Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU GULMA LANJUT

VARIANSI PERTUMBUHAN DAN MANAJEMEN PENGENDALIAN


GULMA DI LAHAN SAWAH ORGANIK

Disusun Oleh :
Foury Azizah (19/448833/PPN/04448)
Mochammad Febrianto (19/448837/PPN/04452)
Resti Utari Wahyudi (19/448841/PPN/04456)

Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Ir. A.T. Soejono
Prof. Dr. Ir. Prapto Yudono, M.Sc
Valentina Dwi Suci Handayani, S.P., M.Sc., Ph.D

PROGRAM PASCASARJANA AGRONOMI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu alternatif yang dapat dilakukan guna keberlanjutkan kualitas
lahan budidaya diantaranya adalah dengan menerapkan sistem pertanian organik.
Pertanian organik dilakukan dengan memasukkan input pertanian yang berasal
dari sumberdaya yang dapat diperbaharui seperti biomassa tanaman dan kotoran
ternak. Selain itu dalam budidaya pertanian organik penggunaan bahan-bahan
sintetis ditiadakan, mulai dari kegiatan penyemaian hingga pasca panen. Petani
padi sawah di beberapa tempat, mulai beralih menuju budidaya padi sawah secara
organik. Selain dinilai memiliki keuntungan lebih dari sisi ekonomi yang lebih
tinggi, pertanian organik dinilai memiliki keunggulan lain yakni dapat
mengembalikan kesuburan tanah karena menggunakan bahan-bahan organik yang
tidak meninggalkan residu bahan kimia.
Keberadaan gulma menurunkan hasil karena gulma merupakan tumbuhan
yang kehadiranya tidak diinginkan namun tumbuh di sekitar lahan pertanian yang
di budidayakan. Gulma mengganggu pertumbuhan tanaman yang di budidayakan
melalui kompetisi serta bersaing kuat dalam memperebutkan CO2, air, cahaya
matahari dan nutrisi. Pertumbuhan gulma juga dapat memperlambat pertumbuhan
tanaman karena gulma menyerap hara dan air lebih cepat dibanding tanaman
utama yang di budidayakan. Gulma di suatu tempat mungkin berguna sebagai
bahan pangan, makanan ternak atau sebagai bahan obat-obatan. Dengan demikian,
suatu spesies tumbuhan tidak dapat diklasifikasikan sebagai gulma pada semua
kondisi. Namun demikian, banyak juga tumbuhan diklasifikasikan sebagai gulma
dimanapun gulma itu berada karena gulma tersebut umum tumbuh secara teratur
pada lahan tanaman budidaya (Sebayang, 2005).
Untuk mengetahui jenis gulma yang tumbuh pada lahan pertanian perlu
dilakukan analisis vegetasi. Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan
(komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau kelompok tumbuh-
tumbuhan. Analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui gulma - gulma yang
memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan sarana tumbuh dan ruang hidup.
Dalam hal ini, penguasaan sarana tumbuh pada umumnya menentukan gulma
tersebut penting atau tidak. Namun dalam hal ini jenis tanaman memiliki peran
penting, karena tanaman tertentu tidak akan terlalu terpengaruh oleh adanya
gulma tertentu, meski dalam jumlah yang banyak (Adi, 2013).
            Pengamatan komposisi gulma berguna untuk mengetahui ada tidaknya
pergeseran jenis gulma yaitu keberadaan jenis gulma pada suatu areal sebelum
dan sesudah percobaan/perlakuan. Summitted Dominance Ratio (SDR) atau
Nisbah Jumlah Dominan (NJD) berguna untuk menggambarkan hubungan jumlah
dominansi suatu jenis gulma dengan jenis gulma lainnya dalam suatu komunitas,
sebab dalam suatu komunitas sering dijumpai spesies gulma tertentu yang tumbuh
lebih dominan dari spesies yang lain. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan
sebelum pengendalian gulma dilakukan antara lain adalah jenis gulma dominan,
tumbuhan budidaya utama, alternatif pengendalian yang tersedia serta dampak
ekonomi dan ekologi (Mas’ud, 2009).

