Anda di halaman 1dari 30

Tugas Makalah

Pertanian Berkelanjutan

PEMBANGUNAN PERTANIAN BERKELANJUTAN

NAMA : WAHYUNI EKA PUTRI


NIM : G021181033
KELAS : PERTANIAN BERKELANJUTAN B
DOSEN : Dr. Ir. NURBAYA BUSTHANUL, M.Si

PROGRAM STUDI AGRBISNIS


DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan paper ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah
ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya
di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat
sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis
mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah
Pertanian Berkelanjutan dengan judul “Pembangunan Pertanian Berkelanjtan”.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya
makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian
apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Makassar, 21 Februari 2020

Wahyuni Eka Putrri

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................i
KATA PENGANTAR.........................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................5
1.3 Tujuan..............................................................................................................6
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Pertanian Berkelanjutan......................................................................7
2.2 Definisi Sistem Pertanian Berkelanjutan.........................................................7
2.3 Tujuan Pertanian Berkelanjutan.......................................................................9
2.4 Konsep Umum Pertanian Berkenlajutan........................................................10
2.5 Pengembangan Teknologi Oleh Petani..........................................................14
2.6 Bentuk Pertanian Masa Depan Input Luar Rendah.......................................15
2.7 Sitem LEISA dan Pengembangannya............................................................16
2.8 Keterkaitan Petani dan Tenaga Ahli dalam Mengembangkan
Teknologi LEISA...........................................................................................18
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan....................................................................................................24
3.2 Saran..............................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................26

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang berarti Negara yang
mengandalkan sektor pertanian baik sebagai sumber mata pencaharian maupun
sebagai penopang pembangunan.Sektor pertanian meliputi subsektor tanaman
bahan makanan, subsektor holtikultura, subsektor perikanan, subsektor
peternakan, dan subsektor kehutanan. Pertanian merupakan salah satu sektor yang
sangat dominan dalam pendapatan masyarakat di Indonesia karena mayoritas
penduduk Indonesia bekerja sebagai petani. Namun produktivitas pertanian masih
jauh dari harapan.Salah satu faktor penyebab kurangnya produktivitas pertanian
adalah sumber daya manusia yang masih rendah dalam mengolah lahan pertanian
dan hasilnya. Mayoritas petani di Indonesia masih menggunakan sistem manual
dalam pengolahan lahan pertanian.
Pertanian merupakan salah satu sektor utama yang menunjang
perkembangan perekonomian Indonesia. Pada saat ini, sektor pertanian
merupakan sektor penghasil devisa bagi negara Indonesia. Banyak masyarakat di
Indonesia yang menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Jumlah petani di
Indonesia tahun 2013 pada sektor pertanian sebanyak 31.705.337 orang, subsektor
tanaman pangan 20.399.139 orang, hortikultura 11.950.989 orang, kehutanan
7.249.030 orang dan perkebunan 14.116.465 orang (Badan Pusat Statistik, 2014).
Pembangunan pertanian tidak dapat dilaksanakan hanya oleh
petani sendiri. Meningkatnya produksi pertanian adalah akibat pemakaian
teknik–teknik atau metoda-metoda didalam usahatani. Memang tidaklah
mungkin untuk memperoleh hasil yang banyak dengan hanya menggunakan
tanaman dan hewan yang itu juga, menggunakan tanah yang itu juga, dengan
cara yang tetap seperti dulu. Teknologi usaha tani sangat mempengaruhi
pembangunan pertanian. Teknologi usahatani berarti bagaimana cara melakukan
pekerjaan usahatani. Di dalamnya termasuk caracara bagaimana petani
menyebarkan benih dan memelihara tanaman. Termasuk pula di dalamnya alat
dan sumber tenaga (Mosher, 1997:79).

1
Dengan sistem agrobisnis sebagai perangkat penggerak pembangunan
pertanian, pertanian akan dapat memainkan peranan positif dalam pembangunan
nasional, baik dalam pertumbuhan, pemerataan, maupun stabilitas. Wajar, apabila
ternyata masyarakat pembangunan selalu dihadapkan pada kenyataan
bahwa sasarannya selalu meningkat di satu pihak padahal kendalanya ternyata
mengikat di pihak lainnya. Pencapaian semua tujuan dan sasaran yang menjadi
harapan itu tergantung kepada keandalan dari sistem agrobisnis/agroindustri
yang dikembangkan (Soetriono, 2006:155-156).
Pertanian berkelanjutan merupakan kegiatan pertanian yang berupaya
untuk memaksimalkan manfaat sosial dari pengelolaan sumber daya biologis
dengan syarat memelihara produktivitas dan efisiensi produksi komoditas
pertanian, memelihara kualitas lingkungan hidup, dan produktivitas sumber daya
sepanjang masa (Nasution dalam Salikin, 2003:12). Menurut Manuwoto (2010:
167), pembangunan pertanian harus mengisi pembangunan nasional yang
berwawasan lingkungan dengan pengembangan sistem pertanian yang
berwawasan lingkungan dengan menerapkan pendekatan agribisnis.
Sistem pertanian berkelanjutan dapat dilaksanakan dengan menggunakan
empat macam model, yaitu sistem pertanian organik, sistem pertanian terpadu,
sistem pertanian masukan luar rendah, dan sistem pengendalian hama terpadu.
(Salikin, 2003:51). Sistem pertanian terpadu merupakan salah satu bentuk dari
sistem pertanian berkelanjutan. Sistem pertanian terpadu adalah suatu sistem
pengelolaan tanaman, hewan ternak, dan ikan dengan lingkungannya untuk
menghasilkan suatu produk yang optimal dan sifatnya cenderung tertutup
terhadap masukan luar.
Pertumbuhan penduduk, keterbatasan lahan pertanian produktif,
ketersediaan lahan pertanian dan mingkatnya kebutuhan pangan (food) dan
serat (fiber) perlu upaya pengembangan Teknologi pertanian yang menggunakan
lahan secara efisien. Salah satu upaya tersebut adalah teknologi usahatani terpadu
(integrated farming system). Usahatani terpadu baik dalam satu unit usahatani
maupun dalam satu wilayah melibatkan berbagai aktivitas usahatani dengan pola

