Anda di halaman 1dari 13

KAJIAN TEKNIS PELAKSANAAN PELEDAKAN

PT. SAPTAINDRA SEJATI


JOBSITE ADARO
DAFTAR ISI
No Topik Bahasan Hal
1 Kajian Teknis Penentuan Diameter Hole 3
2 Kajian Teknis Pola Peledakan 6
3 Kajian Teknis Perhitungan Fragmentasi 7
4 Kajian Teknis Rencana Pemantauan Dampak Peledakan 8
5 Kajian Teknis Peralatan Peledakan
1. KAJIAN TEKNIS PENENTUAN DIAMETER LUBANG LEDAK

Akurasi Penentuan diameter lubang ledak menjadi salah satu factor keberhasilan dalam
perencanaan sebuah peledakan, dalam menentukan diameter lubang ledak pun harus memperhatikan
beberapa factor antara lain :

a. Jenis alat loader yang digunakan dan tinggi jenjang yang direncanakan
b. Jenis handak yang digunakan
c. Sifat massa batuan
d. Lingkungan
e. Cost drilling

Berikut akan kami jelaskan sedikit mengenai 5 faktor yang berpengaruh dalam penentuan
diameter lubang ledak tersebut.

1.1 Jenis alat loader yang digunakan dan tinggi jenjang yang direncanakan

Tabel 1.1.1
Jenis alat loader, hauler dan tinggi jenjang yang dibutuhkan

Tabel 1.1.2
Fleet Matching
Dengan mempertimbangkan fleet matching, tinggi jenjang yang dibutuhkan dan target produksi
Pit Tutupan yang mencapai 260 Kbcm/Day, PT. SIS mengoperasikan 2 jenis DM (D 245 S dan Redrill SKF),
dengan spesifikasi adalah sebagai berikut :

Sandvick D 245 S
Panjang Drill String Max = 8.5 meter (single pipe)
Diameter bit = 171 mm
Productivity (m/jam) = 65 – 73 m/jam
Support Double Rod = Not Support
Jumlah Unit = 2 Unit (DM 080-001 & DM 080-002)

Redrill SKF
Panjang Drill String Max = 10.5 meter (single pipe)
= 21 meter (double pipe)
Diameter Bit = 200 mm
Productivity (m/jam) = 80 - 87 m/jam
Support Double Rod = Support
Jumlah Unit = 7 Unit ( DM 100-001A, DM 100-002A, DM 100-003A, DM 100-004A,
DM 005A, DM 008, DM 100-009 )

1.2 Jenis handak yang digunakan

Pada saat ini operasional peledakan PT. SIS – Adaro di support oleh 3 supplier handak, antara
lain : PT. MNK (DNX dan BME) serta PT. DAHANA. Setiap supplier memiliki spesifikasi handak yang
tentunya berbeda dalam hal mensyaratkan diameter hole minimum supaya hasil peledakan optimum,
berikut disampaikan spesifikasi product yang digunakan saat ini di PT. SIS Adaro :

Tabel 1.2.1
Spesifikasi Handak (Diameter Minimum)

Mengacu pada table 1.2.1 tersebut, spesifikasi alat bor (diameter bit) masih dalam range aman
(masuk rekomendasi).
1.3 Sifat Fisik Batuan

Tambang PT. SIS Adaro dalam hal ini Pit Tutupan berada pada interburden beberapa seam
batubara dengan kalori > 4000, dengan sifat fisik dalam hal ini density batuan yang beragam antara 1.8 –
3.7 ton/m3. Berikut disampaikan tabel density batuan Pit Tutupan PT SIS yang dibagi per interburden
batubaranya :

Tabel 1.3.1
Tabel Density Batuan Pit Tutupan

Perbedaan density per area tersebut akan berpengaruh dalam penentuan geometri peledakan
(Burden, Spasi, Kedalaman dan Diameter lubang ledak). Semakin kecil density batuannya maka geometri
peledakan yang digunakan pun akan bisa semakin lebar, ataupun sebaliknya jika density batuan semakin
besar maka geometri rapat yang akan digunakan.

1.4 Lingkungan

Faktor lingkungan dalam hal ini T. Pertamina dan Sumur Minyak yang berada di selatan Pit
Tutupan juga diperhitungkan sebagai salah satu hal yang berpengaruh dalam penentuan ketepatan
diameter lubang ledak, dikarenakan dengan jarak yang relative dekat dengan T. Pertamina (jarak 500 –
800 meter) sehingga isian handak akan lebih sedikit dibandingkan area yang lain.

