Anda di halaman 1dari 27

KOTA LAMA DAN KOTA

BARU DI INDONESIA
(Kota Bangli dan Kota Baru Parahyangan)

Andra Saras Putri

20307004/3TB01

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN
PERENCANAAN
TEKNIK ARSITEKTUR
Kabupaten Bangli
Kabupaten Bangli

Lambang Kabupaten Bangli

Peta lokasi Kabupaten Bangli


Koordinat : 8°8'-8°31'87" LS; 115' 13' 48" - 115°27'24" BT
Motto Bhukti Mukti Bhakti
Semboyan '
Slogan pariwisata '
Julukan
Demonim '
Provinsi Bali
Ibu kota Bangli
Luas 520,81 km²
Penduduk
· Jumlah 213.808 jiwa (2008)[1]
· Kepadatan 411 jiwa/km²
Pembagian
administratif
· Kecamatan 4
· Desa/kelurahan
Dasar hukum
Tanggal
Hari jadi {{{hari jadi}}}
Bupati I Nengah Arnawa, S.Sos.,
M.M.
Kode area telepon 0366
APBD {{{apbd}}}
DAU
Suku bangsa {{{suku bangsa}}}
Bahasa {{{bahasa}}}
Agama {{{agama}}}
Flora resmi {{{flora}}}
Fauna resmi {{{fauna}}}
Zona waktu {{{zona waktu}}}
Bandar udara {{{bandar udara}}}

Situs web resmi: http://www.banglikab.go.id/

Kabupaten Bangli adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Bali, Indonesia.
Obyek wisata di daerah ini antara lain adalah danau Kintamani. Ibu kotanya berada di
Bangli. Bangli berbatasan dengan Kabupaten Buleleng di sebelah utara, kabupaten
Klungkung dan Karangasem di timur, dan kabupaten Klungkung, Gianyar di selatan,
serta Badung dan Gianyar di sebelah barat.

Kabupaten Bangli terletak antara 1150 13’ 48” BT - 1150 27’ 24” BT dan 80 08’ 30” LS
- 80 31’ 27” LS, dengan luas wilayah 520,81 Km2 (52.081,00 Ha)

Mempunyai kedudukan di tengah-tengah Pulau Bali, yang pada bagian selatan daerah
tersebut merupakan daerah dataran rendah, sedangkan pada bagian utaranya adalah
merupakan daerah pegunungan.

Penduduk Kabupaten Bangli ± 184.144 jiwa yang terdiri dari penduduk perkotaan 18.377
jiwa dan perdesaan adalah 165.767 jiwa.

Curah hujan rata-rata untuk Kabupaten Bangli adalah 2.024 mm / th.

Geologi daerah tersebut terdiri dari Tufa dan Endapan Lahar Volkanik Buyan - Bratan
dan Batur yang berumur Kwarter Atas, sedangkan batuan yang sama dengan umur
Kwarter Bawah berada disekeliling Gunung Batur termasuk Gunung Abang yang
merupakan batuan dari Gunung Api Buyan – Bratan Purba serta Batur Purba. Batuan
yang berumur Miosen Bawah sampai dengan Atas penyebarannya diperkirakan sampai
ke daerah Bali Utara (Kecamatan Kubu) dimana batuannya terdiri dari Breksi gunung
api, lava, tufa dengan sisipan batu gamping yang termasuk kedalam Formasi Ulakan
(Formasi tertua di Bali).

Batuan yang lebih muda terdapat di daerah Danau Batur, yaitu yang merupakan batuan
volkanik Gunung Batur (batuan andesit, lahar dan pasir) yang terletak di Desa Batur dan
Songan.

Tidak ada pengembangan/pemanfaatan air bawah tanah untuk daerah tersebut, mengingat
lokasi tersebut sangat tinggi >1.000 meter di atas muka laut. Sumber air yang ada untuk
keperluan di daerah tersebut dari sumber mata air dan sebagian yang berada di sekitar
danau Batur memanfaatkan air danau tersebut. Sedangkan kegiatan penambangan berada
di Desa Songan dengan jenis material : batukali, pasir, sirtu, koral dan gravel.

Pembagian administratif
Bangli mempunyai 4 kecamatan, 4 kelurahan dan 56 desa. Kecamatan-kecamatan
tersebut adalah:

1. Kintamani
2. Susut
3. Tembuku
4. Bangli

VISI, MISI DAN LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN SISTIM


INFORMASI KESEHATAN DAERAH (SIKDA) DINAS KESEHATAN
KABUPATEN BANGLI PROVINSI BALI

VISI:

INFORMASI KESEHATAN YANG AKURAT SEBAGAI PEMICU ANDAL


MENUJU BANGLI SEHAT.

MISI:

1. Mengembangkan pengelolaan data yang meliputi pengumpulan, penyimpanan,


pengolahan dan analisa data.
2. Mengembangkan pengemasan data dan informasi dalam bentuk Bank Data, Profil
Kesehatan, dan kemasan-kemasan informasi khusus.
3. Mengembangkan jaringan kerjasama (kemitraan) dalam pengelolaan data dan
informasi kesehatan.
4. Mengembangkan pendayagunaan data dan informasi kesehatan.

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN SIKDA DI DINAS KESEHATAN


KABUPATEN BANGLI

1. Identifikasi dan telaah manajemen kesehatan

Langkah ini terdiri dari dua kegiatan yaitu identifikasi petugas dan pimpinan unit
kesehatan terkait dengan kegiatan prioritas analisis fungsi-fungsi manajemen
(manajemen pasien/klien, manajemen unit dan manajemen sistim kesehatan)
1. Identifikasi kebutuhan informasi dan penetapan indikator

Mengidentifikasi kebutuhan informasi sesuai dengan fungsi manajemen dan


menerjemahkan setiap informasi ke dalam bentuk indikatornya.

1. Penetapan kebutuhan data dan pencatatan data serta pelaporannya


2. Penetapan tenaga pengelola SIK
3. Pengadaan perangkat keras dan perangkat lunak komputer
4. Pengumpulan data dasar klien puskesmas
5. Pelatihan tenaga pengelola SIK
6. Pembuatan pangkalan data
7. Penetapan dan pemberlakuan perda tentang SIK

Perda yang diperlukan mencakup aturan untuk manajemen SIK secara


menyeluruh, standar untuk pengumpulan data, aturan dalam pengiriman dan
pengolahan data serta pelaporan, aturan berkaitan dengan kerahasiaan dan privasi,
aturan berkaitan dengan pelatihan, aturan tentang pengadaan dan distribusi
peralatan dan bahan, aturan berkaitan dengan jaminan mutu

KOMITMEN BPS KABUPATEN BANGLI

Kabupaten Bangli adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Bali, Indonesia.
Obyek wisata di daerah ini antara lain adalah Danau Batur di Kintamani, Ibu kotanya
berada di Bangli. Bangli berbatasan dengan Kabupeten Buleleng di sebelah utara,
Kabupaten Klungkung dan Karangasem di timur, dan Kabupaten Klungkung, Gianyar di
selatan, serta Badung dan Gianyar di sebelah barat.

