Anda di halaman 1dari 84

Teknologi Finishing

Sofwan Siddiq Abdullah

Konsultan dan Reviewer


Eddy Purnomo

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN RI
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA INDUSTRI
POLITEKNIK ATK YOGYAKARTA
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN KULIT
2019
FINISHING

Istilah "finishing" digunakan di industri kulit untuk mendiskripsikan


keseluruhan serangkaian proses dan operasi yang memperbaiki sifat dan
penampilan kulit dan akhirnya mengubahnya menjadi bahan yang lebih
indah. Finishing merupakan proses kimia dan mekanis terakhir dari kulit
sebelum pembuatan produk akhir (sepatu, tas, dompet, pakaian, dll).
Kulit setelah proses penyamakan, retanning, peminyakan, pewarnaan, dan
pengeringan umumnya kulit mengalami tahapan yang disebut finishing
walaupun dilakukan dengan sangat sederhana/simple. Ada usaha untuk
meningkatkan tampilan agar menambah daya tarik, meningkatkan daya jual
dengan memperbaiki cacat yang ada baik yang disebabkan cacat alami,
penyimpanan ( luka, bekas penyakit, serangga dll) atau terjadi selama
proses berlangsung seperti warna dasar yang tidak rata, luntur, tidak
matching dengan sample maka diperlukan perbaikan dan penyempurnaan
walau hanya untuk menyesuaikan dengan hue, shading, tone warna seperti
sample. Finishing juga dilakukan untuk tujuan tertentu seperti memberikan
tampilan, corak, pengangan permukaan (touch/feel/handle) yang berbeda
lebih lembut, licin, kasar, berminyak (oily, waxy), silky, warna kontras,
brilliant, pull-up, antic, two-tone, dll. harus menonjolkan dan mempertahan
sifat naturalis (alami) kulitnya.

2|Page
A. Tujuan.

Tujuan finishing secara umum adalah :


1) Melapisi (protecting) permukaan kulit atau memberikan lapisan tipis/film
pada permukaan kulit untuk melindungi permukaan kulit dari pengaruh
bahan kimia, panas, gosokan, air, benturan dll.
2) Memperbaiki (upgrading) cacat, defek – defek pada permukaan kulit
sehingga permukaan (grain) tampak lebih natural.
3) Memperindah, menghias (decorating) agar tampak lebih indah dan
Fashionable.

Tahapan-tahapan proses finishing harus ada hubungan satu dengan yang


lain untuk menghasilkan sifat protecting, upgrading, decorating / fashionable
sekaligus memenuhi standar uji teknis yang telah ditetapkan. Mengingat
begitu banyaknya jenis kulit yang difinishing serta bahan kimia yang
digunakan ditambah dengan berbagai peralatan dan mesin yang berbeda,
menyebabkan istilah atau nama jenis finishing sangat beragam, tergantung
dari bahan, mesin, efek yang dihasilkan serta metoda teknis yang dipakai.

B. Klasifikasi Finishing
Finishing dapat di klasifikasikan sebagai berikut :
1) Klasifikasi finishing berdasarkan tehnik pengecatan yang
digunakan.
- Spray finish: Finishing yang dilakukan dengan spraying saja.
- Roll coating finish: Menggunakan screen rollers atau engraved
rollers.
- Curtain coating finish: Menggunakan mesin Curtain finishes untuk
menutup permukaan kulit spt kulit corrected grain atau splits.
- Padding finish.

3|Page
- Film transfer finish: Polymer foils atau laminating. Juga dapat dibuat
dari dua komponen campuran PU mixtures dalam coating machine.
- Glaze finish: Bila aplikasi akhir menggunakan Glazing machine.
Kusus untuk Hight quality leathers.
- Plate finish: Menggunakan plating machines. High gloss dan smooth
films.
- Glaze/plate finish: Kombinasi Glaze dan Platting.
- Embossed finish: Artificial or fancy grain dengan embossing.
- Foam finish: Highly covering finish especially for furniture and car
seat leathers.

2) Klasifikasi cat tutup menurut finishing effects.


- Corrected grain finish: Kulit yang diampelas permukaannya karena
kualitasnya rendah atau Buffed leathers yang ditutup dengan
lapisantebal dan kemudian dicetak permukaannya (embossed).
- Aniline finish: Kulit yang dilapisi dengan lapisan tanpa pigmen atau
transparent coats. Natural appearance of the grain kusus untuk
hight quality.
- Semi-aniline finish: Menggunakan sedikit pigment dan/atau dyes
yang dicampur dengan binders atau covering base coat ditambah
aniline top coat dengan dyes.
- Opaque finish: Permukaan kulit total merupakan covering pigments
dan binders.
- Brush-off finish: Two-tone effect yang Nampak setelah di polish
dengan felt (disk).
- Easy-care finish.
- Antique finish: Two-tone effect yang biasanya diaplikasikan dengan
menggunakan wax.
- Fancy finish.
4|Page
- Two- or multi-tone finish: Diaplikasikan dalam dua atau lebih lapisan
finishing dengan berbagai warna dengan berbagai sudut
penyemprotan, padding atau printing.
- Invisible finish: Impression of unfinished surface using and
mechanical operations. Finishing dengan kesan permukaan yang tidak

di finishing menggunakan light coats dan operasi mekanis


- Craquele finish: Cracked effect.

3). Klasifikasi menurut bahan utama (binder) yang digunakan.


- Polymer atau binder finish: Sebagian besar menggunakan bahan ini
yang merupakan formulasi dari thermoplastic binders yang
berbahan dasar polyacrylate, polyurethane or polybutadiene dan
selanjutnya di plating.
- Casein finish: Non thermoplastic protein or produk-produk kemudian
di glazing.
- Nitrocellulose solution atau emulsion finish: Solvent lacquer. Bahan
pembentuk film adalah nitrated cellulose yang dilarutkan dalam
pelarut organic. Emulsion lacquers dapat dilarutkan dengan air.
- CAB-finish solvent lacquer berbahan dasar cellulose aceto-butyrate.
Memiliki ketahanan Better yellowing daripada nitrocellulose.
- Patent finish: Lapisan laquer poliuretan yang tebal, cat yang sangat
mengkilap.

Apapun klasifikasi finishing-nya yang penting harus memenuhi


persyaratan teknis sementra itu syarat-syarat teknis pada finishing
berbeda satu dengan yang lain ditentukan dan tergantung oleh jenis kulit
atau artikel yang akan dibuat.

5|Page
C. Struktur lapisan finishing.
Supaya lapisan kulit menyatu pada permukaan kulit dan memenuhi syarat
dan standar teknis yang ditetapkan umumnya metoda finishing dilakukan
dalam beberapa tahapan pelapisan. Setiap aplikasi tahapan pelapisan
mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda namun berkesinambungan
satu dengan yang lain. Secara umum ada tiga lapisan dalam tahapan
finishing kulit yaitu:
- Lapisan Base Coat: Lapisan yang mendasari seluruh lapisan cat dan
yang bertanggungjawab terhadap kekuatan adisi cat tutup dengan kulit.
Lapisan dasar harus mempunyai rekatan yang kuat dengan permukaan
kulit. Lapisan ini disebut sebagai lapisan dasar.
- Lapisan Pigment Coat : Lapisan yang berada diatas lapisan base-coat
sebagai lapisan yang mengandung/pembawa warna baik pigment atau
dyes. Lapisan yang bertanggung jawab terhadap sifat ketahanan gosok
warna / cat baik basah maupun kering. Lapisan ini disebut lapisan
warna.
- Lapisan Top Coat : lapisan yang paling atas atau season coat.
Merupakan lapisan yang paling keras karena harus mempunyai
ketahanan terhadap gosokan, benturan, benda tajam, bahan kimia,
panas, dingin dll. Ketiga lapisan tersebut harus berinteraksi secara baik
dan menyatu sehingga tidak terpisah satu dengan yang lain. Lapisan ini
disebut juga lapisan luar.

Dalam perkembangannya batasan atau penggolongan lapisan diatas dapat


dan selalu berubah disesuaikan dengan kebutuhannya dan tuntutan mode
dalam standar yang berlaku saat itu, bahkan ada yang menyebutkan
dalam istilah lapisan pertama (1st), kedua (2nd), ketiga (3rd ) dst, namun
inti tujuannya sama sebagai lapisan dasar, lapisan warna, lapisan luar.
Struktur lapisan yang berkembang cenderung lebih bersifat adaptasi
6|Page
terhadap perubahan trend/mode/style/gaya yang sangat cepat walapun
tetap mempertimbangkan sisi teknisnya. Bagan dibawah ini dapat
memperjelas perkembangan arah finishing dewasa ini

Crust Dyed
-Pembersihan.
Persiapan -Pembasahan

- Pewarnaan grain dgn dyes

Staining

Penyeimbangan serapan air pada


permukaan kulit
Impregnation

Lapisan Dasar (I,II,III)


Base Coat

Color Coat
Lapisan pigmen

Efek warna
Contras Coat

Lapisan atas
Top Coat

Gambar: Struktur Lapisan Cat Tutup.

7|Page
Agar menghasilkan lapisan cat tutup yang menyatu dan mempunyai
durabilitas yang baik setiap lapisan dalam struktur memiliki fungsi yang
berbeda.

- Lapisan Impregnasi : Dilakukan khususnya untuk kulit-kulit yang


mempunyai daya serap air tinggi seperti kulit untuk CGB yang dibuffing
permukaannya, suede, atau yang mengalami retanning berat. Dengan
impregnasi diharap kan lapisan cat tutup tidak terserap terlalu dalam.

- Bottom Coat: Lapisan yang sangat dan paling lunak, fleksibel


dibandingkan dengan lapisan yang lain. Difungsikan sebagai penerima
lapisan warna/pigmen. Lapisan ini dibuat sangat lunak untuk memperoleh
kekeyalan dan elastisitas rajah/grain karena rajah yang paling besar
mengalami tekanan dan perubhan gerak ketika digunakan. Selain itu lapisan
dasar dapat berfungsi sebagai proteksi agar lapisan pigmen tidak terserap
dan terpenetrasi terlalu masuk kedalam penampang kulit. Lapisan dasar
merupakan lapisan yang bertanggung jawab terhadap ketahanan/kuat rekat
cat dengan kulit, sehingga ikatan dengan kulit bersifat permanen.

- Lapisan warna (color coat) : Lapisan yang berisi warna baik pigmen
atau dyestuff. Lapisan ini berfungsi merekatkan warna pada permukaan kulit
mengingat pigmen tidak dapat berikatan secara kimiawi dengan kulit.
Lapisan ini selain bertanggung jawab sebagai pembawa warna juga
bertanggung jawab terhadap ketahanan kelunturan, ketahanan gosok cat
baik kering atau basah. Lapisan ini dibuat lebih keras dibandingkan dengan
lapisan bottom.

- Contras Coat: Pada dasarnya merupakan atau termasuk dalam lapisan


warna tetapi umumnya warna dan komponen yang digunakan berbeda,
lapisan untuk mendapatkan efek warna tertentu pada permukaan kulit

8|Page
seperti degradasi warna, efek metalik, two tone, stucco, timbul, batik, antik,
brush-off dll.

-Top/Season Coat: Lapisan yang paling atas, paling keras, paling tipis dibuat
dengan tujuan melindungi lapisan warna dan permukaan kulit dari benturan,
pukulan, goresan, bahan kimia, pelarut, temperature tinggi/rendah.

D. Persyaratan Lapisan Cat Tutup.

Seperti telah diuraikan diatas persyaratan lapisan yang terbentuk


dipermukaan kulit harus memperhatikan tujuan yang akan dicapai tetapi
disesuaikan dengan persyaratan teknis dan tidak mempengaruh sifat
alami atau kenaturalan kulit yang berhubungan dengan tampilan maupun
sifa-sifat pakai. Contoh, kulit yang mengalami kerusakan rajah dapat
ditutup dengan lapisan yang tebal namun hal ini menjadi tidak benar
apabila dapat menyebabkan karakter alami, porousitas, kenyamanan
pakai berkurang karena bertambahnya lapisan dan kulit berubah menjadi
seperti plastik bahkan pecah atau mengelupas. Untuk mengontrol kondisi
yang tidak diharapkan tersebut maka ada beberapa ketentuan / aturan
yang harus dipenuhi oleh lapisan cat tutup.
9|Page
Beberapa hal yang yang harus dipenuhi oleh lapisan cat tutup. Beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam lapisan finishing :

1. Sifat Alami : Lapisan cat tutup harus memiliki sifat melekat kuat dan
permanen pada grain/permukaan kulit, tidak lengket, dapat dengan
mudah membentuk ikatan dengan lapisan berikutnya atau yang
diatasnya, tidak melunak kembali (cukup keras), merata, penampilan
harus tampak alami, tidak “menutup” permukaan kulit.

2. Sifat Fisik & Kimia : Lapisan harus mudah dibersihkan dari kotoran
(cleanable) walaupun tanpa mengalami proses pembersihan, debu,
tidak berbekas ketika dipegang, elastik, tidak mengalami penebalan
atau swelling ketika terendam air, tingkat ketahanan kelunturan tinggi,
tahan terhadap bahan yang terdapat dalam lem, tidak melunak,
lengket, atau mengeras. Disamping itu sifat lapisan juga harus
mempunyai ketahanan terhadap pelarut organik seperti aseton, alcohol
yang sering digunakan dalam pembuatan barang jadi.

3. Durability (ketahanan pakai): Lapisan cat tutup harus mempunyai


ketahanan pakai (durability), dalam jangka panjang sehingga
penampakan yang atraktif dapat dipertahankan. Warna tidak hilang,
tidak mengalami perubahan warna, tampilan permukaan harus tetap
shiny dan tidak menjadi buram, sebaliknya tampilan yang buram tidak
berubah menjadi mengkilap, tahan terhadap pengaruh air, cahaya,
tidak mudah mengelupas, pecah, tergores. Inti dari durability adalah
ketahanan untuk tidak mengalami perubahan kita dipakai dalam jangka
panjang.

10 | P a g e
E. Karakter Fisik (Physical Properties).