2
pengusahaan yang berbeda beda. Keterpaduan dalam sistem usahatani dicirikan
dengan adanya hubungan sinergis antara satu kegiatan atau cabang usahatani
dengan kegiatan usahatani lainnya (Maudi & Kusnadi, 2011: 77).
Sistem pertanian terpadu merupakan salah satu kegiatan diversifikasi
komoditas yang dapat dilakukan guna mengimbangi kebutuhan akan produk
pertanian terus meningkat melalui pemanfaatan hubungan simbiosis mutualisme
antar komoditas yang diusahakan, tanpa harus merusak lingkungan serta serapan
tenaga kerja yang tinggi. Penerapan sistem terpadu merupakan pilihan yang tepat
dalam upaya meningkatkan pendapatan petani dan sekaligus memanfaatkan
sumberdaya pertanian secara optimal (Sugandi dalam Astuti, 2011: 2).
Pengembangan sistem pertanian terpadu (SPT) yang diarahkan pada
kawasan pedesaan (rural) dan peri-urban (rurban) diharapkan mampu membangun
kemandirian petani yang berkelanjutan (ekonomi dan sosial yang meningkat serta
lestari). Keberhasilan pengembangan SPT diharapkan dapat mengendalikan alih
fungsi lahan. Pengembangan model SPT harus disesuaikan dengan sumberdaya
lokal agar keberhasilannya efektif dan efisien (Nurcholis & Supangkat, 2011: 83).
Sistem pertanian terpadu tidak saja dapat mengatasi kendala dari aspek
ekonomi dan permasalahan ekologis, tetapi juga menyediakan sarana produksi
yang diperlukan seperti bahan bakar, pupuk, dan makanan, di samping
produktivitas terus meningkat. Hal itu dapat mengubah sistem pertanian yang
penuh resiko (terutama di negara-negara miskin) ke arah sistem pertanian
ekonomis dan kondisi ekologi seimbang (Nurhidayati dkk, 2008: 32).
Dalam sistem pertanian terpadu ada tiga aspek yang perlu diperhatikan,
yaitu aspek ekonomi, aspek sosial , dan aspek lingkungan. Pada aspek ekonomi,
pendapatan dan biaya dapat dilihat sebagai layak tidaknya sistem pertanian
terpadu dapat dilaksanakan. Karena dengan penggunaan sistem pertanian terpadu
diharapkan pendapatan petani secara ekonomi dapat meningkat. Sedangkan pada
aspek sosial, kearifan lokal dan modal sosial yang ada pada suatu daerah dapat
digunakan untuk melihat layak tidaknya sistem pertanian terpadu dapat
dilaksanakan. Dengan kearifan lokal serta modal sosial yang ada, dapat dilihat
apakah sistem pertanian terpadu ini dapat berjalan dengan baik kedepannya. Pada
aspek lingkungan, pemanfaatan limbah dan penggunaan bahan organik dapat

3
digunakan sebagai tolak ukur pada sistem pertanian terpadu. Hal ini dikarenakan
dalam sistem pertanian terpadu, limbah yang dihasilkan sebisa mungkin minim
dan input dari luar juga minim.
Tanaman yang diintegrasikan dengan hewan ternak merupakan contoh dari
pertanian terpadu yang dapat dilaksanakan untuk dapat merubah sistem pertanian
yang penuh resiko ke arah sistem pertanian ekonomis dan ekologi seimbang.
Selain itu, pengintegrasian tanaman dengan ternak dapat ditambahkan dengan
melakukan proses agroindustri dari tanaman yang dibudidayakan. Menurut
Sutanto (2002: 135), ternak mempunyai peranan yang cukup besar dalam
meningkatkan pendapatan petani kecil. Hasil yang dapat dimanfaatkan adalah
daging, susu, telur, dll. Disamping itu, mempunyai peranan penting hubungannya
dengan budaya setempat.
Kegiatan pertanian merupakan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan
hidup manusia, terutama untuk memenuhi kebutuhan pangan yang semakin hari
semakin meningkat. Kebutuhan pangan yang semakin meningkat mengakibatkan
perkembangan pesat di bidang agroindustri dan adanya konsep green revolution
menyebabkan manusia lupa pada perhatiannya terhadap lingkungan.
Adanya peningkatan kebutuhan pangan tersebut menuntut produktivitas
lahan yang tinggi dan cederung merusak lahan dan lingkungan yang ada karena
penggunaan pupuk dan pestisida sintetik yang umumnya digunakan secara terus
menerus. Hal tersebut berdampak pada penurunan produksi dan produktivitas
suatu komoditas yang ditanam sehingga penggunaan lahan tidak optimal dan
kebutuhan pangan tidak terpenuhi. Oleh karena itu, masyarakat dunia mulai
memperhatikan input-input yang digunakan dalam kegiatan pertanian yang
bersifat ramah lingkungan namun menunjang produksi dan produktivitas tinggi.
Seiring dengan berjalannya waktu, perhatian masyarakat dunia terhadap
lingkungan semakin hari semakin meningkat. Tidak luput pula di bidang pertanian
yang banyak melibatkan sektor agroindustri dalam perkembangannya. Seiring
dengan perkembangan perhatian dunia terhadap lingkungan, maka
dicanangkanlah sistem pertanian berkelanjutan yang pada hakikatnya merupakan
sistem pertanian yang kembali kepada alam, yaitu sistem pertanian yang tidak
merusak, tidak mengubah, serasi, selaras dan seimbang dengan lingkungan atau

4
pertanian yang patuh dan tunduk pada kaidah-kaidah alamiah. Konsep
pembangunan berkelanjutan berorientasi pada tiga dimensi keberlanjutan, yaitu:
keberlanjutan usaha ekonomi (profit), keberlanjutan kehidupan sosial manusia
(people), keberlanjutan ekologi alam (planet), atau pilar Triple-P.
Apabila dilakukan secara terus menerus, sistem pertanian berkelanjutan
tentunya akan berpengaruh pada keberlanjutan usaha, ekologi dan keberlanjutan
kehidupan manusia. Berdasarkan data dan informasi tersebut maka penulis
merumuskan sebuah makalah yang berjudul “Pembangunan Pertanian
Berkelanjutan“ sehingga kedepannya sistem pembangunan pertanian
berkelanjutan bisa lebih baik lagi.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah berdasarkan latar belakang antara lain sebagai
berikut.
1. Jelaskan sejerah pertanian berkelanjutan !
2. Jelaskan definisi pertanian berkelanjutan !
3. Jelaskan tujuan pertanian berkelanjutan !
4. Jelaskan konsep pembangunan pertanian berkelanjutan !
5. Jelaskan pengembangan teknologi oleh petani !
6. Jelaskan bentuk pertanian masa depan dengan input luar rendah !
7. Jelaskan sustem LEISAdan pengembangannya !
8. Jelaskan keterkaitan petani dan tenaga ahli dalam mengembangkan
teknologi LEISA?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan berdasakan rumusan masalah antara lain sebagai berikut.
1. Mengetahui sejerah pertanian berkelanjutan !
2. Mengetahui definisi pertanian berkelanjutan !
3. Mengetahui tujuan pertanian berkelanjutan !
4. Mengetahui konsep pembangunan pertanian berkelanjutan !
5. Mengetahui pengembangan teknologi oleh petani !
6. Mengetahui bentuk pertanian masa depan dengan input luar rendah !

5
7. Mengetahui sustem LEISAdan pengembangannya !
8. Mengetahui keterkaitan petani dan tenaga ahli dalam mengembangkan
teknologi LIESA?

