Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH SHARING JURNAL

“THE EFFECT OF REGULAR PHYSICAL ACTIVITY ON BONE MINERAL DENSITY IN


POST-MENOPAUSAL WOMEN AGED 75 AND OVER: A RETROSPECTIVE ANALYSIS
FROM THE CANADIAN MULTICENTER OSTEOPOROSIS STUDY”
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah 3
Dosen Pengampu : Ns. Mifetika Lukitasari, M.Sc

Disusun Oleh Kelompok I :


1. Carlos Ratu Pe (195070209111001)
2. Eti Purnawansari (195070209111002)
3. Aulia Putri Atisya (195070209111020)
4. Wardatul Ummah (195070209111021)
5. Ahmad Umar Mukhtar (195070209111017)
6. Muda Wamah (195070209111018)
7. Zuhliqatin Nauratus Z (195070209111039)
8. Pesta Marni Br Silaban (195070209111040)
9. Wardah Agustin Iriani (195070209111013)
10. Bella Gibrelda Pratitis (195070209111014)
11. Farizka Ari Aisyah (195070209111005)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat,
perlindungan, dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah sharing jurnal
tentang “The Effect of regular physical activity on bone mineral density in post-
menopausal women aged 75 and over: a retrospective analysis from the Canadian
multicenter osteoporosis study” guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan
Medikal Bedah 3 / Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Penulisan makalah
sharing jurnal ini tidak lepas dari bantuan, dukungan, dan bimbingan dari berbagai
pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan terimakasih kepada :

1. Ns. Mifetika Lukitasari, M.Sc. selaku dosen pengampu Keperawatan


Medikal Bedah 3 dan pembimbing dalam penulisan laporan kasus ini.
2. Ns. Tony Suharsono, S.Kep., M.Kep. selaku ketua program studi ilmu
keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
3. Seluruh staf program studi ilmu keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya
4. Teman – teman SAP ilmu keperawatan periode 2019, serta seluruh pihak
yang telah mendukung penyelesaian laporan kasus ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan laporan kasus ini jauh dari sempurna maka
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga laporan kasus ini
memberi manfaat bagi banyak orang.

Malang, 25 November 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................................iii
BAB I. PENDAHULUAN........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................................1
1.2 Tujuan......................................................................................................................2
1.3 Manfaat....................................................................................................................2
BAB II. PENJELASAN JURNAL..............................................................................................3
2.1 Identifikasi Jurnal.....................................................................................................3
2.2 Topik.........................................................................................................................3
2.3 Latar Belakang Jurnal...............................................................................................3
2.4 Metode Penelitian....................................................................................................4
2.5 Hasil Penelitian.........................................................................................................4
2.6 Pembahasan.............................................................................................................5
BAB III. APLIKASI DI INDONESIA.........................................................................................9
3.1 Pengaplikasian di Indonesia.....................................................................................9
BAB IV. PENUTUP.............................................................................................................10
4.1 Kesimpulan.............................................................................................................10
4.2 Saran......................................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................11

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Osteoporosis, tulang rapuh, adalah penyakit yang memiliki ciri massa tulang
rendah dan kemunduran struktur jaringan tulang, menyebabkan kerentanan tulang dan
peningkatan risiko fraktur pada pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan. Pria
maupun wanita dapat terpengaruh oleh osteoporosis, penyakit ini dapat dicegah dan
diobati. Tahun 2012 sekitar 60% risiko osteoporosis ditentukan oleh kepadatan tulang
yang dicapai pada usia dewasa muda (Hermastuti, 2012)

Pada osteoporosis terjadi gangguan pada osteoklas, sehingga timbul


ketidakseimbangan antara kerja osteoklas dengan osteoblas.Aktifitas sel osteoklas lebih
besar daripada osteoblas. Secara menyeluruh massa tulang pun akan menurun, yang
akhirnya terjadilah pengeroposan tulang pada penderita osteoporosis.

Wanita menopause banyak mengalami penurunan produksi hormon estrogen,


hormon progesteron dan hormon seks lainnya (Liewellyn & Jones, 2005). Pengeroposan
tulang dalam jangka pendek dimanifestasikan dalam bentuk nyeri pada tulang sendi.
Pengeroposan yang terjadi dalam jangka panjang akan menyebabkan timbulnya
Osteoporosis pada wanita menopause. Salah satu aspek dalam menjaga kepadatan
tulang adalah dengan melakukan aktifitas yang teratur. Aktifitas yang dilakukan salah
satunya dengan melaksanakan olahraga minimal 1 minggu 2 kali.