Yang paling penting dari persyaratan cat tutup kulit adalah melindungi
(protect) permukaan rajah dan memenuhi penampilan yang diinginkan /
mode yang diminta. Hal ini tidak mudah dicapai apalagi untuk memenuhi
secara sempurna (100%) seperti target contoh/sampel sehingga
umumnya penerimaan sangat bersifat moderat terutama terhadap
tampilan/efek yang bersifat tentative. Tempo dulu cat tutup dianggap
cukup apabila tidak lengket dan pecah, namun kini finishing semakin
kompleks karena berkembangnya mode atau artikel baru dan finishing
man harus meramu untuk dapat memenuhi semuanya, baik tampilan,
persyaratan teknis dalam spesifikasi berbeda-beda. Namun demikian dari
kesemuanya yang paling menentukan adalah End User atau pasar yang
umumnya mempunyai persyaratan kusus untuk artikel berbeda, seperti
tampak dalam key requirement dibawah ini.

Leather Type Key Requirement

Shoe & Leather Bag Wet Adhesion

Upholstery Durable Wear Properties


(untuk car-upholstery berbeda dan sangat
spesifik)

Garment Adhesion & Stretch


Low temperature Flex

Leather Good Scuff Resistance atau Wear Properties

Split Print Retention


Flexibility atau Resistance to opening.

11 | P a g e
Secara keseluruhan dapat dikatakan sifat fisik umumnya ditentukan oleh
dua lapisan yaitu base coat dan top coat.

Base Coat : Sifat fisik sangat berhubungan dengan pembentukan lapisan


(film forming) yang dibentuk dan dikontrol oleh lapisan base coat. Lapisan
ini berpengaruh besar terhadap flexibility, adhesion to leather dan to inter-
coat, cold crack resistance, wet soak resistance, toughness/stiffness,
elasticity, holdout kusus upper coat.

Top Coat : Lapisan atas atau season coat ini sangat mempengaruhi surface
wear (permukaan & ketahanan pakai) dan termasuk sifat abrasion
resistance, scuffing/friction, wet dan dry crock dan clean ability. Faktor yang
mengatur dan menentukan terhadap semua karakter fisik diatas adalah
resin/polimer pembentuk lapisan ( film forming/binder ) yang berhubungan
dengan susunan dan struktur kimia utamanya. Informasi ini sangat penting
untuk diketahui karena komposisi polimer/resin tersebut sangat
berpengaruh terhadap sifat lapisan yang terbentuk.

Sebagai guideline untuk menetukan karakter lapisan dalam pemilihan film


forming/binder harus diingat bahwa setiap pembentuk lapisan mempunyai
karakter berbeda satu sama lain. Contoh :

- Karakter Surface Wear : Biasanya dimiliki oleh material dari nitrocellulose,


CAB, urethane dan vinyl.
- Karakter flexibility/suppleness: Dimiliki material berasal dari turunan
sellulose, urethane dan vinyl. Untuk mendapatkan sesuatu yang lebih
fleksibel dapat pula dicampur antara nitrosellolose dgn urethane ditambah
vinyl untuk meningkatkan ketahanan pakainya, khususnya pada Top Coat.
- Untuk pengurangan emisi digunakan akrilik larut air termasuk digunakan
untuk Top Coat. Untuk mengeraskan lapisan dapat ditambah urethane
atau vinyl water bases.
12 | P a g e
F. Komponen Pembentuk Cat Tutup
Secara umum komponen cat tutup terdiri dari :
1) Pewarna/Colorant (pigmen atau dyestuff).
Pewarna yang digunakan umumnya merupakan pewarna mineral atau
pigmen mineral spt Titanium, Zing (putih); Aluminiums Silikat
(ultramarine); iron Oxide (ocher, red brown); Cadmium sulphat
(lemon yellow, red); Carbon (black). Selain itu digunakan pigmen
organik yang berasal dari metal komplek dyestuff atau pewarna
aniline/dyestuff terutama untuk kulit height quality.

2) Binder ( film forming ).


Binder berfungsi merekatkan warna pada kulit, disebut juga
pemersatu/pembentuk lapisan agar komponen warna dan bahan lain
yang digunakan dalam pengecatan tutup kulit dapat merekat diatas
grain. Binder yang digunakan dewasa ini merupakan water soluble
atau water base system, sehingga merupakan emulsi. Binder
umumnya merupakan resin/polimer baik yang bersifat thermoplastic
atau thermosettmg . Contoh:
Binder for Base Coating agent: Bersifat thermoplastik, softer
polymer binder ( paling lunak/lemas ), fleksibelitasnya tinggi spt: 1.
Disperse poliurethan; 2. Emulsi polyacrylate; 3. Polimer acrylonitril;
4.polymer butadiene.
Binder for Pigment Coating Agent: Binder yang lebih keras
dibandingkan dengan diatas namun masih termasuk dalam golongan
thermoplastic, spt: 1.Polyvinyl acetat; 2.Polymethacrylate; 3.
Polyvinylidine Cloride. Bahan ini biasanya dicampur dengan acrylic acid
ester.
Binder for Top Coatingt Agent: Biasanya bersifat sebagai
thermosetting dan merupakan solvent soluble (lacquers) atau dilutable
13 | P a g e
in water and solvent product. Lapisan yang terbentuk biasanya keras
sehingga digunakan untuk top coat. Contoh: Nitrocellulose, cellulose
aceto butyrate(CAB), Polyurethan lacquer, Poliamida/casein.
3) Plastisizer.
Biasanya ditambahkanpada lapisan cat tutup untuk kulit yang lemas.
Contoh Minyak jarak, wax, minyak biji rami, ester sintetik dr asam
phthalate dan adipat dll
4) Impregnating agent.
Digunakan kusus untuk kulit yang serapan airnya tinngi atau yang
akan dijadikan kuli CGB, berfungsi sebagai sealing agent. Contoh
cationic oil emulsion yang dicampur polyacrylate atau polyurethane
prepolimer.
5) Auxiliaries.
Bahan pembantu yang akan memberikan efek tertentu pada
permukaan kulit, contoh : Antisticking agent (silicon, wax), defoamer
(alcohol, etil glikol, polietilglikol), modifier (wax, fat, silicon dll),
polishing agent (wak emulsi/natural, silicon polimer, casein), cross-
linking agent kusus PU ( poliisosianat ), thickeners (ammonia, polivinil
ether) biasanya ditambahkan pada lapisan base coat.
6) Diluent/thinner
Digunakan kusus untuk top coat yang bertipe lacquer atau solvent
bases. Selain thinner, pengencer lain juga sering ditambahkan seperti
BA (butyl acetate), DIBK (di-isobutyl keton), IPA (iso-propylalcohol).

14 | P a g e
G. Implementasi Teknis.

1. Surface Impregnation.

Impregnasi permukaan umumnya dilakukan untuk kulit jelek, untuk


corrected grain box (CGB), dengan tujuan mengurangi kadar air karena
umumnya kulit CGB diamplas permukaan/grainnya untuk menghilangkan
atau menipiskan cacat permukaan, sehingga daya serap airnya angat tinggi.
Disamping itu impregnasi juga dapat meningkatkan break pattern, scuff
resistance dan finished character dari kulit CGB, oleh karenanya impregnasi
dewasa ini juga sering dilakukan pada kulit full-grain.

Pada intinya proses ini mengatur & mengendapkan polimer secara terkontrol
pada lapisan grain dan sebagian lapisan atas corium. Dengan penguatan
corium junction tersebut diharapkan dapat mengurangi endapan polimer dari
material atau komponen cat tutup (seperti binder) agar tidak masuk terlalu
dalam kearah corium sehingga dapat meningkatkan
homogenitas/uniformitas permukaan yang menyebabkan ketahanan pecah
permukaan (surface break) naik, demikian pula kemampuan serapan kulit
terhadap cairan base coat lebih uniform.

Adhesi antara komponen polimer akrilik yang digunakan dalam impregnasi


dengan lapisan cat lainnya (base coat) akan memperbaiki sifat durabilitas
lapisan. Polimer dalam serat lapisan permukaan mengurangi dampak
kerusakan patrun (clutter pattern) apabila rajah kulit mengalami abrasi atau
scuffing. Naiknya sifat serapan yang lebih uniform pada permukaan
menyebabkan lapisan berikutnya dapat dilakukan setipis mungkin sehingga
mengurangi biaya dan penampilan tampak menjadi lebih natural.

15 | P a g e
- Mekanisme Impregnasi.

Banyak yang mempertanyakan bagaimana mekanisme terbentuknya lapisan


tipis (film) terbentuk dalam kulit. Pada saat dispersi cair diimplementasikan
diatas permukaan kulit, air akan terpisah, sebagian akan menguap tetapi
kebanyakan membasahi atau hidrasi serat kulit. Setelah air lepas,
konsentrasi bahan akan meningkat, dan pada saat konsentrasi mencapai 60-
70% terjadi koagulasi,memadat, membentuk kohesi dengan serat dan
sehingga tidak terjadi migrasi. Bersamaan dengan terbentuknya film
penetrasi berikutnya akan terhambat/terhalangi. Jika kita mendapatkan kulit
tidak mudah dibasahkan atau stuktur serat sangat mudah untuk dibasahi
(hydartable) maka akan menyulitkan untuk mengontrol terjadinya
pengendapan film seperti yang kita inginkan. Perlu merancang formula
sesuai dengan keadaan kulitnya dan harus sangat hati-hati baik kuantitas
dan kualitas penggunaan bahan kimia. Berikut ini beberapa jenis bahan
kimia yang sering digunakan dalam formulasi impregnasi.

Type of Impregnation Physical Effect to Leather


Material

Acrylic Polymer -Membentuk lapisan dengan tidak merubah sifat kimiawi


sebelum atau setelah pengeringan. Membentuk lapisan yang
tidak larut air, fleksibel, memberikan efek aestika yang dapat
diatur seperti yang diinginkan.
Non Ionik atau Ionik wetting - Mengurangi tegangan antar muka permukaan kulit sehingga
agent/sabun. mudah dibasahi ualng.

Solvent yang water miscible - Membantu mengatur resin dengan menekan (repress)
pembasahan serat dan membantu koagulasi polimer.

Air Pengencer dan carrier solid content yang terdapat dalam


campuran, penentu kecepatan dan kedalaman penetrasi.

Solven, sabun dan sedikit air selalu dicampurkan dan digunakan dalam
formulasi serta penetrator untuk memudahkan masuk kedalam kulit.
16 | P a g e
Pemilihan penetrator tergantung pada tipe penyamakannya dan karakter
polimer yang digunakan. Penetrator dirancang sesuai dengan kebutuhan
namun untuk finishing umumnya untuk meningkatkan driving system, hanya
penggunaannya jangan berlebihan, karena bahan ini dapat menyebabkan
serat kulit mengembang, sehingga menghambat penetrasi. Bila memang
dirasa perlu untuk mengatur karakter driving campuran, ratio penggunaan
sabun yang lebih besar umumnya memberikan hasil yang lebih baik untuk
kulit yang diretanning berat /sedang dengan zat penyamak nabati.
Sebaliknya ratio penggunaan solvent yang lebih tinggi direkomendasikan
untuk kulit yang diretanning dengan zp krom.

Bila ingin menghindari/mencegah koagulasi polimer pada permukaan kulit


maka ukuran pertikel resin harus dikontrol sehingga mudah penetrasi
melewati hambatan temporer dr solvent ke-serat kulit yang hidratabel. Pada
saat yang sama terjadi copolimerisasi resin dengan asam untuk mencegah
terjadinya koagulasi sebelum kontak dengan serat kulit. Juga terjadi
polimerisasi resin dgn bahan pendispersi anionik dan non ionik mencegah
koagulasi dan membantu penetrasi.

Formulasi umum yang digunakan untuk impregnasi adalah menggunakan 8-


12 % resin acrylic atau antara 28-35 gram/sqft campuran. Untuk kulit full
grain digunakan resin lebih sedikit antara 3-5 % atau sekitar 21 gr/sqft.
Semakin rendah kandungan yang digunakan semakin mellow pegangannya.
Keseimbangan system dicapai bila resin masuk dr grain kebawah sedalam
sekitar 25-33% dr tebal kulit. Permukaan kulit harus bebas dari resin yang
digunakan.

Pemilihan resin sangat penting karena keseimbangan lapisan tergantung dari


resin yang digunakan, resin tidak saja harus memiliki karakteristik improve
break, tetapi juga harus dapat dan dirancang untuk masuk mengendap

17 | P a g e
dilokasi yang tepat. Cara implementasi juga menentukan resin yang dipakai,
bila menggunakan curtain coater atau mesin seasoning resin harus memiliki
kestabilan mekanik tinggi. Contoh persyaratan yang diperlukan untuk resin
impregnasi.

Tabel : Karakter Resin Impregnasi.

18 | P a g e
Karakter Fisik Keterangan

Ukuran Partikel Diameter partikel harus kecil dengan interval 0,07-


0,25 mikron. Resin atau polimer dengan ukuran yang
kecil akan tampak berwarna putih kebiruan, kurang
menyebar, dan tranmisi cahaya lebih tinggi
dibandinglkan dengan molekul emulsi yang lebig
besar.

Berat molekul Walaupun ukuran partikel kecil, berat molekul


umumnya berada diantara 300,000 hingga
10,000,0000 dengan kekentalan yang tidak berubah
secara signifikan.. BM tinggi akan membantu
meningkatkan kestabilan terhadap aksi mekanik,
ketahanan cahaya dan mengurangi efek rekat.

Pembentukan Lapisan Dapat membentuk lapisan walaupun dalam


temperature kamar.

Visikositas Walaupun mempunyai BM tinggi bila diencerkan


terutama dengan air harus mempunyai visikositas
rendah

Reaktivitas Kebanyakan resin impregnasi bersifat inert, artinya


polimer secara kimiawi tidak berubah selama
pengeringan dan pembentukan lapisan.

pH Kontrol pH mencegah terjadinya ketidak sesuaian


pada saat pembuatan formula. Emulsi yang disiapkan
dengan sabun nonionic/nonionic soap/tidak
bermuatan, umumnnya mempunyai toleransi yang
lebih baik terhadap asam, elektrolit dan emulsi
anionik. Anionik emulsi mempunyai kecenderungan
memiliki psartikel kecil, visikositas rendah dan lebih
merata.

Toleransi Terhadap Alkohol Alkohol dapat digunakan sebagai defoamer, flow-out


aid, solvent driver, bila dicampurkan dengan emulsi,
sehingga emulsi harus mempunyai tolerasi tinggi
terhadap alcohol.

