Anda di halaman 1dari 11

Critical Book Report

GEOGRAFI BUDAYA DAN POLITIK

Dosen Pengampu : Dr. Sugiharto, M.Si / M. Taufik

Oleh :
Ghannes Sintampalam
3173131013
D Geografi 2017

PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat
rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Critical Book Report ini
dengan baik dan selesai pada waktu yang ditentukan. Critical Book Report ini saya buat
sebagai tugas mata kuliah “Geografi Budaya dan Politik”.

Critical Book Report ini kami buat sesuai dengan kriteria yang telah diberikan dan
diambil dari berbagai sumber. Kami juga mengakui bahwa dalam Critical Book Report ini
masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan baik kata, kalimat maupun isi dari setiap
pembahasan yang ada. Maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun
demi penyempurnaan Critical Book Report ini. Semoga Critical Book Report kami ini dapat
berguna dimasa yang akan datang.

Medan, November 2019

Ghannes Sintampalam

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i


DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
IDENTITAS BUKU .......................................................................................................... 1
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 2
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................. 2
1.2 Tujuan ........................................................................................................................... 2
1.3 Manfaat ......................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................... 3
2.1 Ringkasan Buku ............................................................................................................ 3
BAB III KELEMAHAN DAN KELEMAHAN BUKU ................................................. 7
BAB IV PENUTUP ........................................................................................................... 8
4.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 8
4.2 Manfaat ......................................................................................................................... 8

ii
IDENTITAS BUKU

Judul Buku : Komunikasi Antar Budaya (Di Era budaya Siber)


Penulis : Rulli Nasrullah
ISBN :-
Penerbit : “Kencana” Prenada Media Grup
Tahun Terbit : 2012
Kota Terbit : Jakarta
Cetakan : Pertama
Tebal Buku : VIII + 198 Halaman

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika seseorang berusaha
berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-
perbedaannya, disitulah dibuktikan bahwa sebenarnya budaya itu juga dipelajari.
Komunikasi antar budaya merupakan hal yang penting bagi semua penduduk dunia.
Kemunculan komunikasi antar budaya di desak oleh adanya interdependensi antar bangsa yang
semakin nyata, baik itu di bidang ekonomi, iptek, politik, dan lain-lain. Mobilitas penduduk
dunia yang semakin tinggi dan kemajuan teknologi komunikasi yang berkembang pesat juga
semakin memungkinkan terjadinya komunikasi antar budaya. Perbedaan kultur dari orang-
orang yang berkomunikasi yang menyangkut kepercayaan, nilai, serta cara berperilaku serta
latar belakang budaya yang berbeda inilah yang menjadi ciri terpenting yang menandai
komunikasi antar budaya. Tak dapat dipungkiri semakin pentingnya arti komunikasi antar
budaya yang menempati posisi sentral dalam dinamika sosial dewasa ini.

1.2 Tujuan
1. Mengulas isi sebuah buku
2. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku
3. Melatih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan oleh setiap bab
dari sebuah buku

1.3 Manfaat
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Geografi Budaya dan Politik
2. Untuk mengembangkan bakat dan mengkritik buku
3. Untuk meningkatkan kita dalam berfikir rasional
4. Untuk meningkatkan pola pikir kita dalam menganalisa buku

2
BAB II
PEMBAHASAN
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA (DI ERA BUDAYA SIBER)
Buku ini terdiri atas sebelas bab. Bab pertama dimulai dengan mengantarkan pembaca
me-ngenal lebih dekat tentang model komunikasi, budaya, internet, dan budaya siber.
Selanjutnya, dijelaskan pendekatan dan kom-ponen dalam komunikasi antarbudaya dan
diteruskan dengan karakter-istik media baru dan interaksi simbolik dalam budaya siber.
Pembahasan dilanjutkan dengan pemaknaan identitas, masyarakat jejaring, dan ruang publik.
Pada bagian akhir, penulis meng-ulas komodifikasi informasi di era digital.
Komunikasi merupakan hal yang ter-penting bagi manusia. Tanpa komunikasi manusia
bisa dipastikan akan “tersesat” dalam belantara kehidupan ini karena tidak bisa me-naruh
dirinya dalam lingkungan sosial. Per-kembangan komunikasi menurut Rogers (1986) terdiri
atas empat fase. Sebelum fase-fase tersebut, manusia melakukan kontak dengan sesuatu yang
sangat sederhana, seperti dengan gambar dan lukisan di gua-gua. Fase pertama disebut the
writing era, ketika komu-nikasi dimulai dengan tulisan yang bisa dibaca. Selanjutnya,
dinamakan the printing era. Pada fase ini komunikasi manusia lebih maju de-ngan
memanfaatkan teknologi cetak. Fase ke-tiga disebut telecommunication era. Fase ini
berimplikasi pada pengertian komunikasi jarak jauh ketika memasuki era teknologi elektro-
nika. Fase terakhir disebut interactive com munication era. Fase ini merupakan era yang paling
kontemporer karena telekomunikasi terjadi antara dua media yang berbeda dan difasilitasi
dengan keberadaan komputer.
Budaya adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah (KBBI:
2003). Budaya merupakan sebuah nilai atau praktik sosial yang berlaku dan dipertukarkan
dalam hubungan antarmanusia baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Budaya
merupakan nilai-nilai yang muncul akibat interaksi manusia di suatu wilayah atau negara
tertentu. Budaya inilah yang menjadi acuan dasar bahkan bisa menjadi rel bagi proses
komunikasi antarmanusia yang ada di dalamnya. Sementara itu, cyberspace adalah sekumpulan
data, representasi grafik demi grafik, dan hanya bisa diakses melalui komputer. Cyberspace
bisa pula bermakna sebagai medium yang digunakan untuk me-ningkatkan hubungan atau
relasi ke arah yang lebih baru.
Teknologi cyber juga digunakan untuk menghasilkan efek-efek visual film melalui
computer-generated imagenary yang bisa menghasilkan efek dramatis, tokoh tokoh animasi,
ataupun bencana dan fenomena alam.

