Anda di halaman 1dari 83

KUMPULAN LAPORAN PRAKTIK STASE KOMUNITAS & KELUARGA

ASUHAN KEPERAWATAN, LAPORAN KUNJUNGAN DAN SATUAN


ACARA PENYULUHAN DI BANJAR PANECA DESA MELINGGIH
KELOD, PAYANGAN, GIANYAR BALI
TANGGAL 22 s/d 25 FEBRUARI 2020

OLEH :

I PUTU KRISNA AGUNG PANGESTU

19.901.2177

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI
2020
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BAPAK “S” DENGAN
HIPERTENSI
DI BANJAR PANECA DESA MELINGGIH KELOD, PAYANGAN
GIANYAR, BALI

OLEH :

I PUTU KRISNA AGUNG PANGESTU

19.901.2177

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRAMEDIKA BALI
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Bp “S” DENGAN HIPERTENSI
KHUSUSNYA Ny “C”
DI BANJAR PANECA MELINGGIH KELOD PAYANGAN GIANYAR
TGL 22-25 FEBRUARI 2020

Laporan Pendahuluan Kunjungan ke-1


Tanggal : 22 februari 2020 Pukul 18.00 Wita
A. Latar Belakang
1. Karakteristik Keluarga Bp ” S”
Pengkajian dalam keluarga perlu dilakukan untuk mendapatkan
data-data yang akurat. Adapun data-data yang akurat mengenai
karakteristik dan permasalahan dalam keluarga memudahkan untuk
memberikan asuhan keperawatan yang sistematis dan koperensif dengan
menerapkan teori-teori keperawatan yang telah diajarkan sesuai tahap
perkembangan keluarga .
Sebelum melakukan pengkajian yang paling utama harus
ditanamkan adalah bina hubungan saling percaya antara perwat dan
keluarga.karena jika sudah terbina salaing percaya asuhan keperawatan
akan dapat dilakukan dengan baik.sesuasi dengan tujuan yang telah
ditetapkan. Teknik pengkajian dapat dilakukan dengan wawancara,
diskusi,obsevasi serta melakuan pemeriksaan fisik ke kluarga bapak S
Latar belakang penemuan kasus yaitu dengan temuan aktif yang
bersumber dari informasi yang didapat dari kepala keluarga Bapak “S”
yaitu Ibu “C” mengatakan menderita penyakit hipertensi. Pada saat
mahasiswa melakukan survey awal, Ibu “C” mengatakan mengeluh sakit
kepala di bagian belakang dan memiliki riwayat hipertensi. Sehingga
mahasiswa menjadikan keluarga Bapak “R” sebagai keluarga binaan.
Berdasarkan data tersebut mahasiswa ingin menggali lebih dalam lagi
tentang kesehatan keluarga Bapak “R” agar dapat diberikan intervensi lebih
lanjut.
2. Data yang perlu dikaji lebih lanjut
a. Memperkenalkan diri, membina hubungan saling percaya dan
menyampaikan tujuan kunjungan pada keluarga.
b. Mengidentifikasi masalah kesehatan keluarga melalui pengkajian
dengan menggunakan model Family Centre Nursing Friedman yang
meliputi data umum keluarga, riwayat dan perkembangan keluarga, data
keadaan lingkungan, struktur keluarga, fungsi keluarga, stress dan
koping keluarga
c. Melakukan pemeriksaan fisik pada seluruh anggota keluarga Bp. S
Menentukan kontrak waktu untuk kunjungan berikutnya.
3. Masalah keperawatan keluarga Bp “S” : -
B. Proses Keperawatan
1. Diagnosis keperawatan keluarga
Belum dapat ditegakkan
2. Tujuan umum : Setelah pertemuan selama 45 menit, diharapkan
mahasiswa dan keluarga saling mengenal dan berhasil membina hubungan
saling percaya, dan melakukan pemeriksaan fisik pada seluruh anggota
keluarga
3. Tujuan khusus : Setelah pertemuan selama 45 menit, diharapkan
mahasiswa mampu:
a. Membina hubungan saling percaya dengan keluarga Bp. S
b. Mengidentifikasi masalah kesehatan keluarga melalui
pengkajian dengan menggunakan model Family Centre
Nursing Friedman yang meliputi data umum keluarga, riwayat
dan perkembangan keluarga, data keadaan lingkungan, struktur
keluarga, fungsi keluarga, stress dan koping keluarga
c. Melakukan pemeriksaan fisik pada seluruh anggota keluarga
Bp. S
d. Menentukan kontrak waktu untuk kunjungan berikutnya
C. Implementasi Dan Tindakan Keperawatan
1. Metode : Wawancara, Tanya jawab, Diskusi, Observasi
2. Media dan alat : Alat tulis, ,tensi meter, stetoskop, dan lembar
pengkajian
3. Waktu dan tempat : Sabtu, 22 Februari 2020, pukul : 18.00 dirumah
keluarga Bp.TA di Banjar Paneca, Desa Melinggih
Kelod
D. Kriteria Evaluasi
1. Kriteria struktur
a. Laporan pendahuluan sudah disiapkan
b. Instrumen pengkajian sudah disiapkan
c. Lokasi rumah sudah diketahui
2. Kriteria proses
a. Pelaksanaan sesuai dengan tujuan dan waktu yang direncanakan
b. Keluarga menerima kehadiran perawat/mahasiswa dan memberikan
respon yang baik
c. Keluarga bersedia menjawab pertanyaan yang diberikan
d. Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
3. Kriteria hasil
a. 80% keluarga mau menerima kunjungan dari mahasiswa
b. 80% keluarga kooperatif menjawab pertanyaan dari mahasiswa
c. 10% didapatkan data meliputi umum keluarga, riwayat dan
perkembangan keluarga, data keadaan lingkungan, struktur keluarga,
fungsi keluarga, stress,koping keluarga dan pemeriksaan fisik seluruh
anggota keluarga.
d. Kontrak pertemuan selanjutnya dapat disepakati bersama kelaurga

Mahasiswa

I Putu Krisna Agung Pangestu, S.Kep


NIM. 19.901.2177
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Bp “S” DENGAN HIPERTENSI
KHUSUSNYA Ny “C”
DI BANJAR PANECA MELINGGIH KELOD PAYANGAN GIANYAR
TGL 22-25 FEBRUARI 2020

Laporan Pendahuluan Kunjungan ke-2


Tanggal : 23 Februari 2020 Pukul 18.00 Wita
A. Latar Belakang
1. Karakteristik Keluarga
Pada pertemuan sebelumnya mahasiswa dan keluarga sudah
melakukan pengenalan dan membina hubungan saling percaya. Bapak
“S” mengatakan tinggal serumah dengan istri, anak dan cucu.
Keluarga Bapak “S” termasuk keluarga besar (Extended Family) yang
terdiri dari 1 keluarga inti, yang terdiri dari istri, 1 orang anak. Namun
anak pertama,dan kedua sudah menikah. Bapak “S” memiliki 1 orang
cucu, 1 cucu dari anak kedua. Selain itu pertemuan sebelumnya
ditemukan masalah yaitu keluarga Bapak “S” khususnya Ibu “C”
menderita hipertensi dan mengeluh sering sakit kepala bagian
belakang.
Berdasarkan data pengkajian dan pemeriksaan fisik, didapatkan
adanya riwayat hipertensi pada keluarga Bapak “S” khususnya Ibu
“C” sejak 1 tahun yang lalu, didapatkan hasil tekanan darah 160/110
mmHg. Ibu “C” mengatakan tidak rutin minum obat hipertensi serta
tidur Ibu “C” sering terbangun di malam hari. Keluarga Bapak “S”
mengatakan belum mengetahui tentang makanan yang boleh dan tidak
untuk dikonsumsi tetapi tidak tahu komplementer hipertensi
2. Data yang Dikaji
a. Memaparkan masalah yang terjadi dan memprioritaskan diagnose
sehingga intervensi yang akan diberikan dapat ditentukan sesuai
dengan masalah yang ada.
b. Mengkaji tindakan yang dilakukan keluarga untuk mengatasi
permasalahan yang dialami terkait 5 tugas keluarga.
c. Melakukan kontrak waktu untuk pertemuan ketiga dengan
keluarga Bp. S
3. Masalah Keperawatan Keluarga
a. Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif.
b. Nyeri akut
c. Gangguan pola tidur

B. Proses Keperawatan
1. Diagnosa keperawatan :
a. Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif.
b. Nyeri akut
c. Gangguan pola tidur
2. Tujuan umum
Setelah pertemuan selama 45 menit, diharapkan mahasiswa dan
keluarga mampu memprioritaskan diagnose, sehingga intervensi
yang diberikan dapat ditentukan sesuai masalah yang ada.
3. Tujuan khusus
a. Memaparkan masalah yang terjadi dan memprioritaskan
diagnose sehingga intervensi yang akan diberikan dapat
ditentukan sesuai dengan masalah yang ada.
b. Mengkaji tindakan yang dilakukan keluarga untuk mengatasi
permasalahan yang dialami terkait 5 tugas keluarga.
c. Melakukan kontrak waktu untuk pertemuan ketiga dengan
keluarga Bp. S
C. Implementasi Tindakan Keperawatan
1. Metode
a. Wawancara
b. Tanya jawab
2. Alatdan Media
a. Lembar skoring
b. Alat tulis
3. Waktu dan Tempat
a. Waktu : 23 Februari 2020 ,pukul 18.00 WITA
b. Tempat: di rumah keluarga Bp. S di Banjar Paneca, Desa
Melinggih Kelod, Payangan, Gianyar

D. Kriteria Evaluasi
4. Kriteria struktur
d. Laporan pendahuluan sudah disiapkan
e. Instrumen pengkajian sudah disiapkan
f. Lokasi rumah sudah diketahui
5. Kriteria proses
e. Pelaksanaan sesuai dengan tujuan dan waktu yang direncanakan
f. Keluarga menerima kehadiran perawat/mahasiswa dan memberikan
respon yang baik
g. Keluarga bersedia menjawab pertanyaan yang diberikan
h. Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.

6. Kriteria hasil
e. 100% keluarga mau menerima kunjungan dari mahasiswa
f. 80% keluarga kooperatif menjawab pertanyaan dari mahasiswa
g. Kontrak pertemuan selanjutnya dapat disepakati bersama kelaurga.

Mahasiswa

I Putu Krisna Agung Pangestu, S.Kep


NIM. 19.901.2177
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Bp “S” DENGAN HIPERTENSI
KHUSUSNYA Ny “C”
DI BANJAR BAYAD MELINGGIH KELOD PAYANGAN GIANYAR
TGL 22-25 FEBRUARI 2020

Laporan Pendahuluan Kunjungan ke-3


Tanggal : 23 Februari 2020, Pkl. 18.00 wita

A. Latar Belakang
1. Karakteristik keluarga
Pada pertemuan sebelumnya, mahasiswa sudah melakukan scoring
untuk memprioritaskan diagnose dan mengkaji pengetahuan keluarga Bp. S
mengenai hipertensi, dan mengkaji tindakan yang telah dilakukan keluarga
untuk mengatasi permasalahan terkait dengan 5 tugas keluarga.Fokus
kegiatan hari ini adalah memberikan penyuluhan tentang penyakit hipertensi
pada keluarga Bp. S
2. Data yang perlu dikaji lebih lanjut
a. Mengevaluasi hasil penyuluhan tentang hipertensi
b. Gali pengetahuan keluarga dalam mengatasi hipertensi.
c. Diskusikan dengan keluarga cara pengobatan hipertensi.
d. Motivasi keluarga untuk mengungkapkan kembali apa yang telah
disampaikan.
e. Menyepakati atau menentukan kontrak waktu untuk kunjungan
berikutnya
f. Kontrak waktu untuk pertemuan ke-4 dengan keluarga Bp. S
3. Masalah keperawatan keluarga
a. Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif.
b. Nyeri akut
c. Gangguan pola tidur
B. Proses Keperawatan
1. Diagnosa keperawatan keluarga
a. Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif.
b. Nyeri akut
c. Gangguan pola tidur
2. Tujuan umum
Setelah pertemuan selama 30 menit, diharapkan pengetahuan Bp. S dan
keluarganya meningkat dalam merawat Ny. C dengan hipertensi dirumah.
3. Tujuan khusus
Setelah pertemuan selama 30 menit, diharapkan:
a. Keluarga dapat mengerti dan menjelaskan kembali apa itu Penyakit
hipertensi
b. Keluarga dapat memahami dan menjelaskan penyebab dari adanya
Penyakit hipertensi
c. Keluarga dapat menjelaskan tanda dan gejala Penyakit hipertensi.
d. Keluarga dapat menjelaskan cara pencegahan, penanganan dan
perawatan hipertensi
e. Melakukan kontrak untuk pertemuan ketiga dengan keluarga
C. Implementasi Tindakan Keperawatan
1. Metode
a. Ceramah
b. Diskusi
c. Tanya jawab
2. Media, alat dan bahan
a. Leaflet
3. Waktu dan tempat
a. Waktu : 23 Februari 2020 ,pukul 18.00 WITA
b. Tempat : di rumah keluarga Bp. S di Banjar Paneca, Desa
Melinggih Kelod.
D. Kriteria Evaluasi
1. Kriteria struktur
a. Laporan pendahuluan telah disiapkan
b. SAP (Satuan Acara Penyuluhan) sudah disiapkan
2. Kriteria proses
a. Selama kegiatan keluarga mendengarkan penjelasan dengan penuh
perhatian
b. Keluarga mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
c. Kontrak telah diingatkan oleh mahasiswa dan keluarga.
3. Kriteria hasil
a. 100% anggota keluarga telah menerima informasi penyuluhan dari
mahasiswa.
b. 100% anggota keluarga dapat menerima kehadiran mahasiswa.
c. 100% anggota keluarga dapat menyampaikan kembali tentang
hipertensi
d. Kontrak pertemuan selanjutnya dapat disepakati bersama keluarga pada
tanggal 25 Februari 2019 pukul 18.00 wita.

