Anda di halaman 1dari 9

RANGKUMAN MATA KULIAH EKONOMI MANJERIAL

“TEORI PERMAINAN”

Oleh:
Dannia Punky Syaharani (1807521020)\

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2020
I Perilaku Strategis dan Teori Permainan

Perilaku strategis mengacu kepada rencana kerja atau perilaku seorang oligopolis, setelah
mempertimbangkan semua reaksi yang mungkin dilakukan oleh para pesaingnya selama masih
ada pesaing diantara mereka untuk memperoleh laba dan keuntungan lainnya. Karena hanya
terdapat sedikit perusahaan dalam industri tersebut, tindakan dari perusahaan satu akan
berpengaruh terhadap lainnya, dan reaksi dari perusahaan lain harus diperhitungkan oleh yang
pertama dalam menentukan tindakan mana yang paling baik.
Teori permainan (game theory) dipelopori oleh ahli matematika John von Neumann dan
ekonomi Oskar Morgenstern pada tahun 1944 dan tidak lama kemudian teori ini diakui sebagai
terobosan baru dalam penelitian tentang oligopoli. Secara umum, teori permainan berkaitan
dengan strategi terbaik atau optimum dalam berbagai situasi konflik.
Teori permainan ini memperlihatkan bagaimana perusahaan oligopolistik membuat
keputusan strategis untuk memperoleh keunggulan kompetitif atas pesaingnya, atau bagaimana
perusahaan oligopoli bisa memperkecil ancaman potensial akibat langkah strategis pesaingnya.
Setiap model teori permainan terdiri atas pemain, strategi, dan ganjaran. Pemain (player)
adalah para pembuat keputusan yang perilakunya akan berusaha kita jelaskan dan ramalkan.
Strategi adalah pilihan untuk mengubah harga, mengembangkan produk baru, melakukan
kampanye iklan, membangun kapasitas baru, dan tindakan serupa lainnya yang mempengaruhi
penjualan dan tingkat laba perusahaan serta pesaingnya.
Strategi yang diterapkan oleh sebuah perusahaan, biasanya terdapat strategi-strategi
(reaksi) yang bisa dilakukan oleh pesaing. Ganjaran adalah hasil atau konsekuensi dari setiap
kombinasi strategi yang dilakukan kedua perusahaan. Ganjaran biasanya dinyatakan dalam bentuk
laba atau rugi dari perusahaan yang kita kaji, akibat strategi perusahaan itu atau reaksi pesaingnya.
Tabel yang mencantumkan ganjaran dari semua strategi yang dilakukan suatu perusahaan dan
reaksi yang mungkin diberikan pesaing disebut matriks ganjaran (payoff matrix).
Kita harus membedakan antara pemain berjumlah nol dan permainan tidak berjumlah nol.
Permainan berjumlah nol (zero-sum game) adalah permainan dimana keuntungan salah satu
pemain merupakan akibat dari pengeluaran dan keuntungan ini secara persis seimbang de ngan
kerugian pemain lainnya. Sebagai contoh hal ini terjadi jika perusahaan A meningkatkan pangsa
pasarnya sebesar biaya yang dikeluarkan perusahaan B dengan meningkatkan pengeluaran
iklannya (perusahaan B tidak melakukan perubahan iklan).
Pada satu sisi, jika perusahaan B juga meningkatkan pengeluaran iklannya, perusahaan A
mungkin tidak akan memperoleh pangsa pasar sama sekali. Disisi lain, jika perusahaan A
meningkatkan harganya dan perusahaan B tidak melakukannya, perusahaan A mungkin akan
kehilangan pasarnya yang beralih ke pasar B. Permainan dalam sifat ini, di mana keuntungan satu
pemain sama dengan kerugian pemain lainnya (sehingga total keuntungan ditambah dengan total
kerugian sama dengan nol) disebut permainan berjumlah nol. Namun jika keuntungan atau
kerugian salah satu perusahaan tidak diakibatkan oleh biaya atau memberikan keuntungan dalam
jumlah sama pada perusahaan lain, kita melakukan permainan tidak berjumlah nol (non -zero
game).