B. Tujuan
1. Mengetahui dominansi gulma yang ada dalam suatu agroekologi.
2. Mengetahui sejarah manajemen gulma yang dilakukan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pertanian Organik
Pertanian organik makin banyak diterapkan pada beberapa komoditi
pertanian, salah satunya adalah padi sebagai komoditi penghasil beras dan sebagai
bahan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Keunggulan beras
organik adalah sehat, dengan kandungan gizi atau vitamin yang tinggi karena
tidak menghilangkan lapisan kulit ari secara menyeluruh sehingga beras organik
tidak tampak mengkilap seperti beras pada umumnya. Beras lebih enak dan
memiliki rasa alami atau pulen, lebih tahan lama dan tidak basi serta memilki
kandungan serat dan nutrisi lebih baik. Manfaat beras organik bagi lingkungan,
diantaranya sistem produksi sangat ramah lingkungan sehingga tidak merusak
lingkungan, tidak mencemari lingkungan dengan bahan kimia sintetik dan
meningkatkan produktivitas ekosistem pertanian secara alami, serta menciptakan
keseimbangan ekosistem terjaga dan berkelanjutan (Sutanto, 2002).
B. Definisi Gulma
Secara umum, definisi gulma adalah segala jenis tanaman atau tumbuhan
yang tidak ditanam dan tumbuh secara liar dilahan pertanian, perkebunan atau
tempat lain yang kehadirannya tidak diinginkan karena keberadaannya dapat
mengganggu tanaman utama. Dilahan pertanian, baik lahan budidaya holtikultura
maupun lahan budidaya tanaman perkebunan kehadiran gulma dapat berdampak
buruk bagi tanaman utama yaitu dapat menurunkan hasil tanaman produksi.
Gulma dianggap mengganggu karena adanya kompetisi antara tanaman produksi
dan gulma dalam mendapatkan nutrisi yang ada didalam tanah.
Pada jenis gulma tertentu, yaitu gulma yang tumbuh tinggi dan menutupi
tajuk tanaman produksi kompetisi (persaingan) juga terjadi dalam memperoleh
sinar matahari. Selain berkompetisi memperebutkan kebutuhan hara, beberapa
jenis gulma seperti ilalang dan mikania dapat mengeluarkan zat yang bersifat
racun bagi tanaman, yaitu zat alelopati. Zat beracun tersebut terdapat pada akar
gulma dan berdampak negatif sebagai penghambat pertumbuhan tanaman.
C. Klasifikasi dan Jenis Gulma
Klasifikasi gulma diperlukan untuk mempelajari karakteristik dan ciri-ciri
gulma, dengan tujuan untuk mempelajari manfaat dan cara pengendaliannya.
Masing-masing kelompok gulma memperlihatkan ciri-ciri, karakteristik dan cara
pengendaliannya. Pengelompokan gulma bermanfaat untuk membantu manusia
mengetahui dan mengenal jenis-jenis dan karakteristiknya sehingga kita dapat
melakukan aplikasi herbisida secara tepat dan benar sesuai dengan jenis gulma
sasaran. Berikut ini klasifikasi gulma yang dikelompokkan berdasarkan
morfologi, siklus hidup, habitat tumbuh dan berdasarkan pengaruhnya terhadap
tanaman.
1. Morfologi Gulma
Klasifikasi gulma dilakukan untuk membantu manusia mengenal dan
mengetahui jenis gulma rumputan, daun lebar dan tekian, melakukan analisis
vegatasi gulma dan dapat melakukan aplikasi herbisida secara tepat.
Penggolongan gulma menurut kesamaan responnya terhadap herbisida paling
banyak digunakan bila dikaitkan dengan upaya pengendalian gulma. Kesamaan
respon terhadap herbisida adalah sifat atau gejala umum yang ditunjukkan
gulma tersebut apabila dikenai suatu jenis herbisida.
a) Gulma rerumputan (grasses)
Semua jenis gulma yang termasuk dalam famili Poaceae atau
Gramineae adalah kelompok rerumputan. Ukuran gulma golongan
rerumputan bervariasi, ada yang tegak, menjalar, hidup semusim, atau
tahunan. Batangnya disebut culms, terbagi menjadi ruas dengan buku-buku
yang terdapat antara ruas. Batang tumbuh bergantian pada dua buku pada
setiap antara ruas daun terdiri dari dua bagian yaitu pelepah daun dan
