Anda di halaman 1dari 12

PERCOBAAN DENGAN OBAT MIOTIKA & MIDRIATIKA

TUJUAN UMUM
Menganalisis Obat-obatan Miotika / Midriatika pada mata kelinci.

TUJUAN KHUSUS
1. Mengamati pengaruh Miotika/Midriatika pada pupil mata kelinci.
2. Membandingkan pengaruh Miotika/Midriatika terhadap kontrol.
3. Menjelaskan efek farmakologi Miotika/Midriatika.

Alat yang digunakan


1. Gunting kecil
2. Senter kecil
3. Pipet
4. Penggaris
5. Stopwatch

Obat-obat yang digunakan pada percobaan ini :


1. Atropin (Cendotropin)
2. Pilocarpin (Cendokarpin)

Binatang percobaan yang digunakan adalah kelinci.

Prosedur Percobaan :
Bulu disekitar mata dipotong sependek mungkin agar tidak mengganggu pada waktu
mengadakan pemeriksaanIpengamatan. Kemudian kelinci dimasukkan ke dalam kotak
khusus untuk mempermudah pekerjaan dan ketepatan pemeriksaan sehingga hasil percobaan
akan lebih mendekati kebenaran. Kelinci dihadapkan ke arah yang tidak mendapatkan sinar
matahari langsung supaya pemeriksaan perubahan pupil dapat dilakukan dengan baik. Pada
mata yang digunakan sebagai kontrol lakukan pemeriksaan yang teliti dan catatlah sebaik-
baiknya tentang:
a) Lebar pupil kiri dan kanan (mm)
b) Refleks cahaya (+ / -)
c) Keadaan pembuluh darah Konjungtiva (+ / -)

Pemeriksaan pendahuluan ini, yang datanya akan dipakai sebagai


pembanding/kontrol sebaiknya dilakukan tiga kali dengan jarak waktu masing-masing 10
menit. Setelah data pembanding didapatkan, percobaan dapat dilanjutkan dengan pemberian
obat-obatan. Teteskanlah obat pada mata sebelahnya sebanyak 2-3 tetes sedemikian rupa
sehingga obat yang diteteskan tidak keluar. Kemudian mata ditutup untuk beberapa saat.
Adakan pemeriksaan di atas pada 10, 20 dan 30 menit setelah pemberian obat dan
bandingkan dengan mata yang tidak ditetesi obat. Setelah selesai pemeriksaan, mata yang
ditetesi obat dicuci/ditetesi dengan larutan garam fisiologis untuk menghilangkan pengaruh
obat. Lima menit kemudian percobaan dapat dilanjutkan, dengan menetesi obat berikutnya
pada mata yang tadinya digunakan sebagai pembanding. Lakukan pemeriksaan seperti di
atas.

PERHATIKAN
1. Pada waktu melakukan pemeriksaan jangan sampai menyentuh bulu mata (bila ada
dibersihkan) dan jangan membuat takut binatang percobaan.
2. Pada pemeriksaan refleks cahaya selain memperlihatkan positif dan negatifnya refleks,
juga memperhatikan kecepatan/kelambatan refleks.

