Anda di halaman 1dari 19

TUGAS MATA KULIAH MATA

“STRABISMUS”

Disusun Oleh :

Kelompok 10

AND THRESYA P. MSIREN 20160811014033


AHMAD FAHRUL 20160811014034
JEFRI TUNA 20160811014035
PAUL DIMITRIO MAMBRI RUMANSARA 20160811014037
SIR CLIFORD N.S APASERAY 20160811014038
STEVEN LOGO 20160811014039
FERNANDO OEDHOEDE YEWUN 20160811014043
CICI MARICHE SALAMUK 20160811014046
DAMARIS WAISIMON 20160811014048

Dosen Pengampu :

dr. Livia, Sp.M

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2020

SOAL
1. Apasajaototekstraokular, inervasisertaaksinya?
2. Ada berapajenispergerakan bola mata?
3. Jelaskanapa yang dimaksuddengan strabismus?
4. JelaskanmengenaihukumHering dan Sherrington!
5. Apa yang dimaksuddengan Yoke muscles!
6. Apa yang dimaksuddenganpenglihatanbinokulartunggal?
7. Bagaimanamenilaiposisi bola mata?
8. Apaperbedaan strabismus paralitik dan non paralitik?
9. Bagaimanapenatalaksaanpasiendengan strabismus?
10. Jelaskanmengenaiambliopia, etiologisertatatalaksananya!
JAWABAN


1. APA SAJA OTOT
EKSTRAOKULAR,INERVASI SERTA
AKSINYA ?

Otot Ekstraokular

Otot bola mata terdiri dari otot


intrinsik yang bersifat involunter
dan otot ekstrinsik yang bersifat
volunter. Otot intrinsik terdapat di
dalam bola mata, terdiri dari
muskulus siliaris, muskulus
sfingter iris, dan muskulus dilator
iris. Otot ekstrinsik yaitu otot
ekstraokular, merupakan otot yang
terdapat di luar bola mata dan
berfungsi untuk mengatur
pergerakan dari bola mata. Otot
ekstraokular terdiri dari empat otot
rektus, yaitu muskulus rektus
superior, muskulus rektus inferior,
muskulus rektus medial, muskulus
rektus lateral; serta dua otot oblik,
yaitu muskulus oblik superior dan
muskulus oblik inferior.

Anatomi Otot Ekstraokular

Origo dari keempat otot rektus terletak pada annulus Zinn, yaitu struktur cincin fibrotendinosa
pada bagian apeks rongga orbita. Keempat otot rektus berjalan. sepanjang dinding orbita, lalu
berinsersi ke bagian anterior dari ekuator bola mata. Jarak antara lokasi insersi otot rektus
terhadap tepi limbus bertambah panjang secara bertahap, mulai dari insersi otot rektus medial,
lalu ke arah rektus inferior, rektus lateral, dan rektus superior. Jarak insersi otot rektus ini
membentuk suatu kurva imajiner yang disebut spiral Tillaux . Otot oblik superior berasal dari
apeks orbita, sebelah atas dari annulus Zinn, berjalan sepanjang dinding superomedial orbita, lalu
melewati struktur troklea yang merupakan bagian dari os frontal, kemudian melewati bagian
bawah otot rektus superior, sebelum akhirnya berinsersi ke bagian posterior dari ekuator bola
mata pada kuadran superotemporal. Otot oblik inferior berasal dari periosteum os maksila,
sebelah lateral dari fossa lakrimalis, berjalan melewati bagian bawah rektus inferior dan rektus
lateral, lalu berinsersi ke bagian posterior dari ekuator bola mata pada kuadran inferotemporal, di
sekitar area macula.

Vaskularisasi Otot Ekstraokular

Otot ekstraokular mendapatkan vaskularisasi cabang muskular arteri oftalmikus. Cabang


muskular lateral memberikan vaskularisasi kepada otot rektus lateral, rektus superior, oblik
superior; sedangkan cabang muskular medial memberikan vaskularisasi kepada otot rektus
inferior, rektus medial, oblik inferior. 3 Arteri lainnya seperti arteri lakrimal, arteri infraorbital,
dan arteri siliar anterior turut memberikan sebagian vaskularisai tambahan bagi otot ekstraokular.
Sistem vena berjalan paralel dengan sistem arteri. Sistem vena terdiri empat vena vorteks pada
bagian posterior bola mata, lalu diteruskan ke drainase sistem vena orbita yang terdiri dari vena
oftalmika dan sinus kavernosa.