6
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Pertanian Berkelanjutan


Revolusi industri telah melahirkan beragam teknologi modern yang
membuat hampir semua yang bisa dilakukan manusia menjadi lebih cepat.
Berkembangnya teknologi industri juga merambah ke bidang pertanian dengan
ditemukannya beragam pupuk anorganik, pestisida, dan mesin-mesin untuk
mekanisasi pertanian. Dilihat dari satu sudut pandang dan dari satu dimensi
waktu, penemuan teknologi di bidang pertanian tersebut telah mampu
meningkatkan produktivitas lahan secara signifikan. Secara agroindustri, kenaikan
produksi pertanian per satuan waktu juga memberikan keuntungan yang lebih
besar. Akan tetapi, ketika dilihat dari sisi dan dimensi waktu yang lain,
penggunaan teknologi pertanian yang dikatakan modern tersebut telah membawa
dampak negatif yang tidak sedikit tingkat kerugian yang ditimbulkannya.
Berdasarkan alasan, kemudian mulai muncul konsep pertanian lingkungan.
Pada tahun 1980, istilah pertanian berkelanjutan digunakan untuk
menggambarkan suatu sistem pertanian alternatif berdasarkan pada konservasi
sumberdaya dan kualitas kehidupan di pedesaan. Sistem pertanian berkelanjutan
ditujukan untuk mengurangi kerusakan lingkungan, mempertahankan
produktivitas pertanian, meningkatkan pendapatan petani dan meningkatkan
stabilitas dan kualitas kehidupan masyarakat di pedesaan.
Pertanian berkelanjutan dipakai pertama kali oleh pakar FAO
sebagai sinonim dari agroekosistem. Agroekosistem merupakan modifikasi
ekosistem alamiah dengan campur tangan manusia untuk menghasilkan bahan
pangan, serat, dan kayu untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan manusia.
Agroekosistem didefinisikan sebagai upaya untuk memadukan produktivitas,
stabilitas, dan pemerataan.

7
2.2 Definisi Sistem Pertanian Berkelanjutan
Di kalangan pakar ilmu tanah atau agronomi, istilah sistem pertanian
berkelanjutan lebih dikenal dengan istilah LEISA (Low External Input
Sustainable Agriculture) yaitu sistem pertanian yang berupaya meminimalkan
penggunaan input (benih, pupuk kimia, pestisida dan bahan bakar) dari luar
ekosistem yang dalam jangka panjang dapat membahayakan kelangsungan hidup
sistem pertanian (Salikin, 2003).
Kata sustainable mengandung dua makna, yaitu maintenance dan prolong.
Artinya, pertanian berkelanjutan harus mampu merawat atau menjaga untuk
jangka waktu yang panjang.
Terdapat beberapa definisi sistem pertanian berkalanjutan, diantaranya yaitu:
1. Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah pemanfaatan
sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan
sumberdaya tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources) untuk
proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap
lingkungan seminimal mungkin. Keberlanjutan yang dimaksud meliputi:
penggunaan sumberdaya, kualitas dan kuantitas produksi, serta
lingkungannya. Proses produksi pertanian yang berkelanjutan akan lebih
mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap
lingkungan (Kasumbogo Untung, 1997).
2. Menurut Nasution (1995), pertanian berkelanjutan merupakan kegiatan
pertanian yang berupaya untuk memaksimalkan manfaat sosial dari
pengelolaan sumber daya biologis dengan syarat memelihara produktivitas
dan efisiensi produksi komoditas pertanian, memelihara kualitas
lingkungan hidup dan produktivitas sumber daya sepanjang masa.
Menurut Salikin yang menyitir dari Nasution (1995), terdapat beberapa
hal-hal yang harus diperhatikan dalam pertanian berkelanjutan, antara lain sebagai
berikut:
1. Sumber daya biologis harus dimanfaatkan atau dikelola sesuai dengan
kemampuan dan kodrat alaminya. Jika suatu sumber daya biologis
terpaksa dimanfaatkan melampaui batas kemampuan alamiahnya, dapat

8
dilakukan introduksi teknologi untuk mengompensasikan kekurangan
tersebut asalkan tidak menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih
serius.
2. Kualitas lingkungan hidup dan produktivitas sumber daya alam yang
diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sekurang-kurangnya
harus sama dengan kualitas lingkungan hidup dan produktivitas sumber
daya alam dari generasi sebelumnya.
3. Teknologi dan manajemen pertanian yang diterapkan tidak mengurangi
keragaman alamiah (biodiversity) yang ada.
4. Pengelolaan usaha tani diarahkan pada integrated and multiple use of
natural resources.
5. Usaha tani tidak menimbulkan limbah ataupun jika menimbulkan limbah,
limbah tersebut masih dapat dikendalikan.
6. Kuantitas dan kualitas komoditas pertanian yang dihasilkan harus dapat
memenuhi kebutuhan minimal manusia yang jumlah permintaannya
meningkat.
2.3 Tujuan Pertanian Berkelanjutan
Secara umum, pertanian berkelanjutan bertujuan untuk meningkatkan
kualitas kehidupan. Untuk mencapai hal tersebut perlu adanya kegiatan
meningkatkan pembangunan ekonomi, memprioritaskan kecukupan pangan,
meningkatkan pengembanga sumber daya manusia, menjaga stabilitas lingkungan,
memberdayakan dan memerdekakan petani dan memfokuskan tujuan
produktivitas untuk jangka panjang. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan
suatu pendekatan pertanian berkelanjutan yang bersifat proaktif (pro-active),
berdasarkan pengalaman (experiential) dan partisipatif (Salikin, 2003).
Para petani harus secara aktif mencari atau mengakses sumber-sumber
informasi yang berkaitan dengan pertanian yang mampu mendukung usaha tani
yang dilakukan. Misalnya: informasi teknologi baru. Petani juga harus mau
belajar dari pengalaman nyata baik melalui para petugas lapangan, studi banding
atau mengikuti pendidikan non-formal pada pelaku sistem pertanian berkelanjutan
yang sudah berhasil. Bentuk partisispatif aktif inilah yang menjadi dasar
kemandirian petani dalam melakukan usaha tani.

9
2.4 Konsep Umum Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
Usaha masyarakat internasional untuk menanggulangi kemorosotan
kondisi lingkungan hidup dalam konteks pembangunan ekonomi dan
pembangunan sosial telah dimulai di Stockholm, Swedia pada tahun 1972.
Kemudian United Nations Environment Programme (UNEP) pada tahun 1982
menyelenggarakan sidang istimewa memperingati 10 tahun gerakan lingkungan
dunia (1972-1982) di Nairobi, Kenya, sebagai reaksi ketidakpuasan atas
penanganan lingkungan hidup selama ini yang cenderung tidak lagi atau
mengabaikan kelestarian alam. Pada sidang tersebut disepakati pembentukan
Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan (World Commission on
Environment and Development-WCED). Pada tahun 1992 dilanjutkan sidang
pembangunan berkelanjutan di Rio de Janeiro, Brasil dan terakhir pada tahun
2002 dilakukan di Johannesburg, Afrika Selatan.
Istilah pembangunan berkelanjutan yang dalam bahasa Inggris disebut
“sustainable development” diperkenalkan dalam World Conservation Strategy
(Strategi Konservasi Dunia) diterbitkan oleh United Nations Environment
Programme (UNEP) pada tahun 1980. Konferensi PBB mengenai lingkungan dan
pembangunan (United Nations Conference on Environment and Development –
UNCED) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro tahun 1992 telah menetapkan
prinsipprinsip dasar dan program aksi untuk mewujudkan pembangunan
berkelanjutan. Kemudian KTT Johannesburg selain mencanangkan kembali
komitmen politik seluruh lapisan masyarakat internasional, juga telah meletakan
dasar-dasar yang patut dijadikan acuan dalam melaksanakan pembangunan
berkelanjutan di semua tingkatan dan sektor atau aspek pembangunan.
Sejak awal 1980-an bertepatan dengan dikeluarkannya Dokumen Strategi
Konservasi Bumi (World Conseravtion Strategy) oleh IUCN (International Union
for the Conservation of Nature), telah banyak dimunculkan berbagai definisi
tentang pembangunan berkelanjutan oleh para pakar maupun organisasi keilmuan.
Namun definisi yang secara umum diterima oleh masyarakat internasional adalah
definisi yang disusun oleh Bruntland Commission, yakni pembangunan

