Anda di halaman 1dari 9

TUGAS INDIVIDU

SUBINOVULUSI UTERI

Nama : Beverly E.N Langi

Nim : 0130840036

DOSEN PENGAMPUH : dr.Jefferson Nelson Munthe, Sp.OG

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
2020
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Nifas merupakan proses alamiah yang dialami oleh seorang wanita setelah persalinan, yang berlangsung kira-kira 6
minggu, yang dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan
sebelum hamil, namun ada kalanya masa nifas tidak berjalan dengan normal dikarenakan sebab yang abnormal
seperti terjadinya sub involusi terkhususnya rahim ibu, yang menyebabkan kondisi ibu memburuk. Subinvolusi of
uterus adalah terganggunya proses involusi uterus pada ibu karena keabnormalan pasca nifas. Banyak diantara
wanita yang dalam masa nifas ( kehamilan ) itu kurang memperhatikan kesehatan dari kehamilannya hanya
memperhatikan pada bayi yang dikandungnya, sehingga banyak sekali kesalahpahaman atau ke abnormalan pada
ibu. Dalam peneliiannya apabila ibu hamil hal yang sangat diperhatikan adalah proses kelancarannya nifas, padahal
dalam masa kandungan kesehatan ibu juga harus diprioritaskan, bukan hanya pada kesehatan bayi yang dikandung
sehingga sering terjadi ke abnormalan pada proses persalinan pada ibu. Terkhususnya proses involusi rahim. Maka
dari itu seorang dokter harus memahami tentang masa nifas baik fisiologis maupun patologis, dan mengetahui sebab
akibat, penatalaksanaan, manifestasi klinisnya, klasifikasi sub involusi yang terjadi. Supaya seorang dokter harus
bisa lebih mengerti proses nifas bukan hanya pada kelahiran bayi tetapi juga memprioritaskan kesehatan ibu.
Sehingga dapat memberikan asuhan dengan tepat sesuai dengan standar asuhan kedokteran yang baik dan benar
sesuai kode etik dan aturan-aturan dalam kedokteran.

2. Rumusan masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan Subinvolusi uterus ?
b. Bagaimana cirri-ciri dan cara mendiagnosa Subinvolusi uterus ?
c. Bagaimana cara mengatasi subinvolusi uterus ?

3. Tujuan penelitian
a. Tujuan umum :
Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang subinvolusi uterus penanganannya dan
pencegahannya.
b. Tujuan khusus :
Untuk mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, diagnosi, klasifikasi, pencegahan, penatalaksanaan,
prognosis dan komplikasi pada subinvolusi uterus.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Subinvolusi adalah kegagalan uterus untuk mengikuti pola normal involusi/proses involusi rahim tidak berjalan
sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilan uterus terhambat. Subinvolusi merupakan istilah yang digunakan
untuk menunjukkan kemunduran yang terjadi pada setiap organ dan saluran reprodukif, kadang lebih banyak
mengarah secara spesifik pada kemunduran uterus yang mengarah ke ukurannya. ( Varney’s Midwivery ).
Subinvolusi adalah kegagalan perubahan fisiologis pada system reproduksi pada masa nifas yang terjadi pada setiap
organ dan saluran yang reproduktif. Subinvolusi adalah kegagalan rahim untuk kembali ke keadaan tidak hamil.
Penyebab paling umum adalah infeksi plasenta.

( Lowdermilk, perry. 2006 )

Subinvolusi uteri adalah proses kembalinya uterus ke ukuran dan bentuk seperti sebelum hamil yang tidak sempurna
( Adelle Pillieri, 2002 ). Subinvolusi adalah kegagalan uterus untuk mengikuti pola normal involusi, dan keadaan ini
merupakan salah satu dari penyebab umum perdarahan pascapartum ( Barbara, 2004 )

B. ETIOLOGI

a. Status gizi ibu nifas buruk ( kurang gizi )

b. Ibu tidak menyusui bayinya.

c. Kurang mobilisasi

d. Usia

e. Parietas

f. Terdapat bekuan darah yang tidak keluar

g. Terdapat sisa plasenta dan selaput dalam uterusnya, sehingga proses involusi uterus tidak berjalan dengan normal.