Tabel 1.4
Tabel Rekomendasi Perlakukan Peledakan Area Radius T. Pertamina
1.5 Cost Drilling

Penggunaan lebih dari 1 jenis DM tentunya juga akan berbeda dalam perhitungan cost drilling-
nya, type D 245 S yang memiliki diameter bit 171 mm dan berdimensi kecil tentunya berbeda cost
operasional dengan Redrill SKF yang memiliki diameter bit 200 mm dan berdimensi besar, berikut
disampaikan tabel Cost Drilling dan Productivity yang dihasilkan :

Tabel 1.5.1
Tabel Cost Drilling dan Productivity Unit

Terlihat perbedaan bahwa D 245 S memiliki cost drill yang lebih murah tetapi kalah dalam hal
productivity per lubang maupun per meter kedalamannya.

2. KAJIAN TEKNIS POLA PELEDAKAN

Pemilihan pola peledakan yang tepat juga sangat penting dalam merencanakan sebuah
peledakan, karena jika sampai salah dalam pemilihan pola peledakan maka akan timbul efek negatif
(getaran besar, hasil peledakan tidak optimum, backbreak, dll). Faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap penentuan pola peledakan antara lain adalah sebagai berikut :

a. Jumlah Freeface
Berikut pola yang dapat digunakan berdasarkan ketersediaan freeface di lokasi :
 Jumlah Freeface 1 = Diamond cut (centre lift)
 Jumlah Freeface 2 = Echelon, Boxcut, Row by Row, V-cut
 Jumlah Freeface 3 = Echelon, Row by Row

b. Type Accessories yang digunakan


Berikut pola yang dapat digunakan berdasarkan Type Accessories yang digunakan :
 Nonel = Diamond cut (centre lift), Echelon, Boxcut, Row by Row, V-cut
(Berpengaruh terhadap kombinasi delay, jumlah row terhadap efek vibrasi  IP mendekati area
pengukuran)
 Electronic = Diamond cut (centre lift), Echelon, Boxcut, Row by Row, V-cut
(Berpengaruh terhadap kombinasi delay untuk mengurangi efek vibrasi  IP mendekati area
pengukuran)
 Sumbu Ledak = Echelon, Boxcut, Vcut, Pre Split
(Digunakan pada batubara  mengurangi potensi kontaminasi, peledakan pre split)

c. Delay timing
Kombinasi delay yang tepat juga mempengaruhi keberhasilan suatu pola peledakan, dengan
kombinasi yang tepat maka :
 Hasil peledakan bisa optimum
 Movement material berdasarkan kekerasan batuan lebih terjaga
 Slope lebih stabil
 Efek vibrasi minim

d. Lingkungan
Faktor lingkungan juga berpengaruh dalam penentuan pola peledakan dikarenakan letak Pit
Tutupan yang berdekatan dengan T. Pertamina ataupun Sumur minyak aktif. Saat ini pola peledakan
yang sering digunakan di area yang berbatasan langsung dengan T. Pertamina maupun sumur minyak
adalah :

 Echelon Nonel
- Maksimal 7 row
- Kombinasi delay control besar, sayap kecil
- Design Hole by hole
 Boxcut Nonel
- Maksimal 12 row
- Kombinasi delay control besar, sayap kecil
- Design Hole by hole
 Electronik Detonator
- Row tidak terbatas
- Design Row by Row di bagi per segment
- Jumlah delay maks menyesuaikan spesifikasi dari supplier

3. KAJIAN TEKNIS PERHITUNGAN FRAGMENTASI

Metode perhitungan fragmentasi yang kami ulas di kajian teknis ini adalah metode dari KuzRam,
berikut disampaikan rumus perhitungan dan contoh kasusnya :
Contoh Kasus dengan Geometri 8 x 10 x 10

B 8 A 10 D 200 Indeks Seragam (n) 1.0


S 10 Volume 800 W 0 Xc 102.1
L 10 Isian 192 Sf 1.3
PF 0.24 x mean 85.00 PC 5.3
SE 95

Ukuran % tertahan % lolos Fraksi (x/xc)^n Ukuran Tertahan Lolos Distribusi


2.5 97% 3% 2.6% 0.03 0 - 20 81.7% 18.3% 18.29%
5 95% 5% 2.5% 0.05 20 - 40 54.8% 26.9% 26.87%
10 90% 10% 4.7% 0.10 40 - 60 30.3% 24.5% 24.55%
20 82% 18% 8.6% 0.20 60 - 80 13.8% 16.5% 16.50%
40 67% 33% 14.6% 0.40 80 - 100 5.2% 8.6% 8.61%
60 55% 45% 11.9% 0.59 > 100 5.2% 5.2% 5.18%
80 46% 54% 9.7% 0.79
100 38% 62% 8.0% 0.98
110 34% 66% 3.4% 1.08
120 31% 69% 3.1% 1.17
160 21% 79% 9.8% 1.55
320 5% 95% 16.5% 3.07
640 0% 100% 4.4% 6.05

