Anda di halaman 1dari 13

REFERENSI ARTIKEL

AIRWAY MANAGEMENT
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas kepaniteraan klinik stase anestesi

Disusun oleh :
Rafadilla Putri Alvarisa
G992003118

Pembimbing :
dr. Paramita Putri Hapsari,SpAn.M.Kes.

KEPANITERAAN KLINIK STASE ANESTESIOLOGI DAN TERAPI


INTENSIF
PROGRAM PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNS
RUMAH SAKIT UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2020
BAB I
PENDAHULUAN

Hipoksia dan gangguan jalan nafas meruupakan penyebab kematian pra-rumah


sakit hingga 34%. Adanya gangguan pada jalan nafas dapat mengakibatkan hipoksia
dan hiperkapnia (Adult Trauma Clinical Practice Guidelines, 2007). Hipoksia dengan
cepat dapat mengakibatkan kerusakan organ, sedangkan hiperkapinia dapat memicu
vasodilatasi serebral, asidosis respiratorik, hingga penurunan kesadaran (Advance
Trauma Life Support, 2018).
Airway menejemen merupakan salah satu bagian terpenting dalam resusitasi
dalam penatalaksaan keadaan gawat darurat. Jalan nafas yang tidak terhalang sangat
penting untuk mencegah hipoksemia, kurangnya oksigen ke otak dan organ vital dapat
menyebabkan kematian, oleh karena itu hal yang harus dinilai pertama adalah
kelanacaran jalan nafas, yang meliputi pemeriksaan gangguan jalan nafas yang dapat
disebabkan oleh benda asing, fraktur tulang wajah, dan fraktur laring atau trakea.
Berbagai penyebab gangguan jalan nafas, seperti gangguan struktural (trauma),
inflamasi (abses retrofaringeal dan epiglotitis akut), neoplasma (ensefalokel dan
meningomielokel), dan malformasi kraniofasial (down syndrome, pierre robin
syndrome, dan treacher collins syndrome)
Ada banyak cara dan peralatan untuk mengelola jalan nafas. Salah satu upaya
untuk menjaga jalan nafas adalah dengan melakukan tindakan intubasi, yakni dengan
memasukan pipa ke dalam saluran nafas atas. Dalam anestesi umum, penting sekali
menjaga agar jalan nafas selalu bebas hambatan dan nafas berjalan dengan lancar serta
teratur.
Intubasi dapat menimbulkan beberapa komplikasi, namun kegagalan dan
keterlambatan dalah penanganan jalan nafas dapat menyebabkan angka morbiditas dan
mortalitas yang tinggi. Keberhasilan dalam penatalaksanaan komplikasi tergantung
dengan deteksi dini untuk mencegah keadaan yang lebih buruk.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI
Airway management adalah tindakan yang dilakukan untuk membebaskan jalan
nafas. Tujuannya untuk menjamin jalan masuknya udara ke paru secara normal
sehingga tubuh tidak kekurangan oksigen. Tindakan paling penting untuk
keberhasilan resusitasi adalah melapangkan saluran pernafasan, yaitu dengan triple
airway maneuver:
a. Head tilt/menegakkan kepada dengan satu tangan berada di bawah leher,
sedangkan tangan yang lain pada dahi. Leher diangkat dengan satu dangan
dan kepala ditegakkan ke belakang oleh tangan yang lain.
b. Chin lift/menarik rahang bawah ke depan, sehingan mencegah obstruksi
hipofaring oleh dasar lidah.
c. Jaw thrust/menarik atau mengangkat dasar lidah dari dinding pharynx
posterior.

Gambar 1. Triple Maneuver


Dalam airway menejemen terdapat tiga jenis airway definitif yaitu: pipa
orotrakeal, pipas nasotrakeal, dan airway surgical (krikotiroidotomi atau
trakeostomi). Pemilihan pemasangan airway definitif dapat dilihat dari gejala klinis
seperti adanya apneu, adanya kebutuhan melindungi airway bagian bawah dari
aspirasi darah atau vomitus, adanya ancaman atau bahaya potensial sumbatan airway,
adanya cedera kepala dengan GCS <8, dan ketidakmampuan mempertahankan
oksigenasi yang adekuat.
Intubasi orotrakeal dan nasotrakeal merupakan cara yang paling sering
digunakan. Adanya cedera servikal merupakan hal yang harus diperhatikan saat
menangani pasien yang membutuhkan perbaikan airway. Apabila pernafasan sudah
membaik, jaga agar jalan nafas tetap terbuka dengan cara:
a. Lihat (look), melihat adanya pengembangan dinding dada yang simetris dan
adekuat.
b. Dengan (listen), mendengar adanya suara pernafasan pada kedua sisi dada.
c. Rasa (feel), merasa adanya hembusan nafas.

