Anda di halaman 1dari 30

Clinical Science Session

TERAPI CAIRAN

Oleh:

Fadina Rizki 1110312041


Ratih Gusma Pratiwi 1210311014
Dian Pratiwi Burnama 1210313001
Rikardi Santosa 1310311094

Preseptor:

dr. Rinal Effendi, Sp.An

BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

RSUP DR. M. DJAMIL

PADANG

2017

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat

Allah SWT atas segala rahmat, berkah dan karunia-Nya, dan shalawat dan salam

kepada Rasulullah Muhammad SAW serta sahabat dan keluarganya, sehingga

penulis dapat menyelesaikan Clinical Science Session ini dengan judul “Terapi

Cairan” sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Kepaniteraan Klinik di

Bagian Anestesiologi dan Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

preseptor dr. Rinal Effendi, Sp.An yang telah meluangkan waktunya untuk

membimbing, memberikan pengarahan dan koreksi sampai Clinical Science

Session ini selesai.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Clinical Science Session ini

terdapat banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,

penulis mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan penulisan yang

serupa dimasa yang akan datang. Penulis berharap Clinical Science Session ini

dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya penulis. Amin Yaa Rabbal’alamin.

Padang, Juni 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Batasan Masalah 2
1.3 Tujuan Penulisan 2
1.4 Metode Penulisan 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1 Anatomi Cairan Tubuh 3
2.2 Komposisi Cairan Tubuh 4
2.3 Kebutuhan Cairan Tubuh 5
2.4 Faktor yang Berpengaruh pada Keseimbangan 6
Cairan dan Elektrolit
2.5 Perpindahan Substansi Antar Kompartmen 7
2.6 Perubahan Cairan Tubuh 10
2.7 Gangguan Keseimbangan Air dan Elektrolit 13
2.8 Terapi Cairan 15
2.9 Pemilihan Cairan 17
BAB 3 PENUTUP 24
DAFTAR PUSTAKA 26

3
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cairan tubuh adalah larutan encer yang mengandung elektrolit dan non-

elektrolit, dan terdiri atas kompartemen intrasel dan ekstrasel.1 Total cairan tubuh

yang mengambil 55-72% massa tubuh, beragam menurut jenis kelamin, umur dan

kadar lemak.2 Sifat membran sel yang permeabel terhadap air menjadikan

keseimbangan osmotik dapat dipertahankan sehingga terjadi keseimbangan

osmolalitas antara ekstrasel dan intrasel.1

Elektrolit adalah senyawa di dalam larutan yang berdisosiasi menjadi

partikel yang bermuatan (ion) positif atau negatif. Ion bermuatan positif disebut

kation dan ion bermuatan negatif disebut anion. Keseimbangan keduanya disebut

sebagai elektronetralitas. Sebagian besar proses metabolisme memerlukan dan

diperngaruhi oleh elektrolit. Konsentrasi elektrolit yang tidak normal dapat

menyebabkan banyak gangguan.3

Elektrolit yang memberikan kontribusi besar dalam menentukan besarnya

osmolalitas serum adalah natrium, yang aktif secara osmotik, dan pemberi

kontribusi dominan dalam menentukan besarnya osmolalitas.1 Konsentrasi serum

Na menggambarkan jumlah relatif air dan natrium dalam plasma.

mempertahankan konsentrasi natrium dalam keadaan normal berarti ikut bagian

dalam pengaturan volume cairan tubuh. Besarnya kandungan dalam cairan

ekstraseluler dan intraseluler tergantung pada jumlah air di dalamnya, sedangkan

distribusi air tergantung pada osmolalitasnya.2

1
Pemeliharaan homeostasis cairan tubuh adalah penting bagi kelangsungan

hidup semua organisme.3 Kelainan akibat perubahan volume dan komposisi cairan

tubuh perlu diatasi dengan penambahan kebutuhan rumatan, koreksi defisit

volume dan elektrolit, dan mengganti kehilangan yang sedang berlangsung.2

Oleh karena itu, sebagai calon dokter dan tenaga yang terampil, dokter

muda perlu membekali dirinya dengan pengetahuan yang baik berhubungan

dengan terapi cairan dan elektrolit agar dokter muda dapat mengaplikasikan

ilmunya dalam penalatalaksanaan pasien dikemudian hari.

1.2 Batasan Masalah

Clinical Science Session ini membahas terapi cairan, mencakup anatomi

cairan tubuh, komposisi cairan tubuh, kebutuhan cairan tubuh, faktor yang

mempengaruhi kebutuhan cairan, proses pergerakan cairan tubuh, perubahan

cairan tubuh, gangguan keseimbangan air dan elektrolit, terapi cairan, dan

pemilihan cairan.

1.3 Tujuan Penulisan

Clinical Science Session ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan

dan pemahaman tentang terapi cairan.

1.4 Metode Penulisan

Clinical Science Session ini ditulis dengan menggunakan metode tinjauan

pustaka yang merujuk dari berbagai literatur.