Inervasi Otot Ekstraokular

Otot ekstraokular mendapatkan inervasi dari tiga nervus kranial. Nervus kranial III (nervus
okulomotor) memiliki dua divisi. Divisi superior memberikan inervasi 4 kepada otot rektus
superior, sedangkan divisi inferior memberikan inervasi kepada otot rektus medial, rektus
inferior, dan oblik inferior. Nervus kranial IV (nervus troklear) memberikan inervasi kepada otot
oblik superior. Nervus kranial VI (nervus abdusens) memberikan inervasi kepada otot rektus
lateral. Gerakan bola mata merupakan hasil dari proses integrasi sejumlah organ yang saling
terkoordinasi satu sama lain. Otot ekstraokular adalah otot utama penggerak bola mata yang
merupakan otot skeletal dengan keunikan sendiri yaitu memiliki rasio perbandingan serabut saraf
terhadap serabut otot yang tinggi, sehingga memiliki kemampuan kontrol yang presisi dan akurat
terhadap pergerakan bola mata. Struktur anatomi bola mata yang memiliki tiga aksis utama
memungkinkan bola mata untuk bergerak ke sejumlah arah secara bebas. Koordinasi kontraksi
dan relaksasi otot ekstraokular memungkinkan terjadinya gerakan monokular dan binokular yang
menghasilkan pandangan mata ke suatu arah tertentu. Modulasi sirkuit sistem saraf yang
kompleks juga berperan dalam mengontrol gerakan bola mata untuk menghasilkan stabilisasi
visual yang baik.

Aksi otot Ekstraokular


2. ADA BERAPA JENIS PERGERAKAN BOLA MATA

 Pergerakan satu mata


Duksi : rotasi monokuler dengan mata lain di tutup

 Aduksi adalah rotasi monokuler ke nasal


 Abduksi adalah rotasi monokuler ke temporal
 Supraduksi (elevasi) adalah rotasi monokuler ke atas
 Infraduksi (depresi) adalah adalah rotasi monokuler ke bawa
Torsi : pergerakan memutar seperti roda
 Intorsi adalah memutarnya satu mata kea rah hidung
 Ekstorsi adalah memutarnya satu mata menjahui hidung
 Pergerakan kedua mata
Versi : pergerakan dari mata kea rah yang sama.
 Dextroversi / levoversih : pergerakan kedua mata kekanan dank e kiri
 Supraversi/infraversi : pergerakan dari kedua mata dari atas ke bawa

 Dexrocycloversi :pergerakan memutar dari kedua mata ke kanan (clockwise)


 Levocycloversi : pergerakan memutar dari kedua mata ke kiri
 Vergens : pergerakan dari kedua mata kearah yang sama
 Konvergens : kedua mata bergerak kearah nasal
 Divergens : kedua mata bergerak kea rah temporal

3. APA YANG DI MAKSUD DENGAN STRABISMUS

Strabismus juga dikenal dengan sebutan mata juling. mata juling akan tampak bila
kedua mata tidak tertuju pada satu objek sehingga satu mata lurus ke depan dan mata lainnya
menyimpang dari posisi yang seharusnya. Keadaan ini bukan haya terjadi pada anak-anak namun
dapat ditemukan pada berbagai usia, baik pria maupun wanita. Juling bersifat keturunan, namun
meskipun tidak ada riwayat di dalam keluarga, juling dapat terjadi. Mata juling dapat bersifat
horizontal, yaitu satu mata ke dalam atau satu mata ke luar, dan dapat juga bersifat vertikal yaitu
satu mata lebih tinggi atau lebih rendah dari mata yang lain. Selain itu, juling dapat bersifat
konstan, yaitu tampak setiap saat, atau timbul pada keadaan-keadaan tertenu, seperti bila anak
sedang sakit, melamun lihat jauh atau lelah.