3
Pada buku ini dibahas mengenai perkembangan teknologi media yang terus mengalami
pembaharuan dan memberikan pengaruh serta landasan perlunya mempelajari komuni-kasi
antarbudaya. Proses interaksi antar-manusia yang dimediasi oleh teknologi dan mampu
menjangkau lapisan masyarakat dari belahan dunia manapun menjadi semakin ter-buka. Pesan
yang sebelumnya tercetak kini bisa dinikmati secara audio, visual, bahkan kombinasi antara
audio-visual. Lebih dari itu, media juga sudah menjelma sebagai sumber hiburan, pendidikan,
sosial, gaya hidup, hingga bisnis yang menguntungkan. Internet sebagai salah satu dampak
pembaharuan perkembangan teknologi pada dasarnya tidak hanya bisa menjadi semacam pintu
untuk mengetahui budaya yang ada pada masyarakat di daerah itu, melainkan menjadi
perangkat dalam ekspresi budaya itu sendiri.
Menurut Martin dan Nakayama (1997), ada tiga pendekatan dalam mempelajari ko-
munikasi antarbudaya. Pertama, pendekatan fungsional yang menyatakan pada dasarnya
kebiasaan manusia itu dapat dike-tahui melalui penampilan luar dan dapat di
gambarkan. Kedua, pendekatan interpretatif yang menegaskan pada dasarnya manusia itu
mengonstruksi dirinya dan realitas yang berada di luar dirinya. Pendekatan ini meyakini bahwa
budaya dan komunikasi bersifat subjektif. Ketiga, pendekatan kritis. Pendekatan ini tidak
sekadar mempelajari kebiasaan manusia, tetapi dengan mempelajari bagaimana kekuasaan
sosial atau politik berfungsi dalam situasi budaya tertentu akan memberikan solusi pada
manusia dalam menyikapi kekuasaan. Inilah tiga pendekatan yang dibahas dalam buku ini
untuk melihat budaya dan komuni-kasi, khususnya untuk mendekati manusia sebagai objek
sekaligus subjek dalam ko-munikasi antarbudaya. Budaya dan komunikasi bisa saling
memengaruhi, dalam arti budaya tidak hanya memengaruhi komunikasi tetapi budaya juga bisa
dipengaruhi oleh komunikasi itu sendiri. Buku ini juga menjelaskan tiga komponen dalam
komunikasi antarbudaya, yaitu komuni-kator, pesan, medium (media sebagai alat yang
digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima), dan komunikan
(audiens). Tujuan akhir dari proses komunikasi, termasuk ketika membincangkan komuni-kasi
antarbudaya, adalah munculnya efek. Efek proses komunikasi ini diharapkan mampu
mengubah pengetahuan atau kepercayaan, ke-biasaan, serta komunikasi antarpribadi audiens.
Dari sisi komunikator, pesan yang dirancang dapat diterima seutuhnya tanpa adanya distorsi
atau gangguan kepada audiens.
Internet menurut Hine (2007), bisa didekati dari dua aspek, yaitu internet sebagai sebuah
budaya (culture) dan sebagai artefak kebudayaan (curtural artefac). Sebagai budaya, pada
awalnya internet merupakan model komunikasi yang sederhana bila di bandingkan dengan
model komunikasi secara langsung atau face-to-face. Interaksi langsung, ekpresi wajah,

