Anda di halaman 1dari 11

Ujian Tengah Semester Hari/Tanggal : Sabtu/28 Maret 2020

M. K. Agrometeorologi Dosen :
1. Dr. Impron

PENENTUAN ETp, ETo, DAN Kc, DAN KEBUTUHAN IRIGASI


TERHADAP UMUR TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) DENGAN
METODE THERMAL UNIT DAN PENMAN-MONTEITH

Nama : Fakhri Labib Chusaini


NIM : G24170003

DEPARTEMEN GEOFISIKA DAN METEOROLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2020
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang masih mengimpor beras dari
negara lain untuk pemenuhan kebutuhan beras negaranya. Tahun 2011 jumlah
impor beras di Indonesia yaitu sebesar 2.750.476,20 ton dan kemudian semakin
menurun pada tahun-tahun berikutnya yaitu 2012, 2013 dan 2014 masing-masing
sebesar 1.810.372,30 ton, 472.664,70 ton dan 844.163,7 ton (BPS 2015).
Kebutuhan akan beras yang tinggi mengharuskan pemerintah agar dapat
memproduksi beras lebih banyak agar dapat mengurangi impor beras dari negara
lain. Adanya produktivitas air yang tinggi diharapkan permasalahan ini dapat
diatasi dan kebutuhan akan beras dapat dipenuhi tanpa harus adanya impor beras
dari negara lain.
Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan yang paling penting
di Tropika Asia, terutama di Indonesia. Peningkatan jumlah penduduk
menyebabkan permintaan beras semakin meningkat.Peningkatan produksi beras
tidak hanya diandalkan dari lahan sawah irigasi dan tadah hujan, tetapi juga pada
lahan kering (padi gogo) (Prasetia et al. 2018)
Padi bagi rakyat Indonesia berguna untuk meningkatkan produksi padi,
pemerintah telah mengeluarkan investasi yang sangat besar guna membangun
sarana dan prasarananya seperti bendungan, bendung dan saluran irigasi. Namun
demikian sejak tahun 1990-an, telah terjadi kecenderungan bahwa sumber air
mulai menurun terutama pada musim kemarau. Sebaliknya kebutuhan air untuk
sektor selain irigasi seperti kebutuhan air domestik dan industri terus meningkat.
Hal ini diperparah dengan kebiasaan petani yang sangat boros dalam pemanfaatan
air irigasi untuk sawahnya (irigasi traditional memerlukan sekitar 80 % sumber air
yang ada). Selain itu dalam Standar Perencanaan Irigasi Kp-01 analisis kebutuhan
air irigasi juga didasarkan pada sistem irigasi traditional (digenangi terus
menerus). Hal ini tentu saja akan sulit diterapkan untuk kondisi saat ini dimana
ketersediaan air menurun dan kebutuhan air terus meningkat (Sujono 2011)
Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang
pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi bawah tanah dan
irigasi pompa. Tujuan irigasi yaitu mengalirkan air secara teratur sesuai kebutuhan
tanaman pada saat persediaan lengas tanah tidak mencukupi untuk mendukung
pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman bisa tumbuh secara optimal (Juhana et
al. 2015)
Kebutuhan air irigasi adalah termasuk kehilangan air akibat
evapotranspirasi atau consumtive use, ditambah dengan kehilangan air selama
pemberian air tersebut. Kebutuhan air irigasi ditentukan oleh sumber air irigasi
yang ada, curah hujan efektif dan keadaan profil tanah serta tanaman. Perhitungan
kebutuhan air tanaman dan kebutuhan air irigasi dihitung pada interval 10 harian
(dekade). Kebutuhan air irigasi adalah selisih antara evapotranspirasi tanaman
(ETc) dengan curah hujan efektif (Peff) dalam setiap periodenya. Irigasi yang
dilakukan hanya menambahkan kebutuhan air pada tanaman untuk memenuhi
ketersediaan lengas tanah yang tidak bisa dicukupi oleh curah hujan efektif.
Irigasi pada dasarnya merupakan penambahan air yang berfungsi untuk memenuhi
kebutuhan air bagi pertumbuhan tanaman yang dinyatakan dengan besarnya
evapotranspirasi tanaman (Susanawati dan Suharto 2017).