4. JELASKAN MENGENAI HUKUM HERING DAN SHERRINGTON!

Hukum Hering menyatakan bahwa pada saat kedua bola mata bergerak ke suatu arah
pandangan tertentu, terjadi inervasi seimbang terhadap pasangan yoke muscles mekanisme ini
disebut sebagai inervasi simetris.Contohnya pada saat memandang ke arah kanan, otot rektus
lateral mata kanan dan otot rektus medial mata kiri akan sama-sama berkontraksi.

Hukum Sherrington menyatakan bahwa peningkatan inervasi (kontraksi) dari suatu otot
agonis akan disertai dengan penurunan inervasi (relaksasi) dari otot antagonisnya mekanisme ini
disebut sebagai inervasi resiprokal.Otot sinergis adalah otot yang terletak pada bola mata yang
sama dengan otot agonis, dan bekerja sama dengan otot agonis untuk menghasilkan suatu arah
yang sama. Contohnya, otot agonis rektus superior memiliki otot sinergis otot oblik inferior untuk
menghasilkan elevasi bola mata, sedangkan otot rektus inferior sebagai otot antagonisnya karena
menghasilkan depresi bola mata.

5. APA YANG DI MAKSUD DENGAN YOKE MUSCLES

Yoke muscles adalah pergerakan mata yang terkordinir,satu otot dari satu mata
bergendengan dengan satu otot dari mata lain,untuk melakukan pergerakan dalam 6 arah jurusan
cardinal dari penglihatan.

6. APA YANG DIMAKSUDDENGANPENGLIHATAN BINOCULAR TUNGAL

Penglihatan binocular tunggal terjadi oleh adanya mekanisme fusisensoris yang


dihasilkan stimulasi cahaya yang jatuh pada retina kedua mata menjadi satu bayangan tunggal.
Dalam system penglihatan bayangan yang jatuh pada retina akan merangsang fotoreseptor   di
retina kemudian merangsang neuron-neuron di kortek soksipitalis, rangsang tersebut diteruskan
ke otot ekstraokular yang menyebabkan gerakan bola mata sedemikian rupa sehingga obyek akan
terletak pada obyek pandangan kedua mata.

Bayangan yang dihasilkan akan tampak  tunggal, seakan-akan berasal dari satu mata yang
terletak sama jauhnya antara mata kanan dan kiri.

Untuk mendapatkan faal penglihatan binocular tunggal normal perlupersyaratansebagai


berikut:
1. Bayangan yang jatuh pada dua fovea sebanding ketajamannya maupun ukurannya, ha
lini  berarti ketajaman penglihatan pada kedua mata tidak terlalu berbeda, dan tidak
ada aniseikonia

2. Posisi kedua mata dalam setiap arah penglihatan, bayangan benda yang menjadi
perhatian nya akan jatuh tepat pada kedua fovea

3. Susunan saraf pusat mempu menerima rangsangan yang datang dari kedua retina dan
mensintesa menjadi satu sensasi berupa bayangan tunggal

Terbentuknya bayangan binocular tunggal tidak dapat dipisahkan dari ketajaman


penglihatan masing-masing mata. Faktor-faktor yang menyebabkan ketajaman penglihatan
adalah: adanya rangsang cahaya, adany asensasi (di retina), adanya persepsi (di korteks).
Penglihatan binocular tunggal dipengaruhi antara lain oleh rangsang cahaya dan besarnya sudut
dating seberkas cahaya memasuki bola mata. Arah masuknya cahaya kedalam mata menentukan
sel-sel retina mana yang akan terangsang pada masing-masing mata. Pada masing-masing mata
sel-sel retina telah terbentuk berpasang-pasangan antara mata kanan dan kiri. Apabila satu berkas
cahaya memasuki bola mata pada suatu arah tertentu dan secara serentak merangsang dua sel
retina yang masing-masing terletak pada mata kanan dan kiri, kemungkinan akan terjadi dua
fenomena persepsiyaitu:

a. Persepsi penglihatan binocular tunggal, dimana berkas cahaya tersebut akan tampak  sebagai
satu sum bercahaya (apabila yang terangsang adalah duasel retina yang  berpasangan.  

b. Persepsi diplopia apabila berkas cahaya tersebut akan tampak sebagai dua sumber  cahaya
yaitu apabila yang terangsang adalah dua sel retina yang tidak berpasangan.