Chemical Backbone Pemilihan harus disesuaikan dengankarakter film


yang diinginkan : hardness, toughness, fleksibiliti.

19 | P a g e
- Dampak Impregnasi.

1. Break Improvement: Meningkatkan ketahanan pecah grain/permukaan


kulit terutama akibat tekanan mekanik baik pada saat digunakan maupun
pada saat pembuatan barang jadi.

2. Scuff Resistance: Meningkatkan ketahanan gores/luka akibat gesekan


dengan benda keras/tajam

3. Firming of “ raggy stock”: Mengisi daerah/bagiankulit yang kosong atau


tidak berisi yang dapat menyebabkan serapan kulit tidak merata. Dengan
pengisian yang homogen pada semua bagian dan lapisan kulit maka serapan
terhadap cat tutup lebih seragam dan pegangan kulit menjadi lebih baik.

2. Drying.

Pengeringan harus dilakukan dengan cara perlahan, pengeringan atau


penguapan air dalam kulit yang dilakukan terlalu cepat dengan panas tinggi
menyebabkan kecenderungan kulit mengeras. Temper yang baik dapat
dicapai dengan mengatur kecepatan air in flow yang hangat (50-600 C) dan
air out flow yang mengandung uap air ditarik keluar selama 4 jam. Udara
yang suhunya lebih tinggi mempunyai kelembaban (air humidity) yang lebih
tinggi pula sehingga kulit akan cepat kering (lihat table ). Lebih baik bila
menggunakan drying cabinet yang dilengkapi dengan conveyor berjalan dan
pengaturan kecepatannya. Setelah kering dengan kelembaban 16%, kulit di
lemaskan /staking mnggunakan molissa machine pada tekanan medium.

20 | P a g e
3 Buffing & Dedusting.

Buffing atau ampelasan proses yang dilakukan terutama pada permukaan


kulit / grain yang telah di impregnasi khususnya untuk kulit – kulit CGB.
Ampelasan juga dilakukan untuk kulit nubuck, namun biasanya dilakukan
pada kulit dalam kondisi wet-blue, crust dan umumnya kulit dengan kualitas
baik dan tidak untuk di coating. Buffing juga dilakukan pada kulit suede
khususnya pada bagian daging flesh side. Kulit dengan kualitas bagus untuk
full grain leather tdak memerlukan buffing.

Buffing yang dilakukan pada kulit CGB umumnya bertujuan menghilangkan


cacat yang terdapat pada rajah/grain atau untuk meratakan permukaan dan
menipiskan grain hingga tinggal 20%-30% agar nanti pada saat dibuat rajah
buatan ( grain artificial) cacat tidak tampak lagi. Buffing dilakukan dalam
dua atau tiga tahapan, drimana pada buffing pertama menggunakan nomer

21 | P a g e
buffing kecil (300-350) dan diulangi dengan menggunakan kertas buffing
nomer yang lebih tinggi (600-800) untuk mendapatkan permukaan yang
lebih halus demikian seterusnya. Kertas buffing yang paling besar yang
digunakan untuk kulit adalah 900. Perlu diketahui nomer kertas buffing
menunjukan ukuran besarnya (mess) butiran silica padea kertas tersebut.
Semakin kecil messnya, nomer kertas semakin tinggi dan hasilnya buffing
akan semakin halus.

Kulit yang permukaannya telah di impregnasi dengan polimer akan lebih


padat,

sehingga pada saat di ampelas akan menghasilkan serat/potongan serat


lebih seragam dibandingkan dengan yang tidak diampelas. Masalah akan
muncul bila pada saat impregnasi lapisan terbentuk diatas permukaan kulit
dan serat dekat permukaan dibloking oleh polimer yang berlebihan sehingga
buffing akan terhambat dan umur pakai kertas ampelas semakin pendek.

Setelah dibufing permukaan kulit disikat dari sisa serat/debu yang


menempel. Proses ini dapat pula dilakukan dengan menggunakan mesin
penyedot debu kusus untuk kulit. Proses ini disebut dedusting. Debu yang
menempel dipermukaan kulit dapat menyebabkan adhesi lapisan cat tutup
terganggu.

22 | P a g e
4. Staining.

Staining adalah proses yang dilakukan untuk meratakan warna permukaan


kulit dengan menggunakan dyestuff, baik yang menggunakan pelarut air
atau pelarut polar spt BA, thinner, alcohol dll. Staining terutama ditujukan
apabila warna hasil dyeing tidak sempurna, kurang rata, warna pucat,
kurang tajam, kurang hitam, tidak matching dengan contoh warna sifatnya
hanya memperbaiki warna permukaan agar lebih baik. Setelah permukaan
kulit diampelas warna kulit tidak rata, pucat sehingga diperlukan perbaikan
tampilan seperti semula sehingga staining sangat diperlukan untuk kulit
CGB. Staining dapat menggunakan dyes yang bermuatan anionik dan
kationik, tetapi umumnya menggunakan dyes yang anionik, metal kompleks
baik yang larut air atau pelarut organik.

Aplikasi staining umumnya menggunakan alat semprot ( spray-gun) dengan


jumlah dyes relative kecil 15-20 gr/l pelarut ditambah dengan penetrator
yang sesuai. Staining yang berlebihan akan menyebabkan timbulnya efek
bronzing pada permukaan kulit terutama bila menggunakan dyestuff yang
bermuatan kationik. Aplikasikan merata kepermukaan kulit, sebesar 10-15
gr larutan staining untuk setiap luas satu sqft, keringkan dan ulangi bila
perlu.

5. Base Coating.

Seperti telah diuraikan diatas base coat adalah lapisan pertama yang akan
mendasari, sebagai pondasi dr lapisan cat tutup secara keseluruhan. Lapisan
ini merupakan lapisan yang paling fleksibel, soft karena menjadi tumpuan
semua lapisan dan yang paling kuat mendapat tekanan (flexing) ketika
digunakan. Besarnya sifat fleksibilitas base coat disesuaikan dengan tingkat
kelemasan kulit yang bersifat relative, sehingga base coating untuk garmen
akan berbeda dengan base coating untuk sepatu.
23 | P a g e
Karena menjadi tumpuan semua lapisan dan yang berhubungan langsung
dengan grain /permukaan kulit maka karakter lapisan cat tutup kulit spt:
adhesion, coverage, solvent resistance, dry cleanability, toughness, plate
release, print retention, wet soak resistance, dan tentunya flexibility
merupakan tanggung jawab lapisan ini. Oleh sebab besarnya pengaruh
lapisan base coat terhadap sifat/karakter lapisan cat tutup secara
keseluruhan maka dalam pelaksanaannya diharapkan tidak mengalami
kesalahan, sehingga semua faktor yang mempengaruhinya harus dalam
control yang benar, termasuk alat dan mesin yang digunakan.

Target aplikasi adalah mengatur keseimbangan penetrasi sehingga seolah


olah lapisan base ini merupakan bagian dari rajah kulit secara natural, yang
memiliki karakter fine break yang menjadi ciri kusus grain kulit. Untuk
memperoleh karakter diatas maka dalam pembentukan formulasi lapisan
base coat diperlukan komponen yang diklasifikasikan menjadi empat grup:

1. Diluent : Pengencer larutan binder, air, yang diatur pH keseimbangannya


dengan penambahan ammonia jika diperlukan.

2. Resin/polimer emulsion (binder): Merupakan bahan pembentuk


lapisan diantaranya emulsi akrilik dan turunannya, emulsi PUD, emulsi
butadine dll.

3. Auxiliaries: Bahan pembantu yang berupa levelling agent (leveller),


dulling agent, hardener (protein binder), filler (wax), penetrator, defoaming
agent dll.

4. Pewarna : Pewarna pigmen / dyestuff larut air.

Ad.1. Diluent.
Pengencer yang umum digunakan adalah air, bahkan teknologi finishing
yang lebih ramah lingkungan dewasa ini cenderung menggunakan “water

24 | P a g e
bases system” pada semua lapisan cat tutup kulit dan menurunkan
penggunaan bahan-bahan yang mengandung VOC (volatile organic
compound) maupun yang mengandung HAPS (Hazardouse Air Polluting
Substance). Air yang digunakan tentunya / sebaiknya yang mempunyai
kesadahan rendah, jernih dan bebas bahan kimia yang dapat
bereaksi/mengganggu kestabilan komponen cat tutup yang umumnya
merupakan dispersi koloid “emulsi”. Yang penting untuk diatur selain syarat
diatas adalah pH air, dimana diharapkan larutan tidak bersifat asam
sehingga perlu ditambahkan ammonia hidroksida [NH4(OH)] untuk
mengatur pH 7-8.

Ad.2. Binder.
Binder atau pengikat atau pembentuk lapisan tipis (film) umumnya
merupakan emulsi resin atau polimer, merupakan komponen vital/utama
dalam base-coat. Untuk memahami sifat-sifat lapisan yang akan terbentuk
terlebih dahulu harus dipahami jenis emulsi resin/polimer yang akan
digunakan mengingat banyak sekali jenis yang dapat dipakai.

Memahami emulsi polimer, perlu juga memahami sifat kimiawi dari surface
active agent yang terdapat dalam emulsi, karena umumnya bahan- bahan
inilah yang membentuk dan menstabilkan emulsi. Seperti halnya pada
fatliquore, jenis emulsi yang digunakan bersifat O/W, dengan muatan
anionik, nonionik dan kationik.

Emulsi resin/polimer seperti akrilik terdispersi dalam media air (cairan).


Walaupun merupakan water based, lapisan film kering yang terbentuk tidak
larut air. Spesifikasi dari resin spt: ukuran partikel, pH, stabilitas, muatan,
BM, sangat berpengaruh terhadap lapisan yang terbentuk Film values (film
characteristic) meliputi sifat, glass transition (Tg) temperature pada
temperature rendah atau break temperature, kerekatan (tackiness),

25 | P a g e
extensibility, recovery, clarity, tensile strength, elongation at break/tear
strength (E-modulus), relative toughness atau hardness (shore A atau D),
water uptake dll.
Penggunaannya tergantung aplikasi dan yang akan dicapai namun karena
base coat memerlukan sifat yang sangat fleksibel maka resin atau polimer
yang digunakan bersifat termoplastik seperti resin akrilik dan turunannya.
Ada beberapa sifat penting terkait dengan pembentukan lapisan/film yang
termoplastik yaitu Tg.
Tg, singkatan dari "glass (transition) temperature”, sifat yang penting untuk
thermoplastic polymers, karena berhubungan erat dengan pembentukan
lapisan film pada temperature minimum MFT (minimum film formation
temperature) dan fleksibility pada temperature rendah. Polymers dengan
nilai Tg yang lebih rendah dari ambang batas umumnya membentuk lapisan
yang lebih “soft” dibandingkan dengan nilai Tg yang lebih tinggi yang akan
menghasilkan lapisan lebih "hard” or "stiff”. Jenis polimer dan nilai Tg’s
dapat dilihat dalam table dibawah ini.

26 | P a g e
Dari data diatas dapat kita lihat Tg masing masing resin/polimer yang
bervariasi dari tempertur minus (-1000) hingga plus (+2430). Dari beberapa
hasil penelitian yang menggunakan resin akrilik dan derivative nya,
terutama yang digunakan sebagai base coating agent diperoleh data sebagai
berikut.

Dari data diatas tampak bahwa semakin tinggi Tg elongasi semakin kecil
tetapi kuat tarik semakin besar (tensile strength). Data diatas menunjukan
pada Tg yang rendah akan menghasilkan polimer semakin mulur, elastic dan
fleksibel, lebih bersifat rekat (tack) namun adhesinya terhadap kulit baik.

Resin akrilik selama ini merupakan tulang punggung system base coat
karena memiliki sifat yang sangat beragam. Penggunaannya dapat dicampur
antara Tg rendah dan tinggi atau antara 2 atau3 jenis resin sehingga dapat
dihasilkan lapisan dengan karakter lapisan yang diinginkan. Sebagai contoh
base coating untuk full grain tentunya tidak sama dengan base coating
untuk CGB karena keduanya memiliki karakter yang berbeda.

27 | P a g e
- Formulasi:

Umumnya ada dua tipe/model formula base coat yang menjadi acuan
pengecatan tutup. Formula base coat untuk kulit full-grain dan formula
untuk CGB. Formulasi ini terdiri dari komponen utama spt binder,
pigmen/color, dan bahan pembantu.

Full-Grain % CGB %

Air 280 Air 360


Penetrator 20 - -
Acrylic Resin 280 Penetrating Acrylic Resin 210
Adhesion Promotor 90 - -
Tough Acrylic Resin 90 Tough Acrylic Resin 160
Auxiliary 50 Auxiliary 50
Pigment 190 Pigmen 175

Total 1000 1000

Penetrator yang digunakan Menggunakan acrylic resin


adalah diaceton alcohol, anionik yang penetrasi
butyl cellosolve

Poliurethan yang medium- Poliurethan yang medium-


tinggi kekerasannya dapat tinggi kekerasannya dapat
digunakan mengantikan digunakan mengantikan
tough acrylic tough acrylic

28 | P a g e
- Faktor-faktor yang mempengaruhi flexibility base coat.

Jumlah pigmen yang digunakan dapat berpengaruh pada flexibility lapisan.


Over loading pigmen akan menimbulkan masalah pada poor flex, thickening
ang gelation, walaupun ada beberapa jenis resin yang mempunyai toleransi
tinggi terhadap jumlah pigmen terutama terhadap penebalan dan gelation,
tetapi tetap fleksibilitynya turun drastis.

Formulator harus hati-hati dalam mengatur perbandingan penggunaan


pigmen dan resin, namun yang pasti lebih baik mengurangi jumlah pigmen
dari pada jumlah resin/binder yang digunakan. Standar yang aman dan
biasa digunakan paling tidak mempunyai perbandingan 2:1, dimana yang 2
bagian adalah binder dan 1 bagian pigmen.

- Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap thickening base coat.

Kenaikan visikositas pada dasarnya akan menyebabkan penebalan lapisan


cat tutup dan kesulitan penetrasi kedalam kulit. Lapisan yang tebal akan
berkurang ketahanannya. Kenaikan visikositas umumnya disebabkan
penggunaan solid resin diatas 20 %, dibawah persentase tersebut visikositas
cenderung stabil, yang umumnya terdapat pada resin yang sensitive
terhadap pH dan kandungan solid resinnya tinggi.

