Anda di halaman 1dari 19

TUGAS INDIVIDU AL ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN

RESUME TENTANG UMROH, HAJI, ZAKAT, INFAQ DAN SHODAQOH


Dosen Pengampu Mata Kuliah : Drs. Mawardi., M.Pd

OLEH :
NAMA : SORAYA NUR LATIFAH
NIM : 1902070
KELAS : DIII KEPERAWATAN 1B

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KLATEN


TAHUN AKADEMIK 2019/2020
A. Zakat
1. Pengertian dan Hukum
a. Zakat menurut bahasa artinya bersih, tumbuh dan terpuji
b. Menurut istilah, zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seseorang
kepada orang-orang yang berhak menerimanya (mustahik) dengan beberapa
ketentuan, bertujuan untuk mensucikan harta / jiwa.
c. Hukum membayar zakat adalah WAJIB bagi orang yang terpenuhi persyaratannya
2. 8 Golongan yang berhak menerima zakat
a. Fakir : orang yang tidak punya harta dan tidak memiliki pekerjaan
b. Miskin : keluarga pra sejahtera/ memiliki pekerjaan dan harta tapi masih
kurang mencukupi untuk kebutuhan hidupnya
c. Amil : pengurus harta penerimaan zakat
d. Muallaf : orang yang baru masuk Islam
e. Riqab : memerdekakan budak yang beriman pada Allah swt.
f. Garim : orang yang banyak hutang, tapi tidak dalam maksiat pada Allah
g. Sabilillah : perjuangan di jalan Allah swt./ sekolah, panti asuhan dll
h. Ibnu sabil : musafir yang kehabisan bekal dan tidak dalam perjalanan maksiat
3. Pembagian Zakat
a. Zakat Fitrah
Ciri zakat fitrah adalah :
1) Zakat pribadi yang dikeluarkan pada sebelum shalat iedul fitri
2) Hukumnya wajib dikeluarkan oleh setiap orang yang masih hidup sampai malam idul fitri
dan mempunyai kelebihan bahan makanan
3) Bentuknya adalah bahan makanan pokok perjiwa 2,5 Kg beras/ makanan pokok yang lain
senilai 2,5 kg beras
4) Tujuannya adalah untuk mensucikan jiwa
5) Adapun batas maksimal membayarkannya adalah sebelum sholat Ied
b. Zakat Maal
1) Zakat harta yang wajib dibayarkan oleh seseorang yang sudah mencapai nisab dan haul.
Tujuannya adalah untuk mensucikan harta.
Nisab adalah batas minimal jumlah kepemilikan harta
Haul adalah batas waktu penyimpanan harta
2) Syarat wajib zakat mal
a) Islam
b) merdeka
c) harta itu milik sendiri
d) cukup haul
e) cukup nisab

3) Rukun zakat mal


a) Muzaki [orang yang mengeluarkan zakat]
b) Mustahik [penerima zakat]
c) Harta yang dizakati dan dizakatkan
d) Sighot ijab qobul
4) Tabel Zakat Maal
No Zakat Mal Nisab Jumlah Zakat Waktu Zakat
1. Emas 93,6 gram emas 2,5% Setelah dimiliki
24 karat selama 1 tahun
2. Perak 642 gram perak 2,5% Setelah dimiliki
murni selama 1 tahun
3. Uang Seharga emas 2,5% Setelah dimiliki
93,6 gr selama 1 tahun
4. Hasil Bumi (Zakat Zuru’) 5 wasaq/750 kg/ 10% jika Pada waktu
930 liter pengairannya panen
dengan air hujan

5% jika
pengairannya
dengan biaya
5. Unta 5-9 ekor 1 ekor kambing Setelah dimiliki
umur 2th lebih selama 1 tahun
6. Kerbau/Sapi 30-39 1 ekor anak Setelah dimiliki
sapi/kerbau 1 th selama 1 tahun
lebih
7. Kambing 40-120 1 ekor kambing Setelah dimiliki
betina 2 th lebih selama 1 tahun
8. Perusahaan Perniagaan Seharga 93,6 gr 2,5% Setelah dimiliki
emas selama 1 tahun
9. Harta rikaz/ temuan/ karun Tidak dibatas 20% Pada waktu
menemukan nya
B. Haji dan Umrah
Tabel Haji dan Umrah
No Jenis Materi Haji Umrah
1. Pengertian sengaja mengunjungi baitulah di Mekah mengunjungi
dengan niat beribadah kepada Allah pada baitullah dengan niat
waktu tertentu, serta dengan syarat-syarat ibadah dengan syarat
dan cara tertentu dan rukun tertentu,
tetapi waktunya
adalah sepanjang
tahun
2. Hukum fardhu’ain bagi orang islam yang sudah tatowwu’/
memenuhi syarat-syaratnya mutabahah (artinya
sangat baik dan
mendapat pahala
besar)
3. Syarat a) Islam a) Islam
b) Berakal b) Berakal
c) Baligh/dewasa c) Baligh/dewasa
d) Merdeka d) Merdeka
e) Kuasa/mampu e) Kuasa/mampu
4. Rukun a) Ihrom a) Ihrom
b) Wukuf b) Tawaf
c) Tawaf c) Sa’i
d) Sa’i d) Tahalul
e) Tahalul e) Tertib
f) Tertib