Worth membagi penglihatan binocular tunggal menjadi tiga tingkat :

1. Persepsi simultan
Persepsi simultan merupakan tingkat pertama penglihatan binokular.Pada proses
persepsi simmultan, bayangan obyek diterima pada kedua retina secara simultan dan
dipersepsikan sebagai satu bayangan yang superimpose. Persepsi simultan merupakan  proses
sensorik yang murni.

2. Fusi
Fusi merupakan pertumbuhan menjadi satu, persatuan, peleburan dan penggabungan di
otak yang berasal dari dua bayangan mata shingga secara mental didapatkan gambaran
tunggal.Untuk dapat terjadi fusi bayangan yang jatuh pada retina kedua mata harus
mempunyai ukuran dan bentuk yang sama. Kesan penglihatan tunggal ini mempunyai sifat
ketajaman, bentuk, warna, dan arah. Penglihatan tunggal kedua mata ini dapa tterjadi  pada
semua bayangan di kedua macula dan diluar macula sehingga terjadi penglihatan sentral dan
perifer bersama-sama. Dibedakan 2 macamfusi :fus isensorik dan fusimotoric

Fusi sensorik adalah kemampuan menggabungkan bayangan yang sama dari kedua mata
menjadi bayangan tunggal
7) BAGAIMANA MENILAI POSISI BOLA MATA ?

MELAKUKAN PEMERIKSAAN SEGMEN ANTERIOR BOLA MATA

1. Jelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan

2. Pemeriksa duduk di depan penderita pada jarak jangkauan tangan

3. Ruangand ibuat setengah gelap

4. Gunakan senter yang diarahkan kemata penderita dengan posisi senter


45-60o dari temporal mata yang akan diperiksa, dimulai pada mata
kanan.

5. Lakukan pemeriksaan segmen anterior bola mata dimulai dari kelopak


mata, lebar fisura palpebra, posisi bola mata.

6. Lakukan pemeriksaan bulu mata atas dan bawah, konjungtiva palpebra


superior dan inferior, konjungtiva bulbi, kornea, kamera okuli
anterior, iris, pupil, lensa, dan vitreus anterior

7. Periksalah refleks pupil direk dan indirek

8. Pemeriksaan eversi pada segmen anterior diawali dengan meminta untuk


melihat kebawah/kearah kaki

9. Tekan kelopak mata atas 1 cm dari margopalpebra dengan kapas lidi,


sementara kapas lidi lainnya menbersikan margo palpebral ke arah
atas

10. Perhatikan kelainan yang di dapatkan pada konjungtiva pars palpebra


:papil, folikel, benda asing, dll.

Catatan :Jika tidak tersedia tetes mata pantocain, maka dapat menggunakan lidocain 2% sebagai anestesi
topical
MELAKUKAN PEMERIKSAAN TEKANAN BOLA MATA DENGAN METODE PALPASI

Tujuan : Melakukan pemeriksaan tekanan bola mata secara kualitatif

Jelas kan tujuan dan prosedur pemeriksaan


1

Pemeriksaan duduk berhadapan dengan penderita dengan jarak jangkauan tangan


2 pemeriksa, (25 – 30 cm).

Mintalah penderita untuk melirik ke bawah.


3

Mulailah pemeriksaan dari mata kanan.


4

Kedua jari telunjuk berada pada palpebra superior. Ibu jari, kelingking, jarimanis, dan
5 jari tengah memfiksasi di daerah tulang sekitar orbita.

Jari telunjuk secara bergantian menekan bola mata melalui palpebra dan merasakan
6 besarnya tekanan bola mata.

