Anda di halaman 1dari 13

ANALSIS FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI

TERJADINYA PREEKLAMSIA ATAU EKLAMSIA


DI RSUD MAJENANG
TAHUN 2020

disusun oleh:
SITI JAMINGATUL KHOERIYAH, S.ST
NIP 196908051989032011

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MAJENANG


KABUPATEN CILACAP
2020
PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Siti Jamingatul Khoeriyah, S.ST
NIP : 196908051989032011
Unit kerja : Rumah Sakit Umum Daerah Majenang Kabupaten Cilacap

Sebagai salah satu syarat kenaikan pangkat periode bulan Oktober2020.


Dengan judul “Analisis faktor faktor risiko yang mempengaruhi
terjadinya preklamsia atau eklamsia di RSUD Majenang tahun 2020.

Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan


digunakan sebagaimana mestinya.

Majenang, 03 Oktober2020

Siti Jamingatul Khoeriyah, S.ST


NIP.196908051989032011
Abstract : Preeclampsia / eclampsia is ranked first cause of maternal mortality in
hospitalized patients in the hospital. The high number of deaths of preeclampsia / eclampsia
can also show that there are still many cases of preeclampsia / eclampsia which was not
detected in the community, and only taken if things are a heavy treatment. Term
preeclampsia is toxemia gravidarum is a condition where there is a pregnancy symptom
triad of hypertension, proteinuria and edema.

Kata Kunci : Faktor Risiko Preeklamsia

A. Pendahuluan angka kematian maternal masih tinggi yaitu


Angka kematian ibu bersalin dan
228/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan
angka kematian perinatal merupakan
target yang harus dicapai pada Tahun 2010
indikator yang paling peka untuk menilai
adalah 125/100.000 kelahiran hidup. Pada
keberhasilan program kesehatan ibu dan
Tahun 2006 jumlah kematian maternal
anak (Depkes, 2008). Angka Kematian Ibu
khususnya kematian ibu bersalin di
(AKI) merupakan salah satu indikator untuk
Kabupaten Cilacap adalah 25 orang (Dinkes,
mengukur tinggi rendahnya derajat
2007). Angka kematian tersebut
kesehatan masyarakat pada suatu negara.
sesungguhnya dapat dicegah dengan deteksi
Mortalitas dan morbiditas menjadi masalah
adanya komplikasi sejak dini kemudian
besar di negara-negara berkembang. Badan
mendapatkan penanganan yang lebih tepat
Kesehatan Dunia (World Health
dan akurat.
Organization/WHO) pada Tahun 2000
memprakarsai Making Pregnancy Safer RSUD Majenang adalah salah satu

(MPS) untuk mendukung negara-negara rumah sakit bagi penduduk Majenang dari

anggotanya dalam rangka menurunkan semua strata, baik dari kalangan bawah

angka kematian ibu akibat komplikasi maupun kalangan berpunya. Hampir seluruh

kehamilan, persalinan, dan nifas, serta dapat masalah kesehatan yang dialami masyarakat

menjamin bahwa setiap persalinan ditolong telah dapat ditangani di rumah sakit ini.