Penjelasan Rukun Haji / Umrah


1. Ihram, yaitu berniat menunaikan haji dengan memakai kain putih tidak berjahit dari
miqatnya. Miqat ada 2:
a. Miqat zamani, yaitu batas waktu dibolehkannya mulai ikhram, yaitu mulai bulan
syawal sampai terbit fajar tgl 10 dzulhijjah
b. Miqat makani, yaitu batas tempat dimana para calon haji wajib memulai memakai
baju ihram. Bagi jamaah haji yang dari Indonesia dimulai pada bukit yalamlam
2. Wukuf, adalah berhenti di padang arafah sejak tergelincirnya matahari tanggal 9 dzulhijjah
sampai terbit fajar 10 dzulhijjah
3. Tawaf, yaitu mengelilingi ka’bah 7 kali. Dalam melaksanakan thawaf, tidak perlu dengan
niat sendiri karena sudah terkandung dalam ihram
4. Sa’i, Sa’i ialah berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwa sebanyak tujuh kali
5. Tahalul, ialah mencukur atau menggunting rambut kepala sebagai tanda telah bebas dari
larangan-larangan haji atau umrah. Sedikitnya 3 helai rambut.
C. INFAQ
Pengertian Infaq
Pengertian infaq adalah berasal dari kata anfaqa–yunfiqu yang artinya membelanjakan
atau membiayai yang berhubungan dengan usaha realisasi perintah-perintah Allah. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi Kelima infaq adalah pemberian (sumbangan) harta dan
sebagainya (selain zakat wajib) untuk kebaikan. Sedangkan menurut istilah infaq berarti
mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang
diperintahkan dalam ajaran Islam.
Oleh karenanya, infaq berbeda dengan zakat, infaq tidak mengenal nisab atau jumlah
harta yang telah ditentukan secara hukum. Infaq juga tidak harus diberikan kepada mustahik
tertentu, melainkan dapat diberikan kepada siapapun seperti keluarga, kerabat, anak yatim,
orang miskin, atau orang orang yang sedang dalam perjalanan jauh. Dengan demikian infaq
adalah membayar dengan harta, mengeluarkan dengan harta dan membelanjakan dengan
harta.
●Perintah Infaq Adalah untuk Kebaikan
Tujuannya bisa untuk kebaikan seperti donasi atau sesuatu yang bersifat untuk diri
sendiri. Perintah supaya seseorang membelanjakan harta tersebut untuk dirinya sendiri ada di
dalam firman Allah SWT sebagai berikut:

َ‫س ِه فَأُو ٰلَئِكَ ُه ُم ا ْل ُم ْفلِ ُحون‬


ِ ‫ق ش َُّح نَ ْف‬ ِ ُ‫س َم ُعوا َوأَ ِطي ُعوا َوأَ ْنفِقُوا َخ ْي ًراأِل َ ْنف‬
َ ‫س ُك ْم ۗ َو َمنْ يُو‬ ْ ‫فَاتَّقُوا هَّللا َ َما ا‬
ْ ‫ستَطَ ْعتُ ْم َوا‬

Artinya:
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah
dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari
kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Tagabun: 16)

Sedangkan perintah untuk memberi nafkah istri dan keluarga menurut kemampuan juga telah
dijelaskan dalam firman Allah SWT sebagai berikut:

َ‫س ًرا‬ ْ ‫سيَ ْج َع ُل هَّللا ُ بَ ْعد ُع‬


ْ ُ‫س ٍر ي‬ َ ۚ ‫سا إِاَّل َما آتَاهَا‬ ْ ِ‫س َعتِ ِه ۖ َو َمنْ قُ ِد َر َعلَ ْي ِه ِر ْزقُهُ فَ ْليُ ْنف‬
ً ‫ق ِم َّمآتَاهُ هَّللا ُ ۚ اَل يُ َكلِّفُ هَّللا ُ نَ ْف‬ َ ‫ق ُذو‬
َ ْ‫س َع ٍة ِمن‬ ْ ِ‫لِيُ ْنف‬
‫ا‬