Tujuan
Makalah ini bertujuan menentukan ETo, ETp dan Kc sebagai parameter
dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi yang diperoleh dari
beberapa metode yang berbeda, mengetahui kebutuhan air tanaman dan waktu
panen padi yang berdasarkan data thermal unit serta menentukan metode yang
lebih akurat untuk menentukan kebutuhan air pada tanaman padi.

Rumusan Masalah
Air mutlak dibutuhkan oleh tanaman agar dapat tumbuh secara optimal.
Curah hujan merupakan salah satu sumber alami air untuk tanaman. Namun, pada
suatu tempat dan waktu tertentu air hujan tidak dapat memenuhi kebutuhan air
tanamn. Sehingga kebutuhan air tanaman akan dipasok melalui irigasi. Dengan
menggunakan beberapa asumsi yang dipakai pada makalah ini diharapkan dapat
menjelaskan metode dan asumsi untuk setiap perhitungan yang dipakai, kriteria
dan batas kritis yang dipakai untuk menentukan waktu dan jumlah irigasi yang
diberikan, dan umur tanaman padi untuk melakukan perhitungan.

METODOLOGI

Langkah Kerja

Menyiapkan Menghitung nilai Menghitung


laptop dengan Koefisian tanaman nilai
Mulai Ms. Excel dengan (Kc) pada setiap Evapotranspira
data iklim harian fase si tanaman
daerah X

Menentukan
Menentukan kebutuhan air
curah hujan
irigasi dengan memanfaatkan
Selesai efektif
nilai evapotranspirasi tanaman,
kapasitas lapang, titik layu
permanen, hujan efektif dan
kehiangan air

Gambar 1 Diagram alir menentukan nilai ETo, ETc,dan Kc dan kebutuhan irigasi
Menyiapkan Menghitung nilai
laptop dengan Menentukan T-Tbase dengan
Mulai Ms. Excel dengan hari setelah Tbase yang sudah
data iklim harian tanam diketahui
daerah X

Menghitung akumulasi Mennetukan


panas perhari dan per Julian date
Menentukan nilai yang
mendekati nilai Thermal Unit fase tanam pada
yang dikeathui sebagai tnamaan
penentu masa panen

Selesai

Gambar 2 Diagram alir menentukan masa tanam dengan metode thermal unit

HASIL DAN PEMBAHASAN

Arief et al. (2012) menyatakan evapotranspirasi tanaman perlu diestimasi


karena merupakan sumber kehilangan air utama dari tanaman dan permukaan
tanah serta merupakan komponen konsumsi utama untuk budidaya padi. Prastowo
(2010) menyatakan kebutuhan air konsumtif dipengaruhi oleh jenis dan umur
tanaman (fase pertumbuhan tanaman). Pada saat tanaman mulai tumbuh, nilai
kebutuhan air konsumtif meningkat sesuai pertumbuhannya dan mencapai
maksimum pada saat pertumbuhan vegetasi maksimum. Setelah mencapai
pertumbuhan maksimum, nilai kebutuhan air konsumtif akan menurun sejalan
dengan pematangan biji. Besarnya nilai evapotranspirasi dipengaruhi oleh faktor
jenis tanaman dan tingkat pertumbuhan. Faktor iklim yang berpengaruh adalah
suhu, kelembaban udara, kecepatan angin serta radiasi matahari dan garis lintang
(Fuadi et al. 2016).
Pendugaan laju evapotranspirasi banyak dikembangkan dalam 30 tahun
terakhir ini seperti yang berdasarkan suhu yang berdasarkan radiasi matahari dan
yang berdasarkan kombinasi antara neraca radiasi dan perpindahan uap air secara
aerodinamik. Pendekatan dengan metode Penman juga mengalami beberapa
perkembangan seperti metode Penman yang dimodifikasi oleh Monteith dikenal
sebagai metode Penman-Monteith, pendekatan versi FAO 24, dan FAO 56 dan
terakhir ada pendekatan Matt-Shuttleworth (Manik 2012).
6