oleh tenaga kesehatan terlatih. Termasuk fasilitas yang dilayani di rumah


sakit ini adalah pelayanan untuk ibu-ibu
Laporan Survey Demografi yang akan melahirkan. Banyak ibu-ibu yang
dan Kesehatan Indonesia (SDKI) akan melahirkan itu mengalami masalah
Tahun 2007, menyebutkan bahwa dalam
proses persalinannya. Salah satu masalah itu Aktivitas tindak lanjut yang
adalah kejadian preeklamsia/eklamsia dilakukan oleh bidan saat kondisi ibu telah
Sepengetahuan penulis, di RSUD Majenang terdeteksi saat itu adalah menentukan
insiden preeklampsia/eklamsia tahun 2019 tingkat perawatan. Oleh karena itu, bidan
mencapai 34 kejadian (dari 623 persalinan), khususnya harus cermat dalam melakukan
Tahun 2018 mencapai 39 kejadian (dari 449 pengawasan antenatal yang intensif
persalinan), dan tahun 2017 mencapai 42 sehingga dapat menetapkan secara dini
kejadian (dari 191 persalinan). Meskipun kemungkinan komplikasi hipertensi dalam
demikian, dari tahun 2017-2019 tidak ada kehamilan dalam bentuk
kejadian pasien persalinan yang meninggal preeklampsia/eklampsia. Bidan juga
di rumah sakit ini. Salah satu usaha untuk membutuhkan pengetahuan baru dari
menurunkan angka kejadian penelitian terbaru serta bukti literature yang
preeklamsia/eklamsia adalah pencegahan, valid guna mendapatkan informasi untuk
pengenalan dini, dan terapi. Usaha pengambilan keputusan pada praktik klinis
pencegahan dini dapat dilakukan apabila mereka. Dalam prakteknya, Bidan mengacu
dapat diidentifikasi faktor-faktor penyebab pada Standar Pelayanan Kebidanan. Hal ini
utama yang mengakibatkan terjadinya dapat menjamin bahwa tidak ada tindakan
preeklampsia/eklamsia, atau mengatasi atau kelalaian dalam menjalankan peran
faktor risiko penyakit professional mereka, yang secara langsung
preeklampsia/eklampsia ini. turut berperan dalam morbiditas dan
mortalitas.
Preeklamsia/eklamsia menempati
urutan pertama penyebab kematian maternal Melihat berbagai permasalahan
pada pasien rawat inap di rumah sakit. tersebut diatas khususnya tentang kejadian
Tingginya jumlah kematian preeklampsia/eklampsia, maka sangat
preeklampsia/eklampsia dapat juga penting untuk diteliti faktor risiko terjadinya
menunjukkan bahwa masih banyak kasus preeklampsia/eklampsia pada ibu hamil
preeklampsia/eklampsia yang tidak tersebut. Seperti diketahui bahwa faktor
terdeteksi di masyarakat, dan baru dibawa risiko suatu penyakit sangat tergantung pada
berobat apabila keadaannya sudah berat. kondisi geografis dan karakteristik
lingkungan daerah setempat.
B.Metode Penelitian Pada usia < 18 tahun, keadaan alat
Jenis penelitian ini adalah
reproduksi belum siap untuk menerima
penelitian observasional dengan
kehamilan. Hal ini akan meningkatkan
rancangan matched case control study
terjadinya keracunan kehamilan dalam bentuk
(studi kasus kontrol berpadanan) dan
preeklamsia dan eklamsia ( Manuaba, 2007).
menerapkan pendekatan kuantitatif.
Kehamilan diatas usia 35 tahun juga tidak
Rancangan kasus kontrol adalah
dianjurkan, sangat berbahaya. Mengingat
rancangan penelitian epidemiologi yang
mulai usia ini. ering muncul penyakit seperti
mempelajari hubungan antara paparan
hipertensi, tumor jinak peranakan, atau
dengan efek (outcome) tertentu. Dalam
penyakit degenerative pada persendian tulang
hal ini kelompok kasus adalah kelompok
belakang dan panggul. Kesulitan lain
yang diidentifikasi memiliki
kehamilan diatas usia 35 tahun ini yakni bila
efek (outcome) dengan
ibu ternyata mengidap penyakit seperti diatas
permasalahan tertentu, sedangkan
yang ditakutkan bayi lahir dengan membawa
kelompok kontrol adalah kelompok tanpa
kelainan (Sitorus, 2000).
adanya efek (outcome) dengan
permasalahan yang di teliti. Tekanan darah cenderung meningkat
seiring bertambahnya usia, kemungkinan
C.Pembahasan
seseorang menderita hipertensi juga semakin

1. Pembahasan besar. Pada umumnya penderita hipertensi


1. Usia sampel adalah orang-orang yang berusia 40 tahun
Usia ibu sangat berperanan dalam
namun saat ini tidak menutup kemungkinan
menentukan tingkat kematangan
diderita oleh orang berusia muda. Dalam
pribadi dan fisik seorang ibu. Pada
tulisannya yang dikumpulkan dari berbagai
penelitian kali ini usia sampel yang
penelitian yang dilakukan di Indonesia
dominan adalah berumur 20 – 35
menunjukkan bahwa 1,8%-28,6% penduduk
tahun. Artinya umur ini sebenarnya
yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita
tergolong usia ideal dengan
hipertensi ( Boedhi Darmoejo, 2000 ).
kematangan mental dan fisik yang
optimal. Pada usia 35 tahun atau lebih rentan
terjadinya berbagai penyakit dalam bentuk
Umur ibu erat kaitannya dengan
hipertensi, dan eklamsia.
berat bayi lahir. Kehamilan dibawah
umur 20 tahun merupakan kehamilan
berisiko tinggi, 2-4 kali lebih tinggi di
bandingkan dengan kehamilan pada
wanita yang cukup umur (Sitorus, Disebabkan karena tenjadinya perubahan pada