Insidensi osteoporosis pada wanita pascamenopause terus meningkat seiring


dengan tingginya populasi lansia. Osteoporosis adalah ancaman kesehatan yang
mempengaruhi lebih dari setengah penduduk berusia diatas 50 tahun. Dari laporan
Perhimpunan Osteoporosis Indonesia, sebanyak 41,8 persen laki-laki dan 90 persen
perempuan sudah memiliki gejala osteoporosis, sedangkan 28,8 persen laki-laki dan 32,3
persen perempuan sudah menderita osteoporosis (Hans, 2009)

Aktivitas fisik sangat mempengaruhi pembentukan masa tulang. Beberapa hasil


penelitian menunjukkan aktivitas fisik seperti berjalan kaki, berenang, dan naik sepeda
pada dasarnya memberikan pengaruh melindungi tulang dan menurunkan
demineralisasi tulang karena pertambahan umur. Berdasarkan penelitian kasus kontrol
diketahui bahwa subjek dengan aktivitas fisik yang tidak tinggi (rendah atau cukup)

iv
memiliki risiko 4,58 kali untuk mengalami osteoporosis dibandingkan subjek yang
memiliki aktivitas fisik tinggi.

1.2 Tujuan

a. Tujuan Umum

Melakukan telaah pada jurnal “The Effect of regular physical activity on bone mineral
density in post-menopausal women aged 75 and over: a retrospective analysis from the
Canadian multicenter osteoporosis study”

b. Tujuan Khusus

1. Melakukan identifikasi jurnal yang dipilih


2. Menganalisis topik/masalah yang dipilih
3. Menganalisis metode yang digunakan dalam jurnal
4. Menganalisis hasil penelitian dalam jurnal yang dipilih
5. Memberikan pembahasan terhadap hasil dari penelitian
6. Memberikan pendapat tentang aplikasi hasil penelitian jurnal pada setting
pelayanan di Indonesia

1.3 Manfaat

1. Manfaat teoritik
Hasil analisis jurnal dapat memberikan informasi mengenai peningkatan
aktivitas fisik sehari-hari dapat mempengaruhi kepadatan tulang.

2. Manfaat aplikasi
Dapat digunakan acuan untuk pengembangan penelitian selanjutnya

v
BAB II
PENJELASAN JURNAL

2.1 Identifikasi Jurnal

1. Judul
“The Effect of regular physical activity on bone mineral density in post-
menopausal women aged 75 and over: a retrospective analysis from the
Canadian multicenter osteoporosis study”
Pengaruh aktivitas fisik secara teratur pada kepadatan mineral tulang pada
wanita pasca-menopause berusia 75 dan lebih: analisis retrospektif dari studi
osteoporosis multisenter Kanada

2. Penulis Jurnal
Jeffrey M Muir, Chenglin Ye, Mohit Bhandari, Jonathan D Adachi, dan Lehana
Thabane

3. Nama Jurnal, Penerbit, Tahun


BMC Musculoskeletal Disorder, 2013

4. Tempat Penelitian
Kanada

2.2 Topik

Hubungan aktivitas fisik dengan kepadatan tulang pada osteoporosis

2.3 Latar Belakang Jurnal

Osteoporosis merupakan progresif, penyakit multifactorial kronis dan penyakit


tulang yang paling umum di Amerika Serikat. Mempengaruhi baik laki-laki maupun
perempuan, namun lebih sering terjadi pada perempuan. Osteoporosis mempengaruhi

vi
sekitar 10juta pasien di Amerika Serikat dan diperkirakan bertanggung jawab untuk 1,5-
2 juta patah tulang setiap tahun.

Metode yang paling sederhana yaitu bagaimana pencegahan penyakit. Seperti


kondisi dan aktivitas fisik. Namun masalah saat ini adalah tidak ada pedoman yang
tersedia mengenai aktivitas fisik yang tepat intensitas dan durasi aktivitas fisik untuk
memberikan perlindungan terhadap kehilangan kepadatan tulang atau fraktur.

Tingkat kepatuhan pasien terhadap rekomendasi dokter sangat rendah. Untuk


memerangi hal tersebut adalah tidak perlu meresepkan baru, memberikan latihan baru
atau asing bagi pasien melainkan untuk meningkatkan aktivitas normal mareka sehari-
hari.

2.4 Metode Penelitian

Metode penelitian : ini menggunakan studi kohort prospektif menyelidiki


insiden dan prevalensi osteoporosis di Kanada.