Besarnya tekanan di lambing kan denganTn, Tn-1, Tn-2, Tn+1, Tn+2 Prosedur yang
7 sama dilakukan pula pada mata kiri
MELAKUKAN PEMERIKSAAN TEKANAN BOLA MATA DENGAN
CARA INDENTASI MENGGUNAKAN TONOMETER SCHIOTZ

Tujuan : Melakukan pemeriksaan tekanan bola mata secara kuantitatif


menggunakan alat tonometer

1 Jelaskan maksud dan prosedur pemeriksaan

2 Baringkan penderita di tempat tidur.

3 Anestesi topical denganmenggunakan tetes mata Pantocain 0,5%

4 Gunakan beban tonometer yang terendah, 5,5 gr.

Desinfeksi indentasi denganalkohol 70%, biarkan sampai kering.


5
Penderita diminta melihat keatas dengan meliha tlurus pada jari
penderita yang diposisikan di atas mata yang akan diperiksa

6 Letakkan tonometer dengan hati-hati padakornea, selanjutnya baca skala


yang ditunjuk kan oleh jarum.

7 Sesuaikan hasil pembacaan dengan tabel konversi yang tersedia (satuan


mmHg).
8 Teteskan antibiotic topical setelah pemeriksaan

MELAKUKAN PEMERIKSAAN SEGMEN POSTERIOR

1 Jelaskan maksud dan prosedur pemeriksaan

2 Persiapkan alat untuk pemeriksaan segmen posterior bola mata (direct


ophthalmoscope). Ruangan dibuat setengah gelap, penderita diminta
melepaskan kaca mata dan pupil dibuat midriasis dengan tetes mata mydriatil

3 Sesuaikanlah lensa oftalmoskop dengan ukuran kacamata penderita.

4 Mata kanan pemeriksaan memeriksa mata kanan penderita, mata kiri pemeriksa
memeriksa mata kir ipenderita.

5 Mintalah penderita untuk melihat satu titik di belakang pemeriksa

6 Arahkan ke pupil dari jarak 25-30 cm oftalmoskop untuk melihat refleks fundus
dengan posisi/cara pegang yang benar
7 Periksa secara seksama dengan perlahan maju mendekati penderita kurang lebih 5
cm.

8 Sesuaikan focus dengan mengatur ukuran lensa pada oftalmoskop.

9 Amati secara sistematis struktur retina dimulai dari papil N. optik, arter idan vena
retina sentral, area makula, dan retina perifer.

10 Catatlah hasil yang didapat dalam status penderita

8. APA PERBEDAAN STRABISMUS PARALITIK DAN NON PARALITIK

Strabismus non- paralitik adalah mata juling yang disebabkan oleh tarikan yang tidak
sama pada satu atau beberapa otot yang berfungsi mengerakkan mata (strabismus non-paralitik)
yang biasanya disebabkan oleh adanya kelainan pada otak.
Sedangakan strabismus paralitk adalah jenis mata juling yang terjadi akibat tidak
berfungsinya satu atau beberapa otot penggerak mata (strabismus paralitik) yang biasanya
disebabkan oleh adanya kerusakan saraf.

9. BAGAIMANA PENATAKSANAAN PASIEN DENGAN STRABISMUS ?

1. Orthipic

a. Oklusi

Mata yang sehat di tutup dan diharuskan melihatdengan mata yang ambliop. Oklusi sebagian juga
harus bias dilakukan dengan membrane plastic, pita, lensa atau mata ditutup dengan berbagai cara

b. Pleotic

c. Obat-obatan

d. Latihan dengan synoptophone

2. . Memanipulasi akomodasi

a. Lensa plus/dengan miotik Menurunkan beban akomodasi dan konvergensi yang menyertai

b. Lensa minus dengan tetes siklopegik Merangsang akomodasi pada anak-anak

3. Penutup Mata

Jika anak menderita strabismus dengan amblyopia, dokter akan merekomendasikan untuk melatih
mata yang lemah dengan cara menutup cara yang normal dengan plester mata khusus (eye patch).
Penggunaan plester mata harus dilakukan sedini mungkin dan mengikuti petunjuk dokter.
Sesudah berusia 8 tahun biasanya dianggap terlambat karena penglihatan yang terbaik
berkembang sebelum usia 8 tahun.