Evapotranspirasi Tanaman
5
4
3
2
1
0
1

41

81
9
17
25
33

49
57
65
73

89
97
105
113
121
129
137
145
Hari Tanam

ETo ETc
Gambar 3 Grafik nilai ETc dan ETo pada tanaman padi selama 150 hari
Gambar 3 merupakan grafik evapotranspirasi pada tanaman padi.
Berdasarkan grafik diatas, dapat diketahui bahwa pada fase pertumbuhan awal,
nilai ETc sama dengan nilai ETo dan pada fase pembuahan serta kematangan biji,
besarnya nilai ETc sama dengan nilai ETo. Hal ini berkaitan dengan nilai Kc
sebagai faktor yang mempengaruhi nilai ETc. Nilai Kc yang didapat dari beberapa
penelitian cukup beragam. Oleh karena itu, perlu adanya penyesuaian lokasi dan
kondisi cuaca yang berbeda untuk menghitung nilai Kc. Evapotranspirasi tanaman
(ETc) yang meningkat dan menurun pada setiap fase menunjukkan bahwa
tanaman dalam tahap perkembangan (development) dan pertengahan (mid season)
dan kembali menurun pada tahap penuaan (end season). Hal ini dikarenakan
tanaman memiliki kebutuhan air yang berbeda-beda selama. Pada awal
pertumbuhan, laju evapotransipasi lebih rendah karena permukaan transpirasi
masih kecil, maka absorbsi air oleh tanaman rendah dan absorbsi tanaman akan
meningkat dengan berkembangannya tanaman dan akan mencapai maksimum
pada saat indeks luas daun maksimum (Islami dan Utomo 1995).
Air yang hilang karena evapotranspirasi merupakan air yang dikonsumsi
tanaman padi (water consumption). Fase vegetatif merupakan fase tanaman untuk
menghasilkan anakan padi yang produktif dan air yang cukup dibutuhkan
tanaman padi pada fase ini. Subagyono et al. (2005) dan Ibrahim (2008)
menyatakan pada fase vegetatif konsumsi air tanaman lebih banyak untuk
tanaman padi karena peranan air sangat penting pada saat pembentukan anakan.
Peranan air selain pada saat pembentukan anakan juga sangat penting pada awal
fase pemasakan.
Koefisien spesifik tanaman (Kc) merupakan hasil perbandingan
evapotranspirasi tanaman (ETc) terhadap evapotranspirasi yang didapatkan
dengan pengukuran menggunakan lysimeter (ETo) dan memiliki nilai yang
bervariasi tergantung pada jenis tanaman, fase pertumbuhan tanaman, dan
beberapa faktor lingkungan seperti cuaca (Manik et al. 2014). Koefisien spesifik
tanaman (Kc) dapat dihitung menggunakan tiga nilai Kc pada fase-fase
pertumbuhan tanaman, yaitu Kc intial pada fase pertumbuhan awal, Kc mid-
season pada fase pertumbuhan pertengahan (maksimal), dan Kc end pada akhir
fase akhir pertumbuhan. Nilai Kc pada setiap fase pertumbuhan tanaman berbeda-
beda. Secara umum, nilai Kc pada fase awal tanam bernilai rendah dan bersifat
konstan kemudian meningkat pada fase perkembangan dan kembali konstan pada
fase pertengahan dan akan menurun pada fase akhir. Fase ini berlaku pada
tanaman yang dipanen sampai tanaman tersebut mengalami proses penuaan (Allen
et al. 1998).

