Anda di halaman 1dari 17

Makalah

AKUNTANSI MANAJEMAN
“Manajemen Persediaan”

Oleh :
Kelompok 5 :
Nilam Nurrahmi Kelilauw B1C1 17 187
Wa Ode Rima Melati Sukma B1C1 18 167
Nur Islamiyah Syam B1C1 18 186
Melani Permata Kasih B1C1 18 196

KELAS D

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2020

MANAJEMEN PERSEDIAAN

Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Akuntansi Manajemen 2
Dosen Pengampu : Siti Alliyah, SE, Msi
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Puji Syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa
memberikan rahmat serta karunian-Nya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini.

Makalah yang berjudul “Manajemen Persediaan” ini disusun untuk memenuhi


tugas mata kuliah Akuntansi Manajemen.

Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya. Penulis juga
menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah
kesempurnaan.

Akhir kata, penulis mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semua pihak

yang turut membantu dan menyelesaikan makalah ini.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Kendari, 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ……………………………………………………………. i

Kata Pengantar ……………………………………………………………. ii

Daftar Isi …………………………………………………………………. iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ……………………………………………….. 1

1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………. 1

1.3 Tujuan …………………………………………………………. 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Persediaan ………………………………………… 2

2.2 Manfaat Investasi pada Persediaan ………………………….. 2

2.3 Arti Penting Persediaan bagi Perusahaan …………………….. 3

2.4 Biaya-Biaya dalam Persediaan ………………………………… 4

2.5 Economic Order Quantity (EOQ) ……………………………… 5

2.6 Manajemen Persediaan JIT …………………………………….. 6

2.7 Contoh Kasus............................................................................. 10

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ……………………………………………………. 12

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….. 13


iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan perusahaan yang meningkat dalam rangka meraih pangsa pasar yang
lebih besar dibutuhkan persediaan yang sangat besar dalam menunjang pertumbuhan
penjualan perusahaan. Pengelolaan persediaan yang baik di perusahaan sangat menentukan
keberhasilan pertumbuhan penjualan. Kekurangan persediaan sangat menggagu jalannya
operasional perusahaan yang selanjutnya akan menggangu strategi pemasaran perusahaan.
Persediaan yang terlalu banyak diperusahaan juga akan mengakibatkan adanya kerusakan
bahan baku yang menumpuk digudang dan kemungkinan menimbulkan biaya
penyimpanan yang cukup besar.
Untuk itu dibutuhkan manajemen persediaan yang efektif agar perusahaan dapat
menjalankan usahanya dengan lancar. Ada dua jenis manajemen persediaan yaitu
manajemen persediaan tradisional dan manajemen persediaan just in time. Pada makalah
ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai kedua manajemen persediaan tersebut.
.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan persediaan?
2. Apa arti penting persediaan bagi perusahaan?
3. Apa saja biaya-biaya yang timbul akibat adanya persediaan?
4. Bagaimana manajemen persediaan tradisional?
5. Bagaimana manajemen persediaan just in time?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui tentang pengertian persediaan.
2. Mengetahui tentang arti penting persediaan bagi perusahaan.
3. Mengetahui tentang biaya-biaya yang timbul akibat persediaan.
4. Mengetahui tentang manajemen persediaan tradisional.
5. Mengetahui tentang manajemen persediaan just in time.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Persediaan

Persediaan (Inventory) adalah sejumlah barang atau bahan yang dimiliki oleh
perusahaan yang tujuannya untuk dijual atau diolah kembali.

Penyebab Timbulnya Persediaan


Persediaan merupakan suatu hal yang tak terhindarkan. Penyebab timbulnya persediaan
adalah sebagai berikut:
1. Mekanisme pemenuhan atas permintaan
Permintaan terhadap suatu barang tidak dapat dipenuhi seketika bila barang tersebut tidak
tersedia sebelummya. Untuk menyiapkan barang ini diperlukan waktu untuk pembuatan
dan pengiriman, maka adanya persediaan merupakan hal yang sulit dihindarkan.
2. Keinginan untuk meredam ketidakpastian
Ketidakpastian terjadi akibat: permintaan yang bervariasi dan tidak pasti dalam jumlah
maupun waktu kedatangan, waktu pembuatan yang cenderung tidak konstan antara satu
produk dengan produk berikutnya, waktu tenggang (lead time) yang cenderung tidak pasti
karena banyak faktor yang tidak dapat dikendalikan. Ketidakpastian ini dapat diredam
dengan mengadakan persediaan.
3. Keinginan melakukan spekulasi yang bertujuan mendapatkan keuntungan besar
dari kenaikan harga di masa mendatang.