helaian daun, contoh gulma rerumputan Panicium repens, Eleusine indica,
6 Axonopus compressus, Cynodon dactylon, Imperata cylindrica,
Enchinochloa colanum, Paspalum conjungatum.
b) Gulma tekian (sedges)
Semua jenis gulma yang termasuk dalam famili Cyperaceae adalah
gulma golongan tekian. Gulma yang termasuk dalam golongan ini
memiliki ciri utama letak daun berjejal pada pangkal batang, bentuk daun
seperti pita, tangkai bunga tidak beruas dan berbentuk silindris, segi
empat, atau segitiga. Selain itu golongan teki-tekian tidak memiliki umbi
atau akar ramping di dalam tanah. Contoh golongan teki-tekian: Cyperus
rotundus, Cyperus compressus.
c) Gulma berdaun lebar (broad leaves)
Golongan gulma berdaun lebar antara lain: Mikania spp, Ageratum
conyzoides, Euparotum odorotum. Berdasarkan habitat tumbuhnya,
dikenal gulma darat, dan gulma air. Gulma darat merupakan gulma yang
hidup didarat, dapat merupakan gulma yang hidup setahun, dua tahun, atau
tahunan (tidak terbatas). Ciri nya adalah lonjong, bulat, menjari, atau
berbentuk hati. Akar umumnya akar tunjang. Batang umumnya bercabang,
berkayu, atau sukulen. Penyebaranya dapat melalui biji atau dengan cara
vegetatif. Contoh gulma darat diantaranya Agerathum conyzoides,
Digitaria spp, Imperata cylindrical, Amaranthus spinosus. Gulma air
merupakan gulama yang hidupnya berada di air. Jenis gulma air dibedakan
menjadi tiga, yaitu gulma air yang hidupnya terapung dipermukaan air
(Eichhorina crassipes, Silvinia spp), gulma air yang tenggelam di dalam
air (Ceratophylium demersum), dan gulma air yang timbul ke permukaan
tumbuh dari dasar (Nymphae sp, Sagitaria spp).
2. Gulma Berdasarkan Siklus Hidup
a) Gulma Semusim atau Setahun (Annual Weeds)
Tumbuhan ini menyelesaikan daur hidupnya dari biji, tumbuh sampai
mati selama semusim atau setahun. Karena banyaknya biji yang dibentuk,
maka persiten.
b) Gulma Dua Tahun (Biannual Weeds)
Tumbuhan ini menyelesaikan daur hidupnya selama antara satusampai
dua tahun. Bunga dibentuk tahun kedua.
c) Gulma Tahunan (Parennial weeds)
Tumbuhan ini menyelesaikan daur hidupnya selama lebih dari dua
tahun. Kebanyakan tumbuhan ini membentuk biji banyak untuk penyebaran
dan dapat pula menyebar secara vegetative. Karena beda penyebarannya,
maka tumbuhan ini parennial sederhana dan parennial merayap. Gulma
parennial sederhana, hanya menyebar dengan biji meskipun dapat menyebar
secara vegetative bila tumbuhan ini terpotong, akar lunak dan tumbuh
meluas. Gulma perennial merayap menyebar dengan akar yang merayap,
stolon (bagian merayap diatas tanah) dan rhizome (bagian merayap dalam
tanah) (Moenadir, 1998).
3. Gulma Berdasarkan Habitatnya
a) Gulma air (Aquatic weeds)
Gulma ini tumbuh di air baik mengapung, tenggelam ataupun
setengah tenggelam. Gulma air dapat berupa gulma berdaun sempit,
berdaun lebar ataupun teki-tekian. Contoh gulma air adalah Cyperus iria.
b) Gulma darat (Terrestis weeds)
Jenis gulma daratan yang tumbuh di perkebunan sangat
tergantung pada jenis tanaman, jenis tanah, iklim dan pola tanam. Contoh
gulma daratan adalah lalang (Imperata cylindrical) dan mikania
(Micania micrantha).
D. Gulma Cyperus Difformis
Mempunyai ciri morfologi (a) Akar serabut yang panjang dan tumbuh
menyamping (b) Batang berbentuk segitiga, agak lunak dan permukaannya licin,
berwarna hijau kenung-kuningan (c) Daun terdapat pada pangkal batang,
umumnya lebih pendek daripada batang, lebar 2-8 mm dan berbentuk garis (d)
Bunga berwarna kekuning-kuningan amat banyak, berkumpul dalam karangan
bunga berbentuk bulat telur, terletak pada ujung batang, anak bulir berukuran
panjang 4-8 mm dan lebar 1 mm, karangan bunga dilindungi oleh 2-3 daun
pelindung (daun pembalut) (e) Tinggi dapat mencapai 10-70 cm.
Gambar 1. Gulma Cyperus difformis
Sumber : Dokumen Pribadi