II. FUNGSI JALAN NAFAS ATAS


a. Hidung
Saluran pernafasan atas yang utama dan pertama pertama adalah hidung. Fungsi
hidung yakni menghangatkan dan melembapkan udara yang masuk.
Inervasi sensoris pada mukosa hidung berasal dari dua divisi nervus trigeminus.
Nervus ethmoidalis anterior menginervasi septum anterior dinding lateral,
sedangkan area posterior di inervasi oleh nervus nasopalatina dari ganglion
sphenopalatina. Anestesi lokal dengan topikal cukup efektif menblokade nervus
ethmoidalis anterior dan nervus maksila bilateral.
b. Faring
Faring merupakan perluasan dari bagian belakang hidung hingga esofagus.
Faring dibagi menjadi dua bagian, yakni nasofaring/bagian atas dan
orofaring/bagian bawah. Prinsip kesulitan udara melintas melalui nasofaring
karena menonjolnya struktur jaringan limfoid tonsiler. Lidah adalah sumber dari
obstruksi pada orofaring, biasanya karena menurunnyategangan muskulus
genioglosus, yang bilang berkontraksi dapat menggerakkan lidah kedepan
selema inspirasi dan berfungsi sebagai dilatasi faring.

Gambar 2. Anatomi saluran pernafasan atas

c. Laring
Laring merupakan struktur kompleks yang berevolusi menyatukan trakea dan
bronkus dengan faring. Struktur laring terdiri dari otot, ligamen, dan kartilago,
termasuk tiroid, krikoid, aritenoid, kornikulata, dan epiglotis.
Rongga laring meluas dari epiglotis ke kartilago krikoid dibagian bawah. Panjang
ata-rata pembukaan glotis sekitas 23mm pada laki-laki dan 17mm pada wanita.
Lebar glotis adalah 6-9mm tapi dapat direntangkan sampai 12mm. Penampang
melintang glotis sekitar 60-100mm2.
d. Trakea
Trakea merupakan struktur berbentuk tubulu setinggi vertebrae cervikal 6.
Beberapa reseptor trakea sensitif terhadap stimulus mekanik dan kimia.
Penyesuaian lambat reseptor regang yang berlokasi pada otot-otot dinding
posterior, membantu dalamnya penafasan, tetapi juga dapat menimbulkan
dilatasi pada bronkus melalui penurunan aktivitas afferen nervus vagus. Respon
cepat reseptor iritan yang berada pada seluruh permukaan trakea berfungsi
sebagai reseptor batuk dan mengandung reflek bronkokonstriksi.

III. EVALUASI JALAN NAFAS


Riwayat kesulitan intubasi endotrakeal atau ventilasi mask dapat menjadi
perhatian khusus, karena jika ditemukan adanya kesulitan intubasi dapat menimbang
pemberian anetesi berikutnya. Beberapa penyakit seperti rheumatoid arthritis dan
obesitas dapat bersifat progresif dan menimbulkan kesulitan jalan nafas.
Beberapa sindrom kongenital juga terbukti dapat mempersulit intubasi dan
ventilasi mask. Penyakit lain seperti infeksi trauma dan neoplasik juga berpengaruh
dalam menejemen jalan nafas.
LEMON (Look – Evaluate – Mallampati – Obstruction - Neck) assesment
merupakan sistem skoring untuk memprediksi adanya kesulitan intubasi.
a. L = Look externally
Melihat adanya hal yang menyebabkan pasien membutuhkan ventilasi atau
intubasi dan evaluasi kesulitan secara fisik seperri leher pendek, trauma
fasial, atau lidah yang besar.
b. E = Evaluate 3 – 3 – 2 rule
3 – 3 – 2 adalah penentuan jaranga anatomis menggunakan jari sebagai alat
ukur untuk mengetahui seberapa besar bukaan mulut.
Gambar 3. Evaluate 3 – 3 – 2 rule.

c. M = Mallampati score
Digunakan sebagai klasifikasi untuk menilai visualisasi hipofaring, pasien
diminta berbaring dengan posisi supinasi lalu membuka mulut dan
menjulurkan lidah.

Gambar 4. Mallampati score.


d. O = Obstruction/Obesity
Menilai adanya keadaan yang menyebabkan obstruksi seperti trauma atau
abses peritonsil
Obesitas juga dapat menyebabkan sulitnya intubasi karena memperberat
ketika melakukan laringoskop dan mengurangin visualisasi laring.
e. N = Neck deformity
Menilai adanya deformitas pada leher yang dapat menyebabkan
berkurangnya range of movement sehingga menyebabknya sulitnya
intubasi.

