Anda di halaman 1dari 10

Alergi Makanan: Mekanisme, diagnosis, dan tatalaksana

Abstrak
Alergi Makanan (AM) adalah bidang yang dinamis. Tidak hanya berevousi,
alergi makanan juga meningkat secara prevalensi dan insidensi di seluruh dunia.
Istilah 'Alergi makanan' sering disalahgunakan, tidak hanya oleh pasien, keluarga
pasien tetapi juga oleh para profesional kesehatan. Semua reaksi yang merugikan
makanan secara keliru dilabeli sebagai 'Alergi makanan'. Hal ini harus disadari dan
dihindari untuk membuat evaluasi, diagnosis, dan manajemen yang tepat.

Pendahuluan
Alergi Makanan (AM) adalah bidang yang dinamis. Tidak hanya berevousi,
alergi makanan juga meningkat secara prevalensi dan insidensi di seluruh dunia.
Istilah 'Alergi makanan' sering disalahgunakan, tidak hanya oleh pasien, keluarga
pasien tetapi juga oleh para profesional kesehatan. Semua reaksi yang merugikan
makanan secara keliru dilabeli sebagai 'Alergi makanan'. Hal ini harus disadari dan
dihindari untuk membuat evaluasi, diagnosis, dan manajemen yang tepat.
Survei menunjukkan bahwa prevalensi alergi makanan berdasarkan persepsi
publik mencapai 60%, sedangkan prevalensi sebenarnya sekitar 2-8%. FA lebih sering
terjadi pada masa kanak-kanak (6-8%) dibandingkan dengan orang dewasa (1-2%)
[1]. 
Ada beberapa alasan yang diketahui dan tidak diketahui yang mengubah
gambaran alergi makanan di seluruh dunia. Di negara maju, sensitivitas kacang telah
meningkat dua kali lipat selama beberapa dekade terakhir. Di negara berkembang
(yaitu India, Cina), prevalensi sensitivitas / alergi kacang jauh lebih sedikit, walaupun
konsumsi kacang jauh lebih tinggi. Akhir-akhir ini juga telah diamati bahwa
pengenalan dini dari 'makanan yang memicu alergi' pada bayi dan anak-anak di awal
kehidupan tampaknya benar-benar mengurangi kejadian alergi yang berkembang di
masa kanak-kanak [2]
Faktor gaya hidup seperti aktivitas, paparan terhadap hewan, mikroba, jumlah
anggota keluarga, obesitas, asupan makanan olahan, penggunaan antibiotik, paparan
terhadap asap tembakau (rokok), paparan sinar matahari, dan faktor psikologis
tampaknya berperan. Faktor genetik bersama dengan interaksi lingkungan tampaknya
mempengaruhi pola alergi baik untuk inhalansia maupun makanan. Di negara-negara
berkembang seperti India, Cina, Rusia dan beberapa negara lain, telah dicatat bahwa
ada hubungan terbalik antara sensitisasi dan alergi. Alasan pastinya masih belum
diketahui dan bisa jadi tidak spesifik.

Definisi:
1. Adverse Food reaction: Terminologi generik yang mencakup semua reaksi yang
tidak diinginkan terhadap makanan
2. Alergi makanan: Imunologis (IgE) (Susu, Telur, Kacang) atau reaksi Non
Imunologis (Non IgE) (Penyakit Celiac) 
3. Intoleransi makanan: Metabolik (defisiensi Laktase)Food adversion: Psikologis
4. Food toxicity (Food poisoning): Toxin dari bakteri, organisme dekomposer
(keracunan ikan scromboid)
5. Food idiosyncrasy: Mekanisme yang tidak diketahui (pelepasan histamin non-
spesifik.
Karena penggunaan terminologi yang membingungkan ini, ada dikotomi yang
signifikan antara persepsi publik dan prevalensi alergi makanan yang sebenarnya.

Mekanisme terjadinya alergi makanan.