- Faktor yang berpengaruh terhadap adhesi base coat.

Seperti diuraikan diatas bahwa base coat bertanggung jawab terhadap


ikatan lapisan cat tutup dengan kulit (adhesion). Adhesi tergantung dari
kedalaman penetrasi yang sangat dipengaruhi oleh tegangan muka dan
pembasahan permukaan. Permukaan yang tinggi tegangan mukanya akan
menyulitkan penetrasi cairan cat, tetapi apabila terlalu rendah akan
menyebabkan serapan terlalu besar dan dapat menyebabkan lapisan yang
tidak homogeny. Selain itu adhesi juga dipengaruhi oleh besarnya Tg,

29 | P a g e
ukuran partikel polimer/resin (ultrafine) , kekasaran permukaan kulit,
jumlah pigment, dan tentunya jenis resin yang digunakan.

- Faktor yang berpengaruh pada abrasi dan ketahanan pakai.

Ketahanan abrasi dan pakai menunjukan kemampuan cat untuk menahan


kerusakan, lecet, mengelupas, akibat gesekan dengan benda keras,
terutama pada saat dipakai dan dalam proses pembuatan. Beberapa hal
yang mempengaruhi sifat ini antara lain : ketebalan lapisan, modulus
lapisan, area kontak, kelicinan permukaan kulit (surface slip), fleksibility
lapisan, dan tipe resin.

Tipe Resin Base Coat Karakter Lapisan

Acrylic & derivativ Fleksibilitas tinggi, adhesi baik, ketahanan cahaya,


ketahanan abrasi, moldability (…)

Butadiena/Acrylonitrile) Efek mengisi, opacity/dullness, plate realease, molding,


kestabilan mekanik tinggi.

Poliurethan Ketahanan abrasi tinggi & tougness

Casein & Poliamida Tahan pelarut organic, aesthetic, plating baik

Dalam aplikasi pembuatan formula terkadang timbul masalah-masalah yang


tidak diharapkan seperti kesalahan pembuatan komposisi, kesalahan
penimbangan, kesalahan penggunaan resin baik jumlah maupun jenisnya
sehingga sebelum diimplementasikan kedalam produksi sebaiknya dicoba
dalam sekala kecil 1-2 lembar sehingga apabila ada permasalahan segera
dapat diperbaiki karena lapisan polimer yang telah terbentuk akan sulit
sekali untuk dihilangkan mengingat tidak dapat larut air dan telah terikat
kuat pada permukaan kulit.

30 | P a g e
Ada beberapa problematik yang sering muncul pada saat pembuatan lapisan
base coat, baik menyangkut persoalan lapisan maupun pada kulitnya dan itu
harus segera diperbaiki sebelum berlanjut ke lapisan berikutnya.
Diantaranya adalah lapisan sangat lengket (tacky), leather hungry, leather
Nicking, leather open, leather cut through, finish not adhere.

Tabel : Trouble shooting in base coat.

Problematic Causes Remedies

1. Tacky (lengket) - Resin terlalu lunak -Gunakan resin lebih keras (Tg)
Bila dipegang seperti -Drying agent kurang -Tambahkan pigmen, wax,
terasa lengket danb poliurethan.
rekat bila ditumpuk - Kelebihan
penggunaan resin -Tambahkan air, jika mungkin
kurangi jaumlah rasionya.

2. Leather hungry. -Pigmen terlalu kecil -Tambahkan pigmen sesuai


dengan aturan.
Permukaan kulit tidak -Penetrasi terlalu
tertutup dan berisi dalam -Tambahkan penebal thickener,
setelah base coat
atau rheology modifier.
-Kandungan bahan
aktiv (solid) rendah -Tambahkan bahan aktif /solid
kedalam formula.

3. Leather nicking. -Kelebihan bahan -Naikan tingkat penetrasi


finishing secara dengan menambah air,
Bila kulit di milling
dalam drum terjadi
keseluruhan, terlalu tambahkan polar solvet.
scuff krn gosokan pekat
dengan dinding drum.
-Lapisan terlalu
-Tambahkan resin yang lebih
lembut/lunak
keras atau poliurethan.
-Adhesi rendah
-Gunakan resin dengan partikel
yang lebih kecil.

4. Leather Open. -Larutan finishing -Encerkan/tambah air agar

31 | P a g e
Terjadi over pigmen, terlalu pekat penetrasi meningkat
drying agent dan kurang
penetrasi khususnya di
-Pigment /resin terlalu -Tambah resin dalam
pocket area.
tinggi perbandingan dengan pigmen.

-Resin system terlalu -Ganti dengan tipe resin yang


rendah kuat teriknya tinggi kuat tariknya

5. Cuts through on -Tensile strength -Tambahkan poliurethan dalam


embossing. lapisan rendah formula.
Pada saat di embossing -Temperatur terlalu - Turunkan temperature plating
pada suhu dan tekanan
tinggi terjadi bekas print
tinggi dang anti dengan resin tahan
menembus lapisan cat. panas.

6. Lapisan film tidak -Permukaan/grain -Tambahkan ammonia, water


terikat kuat pada dilapisi minyak, wax, missible solvent, naikan
kulit. sehingga menghalangi perbandingan resin:pigmen
adhesi.
Lapisan/film base coat
mudah mengelupas
apabila digosok .

Ad.3. Auxiliaries.

Auxiliaries memang bukan bahan utama dalam komponen base coat


dibandingkan dengan bider, tetapi bahan ini me-fasilitasi nilai-nilai aesthetic
dan free-trouble prosessing. Banyak sekali perbaikan atau perubahan,
modifikasi yang dapat dikontrol dengan menggunakan bahan pembantu
yang tepat. Termasuk dalam mengontrol sifat-sifat yang berhubungan
dengan : aesthetic, leveling, gloss, opacity, face, fill, smoothness. Mengingat
banyaknya efek yang dapat ditimbulkan oleh pengunaan bahan pembantu
atau auxiliaries ini penggunaannya juag harus melihat tipe dan jenis serta
komponen yang terkandung dalam bahan tersebut. Jenis bahan pembantu
yang sering digunakan dalam komposisi base coat antara lain :

32 | P a g e
1. Waxs Emulsion  Keras sampai lunak ( hard vs soft)
2. Fillers atau extenders.
3. Flow Improvement.
4. Penetrators
5. Anti Sticking Agent/Hardener
6. Plasticiter Agent.
7. Defoamer.

1. Waxs.

Selain pada base coat, waxs juga digunakan pada top coat walupun dengan
jenis dan fungsi yang berbeda. Waxs yang digunakan umumnya dalam
bentuk emulsi baik nonionic, kationik dan nonionic, fungsi pada base coat
lebih cenderung sebagai filler, terutama wax yang keras seangkan wax yang
bersifat lunak dapat berfungsi sebagai softener lapisan base coat. Beberapa
jenis wax yang sering digunakan dan sifat kekerasannya.

Tabel : Basic Waxs Commerce.

Tipe Wax Sifat Fungsi Melting Point Keterangan


©

Bees Wax Lengket, Filler 61-65 Lebih cenderung


amorphouse sbg pull-up

Carnauba Keras, tidak Filler 82,5-86 -


lengket, lustrous,
brittle.

Micro Lengket-tidak Softener, 60-90 -


crystalline lengket, plastis plastisizer

Montan Keras, pecah, Filler 82-87,7 -


kering, lustrous

Parafin Lunak-keras, oily, Softener, 48-74 Untuk Crazy finish,


kering plastisizer, filler flow improvement

2. Filler.

Seperti disinggung diatas filler/filling agent yang digunakan umumnya


adalah emulsi wax yang dicampur dengan bahan seperti albumen, kaoline,

33 | P a g e
asam salisilat, talcum dan wax yang digunakan umumya bersifat medium
hard- hard. Filler biasa digunakan untuk kulit split atau yang mengalami
buffing seperti CGB. Dengan penambahan filler ini lapisan base coat akan
terasa padat pegangannya.

3. Flow Improvement.

Terkadang ditemukan kulit samak yang closed surface, dengan tegangan


antar muka yang sangat tinggi, yang pada umumnya disebabkan karena
pnggunaan berlebihan dari water repellent agent, substansi lemak, paste
drying atau vacuum drying. Akibatnya permukaan kulit mengalami kesulitan
untuk menjadi basah apalagi apabila pengecatannya menggunakan
semprotan ( spray gun) atau curtain coating tanpa mengalami rubbing.
Pembasahan yang tidak merata akan menghasilkan dark zone atau drop in.
Untuk mengatasi masalah tersebut ditambahkan flower improvement yang
terdiri dari surface active agent, foamless wetting agent yang merupakan
komponen fatty alkyl sulphate, paraffin atau alkilarene sulphonate, ester
asam sulpho succinat.

4. Penetrator.

Terutama digunakan pada impregnasi dan base coating untuk mengatur


penetrasi kedalaman komponen finishing dibawah grain layer. Produk ini
merupakan solven organic yang water missible atau substansi surface active
agent.

34 | P a g e
Gb: Water Drop Test

Jumlah penggunaannya sangat tergantung dar serapan kulit crust sebelum


di finishing atau disesuaikan dengan hasil drop water test sebelum finishing
dimulai. Bila hasil WDT menunjukan serapan yang rendah penggunaan
penetrator antara 25-30 g/ lt cairan finishing, namun bila menunjukan
serapan tinggi jumlahnya dapat dikurangi hingga 10-15 g/l larutan finishing.
Gunakan penetrator yang non ionic atau disesuaikan dengan muatan binder
yang digunakan. Jumlah yang tidak tepat,penggunaan yang berlebihan
dapat menyebabkan swelling serat kulit dan meningkatnya sensitivitas
kelembaban, dapat menyebabkan penetrasi terlalu dalam.

5. Anti Sticking Agent/Hardener.

Apabila setelah aplikasi base coat lapisan terasa lengket maka dalam lapisan
berikutnya dapat ditambahkan bahan antisticking agent atau hardener.
Tetapi apabila setelah base coat akan di ironing atau embossing maka
lapisan base coat harus tidak lengket karena akan menyebabkan kesulitan
pada saat ironing atau embossing, diperlukan penambahan anti sticking
agent. Tackiness dapat dikurangi dengan menambahkan emulsi waxs atau
paraffin, silicon, binder Non-thermosetting seperti casein binder, poliurethan

35 | P a g e
yang juga termasuk dalam kategori hardener dapat juga digunakan sebagai
anti-sticking agent.

Hardener atau cross-linking agent umumnya digunakan apabila


menggunakan binder poliurethen, kerena lapisan film poliurethan hanya
akan terbentuk bila ada cross lingker. Umumnya produk ini merupakan
komponen poliisocyanate, polifungsional aziridine, binder poliamida atau
casein.

6. Plasticizer Agent.

Palstisizer sering ditambahkan pada base coat terutama untuk kulit –kulit
yang tempernya lunak seperti sarung tangan, garmen, nappa, softy leather.
Artinya penggunaan bahan ini sangat tergantung dari fleksibelitas kulit
jadinya. Penambahan bahan ini akan menyebabkan meningkatnya
kemuluran dan elatisitas lapisan base coat dan mencegah terjadinya
embrittlement seluruh lapisan finishing. Ada berbagai tipe dari plastiziser
dan pengguaannya disesuaikan dengan tipe binder yang digunakan.

1. Produk untuk water soluble finishing agent.

-Sulphated Castor Oil: Disebut juga Turkey Red Oil, mempunyai efek
pembasahan yang tinggi sehingga penggunaannya harus terkontrol
karena akan menurunkan ketahanan lapisan finish.

-Emulsi dr higher molecular alcohol wax : Turunan dari poliglikol,


glikolether, gliserol, atau esternya. Bahan akan meningkatkan
kepadatan lapisan cat tutup (fullness) dan mengurangi kelengketan
selama proses ironing/plating/embossing. Jangan gunakan terlalu
berlebihan karena dapat menyebabkan efek water repellent.

36 | P a g e
2. Produk untuk solven- finishing (non gelatinizing)

-Vegetable Oil: Yang sangat umum digunakan adalah castor oil atau
minyak biji rami (rape oil). Dalam aplikasinya disarankan untuk
dikombinasi dengan produk plastisizer sintetis. Jangan digunakan pada
lapisan nitroselulose.

3. Produk untuk solven- finishing (gelatinizing).

-Minyak sintetis:Umunya merupakan produk esterifikasi dari asan


adipat dan asam phtalat. Mempunyai efek melarutkan nitroselulose
dan polimer.

-Camphor: Merupakan keton dalam bentuk Kristal. Disamping


mempunyai efek plastisizer juga dapat meningkatkan glazing
properties dari cairan nitroselulose.

7.Defoamer.

Busa akan timbul dalam jumlah cukup besar khususnya apabila


menggunakan curtain coating karena secara konstan dilakukan pengadukan
pada cairan finishing. Busa juga akan timbul ketika dilakukan
pengulasan/rubbing base coating yang berulang-ulang, walaupun tidak
sebanyak menggunakan curtain coating. Sebagai akibatnya gelembung
udara akan terperangkap dalam lapisan film dan sulit untuk mencapai hasil
yang rata. Busa dapat dihilangkan dengan menggunakan dan menambahkan
alcohol, ethyl glikol, lacquer emulsi dan stable binding agent. Selain itu
dapat pula mengatur kecepatan pengadukan pada wadah lebih perlahan.

37 | P a g e
Ad.4. Colorant (Pewarna)

Ada beberapa mazab ilmuwan yang mengatakan base coat bukan


merupakan lapisan pewarna walaupun dapat ditambahkan warna
didalamnya, terutama dengan tujuan untuk meratakan warna dasar saja.
Namun ada pula yang mengatakan lapisan base coat tidak perlu ada
pewarna, pewarna ditambahkan pada lapisan kedua sesuai dengan
fungsinya. Dalam aplikasinya dilapangan, umumnya selalu disesuaikan
dengan kondisi dan tergantung kepentingannya, namun umumnya pewarna
ditambahkan waluapun konsentrasinya tidak sebesar lapisan warna.