IV. AIRWAY MANAGEMENT DENGAN ALAT


a. Mask
Penggunaan face mask dapat memfasilitasi pengaliran oksigen atau gas anestesi
dari sistem breathing ke pasien. Ventilasi yang efektif memerlukan jalan nafas
yang bebas dan face mask yang rapat. Face mask dipasang dimuka pasien
dengan sedikit ditekan pada badan face mask dengan ibu jari dan telunjuk. Jari
tengah dan jari manis menarik mandibula untuk ekstensi joint atlantoocipital.
Jari kelingking ditempatkan dibawah sudut jaw dan digunakan untuk jaw thrust
manuever yang paling penting untuk dapat melakukan ventilasi pasien.
Ventilasi tekanan normal tidak boleh melebihin 20cmH2O untuk mencegah
masuknya udara ke lambung. Ventilasi dengan face mask dalam jangka panjang
dapat menimbulkan cedera akibat tekanan pada cabang saraf trigeminal.
b. Oropharyngeal airway (OPA) dan Nasopharyngeal airway (NPA)
OPA merupakan jalan napas tambahan dengan mempertahankan agar lidah
tidak menutupi epiglotis. Fungsi OPA antara lain mencegah lidah jatuh
sehingga dapat menutup jalan nafas dan membuka jalan nafas tambahan.
Kontraindikasi pemasangan OPA adalah pasien dengan reflek batuk dan
muntah.
Gambar 5. Oropharyngeal airway

NPA adalah jalan napas tambahan yang digunakan saat pasien memiliki risiko
obstruksi dan tidak dapat menggunakan OPA. Penggunaan NPA tidak boleh
digunakan pada pasien dengan kecurigaan fraktur basis cranii.

Gambar 6. Nasopharyngeal airway


c. Laryngeal mask airway (LMA)
LMA adalah alat saluran nafas yang berada diluar glotis dan mudah serta cepat
digunakan. LMA merupakan alternatif terhadap intubasi trakea untuk
pemeliharaan jalan nafas selama anestesi. Penggunaannya menghasilkan lebih
sedikit distensi lambung dibandingkan dengan ventilasi bag valve mask, tetapi
tidak menghilangkan risiko aspirasi.
LMA berbentuk seperti tabung endotrakeal besar yang pada ujung proksimal
terhubung ke bagian distal masker elips. LMA dirancang untuk berada pada
hipofaring pasien dan menutupi struktur supraglotis, sehingga memungkinkan
isolasi relatif dari trakea.

Gambar 7. Laryngeal Mask Airway.

d. Esophageal Tracheal Combitube (ETC)


Eshopageal tracheal combitube (ETC) terbuat dari gabungan dua pipa, masing
masing dengan konektor 15mm pada ujung proksimal dan dapat digunakan
apabila airway definitif belum dapat dilakukan. ETC mempunyai 2 balon untuk
digembungkan, 100ml untuk balon proksimal dan 15ml untuk balon distal,
keduanya harus dikembangkan secara penuh setelah pemasangan.
Gambar 8. Esophageal tracheal combitube.

Gambar 9. Pemasangan ETC

e. Endotrakea Tube (ETT)


Pemasangan endotrakea tube (ETT) merupakan tindakan memasukan pipa ke
dalam trakea sehingga ujung distal berada dipertengahan antara pita suara dan
bifurcatio trakea. Indikasi pemasangan ETT :
1) Menjaga patensi jalan nafas
2) Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi
3) Pencegahan aspirasi dan regurgitasi
Hal-hal yang perlu dipersiapkan saat pemasangan ETT:
1) Scope : laringoskop, stetoskop
2) Tubes : Endotrakeal tube sesuai ukuran
3) Airway : Oropharyngeal airway/Nasopharyngeal airway
4) Tape : Plester untuk fiksasi dan gunting
5) Introduction : Stylet, Magill forcep
6) Connector : Penyambung antar pipa dan peralatan anestesi
7) Suction : Penghisap cairan
8) Bag dan masker oksigen
9) Sarung tangan steril
10) Xylocain jelly
11) Spuit 20cc untuk mengisi cuff

Gambar 10. Endotrakheal Tube (ETT)


DAFTAR PUSTAKA

1. Advanced Trauma Life Support (ATLS) for Doctors. (2018). 9th Edition.
2. Birnbaumer DM. Airway Assessment Using "LEMON" Score Predicts Difficult ED
Intubation. Emerg Med J 2005. Available
at: http://www.jwatch.org/em200502160000001/2005/02/16/airway-assessment-
using-lemon-score-predicts#sthash.E216Wqd6.dpuf
3. Dr JE Ollerton. (2007). Adult Trauma Clinical Practice Guidelines : Emergency
Airway Management in the Trauma Patient. NSW Institue of Trauma and Injury
Management, pp 9.
4. Johansen LC, Mupanemunda RH, Danha RF. 2012. Managing the newborn infant
with a difficult airway. infant.
5. Nichole Bosson et al. 2017. Laryngeal Mask Airway. Available at
: https://emedicine.medscape.com/article/82527-overview

Anda mungkin juga menyukai