Mayoritas anak-anak tidak mengalami alergi makanan. Alergen makanan
umumnya imunogen merupakan lemah. Saluran pencernaan manusi memiliki
mekanisme unik dalam melindungi diri dari terjadinya alergi terhadap beberapa
antigen makanan yang kita konsumsi setiap hari. Glycocalyx adalah lapisan lengket di
sepanjang permukaan mukosa yang menjadi seal yang melindungi sel-sel intestinal
serta membentuk barrier yang mampu menjebak partikel makanan. Ini adalah sistem
barrier yang efisien dan penting untuk menjaga integritas epitel. Terlepas dari sistem
barrier yang efisien, sekitar 2 persen antigen makanan yang dicerna akan diserap
dalam bentuk yang stabil secara imunologis.
Toleransi oral: - Antigen makanan umumnya merupakan imunogen lemah. Antigen
presenting cells dalam saluran GI dikatakan “tidak profesional” dan tidak mampu
memunculkan respons sel T. Sel-sel Treg (T regulator) serta flora usus juga berperan
dalam penyebaran toleransi oral. Menyusui eksklusif juga mendorong perkembangan
toleransi oral.
Peran mikrobiota usus: - Mikrobiota yang menghuni usus sehat normal sebagian
besar adalah gram negatif dan melepaskan endotoksin, yang melalui proses
mengaktifkan sel B luminal untuk secara istimewa menghasilkan antibodi IgA dan
IgG dan dengan demikian menjaga integritas mukosa. Di sisi lain, gangguan
mikrobiota sehat normal seperti dysbiosis, akan mengaktifkan sel B luminal untuk
secara istimewa menghasilkan IgE menggantikan IgA dan IgG dan meningkatkan
kerentanan terhadap penyakit alergi.
Penggunan dini antibiotik spektrum luas pada tahun pertama kehidupan dan
operasi caesar akan mengganggu perkembangan mikrobiota normal yang sehat dalam
usus yang mengakibatkan dysbiosis dan kecenderungan terjadinya alergi.

Allergi Makanan yang diperantarai oleh IgE: 

Sensitisasi terhadap alergen makanan dapat terjadi dalam dua cara berbeda: 

Istilah sensitisasi alergi menggambarkan induksi pertama respons imun


setelah pertemuan alergen. Dua rute sensitisasi alergi telah ditetapkan. 

Alergen makanan kelas 1 (misalnya, susu, telur, atau kacang tanah) adalah alergen
oral yang menyebabkan sensitisasi melalui saluran pencernaan. 

Alergen makanan kelas 2 adalah aeroallergen (mis., Alergen utama birch pollen Bet v
1) yang menyebabkan sensitisasi melalui saluran pernapasan. Respons imun terhadap
alergen ini dapat bereaksi silang dengan alergen makanan homolog (mis. Alergen apel
utama Mal d 1) untuk menyebabkan gejala.

Pada individu yang memiliki kecenderungan genetik (karena barrier epitel yang
rusak/ toleransi oral yang lemah): antigen makanan bocor melalui usus untuk
memfasilitasi sensitasi → paparan ulang antigen makanan → antibodi IgE spesifik yang
berada pada sel mast dan basofil di usus mengikat alergen makanan yang dicerna→
pelepasan beberapa mediator dan sitokin yang bertanggung jawab atas kaskade klinis dari
suatu reaksi alergi.
Alergi Makanan yang tidak diperantarai IgE (Non IgE): Sejumlah gangguan
hipersensitivitas yang dimediasi non IgE juga telah diidentifikasi. Mekanisme pasti
yang terlibat dalam gangguan tersebut masih menjadi bahan perdebatan dalam situasi
tertentu. Alergi makanan yang dimediasi non IgE meliputi berbagai gangguan yang
mempengaruhi banyak sistem.
A. Saluran gastrointestinal: - 

Food Protein Induced Enterocolitis Syndrome[FPIES],

Food Protein-Induced Allergic Proctocolitis[FPIAP]

Food Protein-Induced Enteropathy[FPE],

Celiac Disease

and Cow Milk Allergy Induced Anaemia.

B. Kulit

Dermatitis kontak karena makanan dan Dermatitis Herpetiformis

Combined IgE-Mediated and T Cell-Mediated Gastrointestinal


Disorders: Eosinophilic Esophagitis

Tes diagnostik pada Alergi Makanan: 

Dalam reaksi yang diperantarai imunoglobulin E (IgE), ada komponen berikut yang harus
dipertimbangkan untuk diagnosis. 

1. Riwayat klinis menyeluruh untuk mengidentifikasi kemungkinan alergen penyebab

2. Demonstrasi IgE spesifik alergen dengan skin prick testing(SPT) atau tes darah in vitro
(ispecific IgE immunoassay) 

3. Menentukan apakah paparan alergen penyebab akan menyebabkan gejala , dilihat dari


riwayat atau denngan challenge, jika dibutuhkan

1. Investigasi alergi makanan

Tes kulit dan in vitro tes IgE spesifik serupa dalam banyak hal. Keduanya
menunjukkan bahwa pasien memiliki antibodi IgE yang diarahkan terhadap alergen
makanan, yang menunjukkan bahwa pasien telah tersensitisasi. 