10
berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tanpa
menurunkan atau merusak kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya (WCED, 1987 dalam Dahuri, 1998).
Lain halnya dengan kebanyakan definisi pembangunan berkelanjutan yang
disusun oleh sebagian besar kelompok mitra konservasionis (deep ecologists),
definisi diatas tidak melarang aktivitas pembangunan ekonomi, tetapi
menganjurkannya dengan persyaratan bahwa laju (tingkat) kegiatan pembangunan
tidak melampaui daya dukung (caryying capacity) lingkungan alam. Dengan
demikian, generasi mendatang cukup memiliki asset sumber daya alam dan
jasa-jasa lingkungan (enviromental services) yang sama, atau kalau dapat lebih
baik dari generasi yang hidup sekarang.
Menurut Kerangka Segitiga Konsep Pembangunan Berkelanjutan, suatu
kegiatan pembangunan (termasuk pertanian dan agribisnis) dinyatakan
berkelanjutan, jika kegiatan tersebut secara ekonomis, ekologis dan sosial bersifat
berkelanjutan (Srageldin, 1996 dalam Dahuri, 1998). Berkelanjutan secara
ekonomis berarti suatu kegiatan pembangunan harus dapat membuahkan
pertumbuhan ekonomi, pemeliharaan kapital (capital maintenance) dan
penggunaan sumber daya serta investasi secara efisien. Berkelanjutan secara
ekologis mengandung arti bahwa kegiatan tersebut harus dapat mempertahankan
integritas ekosistem, memelihara daya dukung lingkungan dan konservasi sumber
daya alam termasuk keanekaragaman hayati (biodiversity). Sementara itu
berkelanjutan secara sosial, mensyaratkan bahwa suatu kegiatan pembangunan
hendaknya dapat menciptakan pemerataan hasil-hasil pembangunan, mobilitas
sosial, kohesi sosial dan pengembangan kelembagaan. Walau banyak variasi
definisi pembangunan berkelanjutan, termasuk pertanian berkelanjutan, yang
diterima secara luas ialah yang bertumpu pada tiga pilar : ekonomi, sosial, dan
ekologi (Munasinghe, 1993). Dengan perkataan lain, konsep pertanian
berkelanjutan berorientasi pada tiga dimensi keberlanjutan, yaitu: keberlanjutan
usaha ekonomi (profit), keberlanjutan kehidupan sosial manusia (people), dan
keberlanjutan ekologi alam (planet).

11
Dimensi ekonomi berkaitan dengan konsep maksimisasi aliran pendapatan
yang dapat diperoleh dengan setidaknya mempertahankan asset produktif yang
menjadi basis dalam memperoleh pendapatan tersebut. Indikator utama dimensi
ekonomi ini ialah tingkat efisiensi dan daya saing, besaran dan pertumbuhan nilai
tambah dan stabilitas ekonomi. Dimensi ekonomi menekankan aspek pemenuhan
kebutuhan ekonomi manusia baik untuk generasi sekarang ataupun mendatang.
Dimensi sosial, adalah orientasi kerakyatan, berkaitan dengan
kebutuhan akan kesejahteraan sosial yang dicerminkan oleh kehidupan
sosial yang harmonis (termasuk tercegahnya konflik sosial), reservasi keragaman
budaya dan modal sosio-kebudayaan, termasuk perlindungan terhadap
suku minoritas. Untuk itu, pengentasan kemiskinan, pemerataan kesempatan
berusaha dan pendapatan, partisipasi sosial politik dan stabilitas sosial
budaya merupakan indikator-indikator penting yang perlu dipertimbangkan
dalam pelaksanaan pembangunan.
Dimensi lingkungan alam, menekankan kebutuhan akan stabilitas
ekosistem alam yang mencakup sistem kehidupan biologis dan materi alam.
Termasuk dalam hal ini ialah terpeliharanya keragaman hayati dan daya dukung
biologis, sumber daya tanah, air dan agroklimat, serta kesehatan dan kenyamanan
lingkungan. Penekanan dilakukan pada preservasi daya lentur dan dinamika
ekosistem untuk beradaptasi terhadap perubahan bukan pada konservasi suatu
kondisi ideal statis yang mustahil dapat diwujudkan. Ketiga dimensi tersebut
saling mempengaruhi sehingga ketiganya harus dipertimbangkan secara
berimbang. Sistem sosial yang stabil dan sehat serta sumber daya alam dan
lingkungan merupakan basis untuk kegiatan ekonomi, sementara kesejahteraan
ekonomi merupakan prasyarat untuk terpeliharanya stabilitas sosial budaya
maupun kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup. Sistem sosial yang
tidak stabil atau sakit akan cenderung menimbulkan tindakan yang merusak
kelestarian sumber daya alam dan merusak kesehatan lingkungan, sementara
ancaman kelestarian sumber daya alam dan lingkungan dapat mendorong
terjadinya kekacauan
dan penyakit sosial.

12
Ada dua hal yang secara implisit menjadi perhatian dalam konsep
Brundtland tersebut. Pertama, menyangkut pentingnya memperhatikan kendala
sumber daya alam dan lingkungan terhadap pola pembangunan dan konsumsi.
Kedua, menyangkut perhatian pada kesejahteraan (well-being) generasi
mendatang. Hall (1998) menyatakan bahwa asumsi keberlanjutan paling tidak
terletak pada tiga aksioma dasar; (1) perlakuan masa kini dan masa mendatang
yang menempatkan nilai positif dalam jangka panjang; (2) menyadari bahwa aset
lingkungan memberikan kontribusi terhadap economic wellbeing; (3) mengetahui
kendala akibat implikasi yang timbul pada aset lingkungan.
Menurut Jaya (2004), konsep ini dirasakan masih sangat normatif sehingga
aspek operasional dari konsep keberlanjutan ini pun banyak mengalami kendala.
Perman et al. (1997) mencoba mengelaborasikan lebih lanjut konsep
keberlanjutan ini dengan mengajukan lima alternatif pengertian, yaitu: (1) suatu
kondisi dikatakan berkelanjutan (sustainable) jika utilitas yang diperoleh
masyarakat tidak berkurang sepanjang waktu dan konsumsi tidak menurun
sepanjang waktu (non-declining consumption), (2) keberlanjutan adalah kondisi
dimana sumber daya alam dikelola sedemikian rupa untuk memelihara
kesempatan produksi dimasa mendatang, (3) keberlanjutan adalah kondisi dimana
sumber daya alam (natural capital stock) tidak berkurang sepanjang waktu (non
declining), (4) keberlanjutan adalah kondisi dimana sumber daya alam dikelola
untuk mempertahankan produksi jasa sumber daya alam, dan (5) keberlanjutan
adalah adanya kondisi keseimbangan dan daya tahan (resilience) ekosistem
terpenuhi.
Senada dengan pemahaman diatas, Daly (1990) menambahkan beberapa
aspek mengenai definisi operasional pembangunan berkelanjutan, antara lain:
(1) untuk sumber daya alam yang terbarukan : laju pemanenan harus sama dengan
laju regenerasi (produksi lestari); (2) untuk masalah lingkungan: laju pembuangan
limbah harus setara dengan kapasitas asimilasi lingkungan; (3) sumber energi
yang tidak terbarukan harus dieksploitasi secara quasisustainable, yakni
mengurangi laju deplesi dengan cara menciptakan energi substitusi.