Mahasiswa

I Putu Krisna Agung Pangestu, S.Kep


NIM. 19.901.2177
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Bp “S” DENGAN HIPERTENSI
KHUSUSNYA Ny “C”
DI BANJAR BAYAD MELINGGIH KELOD PAYANGAN GIANYAR
TGL 22-25 FEBRUARI 2020

Laporan Pendahuluan Kunjungan ke-4

Tanggal :25 Februari 2020 Pkl. 18.00 WITA

A. LatarBelakang
1. Karakteristikkeluarga
Pada pertemuan sebelumnya, mahasiswa sudah menyampaikan
pendidikan kesehatan kepada keluarga Bp. S mengenai pengertian, tanda
dan gejala, penyebab, dan cara perawatan hipertensi. Pada pertemuan kali
ini keluarga akan diberikan intervensi jus wortel, madu untuk menurunkan
tekanan darah.

2. Data yang perlu dikaji lebih lanjut


a. Gali pengetahuan keluarga dalam mengatasi hipertensi
b. Diskusikan dengan keluarga cara perawatan hipertensi
c. Diskusikan cara membuat jus wortel, madu dan bahan yang
diperlukan
d. Menyepakati atau menentukan kontrak waktu untuk kunjungan
berikutnya.

B. Proses Keperawatan
1. Diagnosa keperawatan :
a. Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif.
b. Nyeri akut
c. Gangguan pola tidur
2. Tujuan umum
Setelah pertemuan selama 45 menit, diharapkan keluarga dapat merawat
anggota keluarga yang mengalami hipertensi.
3. Tujuan khusus
a. Bp. S dan keluarga dapat mengerti dan memahami tujuan/manfaat
pengobatan komplementer hipertensi dengan jus wortel, madu
b. Bp. S dan keluarga dapat mengerti dan dapat melakukan sendiri cara
pembuatan obat komplementer untuk penyakit hipertensi dengan jus
wortel, madu
c. Bp. S dan keluarga bersedia untuk menerapkan pengobatan
komplementer hipertensi yang di demonstrasikan dengan jus wortel,
madu

C. Implementasi Tindakan Keperawatan


4. Metode
Demonstrasi
5. Media, alat dan bahan
a. 150 gram wortel
b. Parutan/ blender
c. 100 cc air mineral
d. 1 sdm madu
e. Gelas
f. Sendok
g. penyaringan
6. Waktu dan tempat
c. Waktu : 25 Februari 2020 Pkl 18.00 WITA
d. Tempat : di rumah keluarga Bp. S di Banjar Paneca, Desa
Melinggih Kelod, Payangan Gianyar
D. Kriteria Evaluasi
4. Kriteria struktur
c. Laporan pendahuluan telah disiapkan
d. Alat dan bahan demonstrasi telah disiapkan
5. Kriteria proses
d. Selama kegiatan keluarga aktif dan mahasiswa melakukan komunikasi
dua arah.
e. Keluarga mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.
f. Kontrak telah diingatkan oleh mahasiswa dan keluarga.
6. Kriteria hasil
a. 80% anggota keluarga mampu mengerti dan memahami
tujuan/manfaat pengobatan komplementer hipertensi.
b. 80% anggota keluarga mengerti dan dapat melakukan sendiri cara
pembuatan obat komplementer untuk penyakit hipertensi.
c. 80% anggota keluarga mengatakan bersedia untuk menerapkan
pengobatan komplementer hipertensi yang di demonstrasikan.

Mahasiswa

I Putu Krisna Agung Pangestu, S.Kep


NIM. 19.901.217
YAYASAN SAMODRA ILMU CENDEKIA
STIKES WIRA MEDIKA BALI
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Jln. Kecak no. 9A Gatot Subroto Timur Denpasar-Bali 80239

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BAPAK S DENGAN


HIPERTENSI KHUSUSNYA PADA IBU C DI BANJAR PANECA DESA
MELINGGIH KELOD, PAYANGAN, GIANYAR
TANGGAL 22 FEBRUARI s/d 25 FEBRUARI 2020

A. PENGKAJIAN
I. IDENTITAS UMUM KELUARGA
1. Identitas Kepala Keluarga
Nama : Bp. S Pendidikan : S1
Umur : 64 tahun Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Hindu Alamat : Br. Paneca
Suku : Bali

2. Komposisi Keluarga
No. Nama L/P Umur Hub. Dgn KK Pendidikan Pekerjaan

1. Ibu C P 64 th Istri SLTA IRT

2. Agus L 20 Anak SLTA Mahasiswa


Sastra
Nawacita
3. Genogram
X
X X

Keterangan :

= Laki-laki

= Perempuan

= Meninggal

= Tinggal Serumah

4. Tipe Keluarga
a. Jenis tipe keluarga : Tipe keluarga Bp. S adalah adalah keluarga inti
(nuclear family), keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak .
b. Masalah yang terjadi dengan tipe tersebut : Tidak ada masalah yang
terjadi dalam keluarga Bp. S yang keluarganya termasuk dalam jenis tipe
keluarga (nuclear family). Keluarga Bp. S tetap bertanggung jawab
dalam perawatan keluarganya.
5. Suku Bangsa
a. Asal suku bangsa : seluruh anggota keluarga berasal dari suku Bali dan
bangsa Indonesia
b. Budaya yang berhubungan dengan kesehatan : keluarga mengatakan
tidak memiliki budaya yang mengkhusus dan berhubungan dengan
kesehatan
6. Agama dan Kepercayaan yang Mempengaruhi Kesehatan
Keluarga Bp. S beragama Hindu, keluarganya percaya bahwa dengan
rajin berdoa dan melakukan beberapa ritual keagamaan lainnya maka akan
mempengaruhi kesehatan seluruh anggota keluarganya

7. Status Sosial Ekonomi Keluarga


a. Anggota keluarga yang mencari nafkah : dalam keluarga Bp. S sebagai
wiraswasta, istrinya Ibu C sebagai ibu rumah tangga
b. Penghasilan : kurang lebih penghasilan yang didapat sekitar 2.250.000,00
juta /bulan menurut keluarga cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga
c. Upaya lain : Keluarga rutin mengeluarkan uang untuk pembelanjaan
kebutuhan keluarga selama satu bulan.
d. Harta benda yang dimiliki (perabot, transportasi, dll) : perabotan yang
dimiliki keluarga yaitu TV, prabotan dapur, dan tempat tidur.
e. Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan : kebutuhan bulanan keluarga
yaitu kebutuhan dapur seperti beras, sayur, minyal, dan lauk pauk.
f. Tabungan khusus kesehatan : keluarga mengatakan tidak memiliki
tabungan khusus kesehatan, dan juga tidak memiliki kartu jaminan
kesehatan seperti KIS dan BPJS.
8. Aktifitas Rekreasi Keluarga
Keluarga tidak pernah melakukan rekreasi. Keluarga hanya berkumpul dan
menonton TV pada malam hari dan bercerita bersama sebelum tidur.
II. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA
1. Tahap Perkembangan Keluarga saat ini :
a. Tahap perkembangan keluarga Bp.S saat ini termasuk keluarga pada
Tahap VI, keluarga dengan anak dewasa (pelepasan), tahap ini dimulai
saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada saat anak
terakhir meninggalkan rumah. Tugas perkembangan keluarga pada tahap
ini seperti:
1) Mempersiapkan anak tertua untuk membentuk keluarga sndiri
2) Mengorganisasikan kembali keluarga untuk tetap berperan dalam
melepas anak
2. Tahap Perkembangan Keluarga yang belum terpenuhi dan kendalanya:
Tahap perkembangan keluarga Bp. S sudah terpenuhi semua.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga Inti :
a. Riwayat terbentuknya keluarga inti :
Bp. S dan Ibu. C menikah karena dijodohkan lalu akhirnya saling
menyukai dan tumbuh rasa cita di antara keduanya. Mereka menikah
dengan umur sama dan direstui oleh keluarga dari kedua belah pihak. Bp.
S dan Ibu.C mengatakan bahwa ia merasa bahagia dengan
perkawinannya selama ini.
b. Riwayat kesehatan keluarga inti :
Seluruh anggota keluarga Bp. S sebelumnya tidak pernah mengalami
sakit yang serius. Biasanya mereka hanya menderita batuk, pilek ataupun
demam yang biasanya berobat ke Bidan di dekat banjar bayad.
c. Riwayat Kesehatan Masing-masing Keluarga :
No. Nama Umur BB/TB Keadaan Imunisasi Masalah Tindakan yg
kesehatan kesehatan telah
dilakukan
1 Bp. S 64 th 64kg/170cm Sehat Tidak Tidak Ada -
diketahui
2 Ibu. C 64 th 65 kg/158cm Sehat Tidak Menderita -
diketahui HT Tidak
terkontrol
3 An. A 20 th 62 kg/165cm Sehat Tidak Tidak Ada -
diketahui

d. Sumber pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan


Keluarga Bp. S mengatakan bila ia dan Ibu C serta An a sakit atau
merasa sakit kepala dan demam selalu berobat ke dokter yang ada
didekat banjar bayad.
4. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya :
Keluarga Bp. S mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit keturunan dan
Ibu. C mengatakan memiliki riwayat penyakit keturunan.

III. PENGKAJIAN LINGKUNGAN


1. Karateristik Rumah :
a. Luas rumah : Luas rumah yang dihuni Bp. TA seluas ± 2 are
b. Tipe rumah : Tipe rumah Bp. S bergaya tradisional Bali.
c. Kepemilikan : Rumah yang ditempati keluarga Bp. S kepemilikannya
permanen bersama saudara yang lain sebagai pemilik rumah tersebut.
d. Jumlah dan rasio kamar/ ruangan : dalam rumah terdapat 4 kamar tidur, 3
kamar mandi, 1 dapur dan 1 gudang.
e. Ventilasi/ jendela : sirkulasi udara diperoleh dari pintu depan dan jendela
depan dan samping rumah
f. Pemanfaatan ruangan : keluarga sudah memanfaatkan ruangan sesuai.
Kamar tidur untuk tidur, dapur untuk memasak dan makan
g. Septic tank : letak septic tank dibawah wc, keluarga tidak memiliki
sumur
h. Sumber air minum : sumber air minum untuk keperluan sehari-hari
dalam rumah tangga, keluarga menggunakan air PDAM untuk mandi,
mencuci dan sumber air swadaya yang untuk di konsumsi tanpa dimasak
terlebih dahulu.
i. Kamar mandi/ WC : kondisi kamar mandi cukup bersih, keluarga
memiliki 1 buah kamar mandi yang didalamnya juga berisi closet yang
digunakan bersama.
j. Sampah : tempat sampah ada di dalam rumah kemudian nanti jika
sampahnya sudah terkumpul lalu selanjutnya akan di bakar.
k. Kebersihan lingkungan : kondisi lingkungan keluarga cukup bersih,
rumah juga cukup bersih.
DENAH RUMAH

7
T
8 5
6

4 B
3

2 2 2 2

Keterangan :
1. : Pintu Masuk
2. : Balai Dauh
3. : Dapur
4. : Balai Daja
5. : Kamar Mandi
6. : Balai Gede
7. : Kandang
8. : Merajan

2. Karateristik Tetangga dan Komunitas RW (kepedulian tetangga dengan


keluarga):
Keluarga Bp. S tinggal dilingkungan yang cukup padat, mayoritas penduduk
bersuku bali, rata-rata bekerja sebagai wiraswasta, pegawai swasta dan PNS.
Lingkungan tetangga cukup akrab dan saling menolong apabila ada yang
mengalami kesulitan.
3. Mobilitas Geografis Keluarga (lama tinggal, jalur transportasi) :
Keluarga Bp. TA sudah lama tinggal dirumah ini, rumah Bp. S berjarak ±20
meter dari jalan raya. Bp. S dan Ibu C memiliki transportasi, dan jika
berpergian jauh biasanya bersama suami dan anaknya
4. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat (keakrifan
keluarga dalam masyarakat : arisan PKK, dll)
Bp. S dan istrinya selalu berpartisipasi apabila ada kegiatan di balai banjar
maupun di pura.
5. Sistem Pendukung Keluarga (terutama masalah keuangan)
Bila keluarga Bp. S ada masalah, biasanya keluarga selalu
mendiskusikannya secara musyawarah bersama.