Metodologi penelitian : kuisioner dan validasi

Populasi : kelompok Canadian Multicentre Osteoporosis Study


(Camos) 9.423 peserta

Sampel : 1.169 peserta

Data yang dikumpulkan terdiri informasi yang diperoleh dari kuisioner dan
pemeriksaan fisik. Aktivitas fisik diukur berdasarkan tingkat aktivitas, frekuensi, dan
durasi aktivitas selama 12 bulan sebelumnya.

2.5 Hasil Penelitian

Hasil dari penelitian ini adalah:

1. Median Body Mass Index (BMI) dari peserta 26. Menunjukkan bahwa peserta
pada klasifikasi “kegemukan”.
2. 47,6% (557/1169) peserta menunjukkan bahwa mereka berpartisipasi dalam
progam kegiatan rutin.

vii
3. 93,5% dari peserta menunjuukan bahwa mereka melakukan aktivitas fisik pada
tingkat moderat (pekerjaan rumah tangga, jalan cepat, golf, bowling ,
bersepeda).
4. 55,3% peserta aktif selama minimal satu jam perhari, 14,5% kurang dari rata-
rata 15-20 menit setiap hari.
5. 3,2% atau 36 peserta melakukan aktivitas berat
6. 3,6% atau 41 peserta mereka secara teratur terlibat dalam kegiatan aktif.
7. 71,7% peserta cukup aktif selama minimal 4 jam per minggu.
8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan langkah dalam aktivitas fisik
moderat menghasilkan peningkatan signifikan pada hasil ukur Bone Mineral
Density (BMD)/ kepadatan tulang.
9. Pada pengukuran BMD terdapat korelasi positif aktivitas fisik pada tulang
pinggul, namun negative pada tulang lumbal.
10. Terdapat hubungan signifikan antara BMD dengan BMI

2.6 Pembahasan

Aktivitas fisik yang teratur secara rutin direkomendasikan oleh dokter untuk
pasien berisiko osteoporosis. Namun, tidak ada pedoman khusus untuk dokter mengenai
jenis, durasi atau intensitas aktivitas fisik yang paling tepat untuk pasien ini. Selanjutnya,
kepatuhan pasien mengenai program latihan umumnya rendah di sebagian besar
pengaturan klinis. Dengan demikian, aktivitas fisik dalam bentuk apapun menjadi
penting dalam pencegahan keropos tulang. Studi saat ini berusaha untuk menentukan
apakah ada hubungan antara jumlah aktivitas fisik secara teratur dilakukan pada
mingguan dasar dan mineral tulang kepadatan pada wanita Kanada berusia 75 dan lebih.

Sebagian besar peserta melaporkan keterlibatan dalam aktivitas fisik moderat.


Dimana moderat merupakan aktivitas umum kehidupan sehari-hari. Klasifikasi aktivitas
fisik yaitu:

- Moderat : pekerjaan rumah tangga, jalan cepat, golf, bowling, bersepeda


- Berat : jogging, bersepeda ke bukit, tenis, badminton, berenang
- Kuat : memindah alat berat, angkat berat

viii
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik secara teratur pada
tingkat moderat dapat membantu untuk meningkatkan kepadatan tulang pada wanita
pasca-menopause. Bolton et al. memperlihatkan dalam uji cobanya yang terkontrol
secara acak baru-baru ini terhadap wanita pasca-menopause bahwa peningkatan
aktivitas fisik secara teratur dapat memiliki dampak positif pada kepadatan tulang.
Dalam studi mereka, selama satu tahun, peserta mengambil bagian dalam program
latihan umum yang mencakup pelatihan latihan 60 menit tiga kali setiap minggu, di
mana peserta kontrol melanjutkan rutinitas harian mereka yang normal. Kelompok
latihan olahraga melakukan tugas-tugas termasuk pelatihan beban dan pelatihan yang
cukup intens.