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Cairan Tubuh

Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari cairan. Pada bayi prematur

jumlahnya sebesar 80% dari berat badan; bayi normal sebesar 70-75% dari berat

badan; sebelum pubertas sebesar 65-70% dari berat badan; orang dewasa sebesar

50-60% dari berat badan. Kandungan air di dalam sel lemak lebih rendah dari

pada kandungan air di dalam sel otot, sehingga cairan tubuh total pada orang yang

gemuk (obes) lebih rendah dari mereka yang tidak gemuk.4

Cairan tubuh tersebar antara dua kompartemen cairan utama: cairan

intrasel (CIS) dan cairan ekstrasel (CES). Kompartemen CIS membentuk sekitar

dua pertiga dari cairan tubuh total. Meskipun setiap sel mengandung campuran

konstituen masing-masing yang bersifat unik namun trilyunan kompartemen

cairan kecil ini cukup serupa sehingga secara kolektif dapat dianggap sebagai satu

kompartemen cairan besar.5

Sepertiga sisanya dari cairan total tubuh yang terdapat di kompartemen

CES dapat dibagi lagi menjadi plasma dan cairan interstisium. Plasma, yang

membentuk sekitar seperlima dari volume CES, adalah bagian cair dari darah.

Cairan interstisium, yang mewakili empat perlima dari kompartemen CES, adalah

cairan di ruang antarsel. Cairan ini merendam dan melakukan pertukaran dengan

sel.5

Dua kategori minor lain masuk dalam kompertemen CES: cairan limfe dan

cairan trans-sel. Limfe adalah cairan yang dikembalikan dari cairan insterstisium

3
ke plasma melalui sistem pembuluh limfe, tempat cairan ini difiltrasi melalui

kelenjar limfe untuk kepentingan pertahanan imun. Cairan trans-sel terdiri dari

sejumlah volume cairan khusus kecil, yang semuanya disekresikan oleh sel

spesifik ke dalam rongga tubuh tertentu untuk melakukan fungsi khusus. Cairan

trans-sel mencakup cairan serebrospinal (mengelilingi, membentuk bantalan, dan

memberi makan otak dan medula spinalis); cairan intraokulus (mempertahankan

bentuk dan memberi makan mata); cairan sinovium (melumasi dan berfungsi

sebagai peredam kejut untuk sendi); cairan perikardium, intrapleura, dan

peritoneum (masing-masing melumasi gerakan jantung, paru, dan usus); dan

getah pencernaan (mencerna makanan).5

Tabel 2.1 Klasifikasi Cairan Tubuh5


Volume Cairan Persentase Cairan Persentase Berat
Kompartemen
(dalam liter) Tubuh Tubuh
Cairan Tubuh Total 42 100 60
Cairan Intrasel (CIS) 28 67 40
Cairan Ekstrasel (CES) 14 33 20
Plasma 2,8 6,6 4
(20% dari CES)
Cairan Interstisium 11,2 26,4 16
(80% dari CES)
Limfe Dapat diabaikan Dapat diabaikan Dapat diabaikan
Cairan trans-sel Dapat diabaikan Dapat diabaikan Dapat diabaikan

2.2 Komposisi Cairan Tubuh

Secara garis besar, komposisi cairan tubuh yang utama dalam plasma,

interstisium dan intaseluler ditunjukkan pada tabel berikut:

4
Tabel 2.2 Komposisi Plasma, Interstisium, dan Intraseluler6
Plasma Cairan Interstisium Cairan Intraseluler
Substansia
(mmol/L) (mmol/L) (mmol/L)
Kation
Na+ 153 145 10
K+ 4,3 4,1 159
Ca2+ 2,7 2,4 <1
Mg2+ 1,1 1 40
Total 161,1 152,5 209
Anion
Cl- 112 117 3
HCO3- 25,8 27,1 7
Protein 15,1 <0,1 45
Lainnya 8,2 8,4 154
Total 161,1 152,5 209

2.3 Kebutuhan Cairan Tubuh

2.3.1 Bayi dan Anak

Pada bayi dan anak sesuai dengan perhitungan di bawah ini:7

Berat badan Kebutuhan air perhari

Sampai 10 kg 100 ml//kgBB

11-20 kg 1000 ml +50 ml/kgBB

(untuk tiap kg diatas 10 kg)

>20 kg 1500 ml + 20 ml/kgBB

(untuk tiap kg diatas 20 kg)

Kebutuhan kalium 2,5 mEq/kgBB/hari

Kebutuhan natrium 2-4 mEq/kgBB/hari

2.3.2 Orang Dewasa

Pada orang dewasa kebutuhannya yaitu:8

a. Kebutuhan air sebanyak 30-50 ml/kgBB/hari

b. Kebutuhan kalium 1-2 mEq/kgBB/hari

c. Kebutuhan natrium 2-3 mEq/kgBB/hari

5
2.4 Faktor yang Berpengaruh pada Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

2.4.1 Umur

Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan

berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant

dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding

usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan

dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung.6

2.4.2 Iklim

Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban

udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit

melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas

dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari.6

2.4.3 Diet

Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika

intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak

sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal

keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini

akan menyebabkan edema.6

2.4.4 Stress

Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan

pemecahan glykogen otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan

retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.6

6
2.4.5 Kondisi Sakit

Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan

dan elektrolit tubuh, misalnya :6,8

a. Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL.

b. Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator

keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh

c. Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan

pemenuhan intake cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya

secara mandiri.