IV. STRUKTUR KELUARGA


1. Pola/cara Komunikasi Keluarga : interaksi dalam keluarga paling sering
dilakukan malam hari, pola komunikasi keluarga terbuka antara keluarga
apabila terdapat masalah keluarga biasanya mendiskusikannya bersama-
sama
2. Struktur Kekuatan Keluarga : keluarga saling mendukung satu sama lain,
respon keluarga bila ada anggota keluarganya yang bermasalah selalu
mencari jalan keluarnya bersama-sama
3. Struktur Peran (peran masing-masing anggota keluarga)
a. Bp. S sebagai kepala keluarga dan sebagai pencari nafkah sebagai
wiraswasta.
b. Ibu BR sebagai istri dari Bp.TA bekerja sebagai ibu rumah tangga.
4. Nilai dan Norma Keluarga
Keluarga menerapkan nilai-nilai agama pada setiap anggota keluarga seperti
sembahyang setiap hari. Bila akan keluar rumah dan terlambat datang harus
memberi tahu dulu kepada anggota keluarga.
V. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Afektif
a. Cara keluarga mengekspresikan perasaan kasih sayang : dengan saling
memperhatikan satu sama lain.
b. Perasaan saling memiliki : respon keluarga sangat bangga bila ada
anggota keluarga yang berhasil dan keluarga sangat sedih bila anggota
keluarga ada yang sakit/ meninggal
c. Dukungan terhadap anggota keluarga : keluarga selalu saling mendukung
apapun kegiatan positif yang dilakukan anggota keluarga
d. Kehangatan : keluarga cukup perhatian dalam membina rumah tangga
dan menjaga kondisi kesehatannya
e. Saling menghargai : keluarga saling mengerti, menghargai satu sama
lainnya
2. Fungsi Sosialisasi
a. Kerukunan hidup dalam keluarga : keluarga hidup rukun bersama
anggota lainnya
b. Interaksi dan hubungan dalam keluarga : keluarga selalu mengajarkan
dan menanamkan perilaku sosial yang baik yaitu perlunya berhubungan
baik berinteraksi dalam keluarga maupun masyarakat
c. Anggota keluarga yang dominan dalam pengambilan keputusan :
pengambil keputusan biasanya dilakukan oleh Bp. S dengan didukung
oleh semua anggota keluarganya
d. Kegiatan keluarga di waktu senggang : keluarga biasnaya mengobrol dan
menonton TV
e. Partisipasi dalam kegiatan sosial : keluarga cukup aktif bermasyarakat
dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh masyarakat
sekitar.
3. Fungsi Perawatan Keluarga
Fungsi perawatan kesehatan
Saat pengkajian pada keluarga Bp. S khususnya Ny. C sendiri mengatakan
ia mengalami nyeri di leher belakang saat baru bangun tidur, nyerinya ini
sudah dirasakan kurang lebih selama 2 bulan hilang timbul durasi nyerinya
kurang lebih 5 menit dengan skala nyeri 3 tetapi Ny.C tidak memeriksakan
kondisinya ke dokter , ke bidan maupun puskesmas. Ny.C mengatakan
kurang lebih 1 minggu yang lalu memeriksakan kesehatannya ke dokter
karena mengalamai demam, dibidan Ny.C diukur tekanan darahanya,
ternyata Ny.C mengalami tekanan darah tinggi, dan kemudian Ny.C diberi
obat pengontrol tekanan darah dan penurun demam. Setelah obat Ny.C
habis Ny.C tidak melanjutkan mengontrol kondisinya ke bidan. Ny.C
mengatakan tidak tahu tanda-tanda terjadinya peningkatan atau penurunan
tekanan darah secara pasti, Bp.S dan keluarga mengatakan tidak mengetahui
beberapa jenis makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi pada orang
yang memiliki penyakit hipertensi. Bp. S dan Keluarga juga bertanya
mengenai akibat dari penyakit hipertensi dan penanganannya. Pada saat
pengkajian Bp.S tidak mengalami keluhan apa pun.
a. Pengetahuan dan persepsi keluarga tentang penyakit/ masalah kesehatan
keluarga :
Menurut keluarga, sakit yang dialami Ny.C ini tidak terlalu
dirasakan, keluarga Bp. S mengatakan Ny.C hanya merasa nyeri dibagian
leher belakang saat bangun tidur. Keluarga mengatakan bahwa tidak
mengetahui akibat yang bisa timbul dari tekanan darah tinggi yang tidak
terkontrol, serta cara merawat anggota keluarga yang mengalami
hipertensi. Keluarga Bp. S juga mengatakan tidak mengetahui tanda-
tanda apabila terjadi peningkatan pada tekanan darah. Keluarga Bp. S
mengatakan tidak mengetahui pengobatan komplementer selain
mendapat obat dari dokter.
b. Kemampuan keluarga mengambil keputusan :
Keluarga, khususnya Ny.C mengatakan saat mengalami demam,
batuk,pilek baru melakukan pemeriksaan ke bidan terdekat dan jika obat
sudah habis Ny.C dan keluarga tidak melakukan kontrol kembali kecuali
jika demamnya tidak hilang. Dan bila ada anggota keluarganya menderita
penyakit seperti batuk, pilek, ataupun demam keluarga biasanya berobat
ke bidan terdekat.
c. Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit :
Keluarga mengatakan belum paham cara merawat anggota
keluarganya yang menderita hipertensi mengenai makanan apa saja yang
boleh dan tidak boleh dikonsumsi serta seberapa takarannya. Bila Ny.C
megalami demam ataupun batuk, pilek, baru Ny.C pergi ke bidan untuk
mencari obat, Ny.C tidak pernah memeriksakan nyeri yang dirasakan
dilehernya dan tidak pernah mengontrol tekanan darahnya ke bidan
setelah obatnya habis.
d. Kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang sehat :
Keluarga Bp. S mengatakan biasanya menyapu setiap hari dan
jarang mengepel lantai di rumahnya jika kotor baru di pel.
e. Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan di masyarakat :
Selama ini keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan hanya pada
saat ada anggota keluarga yang sakit seperti demam, batuk, pilek

VI. STRES DAN KOPING KELUARGA


a. Stressor jangka pendek dan jangka panjang : Bp. S dan keluarga
mengatakan tidak ada hal yang membuat ia dan istrinya stress, dan hanya
menjalani hidup apa adanya.
b. Respon keluarga terhadap stresor : jika Bp. S mengalami stres upaya
yang ia lakukan adalah terus bekerja dan bercerita dengan istri.
c. Strategi koping : dalam menghadapi masalah biasanya keluarga
berdiskusi dengan saudara-saudaranya. Biasanya keluarga merasa
nyaman setelah berkomunikasi dengan anggota keluarganya yang lain.
d. Strategi adaptasi fungsional : dari hasil pengkajian, tidak didapatkan
cara-cara maladaptive dalam mengatasi masalah

VII. PEMERIKSAAN FISIK


Hari/tanggal : Sabtu, 22 Februari 2020 Jam : 18.00 wita
Pemeriksaan Nama Anggota Keluarga Orang Tua Anak

Bp.S Ibu C An.A

1 2 3 4
Tensi 120/80 mmHg, 150/90 mmHg 110/70 mmHg

Nadi 83x/mnt 85x/mnt 87x/mnt


Suhu C 36,5 36,5 36,5
Respirasi 20x/mnt 20x/mnt 20x/mnt
BB/TB 64kg/1650cm 59kg/155cm 67kg/168
Kepala Bentuk normal, Bentuk normal, Bentuk normal,
rambut hitam rambut lurus, rambut hitam
dan putih, tidak tidak ada luka, dan putih, tidak
ada luka, nyeri nyeri tekan (-) ada luka, nyeri
tekan (-) tekan (-)
Mata, telinga, Normal, reflek Normal, reflek Normal, reflek
hidung, pupil +/+, pupil +/+, pupil +/+,
tenggorokan, kebersihan kebersihan mulut kebersihan mulut
mulut mulut cukup, cukup, cukup,
tenggorokan tenggorokan tenggorokan
normal normal normal
Leher Tidak ada nyeri Ada nyeri di leher Tidak ada nyeri
di leher belakang, skala di leher
belakang, nyeri 3, neyri belakang,
pembesaran dirasakan saat pembesaran
kelenjar tidak bangun tidur kelenjar tidak
ada, pembesaran kuarnag lebih ada, pembesaran
kelenjar durasinya 5 kelenjar jugularis
jugularis tidak menit, nyerinya tidak ada
ada seperti tertusuk-
tusuk,
pembesaran
kelenjar tidak
ada, pembesaran
vena jugularis
tidak ada
Thorax Simetris, bunyi Simetris, bunyi Simetris, bunyi
jantung normal jantung normal jantung normal
S1/S2 tunggal, S1/S2 tunggal, S1/S2 tunggal,
suara nafas suara nafas suara nafas
vesikuler, vesikuler, vesikuler,
wheezing/ronchi wheezing/ronchi wheezing/ronchi
tidak ada tidak ada tidak ada
Abdomen Simetris, pemb Simetris, pemb Simetris, pemb
hepar, ginjal, hepar, ginjal, hepar, ginjal,
limpa (-), limpa (-), limpa (-),
benjolan (-), benjolan (-), nyeri benjolan (-),
nyeri tekan (-), tekan (-), bising nyeri tekan (-),
bising usus (+) usus (+) bising usus (+)
Ekstremitas Tidak ada Tidak ada Tidak ada
atas-bawah kelainan kelainan kelainan
dan persendian pergerakan pergerakan ROM pergerakan ROM
ROM aktif aktif aktif
Kekuatan otot 5 Kekuatan otot 5 Kekuatan otot 5
Sistem Bp. S berjenis Ibu C berjenis An A berjenis
Genetalia kelamin laki-laki kelamin kelamin laki-laki
dan Bp. S perempuan dan dan An.S
mengatakan ibu C mengatakan mengatakan
tidak ada tidak ada masalah tidak ada
masalah pada pada genetalianya masalah pada
genetalianya genetalianya
Lainnya
Sasaran terutama pada yang mempunyai masalah kesehatan (sakit) dengan metode
Head to toe

VIII. HARAPAN KELUARGA


a. Terhadap masalah kesehatan : keluarga berharap penyakit hipertensi Ny.
C bisa dikontrol agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
b. Terhadap petugas kesehatan yang ada : keluarga berharap petugas
pelayanan kesehatan dapat menanggulangi masalah kesehatan yang
terjadi pada Ny.C dan membimbing keluarga dalam meningkatkan
kesehatan.

Gianyar, Februari 2020

I Putu Krisna Agung Pangestu,S.Kep


19.901.2177

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA


1. Analisa Data

Data (sign - symptom) Diagnosa Keperawatan


Data Subyektif Manajemen kesehatan keluarga
1. Menurut keluarga, sakit yang dialami Ny.C ini tidak efektif
tidak terlalu dirasakan, keluarga Bp. S
mengatakan Ny.C hanya merasa nyeri dibagian
leher belakang saat bangun tidur. Keluarga Bp.
S mengatakan bahwa tidak mengetahui akibat
yang bisa timbul dari tekanan darah tinggi yang
tidak terkontrol serta cara merawat anggota
keluarga yang mengalami hipertensi.
2. Keluarga Bp. S mengatakan tidak mengetahui
tanda-tanda apabila terjadi peningkatan pada
tekanan darah. Keluarga Bp. S mengatakan tidak
mengetahui pengobatan komplementer selain
mendapat obat dari dokter maupun bidan.
3. Keluarga Bp. S mengatakan belum paham cara
merawat anggota keluarganya yang menderita
hipertensi.
4. Keluarga Bp. S tidak mengetahui beberapa jenis
makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi
pada orang yang memiliki penyakit hipertensi

Data Obyektif
1. Saat pengkajian keluarga Bp S tampak terus
bertanya mengenai akibat dari penyakit
hipertensi dan penanganannya.

Data Subyektif
1. Saat pengkajian Ny C mengatakan kurang lebih 1 Manajemen kesehatan tidak
minggu yang lalu memeriksakan kesehatannya ke efektif
dokter karena mengalamai demam, dan didokter
Ny.C diukur tekanan darahanya, ternyata Ny.C
mengalami tekanan darah tinggi, kemudian Ny.C
obat pengontrol tekanan darah dan penurun
demam. Setelah obat Ny.C habis Ny.C tidak
melanjutkan mengontrol kondisinya ke dokter
2. Bp.S mengatakan tidak tahu tanda-tanda
terjadinya peningkatan atau penurunan tekanan
darah secara pasti, Bp. S mengatakan tidak
mengetahui beberapa jenis makanan yang boleh
dan tidak boleh dikonsumsi pada orang yang
memiliki penyakit hipertensi.
Data Obyektif

1. Ny.C tampak bertanya mengenai kondisi tekanan


darahanya dan Ny.C tampak terus bertanya
mengenai cara untuk mengontrol tekanan darah
dan makanan apa yang boleh dan tidak boleh
dikonsumsi.