4
tekanan suara, cara me-mandang, posisi tubuh, usia, ras, dan sebagainya merupakan tanda-
tanda yang juga berperan dalam interaksi antarindividu. Ada-pun dalam komunikasi yang
termediasi komputer, interaksi terjadi berdasar-kan teks semata, bahkan emosi pun ditunjuk-
kan dengan teks (simbol-simbol dalam emosi). Sebagai artefak kebudayaan, internet bisa
didenotasikan sebagai seperangkat program komputer yang memungkinkan pengguna untuk
melakukan interaksi, memunculkan berbagai bentuk komunikasi, serta untuk bertukar
informasi. Internet juga bisa dilihat sebagai sebuah fenomena sosial, baik itu melalui
pembacaan terhadap sejarah perkembangannya maupun kebermaknaan dan kebergunaan
internet tersebut. Di satu sisi beberapa fenomena yang terjadi di internet memberikan
keuntungan dan sebaliknya beberapa fenomena yang terjadi di internet terkadang malah tidak
memberikan apa-apa. Menurut Hine, hal ter-sebut bergantung pada user yang memakai internet
tersebut, apakah hanya sebagai se-perangkat mesin komputer atau medium interaksi sosial.
Menurut Holmes (2005), internet merupakan tonggak perkembangan teknologi interaksi global
di akhir dekade abad ke-20 yang mengubah cakupan serta sifat dasar medium komunikasi.
Transformasi ini disebut sebagai second media age. Pada transformasi ini, media tradisional
seperti radio, koran, bahkan televisi telah banyak ditinggalkan oleh khalayak dan beralih ke
media internet yang lebih kontemporer. Era teknologi digital dan teknologi komunikasi
(internet) telah meng-ubah arah komunikasi yang selama ini meng anut pola broadcast (satu
arah) sehingga ke-hadiran teknologi komunikasi menjadi dua arah bahkan lebih atraktif.
Komunikasi yang terjadi lebih instan, dinamis, tidak tersentral, dan melibatkan khalayak.
Interaksi simbolik (teks) dalam budaya siber merupakan medium yang mewakili proses
komunikasi melalui internet. Meskipun saat ini kemajuan telah memungkinkan antar-entitas
berinteraksi melalui suara maupun visual, misalnya melalui layanan Skype, simbol (teks)
menjadi dasar komunikasi termediasi komputer. Berkaitan dengan itu, Smith (1995)
menekankan ada dua aspek penting dalam komunikasi di internet. Pertama, interaksi yang
terjadi melalui jaringan komputer pada dasarnya diwakili oleh teks. Kedua, interaksi yang
terjadi cenderung mengabaikan stigma terhadap individu tertentu sebab komunikasi
berdasarkan teks ini sangat sedikit menampil-kan gambaran visual seseorang, misalnya tombol
“like” dalam Facebook yang mengikuti status yang sedang dipublikasikan oleh si pemilik.
“ Like” tidak lagi bisa dimaknai se-bagai hanya menyukai seperti yang selama ini kita ketahui,
namun bisa bermakna apa saja dan sepenuhnya diperlukan penafsiran dari pemilik status
tersebut dan bukan dari si pem-beri “like”. Jelas kondisi yang terjadi di dunia virtual ini sangat
berbeda dibandingkan dengan kejadian dalam komunikasi tatap muka. Dalam perspektif
cultural studies, internet merupakan ruang tempat kultur yang terjadi itu diproduksi,