Seperti telah disinggung berualang-ulang tentang pewarna, dan fungsi nya


dalam industri kulit. Pewarnaan pada saat dyeing menggunakan dyestuff
yang lazim disebut warna dasar sedangkan pewarnaan pada finishing
disebut cat tutup, yang sebagian besar (90%) menggunakan pewarna
pigmen, kecuali untuk artikel tertentu terutama untuk kulit reptile
menggunakan pewarna lake, dyes atau lazim disebut aniline.

Secara umum pewarna dapat digolongkan menurut sumbernya, alam &


sintetis. Pewarna alam dapat merupakan komponen organik seperti yang
terdapat pada tanaman, serangga contoh sianin, asam karminat, lawson,
indigo, alizarin dll atau yang merupakan mineral seperti warna pada batuan
alam.

Selain kelompok pewarna alam dikembangkan pula kelompok pewarna


sintetis, baik organik maupun mineral. Bahkan dapat dikatakan dewasa ini
kelompok pewarna sintetis yang memegang peran penting dalam
perkembangan industri, baik industri kulit, tekstil, makanan & minuman,
kertas dll, termasuk didalamnya pewarna dyes & pigmen.

38 | P a g e
Pigment

Pewarna pigmen merupakan pewarna yang berasal dari alam, mineral,


batuan yang bersifat covering atau menutup permukaan sehingga 90%
digunakan pada proses finishing atau pengecatan tutup. Bedanya dengan
dyestuff adalah pigmen tidak bereaksi secara kimiawi tetapi melekat karena
direkatkan oleh binder, sedangkan dyestuff bereaksi dengan serat kulit dan
tidak mempunyai efek menutup dan jarang digunakan sebagai pewarna
finishing, kecuali reptile atau aniline finished leather.

Sebagai pewarna kulit baik dyestuff atau pigmen tidak ada yang merupakan
pewarna tunggal, artinya selalu harus ada pencampuran warna atau color
matching/mixing. Hanya saja color mixing tidak begitu sesuai untuk
digunakan dalam pewarnaan dasar tetapi sangat berguna untuk finishing
terutama yang menggunakan pigmen.

Pigmen, bila merujuk dari bahasa medical, berarti “black tar heroin”. Pigmen
merupakan bahan yang dapat merubah pantulan warna apabila terkena
warna cahaya putih akibat dari serapan warna selektif. Proses fisika ini
berbeda dengan peristiwa fluorescence, phosphorescence, dan bentuk-
bentuk pendaran cahaya lainnya (luminescence), dimana kemungkinan
bahannya sendiri telah menghasilkan “emit light”. Beberapa materi / bahan
secara selektif akan menyerap panjang gelombang cahaya tertentu.
.Material-material yang mempunyai karakteristik tertentu dikembangkan dan
dipilih kemudian disebut pewarna pigmen dengan sifat ideal untuk dapat
mewarna benda/bahan lainnya. Pigmen harus mempunyai tinting strength
yang relative tinggi terhadap warna yang akan diwarnai. Pigmen dalam
bentuk padatan harus stabil terhadap temperature tinggi (ambient
temperatures).

39 | P a g e
Gb: Pantulan cahaya akibat serapan material

Gb: Contoh pantulan pada Rosco R80 (Wikipedia)


Pigmen dapat dibedakan sebagai materi yang tak larut (insoluble), yang
merupakan suatu suspension, dan dye disatu sisi merupakan materi larut
yang merupakan larutan. Sedangkan colorant dapat merupakan pigment
atau dye dan pada kasus tertentu keduanya dapat digunakan bersama
sebagai pewarna dala finishing kulit. Pigment juga dapat dibuat dari
mengendapkan dye terlarut dengan garam metallic, dan hasilnya disebut
sebagai salt lake pigment.
Contoh Pigmen :

40 | P a g e
1. Arsenic pigments: Paris Green
2. Carbon pigments: Carbon Black, Ivory Black, Vine Black, Lamp Black
3. Cadmium pigments: cadmium pigments, Cadmium Green, Cadmium Red,
Cadmium Yellow, Cadmium Orange.

4. Iron oxide pigments: Caput Mortuum, oxide red, Red Ochre, Sanguine,
Venetian Red, Prussian blue
5. Chromium pigments: Chrome Green, Chrome Yellow
6. Cobalt pigments: Cobalt Blue, Cerulean Blue, Cobalt Violet, Aureolin,
Prusian Blue.

Shades of blue

Air Force Brandeis Carolina Cobalt Columbia


blue Alice blue Azure Baby blue Blue blue blue Cerulean blue blue

Cornflower Duke Egyptian Electric Intl. Klein


blue Dark blue Denim Dodger blue blue blue blue Han blue Indigo blue

Majorelle Maya Midnight Navy Persian Powder Prussian


Light blue blue blue blue blue Periwinkle blue blue blue Royal blue

Steel Yale
Sapphire Sky blue blue Ultramarine blue

41 | P a g e
7. Lead pigments: lead white, Naples yellow, Cremnitz White, red lead
8. Copper pigments: Paris Green, Verdigris, Viridian, Egyptian Blue, Han
Purple
9. Titanium pigments: Titanium White, Titanium Beige, Titanium yellow,
Titanium Black
10. Ultramarine pigments: Ultramarine, Ultramarine Green Shade, French
Ultramarine.

11. Mercury pigments: Vermilion

12. Zinc pigments: Zinc White


13. Biological origins: Alizarin, Alizarin Crimson, Gamboge, Indigo, Indian
Yellow, Cochineal Red, Tyrian,Purple, Rose madder

14. Clay earth pigments (mengandung iron oxides): Raw Sienna, Burnt
Sienna, Raw Umber, Burnt Umber, Yellow Ochre.

42 | P a g e
e

Shades of brown

Raw Burnt Burnt


Auburn Beige Bistre Bole Brown Buff umber sienna umber Chocolate

Copper Cordovan Ecru Fallow Khaki Liver Mahogany Ochre Wheat Russet

Sandy Seal
Rust brown brown Sepia Sienna Tan Taupe

15. Other Organic Pigment: Pigment Red 170, Phthalo Green, Phthalo Blue,
Quinacridone Magenta

43 | P a g e
Color Matching.

Yang disebut sebagai colour matching atau colour mixing adalah metoda
mencampurkan 2 atau lebih warna pigmen untuk mendapatkan warna
tertentu. Dalam industri kulit color matching sangat penting mengingat
keterbatasan jenis warna tunggal atau warna primer yang tersedia dan
kebutuhan pemenuhan permintaan pasar yang mengikuti pola industri
kreatif yang fashionable dan colorfull, khususnya pada finishing karena pada
proses dyeing, pencampuran warna tidak dapat dijadikan patokan utama
untuk mendapatkan warna tertentu karena seperti kita ketahui warna akhir
sangat dipengaruhi oleh temperature, pH, konsentrasi, retanning yang
dilakukan sebelum pewarnaan apalagi kita ketahui retanning agent nabati
mempunyai warna-warna coklat yang sangat perpengaruh pada warna akhir
kulit, apalagi bila warna yang dikehendaki adalah warna muda. Dapat
dikatakan colour mixing digunakan hanya sebagai alat pendekatan semata
untuk mencapai sasaran warna akhir. Ketidak tepatan pada saat pewarnaan
dasar umumnya diperbaiki pada finishing

Ada beberapa cara yang digunakan sebagai dasar untuk mencampurkan


warna, namun sebelum hal tersebut dilakukan ada beberapa factor karakter
yang harus dipahami. Pada dasarnya metoda color mixing lebih tepat
dilakukan untuk warna mineral atau pigmen yang memang mempunyai sifat
yang lebih stabil dibandingkan dengan dye’s dan lebih tepat dilakukan pada
coating atau finishing. Warna pigmen bersifat sebagai disperse koloid
sedangkan dyes mereupakanlarutan sehingga untuk mencampurnya sangat
beresiko.

Selain itu untuk menghindari penyimpangan warna yang terlalu jauh dan
untuk menjaga kerataan warna ada beberapa persyaratan teknis dalam
color mixing yang harus dipenuhi untuk mendapatkan warna yang lebih

44 | P a g e
homogeny dan rata, maka pencampuran warna harus mengikuti kaidah-
kaidah dalam metoda pencampuran warna dan mengenal warna primer apa
yang akan digunakan sebagai dasar.

Ada tiga metoda yang kini banyak digunakan sebagai landasan untuk
pencampuran warna. Pertama metoda konvensional: yaitu metoda
pencampuran warna yang pertama kali, yang menggunakan warna utama

atau primer, warna : red, blue, yellow atau disingkat (RBY).

Dalam perkembangannya muncul metoda pencampuran warna kedua yang

menggunakan warna dasar utama, warna: red, green, blue


(RGB). Metoda ketiga adalah pencampuran warna yang menggunakan warna

dasar, warna : cyan, magenta, yellow, khi/black atau


disingkat (CMYK).
1.Metoda Konvensional
Metoda yang dikembangkan oleh Newton atau sering disebut
sebagai Newtonian color yang menggunakan warna utama atau
warna dasar merah, biru dan kuning. Warna utama bila
dicampurkan dalam porsi / bagian yang sama akan menghasilkan
warna hitam. Lihat gambar dibawah ini.

45 | P a g e
Gambar : Color Wheel

Gambar : Campuran warna RBW

46 | P a g e
2.Metoda RGB.
Metoda yang menggunakan warna primer merah, hijau dan biru
sebagai dasar pencampuran warna. Merupakan teori yang lebih
maju karena warna dipandang dalam bentuk tiga dimensi dengan
mempertimbangkan ada nya efek hue (warna normative), saturasi
(kejenuhan warna), serta value/luminans atau kecerahan cahaya.
Warna dasar dari system ini adalah sebagai berikut :

- Hue : Perbedaan warna karena adanya perbedaan panjang


gelombang. Hue ditentukan oleh panjang gelombang. Hue dapat
dibagi menjadi 360 seperti diagram lingkaran.
- Saturasi : Ukuran kemurnian atau kejenuhan warna. Warna
memiliki saturasi 100% bila jernih dan tajam, namun bila kurang
dari 100% berarti warna pucat. Saturasi 0% berarti warna amat
sangat pucat sehingga hanya seperti banyangan. Dalam pewarnaan
kulit penurunan saturasi warna biasanya terjadi bila menambahkan
bleaching syntan, tetapi untuk meningkatkan saturasi biasanya
ditambahkan bahan kimia yang bermuatan kationik yang
meningkatkan ketajaman warna seperti resin atau garam

47 | P a g e
aluminium atau chromium. Saturasi dalam gelombang fisika
merupakan spectrum frekuensi panjang gelombang utama.
- Value/brightness/luminnence : Menunjukan terang dan gelapnya
warna. Sama dengan saturasi, value dibagi dalam satuan 0%-
100%. Nilai 100% berarti sangat terang sedangkan 0% berarti
gelap. Luminence dalam gelombang fisika dianggap sebagai
amplitude gelombang warna.

Gambar : Hue, Saturasi, Value warna

48 | P a g e
3.Metoda CMYK.
Metoda yang menggunakan dasar pencampuran warna-warna cyan,
magenta, yellow, dan black. Agak berbeda dengan metoda RGB
karena posisinya saturasi yang tidak sama, dimana CMYK memiliki
% saturasi lebih tinggi, sehingga CMYK menghasilkan warna lebih
terang.

Gambar : Warna primer CMYK

49 | P a g e
Selain unsur-unsur diatas pencampuran warna dengan warna hitam dan
putih akan menghasilkan istilah – istilah yang sering digunakan secara
praktis dilapangan seperti tint, tone dan shade. Gambaran atau hubungan
ketiganya tampak sebagai berikut.

Gambar : Perbedaan shade, tone dan tint

50 | P a g e
Secara keseluruhan struktur warna dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar : Struktur warna menurut metoda CIE.

51 | P a g e
-Beberapa Contoh Perbedaan Warna Karena L & S

- Berdasarkan perbedaan Luminance, dengan hue=20 dan saturation=240.

Gambar: degradasi warna krn perbedaan luminance.

Apabila tidak diamati dengan cermat gambar diatas seolah olah merupakan
warna dengan hue yang berbeda. Dalam pencampuran warna seyogyanya
untuk membuat warna yang tua jangan tambahkan warna hitam tetapi
warna dengan luminance yang lebih besar atau apabila terpaksa gunakan
warna biru tua.

- Berdasarkan perbedaan saturation, pada hue=21 dan luminance= 114.

Gambar :degradasi warna karena saturasi berbeda

-Teknik Pencampuran (Maching).

Prinsip yang digunakan seperti telah diuraikan menggunakan apa yang


dinamakan color circle/whell. Mulai dengan warna dasar menurut RGB atau
CMYK atau konvensional RBY, pada dasarnya tidak berbeda terlalu banyak
apabila diterapkan dalam industry kulit. Buatlah color circle dan tentukan
perbandingan dua warna, dikuti 3 warna dstnya.

52 | P a g e
Gambar : Color Wheel Matching

Keterangan :

1. Black merupakan hasil campuran dr : 3,3Y+3,3B+3,3R.

2. Blue Green : 3Y+7B

3. Green : 5Y+5B

53 | P a g e
4. Lemon : 7Y+3B

5. Dafodil : 7Y+3R

6. Orange : 5Y+5R

7. Blue-Red : 7R+3B

8. Purple : 5R+5B

9. Red-Blue : 7B+3R

10. Brown : 4Y+4R+2B


11. Navy : 2Y+4R+4B
12. Olive : 4Y+4B+2R

- Primary Color : merupakan warna tunggal “HUE” dalam circle color


diatas adalah red, yellow, blue.
- Binary Color : Merupakan warna campuran dua warna primer spt
orange, daffodil green.
-Tertiary Color : Merupakan campuran warna yang mengandung semua
unsure warna primer spt brown, navy, olive dll.
Semakin banyak warna dicampur maka campuran akan semakin
tua(darker/duller). Demikian pula bila menambahkan warna hitam dalam
campuran akan menunjukan warna yang buram. Warna putih dalam
campuran tidak akan menyebabkan campuran warna menjadi cerah tetapi
menjadi warna muda. Warna cerah akan dicapai dengan baik bila campuran
hanya terdiri dari dua warna primer dengan frekuensi yang berdekatan. Ada
beberapa hal yang digunakan sebagai guidance untuk mencampur warna
dengan benar.