2000). jaringan alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak


lentur lagi. Selain itu, juga diakibatkan karena
tekanan darah yang meningkat seiring akan terpantau. ANC dapat memberikan saran-
dengan pertambahan usia. Sehingga pada saran untuk memperbaiki kondisi yang
usia 35 tahun atau lebih dapat cenderung kekurangan maupun yang berlebih. Dengan ANC
meningkatkan risiko terjadinya akan dapat diatasi permasalahan yang akan
preeklamsia. ( Rochjati, 2003). terjadi sebelum maupun sesudah persalinan.

2. Paritas 4. Riwayat Hipertensi


Berdasarkan teori immunologik yang Wanita yang mempunyai riwayat preeklamsia
disampaikan Sudhaberata, K (2005), hal pada kehamilan pertama mempunyai risiko 7
ini dikarenakan pada kehamilan pertama kali untuk mengalami preeklamsia pada
terjadi pembentukan “blocking kehamilan kedua. Setiap penderita hipertensi
antibodies” terhadap antigen tidak tidak selalu didapat dari garis keturunan tetapi
sempurna. Selain itu menurut Angsar, D setiap orang memiliki potensi untuk mendapat
(2004), pada kehamilan pertama terjadi hipertensi jika orang tuanya adalah penderita
pembentukan “Human Leucocyte hipertensi (Anies, 2006).
Antigen Protein G (HLA)” yang berperan
Kemungkinan untuk menderita hipertensi pada
penting dalam modulasi respon immune,
seseorang yang orang tuanya memiliki riwayat
sehingga ibu menolak hasil konsepsi
hipertensi sebesar 2 kali lipat dibandingkan
(plasenta) atau terjadi intoleransi ibu
dengan orang lain yang tidak memiliki riwayat
terhadap plasenta sehingga terjadi
hipertensi pada orang tuanya. Sekitar 70 – 80%
preeklamsia-eklamsia.
pasien hipertensi memiliki riwayat faktor
3. Riwayat ANC hipertensi dalam keluarganya ( Kaplan,2000).
Perencanaan dan penyediaan layanan
yang diberikan selama masa hamil
secara berkala sesuai pedoman
pelayanan antenatal sangat
membantu kesehatan ibu dan
kandungannya. Pelayanan antenatal
dimulai dari pelayanan pendaftaran,
pelayanan kesehatan (meliputi
anamnesis, pelayanan fisik, maupun
laboratorium),
Kasus hipertensi esensial 70%- 80%
diturunkan dari orang tuanya. Apabila riwayat
hipertensi di dapat pada kedua orang tua maka
penyuluhan perorangan atau konseling
sampai dengan pelayanan obat dan dugaan hipertensi esensial lebih besar bagi
seseorang yang kedua orang tuanya menderita
atau rujukan. Dengan ANC maka
kondisi perkembangan ibu dan janin hipertensi ataupun pada kembar monozygot (sel
telur) dan salah satunya menderita dengan pendidikan SMP-SMA masih lebih buruk
hipertensi maka orang tersebut dibandingkan dengan tingkat pendidikan SD. Hal
kemungkinan besar menderita ini dimungkinkan bahwa pada masa sekarang ini
hipertensi. orang dengan tingkat pendidikan SD hanya
mereka yang tinggal di desa-desa dan mereka
Penelitian yang dilakukan pada
dapat mengembangkan dirinya karena intraksi
orang kembar yang dibesarkan secara
sosial yang masih tinggi. Dengan demikian
terpisah atau bersama dan juga terdapat
pendidikan masyarakat memegang peranan yang
pada anak- anak bukan adopsi telah
penting dalam menciptakan kehidupan yang
dapat mengungkapkan seberapa besar
sehat.
tekanan darah dalam keluarga yang
merupakan akibat kesamaan dalam 6. Pekerjaan
Stres pekerjaan dapat
gaya hidup. Berdasarkan penelitian
meningkatkan tekanan darah dalam waktu yang
tersebut secara kasar, sekitar separuh
pendek. Dalam penelitian ini didapati ibu dengan
tekanan darah di antara orang-orang
pekerjaan tambahan selain sebahgai ibu rumah
tersebut merupakan akibat dari faktor
tangga lebih tinggi risikonya untuk mengalami
genetika dan separuhnya lagi
preeklamsia-eklamsia. Hal ini sesuai dengan
merupakan akibat dari faktor pola
penelitian Beever (2002), bahwa stres yang
makan sejak masa awal kanak-kanak
muncul akibat mengerjakan perhitungan
(Beevers, 2002).
aritmatika dalam suatu lingkungan yang bising,
5. Tingkat pendidikan
atau bahkan ketika sedang menyortir benda
Pendidikan bukanlah faktor risiko
berdasarkan perbedaan ukuran, menyebabkan
langsung dari peristiwa preeklamsia-
stress yang tinggi pada ibu-ibu yang sedang
eklamsia, akan tetapi dengan tingkat
mengandung. Demikian pula Basha (2004) yang
keterbukaan terhadap informasi yang
menyimpulkan bahwa gangguan kepribadian
lebih baik akan menjadikan kondisi
yang bersifat sementara dapat terjadi pada orang
seorang ibu lebih mengerti akan
yang
kesehatan dan perawatannya.