DASAR TEORI
1.1. PENDAHULUAN
Sistem saraf otonom merupakan bagian sistem syaraf yang mengatur fungsi visceral
tubuh. Sistem ini mengatur tekanan arteri, motilitas dan sekresi gastrointestinal, pengosongan
kandung kemih, berkeringat, suhu tubuh dan aktivitas lain. Karakteristik utama SSO adalah
kemampuan memengaruhi yang sangat cepat (misal: dalam beberapa detik saja denyut
jantung dapat meningkat hampir dua kali semula, demikian juga dengan tekanan darah dalam
belasan detik, berkeringat yang dapat terlihat setelah dipicu dalam beberapa detik, juga
pengosongan kandung kemih). Sifat ini menjadikan SSO tepat untuk melakukan
pengendalian terhadap homeostasis mengingat gangguan terhadap homeostasis dapat
memengaruhi seluruh sistem tubuh manusia. Dengan demikian, SSO merupakan komponen
dari refleks visceral (Guyton, 2006).
Sistem saraf otonom bersama-sama dengan sistem endokrin mengkoordinasi
pengaturan dan integrasi fungsi-fungsi tubuh. Sistem endokrin mengirimkan sinyal pada
jaringan targetnya melalui hormon yang kadarnya bervariasi dalam darah. Sebaliknya, sistem
saraf menghantarkan sinyal melalui transmisi implus listrik secara cepat melalui serabut-
serabut saraf yang berakhir pada organ efektor, dan efek khusus akan timbul sebagai akibat
pelepasan substansi neuromediator. Obat-obat yang menghasilkan efek terapeutik utamanya
dengan menyerupai atau mengubah fungsi sistem saraf otonom disebut dengan obat-obat
otonom. Obat-obat otonom bekerja dengan cara menstimulasi saraf otonom atau dengan cara
menghambat kerja sistem saraf ini.
Obat-obat yang mempengaruhi sistem saraf otonom dibagi dalam subgrup sesuai
dengan mekanisme kerjanya terhadap tipe neuron yang dipengaruhinya.Grup pertama obat-
obat ADRENERGIK, yang bekerja terhadap reseptor yang dipacu oleh norepinefrin atau
epinefrin. Grup kedua obat-obat KOLINERGIK, yang bekerja terhadap reseptor yang
diaktifkan oleh asetikolin. Obat kolinergik dan adrenergik bekerja dengan memacu atau
menyekat neuron dalam sistem saraf otonom.
Obat golongan pelumpuh otot (muscle relaxant) menghambat transmisi
neuromuskular sehingga menimbulkan paresis otot bergaris. Menurut mekanisme kerjanya
obat ini dibagi 2, yaitu non-depolarizing dan depolarizing neuromuskular blocking agents.

1.2. PENGANTAR MEMAHAMI SISTEM SARAF OTONOM


Sistem saraf dibedakan atas 2 divisi anatomi yaitu sistem saraf pusat (SSP) yang
terdiri dari otak dan medula spinalis, serta sistem saraf tepi yang merupakan sel-sel saraf
yang terletak di luar otak dan medula spinalis yaitu saraf-saraf yang masuk dan keluar SSP.
Sistem saraf tepi selanjutnya dibagi dalam divisi eferen yaitu neuron yang membawa sinyal
dari otak dan medula spinalis ke jaringan tepi, serta divisi aferen yang membawa informasi
dari perifer ke SSP.
Bagian eferen sistem saraf tepi selanjutnya dibagi dalam 2 subdivisi fungsional
utama, yaitu sistem somatik dan sistem otonom. Eferen somatik dapat dipengaruhi oleh
kesadaran yang mengatur fungsi-fungsi seperti kontraksi otot untuk memindahkan suatu
benda. Sistem otonom tidak dipengaruhi kesadaran dalam mengatur kebutuhan tubuh sehari-
hari. Sistem otonom terdiri atas saraf motorik visera yang menginervasi otot polos organ
visera, otot jantung, pembuluh darah dan kelenjar eksokrin (kelenjar ludah, keringat, dll)
1.2.1 Fungsi Sistem Simpatis
Sistem simpatis selain secara berkelanjutan mempertahankan derajat keaktifan
(misalnya menjaga tonus vaskuler), juga mempunyai kemampuan utnuk memberikan respons
pada situasi stress, seperti trauma, ketakutan, hipoglikemia, kedinginan atau latihan.)

1.2.2 Fungsi Sistem Parasimpatis


Sistem parasimpatis menjaga fungsi tubuh esensial seperti proses pencernakan
makanan dan pengurangan zat-zat sisa, dan hal ini diperlukan untuk mempertahankan
kehidupan. Sistem ini biasanya bekerja melawan dan mengimbangi aksi simpatis dan
biasanya lebih dominan daripada sistem simpatis pada situasi istirahat dan mencerna.

1.2.3 Transmiter pada Sistem Saraf Otonom


Transmiter (bahan penerus rangsang) pada sistem saraf otonom ialah:
1. Asetilkolin (ACH)
2. Nor-epinefrin (Nor Adrenalin)
3. Epinefrin (Adrenalin)
Serat-serat saraf yang ujung-ujungnya mengeluarkan asetilkolin sebagai transmitter
disebut serat kolinergik, sedangkan serat saraf yang ujungnya mengeluarkan epinefrin/ nor
epinefrin disebut serat adrenergik

1.2.4 Reseptor Otonomik


Pada organ-organ otonom terdapat reseptor simpatis/adrenergik yang disebut
adrenoresptor dan reseptor parasimpatis/kolinergik yang disebut kolinoseptor.