54 | P a g e
- How to kill a color/remove a color in mixture
Setiap warna sekunder merupakan campuran dua warna primer dan
meninggalkan satu warna primer lainnya. Contoh warna orange
merupakan campuran dua warna primer yaitu merah dan kuning
namun orange tidak memilik / kehilangan warna biru. Sedangkan
warna green hasil campuran warna biru dan kuning, kehilangan merah.
Apabila kita akan menghilangkan atau “kill” warna orange reddish yang
kemerahan maka kita harus menambahkan warna green dalam
campuran. Akan terlihat warna orange netral hasil campuran seimbang
dengan yellow+red. Atau sebaliknya bila kita mempunyai warna hitam
kehijauan ( black greenish) untuk menghilangkan hijau ditambah
merah.

Gambar : Black reddish


ditambah (kill by) green
untuk menjadi”BLACK”:

Gambar : Red bluish


ditambah (kill by) orange
menjadi “RED”

55 | P a g e
1. Avoid “muddy” or dirty color to obtain clean/lively ones.

Pada saat mencampur tiga warna primer mastone dalam jumlah seimbang
umumnya akan mendapatkan warna hitam murni. Tetapi bila
perbandingannya tidak seimbang akan mendapatkan warna yang cenderung
kecoklatan. Contoh warna olive merupakan campuran dari : 4Y+4B+2R,
tetapi bila red ditambah akan mendapatkan warna yang olive yang lebih
merah sehingga tampak kecoklatan atau yang disebut “muddy” atau kotor.
Untuk menghilangkan hal tersebut ditambahkan warna green sehingga
diperoleh warna olive yang clean match atau lively color. See below:

Gambar: Mencegah terjadinya muddy.

Gambar : Biege kemerahan ditambah hijau jadi “beige muddy”

56 | P a g e
Gambar : Grey-greenish menjadi “muddy” bila ditambah merah/pink

2. Some Do’s and Don’t in color matching.


Untuk mendapatkan warna campuran yang sempurna dan tidak
menimbulkan permasalahan ada beberapa hal yang wajib dilakukan
tetapi juga ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar. Some
DO’S & DON’T.
DON’T.
1. Jangan melihat terlalu lama ketika mengontrol/checking color
match. Setelah beberapa detik anda mengamati warna, maka mata
akan segera menyesuaikan dengan warna sehingga sangat sulit
untuk mengamati apabila ada perbedaan warna. Mata perlu
istirahat sejenak baru melihat warna lagi.
2. Jangan memegang/menggosok warna yang sedang diamati karena
warna akan berubah kotor (smudged) bila terkena finger print
(bekas tangan).
3. Jangan evaluasi warna matching dekat dengan permukaan
(tembok, papan, dinding) yang memantulkan warna permukaan.
Pantulan warna hijau akan menghilangkan warna merah, pantulan
warna biru akan menghilangkan warna orange sehingga akan
menimbulkan salah evaluasi karena salah satu warna mati.
57 | P a g e
DO
1. Gunakan northern light sebisa mungkin. Northern light akan
mengurangi tendensi cahaya lebih kemerahan terutama pagi dan
sore hari. Namun lebih baik lihat dicahaya lampu putih neon 1000
watt.
2. Pada saat evaluasi warna matching selalu swatches dengan contoh
warna. Untuk mendapatkan ketepatan yang tinggi pegang hasil
warna matching dengan tangan kiri dan sampel warna dengan
tangan kanan dekatkan hingga hialng bias diantaranya.
3. Lakukan control atau cheking warna pada saat warna telah benar-
benar kering karena air akan menyebabkan luminance turun atau
tampak lebih tua/gelap, apalagi warna-warna tan atau brown.
4. Tambahkan warna putih atau hitam hanya bila terpaksa dan lakukan
dengan perlahan-lahan dan hati-hati. Warna hitam akan merubah
warna secara radikal bahkan bila ditambahkan dalam jumlah yang
kecil.
5. Pilih dengan baik dan benar warna (base color) dan shading-nya
untuk lebih memudahkan control warna. Bila base color yang
digunakan tidak tepat akan menyulitkan dalam mencampur warna.
Yang perlu dipahami adalah ada lebih dari satu cara untuk
mendapatkan warna yang sama, tetapi umumnya para matcher
harus mencoba untuk mendapatkan color base shading yang lebih
mendekati warna control.
6. Gunakan contoh sampel sebesar yang memungkinkan. Contoh kecil
akan menyulitkan untuk membedakan satu warna dengan warna
lainnya, karena mata manusia mempunyai kemampuan mengenal
10 juta warna berbeda.
58 | P a g e
F.6. Intermediate /Color Coat
Intermediate atau color caot lapisan yang berada diantara base coat dan top
coat. Sifat lapisan lebih keras dibandingkan dengan base coat tetapi lebih
lunak dan fleksibel bila dibandingkan dengan top coat. Selain itu, lapisan ini
merupakan lapisan pembawa warna utama, artinya pigment yang digunakan
terbesar jumlahnya terdapat dilapisan ini selain terdapat di-base coat.
Salah satu tantangan terbesar dalam finishing adalah bagaimana membuat
formulasi pada setiap lapisan sehingga selain memenuhi kaidah dan
persyaratan fisik yang spesifik setiap jenis kulit juga memenuhi rasa
keindahan atau aesthetik yang natural. Intermediat coat merupakan
tahapan kedua dari finishing yang mempunyai tanggung jawab spesifik
selain sebagai pembawa warna.
Lapisan ini mempunyai tugas menyiapkan permukan kulit akan siap untuk
menerima aplikasi mekanik plating, printing, ironing, embossin, milling dll.
Perlu diingat bahwa dalam operasi mekanik kulit akan banyak menerima
panas dan tekanan tinggi yang dapat menyebabkan masalah permukaan spt
lengket, mengelupas dr lapisan base coat dll. Denagn lapisan intermediat
diharapkan lapisan akan meningkat ketahanan fisiknya selain mendapatkan
efek kusus seperti inlay, blotches, stucco, antic, dll.
Bahan atau substansi yang digunakan hampir sama dengan yang digunakan
pada lapisan base coat antar lain binder, pewarna dan auxiliaries. Namun
dalam penyusunan komponen diarahkan untuk menggunakan polimer yang
menghasilkan lapisan/film yang lebih keras dibanding base coat. Pengaturan
kekerasan film ini sangat penting. Untuk binder yang lunak dapat dikeraskan
dgn tambahan binder yang lebih keras, atau dgn penambahan pigmen yg
lebih banyak.
Beberapa jenis binder yang sering digunakan sebagai komponen utama pada
lapisan ini antar lain:

59 | P a g e
1. Polymethacrylate : Polimer dari ester asam methaacrylic. Berlawanan
dengan acrylate, methacrylate memiliki sifat yang lebih keras namun
ketahanan yang sama.

Gb : Methylacrylate

2. Polyacrylonitrile: Hasil polimerisasi dari substansi nitril dari asam


acrylic. Menghasilkan lapisan yang keras, dengan daya kilap tinggi
(high gloss), sangat bersifat water resistance dan ketahanan
cahayanya seperti acrylate. Rumus molekulnya sbb: CH2CHCN,

Gb: Acrylonitril

60 | P a g e
3. Polyvinyl acetate : Memberikan lapisan yang lebih keras dibandingkan
acrylonitril, jernih, kuat tariknya tinggi, sangat sensitive terhadap
kelembabandigunakan sebagai copolymer.
4. Polyvinylidine-cloride : Lapisan film yangterbentuk mempunyai
elastisitas rendah, agak sensitive terhadap cahaya. Digunakan sebagai
copolymer dengan ester asam acrylate. Mempunyai ketahanan yang
baik tehadap air, oksigen dan aroma, mempunyai ketahanan kimia
yang sangat baik, alkalis atau acids, tidak larut dalam minyak dan
solven organic, tahan terhadap serangan mold, bacteria, and insects.

Gambar: monomer vinylidine cloride


5. Polybutadiene: Lapisan yang terbentuk seperti karet dan soft,
mempunyai efek mengisi yang baik, tahan terhadap dingin, tidak
lengket, tahan terhadap swelling namun kelemahannya adalah sangat
sensitif terhadap aging dan sinar matahari.

61 | P a g e
6. Polystyrene : Lapisan film ang terbentu keras, mudah pecah (brittle),
tidak lengket, tahan terhadap kebengkakan, daya adhesinya moderat,
tahan terhadap temperature rendah, digunakan sebagai copolymer.

Gambar : Polimer Polystyrene.

7. Polyurethane: Disingkat (PU/PUR), mempunyai variasi atau jenis yang


beragam dari lapisan yang sangat lunak hingga keras. Sangat penting
dalam pengembangan finishing kulit. Bahkan dimasa yang akan dating
banyak perusahaan yang berkonsentrasi mengembangkan bahan ini
karena banyak memiliki keuntungan antara lain: penetrasi yang baik,
sifat adhesinya sangat baik, tidak menyebabkan over load
dipermukaan, lapisan film yang terbentuk mempunyai ketahanan fisik
dan chemis yang sangat baik Penampilannya dapat menghasilkan
lapisan yang buram/dull atau sangat mengkilap/gloosy (like patent
leather). Disamping itu bahan ini dapat dicampur dengan binder lain
seperti polyacrylate, polyester atau binder thermoplastic lain dengan
hasil penampilan yang baik dan sifat yang sangat special.
Polyurethanes merupakan komponen golongan reaction polymers,
termasuk didalamnya epoxies, unsaturated polyesters, and phenolics.
Ikatan urethane dihasilkan dari reaksi gugus isocyanate (-N=C=O)
dengan gugus hydroxyl alcohol (-OH). Polyurethanes dihasilkan dari
reaksi polyaddition dari mol. polyisocyanate dengan mol. polyalcohol
(polyol) dalam suasana katalis dan aditiv lain. Dalam kasus ini

62 | P a g e
polyisocyanate adalah molekul yang mempunyai dua atau lebih gugus
fungsional, R-(N=C=O)n ≥ 2 dan polyol merupakan molekul yang
memiliki dua atau lebih gugus funsional hidroksi, R'-(OH)n ≥ 2. Produk
reaksi adalah polimer yang mengandung ikatan urethane,
(-RNHCOOR'-). Isocyanates akan bereaksi dengan molekul yang
mengandung hidrogen aktiv.
Secara komersial polyurethanes diproduksi dengan mereaksikan cairan
isocyanate dengan cairan campuran polyols, catalyst, dan aditiv
lainnya. Ada dua komponen yang menunjuk pada sistem poliurethan,
atau penyederhanaan system. Isocyanate umumnya merujuk pada
system Amerika utara sebagai 'A-side' atau hanya 'iso'. Campuran
dari polyols dan aditiv lain umumnya merujuk pada 'B-side' atau
sebagai 'poly'. Campuran ini juga disebut 'resin' atau 'resin blend'. Di
Europe arti dari 'A-side' dan 'B-side' menunjukan campuran aditiv
yang mengandung aditiv pembentuk rantai silang cross linkers,
surfactants, flame, retardants, blowing agents, pigments, dan fillers.

Pemilihan binder yang akan digunakan dalam lapisan ini harus


disesuaikan dengan kekerasan dan fleksibeliti dari lapisan base coatnya.
Pengalaman menunjukan lapisan base caot yang sudah baik dapat
menjadi rusak karena lapisan intermediate ini. Berikut ini contoh
formulasi lapisan pigmen pada kulit CGB dan Nappa.
63 | P a g e
Full-Grain/Nappa - BC % CGB-BC %
Air 250 Air 150
Acrylic Resin 20 Acrylic Resin 150
Polymethacrylic 280 Polymethacrylic 150
Polyurethan 100 Polyurethan 150
Casein 100 Ethylmethylacrylic 100
Wax 50 isocyanate 50
Pigment 200 Pigmen 250

Total 1000 1000

Casein sebagai crosslinker Isocyanate sebagai


sekaligus meningkatkan aestetika hardener/crosslingker
nappa polyurethane.

Wax diperlukan karena akan Jumlah pigmenjauh lebih banyak


mengurangi kekerasan lapisan dibandingkan nappa karena untuk
sekaligus sebagai filler dan anti- menutup cacat. Binder lunaknlebih
friksion. banyak disbanding nappa karena
CGB akan di embossing.

F.6.7. Contras Coat

Contras coat sering disebut juga sebagai effect coat yang pada dasarnya
merupakan bagian dari pigment/intermediate coat. Tujuanya agak berbeda,
pigment coat cenderung memberikan warna tunggal saja sedangkan effect
coat berperan memberikan efek- efek kusus yang disesuaikan dengan
permintaan pasar dan fashion yang selalu berubah setiap saat. Keberhasilan
dalam mencipta efek caot tergantung dari koordinasi antara pelaku fashion,
ahli warna, penyamak / tanners, suplaier kimia, leather good manufacturer.

Effek yang akan dimunculkan umumnya harus dikreasi terlebih dahulu dan
diatur faktor apa saja yang berpengaruh seperti pengaturan warna kontras
atau pengaturan pada sudut penyemprotan, terkanan, ukuran lubang
semprot, kekentalan cairan finishing, atau mengatur permukaan menjadi
berkerut, wringkle, crumple dsb. Dapat dikatakan efek dapat dihasilkan
64 | P a g e
rekayasa pada kulitnya atau dari teknologi mekanik atau dari pencampuran
warna namun secara mendasar harus didukung oleh pengetahuan
fundamental, prinsip dan tehnik pengecatan.

Untuk menghasilkan contras coat yang lebih efektif seyogyanya


mempertimbangkan aplikasi tehnik yang akan diterapkan. Pengembangan
tehnik aplikasi sangat tergantung peralatan yang akan digunakan. Kini
saatnya untuk memikirkan peralatan baru yan dilengkapi dengan fasilias
yang dapat mengkreasikan tehnik baru.

Contras coat juga dapat dikreasikan melalui pengaturan mesin/alat dan


operasi mekanik spt : buffing, milling, crunching, embossing, polishing,
burnishing, glazing, grain bording. Beberapa contoh hasil kreasi pada
contras coat antara lain : inlay, bloching, brush-off, wash-off, stiples,
rotogravure engraved roll, gloss, antiquing, tipping, stripping, shadow
spraying, splatter, full aniline/natural leather look, distressed look dll.