Data Subyektif
1. Saat pengkajian Bp. S mengatakan kurang lebih 1 Resiko perfusi serebral tidak
minggu yang lalu pernah memeriksakan efektif
kesehatannya ke dokter karena mengalamai
demam, dan didokter Ny.C diukur tekanan
darahanya, ternyata Ny.C mengalami tekanan
darah tinggi. Ny.C juga mengatakan bahwa ia
mengalami nyeri di leher belakang saat baru
bangun tidur, nyerinya ini sudah dirasakan kurang
lebih selama 1 bulan hilang timbul durasi
nyerinya kurang lebih 5 menit dengan skala nyeri
3.
P: nyeri muncul karena tekanan darah tinggi
Q: nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk dan tegang
pada otot bagian belakang leher
R: nyeri dirasa pada leher bagian belakang
S: skala nyeri 3
T: nyeri muncul ketika baru bangun tidur,
durasinya kurang lebih 5 menit.

Data Obyektif
1. Saat pengkajian Ny.C tampak menunjukkan dan
memegang area leher yang dirasakan sakit.
TD : 170/110 mmHg
Nadi: 85/ menit

SKORING/ PRIORITAS DIAGNOSIS KEPERAWATAN KELUARGA


Diagnosa Keperawatan
Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif pada keluarga Bp. S dengan hipertensi
Diagnosa 1

Kriteria Nilai Bobot Skoring Pembenaran


Sifat masalah keluarga Bp. S dan Ny.C mengatakan belum tau
apa penyebab dan penanganan hipertensi
a. Aktual 3 1
b. Resiko 2
c. Potensial 1

Kemungkinan masalah Keluarga Bp. S mengatakan belum tau


untuk diubah penanganan untuk hipertensi dan menurut
a. Mudah 2 keluarga Bp. S hipertensi dapat ditangai tapi tidak
b. Sebagian 1 2 dengan mudah.
c. Tidak dapat 0

Potensial masalah Keluarga Bp. S mengatakan potensial Hipertensi


untuk dicegah untuk di cegah itu cukup karena dari awal dan
a. Tinggi 3 keluarga Bp. S tidak tahu cara mengatasi
b. Cukup 2 hipertensi.
1 1
c. Rendah

Menonjolnya masalah Keluarga menganggap masalah ketidaktahuan


a. Segera diatasi 2 tentang Hipertensi dan cara mengontrol hipertensi
b. Tidak segera 1 merupakan masalah yang harus segera diatasi,
diatasi 0 1 agar keluarga tahu tata cara merawat dan bisa
c. Tidak dirasakan merawat anggota keluarga yang menderita
adanya masalah hipertensi.

TOTAL
3

Diagnosa 2

Diagnosa Keperawatan
Manajemen kesehatan tidak efektif.
Kriteria Nilai Bobot Skoring Pembenaran

Sifat masalah Ny.C mengatakan tidak tahu tanda-tanda


terjadinya hipertensi. Dan Ny.C mengatakan
3
a. Aktual 2 1 dibilang mengalami tekanan darah tinggi oleh
b. Resiko 1 dokter.
c. Potensial

Kemungkinan masalah Ny.C mengatakan mengatakan belum tau


untuk diubah penanganan untuk hipertensi dan menurut Ny.C
a. Mudah 2 hipertensi mungkin dapat di tangani tetapi tidak
b. Sebagian 1 2 dengan mudah.
c. Tidak dapat 0

Potensial masalah Ny.C mengatakan belum tau cara untuk


untuk dicegah mencegah hipertensi dan penanganannya, jadi
a. Tinggi 3 kalau di berikan informasi mengenai pencegahan
b. Cukup 2 dan penanganan hipertensi mungkin hipertensi
1 1
c. Rendah dapat dicegah tapi kemungkinannya rendah
karena Ny.C tidak tahu cara pencegahannya

Menonjolnya masalah Menurut Ny.C ketidak tahuannya terhadap


a. Masalah berat, 2 masalah kesehatan hipertensi, tanda gejala
harus segera 1 hipertensi, dan penanganan hipertensi merupakan
ditangani 0 1 suatu masalah yang harus di tangani, agar Ny.C
b. Ada masalah, tahu bagaimana cirri-ciri dan tanda gejala jika
tetapi tidak perlu sudah mengalami tekanan darah tinggi
segera diatangani
c. Masalah tidak
dirasakan
TOTAL
3

Diagnosa 3

Diagnosa Keperawatan
Resiko perfusi serebral tidak efektif
Kriteria Nilai Bob Skoring Pembenaran
ot
Sifat masalah Ny.C mengatakan sudah mengalami nyeri di le
dari kurang lebih 3 bulan yang lalu, dan di bid
a. Aktual 3 1 Ny.C di beri tahu bahwa ia mengalami tekanan
b. Resiko 2 darah tinggi
c. Potensial 1

Kemungkinan masalah Menurut Ny.C masalah nyeri leher dan tekana


untuk diubah darah tinggi yang ia miliki tidak dapat di ubah
a. Mudah 2 karena Ny.C sendiri tidak tahu penanganan ya
b. Sebagian 1 2 tepat untuk menghilangkan nyeri di lehernya d
c. Tidak dapat 0 mengontrol tekanan darah tingginya.

Potensial masalah Menurut Ny.C kemungkinan nyeri yang dirasa


untuk dicegah kurang lebih 3 bulan dan hipertensi, untuk dice
a. Tinggi 3 kemungkinannya rendah karena nyerinya selal
b. Cukup 2 muncul setelah bangun tidur, setelah 5 menit
1 1
c. Rendah nyerinya pun hilang, dan Ny.C mengatakan tid
tahu penanganan yang tepat untuk menghilang
nyeri maupun mengontrol tekanan darahnya

Menonjolnya masalah Ny.C mengatakan hipertensi dan nyeri dilheren


d. Masalah berat, harus segera di tangani agar tidak bertambah p
harus segera 2
ditangani 1
e. Ada masalah,
tetapi tidak perlu 1
segera diatangani
a. Masalah tidak
dirasakan 0
TOTAL
Diagnosa keperawatan
a. Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif
b. Manajemen kesehatan tidak efektif
c. Resiko gangguan perfusi perifer

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


a. Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif
b. Manajemen kesehatan tidak efektif
c. Resiko gangguan perfusi perifer
C. PERENCANAAN

Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga Bp. S dengan Hipertensi.

Data Diagnonis NOC NIC


Keperawatan
Kode Diagnosis Kode Hasil Kode Intervensi

1. Data Subyektif Manajemen Setelah dilakukan asuhan 1. Dukungan koping keluarga


kesehatan keperawatan selama 1x45 Observasi
5. Menurut keluarga,
keluarga menit diharapkan: a. Indentifikasi respon emosional
sakit yang dialami tidak efektif 1. Keluarga mampu saat ini
menangani masalah Terapiutik
Ny.C ini tidak terlalu
keluarga secara optimal a. Dengarkan masalah dan
dirasakan, keluarga Dengan kriteria hasil: pertanyaan keluarga
a. Kemampuan b. Terima nilai-nilai keluarga
Bp.S mengatakan
menjelaskan maslaah tanpa menghakimi
Ny.C hanya merasa yang dialami c. Fasilitasi pasien dan keluarga
meningkat (5) dalam memperoleh
nyeri dibagian leher
b. Aktivitas keluarga pengetahuan tentang kesehatan
belakang saat mengatasi masalah Edukasi
keluarga tepat (5) a. Informasikan kemajuan pasien
bangun tidur.
c. Tindakan untuk secara berkala
Keluarga Bp. S mengurangi faktor b. Informasikan fasilitas
resiko meningkat (5) perawatan fasilitas yang
mengatakan bahwa
d. Gejala penyakit tersedia
tidak mengetahui keluarga menurun (5) Kolaborasi
a. Rujuk untuk terapi keluarga
akibat yang bisa
(jika perlu)
timbul dari tekanan
2. Edukasi program pengobatan
darah tinggi yang
Observasi
tidak terkontrol serta a. Identifikasi penggunaan
pengobatan tradisional dan
cara merawat
kemungkiann efek terhadap
anggota keluarga pengobatan
Terapeutik
yang mengalami
a. Fasilitasi informasi tertulis atau
hipertensi. gambar untuk meningkatan
pemahaman
6. Keluarga Bp. S
b. Berikan dukungan untuk
mengatakan tidak menjalani program pengobatan
dengan baik dan benar
mengetahui tanda-
c. Libatkan keluarga untuk
tanda apabila terjadi memberikan dukungan pada
pasien selama pengobatan
peningkatan pada
Edukasi
tekanan darah. a. Jelaskan strategi mengolah dan
efek smaping obat
Keluarga Bp. S
b. Anjurkan bertanya jika ada
mengatakan tidak sesuatu yang tidak mengerti
sebelum dan sesudah dilakukan
mengetahui
c. Ajarkan kemampuan
pengobatan melakukan pengobatan sendiri
komplementer selain
mendapat obat dari
dokter maupun
bidan.
7. Keluarga Bp. S
mengatakan belum
paham cara merawat
anggota keluarganya
yang menderita
hipertensi.
8. Keluarga Bp. S tidak
mengetahui beberapa
jenis makanan yang
boleh dan tidak
boleh dikonsumsi
pada orang yang
memiliki penyakit
hipertensi.
Data Obyektif
2. Saat pengkajian
keluarga Bp S
tampak terus
bertanya mengenai
akibat dari penyakit
hipertensi dan
penanganannya.

1. Edukasi Kesehatan
Manajemen Setelah dilakukan asuhan Observasi
2. Data Subyektif
kesehatan keperawatan selama 1x45 a. indentifikasi kesiapan dan
3. Saat pengkajian Bp. S tidak efektif menit diharapkan: kemampuan menerima
1. Manajemen kesehatan informasi
mengatakan kurang
meningkat dengan Terapiutik
lebih 1 minggu yang kriteria hasil: a. sediakan materi dan media
a. Melakukan tindakan pendidikan kesehatan
lalu memeriksakan
untuk mengurangi b. jadwalkan pendidikan
kesehatannya ke faktor resiko kesehatan sesuai kesepakatan
meningkat (5) c. berikan kesempatan untuk
bidan karena
b. Menerapkan program bertanya
mengalamai demam, perawatan meningkat Edukasi
(5) a. jelaskan faktor resiko yang
dan didokter Ny.C
c. Aktivitas hidup dapat mempengaruhi kesehatan
diukur tekanan sehari-hari efektif b. ajarkan perilaku hidup bersih
darahanya, ternyata memenuhi tujuan dan sehat
kesehatan meningkat
Ny.C mengalami
(5)
tekanan darah tinggi,
lalu Ny.C diberi obat
penurun tekanan
darah dan penurun
demam. Setelah obat
Ny.C habis Ny.C
tidak melanjutkan
mengontrol
kondisinya ke dokter
4. Ny.C mengatakan
tidak tahu tanda-tanda
terjadinya
peningkatan atau
penurunan tekanan
darah secara pasti,
Bp. S mengatakan
tidak mengetahui
beberapa jenis
makanan yang boleh
dan tidak boleh
dikonsumsi pada
orang yang memiliki
penyakit hipertensi.
Data Obyektif

2. Ny.C tampak
bertanya mengenai
kondisi tekanan
darahanya dan Ny.C
tampak terus bertanya
mengenai cara untuk
mengontrol tekanan
darah dan makanan
apa yang boleh dan
tidak boleh
dikonsumsi.
3. Data Subyektif
1. Saat pengkajian Ny.C 1. Pemantauan Tanda –Tanda
Vital
mengatakan kurang
Observasi
lebih 1mingu yang Resiko Setelah dilakukan asuhan a. Monitor tekanan darah
perfusi keperawatan selama 1x45 b. Monitor nadi
lalu pernah
serebral menit diharapkan: c. Monitor pernafasan
memeriksakan tidak efektif 1. Nyeri di bagian leher d. Monitor suhu tubuh
belakang berkurang Terapeutik
kesehatannya ke
dengan kriteria hasil: a. Atur interval pemantauan
dokter karena a. Kognitif meningkat sesuai kondisi pasien
(5) b. Dokumentasi hasil pemantauan
mengalamai demam,
b. Sakit kepala menurun Edukasi
dan didokter Ny.C (5) a. Jelaskan tujuan dan prosedur
c. Gelisah menurun (5) pemantauan
diukur tekanan
d. Tekanan darah sistolik b. Informasikan hasil
darahanya, ternyata membaik (5) pemantauan, jika perlu
e. Tekanan darah
Ny.C mengalami
diastolik membaik (5)
tekanan darah tinggi.
2. Edukasi Diet
Ny.C juga
Observasi
mengatakan bahwa ia a. Identifikasi kemampuan pasien
dan keluarga menerima
mengalami nyeri di
informasi
leher belakang saat b. Identifikasi tingkat
baru bangun tidur, pengetahuan saat ini
c. Identifikasi kebiasaan pola
nyerinya ini sudah
makan saat ini dan masa lalu
dirasakan kurang Terapiutik
a. Persiapakan materi, media dan
lebih selama 1 bulan
alat peraga
hilang timbul durasi b. Jadwalkan waktu yang tepat
untuk memberikan pendidikan
nyerinya kurang lebih
kesehatan
5 menit dengan skala c. Berikan kesempatan pasien dan
keluarga untuk bertanya.
nyeri 3.
Edukasi
P: nyeri muncul a. Jelaskan tujuan kepatuhan diet
terhadap kesehatan
karena tekanan
b. Informasikan makanan yang
darah tinggi diperbolehkan dan dilarang
c. Anjurkan melakukan olah raga
Q: nyeri terasa seperti
sesuai toleransi
ditusuk-tusuk dan d. Ajarkan cara merencanakan
makanan yang sesuai program.
tegang pada otot
Edukasi
bagian belakang a. Rujuk ke ahli gizi dan
sertakan keluarga, jika perlu
leher
R: nyeri dirasa pada
kepala bagian
belakang
S: skala nyeri 3
T: nyeri muncul
ketika baru bangun
tidur, durasinya
kurang lebih 5
menit.
Data Obyektif
2. Saat pengkajian Ny.C
tampak menunjukkan
dan memegang area
leher yang dirasakan
sakit.
TD : 150/90 mmHg
Nadi: 85/ menit
D. PELAKSANAAN DAN EVALUASI