Aktivitas fisik adalah setiap gerakan yang membutuhkan energi untuk


mengerjakannya, seperti berjalan, menari, mengasuh cucu dan lain sebagainya. Aktifitas
fisik yang terencana dan terstuktur, yang melibatkan gerakan tubuh berulang-ulang
serta ditujukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani disebut olah raga. Aktifitas fisik
yang bermanfaat untuk lansia sebaiknya memenuhi kriteria FITT (frequency, intensity,
time, type). Frekuensi adalah seberapa sering aktifitas dilakukan, berapa hari dalam satu
minggu. Intensitas adalah seberapa keras suatu aktifitas dilakukan, biasanya
diklasifikasikan menjadi intensitas rendah , sedang dan tinggi. Waktu mengacu pada
durasi, seberapa lama suatu aktifitas dilakukan dalam satu pertemuan (Januwati dkk,
2019)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam
penelitian ini memiliki aktifitas fisik yang sangat ringan dan sebagian besar beresiko
tinggi mengalami osteoporosis. Hal ini sesuai dengan beberapa teori dan hasil penelitian

ix
sebelumnya yang mengatakan bahwa aktifitas fisik merupakan salah satu faktor resiko
yang dapat menyebabkan kejadian osteoprosis.Osteoporosis adalah kondisi terjadinya
penurunan densitas matriks atau masa tulang, peningkatan porositas tulang dan
penurunan proses mineralisasi disertai kerusakan arsitektur mikro jaringan tulang yang
mengakibatkan penurunan kekokohan tulang (Muttaqin 2008).

Pada penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa latihan olahraga tertentu
tidak hanya dapat membantu kita melindungi diri terhadap berkurangnya kepadatatan
tulang karena bertambahnya usia, tetapi juga dapat meningkatkan kepadatan masa
tulang pada daerah–daerah tertentu (Mulyani, 2008).

Dari hasil penelitian menunjukkan efek positif pada tulang pinggul dan negative
pada tulang lumbal. Sendi panggul akan menyerap sebagian besar pasukan energy yang
di akibatkan dari latihan fisik, sedangkan pada tulang lumbal akan menyerap kekuatan
fisik yang sangat sedikit. Dengan demikian latihan fisik yang digunakan hanya mengatasi
pada bagian pinggul.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan secara


statistic pada kepadatan tulang dikaitkan dengan adanya peningkatan langkah dan
jumlah aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur. Peningkatan aktivitas fisik moderat
setiap hari mungkin cukup untuk mengimbangi kehilangan tulang yang terjadi setelah
menopause. Maka dari itu pentingnya mendorong lansia untuk tetap melakukan
aktivitas setiap hari.

Seseorang yang jarang melakukan aktifitas fisik akan mengakibatkan turunnya


massa tulang dan dengan bertambahnya usia terutama pada usia lanjut, otot pun akan
menjadi lemah, sehingga akan berpeluang untuk timbulnya patah tulang. Hal tersebut
juga telah dibuktikan bahwa peluang terjadinya patah tulang 2 kali lebih besar pada
wanita usia lanjut yang jarang melakukan aktifitas fisik (berdiri <5jam) daripada yang
sering melakukan aktivitas fisik (Lane, 2001).

Tulang memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap beban, semakin besar


impak yang diciptakan oleh latihan maka semakin kuat pula massa tulang. Massa tulang
juga diketahui berkurangpada kondisi tanpa beban atau saat berada di lingkungan yang
rendah. Seseorang yang jarang melakukan aktifitas fisik akan mengakibatkan turunnya

x
massa tulang dan dengan bertambahnya usia terutama pada usia lanjut, otot pun akan
menjadi lemah, sehingga akan berpeluang untuk timbulnya patah tulang.

Wanita dapat kehilangan 35% tulang kortikal dan 50% tulang trabekular dalam
30 sampai 40 tahun setelah menopause. Hal lain yang mempengaruhinya adalah
kepadatan tulang saat puncak massa tulang yang dimiliki. Semakin tinggi kepadatan
tulang saat puncak massa tulang, maka semakin kecil kemungkinan untuk mengalami
osteoporosis di kemudian hari dibandingkan dengan wanita yang memiliki kepadatan
tulang rendah saat puncak massa tulang. Jika seseorang memiliki kepadatan tulang yang
rendah sejak awal dan akan kehilangan massa tulangnya dalam masa menopause, maka
orang tersebut akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami osteoporosis
pascamenopause. (Setiyohadi, 2009).

xi
BAB III
APLIKASI DI INDONESIA

3.1 Pengaplikasian di Indonesia

Di Indonesia satu dari empat perempuan Indonesia usia 50-80 berisiko terkena
osteoporosis. Risiko pada perempuan empat kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Temuan lainnya, selama 30 tahun terakhir, insiden patah tulang pinggul meningkat dua
hingga tiga kali lipat di sebagian besar negara-negara Asia. Hal tersebut terjadi karena
beberapa faktor yang timbul salah satunya ialah kurangnya aktivitas fisik pada usia lanjut
dan beberapa presepsi yang salah tentang aktivitas fisik di Indonesia.Aktivitas fisik harus
mempunyai unsur pembebanan pada tubuh atau anggota gerak dan penekanan pada
aksis tulang, seperti jalan kaki, jogging, aerobik (termasuk dansa) atau jalan naik turun
bukit (Nuhonni, 2000).