Artinya:
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang
disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah
kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang
Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”
(QS. At-Thalaq: 7)
Dalam membelanjakan harta harta itu hendaklah yang dibelanjakan merupakan harta yang
baik dan bukan yang buruk, khususnya dalam menunaikan infaq berdasarkan firman Allah
SWT di dalam surat Al-Baqarah ayat 267 yang berarti:
“Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagaian dari hasil usahamu
yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan
janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal
kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan denagan memincingkan mata terhadapnya.
Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Macam-macam Infaq
Infaq secara hukum terbagi menjadi empat macam, diantaranya adalah sebagai berikut
●Infaq Adalah Mubah
Jenis Infaq mubah merupakan sebuah tindakan mengeluarkan harta untuk perkara mubah
seperti berdagang dan bercocok tanam.
●Infaq Adalah Wajib
Bentuk Infaq wajib merupakan pengeluaran harta untuk perkara yang wajib seperti
membayar mahar (maskawin), menafkahi istri, dan menafkahi istri yang ditalak dan masih
dalam keadaan iddah.
●Infaq Adalah Haram
Jenis Infaq haram merupakan sebuah tindakan mengeluarkan harta dengan tujuan yang
diharamkan Allah, seperti:

a. Infaqnya orang kafir untuk menghalangi syiar Islam


Seperti firman Allah SWT dalam Surat Al-Anfal ayat 36 yang berbunyi:

‫س َرةً ثُ َّم يُ ْغلَبُونَ ۗ َوالَّ ِذينَ َكفَ ُروا إِلَ ٰى‬


ْ ‫سيُ ْنفِقُونَ َها ثُ َّم تَ ُكونُ َعلَ ْي ِه ْم َح‬
َ َ‫سبِي ِل هَّللا ِ ۚ ف‬ ُ َ‫إِنَّ الَّ ِذينَ َكفَ ُروا يُ ْنفِقُونَ أَ ْم َوالَ ُه ْم لِي‬
َ ْ‫صدُّوا عَن‬
َ‫شرُون‬ َ ‫َج َهنَّ َم يُ ْح‬

Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk mengahalangi
(orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi
mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan kedalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu
dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal [8]: 36)

b. Infaqnya orang Islam kepada fakir miskin tapi tidak karena Allah.
Berdasarkan firman Allah SWT di dalam Surat An-Nisa ayat 38, yang berbunyi:

َ َ‫ش ْيطَانُ لَهُ قَ ِرينًا ف‬


‫سا َء قَ ِرينًا‬ ِ ‫َوالَّ ِذينَ يُ ْنفِقُونَ أَ ْم َوالَ ُه ْم ِرئَا َء النَّا‬
َّ ‫س َواَل يُؤْ ِمنُونَ بِاهَّلل ِ َواَل بِا ْليَ ْو ِم اآْل ِخ ِر ۗ َو َمنْ يَ ُك ِن ال‬

Artinya:
“Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia,
dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa
yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-
buruknya.” (QS. An-Nisa [4]: 38)

●Infaq Sunnah
Infaq sunnah ini yaitu mengeluarkan harta dengan niat shadaqah. Jenis ini terbagi kedalam
dua kategori, yaitu; infaq untuk jihad dan infaq kepada yang membutuhkan.

D. Pengertian Sedekah atau Shadaqah sedekah


Sedekah menurut KBBI berarti pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak
menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi.
Pengertian secara umum shadaqah atau sedekah adalah mengamalkan harta di jalan Allah
dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan, dan semata-mata mengharapkan ridha-Nya
sebagai bukti kebenaran iman seseorang. Istilah lain sedekah adalah derma dan donasi.

Dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah Ayat 245 disebutkan:


“Barang siapa yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan
hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan
lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepda-
Nya-lah kamu dikembalikan.”

Ayat tersebut menggambarkan bahwa shadaqah memiliki makna mendermakan atau


menyisihkan uang di jalan Allah swt. Memberi sedekah kepada fakir miskin, kerabat, atau
orang lain yang dilakukan hanya untuk mengaharap ridha Allah maka akan mendapatkan
pahala yang berlipat ganda, baik di dunia maupun di akhirat.
Selain sebagai bentuk amalan dan kebenaran iman seseorang terhadap perintah Allah swt,
shadaqah memiliki banyak keutamaan dalam pelaksanaannya antara lain:

Orang yang bersedekah denga ikhlas akan mendapatkan perlindungan dan naungan Arsy di
hari kiamat.
Sebagai obat bagi berbagai macam penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani.
Allah akan melipatgandakan pahala orang yang bersedekah, (QS. Al-Baqarah: 245)
Shadaqah merupakan indikasi kebenaran iman seseorang.
Sebagai penghapus kesalahan
Shadaqah merupakan pembersih harta dan mensucikannya dari kotoran.
Shadaqah juga merupakan tanda ketaqwaan, (QS. Al-Baqarah: 2-3)
Shadaah adalah perisai dari neraka
Sebagai pelindung di Padang Mahsyar
Orang yang bersedekah termasuk kedalam tujuh orang yang dinaungi di akhirat nanti

Macam-macam Sedekah atau Shadaqah


Berikut merupakan beberapa jenis shadaqah yang bisa kita amalkan sehari-hari:

Tasbih, Tahlil, dan Tahmid


macam sedekah

Dari Aisyah r.a, bahwasanya Rasulullah SAW. Berkata, “Bahwasanya diciptakan dari setiap
anak cucu Adam tiga ratus enam puluh persendian. Maka barang siapa yang bertakbir,
bertahmid, bertasbih, beristighfar, menyingkirkan batu, duri, atau tulang dari jalanan, amar
ma’ruf nahi mungkar, maka akan dihitung sejumlah tiga ratus enam puluh persendian. Dan ia
sedang berjalan pada hari itu, sedangkan ia dibebaskan dirinya dari api neraka.” (HR.
Muslim)

Baca juga:
Cara Bersedekah: Sederhana Membawa Berkah
Manfaat Penting Memberikan Sedekah untuk Anak Yatim di Panti Asuhan
Bekerja dan Memberi Nafkah pada Sanak Keluarganya
pengertian sedekah

Sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits: Dari Al-Miqdan bin Ma’dikarib Al-Zubaidi
ra, dari Rasulullah saw. Berkata, “Tidaklah ada satu pekerjaan yang paling mulia yang
dilakukan oleh seseorang daripada pekerjaan yang dilakukan dari tangannya sendiri. Dan
tidaklah seseorang menafkahkan hartanya terhadap diri, keluarga, anak dan pembantunya
melainkan akan menjadi shadaqah.” (HR. Ibnu Majah)

Shadaqah Harta (Materi)


sedekah uang

Sedekah tidaklah mengurangi harta. Sebagaimana Rasulullah SAW. Bersabda, “sedekah


tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim). Meskipun secara bentuk harta tersebut berkurang,
namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah
dengan kelipatan yang amat banyak seperti dalam firman Allah dalam Surah Saba: “Dan
barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi
rezki sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).

Sedekah harta salah satunya bisa kamu lakukan untuk membantu pembangunan lembaga
penghafal Al-Quran, salah satunya adalah Lembaga Tahfidz Quran (LTQ) Al Fatih. Program
ini merupakan saran pembibitan santri penghafal Al-Quran binaan Rumah Yatim Dhuafa.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan para yatim dhuafa kesempatan untuk
belajar gratis. Dengan bersedekah, kamu bisa bantu wujudkan yatim dhuafa menjadi hafidz
Quran melalui program ini.
TUGAS INDIVIDU AL ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN
RESUME TENTANG PERNIKAHAN DALAM ISLAM
Dosen Pengampu Mata Kuliah : Drs. Mawardi., M.Pd
OLEH :
NAMA : SORAYA NUR LATIFAH
NIM : 1902070
KELAS : DIII KEPERAWATAN 1B

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KLATEN


TAHUN AKADEMIK 2019/2020

RESUME PERNIKAHAN DALAM ISLAM

1. PENGERTIAN PERNIKAHAN DALAM ISLAM

Pernikahan atau Munahakat artinya dalam bahasa adalah terkumpul dan menyatu.
Menurut istilah lain juga dapat berarti akad nikah (Ijab Qobul) yang menghalalkan
pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim sehingga menimbulkan
hak dan kewajiban diantara keduanya yang diucapkan oleh kata-kata , sesusai
peraturan yang diwajibkan oleh Islam. Kata zawaj digunakan dalam al-Quran artinya
adalah pasangan yang dalam penggunaannya pula juga dapat diartikan sebagai
pernikahan, Allah s.w.t. menjadikan manusia itu saling berpasangan, menghalalkan
pernikahan dan mengharamkan zina.

2. HAKIKAT PERNIKAHAN

Hakikat sebuah pernikahan adalah suatu ikrar janji kesetiaan dan terciptanya pola
hubungan yang harmonis saling jujur, percaya dan pengertian antara suami dan isrti
dengan tujuan pencapaian ridha Allah Swt. Ikatan suatu pernikahan yang diniatkan
mencari ridha Allah jauh lebih mulia ketimbang diniatkan yang lain.

3. HUKUM PERNIKAHAN
Menurut sebagian besar Ulama’, hukum asal menikah adalah mubah, yang artinya
boleh dikerjakan dan boleh tidak. Apabila dikerjakan tidak mendapatkan pahala, dan
jika tidak dikerjakan tidak mendapatkan dosa. Namun menurut saya pribadi karena
Nabiullah Muhammad SAW melakukannya, itu dapat diartikan juga bahwa
pernikahan itu sunnah berdasarkan perbuatan yang pernah dilakukan oleh Beliau.
Akan tetapi hukum pernikahan dapat berubah menjadi sunnah, wajib, makruh bahkan
haram, tergantung kondisi orang yang akan menikah tersebut.