Adrenoseptor (reseptor simpatis/adrenergik):


Transmiter sistem simpatis (norepinefrin dan epinefrin) mempunyai 2 reseptor:
1. Reseptor alfa () : Alfa 1 (1) dan Alfa 2 (2)
2. Reseptor Beta (): Beta 1 (1) dan Beta 2 (2)

Kolinoseptor (reseptor parasimpatis/kolinergik):


Transmiter sistem parasimpatis (asetilkolin) mempunyai 2 reseptor:
1. Reseptor Muskarinik (M)
2. Reseptor Nikotinik (N)

Reseptor Presinap (Autoresptor):


Adalah reseptor yang berada pada ujung saraf (presinap). Fungsi reseptor ini adalah
pengaturan umpan balik, yaitu rangsangan pada reseptor presinap dapat menghambat
atau merangsang (meningkatkan) pengeluaran transmiter.
1.3. Berdasarkan macam-macam saraf otonom tersebut, maka obat berkhasiat pada
sistem saraf otonom digolongkan menjadi : 

1.      Obat yang berkhasiat terhadap saraf simpatik, yang diantaranya sebagai berikut:        
·     
a. Simpatomimetik atau adrenergik, yaitu obat yang meniru efek perangsangan dari saraf
simpatik (oleh noradrenalin). Contohnya, efedrin, isoprenalin, dan lain-lain. 
b. Simpatolitik atau adrenolitik, yaitu obat yang meniru efek bila saraf parasimpatik
ditekan atau melawan efek adrenergik, contohnya alkaloida sekale, propanolol, dan
lain-lain. 

2.      Obat yang berkhasiat terhadap saraf parasimpatik, yang diantaranya sebagai berikut
a. Parasimpatomimetik atau kolinergik, yaitu obat yang meniru perangsangan dari saraf
parasimpatik oleh asetilkolin, contohnya pilokarpin dan phisostigmin
b. Parasimpatolitik atau antikolinergik, yaitu obat yang meniru bila saraf parasimpatik
ditekan atau melawan efek kolinergik, contohnya alkaloida belladonna (atropine)
1.4.  ATROPIN
Atropine adalah alkaloid belladonna yang mempunyai afinitas kuat terhadap reseptor
muskarinik. Obat ini bekerja kompetitif antagonis dengan Ach untukmenempati
kolinoreseptor. Umumnya masa kerja obat ini sekitar 4 jam. Terkecuali, pada pemberian
sebagai tetets mata, masa kerjanya menjadi lama bahkan sampai beberapa hari

Farmakokinetik
Atropine mudah diabsorpsi sebagian dimetabolisme dalam hepar dan diekskresi ke
dalam urine. Waktu paruhnya sekitar 4 jam.
Farmakodinamik
Efek antikolinergik dapat emnstimulasi ataupun mendepresi bergantung pada organ
target. Di dalam otak, dosis rendah merangsang dan dosis tinggi mndepresi. Efek obat
ini juga ditetukan oleh kondisi yang akan diobati.  Misalnya Parkinson yang
dikarakteritsikan dengan defisiensi dopamine yang mengintensifkan eegfek stimulasi
Ach. Antimuskarinik menumpulkan atau mendepresi efek ini. Pada kasus lain, efek
obat ini pada SSP terlihat sebagai stimulator.

Efek pada mata – midriasi dapat sampai sikloplegia (tidak berakomodasi)


Saluran cerna – atropine digunakan sebagai antispasmodic (mungkin atropine merupakan
obat terkuat untuk menghambat saluran cerna). Obat ini tidak mempengaruhi sekresi
asam lambung sehingga tidak bermanfaat sebagai antiulkus.
Saluran kemih – atropin digunakan untuk menurunkan hipermotilitas kandung kemih dan
kadang-kadang masih digunakan untuk enuresis pada anak yang mengompol. Ole
karena itu, agonis alfa-aderenergik lebih efektif dengan efek samping yahng lebih
sedikit.
Kardiovaskular – efek atropine pada jantung bergantung pada besar dosis. Pada dosis kecil
menyebabkan bradikardi. Atropine dosis tinggi terjadi penyekatan reseptor kolinergik
di SA nodus dan denyut jantung sedikit bertambah (takikardi). Efek ini baru timbul
bila atropine diberi 1mg.
Kelenjar eksokrin – atropine menghambat sekressi kelenjar saliva sehingga mukosa mulut
menjadi kering ( serestomia). Kelenjar saliva sangat peka terhadap atriopin. Hambatan
sekresi kelenjar keringat menyebabkan suhutubh jadi naik, juga kelenjar air mata
mengalaami gangguan.