Efek speckle/antique/inlay biasanya diformulasikan untuk mendapatkan


patrun/pattern yang sesuai dengan permintaan. Oleh karenanya
konsistensinya sangat dramatis bervariasi. Penyusun atau komponen utama
berubah-ubah seperti perbandingan antara pigmen/binder/thinner yang
digunakan. Efek coat juga dapat dilakukan dengan mempermainkan
managemen warna sehingga mendapatkan kesan kusus dari warna yang
kontras atau gradual yang sering kita lihat terutama kulit bermotif seperti
kulit buaya, biawak, ostrid dll. Dibawah ini dapat dilihat bagaimana
komposisi contras coat untuk mendapatkan efek speckle, antique dan inlay.

65 | P a g e
Effect Pigment Binder Thinner

Speckle Low Medium High

Antiques High Medium Low

Inlays High Low Very high

Khususnya untuk furniture efek coat dapat dilakukan sbb:

Spray Blend/Smoke Coat.

Untuk dapat mencapai sasaran, penampilan warna basik harus dijaga,


kulit harus benar-benar rata/flat. Alat atau mesin dapat dimanipulasi
untuk menghasilkan patern yang tertentu. Untuk menghasilkan light
blend atau smoke coat gunakan jumlah thinner yang tinggi, binder
yang medium, dan jumlah pigmen yang sedikit. Untuk mempekaya
campuran dan mendapatkan semprotan yang antique atau speckle
turunkan jumlah penggunan thinner dan naikan jumlah pigmen.

F.7. Top Coat

Top Coat merupakan lapisan yang terakhir yang berfungsi untuk melindungi
lapisan-dibawahnya dari berbagai bahan kimia dan pengaruh fisik seperti
benturan, gosokan, panas, dingin dll. Untuk itu lapisan ini dirancang menjadi
lapisan yang paling keras dibandingkan lapisan dibawahnya.

Lapisan ini dapat dikelompokan menjadi lapisan yang bebasis pelarut air
atau water bases dan non water bases, yang mengunakan pelarut organik
atau yang disebut dengan tipe laquer. Tipe top coat laquer mempunyai
ketahanan pakai, durabilitas, tacktile properties yang lebih baik

66 | P a g e
dibandingkan dengan water bases, namun kurang ramah lingkungan
mengingat bahan kimia yang digunakan banyak menghasilkan VOC.

1. Tipe Laquer.

Top Coat merupakan tahapan akhir dari proses finishing dan


suksesnya aplikasi tergantung kepada seberapa rata/uniform dan
baik/tepat lapisan base coat/pigment-coat yang berada dibawahnya.
Top coat juga mempunyai fungsi sebagai intermediate release caot
dan berpengaruh terhadap strika, printing, plating dll.

Secara umum bahan utama top coat yang bertipe laquer dapat
merupakan salah satu atau campuran dari komponen kimia dibawah
ini:

 Nitroselulose: Sangat umum digunakan dan banyak dikenal


karena mudah penanganannya dan sangat bervariasi. Dapat
digunakan dihampir semua aplikasi dan jenis kulit baik atasan
sepatu, garmen, atau sarung tangan. Aplikasi contras coat juga
dapat dilakukan dengan bahan ini spt antique, tipping, blotch
spay, shadow look, inlay dll. Top coat dirancang dengan
sejumlah bahan tambahan yang bervariasi untuk mengontrol
feel, scotch tape release, dan ketahanan gosok basah kering.

 Vinyl : Dibandingkan dengan nitroselulose lacquer, maka


finishing yang menggunakan vinyl mempunyai fleksibilitas yang
lebih superior dan mempunyai ketahanan pecah dingin yang
lebih baik. Namun top coat menggunakan vinyl mempunyai
kekurangan pada sifat ketahanan pakai. Biasanya silicon atau
wax yang dimadifikasi merupakan bahan pembantu yang baik
untuk vinyl untuk membantu meningkatkan ketahanan gosok

67 | P a g e
dan membuat lebih tahan pakai. Vinyl digunakan untuk
mengantikan nitroselulose apabila diinginkan fleksibelitas
menjadi target utama yang lebih baik spt pada kulit otomotif
atau furniture.

 Cellulose Asetat Butirat: Kurang popular dibandingkan dengan


nitroselulose. Sifatnya hampir sama dengan nitroselulose
hanya CAB mempunyai kelebihan tidak menguning atau
menguning saat diaging atau dipakai dalam jangka panjang.
Lebih tepat untuk kulit yang berwarna putih/sport.

 Uretahan prepolimer: Disiapkan untuk dapat langsung


diigunakan mengandung material dengan BM yang rendah dan
dilakukan pada visikositas yang rendah. Umumnya mudah
dilakukan dengan menggunakan spray, memiliki kandungan
bahan aktif maksimal 20% dan pada saat pengeringan akan
terbentuk polimer crossed lingker dengan BM tinggi. Sebagai
akibat dari susunan kimiawinya lapisan ini sangat cepat
mengering apabila dibandingkan dengan NC.

 Reaktiv poliurethane: Adalah coating yang menggandung


crossed lingker agent, zat yang berfungsi membentuk ikatan
silang dengan poliurethan sehingga terbentuk jaringan baru.
Bahan yang banyak digunakan sebagai crossed linker
poliurethan adalah prepolimer isocyanat (lihat diatas ). Produk
ini merupakan polifungsional aziridine yang membentuk ikatan
silang pada dispersi binder. Bahan ini akan meningkatkan
ketahanan terhadap pembasahan.

Catatan:Untuk meningkatkan ketahanan pakai, ketahanan


abrasi dan ketahanan pecah, kulit upholstery umunya
68 | P a g e
menggunakan Top Coat urethane dan vinyl. Top Coat
menggunakan system reaktiv urethan yang dikombinasikan
dengan resin vinyl yang plastis. Beberapa pelarut yang banyak
digunakan dalam finishing yang menggunakan pelarut
anorganik antara lain:

Tabel: Tipe solvent yang sering dipakai.

Golongan Contoh

1. Ester. Butil Asetat, Iso Butil Asetat, Metoksipropil


Asetat.
2. Keton Sikloheksanon/ Diisobutil Keton (DIBK).

3. Alkohol Isopropil Alkohol/Butanol (IPA), Iso


Butanol, Etilen glikol, Butoksi Ethanol dll

Tabel :Tipe Pelarut untuk Laquer Make up

Nitroseloluse CAB Vinyl PU

Ester Ketones Ketones Ketone


Ketone Ester Ester Ester
Aromatis Alkohol Aromatis Aromatis
Aromatis Alkohol

SIfat-Sifat Resin Nonmodifikasi.

Perlu dipahami setiap bahan kimia dan lapisan film yang


terbentuk untuk mengantisipasi kemungkinan kesalahan
pembentukan karakter lapisan karena adanya perbedaan sifat

69 | P a g e
dasarnya. Dibawah ini adalah gambaran beberapa resin yang
sering digunakan sebagai top coat.
Tabel : Karakteristik resin nonmodikikasi

N/C CAB Vinyl PU

-Berat Molekul Low-High Low-High Low High Low-High


-Kuat Tarik Tinggi Moderat Tinggi Mo-Ting
-Kemuluran Rendah Moderat Lo-Mo Tinggi
-Ketahanan
Fade Rendah Ekselen Sangat baik Ekselen
-Fleksibilitas Rendah Sedang Baik Ekselen
-Ketahanan
abrasi Baik Sedang Baik Baik
-Kompatibilitas Ekselen Baik Sedang Baik
-Plateability Ekselen Baik Sangat Baik Sangat
baik

Varietas laquer dari nitroselulose yang beragam memberikan kepada


teknisi finishing untuk dapat mengatur kondisi pengeringan,
temperature dan sirkulasi udara yang berbeda. Umumnya sebelum
memilih topcoat yang akan digunakan harus ada kajian tentang
karakteristik solven yang digunakan. Kuncinya adalah gunakan laquer
yang mengandung solven yang lama menguap ( long tail solven) pada
ruang pengering yang sangat pendek. Berikut ini gambaran beberapa
jenis solven dengan karakteristik pengeringan yang sangat umum
digunakan pada top coat.

70 | P a g e
Solven Tipe Drying speed

- Butyl Cellosolve Slow dry


- MEK Ketone Fast dry
- DIBK Ketone Slow dry
-Cyclohexanone Ketone Very slow dry
-Butyl Acetat Ester Medium dry
-IPA. Alkohol Fast dry

Dalam situasi dimana ketersediaan solven terbatas kita dapat


mengefektifkan bahan yang ada. Butil asetat tunggal sebagai thinner
hampir dapat memenuhi kebutuhan pengeringan. Jangan gunakan butil
sellosove terlalu berlebihan (lebih dari 10 %), karena pengeringan akan
terhambat dan lama sehingga lapisan akan lengket, karena bahan ini
juga dapat melarutkan resin pada lapisan dibawahnya. Berbeda dengan
DIBK yang dapat digunakan 100 % sebagai thinner tanpa memberikan
efek negativ. Namun demikian yang paling efektif adalah menggunakan
DIBK pada level rendah ( 20%) dan tidak diperlukan sebagai solven
tunggal.

Masalah yang umum dijumpai dalam finishing yang menggunakan top


coat lacquer adalah bluishing. Bluishing berbentuk haze/fog/kabut
keputihan yang berkembang dipermukaan kulit. Pada saat lacquer atau
emulsi lacquer di semprotkan pada permukaan kulit yang panas dan
lembab maka terjadi blushing yang merupakan uap air yang terjebak
dalam lapisan pada permukaan kulit. Masalah ini agak berkurang bila
menggunakan emulsi lacquer karena pengeringannya berjalan lama
terutama bila menggunakan high boiling solvent.

71 | P a g e
2. Tipe Water bases.

 Protein : Protein larut air apabila pH larutan pada suasana basa


(>7), sehingga penggunaannya sering ditambahkan ammonia
khususnya apabila yang digunakan dalam bentuk puder. Namun
kini umumnya protein diperdagangkan dalam bentuk cair dan
tinggal pakai. Bahan ini digunakan apabila pada alkhir finishing
aplikasi alat menggunakan mesin glazing atau polish atau
burnishing. Bahan ini memerlukan pengikat dalam
penggunaannya agar bersifat waterproof. Umumnya
menggunakan formalin atau glutaraldehida (10%) yang
disemprotkan pada permukaan sehingga protein binder akan
tersamak. Namun perlu diingat bahan ini termasuk dalam
golongan toksis sehingga dibeberapa negara penggunaannya
dilarang.

 Waterborne Acrylic: Polimer akrilk dalam bentuk emulsi O/W


yang dirancang kusus untuk top coating sehingga lapisan yang
terbentuk akan lebih keras dibandingkan dengan akrilik binder
yang digunakan untuk base coat.

Keuntungan mengunakan bahan ini adalah: mudah membentuk


formulasinya; aplikasi spraynya sangat mudah, sifat
mengeringnya baik; adhesinya sangat baik. Disamping itu
lapisan yang dihasilkan umumnya mempunyai sifat: ketahanan
gosok baik, tidak menguning; tidak mengalami bleeding dengan
warna organic; mudah untuk membentuk campuran yang
homogen dengan spirit soluble dyes dan bahan pembantu larut
air.

72 | P a g e
Penggunaannya sangat luas baik untuk full-grain atau corrected
grain, furniture atau garmen, khususnya untuk warna
transparent.

 Urethan Emulsi.

 Lacquer Emulsions : Yang disebut lacquer emulsion atau water


missible adalah top coat ( nitroselulose atau urethane ) yang
dapat larut baik dalam pelarut organic maupun air. Dalam
komponen LC umumnya mengandung sabun dan plastiziser
sehingga dapat membentuk emulsi baik water-in-oil atau oil-in-
water. Untuk mendapatkan hasil stabilitas yang maksimal dan
peforma yang baik sangat penting untuk mengatur penguapan
secara perlahan hingga medium, untuk itu umumnya
ditambahkan unmodified resin kedalam campurannya.

3. Aplikasi Top Coat

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal harus dipertimbangkan


beberapa factor yang mempengaruhi laju semprot (flow) dari
lacquer dinataranya adalah: Kecepatan penguapan;
Kekentalan/visicosity; Kualitas dari bahan volatile unuk melarutkan
dan tegangan muka.

Sedangkan pertimbangan teknis menyangkut: Jarak nozzle ke


kulit; Ketebalan basah lapisan laquer; Perbandingan atomizing;
Kekuatan pancar spray booth.

73 | P a g e
4. Parameter Aplikasi Spray Pada Top Coat Secara Umum.
Aplikasi Dengan mesin/alat spray baik
menggunakan tangan, rotary, unit spray
atau recip coating
Tekanan Udara Atomisasi tekanan pada 60-70 psi, atau
50 psi utk spray manual
Pot Pressure. Bila menggunakan pot, 15-
20 psi untuk pelarut solven dan emulsi
laquer, sedangkan apabila menggunakan
top coat waterborne acrylic tekanan diatur
antara 30-60 psi.
Jarak alat semprot (gun) Dengan objek berjarak 45-60 cm atau 18-
24 inchi
Konsumsi bahan relative.
1. Solvent Top Aqueous. 25-32 lt untuk 2500-3000 sqft (100 sd).
2. Lacquer Emulsion 18-26 lt untuk 2500-3000 sqft (100 sd).
3. Acrylic Top 9-12 lt untuk 2500-3000 sqft (100 sd)

Pengeringan Harus ada arus udara hangat yang mengalir


masuk untuk menjamin pengeringan lapisan
yang merata.

Plating Bila diperlukan layout, feel, gloss dll yang


lebih baik top coat dapat di setrika/plating,
finiflex, roto-pressed pada temperature
700C-950C, namun bila menggunakan
pressing silinder gunakan suhu 80-1000C.

Pengalaman menunjukan bahwa aplikasi base coat yang sangat baik,


atraktive dapat rusak karena top-coat yang tidak tepat. Dalam hal ini
harus dicari dan dipilih thinner yang tepat sehingga menghasilkan nilai
yang mendukung keindahan base coatnya.