●Pernikahan Yang Dihukumi Sunnah

Hukum menikah akan berubah menjadi sunnah apabila orang yang ingin
melakukan pernikahan tersebut mampu menikah dalam hal kesiapan jasmani, rohani,
mental maupun meteriil dan mampu menahan perbuatan zina walaupun dia tidak
segera menikah. Sebagaimana sabda Rasullullah SAW :
“Wahai para pemuda, jika diantara kalian sudah memiliki kemampuan untuk
menikah, maka hendaklah dia menikah, karena pernikahan itu dapat menjaga
pandangan mata dan lebih dapat memelihara kelamin (kehormatan); dan barang siapa
tidak mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu menjadi penjaga
baginya.” (HR. Bukhari Muslim)

●Pernikahan Yang Dihukumi Wajib

Hukum menikah akan berubah menjadi wajib apabila orang yang ingin
melakukan pernikahan tersebut ingin menikah, mampu menikah dalam hal kesiapan
jasmani, rohani, mental maupun meteriil dan ia khawatir apabila ia tidak segera
menikah ia khawatir akan berbuat zina. Maka wajib baginya untuk segera menikah

●Pernikahan Yang Dihukumi Makruh

Hukum menikah akan berubah menjadi makruh apabila orang yang ingin
melakukan pernikahan tersebut belum mampu dalam salah satu hal jasmani, rohani,
mental maupun meteriil dalam menafkahi keluarganya kelak

●Pernikahan Yang Dihukumi Haram

Hukum menikah akan berubah menjadi haram apabila orang yang ingin
melakukan pernikahan tersebut bermaksud untuk menyakiti salah satu pihak dalam
pernikahan tersebut, baik menyakiti jasmani, rohani maupun menyakiti secara
materiil.

4. PERSIAPAN PERNIKAHAN
Persiapan Calon Mempelai
Calon mempelai adalah orang yang akan menikah atau dinikahkan dan sebelum acara
pernikahan berlangsung tentunya calon mempelai harus sudah memiliki kesiapan.
Kesiapan calon mempelai dapat dilihat dari beberapa segi, yakni sebagai berikut

●Persiapan Fisik
Seorang calon mempelai yang akan menikah hendaknya telah siap fisik dan
tubuhnya dengan kata lain, ia telah mencapai akil baligh dan telah siap memenuhi
tugasnya sebagai seorang istri maupun sebagai seorang suami. Sebelum
melangsungkan pernikahan sebaiknya periksa kesehatan tubuh terlebih dahulu
terutama yang menyangkut masalah reproduksi karena salah satu tujuan pernikahan
adalah nantinya pasangan akan memiliki keturunah. Oleh sebab itu, jika ada masalah
pada fisik dan organ tubuh yang berkaitan dengan hal tersebut maka sebaiknya diatasi
terlebih dahulu.

●Persiapan mental
Calon mempelai semestinya sudah siap melangsungkan pernikahan dan telah
menyadari bahwa ia akan menikah dan memiliki kehidupan yang baru. Agar tidak
stress atau mengalami masalah setelah menikah maka sebaiknya mempelai
mempersiapkan mentalnya agar ia mampu menerima segala tanggung jawab sebagai
seorang suami maupun seorang istri. Memaksakan diri untuk menikah saat mental
belum siap dapat menyebabkan munculnya masalah dikemudian hari.

●Persiapan spiritual
Menikah tidak hanya suatu hal yang membutuhkan persiapan mental dan fisik
saja melainkan dibutuhan juga kesiapan spiritual. Seseorang yang menikah hendaknya
meminta petunjuk kepada Allah SWT dan mendekatkan diri pada-Nya agar
pernikahan yang nantinya ia jalani adalah sesuai dengan syariah yang diberikan bagi
umat islam. Inilah mengapa seseorang yang akan menikah juga dianjurkan untuk
melakukan shalat istikharah dan rajin melaksanakan ibadah lainnya seperti berpuasa
agar ia benar-benar merasa mantap untuk menikah.

●Persiapan ekonomi
Pasangan yang akan menikah tentunya mesti memikirkan juga kehidupan
mereka setelah menikah, oleh sebab itu sebaiknya sebelum melaksanakan pernikahan
baik pria dan wanita telah memiliki kesiapan materiil terutama bagi pihak mempelai
pria yang nantinya akan mencari nafkah bagi keluarganya.

●Persiapan sosial
Persiapan sosial yang dimaksud adalah segala hal yang menyangkut
kedudukan seseorang di masyarakat, dalam hal ini seseorang yang akan menikah
sebaiknya memeiliki hubungan yang baik dengan masyarakat terutama di tempat
nantinya pasangan yang akan menikah itu tinggal. Pernikahan nantinya tidak hanya
menyangkut mempelai saja melainkan juga melibatkan partisipasi masyarakat
disekitarnya.