13
Selain definisi operasional diatas, Haris, 2000 melihat bahwa konsep
keberlajutan dapat diperinci menjadi tiga aspek pemahaman, pertama,
keberlajutan ekonomi yang diartikan sebagai pembangunan yang mampu
menghasilkan barang dan jasa secara kontinu untuk memelihara keberlanjutan
pemerintahan dan menghindari terjadinya ketidakseimbangan sektoral yang dapat
merusak produksi pertanian dan industri. Kedua, keberlanjutan lingkungan:
Sistem keberlanjutan secara lingkungan harus mampu memelihara sumber daya
yang stabil, menghindari eksploitasi sumber daya alam dan fungsi penyerapan
lingkungan. Konsep ini juga menyangkut pemeliharaan keanekaraman hayati,
stabilitas ruang udara, dan fungsi ekosistem lainnya yang tidak termasuk kategori
sumbersumber ekonomi. Ketiga, keberlanjutan sosial, keberlanjutan secara sosial
diartikan sebagai sistem yang mampu mencapai kesetaraan, penyediaan layanan
sosial termasuk kesehatan, pendidikan, gender dan akuntabilitas politik.
2.5 Pengembangan Teknologi Oleh Petani
Kemampuan petani dalam penerapan dan penguasaan teknologi pertanian
harus ditumbuhkan melalui kegiatan penyuluhan, pendidikan dan pelatihan.
Sedangkan untuk memperlancar keanekaragaman produksi serta meningkatkan
nilai tambah dan daya saing komoditi pertanian perlu dipacu melalui usaha
agroindustri dan agrobisnis.Untuk mewujudkan arah pembangunan sektor
pertanian tersebut, komponen teknologi pertanian muncul sebagai tulang
punggung. Bagaimanapun hanya melalui penggunaan teknologi yang maju sektor
pertanian bisa menjadi efisien dan tangguh.
Dalam buku Menggerakan dan Membangun Pertanian, A.T.Mosher
menjelaskan, bahwa teknologi yang senatiasa berubah merupakan syarat mutlak
adanya pembangunan pertanian. Kalau tidak ada perubahan dalam teknologi maka
pembangunan pertanian pun akan terhenti. Produksi terhenti kenaikannya, bahan
dapat menurun karena merosotnya kesuburan tanah atau karena kerusakan yang
makin meningkat oleh hama penyakit yang main merajalela.

14
Dengan demikian untuk makin tumbuh dan berkembangnya sektor
pertanian, maka pengembangan dan aplikasi teknologi pertanian sangat
diperlukan, dengan kata lain perlu dimasyarakatkan. Untuk mengantisipasi
perkembangan keadaan, masyarakat tani harus melek teknologi, paling tidak
mampu mengadopsi teknologi tepat guna dan diterapkan dalam usaha taninya.
Dalam sektor pertanian senantiasa terjadi perubahan teknologi (technology
change) dan muncul inovasi (innovation). Dalam beberapa dekade terakhir hal itu
terlihat jelas pada sub sektor tanaman pangan. Pengembangan teknologi pertanian
diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani dan nelayan;
memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha; mengisi dan memperluas
pasar dalam dan luar negeri; meningkatkan keanekaragaman hasil; meningkatkan
mutu dan derajat pengolahan produksi; dan menunjang pembangunan wilayah.
Hal itupun tertuang dalam program pembangunan bahkan semasa Orde Baru
berkuasa masuk dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN). (Atep
Afia, pengelola.
2.6 Bentuk Pertanian Masa Depan dengan Input Luar Rendah
Dalam mengembangangkan suatu sistem pertanian, kita harus
mengedepankan konsep keberlanjutan. Pemanfaatan teknologi pengelolaan lahan
serta konservasi sumberdaya air sangat penting untuk diterapkan dalam suatu
sistem pertanian yang berkelanjutan. Karena konsep sistem pertanian yang
berkelanjutan tergantung pada seluruh kemajuan dari sisi kesehatan manusia serta
kesehatan lahan.
Saat ini dikenal sebuah konsep Low Eksternal Input Sustainable
Agriculture (LEISA) yang merupakan penyangga dari konsep pertanian terpadu
dan pertanian yang berkelanjutan. Konsep ini mengedepankan pemanfaatan
sumber daya lokal sebagai bahan baku pola pertanian terpadu, sehingga nantinya
akan menjaga kelestarian usaha pertanian agar tetap eksis dan memiliki nilai
efektifitas, efisiensi serta produktifitas yang tinggi.  Dalam konsep ini
dikedepankan dua hal: yang pertama adalah memanfaatkan limbah pertanian
terutama sisa budidaya menjadi pakan ternak dan yang kedua adalah mengubah
limbah peternakan menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan kembali
dalam proses budidaya tanaman.

15
Konsep LEISA merupakan penggabungan dua prinsip yaitu agro-ekologi
serta pengetahuan dan praktek pertanian masyarakat setempat/tradisional. Agro-
ekologi merupakan studi holistik tentang ekosistem pertanian termasuk semua
unsur lingkungan dan manusia. Dengan pemahaman akan hubungan dan proses
ekologi, agroekosistem dapat dimanipulasi guna peningkatan produksi agar dapat
menghasilkan secara berkelanjutan, dengan mengurangi dampak negatif yang
ditimbulkan bagi lingkungan maupun sosial serta meminimalkan input
eksternal. Konsep ini menjadi salah satu dasar bagi pengembangan pertanian yang
berkelanjutan (Putri, 2012).
LEISA atau dikenal dengan penggunaan input luar rendah merupakan
salah satu pilihan untuk melengkapi bentuk–bentuk lain produksi pertanian.
LEISA tidak bertujuan untuk memaksimalkan produksi dalam jangka pendek,
namun untuk mencapai tingkat produksi yang stabil dan memadai dalam jangka
panjang. LEISA berupaya untuk mempertahankan dan dimana mungkin,
meningkatkan sumber daya alam serta memanfaatkan secara maksimal proses-
proses alami. Dengan beberapa teknik LEISA secara langsung dapat menerapkan
pengetahuan agroekologi petani maupun ilmuan, sehingga dalam pengelolahannya
dapat meningkatkan produktivitas dan jaminan serta menghindari dampak
terhadap lingkungan.
LEISA mengacu pada bentuk-bentuk pertanian sebagai berikut:
Berusaha mengoptimalkan sumber daya lokal yang ada dengan
mengkombinasikan berbagai macam komponen sistem usaha tani, yaitu tanaman,
hewan, tanah, air, iklim, dan manusia sehingga saling melengkapi dan
memberikan efek sinergi yang paling besar. Berusaha mencari cara pemanfaatan 
input luar hanya bila diperlukan untuk melengkapi  unsur-unsur yang kurang
dalam ekosistem dan meningkatkan sumber daya biologi, fisik, dan manusia.
Dalam memanfaatkan input luar, perhatian utama diberikan pada maksimalisasi
daur ulang dan minimalisasi kerusakan lingkungan.
2.7 Sistem LEISA dan Pengembangannya
Sistem LEISA adalah Pertanian berkelanjutan dengan input luar yang
rendah yang   mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam (tanah, air,