2.4.6 Tindakan Medis

Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan

elektrolit tubuh seperti : suction, nasogastric tube dan lain-lain.6

2.4.7 Pengobatan

Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksative dapat berpengaruh pada

kondisi cairan dan elektrolit tubuh.6

2.4.8 Pembedahan

Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami

gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan kehilangan

darah selama pembedahan.6

2.5 Perpindahan Substansi Antar Kompartmen

Setiap kompartmen dipisahkan oleh barier atau membran yang membatasi

mereka. Setiap zat yang akan pindah harus dapat menembus barier atan membran

7
tersebut. Bila substansi zat tersebut dapat melalui membran, maka membran

tersebut permeabel terhadap zat tersebut. Jika tidak dapat menembusnya, maka

membran tersebut tidak permeable untuk substansi tersebut. Membran disebut

semipermeabel (permeabel selektif) bila beberapa partikel dapat melaluinya tetapi

partikel lain tidak dapat menembusnya. 9,10

Perpindahan substansi melalui membran ada yang secara aktif atau pasif.

Transport aktif membutuhkan energi, sedangkan transport pasif tidak

membutuhkan energi.

2.5.1 Difusi


Partikel (ion atau molekul) suatu substansi yang terlarut selalu bergerak

dan cenderung menyebar dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi

yang lebih rendah sehingga konsentrasi substansi partikel tersebut merata.

Perpindahan partikel seperti ini disebut difusi. Beberapa faktor yang

mempengaruhi laju difusi ditentukan sesuai dengan hukum Fick (Fick’ s law of

diffusion). Faktor-faktor tersebut adalah: 9,10

a. Peningkatan perbedaan konsentrasi substansi. 


b. Peningkatan permeabilitas. 


c. Peningkatan luas permukaan difusi. 


d. Berat molekul substansi. 


e. Jarak yang ditempuh untuk difusi 


8
2.5.2 Osmosis


Bila suatu substansi larut dalam air, konsentrasi air dalam larutan tersebut

lebih rendah dibandingkan konsentrasi air dalam larutan air murni dengan volume

yang sama. Hal ini karena tempat molekul air telah ditempati oleh molekul

substansi tersebut. Jadi bila konsentrasi zat yang terlarut meningkat, konsentrasi

air akan menurun.
Bila suatu larutan dipisahkan oleh suatu membran yang

semipermeabel dengan larutan yang volumenya sama namun berbeda konsentrasi

zat yang terlarut, maka terjadi perpindahan air/ zat pelarut dari larutan dengan

konsentrasi zat terlarut yang rendah ke larutan dengan konsentrasi zat terlarut

lebih tinggi. Perpindahan seperti ini disebut dengan osmosis. 9,10

2.5.3 Filtrasi


Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara dua ruang yang

dibatasi oleh membran. Cairan akan keluar dari daerah yang bertekanan tinggi ke

daerah bertekanan rendah. Jumlah cairan yang keluar sebanding dengan besar

perbedaan tekanan, luas permukaan membran, dan permeabilitas membran.

Tekanan yang mempengaruhi filtrasi ini disebut tekanan hidrostatik.9,10

2.5.4 Transport aktif


Transport aktif diperlukan untuk mengembalikan partikel yang telah

berdifusi secara pasif dari daerah yang konsentrasinya rendah ke daerah yang

konsentrasinya lebih tinggi. Perpindahan seperti ini membutuhkan energi (ATP)

untuk melawan perbedaan konsentrasi. Contoh: Pompa Na-K.9,10

9
2.6 Perubahan Cairan Tubuh

Gangguan cairan tubuh dapat dibagi dalam tiga bentuk yakni perubahan :

a. Volume, 


b. Konsentrasi, dan 


c. Komposisi. 


Ketiga macam gangguan tersebut mempunyai hubungan yang erat satu

dengan yang lainnya sehingga dapat terjadi bersamaan. Namun demikian, dapat

juga terjadi secara terpisah atau sendiri yang dapat member gejala-gejala

tersendiri pula. Yang paling sering dijumpai dalam klinik adalah gangguan

volume.6,11

2.6.1 Perubahan Volume


Defisit Volume

Pada keadaan akut, kehilangan cairan yang cepat akan menimbulkan tanda

gangguan pada susunan saraf pusat dan jantung. Pada kehilangan cairan yang

lambat, lebih dapat ditoleransi sampai defisit volume cairan ekstraseluler yang

berat.6,11

Dehidrasi

Dehidrasi sering dikategorikan sesuai dengan kadar konsentrasi serum dari

natrium menjadi isonatremik (130-150 mEq/L), hiponatremik (<139 mEq/L) atau

hipernatremik (.150 mEq/L). Dehidrasi isonatremik merupakan yang paling sering

terjadi (80%), sedangkan dehidrasi hipernatremik atau hiponatremik sekitar 5-

10% dari kasus.