h. Tidak ada kontraksi

i. Terjadi infeksi pada endometrium

j. Inflamasi

k. Terdapat sisa plasenta dan selaputnya

l. Terdapat bekuan darah

m. Mioma uteri

C. PATOFISIOLOGI

Kekurangan darah pada uterus. Kekurangan darah ini bukan hanya karena kontraksi dan retraksi yang cukup lama,
tetapi disebabkan oleh pengurangan aliran darah yang pergi ke uterus di dalam perut ibu hamil, karena uterus harus
membesar menyesuaikan diri dengan pertumbuhan janin. Untuk memenuhi kebutuhannya, darah banyak dialirkan
ke uterus dapat mengadakan hiertropi dan hiperplasi setelah bayi dilahirkan tidak diperlukan lagi, maka pengaliran
darah berkurang, kembali seperti biasa. Demikian dengan adanya hal-hal tersebut uterus akan mengalami
kekurangan darah sehingga jaringan-jaringan otot uterus mengalami atrofi kembali ke ukuran semula.

Subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah yang lebar tidak menutup
sempurna, sehingga pendarahan terjadi terus menerus, menyebabkan permasalahan lainnya baik itu infeksi maupun
inflamasi pada bagian rahim khususnya endromatrium. Sehingga proses involusi yang mestinya terjadi setelah nifas
terganggu karena akibat dari permasalahan-permasalahan diatas.

D. MANIFESTASI KLINIS

Biasanya tanda dan gejala subinvolusi tidak tampak sampai kira-kira 4 – 6 minggu pasca nifas.

a. Fundus uteri letaknya tetap tinggi didalam abdomen/pelvis dari yang diperkirakan penurunan fundus uteri
lambat dan tonus uterus lembek.
b. Keluaran kochia seringkali gagal berubah dari bentuk rubra ke bentuk serosa, lalu kebentuk kochia alba
c. Lochia bisa tetap dalam rubra dalam waktu beberapa hari postpartum/ lebih dari 2 minggu pasca nifas.
d. Lochia bisa lebih banyak daripada yang di perkirakan
e. Leukore dan lochia berbau menyengat bisa terjadi infeksi
f. Pucat, pusing dan tekanan darah rendah
g. Bisa terjadi perdarahan postpartum dalam jumlah yang banyak ( >500ml)
h. Nadi lemah, gelisah, letih, ekstrmitas dingin.

E. DIAGNOSA

a. Anamnesa

Ibu mengatakan darah yang keluar dari vagina berbau menyengat dan merasa badannya panas.

b. Pemeriksaan fisik

1). Terlihat pucat

2). Suhu tubuh tinggi

3). Uterus tidak berkontraksi

4). Letak fundus uteri tetap tinggi atau enurunan fundus

F. CARA PEMERIKSAAN

a. Pemeriksaan penunjang

- USG

- Radiologi

- Laboratorium ( Hb, golongan darah, eritrosit, leukosit, trombosit, hematokrit, CT, Blooding time )

b. Terapi

- Pemberian antibiotika
- Pemberian uterotonika

- Pemberian tanfusi

- Dilakukan kerokan bila disebabkan karena tertinggalnya sisa plasenta

G. KLASIFIKASI

1. Subinvolusi tempat plasenta

Kegagalan bekas tempat implantasi untuk berubah

- Tanda dan gejala


Tempat implantasi masih meninggalkan parut dan menonjol perdarahan
- Penyebab.
Tali pusat putus akibat dari traksi yang berlebihan Inversio uteri sebagai akibat tarikan.
- Tidak ada regenerasi endometrium ditempat implantasi plasenta, tidak ada pertumbuhan kelenjar
endometrium perdarahan.

2. Subinvolusi ligament

Yaitu kegagalan ligament dan diafragma pelvis fasia kembali seperti sedia kala

Tanda dan gejala :

- Ligamentum rotandum masih kendor

- Ligamen, fasia dan jaringan alat penunjang serta alat genitalia masih kendor.

Penyebab :

- Sering melahirkan

- Faktor umur

- Ligamen, fasia dan jaringan penunjang serta alat genitalia sudah berkurang elastisitasnya.

3. Subinvolusi serviks

Kegagalan serviks berubah kebentuk semula seperti sebelum hamil

- Tanda dan gejala :


- konsistensi serviks lembek
- perdarahan

- Penyebab :

- Multi paritas

- Terjadi rupture saat persalinan


- Lemahnya elastisitas serviks

4. Subinvolusi lochea

Yaitu tidak ada perubahan pada konsistensi lochea. Seharusnya lochea berubah secara normal sesuai dengan fase
dan lamanya postpartum.