Indikasi klinis :
1) Efek midriasi atropine digunakan untuk diagnostic tes pada kelainan dalam
mata/retina.
2) Sebagai antisekretori pada waktu operasi.
3) Antispasmodic saluran cerna dan kandung kemih.
4) Antidotum obat-obat agoni kolinergik, seperti pada keracunan insektisisda karbamat,
organofosfat, dan jamur.

Efek Samping
ESO atropine sangat bergantung pada besarnya dosis yang diberikan. Atropine dapat
meyebabkan mulut kering, penglihatan kabur, mata rasa berpasir ( sandy eyes),
takkikardi, dan konstipasi. ESO pada SSp berupa rasa capek, bingung, halusinasi,
delirium yang dapat menjadi depresi, depresi napas dan kematian.

Interaksi Obat :
1) Aktifitas antikolinergik bisa meningkat oleh parasimpatolitikum lain.
2) Guanetidin, histamin, dan Reserpin dapat mengantagonis efek penghambatan
antikolinergik pada sekresi asam lambung.
3) antasida bisa mengganggu penyerapan Atropin.

1.5. PILOKARPIN
Alkaloid pilokarpin adalah suatu amin tersier yang stabil terhadap hidrolisis oleh
asetilkolinesterase. Pilokarpin termasuk obat yang lemah dibanding dengan asetilkolin
danturunanya. Aktivitas utamanya adalah muskarinik dan digunakan untuk oftalmologi.
 Farmakokinetik :
a) Penurunan tekanan intraokular maksimum terjadi dalam 1,5 – 2 jam setelah
b) pemberian ke sistem okular dan biasanya bertahan selama 7 hari. (AHFS, p. 2719).

Efek samping
perangsangan keringat dan salivasi yang berlebihan. Pilokarpin juga dapat masuk ke SSP dan
menimbulkan gangguan SSP.
1.6.MATA
Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan, yaitu
sklera/kornea, koroid/badan siliaris/iris, dan retina. Struktur mata manusia berfungsi utama
untuk memfokuskan cahaya ke retina. Semua komponen–komponen yang dilewati cahaya
sebelum sampai ke retina mayoritas berwarna gelap untuk meminimalisir pembentukan
bayangan gelap dari cahaya. Kornea dan lensa berguna untuk mengumpulkan cahaya yang
akan difokuskan ke retina, cahaya ini akan menyebabkan perubahan kimiawi pada sel
fotosensitif di retina. Hal ini akan merangsang impuls–impuls syaraf ini dan menjalarkannya
ke otak.

Gb.3.1 Anatomi Mata

Cahaya masuk ke mata melalui udara atau air, melewati kornea dan masuk ke dalam
aqueous humor. Refraksi cahaya kebanyakan terjadi di kornea dimana terdapat pembentukan
bayangan yang tepat. Aqueous humor tersebut merupakan massa yang jernih yang
menghubungkan kornea dengan lensa mata, membantu untuk mempertahankan bentuk
konveks dari kornea (penting untuk konvergensi cahaya di lensa) dan menyediakan nutrisi
untuk endothelium kornea. Iris yang berada antara lensa dan aqueous humor, merupakan
cincin berwarna dari serabut otot. Cahaya pertama kali harus melewati pusat dari iris yaitu
pupil. Ukuran pupil itu secara aktif dikendalikan oleh otot radial dan sirkular untuk
mempertahankan level yang tetap secara relatif dari cahaya yang masuk ke mata. Terlalu
banyaknya cahaya yang masuk dapat merusak retina. Namun bila terlalu sedikit dapat
menyebabkan kesulitan dalam melihat. Lensa yang berada di belakang iris berbentuk
lempeng konveks yang memfokuskan cahaya melewati humour kedua untuk menuju ke
retina.
Obat tetes mata atau Guttae Opthalmicae adalah sediaan steril berupa larutan atau
suspensi, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di
sekitar kelopak mata dan bola mata. Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh
sediaan tetes mata, yaitu:
1) Steril, jernih, dan bebas partikel
2) Sedapat mungkin isohidris dengan cairan mata yaitu pH 7,4. Sedangkan pH yang
masih bisa ditolerir adalah 3,5 – 10,5.
3) Sedapat mungkin isotonis, yang masih bisa diterima adalah 0,7 – 1,5 %.
4) Peringatan : sediaan tidak dapat digunakan 30 hari setelah dibuka.