10
Dehidrasi isotonis (isonatremik) terjadi ketika kehilangan cairan hampir

sama dengan konsentrasi natrium terhadap darah. Kehilangan cairan dan natrium

besarnya relatif sama dalam kompartemen intravascular maupun kompartemen

ekstravaskular.11 Dehidrasi hipotonis (hiponatremik) terjadi ketika kehilangan

cairan dengan kandungan natrium lebih banyak dari darah (kehilangan cairan

hipertonis). Sedangkan dehidrasi hipertonis (hipernatremik) terjadi ketika

kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih sedikit dari darah.11

Ditinjau dari segi banyaknya defisit cairan dan elektrolit yang hilang,

maka dehidrasi dapat dibagi atas :

a. Dehidrasi ringan (defisit 4%BB) 


b. Dehidrasi sedang (defisit 8%BB) 


c. Dehidrasi berat (defisit 12%BB)


Tabel 2.3 Rumatan cairan menurut rumus Hollyday-Segar.11


Berat Badan Jumlah Cairan
<10 kg 100 ml/kg/hari
11-20 kg 1000 ml + 50 ml/kg/hari untuk setiap kg di atas 10 kg
>20 kg 1500 ml + 20 ml/kg/hari untuk setiap kh di atas 20 kg

Cara rehidrasi yaitu hitung cairan dan elektrolit total (rumatan +

penggantian defisit) untuk 24 jam pertama. Berikan separuhnya dalam 8 jam

pertama dan selebihnya dalam 16 jam berikutnya.

Kelebihan Volume
Kelebihan volume cairan ekstraselular merupakan

suatu kondisi akibat iatrogenic (pemberian cairan intravena seperti NaCl yang

menyebabkan kelebihan air dan NaCl ataupun pemberian cairan intravena glukosa

11
yang menyebabkan kelebihan air) ataupun dapat sekunder akibat insufisiensi renal

(gangguan GFR), sirosis, ataupun gagal jantung kongestif.

2.6.2 Perubahan Konsentrasi


Perubahan konsentrasi cairan tubuh dapat berupa hipernatremia atau

hiponatremia maupun hiperkalemia atau hipokalemia.
Rumus untuk menghitung

defisit elektrolit :6,11

a. Defisit natrium (mEq total) = (Na serum yang diinginkan – Na serum

sekarang) x 0,6 x BB (kg)

b. Defisit Kalium (mEq total) = (K serum yang diinginkan [mEq/liter] – K

serum yang diukur) x 0,25 x BB (kg)

c. Defisit Klorida (mEq total) = (Cl serum yang diinginkan [mEq/liter] – Cl

serum yang diukur) x 0,45 x BB (kg)

2.6.3 Perubahan komposisi


Perubahan komposisi itu dapat terjadi tersendiri tanpa mempengaruhi

osmolaritas cairan ekstraseluler. Sebagai contoh misalnya kenaikan konsentrasi K

dalam darah dari 4 mEq menjadi 8 mEq, tidak akan mempengaruhi osmolaritas

cairan ekstraseluler tetapi sudah cukup mengganggu otot jantung. Demikian pula

halnya dengan gangguan ion kalsium, dimana pada keadaan hipokalsemia kadar

Ca kurang dari 8 mEq, sudah akan timbul kelainan klinik tetapi belum banyak

menimbulkan perubahan osmolaritas.6,11

12
2.7 Gangguan Keseimbangan Air dan Elektrolit

Gangguan keseimbangan air dan elektrolit dapat terjadi karena:


a. Gastroenteritis, demam tinggi (DHF, difteri, tifoid)

b. Kasus pembedahan (appendektomi, splenektomi, section cesarea,

histerektomi)

c. Penyakit lain yang menyebabkan pemasukan dan pengeluaran tidak seimbang

(kehilangan cairan melalui muntah)

2.7.1 Dehidrasi

Dehidrasi merupakan keadaan dimana kurangnya terjadi kekurangan

jumlah cairan tubuh dari jumlah normal akibat kehilangan, aasupan yang tidak

memadai atau kombinasi keduanya. Menurut jenisnya dehidrasi dibagi atas:10,12

a. Dehidrasi hipotonik


b. Dehidrasi hipertonik


c. Dehidrasi isotonik


Sedangkan menurut derajat beratnya dehidrasi yang didasarkan pada tanda

interstitial dan tanda intravaskuler yaitu ;


a. Dehidrasi ringan ( defisit 4% dari BB)

b. Dehidrasi sedang ( defisit 8% dari BB)

c. Dehidrasi berat ( defisit 12% dari BB)

d. Syok ( defisit dari 12% dari BB)

Defisit cairan interstitial dengan gejala sebagai berikut :

a. Turgor kulit yang jelek


b. Mata cekung


13
c. Ubun-ubun cekung

d. Mukosa bibir dan kornea kering


Defisist cairan intravaskuler dengan gejala sebagai berikut :

a. Hipotensi, takikardi


b. Vena-vena kolaps


c. Capillary refill time memanjang

d. Oliguri


e. Syok ( renjatan)