E. Gulma Pistia Stratiotes


Tumbuhan apu-apu atau water lettuce (pistia stratiotes) merupakan
tumbuhan yang dapat berkembang biak tidak hanya secara generatif yaitu melalui
penyerbukan pada bunga, selain itu dapat juga secara vegetatif.
Perkembangbiakan vegetatif dapat dilakukan karena mampu membentuk stolon.
Menurut Langeland (2008), Stolon tersebut dapat terpotong pada ujungnya dan
akan terlepas dan tumbuh menjadi individu baru. Tumbuhan ini dapat
berkembangbiak dengan cepat, karena dapat dilakukan secara generatif dan juga
secara vegetatif dengan menggunakan stolon. Sehingga dengan adanya
kemampuan tersebut, maka tumbuhan ini dapat tumbuh dan memperluas serta
membentuk koloni besar yang menutupi seluruh permukaan yang tersedia bagi
mereka. Akar yang dimiliki tumbuhan ini adalah akar serabut dan membentuk
suatu struktur berbentuk seperti keranjang dan dikelilingi gelembung udara,
sehingga meningkatkan daya apung tumbuhan tersebut (Landprotection, 2006).

Gambar 2. Gulma Pistia stratiotes


Sumber : Dokumen Pribadi
F. Gulma Richardia scabra
Richardia scabra merupakan gulma daun lebar dengan daur hidup
semusim. Gulma ini tumbuh baik pada habitat tanah kering dan berpasir (lahan
budidaya, sabana, padang rumput berpasir), menghendaki intensitas cahaya yang
tinggi. Perseabaran gulma luas di berbagai negara dan dinyatakan sebagai gulma
invasif pada beberapa daerah. Gulma ini dapat tumbuh hingga 80 cm dan
berfungsi sebagai pupuk hijau dan penutup tanah (Ken, 2019).

Gambar 3. Gulma Richardia scabra


Sumber : Dokumen Pribadi

G. Gulma Panicum repens


Rumput tahunan dengan akar rimpang sepanjang 12-40 cm, menjalar di
bawah permukaan tanah, tebal rimpang hingga 20 mm, putih, berdaging. Daun
berukuran 4-30 cm x 3-9 mm berbentuk garis dengan kaki lebar dan ujung
runcing. Bunga majemuk berupa malai agak jarang sepanjang 8-22 cm. Senang
tumbuh di tempat yang lembab dan tidak menyukai kekeringan. Menghasilkan
daun yang sedikit, kebanyakan tumbuh sebagai gulma yang mengganggu tanaman
pertanian. Nilai gizi yang dikandung memuaskan dan herbivora gemar
memakannya serta rimpang di beberapa tempat.

Gambar 4. Gulma Panicum repens


Sumber : Dokumen Pribadi
H. Pengendalian Gulma Pada Padi Sawah
Pengendalian Gulma pada sistem budidaya padi sawah dilakukan secara
intensif yang menghendaki kondisi bersih gulma untuk meminimalkan
persaingan antara tanaman padi dan gulma. Kemunculan gulma dimulai pada
sejak padi mulai dipanen hingga musim tanam baru dimulai. Salah satu cara
yang digunakan dalam pengendalian gulma padi sawah yakni secara manual.
Pengendalian dilakukan dengan menyiangi gulma pada saat persiapan lahan,
namun cara ini dinilai kurang efektif. Penerapan sistem SRI (System of Rice
Intensification) pada pertanaman padi menyebabkan peningkatan jumlah tenaga
kerja, karena kegiatan pengendalian gulma maupun hama dilakukan sendiri
oleh petani. Pengendalian gulma dilakukan sebanyak 3-4 kali, sehingga
terjadi peningkatan biaya untuk kebutuhan tenaga kerja
Pengendalian gulma secara kultur teknis juga digunakan dalam
mengendalikan gulma pada padi sawah. Metode yang digunakan salah satunya
adalah dengan penggenangan. Kondisi tanah yang tergenang menciptakan suasana
anaerob, sehinga perkecambahan biji gulma dapat dihambat. Penggenangan juga
menyebabkan penghambatan masuknya oksigen pada proses respirasi di sekitar
perakaran. Prambudyani dan Djufry (2006) menyatakan bahwa pada
penggenangan padi sawah hingga 15cm, tidak meningkatkan laju pertumbuhan
relatif gulma Fimbristylis miliacea (Anugrah et al., 2008).
III. METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Praktikum ini telah dilaksanakan pada tanggal 2 November 2019 di
Pertanian Padi Organik milik Bapak Sugeng yang berada di wilayah Jayan,
Kebonagung, Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Praktikum analisis jenis
gulma dilakukan di Laboratorium Produksi Tanaman Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada.

B. Metode Pelaksanaan
1. Penentuan lokasi
Lokasi yang digunakan untuk analisis vegetasi adalah pertanian organik di
Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
2. Persiapan Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah gulma dari sistem pertanian organik. Alat yang
digunakan adalah kerangka kawat berukuran 50 cm x 50 cm, gunting, spidol,
kertas, kantong plastik, timbangan analitik, oven, alat tulis dan kamera.
3. Pengambilan sampel gulma
Sampel gulma diambil dengan cara meletakkan kerangka kawat di beberapa
petak lokasi pada lahan sawah pertanian organik sebanyak 3 kali ulangan.
Kemudian sampel di ambil, di bersihkan dan di simpan dalam kantong plastik.
4. Analisis vegetasi gulma
Untuk mengetahui komposisi jenis gulma dan menetapkan jenis yang dominan
serta mengetahui tingkat kesamaan atau perbedaan antara dua vegetasi.
Melakukan analisis jenis gulma dengan metode kuadrat dikelompokkan
berdasarkan gulma teki-tekian, gulma rumput, dan gulma daun lebar. Gunakan
Buku deskripsi gulma untuk membantu dalam identifikasi.