Sebagai suatu Daerah Otonom, Kabupaten Bangli senantiasa dan secara berkelanjutan
mengadakan suatu perubahan melalui proses pembangunan. Pembangunan yang
dilaksanakan bertujuan tiada lain adalah untuk mempertinggi derajat kesejahtraan
masyarakat Bangli. Dalam proses ini, Peran BPS sebagai instansi Penyedia dan penghasil
data sangatlah dibutuhkan.

Sebagaimana telah dituangkan di dalam UU No. 16/1997 tentang Statistik dan Peraturan
Pemerintah (PP) No. 51/1999 tentang Penyelenggaraan Statistik bahwa Pemerintah
berkewajiban menyediakan statistik dasar, maka Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai
lembaga penyedia data berfungsi sebagai pelaksana dan penyedia statistik dasar dan
statistik sektoral bagi pemerintah, akademisi dan masyarakat luas guna memenuhi tuntutan
tersebut. Tugas yang diemban BPS menjadi semakin berat mengingat pentingnya data bagi
perencanaan pembangunan baik pada tingkat nasional maupun daerah.
Perencanaan pembangunan akan salah arah jika data yang digunakan kurang berkualitas.
Selain untuk perencanaan, data juga sangat diperlukan sebagai bahan evaluasi
penyelenggaraan berbagai kegiatan pembangunan di berbagai sektor.

Dalam perkembangannya, BPS dituntut untuk senantiasa meningkatkan kualitas maupun


kuantitas data yang dihasilkan. Peningkatan kualitas maupun kuantitas data tersebut
digunakan dalam rangka mewujudkan sistem statistik yang handal, efektif dan efisien guna
mendukung pelaksanaan pembangunan.

Selain sebagai penyedia statistik, BPS juga mempunyai tugas melakukan pembinaan dan
koordinasi terhadap seluruh penyelenggaraan kegiatan statistik, termasuk lembaga
pemerintah di lingkungan kerja daerah bersangkutan. Hal ini perlu dilaksanakan agar
berbagai jenis kegiatan survei, baik untuk kebutuhan statistik dasar, sektoral atau khusus,
dilaksanakan dengan pemahaman konsep dan definisi yang baku .

Bagi BPS di daerah, peran yang diemban juga semakin krusial dengan diterapkannya
otonomi daerah. Penerapan otonomi daerah telah memberikan wewenang yang lebih luas
bagi masing-masing daerah untuk melaksanakan pembangunannya. Perencanaan
pembangunan daerah tentunya menuntut ketersediaan data daerah yang berkualitas
(lengkap, akurat, relevan, mutakhir, berkesinambungan, tepat waktu dan beragam),
sehingga hal ini merupakan tantangan bagi instansi BPS di daerah agar senantiasa
meningkatkan kualitas dan ragam data yang dihasilkan baik berupa publikasi maupun
berita resmi statistik ataupun bentuk lainnya yang dapat dijadikan acuan dalam
perencanaan tersebut.

BPS Kabupaten Bangli akan terus berupaya untuk dapat memenuhi tuntutan tersebut.

Kawasan Pempatan Agung Kota Bangli adalah kawasan pusat kota tertua di Bali, dengan
perkembangan yang masih lamban dari daerah-daerah lainnya. Pada tanggal 10 Mei 1204
merupakan awal pembangunan Kota Bangli sejak ditinggalkan oleh penduduknya akibat
wabah penyakit gerubug. sehingga keragaman berbagai bentuk bangunan dan
pemanfaatan suatu ruang telah banyak dipengaruhi budaya-budaya luar. Upaya
pelestarian kawasan Pempatan Agung telah dituangkan di dalam Rencana Detail Tata
Ruang Kawasan Ibukota Kabupaten Bangli tahun 2005-2015, namun belum ada kejelasan
dalam bentuk spasial. Dalam upaya pelestarian kawasan pusat kota sebagai pusat
orientasi kawasan kota, perlu dilakukan identifikasi penyimpangan terhadap prinsip-
prinsip ruang tradisional Bali dan bagaimana pola tatanan kawasan pusat kota
bardasarkan pada konsep “Catus Patha” dengan didasarkan pada falsafah ajaran Agama
Hindu.

CATUS PATHA

Pola penempatan Catus Patha Perumahan Tradisional Bali


KETERANGAN : a = LAMAN/BENCINGAH b = POHON BERINGIN c = PURA MELANTING d = HALAMAN
BALE BANJAR 1 = PURI 2 = RUANG TERBUKA 3 = PASAR 4 = BALE BANJAR

Pempatan agung atau catuspatha merupakan simbol pusat dunia. Letak puri
sebagai pusat kekuasan ditentukan menurut arah mata angin dari pusat catuspatha ini,
bukan didasarkan kepada kiblat gunung-laut (kaja-kelod) sebagai arah orientasi utama-
nista. Nilai-nilai masing-masing sudut untuk perletakan puri menurut naskah ini adalah:
“Ersanya utamaning negara maka linggih ikang rat. Genyan pawetuan ikang gni rurub apan
lebur ikang rat, tan wenang kangge. Neriti utama apan wredhi ikang rat negara. Wayabya
dahat kadurmanggalan apan gni astra payoganya”
Artinya:
“Timur laut tempat yang utama untuk puri. Tenggara perwujudan dari kobaran api yang
menyebabkan hancurnya kerajaan, tidak baik untuk tempat puri. Barat daya, utama, karena
mengakibatkan rakyat di dalam negara hidup sejahtera, makmur, berkembang, dan mewah.
Barat laut berakibat buruk karena merupakan tempat gni astra “.

Dalam Lontar Batur Kelawasan disebutkan bahwa posisi puri di timur laut adalah
utama, di tenggara adalah buruk karena negara akan hancur (gni rurub), di barat daya
adalah baik karena raja akan dihormati (kweh bakti), dan di barat laut adalah baik karena
raja akan bersifat sosial (dana). Dari dua sumber di atas maka dapat disimpulkan bahwa
letak puri ditentukan dari pusat catuspatha, di timur laut dan di barat daya mutlak baik, di
tenggara mutlak buruk, dan di barat laut ada baik dan ada buruknya.
Gambar 2. Makna sumbu dan alternatif tata letak puri dalam catuspatha (Lontar Eka
Pretamaning Brahmana Sakti Bujanggadan dan Batur Kelawasan)

Ruang yang terbentuk oleh pertemuan empat ruas jalan


pembentuk catuspatha (raksa bhuana) difungsikan untuk kegiatan-kegiatan
upacara tawur, memutar usungan pada upacara ngaben, menjemput batara (mendak siwi),
nebusin, dan kadang-kadang untuk melatih dan meningkatkan kemampuan ilmu hitam.
Ruang ini juga diperankan sebagai natar (halaman) dan lebih desa/kota. Pembangunan
catuspatha melalui suatu proses pensakralan yaitu dengan bhumi suda dan pemlaspasan
yang disertai dengan penguburan sarana pedagingan (pemendeman pedaginan), sehingga
terwujud suatu energi magis wilayah (negara). Di bagian raksa bhuana ini diyakini
berstana (melinggih) roh/kekuatan alam dengan berbagai sebutan seperti Sang Bhuta
Prajapati (Kanda Pat), Sanghyang Catur Bhuana (Tutur Gong Besi), dan Sanghyang Adi
Kala (Tattwa Japakala), yang kesemuanya merupakan wujud kekuatan ciptaan Siwa
Mahakala.