1.4

1.2
Kc

0.8

0.6
41

89

137
1
9
17
25
33

49
57
65
73
81

97
105
113
121
129

145
Hari Tanam
Kc

Gambar 4 Grafik Kc tanaman padi


Gambar 4 merupakan grafik koefisien spesifik tanaman padi. Grafik
koefisien spesifik tanaman tersebut menjelaskan perubahan nilai Kc pada setiap
fase pertumbuhan tanaman padi. Fase awal tanam padi memiliki nilai Kc sebesar
1.05 dan nilai Kc ini bersifat konstan sampai hari ke-30 setelah tanam dimana hari
ke-30 merupakan akhir fase awal tanam. Nilai Kc meningkat dari hari ke-31
sampai mencapai nilai maksimum yaitu nilai Kc sebesar 1.2 pada hari ke-60
setelah tanam dimana hari ke-60 merupakan akhir fase perkembangan. Nilai Kc
pada hari ke-61 bernilai konstan sampai hari ke-120. Pada hari ke-121 nilai Kc
mulai menurun, dimana hal ini merupakan fase akhir dari tanaman padi. Hal ini
menunjukan nilai Kc mid season lebih besar dari nilai Kc end yang menandakan
bahwa tanaman padi dipanen setelah tanaman padi mengalami proses penuaan.
Jumlah air irigasi yang diberikan pada tanaman akan menentukan faktor
hasil pada tanaman, karena besarnya air irigasi menentukan besarnya nilai ETc
(Setiawan et al. 2014). Kebutuhan air tanaman penting untuk diketahui agar air
irigasi dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan. Jumlah air yang diberikan
secara tepat, akan merangsang pertumbuhan tanaman dan meningkatkan efisiensi
penggunaan air sehingga dapat meningkatkan luas areal tanaman yang bisa diairi.
Dalam perancangan sistem irigasi, kebutuhan air untuk tanaman dihitung dengan
menggunakan metode prakira empiris berdasar rumus tertentu (Purba 2011).
Kebutuhan air untuk tanaman adalah kebutuhan air untuk memenuhi
evapotranspirasi atau consumptive use tanaman, yaitu air irigasi yang diperlukan
untuk memenuhi evapotranspirasi dikurangi curah hujan efektif . Respons
tanaman terhadap air tidak dapat diperlakukan secara terpisah dari faktor
agronomis lainnya yakni pemupukan, kerapatan tanaman dan perlindungan
tanaman, sebab faktor-faktor tersebut juga menentukan hasil aktual dan juga hasil
maksimum yang dapat dicapai. Faktor tanggapan hasil merupakan hasil
perbandingan antara nilai penurunan hasil relatif dan penurunan evapotranspirasi
relatif (Fuadi et al. 2016).
Tabel 1 Kebutuhan air irigasi
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun
ETo (mm/hari) 3,75 3,43 3,57 3,70 3,46 3,73
Kc 1,05 1,05 1,14 1,20 1,19 0,93
ETc (mm/hari) 3,94 3,61 4,09 4,37 4,13 3,50
ETc (mm/bulan) 19,69 101,00 126,72 133,36 128,11 88,61
SAT (mm) 200,00
PERC (mm/bulan) 180,00 180,00 180,00 180,00 150,00
WL (mm) 100,00
P (mm/bulan) 29,00 25,30 6,80 74,40 218,00 52,20
Pe (mm/bulan) 7,40 5,18 0,00 34,64 149,40 21,32
IN (mm/bulan) 212,29 375,82 306,72 278,72 158,71 217,29
IN (mm/hari) 42,46 13,42 9,89 9,29 5,12 8,69
Tabel 1 merupakan tabel kebutuhan air irigasi pada tanaman padi.
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa tanaman padi mempunyai kebutuhan air
yang cukup tinggi, yaitu 158,71 mm/bulan sampai 375 mm/bulan. Menurut buku
FAO, indeks kebutuhan air pada tanaman padi adlah 450 sampai 700 (mm/total
periode tumbuhan). Kebutuhan air tanaman sangat dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti sistem irigasi yang digunakan, kondisi iklim dan nilai koefisien
tanamannya (Sujono 2011).
Produktivitas air (water productivity) adalah rasio antara gabah kering
giling yang dihasilkan (kg) dengan konsumsi air (m3). Menurut Fuadi et al.(
2016) menyatakan produktivitas air merupakan rasio antara hasil panen yang
diperoleh dengan jumlah air yang diberikan pada tanaman (evaportanspirasi,
perkolasi, irigasi, curah hujan dan drainase) dengan satuan kg/m3 air atau kg/liter
air. Semakin tinggi produktivitas air, maka semakin optimal penggunaan air
tersebut
Penyediaan kebutuhan air tanaman salah satunya dapat dilakukan dengan
sistem irigasi. Pemberian air irigasi yang tidak tepat dan tanpa ukuran yang sesuai
kebutuhan tanaman juga menyebabkan terjadinya pembusukan akar akibat
kelebihan air. Pembusukan akar akibat kelebihan air menyebabkan produktivitas
tanaman, efisiensi dan produktivitas air irigasi menjadi rendah. Oleh karena itu
sangat penting sekali kombinasi antara teknologi irigasi dengan pengaturan sistem
pemberian air agar dapat memanfaatkan air secara efisien (Adams et al., 2011).
Mekonnen dan Hoekstra (2011) juga menghitung tapak air konsumtif global dari