- Tanda dan gejala :


 Perdarahan tidak sesuai dengan fase
 Darah berbau menyengat
 Perdarahan
 Demam, menggigil
- Penyebab :
 Bekuan darah pada serviks
 Uterus tidak berkontraksi
 Posisi ibu terlentang sehingga menghambat darah nifas untuk keluar.
 Tidak mobilisasi
 Robekan jalan lahir
 Infeksi
5. Subinvolusi vulva vagina

Tidak kembalinya bentuk dan konsistensi vulva dan vagina seperti semula setelah beberapa hari postpartum.

- Tanda dan gejala


 Vulva dan vagina kemerahan
 Terlihat oedem
 Konsistensi lembek
- Penyebab :
 Elastisitas vulva dan vagina lemah
 Infeksi
 Terjadi robekan vulva dan vagina saat partus
 Ekstrasi cunam
6. Subinvolusi perineum

Tidak ada perubahan perineum setelah beberaa hari persalinan.

- Tanda dan gejala


 Perineum terlihat kemerahan
 Konsistensi lembek
 Udem
- Penyebab
 Tonus otot perineum sudah lemah
 Kurangnya elastisitas perineum
 Infeksi

H. PENATALAKSANAAN

1. Dapatkan sampel locea untuk kultur

2. Pemeriksaan USG dapat dilakukan untuk mengindentifikasi fragmen yang tertahan didalam uterus

3. Methergin atau ergotrate 0,2 mg setiap 3-4 jam selama 3 hari dpat di programkan.Antibiotika spectrum luas bisa
di tambahkan jika uterus nyeri tekan setelah 2 minggu.

4. Beberapa praktisi merekomendasikan terapi awal dengan antibiotic, dengan pertimbangan ternyata infeksi
merupakan factor yang sering di temukan pada involusi yang terlambat.

5. Pengobatan alternative:

> kupuntur digunakan dalam terapi lokia yang berlebihan

> Refleksologi : terapi pada hipofisis dan zona uterus dikaki dapat meredakan subinvolusi sehingga tidak perlu di
temukan intervensi medis.

I. PENCEGAHAN

Pencegahan terjadinya subinvolusi uterus adalah melakukan pengecekan perkembangan nifas dan ibunya, baik dari
segi kesehatan dan fungsinya. Sejak awal mulainya proses nifas dalam kandungan ibu. Sehingga pemeriksaan
terhadap bagian-bagian yang berpengaruh dalam proses nifas bisa dilihat perkembangannya.

BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Nifas merupakan proses alamiah yang di alami seorang wanita setelah persalinan yang berlangsung kira-
kira 6 minggu yang dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil. Namun ada kalanya masa nifas tidak berjalan dengan normal dikarenakan sebab
yang abnormal seperti terjadinya sub involusi, yang menyebabkan kondisi itu memburuk.
Sub involusi adalah kegagalan uterus untuk mengikuti pola normal involusi / proses involusi rahim tidak
berjalan sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilan uterus terhambat. Maka dari itu seorang dokter
harus memahami tentang masa nifas baik fisiologis maupun patologis, dan mengetahui sebab akibat,
penatalaksaan, manifestasi klinisnya, klasifikasi penyakitnya dan pencegahan bahkan mengetahui
penanganan yang baik, sesuai klasifikasi subinvolusi yang terjadi. Supaya seorang dokter harus bisa
mengerti proses nifas bukan hanya pada kelahiran bayi, tetapi juga memprioritaskan kesehatan ibu.
Sehingga dapat memberikan asuhan dengan tepat sesuai dengan standar asuhan kedokteran yang baik dan
benar sesuai kode etik dan aturan-aturan dalam kedokteran.

B. SARAN
Seorang dokter ataupun bidan harus memahami tentang masa nifas baik fisiologis maupun patologis
sehingga dapat memberikan asuhan kebidanan dengan tepat sesuai standar asuhan kebidanan dank kode
edit dan kesehatan ibu dan bayi terjamin dan aman.
DARTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif dkk. 2001. Kapita selekta kedokteran. Jakarta : media Aesculapius
Mochtar, Rustam. 1998. Synopsis obstetric. Jakarta : penerbitan buku kedokteran EGC.
Prawirohardjo, sarwono, ilmu kebidanan, 2005. Yayasan bina pustaka sarwono.