II Strategi Dominan dan Keseimbangan Nash

Strategi dominan adalah strategi yang menghasilkan hasil yang lebih besar daripada
pesaing terlepas dari apa yang pesaing lakukan. Strategi ini dilakukan dalam permainan yang
dijalankan serentak dan sekali jalan dalam pasar oligopoli. Hal ini dilakukan untuk
memaksimalkan hasil terlepas dari apa yang dilakukan lawan. Dalam beberapa permainan, pemain
kemungkinan tidak memiliki strategi dominan. Contoh dari permainan serentak dan sekali jalan
dijelaskan sebagai berikut:
Misalnya terdapat 2 pemain dalam pasar yaitu pemain A dan pemain B, yang
direpresentasikan dalam tabel 2.1.

Tabel 2.1. Contoh hasil strategi pemain A dan B

Pemain B

Strategi Kiri Kanan

Atas 10 , 20 15 , 8
Pemain A

Bawah -10 , 7 10 , 10

Masing-masing pemain dapat memilih 2 langkah berbeda dalam menentukan strategi.


Pemain-pemain ini bisa juga diartikan sebagai pelaku usaha atau manajer pelaku usaha itu sendiri.
Pemain A memiliki 2 strategi, dia dapat memiliki strategi atas atau bawah. Pemain B juga memiliki
2 strategi, yaitu strategi kiri atau strategi kanan. Strategi atas, bawah, kiri, kanan hanya untuk
menyederhanakan strategi-strategi seperti menaikkan atau menurunkan harga, tingkat pengiklanan
yang tinggi atau rendah untuk lebih mudah dipahami.
Hasil dari kedua pemain digambarkan oleh setiap cell dalam tabel. Angka disebelah kiri
adalah hasil dari strategi pemain A dan angka di kanan (setelah koma) merupakan hasil strategi
pemain B. Hasil strategi pemain A sepenuhnya bergantung dengan strategi pemain B. Misalnya
ketika pemain A memilih atas dan B memilih kiri, maka hasilnya untuk pemain A adalah 10 dan
pemain B adalah 20, demikian pula yang lainnya.
Dikarenakan tabel tersebut merupakan permainan serentak dan sekali jalan, pe main hanya
dapat menetapkan 1 keputusan saja dan dalam waktu yang bersamaan. Untuk pemain A,
keputusannya hanya ada atas atau bawah. Dan pemain tidak dapat mengambil keputusan yang
kondisional; contohnya A tidak bisa memilih atas jika B memilih kanan atau A memilih bawah
jika B memilih kiri. Karena setiap pemain mengambil keputusannya disaat yang bersamaan, maka
hal ini membatasi pemain untuk mengambil keputusan berdasarkan keputusan lawannya.
Dalam tabel 2.1, strategi dominannya untuk A adalah atas. Mengapa? Misalnya pemain B
memilih kiri, maka pilihan terbaik bagi pemain A adalah atas karena 10 unit keuntungan lebih baik
daripada -10 yang didapatkan jika memilih bawah. Jika pemain B memilih kanan, pilihan terbaik
untuk pemain A juga atas, dikarenakan 15 unit keuntungan lebih baik daripada 10 yang didapatkan
dari mengambil strategi bawah. Singkatnya, terlepas dari apakah pemain B memilih kiri atau
kanan, pilihan terbaik bagi pemain A adalah atas. Atas adalah strategi dominan bagi pemain A.
Lalu bagaimana untuk pemain yang tidak memiliki strategi dominan? Salah satu jalan
keluarnya adalah menggunakan secure strategy, atau strategi yang menjamin hasil tertinggi jika
diberikan skenario terburuk. Memang bukanlah suatu cara optimal untuk menjalankan permainan,
tapi dapat menjelaskan kenapa mengambil strategi ini. Untuk menjalankan strategi ini, pemain
melihat skenario terburuk bagi hasilnya yang dapat dari setiap langkahnya, dan memilih jalan yang
mendapatkan hasil yang terbaik.
Sebagai contoh, pemain B tidak memiliki strategi dominan dikarenakan jika pemain A
memilih atas, pilihan terbaik bagi pemain B adalah kiri dikarenakan 20 lebih baik daripada 8 di
kiri. Tetapi jika A memilih bawah, pilihan terbaik B adalah kanan, k arena 10 lebih baik daripada
7. Sehingga tidak ada strategi dominan bagi B dan Langkah terbaik tergantung apa yang A lakukan.
Sehingga secure strategy B adalah kanan. Jika B memilih kiri, scenario terburuk adalah 7 namun
jika memilih kanan maka scenario terburuknya adalah 8. Maka, secure strategynya B adalah kanan.
Namun secure strategy memiliki 2 kelemahan. Yang pertama, strategi ini bukan strategi yang
konservatif dan hanya dipertimbangkan jika memiliki alasan untuk merata-ratakan resiko. Kedua,
hasil yang didapat tidak akan optimal sehingga dapat menghalangi kita menerima hasil terbaik.
Berdasarkan tabel 2.1, B mengetauhi bahwa A memiliki strategi dominan jika memilih atas.
Sehingga lebih baik bagi B untuk tidak memilih secure strateginya (kanan) dikarenakan jika A
pasti memilih atas maka lebih baik mendapatkan 20 dari memilih kiri daripada mendapatkan 8 dari
pilihan kanan.
Salah satu cara untuk Menyusun hasil akhir ini adalah melalui keseimbangan Nash.
Seperangkat strategi terdiri dari keseimbangan Nash jika, dihadapkan dengan strategi pemain
lawan, tidak ada pemain yang dapat meningkatkan hasilnya dengan mengubah strateginya sendiri.
Konsep ini penting karena merepresentasikan situasi dimana setiap pemain melakukan yang
terbaik jika dihadapkan dengan pemain lawan.
Keseimbangan Nash untuk pemain A adalah atas dan pemain B adalah kiri. Sebagai
pertimbangan, anggap A memilih atas dan B memilih kiri. Apakah setiap pemain mempunyai
insentif untuk mengubah strateginya? Tidak. Karena A memilih atas, maka strategi terbaik yang
dapat dipilih B adalah kiri. Dihadapkan dengan B memilih kiri, maka yang sebaiknya A lakukan
adalah memilih atas. Dikarenakan hasilnya adalah atas,kiri maka setiap pemain melakukan yang
terbaik jika dihadapkan dengan keputusan pemain lawannya.