Dehidrasi hipotonik ( hiponatremik )10,12

a. Pada anak yang diare yang banyak minum air atau cairan hipotonik atau

diberi infus glukosa 5% 


b. Kadar natrium rendah ( <130 mEq/L) 


c. Osmolaritas serum < 275 mOsm/L 


d. Letargi, kadang- kadang kejang 


Dehidrasi hipertonik 10,12

a. Biasa terjadi setelah intake cairan hipertonik ( natrium, laktosa ) selama diare

b. Kehilangan air >> kehilangan natrium


c. Konsentrasi natrium > 150 mmol/ L


d. Osmolaritas serum meningkat > 295 mOsm/L

e. Haus, irritable


f. Bila natrium serum mencapai 165 mmol/L dapat terjadi kejang

14
Tabel 2.4 Beberapa gangguan elektrolit
Ion dan batas CES Terganggu (mEq/L) Gejala-gejala Penyebab
normal (mEq/L)
Natrium (136-142) Hipernatremia (>150) Haus, kulit kering dan Dehidrasi, kehilangan
mengkerut, penurunan cairan hipotonik.
tekanan dan volume
darah, bahkan kolaps
sirkulasi.
Hiponatremia (<130) Gangguan fungsi SSP Infuse atau ingesti
(intoksikasi air solusi hipotonik dalam
kanfusi, halusinasi, jumlah besar.
kejang, koma,
kematian pada
beberapa kasus.
Kalium (3,8-5,0) Hiperkalemia (>8) Aritmia jantung berat. Gagal ginjal,
penggunaan diuretic,
asidosis kronik.
Hipokalemia (<2) Kelemahan dan Diet rendah kalium,
paralisis otot. diuretic dan
hipersekresi
aldosteron.
Kalsium (4,5-5,3) Hiperkalsemia (>11) Kondusi, nyeri otot, Hiper paratiroid,
aritmia jantung, batu kanker, toksisitas vit.
ginjal, kalsifikasi pada D, suplemen jalsium
jaringan lunak. dengan dosis yang
sangat berlebihan.
Hipokalsemia (<4) Spasme otot, kejang, Diet yang jelek, kurang
kram usus, denyut vitamin D, gagal
jantung yang lemah, ginjal, hipoparatiroid,
aritmia jantung, hipomagnesemia.
osteoporosis.

2.8 Terapi Cairan

Tujuan Terapi cairan yaitu untuk mengganti cairan yang hilang, mengganti

kehilangan cairan yang sedang berlangsung, mencukupi kebutuhan per hari,

mengatasi syok, mengoreksi dehidrasi, mengatasi kelainan akibat terapi lain.13

Penatalaksanaan terapi cairan meliputi dua bagian dasar yaitu:14

a. Terapi cairan resusitasi : Ditujukan untuk menggantikan kehilangan akut

cairan tubuh atau ekspansi cepat dari cairan intravaskuler untuk memperbaiki

perfusi jaringan. Misalnya pada keadaan syok dan luka bakar. Terapi cairan

resusitasi dapat dilakukan dengan pemberian infus normal saline (NS), Ringer

15
Asetat (RA),atau Ringer laktat (RL) sebanyak 20 ml/kg selama 30-60 menit.

Pada syok hemoragik bisa diberikan 2-3 L dalam 10 menit.

b. Terapi rumatan: Bertujuan untuk memelihara keseimbangan cairan tubuh dan

nutrisi yang diperlukan oleh tubuh.Hal ini digambarkan dalam diagram

berikut :

Terapi Cairan

Resusitasi Rumatan

Kristaloid Koloid Elektrolit Nutrisi

Prinsip pemilihan cairan dimaksudkan untuk mengganti kehilangan air dan

elektrolit yang normal melaui urine, IWL, dan feses serta membuat agar

hemodinamik agar tetap dalam keadaan stabil.Pada penggantian cairan, maka

jenis cairan yang digunakan didasarkan pada :14

1) Cairan pemeliharaan ( jumlah cairan yang dibutuhkan selama 24 jam )

2) Cairan defisit ( jumlah kekurangan cairan yang terjadi )

3) Cairan pengganti ( replacement): Sekuestrasi (cairan third space) Pengganti

darah yang hilang, Pengganti cairan yang hilang melalui fistel, maag slang

dan drainase.14

c. Terapi cairan Intravena: Infus cairan intravena (intravenous fluids drip)

adalah pemberian sejumlah cairan kedalam tubuh, melalui sebuah jarum,

16
kedalam pembuluh vena untuk menggantikan keilangan cairan atau zat-zat

makanan dari tubuh.

Secara umum,, keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian

cairan infus adalah:15

1) Perdarahan dalam jumlah yang banyak (kehilangan cairan tubuh dan

komponen darah)

2) Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)

3) Fraktur khususnya di pelvis dan femur (kehilangan cairan tubuh dan

komponen darah)

4) Kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi ( karena heat stroke, demam dan

diare).

Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan

tubuh dan komponen darah).