2.2 Manfaat Investasi pada Persediaan


1. Memanfaatkan Diskon Kuantitas.
Diskon kuantitas diperoleh jika perusahaan membeli dalam kuantitas yang besar.
Perusahaan membeli melebihi kebutuhan sehingga ada yang dismpan sebagai persediaan.
2. Menghindari kekurangan bahan (out of stock).
Jika pelanggan datang untuk membeli barang dagangan, kemudian perusahaan tidak

mempunyai barang tsb, maka perusahaan kehilangan kesempatan untuk memperoleh

keuntungan. Untuk menghindari situasi tsb, perusahaan harus mempunyai persediaan

barang jadi.

3. Manfaat pemasaran.
Jika perusahaan mempunyai persediaan barang dagangan yang lengkap, maka
pelanggan/calon pelanggan akan terkesan dengan kelengkapan barang dagangan yang kita
tawarkan. Reputasi perusahaan bisa meningkat. Di sampng itu jika perusahaan selalu
2
mampu memenuhi keinginan pelanggan pada saat dibutuhkan maka kepuasan pelanggan
semakin baik, dan perusahaan semakin untung.
4. Spekulasi.
Kadang-kadang persediaan digunakan untuk berspekulasi. Jika perusahaanan
mengantisipasi kenaikan harga (misal inflasi meningkat), nilai persediaan akan meningkat
dalam situasi inflasi, maka akan meningkatkan profitabilitas perusahaan.

2.3 Arti Penting Persediaan bagi Perusahaaan

Pada dasarnya persediaan mempermudah atau memperlancar jalannya operasi


perusahaan yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk memproduksi barang-barang
serta menyampaikan kepada pelanggan. Persediaan bagi perusahaan, antara lain berguna
untuk :
1. Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang
dibutuhkan perusahaan.
Dengan adanya persediaan yang mencukupi, apabila ada permintaan yang
berfluaktuasi dari para konsumen, perusahaan masih tetap dapat melakukan operasi
sebagaimana biasanya, karena persediaanya yang ada digudang masih bisa digunakan
walau barang-barang yang untuk melakukan operasi mengalami keterlambatan, sehingga
dengan adanya persediaan tidak akan menganggu jalnnya operasi perusahaan.

2. Menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat


digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran.
Peranan yang ini merupakan peranan yang bermanfaat bagi perusahaan, karena apabila
produk yang dihasilkan perusahaan tersebut adalah produk musiman, tentu permintaannya
terjadi sesuai dengan musimnya, sehingga jika musimnya tiba, dan para pesaing kita dan kita
tidak dapat memenuhi pasar, maka kita dapat menutupi permintaan pasar dengan persediaan
yang ada didalam perusahaan kita, sehingga kita dapat memenuhi permintaan pasar.

3. Mempertahankan stabilitas atau kelancaran operasi perusahaan.


Dengan adanya persediaan yang mencukupi, maka apabila ada masalah dengan proses
pengiriman bahan dari penyuolai dengan perusahaan, maka dengan adanya persediaan ini
dapat mempertahankan stabilitas dan kelancaran proses operasi perusahaan, sehingga
perusahaan masih dapat memenuhi permintaan pasar.

3
4. Mencapai penggunaan mesin yang optimal.

Dengan adanya persediaan, maka proses-proses produksi yang menggunakan mesin,


dapat dijalankan secara optimal, karena dengan adanya persediaan, maka proses mesin-
mesin dapat diogunakan secara terus –menerus dan bergantian, sehingga biaya untuk
pemliharaan mesin dapat ditekan, dan mesin dapat digunkan secara optimal untuk
menghasilkan produk.

5. Memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya.


Dengan adanya persediaan, maka jika terjadi permintaan yang berlebih dari para
pelanggan, maka perusahaan kita dapat menutupi permintaan tersebut dengan persediaan
yang tersedia digudang, sehingga para pelanggan akan merasa dihargai karena kita selalu
memenuhi permintaan yang mereka butuhkan, sehingga kita dapat membuat mereka loyal
pada perusahaan kita.

2.4 Biaya-Biaya dalam Persediaan

Dalam pengelolaan persediaan bahan baku ada dua jenis biaya untuk menentukan
jumlah persediaan optimal yaitu :

1. Biaya Pemesanan (Ordering Cost)


Biaya yang dikeluarkan dalam rangka pemesanan bahan baku sejak persiapan pemesanan
sampai pesanan masuk gudang. Bersifat biaya variable berdasarkan frekuensi pesananan.
Contoh :
- Biaya pemrosesan pesanan
- Biaya asuransi untuk pengiriman
- Biaya pembongkaran
2. Biaya Penyimpanan (Carrying Cost)
Biaya yang dikeluarkan untuk menyimpan persediaan selama periode tertentu agar
bahan yang disimpan kualitasnya seduai dengan yang diinginkan. Bersifat biaya variabel
berdasarkan jumlah barang yang disimpan.
Contoh :
- Biaya asuransi,
- Pajak persediaan,
- Biaya ruang penyimpanan.

4
2.5 Economic Order Quantity

Economic Order Quantity (EOQ) adalah Jumlah kuantitas barang yang dapat
diperoleh dengan biaya yang minimal atau sering disebut jumlah pembelian yang optimal.
Dapat kita bayangkan bahwa jika jumlah pemesanan unit produk melebihi jumlah
pemesanan yang ekonomis, hal ini akan membuat biaya penyimpanan menjadi lebih tinggi
dibandingkan dengan biaya persediaan dari jumlah pemesanan yang ekonomis.
Selain itu, bila jumlah pemesanan unit produk kurang dari jumlah pemesanan yang

ekonomis, maka biaya pemesanan akan lebih besar dibandingkan dengan biaya

penyimpanan dari jumlah pemesanan yang ekonomis. Hal ini disebabkan karena

perusahaan harus memesan produk berkali-kali dengan biaya pemesanan yang dilipat

gandakan.

Rumus EOQ :

EOQ

Keterangan :

R = Kebutuhan barang dalam suatu periode tertentu missal setahun


O = Biaya pemesanan setiap kali pesan
C = Biaya penyimpanan tiap unit barang

Reorder Point (ROP)

Waktu dimana perusahaan harus memesan kembali agar kedatangan bahan baku

tepat pada saat persediaan diatas safety stock sama dengan nol.

Safety stock = persediaan pengaman

Hanya digunakan dalam keadaan terpaksa

Agar kedatangan bahan tidak sampai melanggar batas sfety stock, beberapa hal

yang harus diperhatikan dalam menentukan reorder point adalah :

5
1. Kebutuhan bahan baku selama tenggang waktu menunggu atau masa lead time
2. Besarnya safety stock

Lead time adalah waktu antara barang dipesan dampai barang datang.

Besarnya reorder point dipengaruhi :

1. Safety Stock xxx


2. Kebutuhan selama lead time xxx +
ROP xxx

2.6 Manajemen persediaan Just In Time (JIT)

Pengertian Just In Time (JIT)

Just In Time adalah sistem manajemen persediaan dimana bahan baku dibeli dan
diproduksi sebanyak yang dibutuhkan serta digunakan pada saat yang tepat dalam setiap
proses produksi.
Konsep dasar sistem JIT yaitu menghasilkan produk hanya jika ada pesanan dan
jumlah yang diproduksi sesuai dengan jumlah yang dipesan. Jadi proses produksi
dilakukan dalam rangka untuk memenuhi permintaan konsumen/pasar.

Tujuan Just In Time

Menurut Hansen & Mowen (2005:478), Just In Time (JIT) memiliki dua tujuan
strategis, yaitu untuk meningkatkan laba dan untuk memperbaiki posisi bersaing
perusahaan. Kedua tujuan ini dapat dicapai dengan mengendalikan biaya (yang
memungkinkan persaingan harga yang lebih baik dan peningkatan laba), memperbaiki
kinerja pengiriman dan meningkatkan kualitas.
Menurut Gaspersz (2001:23; dalam Kuszatmono, 2008) tujuan Just In Time (JIT)

adalah “... untuk menghasilkan produk pada tingkat kualitas dan kuantitas yang prima,

melalui cara yang paling efisien dan ekonomis, serta tepat waktu yaitu pada saat produk

tersebut dibutuhkan oleh konsumen”.