5
didistribusikan, dan dikonsumsi. Cultural studies mampu me-ngaburkan kelas-kelas sosial
yang telah mapan sebagai sebuah strata yang ada di masyarakat. Pendekatan ini, dalam melihat
budaya siber yang ada di internet, memberikan arah untuk melihat proses komodifikasi yang
terjadi di ruang virtual (tentu saja dengan mengabaikan kajian berdasarkan perbedaan kelas),
ketika kekuasaan berada pada subjek atau individu itu sendiri.
Mosco (1996) memformulasikan tiga bentuk komodifikasi yang terjadi di media
massa. Pertama, komodifikasi isi yang men-jelaskan konten media yang diproduksi
merupakan komoditas yang ditawarkan. Kedua komodifikasi khalayak yang menjelaskan
khalayak pada dasarnya merupakan entitas ko-moditas itu sendiri yang bisa dijual. Dalam
program di industri pertelevisian, contohnya, ada tiga entitas yang saling memengaruhi yakni
perusahaan media, pengiklan, dan kha-layak itu sendiri. Ketiga, komodifikasi pekerja tempat
perusahaan media massa pada ke-nyataannya tak berbeda dengan pabrik. Para pekerja tidak
hanya memproduksi konten, me-lainkan juga menciptakan khalayak sebagai pekerja yang
terlibat dalam mendistribusikan konten sebagai sebuah komoditas. Teori cyberculture
menegaskan per-kembangan teknologi internet pada dasarnya melahirkan apa yang disebut
informational capitalism (Castells: 2000). Teknologi dan entitas yang berada di dalamnya
seperti pro-dusen, distributor, pengiklan, maupun peng-guna merupakan model ekonomi baru
me-landaskan produk dan komoditasnya pada informasi. Namun patut dicatat, teknologi
informasi tidaklah serta merta mengubah kultur yang ada di tengah masyarakat dan jika ada
perubahan kultur pun disebabkan oleh interaksi yang terjadi di antara keduanya. Dalam internet
individu menjadi entitas yang selain mengonsumsi juga menghasilkan produk. Sifat internet
yang menghubungkan antarentitas melalui perantaraan perangkat komputer pada akhirnya
menciptakan pe-rangkat tersebut sebagai pabrik dalam mem-produksi informasi. Informasi
yang ada pada dunia virtual pada dasarnya merupakan produk kreatif dari entitas itu sendiri.
Intinya, perkembangan dan pertumbuhan internet dewasa ini telah mengubah wajah dunia. Ada
banyak hal yang berubah. Berbagai hal yang sebelumnya terbatas oleh kondisi dan geografis
kini perlahan mengabur, menjadikan pertukaran informasi berlangsung sepanjang waktu.
Namun di sisi lain, kondisi ini juga semakin mengaburkan batasan antarbudaya, mengubah cara
berkomunikasi antarbudaya, dan secara langsung maupun tidak langsung menghadirkan
percampuran budaya. Dari perspektif komunikasi antarbudaya, penulisnya mencoba
menghadirkan bahasan komprehensif bagaimana budaya termediasi di internet. Di dalamnya,
dapat kita temukan pemaparan tentang fenomena siber dan pengaruhnya ter-hadap kebudayaan
dan konsep komunikasi antarbudaya.

6
BAB III
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN
3.1 Kelebihan Buku Utama (Komunikasi Antarbudaya (Di Era Budaya Siber))
Kelebihan buku utama yang berjudul Komunikasi Antarbudaya (Di Era Budaya Siber) yaitu
bahasa yang digunakan mudah dipahami, selain itu buku ini sangat bagus untuk dibaca karena
masih sangat jarang buku yang mengangkat komunikasi antar budaya di era budaya siber yang
serba menggunakan internet. Secara keseluruhan buku ini sangat bagus dan membantu, apalagi
dipergunakan untuk mahasiswa Bimbingan dan Konseling dimana harus bisa memahami
budaya antara satu dengan lainnya.

3.2 Kelemahan Buku Utama (Komunikasi Antarbudaya (Di Era Budaya Siber))
Kelemahan dari buku utama yang berjudul Komunikasi Antarbudaya (Di Era Budaya Siber)
yaitu buku ini tidak mencantumkan identitas yang lengkap sehingga menyulitkan pembaca
untuk mengetahui informasi bibliografi dan buku ini tidak mencantumkan dampak komunikasi
di era budaya siber, membosankan karena tidak ada gambar yang mendukung pada setiap
pembahasan, tidak ada rangkuman secara keseluruhan pada buku ini.

7
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Komunikasi merupakan suatu proses budaya. Komunikasi antarbudaya dapat terjadi bila
produsen pesan adalah anggota suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota suatu
budaya lainnya. Ada dua konsep utama yang mewarnai komunikasi antarbudaya (interculture
communication), yaitu konsep kebudayaan dan konsep komunikasi. Komunikasi memiliki 2
fungsi yaitu fungsi pribadi seperti menyatakan identitas sosial, menyatakan integrasi sosial,
menambah pengetahuan, melepaskan diri atau jalan keluar dan fungsi sosial seperti
pengawasan, menjembatani, sosialisasi nilai, menghibur. Komunikasi juga memiliki hambatan
yang berdefinisi segala sesuatu yang menjadi penghalang untuk terjadinya komunikasi yang
efektif. Keefektifan dalam berkomunikasi akan terjadi apabila terdapat persamaan makna
pesan antara komunikator dan komunikan. Komunikasi Antar Budaya terjadi karena alasan
yang bermacam-macam.
Komunikasi mencakup pihak-pihak yang berperan sebagai pengirim dan penerima secara
berganti-ganti, maka masalah atau kesulitan dapat terjadi dari semua pihak. Oleh sebab itu
diperlukannya suatu cara atau strategi untuk menyamakan perbedaan dan persepsi dalam
Komunikasi Antar budaya tersebut, untuk itu perlu adanya rasa saling menghormati dalam
berkomunikasi antar budaya.

4.2 Saran
Sebaiknya kita lebih dalam lagi mempelajari tentang Geografi Budaya dan Politik. Dan
semoga dengan adanya tugas critical book report ini dapat menambah wawasan dan
pengetahuan kita mengenai Geografi Budaya dan Politik terkhusus bagi jurusan pendidikan
geografi dan bagi siapa saja yang membacanya.