Sensitisasi harus mendahului perjalanan penyakit alergi tetapi tidak cukup dengan
sendirinya untuk membenarkan diagnosis alergi makanan. Oleh karena itu, pengujian
IgE spesifik membantu untuk mengkonfirmasi diagnosis alergi terhadap makanan
tertentu, tetapi penggunannya terbatas jika diinterpretasikan tanpa atau dalam konteks
klinis yang tidak sesuai.3

Tes kulit sering lebih disukai daripada tes darah karena tes kulit lebih murah (terutama
ketika banyak makanan harus diuji), tes kulit juga dapat menunjukkan hasil dalam 20 menit
dan hasilnya dapat dilihat secara visual oleh pasien. Tes serum IgE lebih disukai daripada
pengujian kulit ketika: 

a. Pasien tidak memiliki kulit yang sehat untuk pengujian (mis. Dermatitis atopik parah atau
dermografi); 

b. Reaksi pasien adalah anafilaksis dan dokter tidak mau mengambil risiko bahkan dengan tes kulit;
dan 

c. Pasien tidak dapat berhenti menggunakan antihistamin. 

 2.Tes kulit pada alergi makanan 

Studi tentang aeroallergens menunjukkan bahwa tes kulit pada umumnya lebih sensitif
daripada tes IgE spesifik in vitro4, 5 meskipun sebuah studi tentang susu sapi dan alergi telur pada
anak-anak menunjukkan korelasi yang baik antara keduanya.6 
Untuk mengurangi kemungkinan hasil negatif palsu, pasien harus berhenti menggunakan
antihistamin sebelum pengujian kulit. Lamanya waktu penarikan tergantung pada sifat antihistamin.
Sebagai contoh, antihistamin kerja lama seperti loratadine dan cetirizine harus dihindari selama 10
hari dan yang bertindak pendek seperti chlorpheniramine dan diphenhydramine selama 3 hari
sebelum tes.7

Reagen tes kulit tersedia secara komersial untuk banyak alergen makanan umum. Keuntungan
lain dari tes kulit adalah fleksibilitasnya. Bahan uji ditempatkan pada kulit (biasanya pada bagian
volar engan bawah atau punggung pada anak-anak) dan kulit dicungkit melewati reagen,hingga
menembus dermis, tanpa mengeluarkan darah. Respons kulit dibaca dalam 15 hingga 20 menit.
Histamin positif dan kontrol negatif selalu dimasukkan dalam tes.

3. Pengukuran IgE spesifik alergen 

Pengukuran konsentrasi IgE spesifik alergen dalam serum pasien alergi → metode standar
untuk menetapkan bahwa sensitisasi alergen telah terjadi. Uji radioallergosorbent (RAST)
adalah metode yang biasa dilakukan, tetapi metode enzim (misalnya, enzim neon immunoassay,
FEIA) lebih umum digunakan sekarang.

Metode klasik yang walaupun tidak disupport dengan evidens, adalah dengan menunggu
selama 4 hingga 6 minggu untuk berlalu setelah reaksi hipersensitivitas yang dimediasi-IgE
sebelum menguji konsentrasi IgE spesifik karena IgE dikonsumsi selama reaksi, dan tes
mungkin negatif palsu.

4. Interpretasi hasil 

Pada tes kulit, respon wheal (swelling) dan flare (kemerahan) dalam 15 atau 20 menit
dicatat. Agar tes kulit dapat ditafsirkan, kontrol positif harus menunjukkan respons yang kuat
dan kontrol negatif minimal atau tidak ada respons. Wheal yang lebih besar dari 3 mm dianggap
sebagai positif. 8

Tes tusuk kulit untuk alergen makanan umumnya memiliki nilai prediksi negatif yang lebih
baik daripada nilai prediksi positif. Keseluruhan akurasi prediksi positif adalah <50% dengan
akurasi prediksi negatif> 95%. Dengan kata lain, ketika tes kulit negatif, dilaporkan sebagai
peluang 90% bahwa pasien tidak alergi terhadap makanan tertentu. Ketika tes positif, angka
kepercayaan lebih rendah, itulah sebabnya hasil ini harus diikuti oleh uji makanan, dalam
konteks klinis yang sesuai.
Konsentrasi IgE spesifik secara tradisional dilaporkan dalam bentuk kelas, meskipun
peralatan modern mampu memberikan hasil kuantitatif yang tepat. Tabel 1 menunjukkan tujuh
kelas dan level IgE kuantitatif dari satu bentuk tes yang biasa digunakan.9
Walaupun hasil 2 kelas keatas dikelompokkan sebagai positif, akan lebih baik
untuk mengetahui konsentrasi IgE kuantitatif juga.