III Dilema Narapidana (Prisoners Dilemma)

Prisoners Dilemma adalah salah satu contoh game theory yang sangat terkenal. Kesuksesan
game theory merambah dan dapat diaplikasikan ke berbagai disiplin ilmu diluar ilmu ekonomi
seringkali dicontohkan dengan menggunakan kasus game Prisoners Dilemma. Definisi dan solusi
pada Prisoners Dilemma memiliki dampak yang besar dalam berbagai disiplin ilmu seperti
ekonomi, sosial dan psikologi. Game Prisoners Dilemma ditemukan oleh Flood dan Dresher pada
tahun 1950. Nama Prisoners Dilemma muncul dari sebuah interpretasi menyangkut dua orang
narapidana yang diperkenalkan oleh Tucker dalam seminar yang diselenggarakan oleh
Departemen Psikologi Universitas Stanford (Psychology Department of Stanford University)
tahun 1950. Game ini terus dibahas berulang-ulang saking terkenalnya sehingga terdapat beberapa
versi yang sangat dikenal, misalnya oleh Luce dan Raiffa (1957) dan juga Hofstadters (1983).
Berikut adalah dua contoh game Prisoners Dilemma.
a The Prisoners Dilemma 1

Matriks payoff untuk kasus ini dapat dilihat seperti di bawah ini.

Tabel 3.1 Matriks Hasil Kasus Prisoners Dilemma 1

Pemain I ingin membeli satu paket narkoba ilegal dari Pemain II dan Pemain II juga ingin
menjualnya. Mereka berdua menyetujui harga yang cocok bagi keduanya namun karena ini adalah
bisnis ilegal maka tidak mungkin melakukan transaksi dengan kontak langsung (tatap muka).
Pemain I berjanji meninggalkan sebuah amplop berisi penuh uang dalam sebuah tempat tertentu,
katakanlah kotak tempat membuang sampah di salah satu taman, demikian pula Pemain II berjanji
meninggalkan sebuah amplop berisi penuh narkoba di tempat lainnya yang sejenis pada waktu
yang sama. Setiap pemain berhadapan dengan pilihan antara bekerja sama (meninggalkan amplop
yang dijanjikan) atau ingkar (mengabaikan meninggalkan amplop). Apabila kedua pemain bekerja
sama dan memilih C maka payoff bagi keduanya cukup baik yaitu (3,3) dimana kedua pemain
masing-masing memperoleh nilai 3. Jika kedua pemain ternyata ingkar maka payoff yang
diperoleh sedikit lebih buruk yaitu (2,2) dimana kedua pemain masing-masing memperoleh nilai
2. Apabila ternyata salah satu pemain bekerja sama namun pemain lainnya ingkar maka hasil yang
diperoleh adalah yang terburuk bagi pemain yang bekerja sama dan terbaik bagi yang ingkar
dengan payoff (1,4) atau (4,1) tergantung kepada siapa yang bekerja sama dan siapa yang ingkar.
b The Prisoners Dilemma II