Dengan tingkat pendidikan yang lebih


baik diharapkan akan mampu secara
swakarsa dan swadaya untuk
menciptakan kondisi yang baik
terhadap dirinya dan kandungannya.

Pada penelitian ini kondisi yang


terbaik adalah dengan pasien dengan
pendidikan tinggi. Sedangkan pasien
menghadapi keadaan yang Hendaknya dalam penelitian-
menimbulkan stres berat dan itu penelitian lain yang akan dilakukan
sangat berisiko pada ibu-ibu dapat menggunakan metode wawancara
yang menghadapi persalinan dengan pertanyaan terbuka sehingga
(Basha, 2004). aspek-aspek dalm penelitian dapat
diungkap lebih dalam mengatasi risiko
Penutup
1. Kesimpulan terjadinya preeklamsia/eklamsia.
Dari uraian pembahasan
maka dapat disimpulkan bahwa 2. Bagi pembangunan bidang kesehatan

faktor yang berisiko terhadap Mengantisipasi kejadian

kejadian preeklamsia- eklamsia preeklamsia/eklamsia pada

adalah usia, kejadian paritas, primigravida dengan dilakukan

pendidikan, riwayat preeklamsia- penyuluhan bagi calon ibu untuk

eklamsia, pekerjaan, dan riwayat meningkatkan kesadaran dalam

ANC. Dari faktor tersebut yang melakukan pemeriksaan antenatal

mempunyai pengaruh sangat besar care secara teratur dan terarah

terhadap kejadian preeklamsia- sehingga risiko preeklamsia/eklamsia

eklamsia adalah usia ibu. Sedangkan dapat ditangani sedini mungkin.

faktor terkecil yang mempengaruhi 3. Bagi Ibu Hamil


kejadian preeklamsia- eklamsia Melakukan penanganan dan deteksi dini
adalah riwayat ANC. terhadap ibu hamil dengan faktor risiko
preeklamsia/eklamsia dengan follow up
teratur dan nasihat yang jelas. Serta
dijelaskan pula kepada suami atau anggota
keluarga lainnya tentang tanda-tanda
preeklamsia/eklamsia dan perlunya dukungan
sosial/moral kepada pasien.

2. Saran Daftar Pustaka


1. Bagi Peneliti Selamjutnya
Adnil Basha , (2004) Preeclampsia- Badan Pusat Statistik (BPS) dan ORC Macro.
Eclampsia as the Single Disease (2007) Survei Demografi dan
and the Reproductive Risk Factors. Kesehatan Indonesia 2007.
Jakarta. Calverton, Maryland, USA: ORC
Macro.
Affandi (2007), Hipertensi pada wanita.
Majalah Obstetri & Ginekologi. Beevers , (2002) Genetic and Familial
Jakarta Predisposition to Eclampsia and
Preeclampsia in a Defined
Allison Hull (2001) Higher Risk of Population. Br J Obstet Gynaecol.
Preeclampsia After Change of
Partner. An. Effect of Longer Boedhi Darmoejo., 2006. Preeklampsia dan
Interpregnancy Intervals. Eklampsia, dalam : Ilmu Kebidanan.
Epidemiology. Edisi III. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.
Arif Masjoer, dkk (2000). Pengelolaan
Preeklampsia Berat dan Eklampsia. Boyle. (2007) Etiology and Pathogenesis of
Skripsi Spesialis Obstetri Preeclampsia: Current Concepts.
Ginekologi Universitas Gadjah Am J Obstet Gynecol
Mada Yogyakarta.
Cunningham F. G., 2003. Chapter 34.
Artika, Kurniawati, 2007, Hubungan antara Hypertensive Disorders In Pregnancy. In
Primigrivida Dengan Kejadian Williams Obstetri. 22nd Ed. New
Preeklamsia-eklamsia di Rumah York :Medical Publishing Division.
Sakit Muwardi Solo Periode 1
Januari – 31 Desember 2008, Dinas Kesehatan Yogyakarta (2007). Profil
Fakultas Kedokteran UMS, Kesehatan Kabupaten, Yogyakarta.
Surakarta.
Gordis, L. (2000) Epidemiology, 2nd ed.
W.B. Saunders Company:
Philadelphia.