Catuspatha memiliki bentuk dasar palang (+) dalam istilah Bali disebut juga
dengan tampak dara yang mitologinya terdapat dalam Lontar Catur Bumi. Orang-orang
Yunani Kuno menyebut tampak dara ini dengan istilah gammadion. Tampak dara ini
mengilhami koordinat Cartesius dalam matematika dan menjadi dasar swastika. Bila
swastika merupakan simbol perputaran alam semesta, maka tampak dara (sumbu salib)
merupakan simbul alam semesta. Tampak dara ini juga digunakan sebagai penangkal
untuk menghindari malapetaka (Donder,2001:15-16).
NATAH KOTA

1. Bentuk Natah Kota


Natah dalam kota-kota tradisional pada masa kerajaan di Bali berada pada suatu simpang
empat di tengah-tengah kota yang merupakan tempat kedudukan fasilitas utama kota seperti puri
sebagi fasilitas pusat kekuasaan pemerintahan, pasar, bencingah puri dengan fasilitas bale
wantilan, dan terdapat pula ruang terbuka hijau kota (Gambar 3). Simpang empat dengan kondisi
seperti di atas lazim disebut catuspatha. Sedangkan kata ‘catuspatha’ berasal dari bahasa
sanskerta yang berarti empat jalan atau simpang empat. Natah kota seperti ini belum sah sebagai
pusat kerajaan sebelum diresmikan melalui suatu proses ritual pemelaspasan atau pemasupatian.
Dalam perkembangan zaman, sejak masa kolonial Belanda, pusat catuspatha yang pada
masa kerajaan merupakan ruang kosong sebagai natah kota mulai dibanguni dengan elemen
estetika kota ataupun tanda pengenal lingkungan (Gambar 4). Misalnya, di catus patha kota
Denpasar dibangun lonceng, dan kemudian pada masa republik diubah menjadi patung
caturmuka yang dirasakan lebih berbudaya Bali. Perlakuan catuspatha di Denpasar ini
nampaknya menjadi barometer kemajuan, sehingga beberapa catuspatha lainnya di Bali juga
dibanguni patung seperti di Semarapura, Bangli, dan Mengwi. Patung di Mengwi terakhir sudah
dibongkar kembali. Dalam budaya Barat natah suatu kota lazim berupa lapangan atau alun-alun.
Pembangunan alun-alun dan dibangunnya patung di pusat catuspatha memperkuat
kecenderungan berpindahnya fungsi catuspatha ke alun-alun (Gambar 5).

2. Fungsi Natah Kota


Natah kota tradisional pada masa kerajaan dalam catuspatha difungsikan sebagai
halaman untuk penyelenggaraan upacara tawur yang secara periodik dilakukan setiap tahun, pada
Hari Tilem Kesanga. Secara insidentil, catuspatha difungsikan sebagai tempat melakukan
kegiatan ritual seperti ngulapin, nebusin, ngelawang, dan lain-lain. Dalam prosesi upacara
ngaben secara tradisi dilakukan pemutaran bangunan usungan jenazah (bade) di pusat catuspatha
ini. Kegiatan-kegiatan seperti di atas dapat dilakukan dengan baik bila pusat catuspatha masih
dalam kondisi kosong. Setelah ada bangunan di tengah catuspatha mulai ada Puri

Gambar 3. Catuspatha kosong sebagai natah kota pada masa kerajaan


Gambar 4. Catuspatha dengan elemen estetika sebagai natah kota sejak masa kolonial

Gambar 5. Alun-alun sebagai natah kota .

gangguan fungsi karena sarana upacara yang semestinya berada di pusat catuspataha tidak lagi
dapat ditempatkan di pusat. Bahkan, kegiatan tawur ada yang berpindah ke tempat lain, misalnya
ke alun-alun.

3. Makna Natah Kota


Simpang empat menyiratkan suatu tapak dara ( + ). Suatu tapak dara menyimbolkan
alam semesta, jagat raya atau jagat dan juga simbol penangkal kejahatan agar selamat (Donder,
2001: 15-16). Di lain pihak, suatu simpang empat juga merupakan perpotongan dua sumbu:
utara–selatan dan timur – barat. Perpotongan sumbu merupakan titik ‘nol’ atau windu yang
melambangkan kekosongan. Kekosongan atau windu juga menyimbolkan alam semesta. Dalam
lontar Eka Pratamaning Brahmana Sakti Bujangga disebutkan bahwa sumbu utara–selatan
merupakan sumbu nilai dan sumbu timur–barat merupakan sumbu kehidupan dan kematian atau
kemajuan dan kemunduran. Dari pusat catuspataha ditentukan letak pusat kekuasaan/puri. Di
timur laut bernilai utama, sedangkan di barat daya bernilai werdi atau sejahtera. Karena nilai ini,
puri umumnya mengambil posisi di timur laut atau di barat daya, sedangkan perletakan di
tenggara dan barat laut masing-masing bernilai gni murub dan gni astra yang beresiko kepanasan
dan kehancuran.
Pusat Kerajaan Berkembang menjadi Pusat Kabupaten Bangli

Identifikasi faktor-faktor penyimpangan yang terjadi di kawasan Pempatan Agung Kota