5. Perhitungan berat kering gulma


Melakukan pengovenan dengan suhu 90oC selama 2 hari. Kemudian
melakukan penimbangan berat kering dengan menggunakan timbangan
analitik.
6. Analisis data
Melakukan analisis data, dimulai dengan menentukan kerapatan, frekuensi, dan
dominasi masing-masing jenis gulma

C. Variabel Pengamatan

1. Kerapatan Nisbi (KN) : kerapatan mutlak jenis gulma tertentu dibagi total
kerapatan mutlak semua jenis gulma.
KM spesies tersebut
KN suatu spesies= x 100 %
KM semua spesies
Keterangan :
KM (Kerapatan Mutlak) suatu spesies = jumlah individu suatu spesies dari
seluruh unit sampel.
2. Frekuensi Nisbi (FN) : frekuensi mutlak jenis gulma tertentu dibagi total
frekuensi mutlak semua jenis gulma 
FM spesies tersebut
FN suatu spesies= x 100 %
FM semua spesies
Keterangan :
FM (Frekuensi Mutlak) suatu spesies = jumlah unit sampel yang terdapat
spesies tersebut.
3. Dominansi Nisbi (DN)
DM spesies tersebut
DN suatu spesies= x 100 %
DM semua spesies
Keterangan :
DM (Dominansi Mutlak) suatu spesies = jumlah berat kering (dapat pula
tinggi atau luas kanopi) suatu spesies dari seluruh unit sampel.
4. Nisbah dominan terjumlah atau Summed Dominance Ratio (SDR) : nilai
penting dibagi jumlah peubah nisbih
KN + FN + DN
SDR suatu spesies=
3
SDR menggambarkan kemampuan suatu jenis gulma tertentu untuk
menguasai sarana tumbuh yang ada. Semakin besar nilai SDR maka gulma
tersebut semakin dominan. Apabila nilai SDR diurutkan dari yang tertinggi
hingga terendah, semua gulma harus diberi nomor urut walaupun nilai SDR-
nya sama, maka urutan SDR tersebut menggambarkan komposisi jenis gulma
yang ada pada areal pengamatan.

5. Koefisiensi komunitas gulma antara lokasi A dan B


2w
C= x 100 %
a+b
Keterangan :
C = nilai koefisiensi komunitas gulma antara lokasi A dan B
W = nilai terendah dari pasangan SDR terendah tiap spesies gulma dari dua
lokasi yang dibandingkan
(a+b) = jumlah SDR semua spesies gulma dari lokasi A dan B
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Lahan pertanian organik adalah lahan yang jauh dari keberadaan zat kimia,
sehingga memudahkan tumbuh tanaman padi maupun tanaman pengganggu
(gulma). Sistem pertanian organik berarti semua proses sistem pertanian organik
dimulai dari penyiapan lahan hingga pasca panen memenuhi standar budidaya
organik, bukan dilihat dari produk organik yang dihasilkan (Nurhidayati et al.,
2008).

A. Daftar Nama Gulma di Lahan Sawah Organik


Tabel 1. Daftar Nama Gulma di Lahan Sawah Organik

JUMLAH
N ANALISIS
NAMA GULMA GULMA
O
1 2 3 KM FM DM KN (%) FN (%) DN (%) SDR (%)
Cyperus 2.9
1 difformis 1 2 1 4 3 4 4.17 33.33 35.90 24.47
2.0
2 Pistia stratiotes 18 27 29 74 3 8 77.08 33.33 25.40 45.27
3.0
3 Richardia scarba 11 4 2 17 1 9 17.71 11.11 37.73 22.18
0.0
4 Panicum repens 0 0 1 1 2 8 1.04 22.22 0.98 8.08
8.1
JUMLAH
  30 33 33 96 9 9 100 100.00 100 100

Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa jumlah gulma yang


ditemukan pada lahan pertanian organik sebanyak empat jenis gulma. Dominansi
menyatakan berapa luas area yang ditumbuhi oleh sejenis tumbuhan, atau
kemampuan bersaing suatu jenis tumbuhan terhadap jenis lainnya (Tjirtosoedirdjo
et al, 1984). Berdasarkan nilai SDR, gulma yang mendominansi pada
agroekosistem lahan pertanian organik adalah Pistia stratiotes (SDR 45.27%).
Pistia stratiotes sendiri merupakan tumbuhan tahunan berdaun lebar, yang
biasa dijumpai mengapung di perairan tenang atau kolam. Merupakan tanaman
terna yang mengambang, kadang-kadang berakar, tingginya ± 0,1 m2. Gulma ini
dapat tumbuh sampai diketinggian 1000 m dpl dan berkembang biak melalui biji
(Caton et al, 2010). Menyukai tempat yang banyak matahari. Dapat hidup pada
kondisi lingkungan yang lembab sampai tergenang, sehingga gulma jenis ini
banyak sekali ditemukan pada sawah organik. Berdasarkan pengamatan di
lapangan, hal ini dikarenakan sawah organik dekat dengan saluran irigasi sehingga
keadaannya lebih tergenang (Utami, S. dan Lila R. P. 2012).
Pada lahan organik fase vegetatif awal dan akhir gulma yang dominan
adalah gulma daun lebar yang tahan terhadap genangan. Dominan suatu gulma
pada suatu agroekosistem akan mempengaruhi bobot kering gulma tersebut.
Bobot kering gulma mencerminkan pola gulma mengakumulasikan produk dari
proses fotosintesis dan merupakan integrasi dengan faktor-faktor lingkungan
lainnya sehingga semakin berat bobot keringnya maka pertumbuhan gulma
semakin baik apabila jumlah gulma tinggi, maka terjadi kompetisi dalam
memperebutkan faktor pembatas seperti air, cahaya, ruang tumbuh, dan unsur
hara. Semakin banyak jumlah gulma maka individu gulma dalam memperoleh air,
cahaya, ruang tumbuh, dan unsur hara semakin sedikit sehingga pengakumulasian
hasil fotosintesisnya rendah. Pertumbuhan gulma yang semakin tinggi
menunjukkan adanya unsur hara, air, cahaya, dan faktor-faktor lain yang
berpengaruh dalam pertumbuhan tumbuhan tercukupi sehingga pertumbuhan
tanaman budidayapun meningkat. Pertumbuhan yang baik menghasilkan hasil
yang tinggi pula.

B. Perbandingan nilai C antar lahan


Komunitas gulma adalah kumpulan beberapa jenis gulma yang tumbuh
bersama-sama dalam suatu habitat atau agroekositem.
Tabel 2. Perbandingan Nilai C Antar Lahan Agroekosistem yang Berbeda

Per. Per. Pasir


Per. Surjan Terpadu Pantai Per. Intensif
Per. Organik 2,87% 8,08% 0% 33,04%

Koefisien komunitas (C) gulma antara lahan pertanian organik dengan


empat agroekosistem yang lain nilainya kurang dari 75%, hal tersebut
menunjukkan bahwa keadaan vegetasi gulma antara lima lokasi yang
dibandingkan berbeda, dimana keadaan gulma bersifat heterogen atau tidak
seragam.
Pengaruh lingkungan seperti lahan pertanian organik yang basah (habitat
cukup air) daripada lahan agroekosistem yang lain sehingga akan berpengaruh
pada jenis-jenis gulma yang tumbuh. Indeks keanekaragaman jenis gulma lebih
rendah di sawah organik karena lebih sering dikendalikan. Namun jumlah
individunya, gulma sawah organik lebih banyak. Hal ini disebabkan sawah
organik lebih subur dan struktur tanah lebih baik, sedangkan agroekosistem
banyak menggunakan pupuk/zat kimia sintetis dan juga pestisida sehingga
menyebabkan lingkungan rusak dan banyak kehilangan unsur (Pusat Pendidikan
Lingkungan Hidup, 2010).
Apakah tipe agroekosistem mempengaruhi jenis gulma (vegetasi)
Agroekosistem adalah komunitas tanaman dan hewan yang berhubungan
dengan lingkungannya (baik fisik maupun kimia) yang telah diubah oleh manusia
atau satu bentuk ekosistem binaan manusia yang bertujuan menghasikan produksi
pertanian guna memenuhi kebutuhan manusia.
Tipe agroekosistem berdasarkan jenis penanaman varietas pada lahan
pertanian organik yaitu monokultur. Monokultur yaitu jenis atau satu varietas
tanaman saja yang di tanam dalam agroekosistem. Pada lahan pertanian organik
monokulturnya adalah padi. Dan hanya padi yang terus ditanam tanpa ada
tanaman pengganti. Karena hanya menggunakan tanaman padi secara terus
menerus maka jenis gulma yang tumbuh hanya itu itu saja. Misalnya jika yang
dominan adalah Pistia stratiotes maka jenis gulma tersebut yang akan banyak
tumbuh. Selain itu, pengendalian terhadap komponen agroekosistemnya akan
selalu sama seperti penggunaan pestisida nabati untuk mengendalikan hama,
pengolahan lahan menggunakan pupuk organik dari kotoran sapi dan lain
sebagainya sehingga gulma lama kelamaan akan menjadi resisten terhadap
tindakan apapun yang dilakuakn terhadap agroekosistem tersebut.
Tipe agroekosistem berdasarkan kondisi lahannya maka lahan pertanian
organik termasuk ke dalam lahan basah dengan kualitas air yang cukup untuk
budidayanya. Kondisi lahan basah tersebut lembab sehingga ada beberapa jenis
gulma yang menyukainya dan tumbuh dan berkembang dengan baik. Kelembaban
adalah kadar air pada udara. Kelembaban udara mempunyai pengaruh yang besar
terhadap keersediaan air dalam tubuh. Tersedianya air dalam tubuh berperan besar
dalam menunjang proses metabolisme. Setiap organisme mempunyai kemampuan
untuk beradaptasi dengan lingkungan yang kelembapannya berbeda-beda. Dengan
begitu, tingkat kelembapan pada suatu wilayah akan mempengaruhi jenis gulma
pada lahan pertanian organik.