2.9 Pemilihan Cairan

Cairan intravena diklasifikasikan menjadi kristaloid dan koloid. Kristaloid

merupakan larutan dimana molekul organik kecil dan inorganik dilarutkan dalam

air. Larutan ini ada yang bersifat isotonik, hipotonik, maupun hipertonik. Cairan

kristaloid memiliki keuntungan antara lain : aman, nontoksik, bebas reaksi, dan

murah. Adapun kerugian dari cairan kristaloid yang hipotonik dan isotonik adalah

kemampuannya terbatas untuk tetap berada dalam ruang intravaskular.

17
2.9.1 Cairan Kristaloid

Cairan kristaloid yang paling banyak digunakan adalah normal saline dan

ringer laktat. Cairan kristaloid memiliki komposisi yang mirip cairan ekstraselular

(CES=CEF). Karena perbedaan sifat antara kristaloid dan koloid, dimana

kristaloid akan lebih banyak menyebar ke ruang interstitial dibandingkan dengan

koloid maka kristaloid sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit cairan di ruang

intersisial.

Penggunaan cairan normal salin dalam jumlah yang besar dapat

menyebabkan timbulnya asidosis hiperkloremik, sedangkan penggunaan cairan

ringer laktat dengan jumlah besar dapat menyebabkan alkalosis metabolik yang

disebabkan adanya peningkatan produksi bikarbonat akibat metabolisme laktat.

Larutan dekstrose 5% sering digunakan jika pasien memiliki gula darah

yang rendah atau memiliki kadar natrium yang tinggi. Namun penggunaannya

untuk resusitasi dihindarkan karena komplikasi yang diakibatkan antara lain

hiperomolalitas-hiperglikemik, diuresis osmotik, dan asidosis serebral.8,17,18,19

Tabel 2.5 Komposisi kristaloid16


Solution Glucose Sodium Chloride Potasium Kalsium Lactate (mOsmol/L)
(mg/dl) (mEq/L) (mEq/L) (mEq/L) (mEq/L) (mEq/L)
5% 5000 253
Dextrose
in water
D5 ½ NS 5000 77 77 406
D5 NS 5000 154 154 561
0,9% 154 154 308
NaCl
Ringer 130 109 4.0 3.0 28 273
Laktat
D5 RL 5000 130 109 4.0 3.0 28 525
5% NaCl 855 855 1171

18
2.9.2 Cairan Koloid

Cairan koloid disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa

disebut “plasma expander”. Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan yang

mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan

cairan ini cenderung bertahan agak lama dalam ruang intravaskuler.

Koloid dapat mengembalikan volume plasma secara lebih efektif dan

efisien daripada kristaloid, karena larutan koloid mengekspansikan volume

vaskuler dengan lebih sedikit cairan dari pada larutan kristaloid. Sedangkan

larutan kristaloid akan keluar dari pembuluh darah dan hanya 1/4 bagian tetap

tinggal dalam plasma pada akhir infus. Koloid adalah cairan yang mengandung

partikel onkotik dan karenanya menghasilkan tekanan onkotik. Bila diberikan

intravena, sebagian besar akan menetap dalam ruang intravaskular.

Meskipun semua larutan koloid akan mengekspansikan ruang

intravaskular, namun koloid yang mempunyai tekanan onkotik lebih besar

daripada plasma akan menarik pula cairan ke dalam ruang intravaskular. Ini

dikenal sebagai ekspander plasma, sebab mengekspansikan volume plasma lebih

dari pada volume yang diberikan. 8,17,18,19

2.9.3 Albumin

Albumin merupakan larutan koloid murni yang berasal dari plasma

manusia. Albumin dibuat dengan pasteurisasi pada suhu 600C dalam 10 jam

untuk meminimalisir resiko transmisi virus hepatitis B atau C atau pun virus

imunodefisiensi. Waktu paruh albumin dalam plasma adalah sekitar 16 jam,

19
dengan sekitar 90% tetap bertahan dalam intravascular 2 jam setelah

pemberian.8,17,18,19

2.9.4 Dekstran 16

Dekstran merupakan semisintetik koloid yang secara komersial dibuat dari

sukrose oleh mesenteroides leukonostok strain B 512 dengan menggunakan enzim

dekstran sukrose. Ini menghasilkan dekstran BM tinggi yang kemudian

dilengketkan oleh hidrolisis asam dan dipisahkan dengan fraksionasi etanol

berulang untuk menghasilkan produk akhir dengan kisaran BM yang relatif sempit.

Dekstran untuk pemakaian klinis tersedia dalam dekstran 70 (BM 70.000) dan

dekstran 40 (BM 40.000) dicampur dengan garam faal, dekstrosa atau Ringer

laktat.

Dekstran 70 6 % digunakan pada syok hipovolemik dan untuk profilaksis

tromboembolisme dan mempunyai waktu paruh intravaskular sekitar 6 jam.

Pemakaian dekstran untuk mengganti volume darah atau plasma hendaknya

dibatasi sampai 1 liter (1,5 gr/kgBB) karena risiko terjadi perdarahan abnormal.