tanaman beririgasi lebih rendah dari pada tapak air konsumtif tanaman tadah
hujan. Hal ini terjadi karena produktivitas tanaman yang didukung dengan sistem
irigasi lebih tinggi dari pada tanaman tadah hujan. (Fuadi et al. 2016).
Efisiensi penggunaan air mutlak diperlukan dalam upaya untuk
meningkatkan nilai ekonomi air irigasi, oleh karena itu salah satu strategi yang
dapat dilakukan adalah dengan mengubah paradigma nilai produktivitas lahan dari
hasil produk (produk komoditi) per satuan luas lahan menjadi produktivitas air
yaitu hasil persatuan volume air yang digunakan. Produktivitas air tanaman adalah
perbandingan antara hasil yang diperoleh dengan jumlah air yang diberikan
terhadap tanaman, dengan satuan kg hasil per m3 air yang digunakan. Peningkatan
produksi tanaman dengan menggunakan air yang sedikit dapat dilakukan dengan
penerapkan konsep produktivitas air tanaman (CWP) melalui sistem irigasi (Fuadi
et al. 2016).
Tabel 2 prakiraan waktu panen padi berdasarkan thermal unit
thermar unit t base t avg t-tbase Waktu
O
( C/hari) (degC) (degC) (degC) (hari)
1030 17 27,83 10,83 95,11
Tabel 2 merupakan perkiraan waktu panen padi berdasarkan thermal unit.
Nilai thermal unit yang dibutuhkan pada tanaman padi berdasarkan hasil olah data
adalah 1030OC/hari dengan lama hari 95 hst, nilai heat unit setiap pertanaman
berbeda terganrung dari varietas dan perlakuan saat penamanan karena nilai
thermal unit yang dibtuhkan setiap varietas memiliki sifat genetik yang berbeda-
beda. Faktor genetik mempengaruhi nilai thermal unit yang dibutuhkan saat panen
(Wangsitala et al. 2016). Heat unit tidak dipengaruhi oleh perbedaan lokasi dan
waktu tanam (Koesmaryono et al. 2002). Laju pertumbuhan tanaman tergantung
pada suhu selama masa pertumbuhannya. Menurut Wangsita et al. (2016)
kelebihan air dapat menyebabkan kerusakan pada perakaran tanaman, karena
disebabkan kurangnya udara pada tanah yang tergenang.
Pada tanaman padi dari data base FAO, lama dari pengolahan lahan
sampai penen tanaman padi adalah antara 90 hingga 150 hari dengan lama
pengolahan lahan 30 hari di awal. Berdasarkan hal tersebut metode buku FAO
atau Allen et al. (1998) dan metode thermal unit masih dalam kategori masa
tanaman padi yang normal. Metode lama tanam FAO dan thermal unit memiliki
perbedaan
FAO (Food and Agriculture Organization) merekomendasikan
penggunaannya untuk pendugaan laju evapotranspirasi standar dalam menduga
kebutuhan air bagi tanaman menggunakan model Penmann-Monteith. Hal ini
karena model Penmann-Monteith memberikan pendugaan yang akurat (Manik et
al. 2012). Metode Penmann-Monteith merupakan metode yang diperoleh dari
metode Penman yang dikombinasikan dengan tahanan aerodinamik dan
permukaan tajuk. Meskipun metode Penmann-Monteith merupakan model yang
akurat, namun masih perlu dilakukan pengujian ulang apakah hasil yang diperoleh
benar-benar mendekati laju evapotranspirasi yang diamati pada stasiun
klimatologi/meteorologi setempat. Sedangkan pada metode thermal unit
parameter yang diperhatikan adalah suhu, sedangkan parameter lainnya dianggap
kurang akurat. Konsep thermal unit dikembangkan atas dasar bahwa tanaman
setiap harinya mengumpulkan sejumlah satuan panas yang besarnya
tergantung suhu rata-rata harian dan suhu dasar yang berpengaruh terhadap
tanaman. Suatu tanaman mempunyai nilai thermal unit yang berbedabeda
tergantung dari genotip dan lingkungan (Atmasari et al.2016)
Metode Penman Monteinth sangat cocok dipakai pada daerah tropis karena
adanya parameter-parameter yang dibutuhkan oleh metode ini.
Parameterparameter tersebut seperti suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan
radiasi matahari. Menurut Allen et al. (1998) metode Penman Monteinth dapat
menghasilkan endugaan ETo pada lokasi luas dan memiliki data yang lengkap
sehingga metode ini memberikan hasil terbaik dengan kesalahan mimimum untuk
tanaman yang diukur. Metode Penman Monteinth mempunyai kelebihan yaitu
dapat diaplikasikan secara global tanpa perlu adanya tambahan parameter lain.
Metode ini juga sudah dikalibrasi dengan beberapa software dan beberapa jenis
lisimeter. Kekurangan dari metode Penman Monteinth yaitu membutuhkan data
meteorologi yang cukup banyak seperti suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan
radiasi matahari. Dimana di daerah tropis, hanya terdapat beberapa stasiun cuaca
yang menyediakan data harian yang lengkap (Irmak et al. 2003).