1.7. CENDOCARPINE
Cendocarpin yang mengandung pilokarpin HCl. Sediaan ini berfungsi sebagai
miotik untuk pengobatan glaucoma. Glaukoma adalah penyakit mata dimana terdapat
peninggian tekanan intraokuler, yang bila cukup lama dan tekanannya cukup tinggi dapat
menyebabkan kerusakan anatomis dan fungsional. Pilokarpin HCl merupakan bahan obat
yang khas digunakan pada mata (opthalmologika) dengan kerja penyempit pupil (miotika).
Pilokarpin merupakan obat kolinergik golongan alkaloid tumbuhan, yang bekerja pada
efektor muskarinik dan sedikit memperlihatkan sedikit efek nikotinik sehingga dapat
merangsang kerja kelenjar air mata dan dapat menimbulkan miosis dengan larutan 0,5 - 3%.
Obat tetes mata dengan zat aktif pilokarpin berkhasiat menyembuhkan glaukoma dan mata
kering. Dosis pilokarpin yang paling umum digunakan untuk sediaan tetes mata adalah 1 –
4% .
Alkaloid pilokarpin terdapat pada daun tanaman Amerika yaitu Pilocarpus jaborandi.
Khasiat utamanya adalah sebagai muskarin, dengan efek nikotin yang ringan sekali. Awalnya
SSP distimulasi, kemudian ditekan aktivitasnya. Penggunaan utama pilokarpin adalah sebagai
miotikum pada glaukoma. Efek miotisnya dalam tetes mata dimulai sesudah 10-30 menit dan
bertahan 4-8 jam. Toleransi dapat terjadi setelah digunakan untuk waktu yang lama, yang
dapat ditanggulangi dengan jalan menggunakan kolinergik lain selama beberapa waktu
misalnya karbachol atau neostigmin. Dosis obat ini pada glaukoma adalah 2-4 dd 1-2 tetes
larutan 1-2% (klorida, nitrat).

1.8.CENDOTROPIN
Cendotropin mengandung atropin yang berkhasiat sebagai antikolinergik kuat dan
merupakan antagonis khusus dari efek muskarin Ach. Atropin juga memiliki kerja sedatif
pada SSP dan memiliki daya bronkodilatasi ringan berdasarkan peredaan otot polos bronchi.
Cendotropin memberi efek midriatik (efek pelebaran pupil mata) dan sikloplegik
(melumpuhan iris atau selaput pelangi mata). Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa
cendotropin memiliki efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal). Sementara itu,
belum ada penelitian yang Terkendali pada wanita mengenai efek cendotropin. Obat
seharusnya diberikan bila hanya keuntungan potensial memberikan alasan terhadap bahaya
potensial pada janin. Dosis sediaan ini sehari 1 tetes
PERTANYAAN
1 a. Bagaimana hasil percobaan dengan Atropin ?
b. Apakah ada perbedaan antara pemeriksaan ke 1, ke 2, dan ke 3 setelah
pemberian obat ?.

2 a. Bagaimana hasi percobaan dengan Pilocarpin ?


.
b. Apakah bedanya dengan hasil percobaan dengan Atropin ?
c. Apakah beda khasiat Atropin dan Pelocarpin pada mata ?
d. Bagaimana cara kerja Pilocarpine pada mata ?

Tabel Pengamatan

Kelp Kontrol Atropin Pilocarpin


10 20 30 10 20 30 10 20 30
Lebar pupil 8 8 8 9 10 10 5 4 4
I Refleks cahaya + + + + - - + + +
Pembuluh darah konjungtiva + + + ++ ++ ++ + - -
Lebar pupil 6 5 6 7 8 8 4 4 4
II Refleks cahaya + + + + - - + + +
Pembuluh darah konjungtiva + + + ++ ++ ++ + - -
Lebar pupil 7 7 7 9 9 10 5 4 4
III Refleks cahaya + + + - - - + + +
Pembuluh darah konjungtiva + + + ++ ++ ++ - - -
LEMBAR JAWABAN
NILAI :
LEMBAR JAWABAN