74 | P a g e
5.Guideline aplikasi Aqueous Top-Coat.
Pengeringan 650C-750C atau 150-165 deg.F

Plating.
-English Turner 800C/400 ton (auxiliary, wax, duller, color).
-Finiflex 120-1500 C/300-400 psi. (dgn auxiliary, wax,
duller, silicone)
Finish Break baik Kurangi padatan (pigmen)
Flexing baik Kurangi padatan
Wet Rub baik Naikan padatan

Hasil terbaik Lakukan 2 top-coat (plating yang pertama)


Sprayability Spray basah pada tekanan seperti pada emulsi
lacquer dan lacquer solvent
Add-on 0,5 gr/sqft
Penggunaan pigment 4%

Dyes Mudah campur dengan banyak dyes

6. Cegah Hal Berikut:


- Agitasi berlebihan pada formula campuran top coat. Lakukan adukan
dengan tangan secara teratur dan secukupnya.
- Hindari kekurangan larutan top-coat. Lakukan seperti pelarut solven.
- Hindari sirkulasi udara yang dingin /kurang hangat dan aliran udara
pengeringan yang kurang lancer. Untuk mendapatkan hasil optimum
0
minimum panas udara adalah 60 C denagn aliran dan sirkulasi udara
yang baik.
- Hindari penggunaan tekanan dan panas berlebihan saat plating. Panas
normal 70 0C

75 | P a g e
dan tekanan rendah.

7.Aestetika.
Dalam perdagangan atau ditempat-tampat penjualan merchandising
aspek yang paling berpengaruh adalah kulit yang tampak mempunyai
nilai/karakter aestetika tinggi. Sifat ini merupakan aspek yang
sensual dan daya tarik ( leather appeal) mata, rasa, sentuhan, pada
saat tertentu bahkan baunya sangat menentukan.
Jika diinginkan kulit mempunyai dan membutuhkan nilai aestetika
tertentu, maka sangat umum bila ditanyakan apa saja ukurannya?
Dan bagaimana mencapainya.
- Visual : Umumnya, sifat visual aesthetic menunjukan karakteristik
terhadap eye-appealing termasuk warna, luster dan kenaturalan.
Warna  harus mempunyai shading yang nyaman, tones yang
seimbang, patrun yang memikat serta kombinasi semuanya.
Luster/shinemerupakan keseimbangan antara kecerahan (bright)
dan keburaman (dull) yang dapat memperlihatkan semua cacat,
tampilan artificial, kering, plastis dll. Naturalness Rajah yang baik,
alami, permukaan tidak seperti palstik, print halus, finished break
natural permukaan sangat lembut dan seragam.
Sifat luster biasanya lebih mudah untuk dikontrol secara visual.
Umumnya pemasok bahan kimia menawarkan bahan-bahan yang
dapat mengurangi efek kilap pada top coat finished, baik water bases
atau laquer bases. Terkadang dalam keseimbangan lapisan cat tutup
timbul pertayaan bagaimana mendapatkan lapisan yang cukup
mengkilap tetapi tidak menyebabkan efek menutup, atau penggunaan
lapisan yang berlebihan.
Karakter shine/luster sangat bervariasi tergantung alat atau
mekanikal proses yang digunakan pada finished coat, seperti
76 | P a g e
plating/ironing, burnishing atau polishing serta bahan kimia wax,
casein atau protein lainya, walaupun cara ini dapat menyebabkan
permukaan kulit lebih kompak dibandingkan dengan yang natural.
Untuk menjaga agar rajah tetap alami dan tetap mempunyai efek
luster yang tinggi seyogyanya dilakukan vacuum plating atau dengan
menggunakan finiflex. Namun pada umumnya untuk mendapatkan
efek shiny yang maksimal harus digunakan beberapa aksi mekanik
sampai mencapai out standing visual effect, walaupun akan memakan
waktu dan tenaga yang lebih banyak.
Naturalness sangat ditentukan oleh formulasi dan komponen bahan
kimia yang digunakan. Idealnya untuk mendapatkan tampilan yang
natural harus menggunakan lapisan yang setipis mungkin, padatan
yang sedikit mungkin, penggunaan pigmen seminimnya bahkan bila
perlu tidak menggunakan pigmen sama sekali sayangnya efeknya
akan menyebabkan sifat fisiknya akan minim pula. Untuk itu harus
ada kesimbangan untuk menjaga agar kulit tetap tampak natural
dengan fisical prpperties yang memenuhi standar.
- Tactile atau Feel : Berhubungan dengan rasa yang lebih bersifat
illusive sulit didefinisikan, namun umumnya berkaitan dengan:
Temper, smoothness, special characteristics.
Temper Karakter yang berhubungan dengan variabel kelemasan
dan kepadatan. Setiap konsumen mempunyai toloh ukur interval
kelemasan dan kepadatan yang berbeda namun umumnya kulit
dikatakan mempunyai temper yang baik bila disentuh terasa lembut,
cukup padat, lentur, enak untuk dipegang. Smoothness Umumnya
menunjuk pada permukaan grain/rajah, terutama kehalusan rajah.
Seperti halnya temper, smoothness mempunyai tingkatan berbeda,
namun lawannya adalah harsh/kasar, raspy/croaky surface. Sifat
yang berhubungan dengan sentuhan pada permukaan kulit. Special
77 | P a g e
character Sifat ini disebut juga sebagai “catch all” merupakan
kategori dari draggy, grippy, waxy, smeary, silky, sticky, squeeky,
unctuous/oily, dan banyak lagi rasa-rasa lain yang diminta pasar dan
selalu berubah ubah dari satu musim kemusim lainya.
Temper: Sifat yang dapat dirasa merupakan hasil modifikasi formula
kimia dan disempurnakan dengan aplikasi mekanik seperti staking,
milling atau penggunaan berbagai mesin plating. Opsi pertama yang
disarankan adalah penggunaan drum milling karena efek millingnya
menghasilkan patturn rajah yang natural. Staking biasanya cukup
baik hasilnya terutama bila akan di plating.
Smoothness: Pemanfaatan operasi mekanik untuk menyenpurnakan
dan meningkatkan tactile aestetic lapisan finishing yang umumnya
didahului dengan burnishing atau polishing dan dilakukan operasi
finiflex atau vacuum plating.
Special Characteristic: Oportunitas akhir untuk memanupulasi
karakteristik aestetika lapisan finishing adalah memberikan berbagai
“feel” aditive dalam komponennya. Yang dimaksud dengan feel
additive adalah komponen yang akan memberikan sensasi
sentuhan/visual yang berbeda pada permukaan kulit. Adalah sangat
penting untuk mengembangkan karakter lapisan yang terkait dengan
“feel” yang merupakan kontribusi penggunaan bahan kimia dan aksi
mekanik. Sebagai contoh ada beberapa jenis wax yang akan
memberikan efek lebih “bright” bila di burnish/polish tetapi akan
menghasilkan efek smeary atau chill (kaku/es) bila diplating. Setrika
panas akan menghasilkan efek permukaan menjadi dull, grippy wax
hingga silky luster. Pengetahuan yang cukup tentang sifat material
yang digunakan dan efek yang ditimbulkan sangat membentu aplikasi
mekanik apa yang akan diterapkan. Dibawah ini ada kategori umum

78 | P a g e
untuk bahan tambahan pada lapisan top coat dan efek yang
ditimbulkan.
- Draggy dihasilkan oleh hard waxs ( malam )
- Kering/pull-up dihasilkan oleh waxs lembut
- Ball bearing feel dihasilkan oleh silicon
- “Squeeky” dihasilkan oleh campuran wax dengan resin.
- “Smeary” diakibatkan oleh soft waxs.
- “Sticky” atau grippy diakibatkan oleh waxs dan resin.
- “Silky feel”/ unctuous/oily disebabkan oleh sabun.

8. Pemecahan Masalah pada Finishing Coat.


a. Adhesi rendah antara Top Coat dan lapisan dibawahnya: Terjadi
apabila topcoat lepas dari basecoat. Gunakan uji scotch tape.

Penyebab Remedies

-Aplikasi spray terlalu kering. -Naikan kecepatan dan sinkronisasi atomisasi.


-Sistem Topcoat cepat kering. -Naikan penggunaan pelarut yang titik uapnya
-Tidak cukup kering (lama tinggi (LONG TAIL SOLVENT).
waktu keringnya) -Naikan temperature pengeringan, gunakan
thinner yang cepat kering, kurangi long tail
solvent.
-Improper wetting & flow. -Seimbangkan pelarut dan perngencer.
-Improper additive dalam -Kurangi penggunaan adiitive pd topcoat.
topcpoat.
-Terlalu banyak menggunakan - Kurangi/hilangkan penggunaan protein.
binder protein pada basecoat.
-Terlalu banyak wax dan -Kurangi penggunaan protein, wax, pigmen
pigmen dalam basecoat. dalam base caot.
-Resin pada basecoat sangat -Kurangi penggunaan resin tahan pelarut.
tahan terhadap soven.

79 | P a g e
b. Permasalahan pengeringan : Pengeringan pada temperature
rendah atau tinggi dapat menyebabkan berbagai masalah contoh.

Penyebab Remedies

-Basecaot menjadi lengket dan -Gunakan resin yg tidak lengket pada base coat.
membengkak setelah topcoat.
-Keseimbangan thinner tidak
tepat. -Atur kecepatan pengeringan thinner.
-Bloking krn migrasi atau
pemilihan plastizizer tidak -Kurangi tempertur pengeringan.
tepat.
-Damp spot
-Kurangi add on.

c. Blushing: Terjadi bloom (noda melebar berwarna putih) pada saat


proses pengeringan setelah topcoating.

Penyebab Remedies

-Solven menguap terlalu -Tambahkan cyclohexanon 1-2% atau


cepat,meningggalkan air sebagai butylcellosolve 5% dalam komponen.
komponen terakhir yg menguap
atau kelembaban yg tinggi.

d. Spew: Material fugitive, mengalami migrasi kepermukaan kulit


menimbulkan noda seperti uap air/kabut yang terjadi pada saat
penguapan solven.

Penyebab Remedies

-Pemilihan plastizizer utk -Kontrol jenis plastisizer.


nitroselulose tidak tepat.
-Terjadi migrasi minyak/fatliquor -Gunakan /pilih minyak pada saat peminyakan
pada crust. yg membentuk ikatan dengan protein.
-Kelebihan wax pada basecoating. -Kurangi wax dalam basecoat.
-Kelibihan penggunaan aditiv spt -Kurangi bahan pembantu.
wax, silicon pd topcoat.
-Water spot-pengeringan yang -Kurangi jumlah penggunaan long tail solven.
tidak sempurna.

80 | P a g e
e. White Break: Lapisan cat tutup tampak keputihan pada bagian
lipatan saat ditekuk atau digulung.

Penyebab Remedies

-Intercaot adhesion -Gunakan solven yang lebih banyak dan control


penggunaan additive.
-Komponen topcoat incompatible. -Kontrol keseimbangan solven.
-Matting agent yang digunakan -Tambahkan pigmen bila matting agent tinggi
berlebihan. khususnya utk warna hitam dan tua.

f. Specking:Noktah putih yang tampak setelah aplikasi topcoat.


Biasanya muncul setelah kondisi topcoat kering. Ada beberapa
penyebab timbulnyaspecking ini.

Penyebab Remedies

-Speck ditimbulkan oleh matting -Saring campuran dengan kain kasa halus.
agent seperti silicon, waxes, dan
lainnya.
-Penggunaan binder dan - Seimbangkan pengencer, tambahkan
pengencernya tidak sesuai. pelarut dan binder.
-Ada residu dlm bentuk gel dalam -Saring binder yang digunakan.
binder.
-Interaksi komponen kurang -Kurangi penggunaan komponen yg
homogen berlebihan atau gunakan aditiv yg berbeda.

g. Crocking:Warna mengalami transfering dr kulit ke-kain gosok.

Penyebab Remedies
-Komponen yg tidak menyatu. -Kontrol komtabilitas inggridien pembentuk.
-Penggunaan pigmen berlebihan -Kurangi jumlah penggunaan pigmen.
tidak sesuai dengan kapasitas
binder yang digunakan.
-Adhesi rendah -Tambahkan solven atau kurangi penggunaan
aditiv.

81 | P a g e
h. Diskolorasi:Perubahan warna karena terpapar cahaya atau
menjadi kuning.

Penyebab Remedies
-Rendahnya ketahanan panas dan -Gunakan koloran yang stabil.
fade dr pigmen atau dyes.
-Binder berubah kekuningan karena -Gunakan binder alternative spt akrilik atau
UV CAB untuk nitroselulosa

i. Poor Flex: Bila kulit dilipat atau dibengkuk tampak lapisan


dasarnya. Kondisi ini sering terjadi terutama apabila lapisan
topcoatnya terlalu keras, kelebihan penggunaan pigmen,
penggunaan plastisizer yang mudah menguap, kelebihan
penggunaan add-on

Penyebab Remedies

-Topcoat terlalu keras -Gunakan plastisizer/lapisan yang lebih


lunak.
-Topcoat mengandung pigmen -Kurangi jumlah pigmen yg digunakan.
berlebihan(over load).
-Plastiziser fugitive. -Gunakan polimerik plastisizer.
-Add-on berlebihan -Naikan colorcoat add-on dan turunkan
topcoat add-on.

j. Taber Wear Rendah:

Penyebab Remedies

82 | P a g e
k. Silicon Balling:

Penyebab Remedies

l. Pigments Crock Tembus:


m. Lapisan Menguning:
n. Sistem Feed selama aging:
o. Sistem mengalami stresses white:
p. Top Coat mengelupas:
q. Terjadi Block:
r. Topcoat lunak:

83 | P a g e
References :

BASF (1994), Pocket Book for the Leather Technologist, Third edition, BASF,
Aktingesellschaft, 67056 Ludwinshafen, Germany.
Gehard, J. 1997. Possible Defect in Leather Production. Druck Partner
Rubelmann GmbH. Lamphertein.
Sarkar, K.T. 1991. Theory and Practice of Leather Manufacture. Second Avenue, Mahatma
Gandhi road, Madras.
Sharphouse, J.H. 1971.Leather Technician’s Handbook. Leather Producers’
Association. London.
Thorstensen, T.C. (1976), Practical Leather Technology, Robert E. Krieger Publisng Co. Inc.,
Huntington, New York.
Tuck, D.H. 1981.The Manufacture of Upper Leather. Tropical Product Institute.
British.
Woodroffe, D. (1953), Leather dressing Dyeing & Finishing¸Publised by Quality Books
Teignmouth, s. Dwvon, Englan.
Woodroffe, D. (1949), Standard handbook of Industrial Leathers, Publised The National Trade
Press Ltd, Tower House, Southamton Street, London, W.C.C.

84 | P a g e