C. Manajemen Gulma Yang Efektif


Memanfaatkan proses alami di dalam lingkungan untuk mendukung
produktivitas pertanian yaitu konsep pertanian organik. Berbagai komponen yang
digunakan dalam sistem tersebut antara lain menggunakan jenis tamanan legume
untuk mengikat nitrogen ke dalam tanah, untuk menanggulangi hama dan
penyakit tanaman digunakan predator, untuk mengembalikan kondisi tanah dan
mencegah terjadinya penumpukan hama digunakan sistem rotasi tanaman.
Demikian pula dalam mengendalikan hama dan penyakit dapat dimanfaatkan
mulsa, sedangkan dalam pengembalian kondisi tanah dapat digunakan bahan
alami sebagai bahan pupuk dan pestisida.
Pada praktikum ini, jenis gulma yang terdapat di lahan sawah organik
adalah Pistia stratiotes merupakan gulma yang menyukai tempat dengan
intensitas matahari banyak. Dapat hidup pada kondisi lingkungan yang lembab
sampai tergenang, sehingga gulma jenis ini banyak sekali ditemukan pada sawah
organik; Richardia scabra memiliki akar tunggang, menyukai tempat yang tidak
terkena sinar matahari sepanjang hari; Cyperus difformis memiliki daya tahan
luar  biasa terhadap pengendalian mekanis, karena memiliki umbi batang di dalam
tanah; dan Panicum repens merupakan gulma dalam kelompok ini berdaun sempit
seperti teki tetapi menghasilkan stolon. Stolon ini di dalam tanah berbentuk
jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik.
Keberadaan gulma pada lahan budidaya menyebabkan persaingan dengan
tanaman budidaya. Persaingan antara gulma dan tanaman budidaya terjadi dalam
memperebutkan unsur hara, cahaya dan air karena antara gulma dan tanaman
sama-sama membutuhkan zat hara yang sama serta ruang tumbuh. Tingkat
persaingan yang terjadi antara tanaman dengan gulma akan berpengaruh terhadap
pertumbuhan tanaman padi. Gulma yang tumbuh pada pertanaman padi perlu
dikendalikan untuk menjaga kestabilan hasil padi. Apabila gulma tidak
dikendalikan akan menimbulkan persaingan dengan tanaman padi yang
menyebabkan penurunan hasil padi. Penurunan hasil padi akibat keberadaan
gulma berbanding lurus dengan kerapatan gulma sehingga perlu pengendalian
gulma (Jamilah, 2013).
Pengendalian gulma pada lahan sawah dapat dilakukan dengan beberapa
metode seperti pengendalian mekanik/fisik, kultur teknik, hayati, pengendalian
secara kimia, dan terpadu (Sembodo, 2010). Gulma di lahan pertanian tidak harus
selalu dikendalikan dari awal sampai panen. Pengendalian harus dilakukan pada
waktu yang tepat, sehingga biaya, waktu, dan tenaga dapat lebih hemat. Waktu
yang tepat untuk mengendalikan gulma adalah waktu periode kritis tanaman, yaitu
periode di mana tanaman sangat peka terhadap faktor lingkungan. Periode ini
biasanya terjadi umur 1/4 atau 1/3 sampai 1/2 umur tanaman.