Bangli dilakukan secara deskriptif dengan meninjau pola perkembangan morphologi
kota. Pemanfaatan ruang di kawasan penelitian dilakukan sesuai potensi dan peluang
dalam mengembalikan karakter Pempatan Agung sesuai konsep Catus Patha dan juga
berdasarkan konsepsi Desa Kala Patra. Pemanfaatan ruang yang selaras dengan nilai-nilai
tradisional Bali sebagai wujud dalam meningkatkan vitalitas kawasan Pempatan Agung,
dengan pemanfaatan ruang dalam bentuk sistem blok diharapkan bisa menghadirkan
suasana ruang yang mempunyai karakter khas sebagai cermin jati diri dan identitas
penguninya serta memudahkan suatu pengendalian peruntukan lahan di kawasan
Pempatan Agung Kota Bangli. Pelestarian kawasan Pempatan Agung Kota Bangli dalam
hal ini, menekankan pada bentuk strategi pelestarian dengan tetap mengacu pada konsep
Catus Patha dan konsepsi Desa Kala Patra. Dimana hasil akhirnya tetap mempertahankan
makna dan karakter ruang di Pempatan Agung yang menjiwai sebagai pusat orientasi
kawasan kota berdasarkan nilai-nilai tradisional Bali, dengan meningkatkan aktivitas
kegiatan sosial budaya melalui kerjasama masyarakat setempat dengan pemerintah
daerah serta menigkatkan sistem kekerabatan yang telah ada di masing-masing
banjar/desa. Sedangkan untuk pelestarian Pempatan Agung yaitu pada ruang utama kaja
kangin tetap dipertahankan karakternya yang bercitrakan sebagai kantor pemerintahan,
ruang utama kaja kauh sebagai Wantilan dengan aktivitas sosial budayanya, ruang utama
kelod kauh di lakukan rekonstruksi sebagai lapangan untuk mendukung aktivitas Puri dan
Wantilan dan ruang utama kelod kangin sebagai ruang luar berupa taman kota sebagai
salah satu landmark kawasan kota dengan adanya Bale Kulkul dan Patung I Dewa Ayu
Denbencingah. Untuk zona di luar 4 (empat) ruang utama diupayakan karakternya
bercitrakan sebagai zona residential dan pasar kota ditingkatkan intensitasnya sebagai
bagian dari pusat perdagangan dari pagi hingga malam hari, dengan tetap melestarikan
fungsi ruang-ruang tradisional sebagai bagian dari pusat orientasi kawasan Kota Bangli.

Peraturan Daerah Kabupaten Bangli Tahun 2008

Jumat, 22 Januari 2010 14:32


NOMOR
NO. PERIHAL/TENTANG PERATURAN LEMBARAN DAERAH
DAERAH
NOMOR
NO. PERIHAL/TENTANG PERATURAN LEMBARAN DAERAH
DAERAH
Pedoman Penyusunan
Organisasi dan Tata
2 2 Tahun 2008 LD Nomor 2 Tahun 2008
Kerja Pemerintahan
Desa.
3 Kedudukan Keuangan 3 Tahun 2008 LD Nomor 3 Tahun 2008
Perbekel dan Perangkat
Desa.
4 Sumber Pendapatan 4 Tahun 2008 LD Nomor 4 Tahun 2008
Desa.
5 Pelaksanaan Kerjasama 5 Tahun 2008 LD Nomor 5 Tahun 2008
Antar Desa dan
Kerjasama Desa Dengan
Pihak Ketiga.
6 Lembaga 6 Tahun 2008 LD Nomor 6 Tahun 2008
Kemasyarakatan Di
Desa.
7 Pembentukan Desa Selat 7 Tahun 2008 LD Nomor 7 Tahun 2008
dan Desa Pengiyangan di
Kecamatan Susut, Serta
Desa Landih di
Kecamatan Bangli
Kabupaten Bangli.
8 Urusan Pemerintahan 8 Tahun 2008 LD Nomor 8 Tahun 2008
Yang Menjadi
Kewenangan
Pemerintahan Kabupaten
Bangli.
9 Pembentukan Susunan 9 Tahun 2008 LD Nomor 9Tahun 2008
Organisasi dan Tata
Kerja Sekretariat Daerah
dan Sekretariat Dewan
Perwakilan Rakyat
Daerah Kabupaten
Bangli.
10 Pembentukan Susunan 10 Tahun 2008 LD Nomor 10 Tahun 2008
Organisasi dan Tata
Kerja Dinas Daerah
Kabupaten Bangli.
Kawasan Danau Batur, Kintamani, Bangli, Bali

Danau dan Gunung Batur terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.


Hamparan pemandangan Danau yang dikelilingi pegunungan vulkanik yang masih aktif
membuat siapa pun pasti berdecak kagum. Kawasan ini berjarak sekitar 40 kilometer
sebelah utara Ubud, Gianyar; sekitar 30 km sebelah utara Bangli, 60 km sebelah timur
laut Denpasar, dan sekitar 60 km sebelah timur Singaraja.
Danau Batur dulunya adalah sebuah gunung api yang meletus hebat ribuan tahun lau,
sehingga membentuk lembah kaldera luas dan kemudian terisi air. Fenomena alam ini
serupa dengan apa yang terjadi di Danau Toba di Sumatra, Gunung Bromo di Jawa dan
Gunung Tambora di Sumbawa. Di samping barat danau itu, tumbuhlah gunung baru yaitu
Gunung Batur (1717 m dpl) yang bersama Gunung Agung (3142 m dpl) adalah gunung
yang masih aktif di Bali sampai sekarang.
Pelipur Hati dari Bangli

Desa Adat Penglipuran di Bangli, Bali, merupakan satu kawasan pedesaan yang memiliki
tatanan spesifik dari struktur desa tradisional. Walhasil, suasananya begitu asri. Hal itu
tidak terlepas dari budaya masyarakatnya secara turun-temurun. Yang jelas, desa yang
berada pada jalur wisata Kintamani, sejauh 5 kilometer dari pusat kota Bangli ini salah
satu kawasan wisata unik di Bali.

Keasrian desa adat tersebut sudah kita rasakan begitu memasuki kawasan pradesa yang
memaparkan kehijauan rerumputan dan deretan bambu yang jadi pagar desa. Itu adalah
area catus pata atau area tapal batas untuk masuk ke Penglipuran. Adapun daerah
penerimanya ditandai dengan Balai Wantilan, Balai Banjar adat, dan ruang pertamanan
terbuka. Di sana terdapat daerah parkir dan fasilitas KM/WC bagi pengunjung. Area
berikutnya adalah areal tatanan pola desa yang diawali dengan gradasi ke fisik desa
secara liniar membujur ke arah utara dan selatan.

Ya, memasuki desa Pengelipuran laksana memasuki sebuah taman yang dibentuk dengan
arsitektur mahasempurna. Jejeran rumah di sepanjang jalan berdiri rapi dengan pintu
gerbang yang hampir seragam di setiap rumah. Rumah-rumah itu dibelah oleh sebuah
jalan utama desa yang ditutup oleh bebatuan dan ditamani rerumputan di kiri kanannya.
Area pemukiman serta jalan utama desanya merupakan kawasan bebas kendaraan
terutama roda empat.