ORAL FOOD CHALLENGES


Oral food challenges dilaksanakan dengan memberikan pasien makanan yang
dicurigai dalam observasi dokter. Terdapat beberapa kondisidimana oral food
challenges dalam pengawasan dokter dibutuhkan untuk mendiangnosis alergi
makanan
1. Secara umum, ketika beberapa makanan dipertimbangkan sebagai penyebab
gejala, hasil tes untuk IgE spesifik positif, nilai prediktif positif dari skin test positif
untuk makanan hanya 50%→ perlu untuk melakukan oral challange untuk
mempertibangkan mengenai reintroduksi bahan makanan
2. Jika tes untuk IgE spesifik positif palsu , oral challange menjadi satu-satunya
metode diagnosis.
3. Oral challenges juga merupakan bagian integral dalam pemantauan pasien yang
cenderung kehilangan reaktivitas klinis mereka terhadap makanan yang dimaksud.
Karena tes kulit dapat tetap positif selama bertahun-tahun setelah pencapaian
toleransi klinis terhadap makanan tertentu, Oral challenges sering kali merupakan
satu-satunya cara untuk menentukan apakah alergi telah “menjadi lebih parah”.

Penelitian saat ini mengenai Alergi Makanan: 

Semenjak fokus telah bergeser ke pencegahan infeksi dalam menjaga lingkungan lebih steril
dan interaksi minimalis antara manusia, hewan dan mikrobiota, mulai terlihat lonjakan penyakit
alergi sejak akhir 1990-an. Telah terjadi peningkatan alergi makanan dalam dua dekade terakhir
dengan kesadaran akan makanan umum yang menyebabkan alergi makanan. Saat ini, fokus
penelitian adalah pada pengobatan dan tindakan apa pun yang dapat membantu dalam pencegahan
alergi makanan.
Meskipun beberapa penelitian, awalnya telah menunjukkan beberapa hasil yang menjanjikan
dari produk bakteri dalam mencegah Dermatitis Atopik dan augmentasi toleransi oral berkelanjutan
dalam imunoterapi makanan oral10, tidak semua penelitian telah menjanjikan. Saat ini, tidak ada
rekomendasi untuk penggunaan produk mikroba dalam pengobatan atau pencegahan alergi
makanan oleh organisasi Alergi Dunia.
Rekomendasi sebelumnya dari penghindaran makanan yang sangat alergenik di Barat ditarik
karena penelitian gagal menunjukkan efek yang sama.
Studi LEAP ((Learning Early about Peanut Allergy)11 dari Inggris, adalah studi yang sangat
menarik, yang melibatkan bayi berisiko tinggi (dengan alergi telur, eksim atau keduanya) yang
diacak dalam dua kelompok konsumsi kacang tanah dan penghindaran kacang tanah. Mereka
melaporkan bahwa dalam kelompok konsumsi kacang tanah, berisiko terkena alergi kacang tanah,
menunjukkan pengurangan kemungkinan 70-80% alergi kacang. Hal ini menyebabkan diubahnya
guidelines yang mendukung makanan penyapihan sesuai usia dan tidak ada peran penghindaran
makanan yang sangat "allergenic", yang penting untuk nutrisi anak yang sedang tumbuh.

Banyak penelitian telah berlangsung dengan hasil yang menjanjikan, untuk


memberikan toleransi kekebalan yang berkelanjutan terhadap makanan alergi dengan
konsumsi makanan ini dalam desensitisasi makanan dengan Imunoterapi Oral (OIT)
atau imunoterapi sublingual (SLIT). Toleransi: makanan dapat dicerna tanpa
munculnya gejala alergi meskipun ada periode penarikan.
Ada bukti yang menjanjikan tentang pemberian adjuvant dari Omalizumab
dengan beberapa alergen makanan OIT dan telah terbukti mempersingkat waktu
(sekitar 67 minggu) untuk terjadinya toleransi terhadap makanan ini dalam Fase 1
dari percobaan ini, menghemat waktu sekitar 67 minggu jika mereka telah
12.
mengalami desensitisasi terhadap makanan individu Ada beberapa masalah luar
biasa dengan OIT. Sifat sebagian besar percobaan yang tidak terkontrol, parameter
yang berbeda termasuk dalam metode dan heterogenitas dalam protokol. Tetapi
waktu mungkin sudah siap untuk praktik OIT dalam praktik klinis di tahun-tahun
mendatang.
Sebagai kesimpulan, ketika kita menghadapi peningkatan prevalens alergi
makanan sebagai bagian dari Allergic March, waktu telah tiba untuk membangun
pengetahuan yang tersedia dan untuk membuat studi baru yang dapat memberi kita
lebih senjata dalam waktu dekat.