Hari/Tgl No Diagnosa Implementasi Evaluasi Paraf

Sabtu/ 1,2,3 DS :

22 februari 1. Membina hubungan saling percaya - Bapak S mengatakan namanya Bapak S


2020 Pukul - Ibu. C mengatakan namanya Ibu C
18.00 Wita - Bapak S dan Ibu C mengatakan asli berasal dari Desa
Payangan Banjar Paneca.
DO :

- Bapak S dan keluarga tampak ramah, kooperatif dalam


memperkenalkan diri dan menjawab pertanyaan dari
petugas kesehatan

1,2,3
2. Mengidentifikasi masalah DS :
kesehatan keluarga melalui
- Bapak S dan Ibu C mengatakan memiliki riwayat
pengkajian dengan menggunakan
penyakit keturunan, Ny.C mengatakan 1 minggu yang
model Family Centre Nursing
lalu berobat kedokter karena demam, dan setelah di cek
Friedman yang meliputi
tekanan darahnya, tekanan darah Ny.C tinggi. Bp. S
a. Data umum keluarga mengatakan untuk pekembangan keluarga semuanya
b. riwayat penyakit
lancar tidak ada masalah. Bp. S dan keluarga
c. Perkembangan keluarga
d. Data keadaan lingkungan mengatakan untuk keadaan lingkungannya semuanya
e. struktur keluarga, fungsi
bersih. Bp S mengatakan untuk struktur keluarga dalam
keluarga, stress dan koping
keluarga KK Bp. S hanya ada Bp. S dan Ibu C serta An.C, fungsi
keluarga Bp. S mengatakan semua sudah memiliki
fungsinya masing-masin dan untuk stress dan koping
keluarga Bp. S dan Ibu C mengatakan tidak memiliki
stressor jangka pendek Maupun jangka panjang, Bp. S
dan Ibu C mengatakan hanya menjalani hidup apa
adanya, dan jika misalnya ada masalah Bp. S dan Ibu C
akan membicarakan masalah tersebut dan mencari jalan
keluarnya.
DO :

- Bapak C dan keluarga tampak kooperatif dalam


menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh mahasiswa,
Bp. C dan keluarga tampak terbuka dengan keadaannya
3. Melakukan pemeriksaan fisik saat ini oleh mahasiswa.
terhadap Bp. TA dan keluarga.

1,2,3 DS :

- Ny.C mengatakan keluhannya saat ini adalah


mengalami nyeri di leher bagian belakang, nyeri
dirasakan saat baru bangun tidur, durasi nyeri 5 menit,
dengan skala nyeri 3, nyerinya seperti tertusuk-tusuk,
dan nyerinya hilang setelah 5 menit nyeri ini sudah
dirasakan selama kurang lebih 1 bulan.
- Ibu C mengatakan tidak memiliki keluhan saat ini.
DO :

- Hasil pemeriksaan fisik Bp.S semua normal dari ujung


kepala hingga kaki. Bp.S tampak menunjukkan bagian
leher yang nyeri saat baru bangun.
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 83x/menir
Suhu : 36,5°C
Respirasi : 20x/menit
- Hasil pemeriksaan fisik Ibu. C semua normal dari ujung
kepala hingga kaki. Ny.C tampak menunjukkan bagian
leher yang nyeri saat baru bangun
4. Mengidentifikasi respon Tekanan darah : 150/90 mmHg
emosional saat ini Nadi : 85x/menit
Suhu : 36,5°C
Respirasi : 20x/menit

DS :

1 - Bp. S dan Ibu C mengatakan jarang emosian, Ibu C


mengatakan Bp. S tidak pernah marah-marah dan begitu
juga sebaliknya
DO :

- Bp. S dan keluarga tampak ramah dan kooperatif dalam


menjawab pertanyaan.

5. Mengidentifkasi pengetahuan Bp.


S dan keluarga terkait hipertensi
DS :

3 - Bp. S dan keluarga mengatakan tidak tahu apa itu


hipertensi, tanda, gejala terjadinya hipertensi,
penanganan hipertensi dan makanan yang boleh maupun
tidak boleh dikonsukmsi oleh orang yang mengalami
hipertensi.
DO :

- Bp. S dan keluarga tampak kebingungan saat ditanya


mengenai hipertensi, tanda gejala dan penanganan
hipertensi.
Minggu DS :
1. Memonitor tanda-tanda vital
23 Februari 3 - Ny. S mengatakan tidak ada keluhan saat ini kecuali
meliputi (tekanan darah, suhu
2020 Pukul nyeri di leher yang dirasakan saat baru bangun tidur,
tubuh, respirasi dan nadi)
18.00 Wita Ny. S mengatakan tidak ada mengalami panas,
maupun sesak saat ini.
DO :

- Ny. S tampak menunjukkan area leher yang sering


mengalami nyeri.
- TD : 150/90 mmHg
- Nadi : 86x/mnt
- Suhu : 36°C
- Respirasi : 20x/menit.

3
2. Mengidentifikasi kebiasaan DS :
pola makan saat ini dan masa
- Ny.C mengatakan makan biasanya 3 x sehari dengan
lalu.
lauk, pauk, dan sayuran , dan jarang makan buah-
buahan
DO :

- Bp. S tampak kooperatif dalam menjawab pertanyaan.

DS :
2,3 3. Mengidentifikasi
pengguanaan obat tradisional - Bp. S dan Ibu C tidak pernah menggunakan obat
tradisional untuk menangani hipertensi Bp. S, dan Ibu C
mengatakan tidak tahu bagaimana penanganan untuk
orang hipertensi.
DO :

- Bp. S dan keluarga tampak kooperatif dalam menjawab


pertanyaan.

2
DS :
4. Mengidentifikasi kesiapan
dan kemampuan menerima Bp.S mengatakan siap dan mampu menerima informasi
informasi tentang hipertensi yang akan diberikan oleh mahasiswa.

DO :

Bp.S dan Ibu C tamapka bertanya kapan informasi


tentang hipertensi akan diberikan.

DS :
5. Menjadwalkan pendidikan
kesehatan sesuai kesepakatan Bp.S dan keluarga mengatakan bisa dan siap
mendapatkan pendidikan kesehatan mengenai hipertensi
pada tanggal 23 Februari 2020 hari minggu, pukul 18.00
tempatnya di rumah Bp.TA
DO :

Bp.S dan keluarga tampak kooperatif dalam menentukan


waktu pelaksanaan pendidikan kesehatan mengenai
hipertensi.

Senin,

24 Februari
2020, Pkl. DS :
1,2,3 1. Memfasilitasi Bp.S dan
18.00 wita
keluarga dalam memperoleh - Bp. S dan ibu C mengatakan sudah sedikit paham
pengetahuan tentang mengenai hipertensi, tanda, gelaja hipertensi, diet
hipertensi, tanda, gejala, diet hipertensi, dan penanganan hipertensi dengan jus
untuk orang yang mengalami wortel madu untuk mengatasi hipertensi
hipertensi dan penanganan DO :
hipertensi dengan obat
- Bp. S dan keluarga tampak fokus memperhatikan
tradisional yaitu jus wortel dan mengikuti acara pendidikan kesehatan
madu, melalui pendidikan (penyuluhan) dari awal samapai akhir.
kesehatan (penyuluhan) - Bp.S dan Ibu C tampak bisa mengulangi apa itu
hipertensi menggunakan hipertensi, tanda gejala hipertensi, diet untuk
media leaflet yang berisi hipertensi dan penanganan untuk hipertensi
informasi tertulis dan gambar.

Selasa DS :

1. Mengajarkan - Bp.S dan Ibu C mengatakan sudah mengerti dengan


25 Februari 1,2,3 prosedur/demonstrasi pengobatan demonstrasi/ cara yang diajarkan untuk membuat jus
2020 Pkl. komplementer hipertensi (jus wortel madu. Bp.S dan Ibu C mengatakan sudah
18.00 WITA wortel madu) ingat dengan cara membuat jus wortel madu karena
 Mengevaluasi materi caranya cukup mudah.
penyuluhan yang telah DO :
diberikan sebelumnya
- Bp.S dan Ibu C tampak bisa mengulangi materi
 menjelaskan tujuan tindakan
penyuluhan yang diberikan kemarin Bp.S dan Ibu C
 menjelaskan prosedur/
tampak kooperatif dalam mengikuti demonstrasi
demonstrasi pengobatan
pembuatan jus wortel madu, Ibu.C tampak bisa
komplementer hipertensi (jus
membuat jus wortel madu dengan mandiri. Ibu C
wortel madu)
tampak meminum dan menghabiskan jus wortel
 memberi tahu pasien
madu. Ibu C tampak bisa menyebutkan
pentingnya pengukuran tanda
cara/langkah-langkah pembuatan jus wortel madu.
vital selama tindakan
 melibatkan keluarga atau
orang terdekat pada saat
prosedur/demonstrasi
pengobatan komplementer
hipertensi (jus wortel madu)
E. EVALUASI

Hari/ Tanggal No Diagnosa Evaluasi Par


Diagnosa Keperawatan
Selasa, 26 Menejemen S:
Februari 2020 1 kesehatan keluarga  Keluarga Bp.S mengatakan sudah
tidak efektif paham dengan materi hipertensi,
Pkl. 18.00
tanda gejala, diet dan penanganan
WITA hipertensi yang di berikan
 Keluarga Bp.S mengatakan sudah
paham dengan
demonstrasi/langakah-langkah
pembuatan jus wortel madu
O:
 Keluarga Bp.S tampak bisa
menyebutkan apa itu hipertensi,
tanda gejala, diet, dan penanganan
hipertensi.
 Keluarga Bp.S tampak bisa
mandiri dalam membuat jus wortel
madu dan Keluarga Bp.TA tampak
bisa menyebutkan langkah-
langkah pembuatan jus wortel
madu
A:
 Masalah teratasi
P:
 Pertahankan kondisi pasien dan
berikan reinforcement positif
untuk keluarga Bp.S karena sudah
bisa menyebutkan apa itu
hipertensi, tanda gejala, diet
maupun penanganan hipertensi
dan memahami cara penanganan
hipertensi dengan membuat jus
wortel madu.
Selasa 26 Manajemen S:
Februari 2020 2 kesehatan tidak  Ny.C mengatakan sudah paham
18.30 efektif dengan materi hipertensi, tanda
gejala, diet dan penanganan
hipertensi yang di berikan.
 Ny C mengatakan sudah paham
dengan demonstrasi/langakah-
langkah pembuatan jus wortel
madu
O:
 Ny.C tampak bisa menyebutkan
apa itu hipertensi, tanda gejala,
diet, dan penanganan hipertensi.
 Ny.C tampak bisa mandiri dalam
membuat jus wortel madu dan
Bp.TA tampak bisa menyebutkan
langkah-langkah pembuatan jus
wortel madu.
A:
 Masalah telah teratasi
P:
 Pertahankan kondisi pasien dan
berikan reinforcement positif
untuk Ny C karena sudah bisa
menyebutkan apa itu hipertensi,
tanda gejala, diet maupun
penanganan hipertensi dan
memahami cara penanganan
hipertensi dengan membuat jus
wortel madu.
Selasa 26 3 Resiko perfusi S:
Februari 2020 serebral tidak  Ny C mengatakan nyeri di bagian
19.00 lehernya belakang sudah sedikit
efektif
berkurang, tapi masih dirasakan
ketika baru bangun, dengan skala
nyeri 3 durasinya kurang lebih 3
menit
O:
 Ny.C tampak menunjukkan bagian
leher yang sakit,
 TD: 150/90
 Nadi: 83x/mneit
 Respirasi: 20x/menit
A:
 Masalah belum teratasi
P:
 Lanjutkan intervensi
memandirikan Ny.C dan keluarga
dalam pembuatan jus wortel madu
untuk menurunkan tekanan darah
Bp.TA dan agar sakit kepala
Bp.TA berkurang
SATUAN ACARA PENYULUHAN KESEHATAN
PADA PENYAKIT HIPERTENSI