Hariadi (2003). Kematian Ibu dan Perinatal


Pada Preeklampsia dan Eklampsia.
Tesis Fakultas Kedokteran Undip
Semarang.

Hacker N. F., 2001. Esensial Obstetri dan


Ginekologi. Jakarta.

Imam Soeharto (2002). Cara-cara Prediksi


Preeklampsia Pada Perawatan
Antenatal. Naskah PIT XI POGI
Ujung Pandang.
Kaplan (2000). Kematian dan Perinatal Sitorus., (2000). Diagnosis dan
dengan Preeklampsia. Laporan Penatalaksanaan Preeklampsia-
Ilmiah Laboratorium Obstetri dan Eklampsia, in : Holistic and
Ginekologi Universitas Comprehensive Management
Diponegoro. Semarang. Eclampsia. Surakarta.
Kristianto, Hermawan., 1999, Morfologi Smith , Bart (2000) Increased Incidence of
Dan Rasio Plasenta Pada Preeclampsia in Women Conceiving
Preeklamsia-eklamsia, Fakultas by Intrauterine Insemination with
Kedokteran UNDIP, Semarang. Donor Venus Partner Sperm for
Treatment of Primary Infertility. Am
Manuaba, I.B.G. (2007) llmu Kebidanan, J Obstet Gynecol. New york
Penyakit Kandungan dan
Kebidanan untuk Pendidikan Bidan. Sugiyono, 2007, Metode Penelitian Bisnis,
EGC; Jakarta. AlfaBeta, Bandung.
Michael., (2005). Bab 11. Sistem Sumampow , 2005. Chapter 15.
Kardiovaskular. Buku Kedokteran Hypertensive Disorders of
EGC, Jakarta. Pregnancy. In : Essential of Obstetri
and Gynecology. 4th Ed.
Nurfianto, Sigit., 2004, Luaran Neonatal Philadelphia : Elsivlersaunders.
Preterm Pada Kasus Preeklamsia,
Fakultas Kedokteran UGM, Taufiqurrachman, Irwan., 2004,
Jogjakarta. Perbandingan Pemberian Sulfas
Magnesium intra muskuler dan intra
Rochjati (2003). Kematian Perinatal dan vena pada preeklamsia berat
Kematian Maternal pada terhadap luaran neonatal dan
Preeklampsia Analisis Faktor perinatal, Fakultas Kedokteran
Prognosis (Tesis) Bagian Obstetri UGM, Jogjakarta.
Ginokologi Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada. Tinker Koblinsky. (2000). Prevention of
Yogyakarta. Preeclampsia: A Big
Disappointment. Am J Obstet
Rustam , (2000). Upaya Menurunkan Angka Gynecol.
Kesakitan dan Angka KematianIbu
pada Penderita Preeklampsia dan Trijatmo (2005). Patofisiologi
Eklampsia disampaikan Preeklampsia. Seminar
padapengukuhan Jabatan Guru Penanganan Preeklampsia dan
Besar tetap dalam Bidang ilmu Eklampsia di. Jakarta.
Kebidanan dan Penyakit
Kandungan. Medan. Tyloro ,. 2004. Pengantar Metode
Penelitian untuk Ilmu Kesehatan.
Sastroasmoro dan Ismael S. (2006), Dasar- Klaten : CSGF (The Community of
Dasar Metodologi Penelitian Self Help Goup Forum).
Klinis,Jakarta: Sagung Seto.
William. (2005) Risk Factors for
Preeclampsia at Antenatal Booking: Yundini (2006). Kematian Perinatal pada
Systematic Review of Controlled Preeklampsia dan Eklampsia. Tesis
Studies. Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro. Semarang.
Wiknjosastro, H (2002). Preeklampsia dan
Eklampsia bila saatnya melahirkan
bayi. MOGI.