Penerapan aktivitas fisik di Indonesia masih dirasa kurang memenuhi standar


dalam beraktivitas fisik. Aktivitas yang dimaksud di jurnal ini ialah berdasarkan aktifitas
fisik yang bermanfaat untuk lansia sebaiknya memenuhi kriteria FITT (frequency,
intensity, time, type). Frekuensi adalah seberapa sering aktifitas dilakukan, berapa hari
dalam satu minggu. Intensitas adalah seberapa keras suatu aktifitas dilakukan, biasanya
diklasifikasikan menjadi intensitas rendah , sedang dan tinggi. Waktu mengacu pada
durasi, seberapa lama suatu aktifitas dilakukan dalam satu pertemuan (Januwati dkk,
2019). Oleh karena itu jurnal ini dapat diterapkan di Indonesia untuk menerapkannya
perlu dilakukan sosialisasi pada masyarakat lanjut usia untuk meningkatkan aktivitas fisik
yang akan berdampak pada penurunan tingkat osteoporosis pada wanita pascaa
menopause di Indonesia degan standart FITT tersebut. Penekanan pada masyrakat
dalam melakukan aktivitas fisik dengan meningkatkan intensitas aktivitas yang dilakukan
dan seberapa rutin aktivitas tersebut dilakukan, dan aktivitas apa yang dilakukan.

xii
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Osteoporosis merupakan progresif, penyakit multifactorial kronis dan penyakit


tulang yang paling umum di Amerika Serikat. Osteoporosis mempengaruhi sekitar 10juta
pasien di Amerika Serikat dan diperkirakan bertanggung jawab untuk1,5-2 juta patah
tulang setiap tahun. Metode yang paling sederhana yaitu bagaimana pencegahan
penyakit. Seperti kondisi dan aktivitas fisik. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa
aktivitas fisik secara teratur pada tingkat moderat dapat membantu untuk meningkatkan
kepadatan tulang pada wanita pasca-menopause. Temuan penelitian ini menunjukkan
bahwa aktivitas fisik secara teratur pada tingkat moderat dapat membantu untuk
meningkatkan kepadatan tulang pada wanita pasca-menopause.

Penerapan aktivitas fisik di Indonesia masih dirasa kurang memenuhi standar


dalam beraktivitas fisik. Aktivitas yang dimaksud di jurnal ini ialah berdasarkan aktifitas
fisik yang bermanfaat untuk lansia sebaiknya memenuhi kriteria FITT (frequency,
intensity, time, type).

4.2 Saran

1) sebagai keluarga yang baik haruslah memberi perhatian yang lebih terhadap
lansia dengan menderita osteoporosis
2) sebagai perawat profesional harus memberikan intervensi yang terbaik pada
lansia dengan penyakit osteoporosis untuk meningkatkan kualitas hidupnya agar
manjadi jauh lebih baik.

xiii
DAFTAR PUSTAKA
Permatasari D, Oktavianus, Wicaksono A. Hubungan Aktivitas Fisik Dan Terjadinya
Osteoporosis Pada Wanita Pascamenopause Di Poliklinik Bedah Tulang Rsud
Dokter Soedarso Pontianakp. 2013; Available from:
https://media.neliti.com/media/publications/194545-ID-hubungan-aktivitas-
fisik-dan-terjadinya.pdf
Januwati T, Yunitasari E, Nastiti A. Hubungan Antara Aktifitas Fisik Dengan Resiko
Osteoporosis Wanita Menopause Pada Ibu Pkk Rt 02 Rw 01 Di Kelurahan
Komplek Kenjeran Surabaya. 2019;67–72.
Ramania NS, Pramana Y, Apriantono T, Karim DA. Intensitas Aktifitas Fisik Terhadap
Resiko Kejadian Osteoporosis Pada Kelompok Usia 40- 70 Tahun. J Sains
Keolahragaan dan Kesehat. 2016;1(1):29.
Muir JM, Ye C, Bhandari M, Adachi JD, Thabane L. The effect of regular physical activity
on bone mineral density in post-menopausal women aged 75 and over: A
retrospective analysis from the Canadian multicentre osteoporosis study. BMC
Musculoskelet Disord. 2013;14.

xiv
xv
xvi