Pada sepanjang jalan setapak itu terdapat ratusan rumah, berderet berimpitan. Hampir
semua bangunan terbuat dari batu bata merah atau anyaman bambu. Pintu masuk gerbang
rumah penduduk itu sempit, hanya berukuran satu orang dewasa, dan bagian atas
pintunya menyatu dengan atap gerbang yang terbuat dari bambu.
Keheningan menyergap ketika menelusuri jalan setapak dari bebatuan yang bercampur
dengan kerikil itu. Saya sengaja memisahkan diri dari rombongan untuk memotreti semua
hal yang ada di situ. Beberapa kali saya berkesempatan keluar masuk rumah penduduk.
Itu bukan hal sulit, sebab warga Penglipuran sangat ramah menyambut pewisata dan
memberi izin untuk menjelajahi rumah mereka.
Penglipuran memiliki dua pengertian, yaitu pangeling yang kata dasarnya ”eling” atau
'mengingat'. Sementara, pura artinya 'tanah leluhur'. Jadi penglipuran artinya 'mengingat
tanah leluhur'. Kata itu juga bisa berarti ”penghibur” yang berkonteks makna memberikan
petunjuk bahwa ada hubungan sangat erat antara tugas dan tanggung jawab masyarakat
dalam menjalankan dharma agama.

Luas Desa Adat Penglipuran mencapai 112 hektare, terdiri atas 37 hektare hutan bambu
yang dimanfaatkan masyarakat setempat untuk kerajinan tangan dengan sistem tebang
pilih, ladang seluas 49 hektare, dan untuk perumahan penduduk seluas 12 hektare.
Berdasarkan pola Desa Pakraman, Pengelipuran termasuk Kelurahan Kubu.

PERLU diketahui, Pengelipuran adalah salah satu desa tradisional atau desa tua di Bali
atau sering disebut Bali Aga atau Bali Mula. Tradisi begitu kukuh dipegang oleh
masyarakatnya, terutama yang berkaitan dengan penataan pekarangan rumah. Di tengah
gempuran arus modernisasi, keteguhan masyarakat Pengelipuran tampak dari rapinya
penataan kawasan hunian masyarakat setempat.

Penataan rumah dan pekarangan sangat ketat dan mengikuti ketentuan Asta Kosala-
Kosali, Asta Bumi, Sikut Karang, dan berbagai aturan yang tertulis maupun yang tidak
tertulis lainnya. Maka, setiap pekarangan dan rumah di desa itu selalu mempunyai pola
atau tatanan yang sama. Dan hal itu merupakan keunggulan Penglipuran sebagai desa
adat.

Di sebelah utara desa terdapat Pura Penataran dan Pura Puseh yang unik dan spesifik
karena jalan di sepanjang desa hanya digunakan untuk pejalan kaki, dan pada kanan
kirinya dilengkapi atribut desa adat seperti tembok penyengker, angkul-angkul, dan
telajakan.

Yang jelas, Penglipuran bukan desa adat sembarangan karena merupakan desa adat
(pakraman) percontohan di Bali. Keunikannya terletak pada tata ruang, bangunan dan
budaya yang sedikit berbeda dengan desa adat lainnya. Keistimewaan lainnya adalah
kehidupan masyarakatnya yang harmonis. Dan paling unik, di desa itu masyarakatnya tak
dibagi-bagi ke dalam kasta, salah satu ciri sistem kemasyarakatan Bali Aga.

Keseragaman wajah desa, selain pada bentuk, juga bahan bangunannya berupa tanah
untuk tembok penyengker dan angkul-angkul serta atap dari bambu yang dibelah untuk
seluruh bangunan desa. Penggunaan bambu baik untuk atap, dinding maupun lain-lain
kebutuhan merupakan suatu keharusan untuk digunakan karena Desa Penglipuran
dikelilingi oleh hutan bambu yang termasuk teritori desa tersebut.

Di tempat tersebut, wilayah permukiman penduduk terbagi menjadi dua lajur: barat dan
timur. Adapun bagian selatan desa merupakan nista mandala atau bagian paling rendah
yang dipakai untuk setra (pemakaman).
Tata ruang seperti itu juga diterapkan dalam setiap rumah penduduk. Setiap memiliki
angkul-angkul atau pintu gerbang yang juga berfungsi sebagai bangunan penjaga pintu
rumah depan. Saat hari suci, dilakukan sesajen di tempat ini. Tak heran jika semua
bangunan di sana serupa. Bagian depan merupakan sanggah atau pamerajan sebagai
utama mandala yang digunakan anggota keluarga untuk bersembahyang. Di setiap
bangunan rumah terdapat ruang kosong yang dinamakan natah sebagai tempat berkumpul
anggota keluarga yang letaknya di bagian tengah (madya). Sementara bagian nista
mandala biasanya diisi dengan toilet, tempat jemuran, sarana atau kegiatan ekonomi
seperti warung, kandang ternak (babi), dan sebagainya.

Mengapa Penglipuran begitu asri? Itu tak terlepas dari konsepsi Hindu mengenai Desa
kalapatra. Kalapatra adalah keadaan yang disepadankan dengan tempat waktu. Walhasil,
terciptalah sebuah harmoni. Hal ini pula yang menarik bagi pewisata untuk berkunjung.
Harmoni itu juga didukung oleh aturan (awig-awig) yang diberlakukan kepada setiap
penduduk untuk menyapu dua kali sehari, pagi dan sore. Sejauh ini belum ada warga
yang melanggar aturan tersebut.

Hujan turun rintik-rintik saat saya hendak meninggalkan Desa Penglipuran. Suasananya
jadi semakin eksotis, sejuk, dan nyaman. Sebuah citra manis dan tak terlupakan dalam
ingatan setiap pewisata yang datang ke sana. Yakinlah, Penglipuran mampu
menghadirkan sesuatu untuk pelipur hati.

Masyarakat Antipoligami

SELAIN keseragaman bentuk bangunan dan pola desa linear yang membujur utara
selatan, Penglipuran yang berada pada ketinggian 700 meter dari permukaan laut itu juga
memiliki sejumlah aturan adat dan tradisi unik lainnya. Salah satunya adalah mengadu
jago, yang sebenarnya terdapat di beberapa tempat di Bali. Jago adalah simbol kejantanan
lelaki Bali.

Ketika sore menjelang, pada umumnya penduduk desa keluar rumah setelah selesai
melakukan aktivitas rutin mereka di ladang dan sawah. Di sepanjang jalan, kita bisa
melihat berjajar sangkar ayam. Jago sengaja dipanaskan untuk menjaga fisiknya agar kuat
ketika tajen (adu jago). Sayang, saya dan rombongan tak sempat menyaksikan tajen.

Selain adu jago, tradisi unik lain yang sampai sekarang masih dipelihara adalah
pantangan bagi kaum lelaki untuk beristri lebih dari satu atau berpoligami. Lelaki
Penglipuran diharuskan menerapkan hidup monogami. memiliki seorang istri. Pantangan
berpoligami ini diatur dalam awig-awig. Dalam bab perkawinan, lelaki Penglipuran tidak
diperbolehkan memiliki lebih dari seorang istri. Si pelanggar akan dikucilkan di sebuah
tempat yang diberi nama Karang Memadu. Karang artinya tempat dan memadu artinya
berpoligami. Jadi, Karang Memadu merupakan sebutan untuk tempat bagi orang yang
berpoligami. Karang Memadu terletak di ujung selatan desa yang berdekatan setra.