D. Pengelolaan Gulma Yang Efektif


Pertanian organik adalah mempertahankan dan meningkatkan kualitas
tanah, dengan cara menutup siklus hara di lahan pertanian dengan mengembalikan
hara ke lahan pertanian dalam bentuk kompos. Oleh karena itu, penentuan strategi
dan taktik pengendalian hama yang akan dipilih tidak boleh mengganggu aktivitas
organisme di dalam tanah yang berfungsi dalam pemeliharaan kesuburan tanah
dan siklus penyediakan hara bagi tanaman.
Pengendalian gulma secara mekanis dan fisik dapat dilakukan dengan :
 Pengolahan tanah - membalik tanah di antara tanaman untuk menempatkan
residu tanaman dan gulma ke dalam tanah.
 Pemotongan
 Memberikan panas ke tanah
 Pemberian mulsa untuk menghalangi pertumbuhan gulma
Namun metode pengolahan tanah dapat menyebabkan erosi. FAO dan berbagai
organisasi melakukan pendekatan pertanian tanpa pengolahan tanah (no till
farming) dan menekankan pada rotasi tanaman. Sebuah studi menunjukan bahwa
rotasi tanaman dan pemanfaatan tanaman penutup tanah mampu mengurangi erosi
tanah, mengendalikan hama, dan menekan penggunaan pestisida secara signifikan.
Beberapa bahan kimia yang tersedia secara alami dapat digunakan sebagai
herbisida (bioherbisida), seperti asam asetat, tepung gluten jagung, dan minyak
atsiri. Bioherbisida yang berbasis fungi patogen yang menjadi parasit bagi gulma,
juga telah dikembangkan.
Pada dasarnya gulma mempunyai peranan dalam menyeimbangkan
komunitas biologi dalam membangun kesuburan tanah. Gulma-gulma itu cukup
dikendalikan bukan dihilangkan. Mulsa jerami, tanaman penutup tanah,
penggenangan air sementara merupakan cara pengendalian gulma yang efektif.
V. KESIMPULAN

1. Berdasarkan data analisis menunjukkan bahwa jumlah gulma yang ditemukan


pada lahan pertanian organik sebanyak empat jenis gulma. Dominansi
menyatakan berapa luas area yang ditumbuhi oleh sejenis tumbuhan, atau
kemampuan bersaing suatu jenis tumbuhan terhadap jenis lainnya. Berdasarkan
nilai SDR, gulma yang mendominansi pada agroekosistem lahan pertanian
organik adalah gulma Pistia stratiotes (SDR 45.27%).
2. Pengendalian gulma pada lahan sawah dapat dilakukan dengan beberapa metode
seperti pengendalian mekanik/fisik dan pengendalian hayati. Pengendalian
gulma secara kultur teknis juga digunakan dalam mengendalikan gulma pada padi
sawah. Metode yang digunakan salah satunya adalah dengan penggenangan.
DAFTAR PUSTAKA

Dinas Pertanian. 2018. Mengembangkan Pertanian Organik untuk Pertanian


Indonesia yang Ramah Lingkungan.
https://www.bulelengkab.go.id/detail/artikel/mengembangkan-
pertanian-organik-untuk-pertanian-indonesia-yang-ramah-lingkungan-
72. Diakses pada tanggal 18 November 2019.

Hidayati, Mas’ud. 2009. Komposisi dan Efisiensi Pengendalian Gulma Pada


Pertanaman Kedelai dengan Penggunaan Bokashi 16 (2) : 118-123.

Jamilah. 2013. Pengaruh penyiangan gulma dan system tanam terhadap


pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah. Jurnal Agrista, 17(1): 28-
34.

Utami. S dan Lila R. P. 2012. 2012. Struktur Komunitas Gulma Padi (Oryza
sativa L.) Sawah Organik dan Sawah Anorganik di Desa Ketapang,
Kec. Susukan, Kab. Semarang. BIOMA, Desember 2012 ISSN: 1410-
8801 Vol. 14, No. 2, Hal. 91-95.

Tjitrosoedirdjo, S., I. H. Utomo, dan J. Wiroatmodjo. 1984. Pengelolaan gulma di


perkebunan. Gramedia. Jakarta.

Tongasa. H. 2015. Agroekosistem. Universitas Halu Oleo. Kendari.


LAMPIRAN

A. Dokumentasi kegiatan

Penjelasan tentang pertanian organik Penimbangan berat kering gulma Pistia stratiotes

Pengambilan sampel gulma

Penimbangan berat kering gulma Richardia


scabra
Peletakan kawat berukuran 50 x 50
Penimbangan berat kering gulma Cyperus
cm
difformis

Penimbangan berat kering gulma


Panicum repens

Anda mungkin juga menyukai