Aspek Pokok JIT


JIT mempunyai empat aspek pokok sebagai berikut:
1. Semua aktivitas yang tidak bernilai tambah terhadap produk atau jasa harus di
eliminasi.Aktivitas yang tidak bernilai tambah meningkatkan biaya yang tidak
perlu,misalnya persediaan sedapat mungkin nol.
6
2. Adanya komitmen untuk selalu meningkatkan mutu yang lebih tinggi. Sehingga
produk rusak dan cacat sedapat mungkin nol,tidak memerlukan waktu dan biaya untuk
pengerjaan kembali produk cacat, dan kepuasan pembeli dapat meningkat.
3. Selalu diupayakan penyempurnaan yang berkesinambungan (Continuous

Improvement)dalam meningkatkan efisiensi kegiatan.

4. Menekankan pada penyederhanaan aktivitas dan meningkatkan pemahaman terhadap

aktivitas yang bernilai tambah.

Perbedaan Sistem Tradisional dan JIT

Krismiaji (2011:125) menyatakan perbedaan pokok antara sistem JIT dan sistem
tradisional dapat diringkas sebagai berikut :

Faktor Pembeda Tradisional Just In Time

Karakteristik Push-through system Pull-through system

Kuantitas Persediaan Banyak Sedikit

Tata Letak Pabrik Struktur departemen Sel manufaktur

Kualifikasi Tenaga Kerja Spesialis Multidisiplin

Toleransi produk
Kebijakan Kualitas Pengendalian mutu
cacat

Karakteristik

Sistem tradisional melakukan aktivitas produksi berdasarkan ramalan penjualan


( sales forecasting) yang diperkirakan akan terjadi pada periode mendatang. Dengan dasar
ini, maka bagian produksi akan memiliki jadwal produksi yang sudah pasti. Jika barang
yang diproduksi belum dapat didistribusikan, maka barang tersebut akan disimpan di
gudang. Dalam hal ini bagian pemasaran bertanggungjawab untuk segera memasarkan
produk yang menumpuk digudang. Dengan demikian, sistem tradisional ini mendorong
(Push) aktivitas penjualan dan pemasaran.

Sedangkan sistem JIT memiliki karakteristik berkebalikan, perusahaan baru akan


melakukan aktivitas produksi hanya jika ada permintaan dari pelanggan yang sudah pasti.
Jadi aktivitas produksi dalam sistem ini ditarik (pull) oleh permintaan pasar.

7
Kuantitas persediaan

Tujuan sistem JIT yaitu mengurangi kuantitas persediaan secara signifikan. Dalam
konsep JIT mengehendaki kuantitas persediaan sama dengan nol. Namun pada praktiknya
tidak dapat diterapkan. Walaupun jumlahnya sangat sedikit, persediaan tetap harus dimiliki
oleh perusahaan.

Sedangkan dalam sistem tradisional, perusahaan melakukan produksi tanpa meperhatikan


kondisi permintaan pada saat itu, oleh karena itu, sistem ini akan menghasilkan produk
dalam jumlah yang lebih besar, sehingga menciptakan persediaan dalam jumlah yang
banyak pula.
Tata Letak Pabrik

Dalam sistem tradisional, produk dipindahkan dari satu kelompok mesin yang sama
ke kelompok mesin yang lain. Mesin dengan fungsi yang sama biasanya ditempatkan
menjadi satu dalam satu area yang disebut suatu departemen.

Sedangkan JIT menggunakan tata dengan suatu pola sel manufaktur. Dengan

struktur ini, mesin yang diperlukan untuk membuat sebuah produk, dikelompokan ke

dalam sebuah sel manufaktur.

Kualifikasi Tenaga Kerja

Dalam sistem tradisional, tenaga kerja biasanya berspesialisasi dalam bidang


keahlian tertentu misalnya mengoperasikan sebuah mesin. Dari waktu ke waktu tugas yang
dibebankan kepada mereka relatif tidak berubah.