Batas dosis dekstran yaitu 20 ml/kgBB/hari. 8,17,18,19

Sekitar 70% dosis dekstran 40 yang diberikan akan dieksresikan ke dalam

urine dalam 24 jam. Molekul- molekul yang lebih besar dieksresikan lewat usus

atau dimakan oleh sel-sel sistem retikoloendotelial. Volume dekstran melebihi 1 L

dapat mengganggu hemostasis. Disfungsi trombosit dan penurunan fibrinogen dan

faktor VIII merupakan alasan timbulnya perdarahan yang meningkat. Reaksi

alergi terhadap dekstran telah dilaporkan, tetapi kekerapan reaksi anafilaktoid

mungkin kurang dari 0,02 %. Dekstran 40 hendaknya jangan dipakai pada syok

20
hipovolemik karena dapat menyumbat tubulus ginjal dan mengakibatkan gagal

ginjal akut.

2.9.5 Gelatin

Gelatin dibuat dengan jalan hidrolisis kolagen sapi. Preparat yang umum

dipasaran adalah gelatin yang mengalami suksinasi seperti Gelofusin dengan

pelarut NaCL isotonik. Gelatin dengan ikatan urea-poligelin ( Haemaccel ) dengan

pelarut NaCL isotonik dengan Kalium 5,1 mmol/l dan Ca 6,25 mmol/ L.

Pemberian gelatin agaknya lebih sering menimbulkan reaksi alergik

daripada koloid yang lain. Berkisar dari kemerahan kulit dan pireksia sampai

anafilaksis yang mengancam nyawa. Reaksi-reaksi tersebut berkaitan dengan

pelepasan histamine yang mungkin sebagai akibat efek langsung gelatin pada sel

mast.

Gelatin tidak menarik air dari ruang ekstravaskular sehingga bukan

termasuk ekspander plasma seperti dekstran. Larutan gelatin terutama

diekskresikan lewat ginjal dalam urin, sementara itu gelatin dapat menghasilkan

diuresis yang bagus. Sebagian kecil dieliminasikan lewat usus. Karena gelatin

tidak berpengaruh pada sistem koagulasi, maka tidak ada pembatasan dosis.

Namun, bila terlalu banyak infus, pertimbangkan adanya efek dilusi. Gelatin dapat

diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal bahkan pada pasien yang

menjalani hemodialisis. Indikasi gelatin : Penggantian volume primer pada

hipovolemia, stabilisasi sirkulasi perioperatif. Sedangkan kontraindikasi adalah

infark miokard yang masih baru terjadi, gagal jantung kongestif dan syok

normovolemik. 8,17,18,19

21
2.9.6 Hydroxylethyl Starch (HES)

Senyawa kanji hidroksietil ( HES ) merupakan suatu kelompok koloid

sintetik polidisperse yang mempunyai glikogen secara struktural. Kurang dapat

diterima kanji hidroksi (HES ) untuk pengantian volume paling mungkin akibat

laporan-laporan adanya koagulasi abnormal yang menyertai subtitusi plasma ini.

Laporan laporan tentang HES yang memperlihatkan koagulasi darah yang

terganggu dan kecenderungan perdarahan yang meningkat sebagian besar

berdasarkan pemakaian preparat HES berat molekul tinggi ( HMW-HES ). Waktu

paruh dari 90% partikel HES adalah 17 hari. 8,17,18,19

Tabel 2.6 Perbandingan kristaloid dan koloid11


Kristaloid Koloid
Keunggulan 1. Lebih mudah dan murah 1. Ekspansi volume plasma
2. Komposisi serupa dengan tanpa ekspansi interstitial
plasma (Ringer 2. Ekspansi volume lebih
asetat/ringer laktat) besar
3. Bisa disimpan di suhu 3. Durasi lebih lama
kamar 4. Oksigenasi jaringan lebih
4. Bebas dari reaksi baik
anafilatik 5. Insiden edema paru
5. Komplikasi minimal dan/atau edema sistemik
lebih rendah
Kekurangan 1. Edema bisa mengurangi 1. Anafilaksis
ekspansibilitas dinding 2. Koagulopati
dada 3. Albumin bisa
2. Oksigenasi jaringan memperberat depresi
terganggu karena miokard pada pasien syok
bertambahnya jarak
kapiler dan sel
3. Memerlukan volume 4
kali lebih banyak

Seperti semua koloid lainnya, kanji hidroksietil juga berkaitan dengan

reaksi anafilaktoid yang ringan dengan kekerapan kira-kira 0,006 %. Indikasi

pemberian HES adalah :Terapi dan profilaksis defisiensi volume (hipovolemia)

dan syok (terapi penggantian volume) berkaitan dengan pembedahan (syok

22
hemoragik), cedera (syok traumatik), infeksi (syok septik), kombustio (syok

kombustio). Sedangkan kontra indikasi adalah : Gagal jantung kongestif berat,

Gagal ginjal (kreatinin serum >2 mg/dL dan >177 mikromol/L).Gangguan

koagulasi berat (kecuali kedaruratan yang mengancam nyawa). Dosis penggunaan

HES adalah 20 ml/kgBB/hari. 8,17,18,19

23
BAB 3

PENUTUP

Tubuh mengandung 60% air yang disebut juga cairan tubuh. Cairan tubuh

didalamnya terkandung nutrisi-nutrisi yang amat penting oeranannya dalam

metabolisme sel. Komponen cairan tubuh selain air, cairan tubuh mengandung

dua jenis zat yaitu elektrolit dan non elektrolit. Elektrolit merupakan zat yang

terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik. Elektrolit dibedakan

menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah kation dan anion

dalam larutan adalah selalu sama ( diukur dalam miliekuivalen). Non elektrolit

merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak terdisosiasi dalam cairan.