16
tumbuhan, tanaman dan hewan) dan manusia (tenaga, pengetahuan dan
ketrampilan) yang tersedia di tempat; dan yang  layak secara ekonomis, mantap
secara ekologis, adil secara sosial dan sesuai dengan budaya.Menurut Reijntjes et
al. (1999) dan Plucknert dan Winkelmann (1995), LEISA tidak bertujuan untuk
mencapai produksi maksimal dalam jangka pendek, melainkan untuk mencapai
tingkat produksi yang stabil dan memadai dalam jangka panjang.LEISA
merupakan suatu pilihan yang layak bagi petani dan bisa melengkapi bentuk-
bentuk
lain produksi pertanian. Sebagian besar petani tidak mampu untuk memanfaatkan
input buatan itu atau hanya dalam jumlah yang sangat sedikit, maka perhatian
perlu dipusatkan pada teknologi yang bisa memanfaatkan sumber daya lokal
secara efisien. Petani yang kini menerapkan HEIA, bisa saja mengurangi
pencemaran dan biaya serta meningkatkan efisiensi input luar dengan menerapkan
beberapa teknik LEISA.
LEISA (Low external input sustainable agriculture) tidak bisa
direpresentasikan sebagai solusi mutlak terhadap masalah-masalah pertanian dan
lingkungan yang mendadak di dunia ini, tetapi LEISA bisa memberikan
kontribusi yang berharga untuk memecahkan beberapa permasalahan tersebut:
LEISA terutama merupakan suatu pendekatan pada pembangunan pertanian yang
ditujukan pada situasi di daerah-daerah pertanian tadah hujan yang terabaikan
oleh pendekatan-pendekatan konvensional.Sistem pertanian LEISA mengacu pada
suatu susunan khusus dari kegiatan usaha tani (misalnya budi daya tanaman,
peternakan, pengolahan hasil pertanian) yang dikelola berdasarkan kemampuan
lingkungan fisik, biologis, dan sosioekonomis serta sesuai dengan tujuan,
kemampuan, dan sumber daya yang dimiliki petani. Usaha tani dengan kegiatan-
kegiatan yang serupa dikatakan mempraktekkan sistem pertanian tertentu. Istilah
pertanian di sini di pakai dalam arti luas yang meliputi bukan hanya tanaman dan
ternak, tetapi juga sumber daya alam lainnya yang ada pada petani, termasuk
sumber daya yang dimiliki bersama orang lain.
Metode LEISA mengacu pada bentuk-bentuk pertanian sebagai
optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal yang ada dengan mengkombinasikan
berbagai macam komponen sistem usaha tani, yaitu tanaman, ternak, ikan, tanah,

17
air, iklim, dan manusia sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi
yang paling besar. Pemanfaatan input luar dilakukan hanya bila diperlukan untuk
melengkapi unsur-unsur yang kurang dalam agroekosistem dan meningkatkan
sumber daya biologi, fisik, dan manusia. Dalam memanfaatkan input luar,
perhatian utama diberikan pada mekanisme daur ulang dan minimalisasi
kerusakan lingkungan.Metode LEISA tidak bertujuan memaksimalkan produksi
dalam jangka pendek, namun untuk mencapai tingkat produksi yang stabil dan
memadai dalam jangka panjang. LEISA berupaya mempertahankan dan sedapat
mungkin meningkatkan potensi sumber daya alam serta memanfaatkannya secara
optimal.Sistem pertanian berkelanjutan harus dibangun dengan fondasi sumber
daya yang dapat diperbaharui yang berasal dari lingkungan usaha tani dan
sekitarnya. Pengklasifikasian sumber daya internal dan eksternal akan sangat
membantu dalam memahami dan mengembangkan pertanian dengan model
LEISA. Dengan model LEISA, kekhawatiran penurunan produktivitas secara
drastis dapat dihindari,sebab penggunaan input-input luar masih diperkenankan,
sebatas hal tersebut sungguh-sungguh penting atau mendesak dan tidak ada
pilihan lain. Model LEISA masih menjaga toleransi keseimbangan antara
pemakaian
input internal dan input eksternal, misalnya penggunaan pupuk organik
diimbangi dengan pupuk TSP, pemakaian pestisida hayati dilakukan bersama-
sama dengan pestisida sintesis.
2.8 Keterkaitan Petani dan Tenaga Ahli dalam Mengembangkan
Teknologi LEISA
 Dalam mengembangkan sistem LEISA, petani dapat menyumbangkan
bukan saja pengetahuan mereka mengenai ekosistem dan budaya setempat, namun
juga pengalaman mereka dalam melakukan eksperimen informal dan penyesuaian
teknologi terhadap kondisi setempat. Pembaruan yang diteliti oleh petani dalam
menanggapi masalah dan kesempatan baru memberikan  indikasi penting adanya
peningkatan dalam cara-cara mereka dan dalam batasan-batasan biologi dan fisik
yang harus mereka tanggulangi.
Perwujudan sistem pertanian LEISA dapat dipercepat dengan
pengembangan teknologi partisipasi (PTP), yaitu suatu proses interaktif

18
kreatif dalam masyarakat dimana pengetahuan dan ilmu asli setempat
dikombinasikan untuk mencari solusi atas masalah petani.PTP melibatkan
kerjasama antara petani (organisasi petani) dan agen pembangunan (lembaga
penelitian penyuluh) untuk:
a. Menganalisis sistem agroekologi lokal,
b. Mendefinisikan masalah dan prioritas lokal,
c. Mengujicoba dengan berbagai macam solusi potensial,
d. Mengevaluasi hasil dan mengkomunikasikan penemuan dengan petani
lain.
Dalam PTP, Ilmuwan menyumbangkan hasil pengkajian dan penelitian
yang relevan untuk pelaksanaan sistem LEISA, dan petani mengembangkan
pengalaman yang dinilai efektif. Selama ini banyak petani yang melakukan
kegiatan usaha tani tertentu yang mungkin tidak mereka pahami aspek ilmiahnya,
namun secara turun temurun dilakukan karena menunjukkan hasil yang efektif.
Petani dan ilmuwan harus bekerja sama agar pengalaman praktis dan pemahaman
ilmiah dapat dipadukan sehingga diharapkan efektivitasnya meningkat. Misalnya,
salah satu kebiasaan petani mengendalikan gulma dengan memberi mulsa organik
(menggunakan organ-organ tumbuhan tertentu) merupakan aplikasi dari
mekanisme fisiologi tumbuhan, yaitu alelopati. Hal ini memberikan peluang yang
besar untuk dilakukan suatu penelitian.
Menurut Sihotang tahun 2009, sistem pertanian berkelanjutan harus
dievaluasi berdasarkan pertimbangan beberapa kriteria, antara lain:
1. Aman menurut wawasan lingkungan, berarti kualitas sumberdaya alam
dan vitalitas keseluruhan agroekosistem dipertahankan mulai dari
kehidupan manusia, tanaman dan hewan sampai organisme tanah dapat
ditingkatkan. Hal ini dapat dicapai apabila tanah terkelola dengan baik,
kesehatan tanah dan tanaman ditingkatkan, demikian juga kehidupan
manusia maupun hewan ditingkatkan melalui proses biologi. Sumberdaya
lokal dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga dapat menekan
kemungkinan terjadinya kehilangan hara, biomassa dan energi, dan
menghindarkan terjadinya polusi. Menitikberatkan pada pemanfaatan
sumberdaya terbarukan.