Dalam sistem JIT, karyawan produksi dituntut untuk mampu mengoperasikan


seluruh mesin yang ada dalam sel manufaktur. Hal ini dilakukan dalam rangka
meningkatkan efisiensi dan menekan biaya. Dengan demikian karyawan tersebu tidak lagi
hanya menguasai mesin tertentu saja, tetapi menjadi seseorang yang memiliki kualifikasi
multidisiplin.
Kebijakan Kualitas

Dalam sistem JIT, perusahaan memproduksi barang dalam jumlah terbatas yaitu sebanyak
permintaan pelanggan dan tidak memiliki kelebihan produksi sama sekali. Oleh karena itu,
kualitas barang harus sempurna dan tidak ada toleransi terhadap produk cacat. Kalau
sampai ada produk cacat dan sampai ke tangan konsumen, maka hal ini merusak reputasi
perusahaan.
8
Oleh karena itu, perusahaan harus memiliki komitmen tinggi terhadap kualitas dan
menerapkan konsep pengendalian mutu terpadu (total quality control/TQC)
Dalam sistem tradisional ada sebuah doktrin yang disebut acceptable quality level
(AQL). Doktrin tersebut memperbolehkan adanya produk cacat dalam sebuah proses
produksi, asalkan tidak melebihi angka presentase yang telah ditetapkan. Hal tersebut
dimungkinkan karena dalm sistem tradisional jumlah produk yang dihasilkan banyak,
sehingga jika ada produk cacat, perusahaan masih memiliki kesempatan untuk
menyortirnya agar tidak ikut terbawa sampai ke tangan konsumen.

9
2.7 Contoh Kasus

Perusahaan Ananda selama 1 tahun (320 hari kerja efektif) menggunakan bahan

mentah sebanyak 6.400 unit dengan harga Rp. 50 per unit. Dalam rangka biaya pembelian

tersebut dibutuhkan biaya sebagai berikut :

- Biaya pengiriman pesanan Rp. 10/unit


- Biaya administrasi Rp. 20/unit
- Biaya utk menyelesaikan pesanan Rp. 20/unit
- Biaya penyimpanan gudang Rp. 1 tiap unit/tahun

Diminta :

a. Besar EOQ
b. Menentukan besar ROP jika lead time 6 hari
c. Jika safety stock 500 unit, gambar kurvanya

Jawaban

a. Diketahui :
R = 6.400 unit
O = Rp 10 + Rp 20 + Rp 20 = Rp 50
C = Rp 1

EOQ
= 800 unit
b. Penggunaan selama 1 tahun 6400 unit

Keperluan setiap hari 20 unit/hari


Lead time = 6 hari x Rp 20 unit
= 120 unit

Menentukan besar ROP :


Safety Stock 500 unit
Lead Time 120 unit +
ROP 620 unit

c. Frekuensi pembelian

Dalam 1 tahun 8 kali = 40 hari

Artinya Perusahaan Ananda akan melakukan pembelian


persediaan sebanyak 8 kali dalam setahun yang dilakukan setiap 40 hari sekal

10
Kurvanya :

Unit

13000

EOQ
ROP
620

500 Safety Stock

Hari
40 hari
Lead Time (6
hari)

11
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

JIT (Just In Time) merupakan suatu system yang dikembangkan atas dasar
perbaikan dari kekurangan pada system tradisional. Dimana dalam langkah JIT
(Just In Time) pemborosan yang terjadi dalam system tradisional berusaha
untuk mengeliminasi pemborosan-pemborosan biaya yang timbul akibat
banyaknya waktu yang digunakan dalam memproduksi suatu barang sehingga
perusahaan dapat meningkatkan laba dan memperbaiki posisi persaingan
perusahaan

12
DAFTAR PUSTAKA

Hansen, Don R., Maryanne M. Mowen. 2013. Manajerial Accounting.


Buku 2. Edisi 8. Jakarta : Salemba Empat.

Krismiaji dkk. 2011. Akuntansi Manajemen. Edisi 2.Yogyakarta : UPP


STIM YKPN.

Sjahrial, Dermawan. 2012. Pengantar Manajemen Keuangan. Edisi 4.


Jakarta : Mitra Wacana Media.

13