4. Suntikan toksin botulin

5. Operatif

a. Recession: memindahkan insersio otot

b. Resertion: memotong otote ekstra okuler

10. JELASKAN MENGENAI AMBLIOPIA, ETIOLOGI, SERTA TATALAKSANANYA !

A. Definisi
Ambliopiamerupakansuatukeadaanmatadimanatajampenglihatantidakmencapai optimal
sesuaidenganusia dan intelegensinyawalaupunsudahdikoreksikelainanrefraksinya( Ilyas, 2012)
Ambliopia atau yang dikenal juga dengan istilah mata malas merupakan penurunan
ketajaman penglihatan yang tidak dapat dikoreksi dengan lensa tanpa defekanatomik yang nyata
pada mata atau jaras penglihatan (Riordan-Eva, 2009). Kondisi ini dapat mengenai salah satu
atau kedua mata, meskipun lebih jarang mengenai kedua mata.
KlasifikasiAmbliopia (Khurana, 2007)

a. Ambliopia dengan strabismus terjadi karena supresiuniocular dalam waktu lama pada anak-
anak dengan strabismus unilateral yang menetap yang berfiksasi pada mata normal.
b. Ambliopia deprivasi(ambliopia ex anopsia) terjadi ketika satu mata secara total menglami
gangguan penglihatan sejak dari awal kehidupan seperti pada katarak kongenital atau
traumatik, ptosis total dan opasitas kornea sentral.
c. Ambliopia anisometropik terjadi pada mata yang memiliki derajat kelainan refraksi lebih
besar dibandingkan mata sebelahnya. Hal ini lebih sering terjadi pada mata dengan
anisohipermetropikdisbandinganisomiopik pada anak-anak. Satu hingga dua dioptri
anisometropiahipermetropik dapat menyebabkan ambliopia dibanding dengan hingga 3D
anisometropiamiopik.
d. Ambliopia isoametropik adalah ambliopia bilateral yang terjadi pada anak-anak dengan
kelainan refraksi tinggi yang tidak dikoreksi.
e. Ambliopia meridional terjadi pada anak-anak dengan kelainan refraksi astigmatisme yang
tidak dikoreksi. Sehingga terjadi ambliopia selektif dengan meridian visual tertentu.

B. Etiologi
Ambliopia terjadi akibat faktor abliogenik tertentu yang terjadi selama masa
perkembangan visual (dari lahir hingga usia 6 tahun). Periode paling sensitif dari perkembangan
ambliopia adalah 6 bulan pertama kehidupan dan biasanya tidak berkembang setelah umur 6
tahun. (Khurana, 2007)
Faktor ambliogenik termasuk:
a. Penurunan visual secara sensorik seperti pada anisometropia
b. Penurunan penglihatan cahaya seperti pada katarak kongenital
c. Interaksi binokular yang abnormal seperti pada strabismus

C. Tatalaksana
Mata ambliopia yang mendapatkan perawatan dini akan memberikan hasil yang baik.
Bila diagnosis ambliopia telah dibuat maka sebaiknya direncanakan pengobatan secara teratur.
Rencana pengobatan ambliopia (Ilyas, 2009):
a. Mata yang baik dibebat
b. Penalisasi
c. Latihan ortopik
d. Mengobati juling yang terjadi
e. Kaca mata
f. Pembedahan
Mata yang baik ditutup dengan kasa dan plester untuk beberapa hari. Pada usia anak lebih
muda waktu penutupan lebih pendek, hal ini untuk mencegah ambliopia pada mata yang baik
(Ilyas, 2009). Durasi terapi oklusi sebaiknya hingga tajam penglihatan berkembang secara
sempurna atau hingga tidak terdapat perbaikan berarti dalam 3 bulan. Penentuan jadwal untuk
terapi oklusi berdasarkan usia dapat dilakukan sebagai berikut (Khurana, 2007):
a. Hingga usia 2 tahun, terapi oklusi dapat dilakukan 2:1 yaitu 2 hari pada mata yang normal,
dan 1 hari pada mata yang ambliopia
b. Pada usia 3 tahun, 3:1
c. Pada usia 4 tahun 4:1
d. Pada usia 5 tahun 5:1
e. Setelah umur 6 tahun 6:1

Terapi oklusi dilakukan dengan suatu penutup yang melekat, ditempelkan secara
langsung pada kulit periorbital dengan tajam penglihatan yang lebih baik. Karena menutup mata
yang baik, penutup mata membatasi level mata yang ambliopia.