19
2. Menguntungkan secara ekonomi, berarti petani dapat menghasilkan
sesuatu yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dan cukup
memperoleh pendapatan untuk membayar buruh dan biaya produksi
lainnya. Keuntungan menurut ukuran ekonomi tidak hanya diukur
langsung berdasarkan hasil usaha taninya, tetapi juga berdasarkan fungsi
kelestarian sumberdaya dan menekan kemungkinan resiko yang terjadi
terhadap lingkungan.
3. Adil menurut pertimbangan sosial, berarti sumberdaya dan tenaga tersebar
sedemikian rupa sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat
dapat terpenuhi, demikian juga setiap petani mempunyai kesempatan yang
sama dalam memanfaatkan lahan, memperoleh modal cukup, bantuan
teknik dan memasarkan hasil. Semua orang mempunyai kesempatan yang
sama berpartisipasi dalam menentukan kebijkan, baik di lapangan maupun
dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.
4. Manusiawi terhadap semua bentuk kehidupan, berarti tanggap terhadap
semua bentuk kehidupan (tanaman, hewan dan manusia) prinsip dasar
semua bentuk kehidupan adalah saling mengenal dan hubungan kerja sama
antar makhluk hidup adalah kebenaran, kejujuran, percaya diri, kerja sama
dan saling membantu. Integritas budaya dan agama dari suatu masyarakat
perlu dipertahankan dan dilestarikan.
5. Dapat dengan mudah diadaptasi, berarti masyarakat pedesaan/petani
mampu dalam menyesuaikan dengan perubahan kondisi usahatani:
pertambahan penduduk, kebijakan dan permintaan pasar. Hal ini tidak
hanya berhubungan dengan masalah perkembangan teknologi yang
sepadan, tetapi termasuk juga inovasi sosial dan budaya.
Adapun beberapa kegiatan yang dapat menunjang dalam pelaksanaan
sistem pertanian berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan keuntungan
produktivitas pertanian dalam jangka panjang, meningkatkan kualitas lingkungan,
serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian Hama Terpadu
Pengendalian Hama Terpadu merupakan suatu pendekatan untuk
mengendalikan hama yang dikombinasikan dengan metode-metode biologi,

20
budaya, fisik dan kimia, dalam upaya untuk meminimalkan; biaya, kesehatan dan
resiko-resiko lingkungan. Adapun caranya dapat melalui:
- Penggunaan insek, reptil atau binatang-binatang yang diseleksi untuk
mengendalikan hama atau dikenal musuh alami hama, seperti
Tricogama sp.,sebagai musuh alami dari parasit telur dan parasit larva
hama tanaman.
- Menggunakan tanaman-tanaman “penangkap” hama, yang berfungsi
sebagai pemikat (atraktan), yang menjauhkan hama dari tanaman
utama.
- Menggunakan drainase dan mulsa sebagai metode alami untuk
menurunkan infeksi jamur, dalam upaya menurunkan kebutuhan
terhadap fungsidasintetis.
- Melakukan rotasi tanaman untuk memutus populasi pertumbuhan hama
setiap tahun.
2. Sistem Rotasi dan Budidaya Rumput
Sistem pengelolaan budidaya rumput intensif yang baru adalah dengan
memberikan tempat bagi binatang ternak di luar areal pertanian pokok yang
ditanami rumput berkualitas tinggi, dan secara tidak langsung dapat menurunkan
biaya pemberian pakan. Selain itu, rotasi dimaksudkan pula untuk memberikan
waktu bagi pematangan pupuk organik. Areal peternakan yang dipadukan dengan
rumput atau kebun buah-buahan dapat memiliki keuntungan ganda, antara lain
ternak dapat menghasilkan pupuk kandang yang merupakan pupuk untuk areal
pertanian.
3. Konservasi Lahan
Beberapa metode konservasi lahan termasuk penanaman alur, mengurangi
atau tidak melakukan pembajakan lahan, dan pencegahan tanah hilang baik oleh
erosi angin maupun erosi air. Kegiatan konservasi lahan dapat meliputi:
- Menciptakan jalur-jalur konservasi.
- Menggunakan dam penahan erosi.
- Melakukan penterasan.
- Menggunakan pohon-pohon dan semak untuk menstabilkan tanah.
4. Menjaga Kualitas Air/Lahan Basah

21
Konservasi dan perlindungan sumberdaya air telah menjadi bagian penting
dalam pertanian. Banyak diantara kegiatan-kegiatan pertanian yang telah
dilaksanakan tanpa memperhatikan kualitas air. Biasanya lahan basah berperan
penting dalam melakukan penyaringan nutrisi (pupuk anoraganik) dan pestisida.
Adapun langkah-langkah yang ditujukan untuk menjaga kualitas air, antara lain:
- Mengurangi tambahan senyawa kimia sintetis ke dalam lapisan tanah
bagian atas (top soil) yang dapat mencuci hingga muka air tanah (water
table).
- Menggunakan irigasi tetes (drip irrigation).
- Menggunakan jalur-jalur konservasi sepanjang tepi saluran air.
- Melakukan penanaman rumput bagi binatang ternak untuk mencegah
peningkatan racun akibat aliran air limbah pertanian yang terdapat pada
peternakan intensif.
5. Tanaman Pelindung
Penanaman tanaman-tanaman seperti gandum dan semanggi pada akhir
musim panen tanaman sayuran atau sereal, dapat menyediakan beberapa manfaat
termasuk menekan pertumbuhan gulma (weed), pengendalian erosi, dan
meningkatkan nutrisi dan kualitas tanah.
6. Diversifikasi Lahan dan Tanaman
Bertanam dengan memiliki varietas yang cukup banyak di lahan pertanian
dapat mengurangi kondisi ekstrim dari cuaca, hama pengganggu tanaman, dan
harga pasar. Peningkatan diversifikasi tanaman dan jenis tanaman lain seperti
pohon-pohon dan rumput-rumputan, juga dapat memberikan kontribusi terhadap
konservasi lahan, habitat binatang, dan meningkatkan populasi serangga yang
bermanfaat. Beberapa langkah kegiatan yang dilakukan:
- Menciptakan sarana penyediaan air, yang menciptakan lingkungan bagi
katak, burung dan binatang-binatang lainnya yang memakan serangga
dan insek.
- Menanam tanaman-tanaman yang berbeda untuk meningkatkan
pendapatan sepanjang tahun dan meminimalkan pengaruh dari
kegagalan menanam sejenis tanaman saja.
7. Pengelolaan Nutrisi Tanaman

