kaki. Latihan-latihan ini
terdiri dari fleksi, ekstensi, dan circumduction pergelangan kaki dan
dilakukan selama fase ketergantungan kaki, seperti yang disarankan pada
tahun 1931 oleh Arthur W. Allen (1887-1958).

Latihan khusus yang dimaksudkan untuk meningkatkan sirkulasi ke kaki


dan kaki. Ekstremitas bawah diangkat ke sudut 45 hingga 90 derajat dan
ditopang pada posisi ini sampai kulit memucat (tampak putih pucat). Kaki
dan tungkai kemudian diturunkan ke bawah bagian tubuh yang lain sampai
kemerahan muncul (harus hati-hati agar tidak ada tekanan pada bagian
belakang lutut). Akhirnya, kaki diletakkan rata di tempat tidur selama
beberapa menit. Lamanya waktu untuk setiap posisi bervariasi dengan
toleransi pasien dan kecepatan perubahan warna terjadi. Biasanya latihan
ditentukan agar kaki terangkat selama 2 hingga 3 menit, turun 5 hingga 10
menit, dan kemudian mendatar di atas tempat tidur selama 10 menit.

Instruksi yang diberikan kepada pasien untuk latihan Buerger – Allen :

19
1. Tinggikan kaki di atas kursi empuk atau papan selama 1/2 hingga 3
menit.
2. Duduk dalam posisi santai sementara setiap kaki tertekuk dan
memanjang kemudian pronasi dan supinasi selama 3 menit. Kaki harus
menjadi seluruhnya berwarna merah muda. Jika kaki berwarna biru atau
sakit, angkat dan rileks seperlunya.
3. Berbaring diam-diam selama 5 menit, menjaga kaki tetap hangat dengan
selimut.

B. Saran

20
Demikianlah makalah ini tentang yang dapat saya sampaikan. Saya
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan banyak
kesalahan. Untuk itu saya menerima kritik dan saran yang membangun
untuk memperbaiki makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

https://lizafisioterapi.blogspot.com/2015/10/pemeriksaan-fisioterapi-pada-kasus.html

https://skillslab.fk.uns.ac.id/wp-content/uploads/2019/02/smt-4-Pemeriksaan-kardiovaskuler-
lanjut-2019.pdf

https://keperawatanrespati.blogspot.com/2009/06/treadmil-bagi-penderita-jantung.html

https://www.klikparu.com/2013/11/pengukuran-derajad-sesak-dispnea.html

https://med.unhas.ac.id/fisioterapi/wp-content/uploads/2016/12/PENGUKURAN-KUANTITAS-
NYERI.pdf

https://www.medkes.com/2015/09/pengertian-fungsi-prosedur-elektrokardiogram-ekg.html

https://www.physiotherapy-treatment.com/buerger-exercises.html

21