Pokok Bahasan : Penyakit Hipertensi


Sub Pokok Bahasa : Hipertensi dan Penanganannya
Sasaran : Seluruh Keluarga Bp. S
Tempat : Rumah Keluarga Bp.S Di Banjar Paneca, Desa
Melinggih Kelod, Payangan, Gianyar
Waktu : 24 Februari 2020

I. Latar belakang
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang paling banyak diderita
penduduk di dunia, berbagai masalah kesehatan sering menjadi komplikasi dari
penyakit ini yang bahkan sering tidak diketahui penderitanya. Hipertensi atau
yang lebih sering dikenal dengan tekanan darah tinggi merupakan suatu keadaan
dimana tekanan darah mengalami kenaikan atau sedang berada di atas normal,
dalam keadaan ini penderitanya akan beresiko mengalami berbagai komplikasi
kesehatan seperti stroke, penyakit jantung koroner (PJK), gangguan ginjal, dan
gangguan saraf (Andrea, 2013).
Menurut data WHO pada tahun 2017 di seluruh dunia sekitar 972 juta
orang atau 26,4% orang di seluruh dunia mengidap hipertensi, berdasarkan data
tersebut 333 juta orang diantaranya berada di negara maju dan sekitar 639 juta
orang berada di negara berkembang (Zaenurrohmah & Rachmayanti, 2017).
Sedangkan menurut American Heart Association (AHA) pada tahun 2016,
penduduk Amerika yang berusia 20 tahun dan telah menderita hipertensi
berjumlah 74,5 juta jiwa atau sekitar 18,1 %. Jumlah penderita hipertensi di dunia
cenderung mengalami peningkatan yang diakibatkan oleh berbagai faktor seperti;
obesitas, gaya hidup, dan ekonomi (Zaenuri, 2016)
Berdasarkan data Riskesdas pada tahun 2018 jumlah penderita hipertensi
di Indonesia terus mengalami peningakatan yang signifikan setiap tahunnya,
berdasarkan data di Indonesia terdapat 25,8% penderita hipertensi (DEPKES,
2018). Menurut data Provinsi Bali merupakan provinsi nomor 7 dengan penderita
hipertensi tertinggi di Indonesia, dan Kota Denpasar menjadi daerah terbanyak
penderita hipertensi nomor 2 di Bali (Dinas Kesehatan Provinsi bali, 2015).
Prevalensi tersebut cenderung meningkat dan sejalan dengan perubahan gaya
hidup seperti; merokok, obesitas, aktivitas fisik, dan stres psikososial (Andrea,
2013).
Insiden hipertensi makin meningkat diikuti dengan pertambahan usia,
dimana usia diatas 50 tahun atau lansia menjadi usia resiko tinggi terjadinya
peyakit hipertensi. Hipertensi cenderung dianggap remeh oleh penderitanya
sehingga menyebabkan komplikasi serius yang dapat mengancam nyawa dan
cenderung tidak disadari, penyakit hipertensi merupakan suatu keadaan tekanan
darah di dalam arteri. Secara umum hipertensi tidak menimbulkan gejala yang
abnormal dan berlangsung secara tidak disadari, hipertensi akan didiagnosis
ketika dilakukan pengukuran tekanan darah (Zaenurrohmah & Rachmayanti,
2017).
Hipertensi umumnya terjadi karena gaya hidup yang kurang baik,
obesitas, genetik, ataupun lingkungan. Hipertensi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu
sekunder dan primer, hipertensi primer merupakan hipertensi idiopatik yang
umumnya diketahui penyebabnya sedangkan hipertensi sekunder merupakan
hipertensi yang diakibatkan adanya penggunaan estrogen, penyakit ginjal, dan
kehamilan (Nurarif & Kusuma, 2015). Hipertensi menjadi masalah kesehatan
serius di dunia karena dapat menyebabkan komplikasi yang tanpa disadari dapat
mengancam jiwa penderitanya, hipertensi juga merupakan penyakit yang
memerlukan pengontrolan atau pengobatan seumur hidup bagi penderitanya
(DEPKES, 2016).
Penanganan yang dapat dilakukan pada penderita hipertensi yaitu dengan
melakukan pengukuran tekanan darah secara rutin ke pelayanan kesehatan,
minum obat penurun tekanan darah, dan mengkonsumsi makanan rendah garam
(Andrea, 2013). Seiring dengan bertambahnya waktu seringkali penderita
hipertensi akan mengalami kebosanan dalam melakukan pengobatan seperti dalam
minum obat, sehingga bisa dianjurkan menggunakan obat tradisional atau Non-
farmakologi yang dapat diolah sendiri dan tentunya memiliki efek yang lebih
aman, seperti pemanfaatan wortel dan madu yang diolah menjadi jus (Arta
Wijaya, dkk 2018)
Menurut Mama Lubna (2016), salah satu kandungan wortel yang baik
untuk menurunkan atau mengendalikan tensi adalah kalium. Kalium bersifat
sebagai diuretik yang kuat sehingga membantu menjaga keseimbangan tekanan
darah. Kalium juga memiliki fungsi sebagai vasodilatasi pada pembuluh darah.
Vasodilatasi pada pembuluh darah dapat menurunkan tehanan perifer dan
meningkatkan curah jantung sehingga tekanan darah dapat normal. Madu
memiliki komponen kimia yang memiliki efek koligemik yakni zat asetil kolin.
Asetil kolin berfungsi untuk melancarkan peredaran darah dan menurunkan
tekanan darah. Madu memberikan efek antioksidan karena didalamnya
mengandung phenol dan flavonoid yang berfungsi sebagai pelindung terhadap
masalah pembuluh kapiler dan arterosklerosis (Aden, 2010).
Berdasarkan data diatas maka penulis tertarik untuk membahas dan
memberikan pengetahuan kepada masyarakat, terkait dengan pentingnya
mengetahui penyakit hipertensi serta cara pengobatan non-farmakologi yang dapat
dilakukan seperti pemanfaatan wortel dan madu

II. Tujuan Instruksional Umum


Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 30 menit, diharapkan
peserta dapat mengerti dan memahami penyakit hipertensi dan penanganannya
III. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti pendidikan kesehatan yang dilakukan, terkait dengan
hipertensi peserta dapat :
1. Mengetahui dan mampu menyebutkan pengertian hipertensi
2. Mengetahui dan mampu menyebutkan penyebab hipertensi
3. Mengetahui dan mampu menyebutkan tanda dan gejala hipertensi
4. Mengetahui dan mampu menyebutkan klasifikasi hipertensi
5. Mengetahui dan mampu menjelaskan penatalaksanaan hipertensi

IV. Metode
Metode yang dilakukan dalam memberikan pendidikan kesehatan pada
keluarga dengan hipertensi yaitu:
1. Ceramah
2. Tanya Jawab

V. Media
Media yang dilakukan dalam memberikan pendidikan kesehatan pada
keluarga dengan hipertensi yaitu
1. Leaflet
2. Lembar balik
VI. Rencana Pembelajaran
Tahap Kegiatan Waktu Kegiatan audiens
Pembukaan 1. Mengucapkan salam 5 menit 1. Menjawab salam
2. Melakukan perkenalan diri 2. Mendengarkan
3. Menyampaikan maksud dan tujuan
4. Mengadakan kontrak waktu
5. Melakukan apersepsi
Pelaksanaan Penyuluhan menjelaskan mengenai: 15 menit 1. Mendengarkan
1. Pengertian hipertensi 2. Bertanya
2. Penyebab hipertensi
3. Tanda dan gejala hipertensi
4. Klasifikasi hipertensi
5. Penatalaksanaan hipertensi
6. Tanya jawab
Penutup 1. Menyimpulkan seluruh materi yang 10 menit 1. Mendengarkan
diberikan. 2. Menjawab
2. Melakukan evaluasi kegiatan 3. Mendengarkan
3. Mengakhiri kontrak 4. Menjawab salam
4. Salam penutup
Jumlah 30 menit
30

VII. PengorganisasianKelompok

Penyaji : I Putu Krisna Agung Pangestu


VIII. Setting tempat
U

1
B
T

Keterangan
: penyaji
1

: peserta
IX. Evaluasi
1. EvaluasiStruktur
a. SAP sudah dibuat tiga hari sebelum dilaksanakan kegiatan
b. Alat dan tempat telah disiapkan
c. Pembagian peran sudah diberikan
d. Perencanaan pendidikan kesehatan yang sesuai dan tepat
2. Evaluasi Proses
a. Kegiatan berlangsung tepat waktu
b. Peserta yang hadir 75% dari jumlah total peserta
c. Peserta yang aktif bertanya
3. Evaluasi Hasil
a. Peserta mengerti dan dapat menyebutkan pengertian hipertensi
b. Peserta mengerti dan dapat menyebutkan penyebabhipertensi
c. Peserta mengerti dan dapat menyebutkan tanda dan gejala hipertensi
d. Peserta mengerti dan dapat menyebutkan perawatan hipertensi

DAFTAR PUSTAKA

Andrea, G. (2013). Hipertensi dan Penanganannya. Jurnal Kesehatan, 2.


Arie, N. N. M., & Muntamah, U. (2014). Pengaruh Pemberian Rebusan Seledri
Pada Lansia Penderita Hipertensi Di Dusun Gogodalem Barat. Jurnal
Kesehatane, 2.
DEPKES. (2016). Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi). Jurnal Kesehatan, 3.
Retrieved from http://p2ptm.kemkes.go.id
DEPKES. (2018). Hasil Utama Riskesdas 2018. KEMENTRIAN KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA. Retrieved from www.depkes.go.id
Dinas Kesehatan Provinsi bali. (2015). Profil Kesehatan Provinsi Bali Tahun
2015. Bali: Dinas Kesehatan Provinsi Bali.
Kamila, Y. (2017). Hipertensi. Jurnal Keperawatan, 2. Retrieved from
http://repository.unimus.ac.id
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc (3rd ed.). Jogjakarta: Mediaction
Publishing.
Putri, A. (2017). Mengenal Hipertensi Dan Penangananya. Jurnal Keperawatan,
2. Retrieved from http://unair.ac.id
Setyaningrum, D. (2014). Pendidikan Kesehatan Jus Seledri Kombinasi Wortel
Dan Madu Terhadap Penurunan Tingkat Hipertensi Ny.S Pada Asuhan
Keperawatan Keluarga Tn.S Dengan Hipertensi Di Desa Banjar Rejo
Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. Jurnal Keperawatan\, 1.
Zaenuri, S. (2016). Hipertensi. Jurnal AKP 7 (2), 1. Retrieved from
http://unand.ac.id
Zaenurrohmah, D., & Rachmayanti, R. D. (2017). Hubungan Pengetahuan dan
Riwayat Hipertensi Dengan Tindakan Pengendalian Tekanan Darah Pada
Lansia. Jurnal Keperawatan, 2. Retrieved from http://unair.ac.id

Lampiran Materi
1. Pengertian Hipertensi
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg,
Pada populasi manula hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmhg
dan tekanan diastolic 90 mmHg (Nurarif & Kusuma, 2015).
Hipertensi merupakan gangguan pada sistem peredaran darah yang sering
terjadi pada lansia, dengan kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 150 mmHg
dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (Kamila, 2017).
Hipertensi merupakan peningkatan abnormal tekanan darah di dalam
pembuluh darah arteri dalam satu periode yang mengakibatkan arteriola
berkontriksi sehingga membuat darah sulit mengalir dan meningkatkan tekanan
melawan dinding arteri (DEPKES, 2016).
Berdasarkan pengertian yang penulis jabarkan diatas dapat penulis
simpulkan bahwa hipertensi merupakan suatu keadaan dimana seseorang
mengalami kenaikan pada tekanan pembuluh darah sehingga sistole dan diastole
melebihi batas normal.

2. Penyebab Hipertensi
Menurut Nurarif & Kusuma (2015) berdasarkan penyebabnya hipertensi
dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
a. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak atau belum
diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh
hipertensi). Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab
seperti; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah yang
kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
b. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkani oleh adanya
penyakit lain dan diketahui penyebabnya, pada sekitar 5-10% penderita
hipertensi penyebabnya adalah penyakit ginjal. Sedangkan pada sekitar 1-
2% penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu
(misalnya pil KB).
Sedangkan pada usia lanjut menurut Nurarif & Kusuma (2015) hipertensi
dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu:
a. Elastisitas dinding aorta menurun
b. Katup jantung menebal dan menjadi kaku
c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya
d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah hal ini terjadi karena kurangnya
efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
e. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

3. Tanda dan gejala Hipertensi


Pada sebagian besar penderita hipertensi tidak menimbulkan gejala
meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya
berhubungan dengan tekanan darah tinggi, Gejala yang dapat terjadi menurut
Nurarif & Kusuma (2015) dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
a. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan darah arteri.
b. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala lazim yang menyertai hipertensi meliputi
nyeri kepala, nyeri leher belakang, kelelahan, pusing, lemas, sesak napas,
gelisah, mual, muntah, epistaksis, dan kesadaran menurun
4. Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi hipertensi menurut Nurarif & Kusuma (2015) dapat dibedakan
menjadi 2 berdasarkan pada etiologinya yaitu:
a. Hipertensi primer
Merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, faktor yang
mempengaruhi yaitu; genetik, lingkungan, dan hiperaktifitas saraf
simpatis yang berhubungan dengan kehamilan.
b. Hipertensi sekunder
Merupakan hipertensi yang disebabkan oleh estrogen, penyakit ginjal,
sindrom cushing, dan kehamilan.