Durasi terapi oklusi pada ambliopia harus seimbang untuk mencegah kehilangan tajam
penglihatan pada mata yang ditutup. Mata yang baik ditutup selama beberapa jam pada satu
waktu pada ambliopia ringan, beberapa hari pada satu waktu pada ambliopia berat (Lang, 2000).

Tipe oklusi terapi pada ambliopia adalah (Yanoff, 2009):


Tipe Keuntungan Kerugian

Oklusipenuh  Penyembuhanambliopialebihcep  Resikoambliopiaiatrogenik


at  Resikoperkembangan strabismus
 Ketajamanpenglihatanlebihbaik  Deformitaskosmetiklebihburuk
 Toleransiselamawaktubelajardisekolahbur
uk
Oklusiparuhwaktu(  Ambliopiaiatrogenikjarangterjad  Penyembuhanambliopialebihlambat
5 jam/hari) i  Hasil ketajamanpenglihatanlebihburuk
 Strabismus jarangterjadi
 Deformitaskosmetiklebihsedikit
 Dapatdilakukanterapidiluar jam
sekolah

Gambar 3. Terapi Oklusi pada Ambliopia

Memberikan atropin atau midriatika pada mata yang baik atau memberi lensa +2.50
dioptri pada mata yang ambliopia untuk mencegah melihat jauh, dapat juga diberikan miotika
pada mata yang ambliopia dan midriatika pada mata yang baik merupakan pengobatan yang baik.
Hasil pengobatan dengan cara ini akan lebih baik bila tajam penglihatan pada mata yang
ambliopia lebih dari 20/50 atau 6/15. Ini disebut penalisasi dekat. (Ilyas, 2009)
Penalisasi jauh biasanya dilakukan pada mata dengan tajam penglihatan 6/20. Pada
penalisasi jauh atropin diberikan pada mata yang kuat atau dominan ditambah over koreksi +3
dioptri, sedangkan pada mata yang ambliopia diberikan koreksi penuh. (Ilyas, 2009)
Latihan ortoptik berguna bila telah terdapat penglihatan yang normal pada kedua mata
akan tetapi belum terjadi fusi atau konvergensi pada kedua mata bersamaan. (Ilyas, 2009)
Cara pengobatan bergantung jumlah juling yang masih tersisa. Kacamata diberikan sesuai
dengan kelainan refraksi karena kelainan refraksi dapat menjadi penyebab ambliopis.
Pembedahan bertujuan untuk mengatur pergerakan otot penggerak mata sehingga terjadi
penglihatan tunggal. (Ilyas, 2009)

DAFTAR PUSTAKA :

1. http://www.yankes.kemkes.go.id/read-fisiologi-gerak-bola-mata-4100.html ( yang diakses pada


tanggal 20 April 2020 )

2. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 4. Fakultas Kedokteran Universitas __Indonesia.
2012.

thEdition
3. Riordan-Eva, P &Witcher, JP (2008). Vaughan&Asbury’s General Ophtalmology, 17 .
New York: McGraw-Hill Companies. Diterjemahkan: Diana Susanto. 2009.
Oftalmologi Umum Vaughan&Asbury, Ed. 17. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC

4. Khurana A. 2007. ComprehensiveOphtalmology 4thEdition. India: New Age International


Limited Publisher.

5. Ilyas, Sidarta. 2009. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

6. Lang, GK., 2000. Ophthalmology: A ShortTextbook. New York: Thieme.

7. Yanoff, M. andDuker, JS., 2009. YanoffandDuker’sOphthalmology. 3 rdEdition. UK:


MosbyElsevier.

8. Paediatric Sub-Committee. 2006. GuidelinesfortheManagementofAmblyopia