Matriks payoff untuk kasus ini dapat dilihat seperti di bawah ini. Gambar 3.1
Gambar 3.1 Matriks Hasil Kasus Prisoners Dilemma II

Ada dua orang tahanan yang ditangkap polisi karena melakukan perbuatan kriminal secara
bersama-sama. Mereka dimasukkan ke dalam ruang tahanan yang terpisah jauh dimana mereka
tidak dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Sebagaimana biasa, polisi melakukan
interogasi kepada masing-masing tahanan secara terpisah. Dalam interogasi tersebut dikatakan,
apabila A mengaku tetapi B tutup mulut maka B akan dibui selama 20 tahun, demikian juga
sebaliknya, apabila B mengaku tetapi A tutup mulut maka A akan dibui 20 tahun. Jika keduanya
yaitu A dan B tutup mulut sebenarnya masing-masing hanya akan dibui selama satu tahun. Namun
pada dasarnya setiap orang lebih ingin pihak lainnya yang kalah, dalam hal ini dipenjara
maksimum sehingga keduanya akhirnya mengaku bersalah. Apabila keduanya mengaku, maka
titik keseimbangan tercapai yang disebut sebagai Nash Equilibrium dimana masing-masing akan
dibui selama 5 tahun.

Pemain rasional mengakui bahwa terlepas dari apakah pemain lain akan menolak atau
bekerja sama, tindakan rasional adalah menolak untuk mengakui. Namun, ketika kedua pemain
mengikuti logika ini, mereka akhirnya akan berada dalam situasi lebih buruk daripada jika mereka
bisa sepakat untuk bekerja sama. Para pemain tampaknya di luar dugaan mahir untuk menghindari
dilema dan menemukan jalan untuk kerjasama. Konsep keseimbangan keadilan membantu
menjelaskan mengapa? Setidaknya untuk taruhan yang kecil, kerja sama dalam kasus prisoners
dilemma adalah keseimbangan keadilan. Lagipula, kerja sama berarti pengorbanan untuk
membantu orang lain yang memicu preferensi timbal balik untuk bekerja sama. Kerjasama adalah
strategis secara emosional dalam pendekatan ini, mengubah prisoners dilemma menjadi permainan
koordinasi di mana keinginan pemain untuk mengkoordinasikan tingkat kebaikan mereka.
Guyonan ini dengan fakta yang diamati secara luas bahwa pemain yang mengh arapkan orang lain
untuk bekerja sama adalah lebih mungkin untuk mewujudkan kerja sama di antara mereka sendiri
(Sally, 1994:64).

IV Persaingan Harga dan Non Harga, Kecurangan dalam Kartel dan Dilema
Narapidana Tahanan Para Pelaku Oligopoli

a Persaingan Harga, Kecurangan dalam Kartel Dan Dilema Tahanan.


Konsep dilema tahanan dapat digunakan untuk menganalisis persaingan harga dan
nonharga dalam pasar oligopolistic, selain juga dalam hal kecenderungan untuk berbuat curang
(yaitu, untuk secara diam-diam mengurangi harga atau menjual lebih banyak dari kuota) di
dalam sebuah kartel. Persaingan harga oligopolistic yang terjadi bersamaan dengan situasi
dilema tahanan, dapat dikaji dengan menggunakan matriks ganjaran dalam tabel berikut:

Tabel 4.1 Matriks ganjaran untuk permainan penentuan harga

Perusahaan B

Harga Rendah Harga Tinggi

Perusahaan Harga Rendah (2,2) (5,1)


A
Harga Tinggi (1,5) (3,3)