Petunjuk singkat: 

1. Dalam skenario klinis, penekanannya masih pada riwayat klinis dan pemeriksaan klinis yang
baik, demonstrasi reaksi termediasi IgE dengan makanan yang dicerna berkorelasi baik dengan tes
tusuk kulit atau uji in-vitro, edukasi pasien tentang penghindaran makanan penyebab dan
pengobatan reaksi alergi. 

2. Praktisi medis harus mempertimbangkan konteks di mana ia berpraktek dan kondisi pasien
ketika memilih antara pengujian kulit dan pengujian IgE spesifik in vitro.

3. Skin prick tests merupakan metode yang aman, cepat, murah (dibandingkan dengan IgE spesifik
serum) dan mudah dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan aman bahkan pada masa bayi dengan
risiko minimal. Lebih baik dilakukan oleh petugas yang terlatih dengan teknik ini. Ini memiliki
korelasi sedang hingga baik (dengan sensitivitas 50-60% dan spesifisitas 80-90%) dengan IgE
spesifik serum dalam alergi makanan. Ini meyakinkan untuk pasien dengan kontraindikasi / akses
untuk tes karena hasilnya kemungkinan akan cocok.
4. Praktisi tidak boleh melakukan sejumlah besar tes IgE spesifik untuk menyaring
alergi ketika diagnosis alergi makanan yang dimediasi IgE belum ditetapkan. 

5. Makanan umum yang menyebabkan alergi: susu, telur, gandum, ikan, kacang tanah dan
lainnya. Karena itu, biasanya skin prick tests untuk sekitar 8-10 makanan akan dapat mendiagnosis
sebagian besar alergi makanan.

6. Semua tes harus diinterpretasikan dalam konteks riwayat klinis, yang harus
mengarahkan saran tentang penghindaran makanan tertentu, daripada penghindaran sebagian besar
makanan. Kesalahpahaman tentang alergi makanan ada karena korelasi hasil tes positif dengan
makanan tertentu (baik dengan tes tusuk kulit atau serum IgE spesifik) untuk memiliki alergi
makanan. 14

7. 7.OFC adalah baku emas untuk konfirmasi alergi makanan. Dalam sebagian besar kasus,
kombinasi riwayat yang akurat dan pengujian alergi (baik dengan tes tusuk kulit atau IgE spesifik
serum) dapat secara akurat mendiagnosis atau mengecualikan alergi makanan. OFC mungkin
diperlukan hanya jika riwayat atau hasil tes atau keduanya tidak meyakinkan.

8. Alergi makanan dapat menyebabkan reaksi anafilaksis, jika tidak dikenali dan diobati,
dapat mengancam jiwa. Penggunaan Epinefrin intramuskular (0,3 mg uanak-anak di atas 30 kg, 0,15
mg untuk anak-anak <30 kg, dengan dosis berulang jika diperlukan) tidak boleh ditunda dalam kasus
seperti itu, bersama dengan manajemen yang mendukung. Pengujian selanjutnya untuk alergen
makanan harus ditunda hingga 4-6 minggu.

9. Meskipun ada hasil yang menjanjikan dalam peran probiotik dalam pencegahan atau
menambah proses desensitisasi atau Imunoterapi Oral (OIT) dari beberapa uji klinis, saat ini belum
ada rekomendasi untuk penggunaannya dalam praktik klinis oleh asosiasi Alergi Dunia.

10. Mengingat hasil studi LEAP dan yang serupa, ada lebih banyak penekanan pada
pengenalan makanan penyapihan yang tepat sesuai usia di Barat. Hal ini dapat dikaitkan dengan
fakta yang sama bahwa alergi makanan kurang lazim dalam skenario India karena makanan
penyapihan yang sesuai usia secara tradisional diikuti dalam rumah tangga India.

11. Tidak ada peran untuk menguji IgE total serum / jumlah eosinofil absolut dalam
diagnosis alergi makanan karena tidak memberikan informasi yang berguna mengenai diagnosis,
prognosis atau Tatalaksana.
12. Anak-anak dengan dermatitis atopik sedang hingga berat dapat mengambil manfaat
dari pemeriksaan untuk menilai alergi makanan.Pemeriksaan harus ditafsirkan dalam konteks dan
dikonfirmasi dengan food challenges dan, jika perlu, penghindaran makanan. Dalam kebanyakan
situasi, tes-tes ini harus dilakukan oleh spesialis berpengalaman dalam mengobati alergi makanan.