Lelaki Penglipuran yang berpoligami hanya boleh melintasi jalan-jalan tertentu di


wilayah desa. Mereka hanya diperbolehkan melewari jalan luar desa adat dan dilarang
untuk melewati jalan utama desa. Itu berarti, suami-istri tersebut memiliki ruang gerak
yang terbatas. Tidak hanya itu, pernikahan orang yang berpoligami itu juga tidak akan
dilegitimasi oleh desa. Upacara pernikahannya pun tidak dipimpin seorang Jero yang
merupakan pemimpin tertinggi dalam upacara adat dan agama. Selain itu, orang tersebut
juga dilarang bersembahyang di pura-pura yang ada di desa adat.

Desa adat penglipuran ini mempunyai 13 pura yang tersebar di seluruh desa. Pada sisi
tengah atau pusat desa adat, terdapat Pura Dalem Tampuagan, Pura Catus Pata, dan Pura
Ratu Pingit. Pada sisi utara desa terdapat Pura Penataran, Pura Puseh, Pura Rambut Sri
Sedana, Pura Dukuh, Pura Penaluan, dan Pura Empu Aji. Pada sisi selatan, terdapat Pura
Dalem, Pura Ratu Tungkup, Pura Dalem Pingit, dan Pura Mas Manik Malasem. Semua
pura itu terlarang bagi penduduk desa yang berpoligami. Mereka hanya diperbolehkan
bersembahyang di pura keluarga mereka sendiri.

Melihat hukuman yang menakutkan itu sampai sekarang tidak ada lelaki Penglipuran
yang berani berpoligami. Alhasil, Karang Memadu tetap tidak berpenghuni dan bahkan
oleh penduduk desa dianggap sebagai karang leteh (tempat yang hina dan kotor).

Kebetulan saat kami berkunjung ke desa adat penglipuran berlangsung upacara adat
pernikahan. Upacara ini dipimpin seorang jero dan rumah mempelai dihias dengan janur
kuning. Kami juga sempat diberi waktu untuk mengabadikan upacara adat pernikahan ini.
Itu momentum istimewa. Sebab, saat tepat untuk datang ke Penglipuran ini adalah saat
ada upacara adat. Kita bisa merasakan secara langsung bagaimana tradisi dijalankan
dengan kukuh.
Kota Baru Parahyangan

Kota Baru Parahyangan, sebagai kota satelit,


mempunyai keunikan desain yang berbeda dengan
Kota baru lainnya, yaitu dengan menghadirkan visi
dan spirit sebagai KOTA PENDIDIKAN, yang akan
memberikan kontribusi kepada seluruh penghuni dan
masyarakat Bandung. Spirit pendidikan ini akan
disebar pada keseluruhan proyek, baik secara
masterplan maupun segmental, yang juga
menempatkan institusi formal seperti sekolah dan universitas maupun informal, dengan
menghadirkan taman-taman bertema, pusat ilmu pengetahuan & teknologi. Pembangunan
Kota Mandiri akan mengakomodasikan beberapa fungsi yang berkaitan satu dengan yang
lainnya, seperti : HUNIAN, terdiri dari perumahan berkepadatan rendah, menengah dan
tinggi, condominium, apartemen, town house yang dilengkapi dengan fasilitas kota.
BISNIS, seperti Office Parks, Open Mall, hotel, ritel, dsb. REKREASI, seperti arena
rekreasi air, jogging track, 18 Holes golf course, hotel resor, pasar seni, dsb. SARANA
PENDIDIKAN, yang akan tersedia dari group bermain anak-anak (Play Group) hingga
universitas.

Fasilitas
Sundial

Sebuah Identitas Kota Baru Parahyangan sebagai Kota mandiri Berwawasan Pendidikan
dan sekaligus landmark Kota Bandung yang Muktahir.

Gedung ini berfungsi sebagai jam matahari baik vertikal maupun horisontal. Sundial tipe
ini adalah yang pertama dan terbesar di dunia. Dengan tinggi tidak kurang dari 20 meter,
sundial ini merefleksikan spirit ilmu pengetahuan sebagai dasar kemajuan manusia
didunia. Didukung oleh Menteri Riset dan Teknologi, gedung ini dijadikan sebagai
Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPA IPTEK) Jawa Barat, yang
didalamnya terdapat beragam permainan edukatif dan interaktif untuk berbagai lapisan
usia.

Jam Operasional Sundial :

 Selasa – Minggu 08.30 – 16.30 WIB


 (Hari Libur Nasional dan Libur Sekolah Tetap Buka )

Tutup :

 Senin
 Hari Natal & Tahun Baru
 Hari Pertama Idul Fitri

Al Irsyad Satya

Al-Irsyad Satya Islamic School bekerjasama dengan Al-Irsyad Singapura dengan


kurikulum yang telah disesuaikan untuk mencapai metodologi pembelajaran muktahir,
dimana seluruh pelajaran diberikan dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Al-
Irsyad Satya Islami School mempunyai komitmen untuk menciptakan sekolah masa
depan. Dengan melakukan investasi untuk memastikan bahwa sekolah ini dilengkapi
dengan segala keperluan informasi dan teknologi. Sebagai tambahan, setiap siswa akan
mempunyai penasihat akademik dari kalangan staf pengajar, yang akan membuat laporan
tentang kemajuan belajar dari siswa, dimana laporan tersebut akan disampaikan secara
berkala kepada orang tua siswa melalui pertemuan guru dengan orang tua siswa.
Kemajuan belajar setiap siswa akan dimonitor secara seksama untuk memperoleh
kepastian bahwa potensi pribadinya betul-betul sudah terwujud.

Rumah Sakit Cahya Kawaluyan


Sebuah sarana kesehatan muktahir dan bertaraf internasional dengan didukung tim
kedokteran dan tenaga medis profesional, akan memberikan jasa pelayanan kesehatan
dalam layanan prima.

Rumah Sakit Cahya Kawaluyan ini dikelola oleh; Perkumpulan "Perhimpunan Santo
Borromeus" dan merupakan salah satu fasilitas unggulan Kota Baru Parahyangan.

Mason Pine Hotel

Mason Pine Hotel & Resort dirancang dengan konsep family friendly yang
menjadikannya sebagai sarana yang tepat bagi rekreasi keluarga maupun aktivitas
lainnya.