Matriks ganjaran dalam tabel tersebut menunjukkan bahwa jika perusahaan B


menurunkan harga rendah (misalnya $6), perusahaan A akan memperoleh laba sebesar 2 jika
dia juga menentukan harga rendah ($6) dan memperoleh laba 1 jika dia menentukan harga
tinggi (misalnya $8). Demikian pula, jika perusahaan B menentukan harga tinggi ($8),
perusahaan A akan memperoleh laba sebesar 5 jika dia menentukan harga rendah dan sebesar
3 jika dia menentukan harga tinggi. Jadi, perusahaan A harus melaksanakan strategi
dominannya untuk menentukan harga rendah. Untuk perusahaan B, jika perusahaan A
menentukan harga rendah, perusahaan B akan memperoleh laba sebesar 2 jika dia menentukan
harga rendah dan sebesar 1 jika dia menentukan harga tinggi. Demikian pula, jika perusahaan
A menentukan harga tinggi, perusahaan B akan memperoleh laba sebesar 5 jika dia menentuka
harga rendah dan sebesar 3 jika dia menentukan harga tinggi. Jadi perusahaan B juga harus
melaksanakan strategi dominannya untuk menentukan harga rendah. Meskipun begitu, kedua
perusahaan bisa melakukan hal yang lebih baik (artinya, memperoleh laba yang tinggi sebesar
3) jika mereka bekerja sama dan keduanya menentukan harga tinggi (sel kanan bawah dalam
table).
Dengan demikian kedua perusahaan mengalami dilema tahanan : setiap perusahaan
akan menentukan harga rendah dan memperoleh laba yang lebih kecil karena jika dia
menentukan harga tinggi, perusahaan tersebut tidak bisa mempercayai bahwa pesaingnya juga
akan menentukan harga yang mahal. Secara khusus, katakan bahwa p erusahaan A
menentukan harga tinggi dengan harapan bahwa perusahaan B juga akan menentukan harga
tinggi (sehingga setiap perusahaan memperoleh laba tinggi sebesar 3). Tetapi, jika perusahaan
A sudah menentukan harga tinggi, perusahaan B memiliki kecenderungan untuk menetapkan
harga rendah dan memperoleh labanya hanya sebesar 2. Hanya jika kedua perusahaan belajar
bekerja sama dan menentukan harga tinggi maka mereka berdua akan memperoleh laba lebih
besar yaitu 3 (dan mengakhiri dilema yang mereka hadapi).

b Persaingan Non Harga, Kecurangan Dalam Kartel Dan Dilema Tahanan

Meskipun matriks ganjaran dalam tabel sebelumnya digunakan untuk mengkaji


persaingan harga oligopolistik dalam menghadapi dilema tahanan, dengan hanya mengganti
judul masing-masing kolom dan baris matriks itu, kita dapat menggunakan matriks yang sama
untuk membahas persaingan non harga dan kecurangan dalam kartel. Misalnya, jika kita
mengganti judul “harga rendah” dengan “memasang iklan” dan mengganti judul “harga tinggi”
dengan “tidak memasang iklan” pada matriks ganjaran di dalam tabel sebelumnya, kita dapat
menggunakan matriks sebelumnya tersebut untuk menganalisis sebuah bentuk persaingan non
harga dalam menghadapi dilema tahanan. Kita kemudian akan melihat bahwa setiap perusahaan
melaksanakan strategi domain untuk memasang iklan dan (sebagaimana dalam kasus
menentukan harga rendah) akan memperoleh laba sebesar 2. Namun, kedua perusahaan akan
lebih diuntungkan jika mereka tidak memasang iklan karena mereka akan memperoleh (seperti
halnya dalam kasus menentukan harga tinggi) laba yang lebih tinggi sebesar 3. Kedua perusahaan
tersebut dengan demikian menghadapi situasi dilema tahanan. Hanya dengan bekerja sama untuk
tidak memasang iklan, keduanya akan memperoleh laba yang lebih tin ggi sebesar 3. Misalnya,
ketika iklan rokok di televisi dilarang pada tahun 1971, semua perusahaan tembakau diuntungkan
karena pengeluaran iklannya berkurang dan memperoleh laba yang lebih tinggi. Dampak yang
diharapkan dari aturan tersebut bukanlah merangsang orang untuk merokok, tetapi aturan
tersebut juga memiliki dampak yang tidak diharapkan, yaitu memecah dilema tahanan yang
dihadapi oleh perusahaan-perusahaan rokok.
DAFTAR PUSTAKA
Baye, Michael R. 2010. Managerial Economics and Business Strategy 7th Edition. New York:
McGraw-Hill/Irwin.