Persiapan Hukum dan Syariah


Selain persiapan calon mempelai, persiapan lain yang tidak kalah penting
adalah persiapan pernikahan secara syariah dan hukum. Sebelum menikah, pasangan
harus terlebih dahulu mengurus segala dokumen kenegaraan yang diperlukan untuk
menikah dan mendaftarkannya di KUA atau kantor urusan agama. Selain itu,
pasangan yang akan menikah juga harus mempersiapkan segala syarat dan rukun yang
diperlukan pada saat pernikahan.
Adapun diantara syarat dan rukun yang harus ada dalam pernikahan adalah adanya
wali dari pihak mempelai wanita dan saksi yang akan hadir dalam pernikahan. Segala
sesuatu yang menyangkut hal tersebut harus dipersiapkan dengan baik karena apabila
jika tidak terpenuhi maka status pernikahan seseorang tidaklah sah baik di mata
agama maupun di mata hukum yang berlaku.

Persiapan Anggaran dan Materi


Persiapan yang harus diperhatikan selanjutnya adalah persiapan anggaran atau
dana yang akan digunakan pada saat menikah. Meskipun hal ini tidaklah wajib atau
tidaklah harus seseorang menggelar pesta yang meriah untuk pernikahannya, namun
tetap saja dalam melangsungkan pernikahan, ada biaya yang harus dikeluarkan
misalnya untuk kepengerusan dokumen, acara akad nikah, dan lain sebagainya. Jika
seseorang akan menggelar suatu pesta pernikahan yang nantinya akan mengundang
masyarakat untuk menyaksikan pernikahannya maka ia harus mempertimbangkan
segala sesuatunya dengan baik dan sebaiknya tidak berlebih-lebihan karena perbuatan
tersebut tidak disukai Allah SWT.

5. THALAQ DAN KHOLIQ

1. Pengertian Thalaq
Menurut bahasa, ath-thalaq berasal dari kata al-ithlaq, yang berarti melepaskan
dan meninggalkan. Misalnya, ketika Anda mengatakan,”Saya lepaskan tawanan”
berarti Anda telah melepaskan tawanan. Menurut istilah, thalaq adalah melepaskan
ikatan pernikahan dan mengakhiri hubungan suami-istri.
Thalaq adalah jalan terakhir yang ditempuh suami-istri, jika cara lain untuk mencapai
kebaikan bersama tidak ditemukan. Oleh karena itu, thalaq hendaknya atas dasar
kebaikan masing-masing, jika kebaikan bersama melalui pernikahan tidak dapat
dicapai.

2. Macam-macam Thalaq

a) Thalaq Raj’i dan Thalaq Ba’in


Thalaq Raj’i adalah thalaq yang dilakukan oleh suami kepada istrinya
yang sudah disetubuhi dalam arti yang sebenarnya tanpa membutuhkan pembayaran
harta dan tidak didahului oleh thalaq apapun sebelumnya, atau pernah diucapankan
satu kali thalaq sebelumnya. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan diantara thalaq yang
diucapkan dengan cara terus terang maupun sindiran. Jika suami menalak istrinya
yang belum pernah disetubuhi dalam arti yang sebenarnya, atau ditalak dengan
meminta bayaran harta, atau talak tersebut merupakan kali ketiga, maka thalaq seperti
ini disebut thalaq ba’in.
Dalam undang-undang No.25 tahun 1929 pada pasal 5 disebutkan, “Setiap
talak disebut talak raj’i, kecuali talak untuk kali yang ketiga, talak sebelum dilakukan
persetubuhan dan talak yang membutuhkan pembayaran harta dan talak lain yang
disebut sebagai talak ba’in dalam undang-undang ini dan undang-undang No.25 tahun
1920 M.
Talak Ba’in adalah talak yang dijatuhkan oleh suami kepada istrinya untuk
yang ketiga; atau talak yang dijatuhkan oleh suami kepada istinya sebelum terjadi
persetubuhan diantara keduanya; atau talak dengan membayar tebusan yang
diserahkan oleh istri kepada suaminya.
Dalam Bidayah al-Mujtahid, Ibnu Rusyd berkata, “Para ulam sepakat bahwa
talak ba’in hanya dilakukan terhadap istri yang ditalak sebelum disetubuhi, talak
untuk kali yang ketiga dan talak dengan membayar tebusan yang diserahkan oleh istri
kepada suami agar atas khulu’ yang dijatuhkannya. Tapi dalam masalah khulu’,
mereka berbeda pendapat apakah khulu’ tersebut termasuk talak atau fasakh. Lain dari
itu semua para ulam sepakat bahwa jumlah talak yang membolehkan talak ba’in
adalah sebanyak tiga kali talak yang diucapkan oleh suami yang tidak dalam tekanan
dan dalam tempat yang berbeda antara satu ucapan talak dengan ucapan talak
berikutnya. Sebagai dasarnya adalah pada Firman Allah swt.,
ُ َ‫الطَّال‬
ِ ‫ق َم َّرت‬
‫َان‬
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali”. (Al-Baqarah [2]: 229)
Ditinjau dari segi rujuk, talak terbagi atas talak raj’i dan talak ba’in. Talak raj’i
adalah talak yang bisa rujuk kembali oleh bekas suaminya tanpa memerlukan nikah
kembali. Hal ini berupa talak satu talak dua yang dijatuhkan oleh suami kepada
istrinya. Sedangkan talak ba’in adalah talak dimana suami tidak boleh merujuk
kembali bekas istrinya, kecuali dengan persyaratan tertentu.