Dengan fasilitas unggulan diantaranya ; Kolam Renang (Olympic Size), Tenis Indoor -
Outdoor, Badminton Indoor, Basket Ball, Fitness dan Aerobic, Spa dan Sauna, Wall
Climbing, Skateboard Track, restoran, cafe, kids center dan Convention Hall. Sungguh
merupakan tempat yang tepat untuk keluarga menikmati waktu santai dan juga menjamu
relasi bisnis

Bale Seni Barli


Bale Seni Barli Kota baru Parahyangan sebagai sebuah lembaga yang menitikberatkan
pada pengembangan seni dan budaya seperti Seni Lukis, Seni Patung, Seni Musik, Seni
Tari dan Seni Vokal, tidak hanya membina siswa (dewasa) untuk menjadi seorang
seniman profesional tetapi juga konsen pada peningkatan dan pelestarian kreativitas dan
aktivitas seni anak bahkan masyarakat umum dalam bentuk Program Kunjungan yang
menyediakan berbagai aktivitas seperti Lukis Kaca, Lukis Terakota, Lukis Kanvas,
Jumputan/ Batik dan Seni Musik (Angklung Interaktif)

Taman Bertema

Taman tematik disetiap tatar / cluster hunian merupakan implementasi dari pilar
pendidikan yang dikemas secara non formal. Desain dan obyek-obyek permainan yang
diaplikasikan didalamnya sarat dengan muatan edukasi yang interaktif sekaligus menjadi
area terbuka untuk bermain & interaksi penghuni tatar.

Bale Pare
Bale Pare merupakan pusat komersial yang mengkombinasikan suasana makan dengan
nuansa alam yang nyaman. Pengunjung dapat menikmati makan dalam suasana bertema
etnik budaya tradisional dialam terbuka dengan tetap menyediakan fasilitas modern.

Bale Pare sendiri memiliki 9 restoran dan 6 kafe yang menyajikan berbagai makanan dan
minuman, dilengkapi dengan sarana bermain anak.

Anda dan sekeluarga pun dapat menikmati acara musik dan tari di Plaza Utama yang
merupakan panggung ditengah udara terbuka dan suasana alami yang atraktif dan
dinamis, menghadirkan pengalaman baru yang menarik dan berbeda

Shuttle Bus

Kini semakin Mudah dan Nyaman ke Kota Baru Parahyangan dengan Layanan Shuttle
Bus "Kota Baru Parahyangan" yang telah beroperasi mulai tanggal 30 April 2005. Bis
umum yang dilengkapi dengan AC ini melayani trayek KBPa - Leuwi Panjang (PP) via
Tol Purbaleunyi dengan melewati jalur - jalur strategis di Kota Bandung. Setiap tatar
hunian & fasilitas di KBPa sudah dilengkapi bus-shelter yang merupakan tempat
pemberhentian KBPa Shuttle Bus.

Patung Panyawangan

Patung Panyawangan merupakan hasil karya dari Bale Seni Barli dipersembahkan khusus
untuk Kota Baru Parahyangan yang dilambangkan oleh keluarga petani yang memandang
jauh kedepan dan diartikan sebagai upaya kesinambungan untuk membangun dan
mewujudkan kota.

Cahaya Bangsa Classical School

Cahaya Bangsa Classical School kini telah resmi beroperasi di Kota Baru Parahyangan
terhitung sejak bulan Juli tahun 2006. Cahaya Bangsa Classical School merupakan
sekolah bertaraf international yang hadir melengkapi fasilitas Kota Mandiri Berwawasan
Pendidikan.

Bandung Alliance International School

BAIS, salah satu sekolah tertua di Indonesia, telah memperlengkapi para siswanya untuk
siap menghadapi tantangan selama lima puluh tahun. BAIS menyeediakan pendidikan
yang profesional dan berkualitas dalam mempersiapkan para siswa dalam menghadapi
tantangan abad 21 dan memberikan mereka kesempatan untuk memaksimalkan potensi
yang Tuhan berikan kepada mereka. BAIS bergerak sebagai sekolah nir-laba. BAIS
melayani komunitas internasional dan menyediakan pendidikan berkualitas dengan
didasari nilai dan etika luhur. Sekolah melayani para siswa sebagai suatu pribadi yang
utuh; karena itu, program yang dimiliki sekolah ini difokuskan pada pengayaan dan
pengembangan pribadi yaitu : intelektual, fisik, rohani, moral, kerohanian, dan sosial.

Amazing 4D Theater
Sebuah wahana baru di Bale Pare Kota Baru Parahyangan

Masjid Raya

Masjid tersebut dibangun di atas lahan seluas 1 Ha yang berdampingan dengan Al Irsyad
Satya Islamic School (affiliated to Al Irsyad Singapore) sebuah sekolah Islam
international yang ada di Kota Baru Parahyangan sebagai Kota Mandiri Berwawasan
Pendidikan. Luas bangunan masjid adalah 1700M2 dan selasar 800 M2 sehingga
diharapkan dapat menampung 1500 orang jamaah. Pembangunan masjid diperkirakan
rampung pada bulan Juli tahun 2010 yang akan datang. Arsitek masjid tersebut, Ridwan
kamil menyebutkan bahwa disain masjid tersebut kaya akan filosofi keagamaan. Ide
masjid tersebut terinspirasi oleh Ka'bah yang ada di Hasjidil Haram, dengan bentuk
kubus sederhana namun memiliki kesan atau impresi yang kuat dan mendalam. Satu hal
yang ingin diungkapkan oleh disain masjid tersebut adalah berusaha memanggil orang
untuk beribadah di dalamnya, terutama di saat maghrib hingga malam hari dengan
kalimat syahadat yang muncul pada dinding bagian luar masjid sebagai efek dari cahaya
lampu dari dalam masjid yang terpancar melalui lubang-lubang pada dinding masjid
tersebut. Bapak Sanusi Tanawi, Presiden Direktur Kota Baru Parahyangan, dalam
sambutannya mengatakan bahwa masjid tersebut dibangun untuk menampung kebutuhan
spiritual, pendidikan dan juga kebutuhan sosial warga khususnya umat Muslim Kota Baru
Parahyangan dan masyarakat sekitarnya. Dengan pembangunan masjid tersebut
diharapkan Kota Baru Parahnyangan juga dapat tumbuh, berkembang dan terus berusaha
memenuhi fungsinya sebagai Kota Mandiri Berwawasan Pendidikan.

Estetika Kaya Panorama di Kota Baru Parahyangan


Oleh: redaksi TREN

Suasana tatar pasundan yang khas dengan view gunung, lembah, danau serta
lingkungan yang nyaman dan asri, diselaraskan dengan spirit pendidikan di Kota Baru
Parahyangan.