Gambar 3.1
Contoh kasus Perhitungan fragmentasi Peledakan Geometri 8 x 10 x 10

4. KAJIAN RENCANA PEMANTAUAN DAMPAK PELEDAKAN

Pelaksanaan Peledakan memiliki dampak yang perlu diperhitungkan secara cermat sehingga
efek tersebut tidak berdampak secara massif/menimbulkan kerusakan yang parah terhadap lingkungan
sekitar. Berikut adalah dampak lingkungan dari kegiatan peledakan yang harus diperhitungkan :

- Getaran/Vibrasi
Setiap pelaksanaan peledakan selalu dilakukan kegiatan pengukuran getaran menggunakan alat
Blasmate (atau sejenisnya), isian bahan peledak pun disesuaikan dengan NAB yang ada.

Gambar 4.1
Rumus Perhitungan Prediksi PPV
- Airblast
Airblast adalah gelombang udara yang diakibatkan oleh adanya proses peledakan. Pengukuran
airblast dilakukan menggunakan alat blasmate.

Gambar 4.2
Rumus Perhitungan Airblast

- Flying Rock
Flying Rock adalah batuan terbang yang diakibatkan oleh daya ledak dari suatu kegiatan
peledakan. Perhitungan flying rock didasarkan pada Scale Depth Of Burrial (SDB)

Gambar 4.3
Rumus Perhitungan Nilai SDB
Gambar 4.4
Pembagian range nilai SDB

Gambar 4.5
Matrix Isian “Very Hard” yang sudah disesuaikan dengan SDB
- Fumes
Fumes adalah gas yang dihasilkan dari aktifitas pembakaran bahan peledak dalam kegiatan
peledakan. Fumes tercipta dari tidak terciptanya Zero Oksigen Balance, dibawah ini adalah beberapa
kategori Fumes :
 White Fumes
 Minor Orange Fumes
 Moderate Orange Fumes
 Significant Orange Fumes
 Major Red Fumes

5. KAJIAN TEKNIS PERALATAN PELEDAKAN

Peralatan peledakan yang akan kami bahas pada kajian ini adalah Alat Ukur Vibrasi dan Alat
Ukur VOD. Kedua alat tersebut memiliki fungsi yang berbeda. Alat ukur Vibrasi dalam hal ini tentunya
digunakan untuk mengukur getaran hasil peledakan sedangkan VOD Meter digunakan untuk mengukur
kecepatan rambat detonasi bahan peledak. PT. SIS saat ini menggunakan 2 jenis alat ukur vibrasi yaitu
Blasmate III dan Micromate, sedangkan untuk alat ukur VOD adalah Handytrap (MREL), berikut
spesifikasi alat ukur tersebut :

5.1 Micromate

Gambar 5.1.1
Micromate
5.2 Blasmate III

Gambar 5.2.1

Blasmate III

Saat ini Alat ukur yang dioperasikan oleh PT. SIS sebanyak 4 unit (3 unit Blasmate III dan 1 unit
Micromate), dimana alat ukur tersebut akan secara berkala dilakukan kalibrasi dan pengecekan untuk
menjaga kualitas akurasi data dan menjaga agar selalu dalam kondisi baik dan siap pakai, ke empat unit
alat ukur tersebut adalah :

1. Blasmate III (S/N BA 12653)


2. Blasmate III (S/N BA 13542)
3. Blasmate III (S/N BA 18986)
4. Micromate (S/N UM 8767)
Gambar 5.2.2
Jadwal Kalibrasi Alat ukur

Alat

ukur vibrasi yang PT. SIS miliki setiap harinya digunakan rutin untuk monitoring getaran di beberapa titik
antara lain :
1. Tanki Pertamina
2. Sumur Minyak Aktif
3. Kestabilan Lereng
4. Signature Hole Analisys (SHA)

5.3 VOD Meter

PT. SIS menggunakan VOD Meter untuk memonitor kualitas bahan peledak dari pihak supplier,
VOD sendiri adalah kepanjangan dari Velocity Of Detonation (Kecepatan rambat detonasi) yang artinya
kecepatan propagasi ledakan suatu bahan peledak (laju rambatan gelombang detonasi sepanjang kolom
isian bahan peledak) dalam satuan m/detik. VOD berkorelasi langsung dengan density dan diameter
bahan peledak. Kecepatan detonasi merupakan komponen utama dari energy kejut yang menimbulkan
pecahnya batuan.

Gambar 5.3.1
Handitrap VOD Meter

Gambar 5.3.2
Contoh Grafik Hasil Pengukuran VOD