b) Thalaq Sunni dan Thalaq Bidh’i


Talak Sunni adalah talak yang dijatuhkan sesuai dengan apa yang
diperintahkan oleh agama. Misalnya talak yang dijatuhkan oleh seorang suami kepada
istrinya yang sudah digauli dengan satu kali talak dan ketika istri dalam keadan bersih
dari haid, tapi belum dicampuri . hal itu sebagaimana Firman Allah swt.,
۟ ‫ۖ ٰيَٓأَيُّهَا ٱلنَّب ُّى إ َذا طَلَّ ْقتُ ُم ٱلنِّ َسٓا َء فَطَلِّقُوه َُّن لِ ِع َّدتِ ِه َّن َوأَحْ ص‬
َ‫ُوا ْٱل ِع َّدة‬ ِ ِ
“Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu
ceraikan mereka pada waktu mereka dapat(menghadapi iddahnya (yang wajar)…”
(ath-Thalaq [65]: 1)
Maksud dari ayat ini adalah jika kalian (para laki-laki) ingin menjatuhkan
talak kepada istri-istri kalian, talaklah mereka pada saat mereka bisa menerima iddah.
Istri yang ditalak bisa menerima iddah jika suaminya menjatuhkan talak kepadanya
setelah dia suci dari haid atau nifas dan sang suami belum menyetubuhinya.[6]
Talak Bidh’i adalah talak yang tidak sesuai dengan yang disyariatkan.
Misalnya, tiga talak yang dijatuhkan oleh seorang suami kepada istrinya dengan satu
kalimat(ucapan), atau lebih dari satu kalimat, tapi didalam satu tempat. Misalnya,
apabila seorang suami berkata kepada istrinya, “Saya talak kamu! Saya talak kamu!
Saya talak kamu!” atau seorang suami menjatuhkan talak kepada istrinya ketika ia
dalam keadaan haid atau nifas, atau dalam keadaan suci, tetapi suaminya sudah
menyetubuhinya.
Ditinjau dari segi keadaan istri talak terdiri atas talak sunni dan talak bidh’i.
Talak sunni adalah talak yang dijatuhkan suami ketika istrinya sedang suci, tidak
sedang haid, atau tidak dicampuri. Sedangkan talak bidh’i adalah talak yang
dijatuhkan suami ketika istrinya sedang haid, atau telah dicampuri. Talak bidh’I
hukumnya haram.

c) Talak Sarih dan Talak Kinayah


Ditinjau dari cara menjatuhkannya talak terdiri atas talak sarih dan
talak kiyanah. Talak sarih adalah talak yang diucapkan oleh suami menggunakan kata
talak(cerai), firak(pisah), atau sarah(lepas). Talak dengan menggunakan kata-kata
tersebut dinyatakan sah. Talak kiyanah adalah ucapan yang tidak jelas namun
mengarah kepada talak. Misalnya ucapan yang bernada mengusir, menyuruh pulang,
atau yang bernada tidak memerlukan lagi dan sejenisnya. Jika suami suami
mengucapkan dibarengi niat maka talaknya jatuh. Karena itu untuk menghindari
terjadinya talak kiyanah, sebaiknya suami berhati-hati menggunakan kata-kata kepada
istrinya.