Kota Baru Parahyangan merupakan proyek berskala kota pertama di area


Bandung Raya yang menampung segala fasilitas dan fungsi perkotaan. Didukung oleh
lokasi yang memiliki pemandangan yang mempesona dan lingkungan hijau yang asri,
Kota Baru Parahyangan hadir dengan keunikan konsep sebagai kota mandiri berwawasan
pendidikan. Spirit pendidikan yang diusung PT. Belaputera Intiland (Lyman Group)
selaku pengembang, telah menjadi pembeda antara Kota Baru Parahyangan dengan kota
mandiri lainnya. Spirit tersebut menjadi unsur yang menyatukan seluruh elemen di kota
ini menjadi sebuah tema sentral yang diterapkan pada keseluruhan proyek secara makro
(masterplan) maupun mikro.
Unsur-unsur lokal pun turut diterapkan pengembang dalam konsep
pengembangan kota ini. Selain unsur pendidikan, budaya dan sejarah Sunda juga menjadi
pilar pengembangan Kota Baru Parahyangan. Pilar budaya diwujudkan dalam penamaan
tatar (cluster) dan properti komersial yang seluruhnya memakai nama raja-raja Sunda.
Pilar sejarah diaplikasikan salah satunya pada desain rumah yang mengadopsi arsitektur
indoeropa yang dulu banyak digunakan di Kota Bandung. Sementara itu pilar pendidikan
diwujudkan dengan membangun sarana pendidikan formal dan informal.
Sesuai dengan visi utama Kota Baru Parahyangan, sejumlah sekolah unggulan
dihadirkan di dalamnya. Di antaranya Cahaya Bangsa Classical School, Bandung
Alliance International School, Akademi Bahasa Asing Internasional dan TK-SMU Al
Irsyad Satya. Berbagai kegiatan yang bersifat edukatif nonformal pun diwadahi dalam
beragam fasilitas di kota ini. Di antaranya adalah Gedung Pusat Peragaan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi dengan desain berbentuk sundial yang menjadi landmark
kota ini. Selain itu terdapat Bale Seni Barli, fasilitas bermain dan belajar di alam terbuka,
serta taman-taman tematik di setiap tatar (cluster).
Berbagai fasilitas bertaraf internasional dihadirkan di kota ini. Sebut saja Bale
Pare yang terdiri dari fasilitas belanja dan kuliner, rumah sakit Cahya Kawaluyan, Mason
Pine Hotel, Amazing 4D Theatre, serta Masjid Raya yang pembangunannya akan
rampung Juni 2010 mendatang.
Selain fasilitas yang lengkap untuk skala perkotaan, aspek desain bangunan dan
pengelolaan kota mengadopsi sistem yang ramah lingkungan. Sistem pengelolaan sampah
mengadopsi konsep 3 R (Reduce, Reuse, Recycle) dengan target menuju zero waste.
Pembuangan limbah air kotor dari tiap rumah melalui sistem biological filter septic tank
agar limbah yang terbuang telah memenuhi standar baku mutu. Sementara itu, setiap
rumah mempergunakan sumur resapan dan didukung oleh penempatan biopori di
sepanjang jalan dan seluruh daerah hijau serta melakukan penghijauan di seluruh areal
Kota Baru Parahyangan yang memiliki luas 1.250 hektar.

Tatar Mayangsunda
Penamaan tatar ini diambil dari nama permaisuri Prabu Siliwangi dari Kerajaan
Pajajaran, yakni Nyi Mas Mayang Sunda yang dikenal cerdas dan visioner. Lokasi tatar
dengan luas 10 hektar ini berada di tepian lembah dan danau yang dikelilingi panorama
pegunungan yang menyejukkan mata.
Dengan potensi keindahan tersebut, hunian pada tatar ini didesain dengan
memaksimalkan elemen bukaan. Sebuah unit contoh tipe Mayangningrat pada tatar ini
bisa menjadi acuan bagaimana konsumen bisa merasakan langsung kenyamanan hunian
yang penuh dengan panorama yang memanjakan mata. Setiap ruangan memiliki akses
view antara taman tematik atau view pegunungan dan danau.
Tipe Mayangningrat didesain dengan konsep bangunan tropis modern dengan
sentuhan minimalis. Hunian yang berada pada kaveling seluas 275 m2 dengan luas
bangunan 200 m2 ini memiliki empat kamar tidur serta satu kamar pembantu. Pada lantai
dasar, konfigurasi ruang-ruang bersama yakni ruang tamu, ruang keluarga dan ruang
makan ditempatkan secara mengalir dengan meminimalisir sekat. Meskipun begitu, kesan
perbedaan ruang tetap terasa.
Akses menuju bangunan dibuat terpisah antara akses utama dan akses servis.
Ruangan lantai atas digunakan sebagai area privat yang terdiri dari sebuah kamar tidur
utama dan dua kamar anak. Setiap ruangan bersebelahan langsung dengan ruang terbuka.
Udara yang sejuk dan pencahayaan alami yang menerangi setiap ruangan, mampu
meminimalisir penggunaan AC (air conditioner) dan lampu di siang hari pada rumah
yang memiliki dua lantai ini.
Sementara itu, interior ruangan bernuansa modern eklektik dengan kesan ringan
dan fungsional. Unsur yang bernuansa tradisional dan urban pop-art dikombinasikan
secara padu menciptakan beragam aksentuasi pada berbagai sudut ruang. Sentuhan
tradisional diterapkan melalui penggunaan material yang bermotif kayu. Unsur urban
pop-art diterapkan melalui penggunaan corak dan warna yang “berani” yang diterapkan
upholstery dan wallcover ruangan.
Suasana tatar sunda dihadirkan pula melalui elemen vegetasi baik yang bersifat
pohon peneduh ataupun tanaman semak. Pohon Saputangan, Melinjo, Damar dan
Mahoni, dan tanaman semak aromatik seperti Gardenia dan Kemuning memperkuat
semakin suasana parahyangan. Tatar ini dilengkapi dengan sebuah taman tematik
bertema informasi yang berfungsi sebagai area hijau, dengan fungsi yang rekreatif
sekaligus edukatif. Taman ini ini dilengkapi dengan beragam fitur yang dirancang untuk
merangsang penggunaan indera sensori dan motorik.
Sumber :

http://balimining.com/wilayah_kegiatan_read.php?dir=Kabupaten_Bangli/

http://digilib.its.ac.id/detil.php?id=5641

http://www.djpp.depkumham.go.id/index.php/daftar-peraturan-daerah/173-pemerintah-
daerah-kabupaten-bangli

http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/artikel-acwin-2.pdf

http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/files/udejournal/artikel-putra-1.pdf

http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/files/udejournal/1.%20putra-
catuspatha,%20konsep,trans,%20dan%20perbh.pdf

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/gaya/2009/09/06/629/Pelipur-Hati-dari-
Bangli

http://bali.bps.go.id/bangli/

http://www.majalahtren.com/index.php/read/estetika-kaya-panorama-di-kota-baru-
parahyangan

http://www.kotabaruparahyangan.com/

http://simkesugm07.wordpress.com/2008/01/04/visi-misi-dan-langkah-langkah-
pengembangan-sikda-kab-bangli/