22
Pengelolaan nutrisi tanaman dengan baik dapat meningkatkan kondisi
tanah dan melindungi lingkungan tanah. Peningkatan penggunaan sumberdaya
nutrisi di lahan pertanian, seperti pupuk kandang dan tanaman kacang-kacangan
(leguminosa) sebagai penutup tanah dapat mengurangi biaya pupuk anorganik
yang harus dikeluarkan. Beberapa jenis pupuk organik yang bisa digunakan antara
lain:
- Pengomposan
- Penggunaan kascing
- Penggunaan Pupuk Hijauan (dedaunan)
- Penambahan nutrisi pada tanah dengan emulsi ikan dan rumput laut.
8. Pemasaran
Petani dan peternak mengakui bahwa meningkatkan pemasaran merupakan
suatu langkah untuk mendapatkan keuntungan yang lebih baik. Adapun cara yang
dapat dikembangkan antara lain:
- Pemasaran langsung melalui surat permintaan, pasar petani, restoran
lokal, supermarket, dan kios-kios pasar tradisional.
- Menggunakan bisnis usaha kecil produk lokal sebagai bahan
mentahmakanan olahan.

23
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan pembangunan pertanian berkelanjutan sebagai berikut
1. Pertanian berkelanjutan adalah kembali manusia kepada alam, yaitu sistem
pertanian yang tidak merusak, tidak mengubah, serasi, selaras, dan
seimbang dengan lingkungan atau pertanian yang patuh dan tunduk pada
kaidah-kaidah alamiah. Dalam pengelolaannya, sistem pertanian
berkelanjutan yang berwawasan lingkungan dilakukan melalui
pemanfaatan sumber daya alam secara optimal, lestari dan
menguntungkan, sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk
kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang.
2. Konsep LEISA ini adalah suatu konsep yang merupakan penggabungan
dua prinsip yaitu agro-ekologi serta pengetahuan dan praktek pertanian
masyarakat setempat/tradisional. Menurut Sihotang tahun 2009, sistem
pertanian berkelanjutan harus dievaluasi berdasarkan pertimbangan
beberapa kriteria, antara lain: aman menurut wawasan lingkungan,
menguntungkan secara ekonomi, adil menurut pertimbangan sosial,
manusiawi terhadap semua bentuk kehidupan, dan dapat dengan mudah
diadaptasi.
3. Sifat sistem pertanian berkelanjutan adalah mempertahankan fungsi
ekologis, berlanjut secara ekonomis, adil manusiawi, dan luwes.
4. Indikator  dari sistem pertanian berkelanjutan adalah menghasilkan produk
pertanian yang berkualitas dengan kuantitas memadai, membudidayakan
tanaman secara alami, mendorong dan meningkatkan siklus hidup biologis
dalam ekosistem pertanian, memelihara dan meningkatkan kesuburan
tanah jangka panjang, menghindarkan seluruh bentuk cemaran yang

24
diakibatkan penerapan teknik pertanian,memelihara keragaman genetik
sistem pertanian.

5. Aplikasi pada penerapan yang terdapat pada sistem pertanian


berkelanjutan adalah engendalian hama terpadu, sistem rotasi dan
budidaya rumput, konservasi lahan, menjaga kualitas air/lahan basah,
tanaman pelindung, diversifikasi tanaman dan lahan, pengolahan nutrisi
tanaman, dan agroforestry.
3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang tidak perna luput
dari kesalahan, sehingga secara pribadi penulis sangat megharapkan adanya kritik
dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini agar
nantinya dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca khususnya bagi penulis sendiri.

25
DAFTAR PUSTAKA

De Foresta H and Michon G, 1997. The agroforest alternative to Imperata


grasslands: when smallholder agriculture and forestry reach
sustainability. Agroforestry Systems 36:105-120. Diakses pada Selasa,
26 Agustus 2014.

Hairiah, Kurniatun., Widianto dan Sunaryo. 2009. Sistem Agroforestri di


Indonesia. World Agroforestry. Diakses melalui
http://www.worldagroforestry.org/sea/publications/files/lecturenote/ln00
34-04/ln0034-04-2.pdf. Pada Selasa, 26 Agustus 2014.

Jaya, A. 2004. Konsep Pembangunan Berkelanjutan (Sutainable Development).


Tugas Individu Semester Ganjil 2004. Pengantar Falsafah Sains (PPS-
702). Program S3 Institut Pertanian Bogor.

Kasumbogo, Untung. 1997. Peranan Pertanian Organik Dalam Pembangunan


yang Berwawasan Lingkungan. Makalah yang Dibawakan Dalam
Seminar Nasional Pertanian Organik. Diakses pada Selasa, 26 Agustus
2014.

Kementerian Pertanian. 2010. Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2010-


2014. Kementrian Pertanian, Jakarta.

Lubis, D.P. 2009. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Mendukung


Pembangunan Pertanian Berkelanjutan.

Munasinghe. M. 1993. Environmental Economics and Sustainable Development.

Nasution, L.I. 1995. Pertanian Berkelanjutan dalam Kaitannya dengan Kegiatan


Pendidikan Tinggi Pertanian. Gramedia Pustaka, Jakarta. Diakses pada
Selasa, 26 Agustus 2014.

Outerbridge, P. B . 1991. Limbah Padat di Indonesia. Jakarta. Yayasan Obor


Indonesia.

Pranadji, T. 2005. Keserakahan, Kemiskinan dan Kerusakan Lingkungan : Pintu


Gerbang Pencermatan dan Penguatan Nilai-nilai Budaya Indonesia pada
Milenium ke-3. Analisis Kebijakan Pertanian, Volume 3, Nomor 4. Pusat
Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Putri, Fiadini. 2012. Pertanian yang Berkelanjutan. BBPP-Lembang. Diakses


melalui http://bbpp-lembang.info/index.php/en/arsip/artikel/artikel-
pertanian/609-pertanian-yang-berkelanjutan. Pada Selasa, 26 Agustus
2014.

26
Salmani. 2011. Pembagunan Berkelanjutan dan Implikasinya di Indonesia. Bahan
Mata Kuliah Keseimbangan Lingkungan dan Pembangunan. IPB.

Sumarno. 2010. Green Agriculture dan Green Food sebagai strategi Branding
dalam Usaha Pertanian. Forum Agro Ekonomi, volume 28, Nomor 2.
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Sumodiningrat, G. 2000. Pembangunan Ekonomi melalui Pengembangan


Pertanian. PT. Bina Rena Pariwara (Cetakan Pertama). Jakarta.

Suryana, A. 2005. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Andalan Pembangunan


Nasional. Makalah dibawakan pada Seminar Sistem Pertanian
Berkelanjutan untuk Mendukung Pembangunan Nasional tanggal 15
Pebruari 2005 di Universitas Sebelas Maret Solo.

Teruo Higa. 1997. EM Technology Serving The World. Jakarta. Seminar Nasional


Pertanian Organik.

Trubus No. 363. 2000. Pertanian Organik. Jakarta. Yayasan Tani Membangun.

27