Klasifikasi hipertensi berdasarkan derajat hipertensi menurut ESC and ESH


Guidelines tahun 2013
Klasifikasi tekanan darah Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Optimal < 120 Dan < 80
Normal 120-129 Dan / atau 80-84
Prehipertensi 130-139 Dan / atau 85-89
Hipertensi stadium 1 140-159 Dan / atau 90-99
Hipertensi stadium 2 160-179 Dan / atau 100-109
Hipertensi stadium 3 > 180 Dan / atau > 110

5. Penatalaksanaan Hipertensi
Menurut Arie & Muntamah (2014; Nurarif & Kusuma (2015)
penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada pasien hipertensi diantaranya dapat
dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Pengobatan farmakologi
1) Penggunaan obat kelas diuretik seperti; Thizide, furosemid,
spironolactone, dan eplerenone
2) Simpatoplegik yang bekerja secara sentral seperti; Clonidine, dan
methyldopa
3) Penghambat nervus simpatis terminal seperti; Reserpine, dan guanethidine
4) Alpha-blocker seperti; Prazosin, terazosin, dan doxazosin
5) Penghambat renin seperti; Aliskiren
6) Vasodilator seperti; Verapamil, diltiazem, nipedifine, amlodipine, dan
minoxidil
b. Pengobatan non obat (non-farmakologis)
1) Diet rendah garam/ kolesterol/ lemak jenuh
2) Melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45
menit sebanyak 3-4 kali seminggu.
3) Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol
4) Modifikasi gaya hidup
5) Memanfaatkan jus wortel dan madu
salah satu kandungan wortel yang baik untuk menurunkan atau
mengendalikan tensi adalah kalium. Kalium bersifat sebagai diuretik yang
kuat sehingga membantu menjaga keseimbangan tekanan darah. Kalium
juga memiliki fungsi sebagai vasodilatasi pada pembuluh darah.
Vasodilatasi pada pembuluh darah dapat menurunkan tehanan perifer dan
meningkatkan curah jantung sehingga tekanan darah dapat normal. Madu
memiliki komponen kimia yang memiliki efek koligemik yakni zat asetil
kolin. Asetil kolin berfungsi untuk melancarkan peredaran darah dan
menurunkan tekanan darah. Madu memberikan efek antioksidan karena
didalamnya mengandung phenol dan flavonoid yang berfungsi sebagai
pelindung terhadap masalah pembuluh kapiler dan arterosklerosis (Aden,
2010). Cara membuat jus wortel dan madu sehingga dapat digunakan
dalam menurunkan tekanan darah yaitu dengan cara:
a. Ambil satu buah wortel segar atau 100 gram wortel dan cuci bersih
b. Parut/blender dengan 100cc air mineral dan ambil perasan airnya.
c. Saring ampas menggunakan saringan dan letakkan ke dalam gelas
d. Tambahkan 1 sdm madu sebagai pemanis
e. Minum minimal 2 x sehari (pagi dan sore hari)

DAFTAR PUSTAKA

Andrea, G. (2013). Hipertensi dan Penanganannya. Jurnal Kesehatan, 2.


Arie, N. N. M., & Muntamah, U. (2014). Pengaruh Pemberian Rebusan Seledri
Pada Lansia Penderita Hipertensi Di Dusun Gogodalem Barat. Jurnal
Kesehatane, 2.

DEPKES. (2016). Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi). Jurnal Kesehatan, 3.


Retrieved from http://p2ptm.kemkes.go.id

DEPKES. (2018). Hasil Utama Riskesdas 2018. KEMENTRIAN KESEHATAN


REPUBLIK INDONESIA. Retrieved from www.depkes.go.id

Dinas Kesehatan Provinsi bali. (2015). Profil Kesehatan Provinsi Bali Tahun
2015. Bali: Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Kamila, Y. (2017). Hipertensi. Jurnal Keperawatan, 2. Retrieved from


http://repository.unimus.ac.id

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc (3rd ed.). Jogjakarta: Mediaction
Publishing.

Putri, A. (2017). Mengenal Hipertensi Dan Penangananya. Jurnal Keperawatan,


2. Retrieved from http://unair.ac.id

Setyaningrum, D. (2014). Pendidikan Kesehatan Jus Seledri Kombinasi Wortel


Dan Madu Terhadap Penurunan Tingkat Hipertensi Ny.S Pada Asuhan
Keperawatan Keluarga Tn.S Dengan Hipertensi Di Desa Banjar Rejo
Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. Jurnal Keperawatan\, 1.

Zaenuri, S. (2016). Hipertensi. Jurnal AKP 7 (2), 1. Retrieved from


http://unand.ac.id

Zaenurrohmah, D., & Rachmayanti, R. D. (2017). Hubungan Pengetahuan dan


Riwayat Hipertensi Dengan Tindakan Pengendalian Tekanan Darah Pada
Lansia. Jurnal Keperawatan, 2. Retrieved from http://unair.ac.id
PENGARUH KOMBINASI JUS WORDU (WORTEL DAN MADU)
TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA

The Effect Of Combination (Carrot And Honey) Juice On Lowering


Blood Pressure Of Elderly Who Experienced Hypertension

I Putu Artha Wijaya1, I Made Dwie Pradnya2, I Gede Agus Wahyu Pramana Dita3
1
Departemen Keperawatan Medikal Bedah, STIKES Bina Usada Bali, Badung, Indonesia
2
Departemen Keperawatan Gawat Darurat, STIKES Bina Usada Bali, Badung, Indonesia
3
Mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan, STIKES Bina Usada Bali, Badung, Indonesia
Korespondensi: artha_wijaya001@yahoo.com

ABSTRAK
Tingginya kejadian hipertensi maka hipertensi menjadi masalah yang harus diatasi. Pada
pengobatan herbal terapi pemberian jus (kombinasi wortel dan madu) dapat menurunkan
tekanan darah tinggi pada pasien hipertensi. Kombinasi jus wordu (wortel dan madu) memiliki
kandungan seperti kalium yang mampu menjaga tekanan darah dan asetikolin yang membantu
memperlancar pembuluh darah. Desain penelitian menggunakan pre-eksperimental dengan
rancangan one group prestest and posttest design. Penelitian dilakukan di Kelompok Lansia
Wredha Shandi Kencana Desa Mas Ubud pada bulan Maret 2018. Jumlah sampel dalam
penelitian ini sebanyak 31 responden yang ditentukan menggunakan total sampling. Responden
mengkonsumsi kombinasi jus wortel dan madu selama 1 minggu sebanyak 2 kali bersamaan
dengan sarapan di pagi hari dan makan siang. Analisa menggunakan uji wilcoxon untuk
mengetahui pengaruh kombinasi jus wortel dan madu terhadap penurunan tekanan darah pada
lansia dengan hipertensi. Hasil uji wilcoxon p-value yaitu sebesar 0,001 maka p-value < α
(0,05) pada pre-test-post-test tekanan darah maka Ho ditolak dan Ha diterima. Pada nilai z
hitung didapatkan z sistole sebesar -5.011, z diastole sebesar -5.353 dan z tabel dengan nilai
1,645. Dapat diambil kesimpulan bahwa ada pengaruh kombinasi jus wordu (wortel dan madu)
terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi Di Kelompok Lansia Wredha
Shandi Kencana Desa Mas Ubud.

Kata kunci : jus wortel dan madu, tekanan darah, lansia.

ABSTRACT

Higher incidence of hypertension cause a problem which must be overcomed. In herbal


treatment, therapy of consuming combination (carrots and honey) juice can lower high blood
pressure of patients who suffered from hypertension. The combination of carrot and honey
juice has a content like cilium which can keep blood pressure and acetaminoline in order to
smooth the blood vessels. The research design used pre-experimental design with one group
prestest and posttest design. This study was conducted in Wredha Shandi Kencana Elderly
Groups Mas Village Ubud in March 2018. The sample was determined by non probability
sampling namely total sampling with the number of sample was 31 respondents. Respondents
consumed a combination of carrot and honey juice twice a week twice while having breakfast
in the morning and having lunch. Analysis using wilcoxon test to determine the effect of
combination (carrot and honey) juice on lowering blood pressure of elderly who experienced
hypertension. The result of wilcoxon test obtained p-value was 0,001 then p-value <α (0,05) at
pre-test-post-test of blood pressure hence Ho was rejected and Ha was accepted. Z value was z
sistole -5.011, z diastole -5.353 dan z table value 1,645. It could be concluded that there was
the effect of combination (carrot and honey) juice on lowering blood pressure of elderly who
experienced hypertension in Wredha Shandi Kencana Elderly Groups Mas Village Ubud

Keywords: carrot and honey juice, blood pressure, elderly.


Osteoartritis

PENDAHULUAN mendapatkan pengobatan dan


Saat ini di seluruh dunia jumlah lansia pengontrolan secara teratur dapat
diperkirakan lebih dari 629 juta jiwa (Nugroho,
2008). Di Indonesia populasi lanjut usia mengakibatkan penderita mengalami
meningkat. Keadaan ini terlihat dari penyakit yang lebih serius bahkan
peningkatan Usia Harapan Hidup (UHH) dan menyebabkan kematian (Pudiastuti, 2013).
angka kelahiran selama awal abad ke 20
mempunyai kontribusi pada peningkatan Hal ini ditunjukan dengan kejadian stroke
populasi lanjut usia. Hampir 3 juta orang di atas di Provinsi Bali sebanyak 1.494 kasus serta
usia 85 tahun menggambarkan pertumbuhan angka kejadian gagal jantung di Provinsi
tercepat dengan rata-rata pertumbuhan hampir
3 kali dari semua populasi lanjut penduduk Bali sebanyak
yaitu 46,6% di tahun 1971 menjadi 65,5% di
tahun 1999. Sedangkan di tahun 2020 nanti 1.370 kasus pada tahun 2016 (Dinas
diperkirakan meningkat 3 kali menjadi lebih Kesehatan Provinsi Bali, 2017).
kurang 29 juta jiwa atau sebanyak 11,4 % dari
total penduduk Indonesia (Aspiani, 2014). Adapun penanganan hipertensi yaitu
Perubahan fisiologis pada lansia meliputi
penurunan kemampuan saraf, pendengaran, dengan pengobatan farmakologi (obat-
peraba, perasa, dan penciuman, yang akan obatan) dan pengobatan non farmakologi
mengakibatkan penurunan pada sistem (Pudiastuti, 2013). Sumber daya yang
pencernaaan, saraf, pernapasan, endokrin,
kardiovaskuler,dan kemampuan dapat dimanfaatkan untuk mengontrol
muskuloskeletal. Perubahan pada lanjut usia tekanan darah antara lain buah-buahan,
yaitu elasitas pembuluh darah menurun dimana sayur- sayuran yang tinggi serat, kaya
dapat menyebabkan penurunan aliran fungsi
ginjal pada sistem kardiovaskuler dimana vitamin serta mineral (Susilo & Wulandari,
keadaanya akan menyebabkan risiko terjadinya 2011). Jus buah dan sayuran yang dapat
hipertensi meningkat (Fatimah, 2010). dimanfaatkan antara lain belimbing,
Prevalensi hipertensi di Indonesia
sebesar 26,5% pada tahun 2013, tetapi yang wortel, apel, melon, jambu biji, brokoli,
terdiagnosis oleh tenaga kesehatan dan/atau wortel, kubis, tomat, seledri, mengkudu,
riwayat minum obat hanya sebesar 9,5%. Hal bayam, mentimun, pisang dan masih
ini menandakan bahwa sebagian besar kasus
hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis
banyak yang lain (Pudiastuti, 2011).
dan terjangkau pelayanan kesehatan (Kemenkes
RI, 2013). Di Provinsi Bali, prevalensi Menurut Junaedi (2013) dan Junaidi
hipertensi menurut Profil Kesehatan Bali tahun (2010) salah satu kandungan jus wortel
2016 didapatkan data sebanyak 54.944 kasus yang baik untuk menurunkan atau
hipertensi terjadi di Provinsi Bali, tertinggi
terjadi di Kabupaten Bangli sebanyak 21,54%, mengendalikan tensi adalah kalium.
diikuti oleh Kabupaten Buleleng 12,68%, Diketahui madu mempunyai kandungan
Gianyar 9,81%, Badung 9,72%, Karangasem sebagai antioksidan, di dalam madu
8,20%, Tabanan 6,03%, Denpasar 4,70%,
Klungkung 4,19%, dan Jembrana 1,89% (Dinas terdapat senyawa
Kesehatan Provinsi Bali, 2017). antioksidan (pinocembrin)
Tingginya kejadian hipertensi yang mengandung asetikolin. Adapun
berdasarkan data diatas maka hipertensi penelitian yang dilakukan oleh Puspito
menjadi masalah yang harus diatasi.
Hipertensi dapat mengakibatkan (2014) tentang “Studi Komparasi
komplikasi seperti serangan jantung, stroke, Efektivitas Pemberian Madu, Labu Siam,
gagal ginjal, kebutaan dan payah jantung. Labu Siam dan Madu Terhadap Tekanan
Apabila penderita hipertensi tidak Darah Penderita Hipertensi Primer Di
Dusun Pundung Nogotirto Gamping
Osteoartritis

Sleman Yogyakarta” didapatkan melalui


uji dependent t-test pada kelompok madu
menunjukan perbedaan tekanan darah
sistolik pre test- post test.

TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh kombinasi jus wordu
(wortel dan madu) terhadap penurunan
tekanan darah pada lansia dengan hipertensi di
Osteoartritis

Variabel Mean SD Min- CI 95%


Kelompok Lansia Wredha Shandi Kencana Max
Desa Mas Ubud. 66.46-
Usia 68.03 4.293 61-78
69.61
METODE PENELITIAN
Desain

Penelitian ini menggunakan desain pre-


eksperimental dengan rancangan one group
prestest and posttest design, di dalam desain ini
observasi dilakukan dua kali yaitu sebelum
eksperimen dan setelah eksperimen.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah


seluruh lansia dengan hipertensi kelompok
Wredha Shandi Kencana Desa Mas Ubud.
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 31
orang, dipilih dengan menggunakan cara total
sampling.

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 4


minggu di Desa Mas Ubud.

Intervensi

Perlakuan yang diberikan adalah


memberikan kombinasi jus wortel dan madu
yang diminum dua kali sehari sebanyak 100
gram wortel dan 1 sdm madu selama satu
minggu tanpa mengkonsumsi obat penurun
tekanan darah pada kelompok perlakuan.

Instrumen dan Prosedur Pengukuran

Instrumen (alat ukur) yang digunakan


untuk mengukur tekanan darah berupa alat
pengukuruan tekanan darah yaitu
sphygmomanometer dan stetoscope.
Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum
diberikan kombinasi jus wortel dan madu serta
sesudah diberikan kombinasi jus wortel dan
madu selama satu minggu. Hasil pengukuran
tekanan darah dicatat dalam lembar observasi.
Analisa Data

Data dianalisis dilakukan dengan


menggunakan analisis uji Wilcoxon.

HASIL PENELITIAN
Berikut ini adalah hasil penelitian yang
disajikan dalam bentuk tabel:
Tabel 1
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Osteoartritis

Tabel 1 menunjukkan dari 31 responden


didapatkan usia tertinggi responden yaitu berusia
78 tahun.
Tabel 2
Analisis Pengaruh Kombinasi Jus Wordu
(Wortel Dan Madu) Terhadap Penurunan
Tekanan Darah Pada Lansia
Klasifikasi Mean Z p
Sistole Pre 153.87
-5.011 0.001
Sistole Post 138.71
Diastole Pre 95.16
84.19 -5.353 0.001
Diastole Post

Tabel 2 menunjukan dapat diketahui


bahwa dari hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai
yaitu sebesar 0,001 maka p-value < α (0,05). Ada
pengaruh secara signifikan antara rata-rata pre
dan post setelah diberikan kombinasi jus wordu
(wortel dan madu) dengan nilai z sistole sebesar
-5.011, z diastole sebesar -5.353 dan z tabel
dengan nilai 1,645 yang berarti z hitung lebih
besar dari z tabel yang dapat disimpulkan bahwa
ada pengaruh kombinasi jus wordu (wortel dan
madu) terhadap penurunan tekanan darah pada
lansia dengan hipertensi Di Kelompok Lansia
Wredha Shandi Kencana Desa Mas Ubud.

PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukan dapat
diketahui bahwa dari hasil uji Wilcoxon
diperoleh nilai yaitu sebesar 0,001 maka p-
value < α (0,05). Ada pengaruh secara signifikan
antara rata-rata pre dan post setelah diberikan
kombinasi jus wordu (wortel dan madu) dengan
nilai z sistole sebesar -5.011, z diastole sebesar
-5.353 dan z tabel dengan nilai 1,645 yang
berarti z hitung lebih besar dari z tabel yang
dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh
kombinasi jus wordu (wortel dan madu) terhadap
penurunan tekanan darah pada lansia dengan
hipertensi Di Kelompok Lansia Wredha Shandi
Kencana Desa Mas Ubud.
Dimana hasil dari penelitian ini sebagian
besar diderita oleh lansia perempuan. Hal ini
sesuai dengan teori bahwa pada usia di atas 55
tahun, hipertensi banyak menyerang wanita
(Junaidi, 2010). Wanita pasca menopause
memiliki risiko mengalami hipertensi lebih besar
dibandingkan laki-laki. Ini berkaitan dengan
menurunnya hormon estrogen pada wanita yang
berkaitan dengan terjadinya aterosklerosis
sebagai salah satu faktor penyebab hipertensi
(Stanley, 2007).
Osteoartritis

Dalam mengendalikan hipertensi sumber Ini artinya ada perbedaan yang signifikan
daya yang dapat dimanfaatkan untuk tekanan darah pada kelompok hipertensi yang
mengontrol tekanan darah antara lain buah- mengkonsumsi jus kulit buah manggis dan
buahan, sayur-sayuran yang tinggi serat, kaya madu (Tanjung, 2014).
vitamin serta mineral (Susilo & Wulandari,
2011). Jus buah dan sayuran yang dapat KESIMPULAN
dimanfaatkan antara lain belimbing, wortel, Implikasi
apel, melon, jambu biji, brokoli, wortel, kubis,
tomat, seledri, mengkudu, bayam, mentimun, Terdapat pengaruh kombinasi jus wordu
pisang dan masih banyak yang lain (Pudiastuti (wortel dan madu) terhadap penurunan tekanan
R. , 2011). darah pada lansia dengan hipertensi. Hasil
Mengkonsumsi wortel dapat penelitian ini dapat menjadi pengembangan
menurunkan tekanan darah. Kalium yang terapi komplementer dalam keperawatan
terdapat pada wortel berperan dalam terapi sebagai alternatif pengobatan non farmakologi
hipertensi (Erviria, 2015). Wortel dapat kepada penderita hipertensi.
menurunkan tekanan darah disebabkan karena
wortel memiliki kandungan kalium. Kalium Keterbatasan
merupakan kandungan mineral yang baik
untuk menurunkan atau mengendalikan tensi. Penelitian ini tidak menggunakan kelompok
Kalium bersifat sebagai diuretik yang kuat pembanding dengan desain one group pretest
sehingga membantu menjaga keseimbangan posttest, dibutuhkan penelitian lebih lanjut
air, tekanan darah, keseimbangan asam basa, dengan dosis pemberian yang berbeda dan
melancarkan pengeluaran air kemih, membantu karakteristik responden yang berbeda.
melarutkan batu pada saluran kemih, kandung
kemih dan ginjal (Junaidi, 2010). DAFTAR PUSTAKA
Madu memiliki komponen kimia yang Alissa, P. (2009). Keajaiban Buah dan Sayur
memiliki efek koligemik yakni zat asetil kolin. untuk Kesehatan Tubuh. Yogyakarta :
Asetil kolin berfungsi untuk melancarkan Genius
peredaran darah dan menurunkan tekanan
darah. Dalam madu memberikan efek Aspiani, R. Y. (2014). Buku Ajar Asuhan
antioksidan karena di dalamnya mengandung
Keperawatan Gerontik Aplikasi NANDA
phenol dan flavonoid yang berfungsi sebagai
pelindung terhadap masalah pembuluh kapiler & NIC dan NOC, Jilid 1. Jakarta : TIM.
dan arterosklerosis (Aden, 2010; Suranto,
2008) Dalimartha, S. (2013). Fakta Ilmiah Buah dan
Hasil penelitian perubahan tekanan darah Sayur. Jakarta : Penebar Plus
sebelum dan sesudah pemberian jus wortel
pada penderita hipertensi di wilayah (Tela, Depkes RI. (2014). Hipertensi. Jakarta : Pusat
2017) kerja UPK Puskesmas Kecamatan Pal Data dan lnformasi Kementerian
Tiga Kota Pontianak. Dimana didapatkan nilai Kesehatan Rl
p sistolik dan diastolik kelompok intervensi Dinas Kesehatan Provinsi Bali. (2017). Profil
0,000 (p < 0,05) dan 0,000 (p < 0,05), yang Kesehatan Provinsi Bali Tahun 2016.
berarti Ha diterima dan Ho ditolak sehingga Denpasar : Dinas Kesehatan Provinsi
didapatkan kesimpulan terdapat pengaruh
pemberian jus wortel terhadap perubahan Bali.
tekanan darah pada penderita hipertensi di
Wilayah Kerja UPK Puskesmas Kecamatan Pal Fatimah. (2010). Gizi Usia Lanjut. Jakarta: PT.
Tiga Kota Pontianak (Tela, 2017). Erlangga
Hasil penelitian lain tentang pengaruh
jus kulit manggis dan madu terhadap tekanan Jon, G. (2012). Program Olahraga : Tekanan
darah penderita hipertensi di Dusun Gamping Darah Tinggi. Yogyakarta : PT. Intan
Lor Sleman Yogyakarta. Didapatkan hasil uji Sejati
independent sample t-test perbedaan tekanan
darah sistolik diperoleh p-value (0,000) < 0,05. Junaedi, E. (2013). Hipertensi Kandas Berkat
Herbal. Jakarta Selatan : FMedia
Osteoartritis

Junaidi, L. (2010). Hipertensi Pengenalan dan


Pengobatan. Jakarta : PT Bhuana Ilmu
Populer

Kemenkes RI. (2013). Prevalensi Hipertensi,


Penyakit yang Membahayakan. Jakarta
: Kemenkes RI.

Nugroho, W. (2008). Keperawatan Gerontik &


Geriatrik, Edisi-3. Jakarta : EGC
Osteoartritis

Pudiastuti, R.D. (2011).


Penyakit Pemicu Stroke.
Yogyakarta : Nuha
Medika

Pudiastuti, R.D. (2013).


Penyakit-Penyakit
Mematikan. Yogyakarta
: Nuha Medika

Puspito, H. (2014). Studi


Komparasi Efektivitas
Pemberian Madu, Labu
Siam, Labu Siam Dan
Madu Terhadap
Tekanan Darah
Penderita Hipertensi
Primer di Dusun
Pundung Nogotirto
Gamping Sleman
Yogyakarta. Skripsi.
STIKES ‘Aisyiyah
Yogyakarta :
Yogyakarta. Diakses
Tanggal 13 Oktober
2017.

Rahman, A. (2013). Amazing


Madu 147 Resep Madu
untuk Membasmi 85
Penyakit. Yogyakarta :
CV Solusi Distribusi.

Sudoyo. A.W, Setiyohadi. B,


Alwi. I, Simadibrata. M,
Setiadi. S. (2009). Buku
Ilmu Ajar Penyakit
Dalam. Jilid II Edisi

V. Jakarta: Interna
Publishing Pusat
Penerbitan Ilmu
Penyakit Dalam.
Osteoartritis

Susilo, Y dan Wulandari.


(2011). Cara Jitu
Mengatasi Hipertensi.
Yogyakarta : Andi.

Tela, I. (2017). Pengaruh


Pemberian Jus Wortel
(Daucus carota L.)
Terhadap Perubahan
Tekanan Darah Pada
Penderita Hipertensi Di
Wilayah Kerja UPK
Puskesmas Pal Tiga
Kecamatan Pontianak
Kota. ProNers, 3(1).

Wahdah, N. (2011).
Menaklukan Hipertensi
dan Diabetes.
Yogyakarta: Multipress.

Widiantari, N. K., Artana, I. W., & Susila, I. M.


D. P. (2014). Pengaruh
Kombinasi Jus Seledri,
Wortel dan Madu
Terhadap Hipertensi Di
Wilayah Kerja
Puskesmas II Denpasar
Barat. Jurnal Dunia
Kesehatan Volume 3 No
2 Desember.
Osteoartritis
Osteoartritis

Lembar Pengesahan

Asuhan Keperawatan Keluarga Bapak S

Dengan Hipertensi Di Banjar Paneca Desa Melinggih Kelod,

Payangan-Gianyar, Bali

Tanggal 22 Februari 2020 – 25 Februari 2020

Gianyar, Februari 2020


CI/Pembimbing Klinik Mahasiswa

Ns. Ni Putu Wiwik Oktaviani,S.Kep,M.Kep I Putu Krisna Agung Pangestu,S.Kep


NIP . 2.04.11.429 NIM. 19.901.2237

CT / Pembimbing Akademik

Ns. Desak Putu Sumadi.S.Kep


NIP . 197510091996032002