3. Hukum Thalaq
Para ulama fiqih berbeda pendapat tentang hukum talak,tapi pendapat paling
kuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa talak dilarang oleh agama, kecuali
dalam keadaan mendesak. Pendapat ini bersumber dari ulama Hanafiyah dan
Hanabilah yang pendapat itu dilandaskan pada sabda Rasulullah saw.,
“Allah swt. melaknat orang yang suka berganti pasangan dan suka
menceraikan(istri).”[10]
Menurut mazhab Hambali, hukum talak bisa jadi wajib, haram, boleh dan sunnah.
Talak wajib adalah talak yang dijatuhkan oleh dua orang hakam(penengah), karena
terjadinya pertikaian dan perpecahan diantara suami istri. Itupun jika hakam menilai
bahwa talak merupakan cara satu-satunya yang dapat ditempuh untuk menghentikan
pertikaian diantara suami-istri.
Talak haram adalah talak yang dijatuhkan dengan tanpa disertai dengan alas an
yang jelas. Talak ini diharamkan karena merugikan salah satu pihak, baik dari pihak
suami ataupun dari pihak istri, dan tidak ada kemaslahatan yang ingin dicapainya.
Karenanya hukum talak seperti ini adalah haram, sebagaimana haramnya merusak
atau menghancurkan harta benda. Rasulullah saw bersabda, “Tidak boleh berbuat
mudharat dan tidak boleh membalas dengan mudharat.”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa talak yang dijatuhkan dengan tanpa alas an
hukumnya makruh. Rasulullah saw bersabda.,
“Tidaklah Allah swt. menghalalkan sesuatu tapi paling dibenci-Nya selain talak”
Adapun talak yang mubah adalah talak yang dijatuhkan karena istri lalai dalam
melaksanakan kewajiban, seperti melalaikan shalat dan ibadah semacamnya,
sementara sang suami tidak mampu memaksakan untuk melaksanaka kewajiban-
kewajiban itu, atau talak yang dijatuhkan karena istri tidak dapat menjaga kesucian
dirinya.
Imam Ahmad r.a berkata bahwa (jika istri lalai dalam melaksanakan kewajiban dan
tidak dapat menjaga kesucian[berzina]) maka tidak layak bagi suami untuk
mempertahankannya sebagai istri. Apabila suami tetap mempertahankan istrinya
maka hal itu akan mengurangi kesempurnaan agamanya. Selain itu, hal itu juga akan
berakibat buruk bagi keturunannya karena mereka tidak dilahirkan dari benih ayah
mereka. Apabila kondisi yang dialami oleh suami seperti ini, maka suami boleh
melakukan penekanan terhadap istrinya agar sang istri mau mengikuti perintah
suaminya. Allah swt. berfirman:
ِ َ‫ْض َما آَتَ ْيتُ ُموه َُّن إِاَّل أَ ْن يَأْتِينَ بِف‬
‫اح َش ٍة ُمبَيِّنَة‬ ِ ‫ضلُوه َُّن لِت َْذهَبُوا بِبَع‬
ُ ‫َواَل تَ ْع‬
“…..dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali
sebagian dari apa yang pernah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka
melakukan perbuatan yang keji dan nyata ….” (an-Nisa [4]: 19).

B. Khulu’

1. Pengertian Khulu’
Khulu’ yang diperbolehkan dalam Islam seperti kalimat khal’a ats-tsaub
artinya melepaskan pakaian. Wanita diibaratkan sebagai pakaian laki-laki.
Seballiknya, laki-laki juga diibaratkan sebagai pakaian bagi perempuan. Allah swt.
berfirman:
‫ه َُّن لِبَاسٌ لَّ ُك ْم َوأَنتُ ْم لِبَاسٌ لَّه َُّن‬
“Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (al-
Baqarah [2]: 187)
Khulu’ disebut juga dengan al-fida `tebusan’. Hal ini sang istri menebus dirinya
dengan memberikan harta kompensasi kepada suami.
Fuqaha mendefinisikan khulu’ sebagai perceraian antar suami-istri, dengan harta
kompensasi yang diberikan istri kepada suaminya.
Landasan diperbolehkannya khulu’ adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas
r.a., yaitu bahwa suatu ketika, istri Tsabit bin Qais bin Syammas datang kepada
Rasulullah saw. lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya (hendak
menceraikannya) bukan karena saya membenci perilaku dan keberagamaannya,
melainkan saya tidak menyukai pembangkangan didalam Islam.” Lalu, Rasulullah
saw. bersabda, “Apakah kamu mengembalikan kebunnya.” Lalu dia menjawab, “Ya.”
Rasulullah saw. bersabda kepada suaminya, “Terimalah kebunmu, lalu talaklah ia
dengan sekali talak.”
2. Pelaksanaan Khulu’
Fuqaha berpendapat bahwa khulu’ harus dilakukan dengan menggunakan lafal
al-khul’i (melepaskan) atau dengan menggunakan lafal yang diambil dari kata dasar
khulu’ atau lafal lain yang semakna dengan kata al-khul’i, seperti al-mubara’ah
(perceraian dengan saling merelakan) dan al-fidyah (tebusan). Apabila tidak
digunakan lafal al-khul’i atau lafal yang semakna dengan al-khul’i, seperti seorang
suami berkata kepada istrinya, “Aku talak kamu dengan harta kompensasi sekian” lalu
sang istri menerimanya maka hal itu tidak termasuk khulu tetapi masuk kedalam talak
yang dijatuhkan oleh suami kepada istri dengan harta kompensasi.

TUGAS INDIVIDU AL ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN


RESUME TENTANG HARTA WARISAN
Dosen Pengampu Mata Kuliah : Drs. Mawardi., M.Pd

OLEH :
NAMA : SORAYA NUR LATIFAH
NIM : 1902070
KELAS : DIII KEPERAWATAN 1B

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KLATEN


TAHUN AKADEMIK 2019/2020