KESIMPULAN

Evapotranspirasi tanaman (ETc) yang meningkat dan menurun pada setiap


fase menunjukkan bahwa tanaman dalam tahap perkembangan (development) dan
pertengahan (mid season) dan kembali menurun pada tahap penuaan (end season)
dikarenakan tanaman memiliki kebutuhan air yang berbeda-beda. Nilai ETc yang
diperoleh pada fase pertumbuhan awal, vegetatif aktif tampak sama dengan nilai
ETo, sedangkan pada fase pembuahan serta kematangan biji besarnya nilai ETc
lebih besar daripada nilai ET0. Hal tersebut berkaitan dengan nilai Kc sebagai
faktor yang mempengaruhi nilai. Nilai Kc pada setiap fase pertumbuhan tanaman
berbeda-beda, dimana nilai Kc pada fase awal tanam bernilai rendah dan bersifat
konstan kemudian meningkat pada fase perkembangan dan kembali konstan pada
fase pertengahan dan akan menurun pada fase akhir. Fase ini berlaku pada
tanaman yang dipanen sampai tanaman tersebut mengalami proses penuaan.
Metode Penman-Monteith digunakan untuk menentukan evapotranspirasi,
menurut FAO metode ini cukup akurat untuk pennetuan evapotranspirasi. Hasil
dari evapotranspirasi bisa digunakan untuk menduga kebutuhan air irigasi dengan
menggunakan parmeter lainnya seperti titik layu permanen, kapasitas lapang, loss,
dan hujan efektif (Peff). Metode Penman-Monteith juga dapat digunakan untuk
menentukan lamanya masa tanam padi. Thermal unit juga dapat menentukan lama
tanam suatu tanaman, untuk tanaman padi diperkirakan selama 95 hst. Pada
tanaman padi dari data base FAO, lama dari pengolahan lahan sampai penen
tanaman padi adalah antara 90 hingga 150 hari dengan lama pengolahan lahan 30
hari di awal.