Proses pergerakan cairan tubuh antar kompartemen dapat berlangsung

secara osmosis dan difusi. Osmosis adalah bergeraknya molekul (zat terlarut)

melalui membran semi permeabel (permeabel selektif) dari larutan berkadar lebih

rendah menuju larutan berkadar lebih tinggi hingga kadarnya sama. Difusi adalah

proses bergeraknya molekul lewat pori-pori. Larutan akan bergerak dari larutan

konsentrasi tinggi ke arah larutan ke konsentrasi rendah. Pompa natrium kalium

merupakan suatu proses yang memompa ion natrium keluar melalui membran sel

dan pada saat bersamaan memompa ion kalium dari luar ke dalam.

Tatalaksana terapi ciran terdiri dari terapi cairan resusitasi, terapi cairan

resusitasi bertujuan untuk menggantikan kehilangan akut cairan tubuh atau

ekspansi cepat dari cairan intravaskuler untuk memperbaiki perfusi jaringan.

Terapi rumatan , bertujuan untuk memelihara keseimbangan cairan tubuh dan

nutrisi. Terapi cairan intravena, adalah pemberian sejumlah cairan kedalam tubuh ,

24
melalui sebuah jarum, kedalam pembuluh vena untuk menggantikan kehilangan

cairan atau zat-zat makanan dari tubuh. Jenis- jenis cairan yaitu cairan kristaloid

dan cairan koloid. Cairan koloid dibagi menjadi koloid alami dan koloid sintesis

(Dextran, Hydroxylethyl Starch, gelatin).

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Rambert GI. Gangguan Keseimbangan Air dan Natrium serta Pemeriksaan


Osmolalitas. Jurnal Biomedik. 2014; 6(3): S46-54.
2. Juffrie M. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit pada Penyakit
Saluran Cerna. Sari Pediatri. 2004; 6(1): 52-59.
3. Yaswir R, Ferawati I. Fisiologi dan Gangguan Keseimbangan Natrium,
Kalium dan Klorida serta Pemeriksaan Labortaorium. Jurnal Kesehatan
Andalas. 2012; 1(2): 80-85.
4. Siregar P. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit. Dalam Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 1, Edisi 5. Jakarta: InternaPublishing. 2009; hal
175-89.
5. Sherwood L. Keseimbangan Cairan dan Asam-Basa. Dalam Fisiologi
Manusia: Dari Sel ke Sistem, Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC. 2009; hal 605-40.
6. Graber MA. Terapi Cairan, Elektrolit, dan Metabolik, Edisi 2. Jakarta:
Farmedia. 2003.
7. Evers AS, Maze M. Anesthetic Pharmacology: Fluid Management and
Transfusion, 3rd edition. New York: Lange Medical Boos/McGraw-Hill.
2002.
8. Latief AS, dkk. Petunjuk Praktis Anestesiologi: Terapi Cairan pada
Pembedahan, Edisi 2. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, FKUI. 2002.
9. Silverthorn, D.U. (2004). Human physiology: An integrated approach. 3rd ed.
San Francisco: Pearson Education.
10. Sherwood, Lauralee. (2004). Human physiology: From cells to systems. 5th ed.
California: Brooks/ Cole-Thomson Learning, Inc.
11. Pinnock, Colin, et al. Fundamentals of Anaaesthesia. GMM. 1999. 

12. Morgan, GE, et al. Clinical Aneshesiology : Fluid Management and
Transfusion. Third Edition. New York : Lange Medical Books/McGraw-Hill.
2002. 

13. Mangku G, Senapathi TGA. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi Indeks;
Jakarta 2010: Hal 292.
14. Said. A.Latief,et al. Petunjuk Praktis Anestesiologi Edisi ke2. Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI.2009.hal 139
15. Aryani, R. dkk., 2009. Prosedur Kebutuhan Cairan dan Elektrolit. Dalam :
Aryani, R. dkk. ed. Prosedur Klinik Keperawatan Pada Mata Ajar
Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : C.V. Trans Info Media, 111-138.
16. Aitkenhead, Alan R, et al. Textbook of Anaethesia. Fifth Edition. California :
Churchill Livingstone. 2007.

26
17. Leksana E, Terapi cairan dan elektrolit. Smf/bagian anestesi dan terapi
intensif FK Undip: Semarang; 2004: 1-60.
18. Barash PG, Cullen BF, Stoelting RK. Handbook of clinical anesthesia.5th ed.
Philadelphia: Lippincot williams and wilkins; 2006: 74-97.
19. Sunatrio S. Resusitasi cairan. Jakarta: Media aesculapius; 2000:1-58

27