DAFTAR PUSTAKA

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Impor Beras menurut Negara Asal Utama.
Adams HD, Luce CH, Breshears DD, Allen CD, Weiler M, Hale VC, Smith
AMS, Huxman TE. 2011. Ecohydrological consequences of drought‐and
infestation‐triggered tree die‐off: insights and hypotheses. Ecohydrology.
5(2): 145-159
Allen RG et al. 1998. Crop evapotranspiratrion guidelines for computing crop
water requirements. FAO Irrigation and Drainage. Paper. Vol.(56) : 95-119.
Arief C, Setiawan BI, Sofiyuddin HA, Martief LM, Mizoguchi M, Doi R. 2012.
Estimating crop coefficient in intermittent irrigation paddy fields using
excel solver. Rice Science. 19(2): 143-152.
Atmasari A, Santosa M, Soelistyono R. 2016. Pemanfaatan thermal unit untuk
menentukan waktu panen tanaman kalian (Brassica oleracea L. var.
alboglabra) pada jarak tanam dan varietas yang berbeda. Jurnal Produksi
Tanaman. 4(6): 485-493.
Fuadi NA, Purwanto MYJ, Tarigan SD. 2016. Kajian kebutuhan air dan
produktivitas air padi sawah dengan sistem pemberian air secara sri dan
konvensional menggunakan irigasi pipa. Jurnal Irigasi. 11(1): 23-32
Ibrahim A. 2008. Prinsip-prinsip Tanaman Padi Metode SRI Organik. Banda
Aceh (ID): Youth Service Foundation.
Irmak S, Haman D. 2003. Evaluation of five methods for estimating class a pan
evaporation in a humid climate. Jurnal Florida Agricultural Experiment
Station. Vol. 13(3):500-508
Islami T, Utomo WH. 1995. Hubungan Tanah, Air dan Tanaman. IKIP. Semarang
(ID): Semarang Press
Juhana EA, Permana S, Farida I. 2015. Analisis kebutuhan air irigasi pada Daerah
Irigasi Bangbayang UPTD SDAP Leles Dinas Sumber Daya Air dan
Pertambangan Kabupaten Garut. Jurnal Konstruksi. 13(1).
Koesmaryono Y, Sangaji S, June T. 2002. Akumulasi panas tanaman soba
(Fagopyrum esculentum) cv.Kitaware pada Dua Ketinggian di Iklim
Tropika Basah. J. Agromet Indonesia. 15 (1): 8 – 13.
Manik TK, Rosadi B, Agus K. 2012. Evaluation of Penman-Monteith method in
estimating standard evapotranspiration (et0) in lowland area of Lampung
Province, Indonesia. Jurnal Keteknikan Pertanian. Vol. 26(2): 121-128.
Manik TK, Rosadi RAB, Yuliawati T. 2014. Pendugaan kebutuhan air tanaman
dan nilai koefisien tanaman (Kc) kedelai (Glycine max (L) Merril) varietas
tanggamus dengan metode Lysimeter. Jurnal Teknik Pertanian Lampung.
Vol.3 (3) : 233-238.
Mekonnen MM, Hoekstra AY. 2011. The green, blue and grey water footprint of
crops and derived crop products. Hydrology and Earth System Sciences.
15(5): 1577-1600.
Prastowo. 2010. Irigasi Tetes : Teori dan Aplikasi. Bogor (ID): IPB Press.
Purba, JH. 2011. Kebutuhan dan cara pemberian air irigasi untuk tanaman padi
sawah (Oryza sativa L.). Jurnal Sains dan Teknologi. 10(): 145-155.
Prasetia R, Utomo M, Afandi, Banuwa IS. 2018. Pengaruh sistem olah tanah dan
pemupukan nitrogen jangka panjang terhadap air tersedia dan beberapa sifat
fisik tanah pada pertanaman padi gogo (Oryza sativa L.) di lahan polinela
Bandar Lampung. J.Agrotek Tropika. 6(2): 119-126
Setiawan W, Rosadi B, Kadir MZ. 2014. Respon pertumbuhan dan hasil tiga
varietas kedelai (Glicine max) pada beberapa fraksi penipisan air tanah
tersedia. Jurnal Teknik Pertanian. 3(3): 245-252
Subagyono K, Dariah A, Kurnia U, Surmaini E. 2005. Pengelolaan Air pada
Tanah Sawah.
Sujono J. 2011. Koefisien tanaman padi sawah pada sistem irigasi hemat air.
AGRITECH. 31(4): 344-352
Susanawati LD, Suharto B. 2017. Kebutuhan air tanaman untuk penjadwalan
irigasi pada tanaman jeruk keprok 55 di Desa Selorejo menggunakan
cropwat 8.0. Jurnal Irigasi. 12(2): 109-118.
Wangsitala A, Haryono D, Soelistyono R. 2016. Pemanfaatan thermal unit untuk
menentukam waktu panen tanaman baby wortel (Dancus carota L.) dengan
menggunakan varietas dan mulsa yan berbeda. Jurnal Produksi Tanaman.
4(6): 416-424