Anda di halaman 1dari 3

Kompetensi Guru di Era 4.

0
Syarifudin Yunus (Detik.com, 4 Desember 2018) menyatakan bahwa penyebab
rendahnya kompetensi guru di Indonesia adalah pertama, ketidaksesuaian disiplin ilmu dengan
bidang ajar. Sampai saat ini, masih banyak guru yang mengajar mata pelajaran yang bukan
bidang studinya. Hal ini disebabkan persebaran guru masih belum merata di semua wilayah
sehingga banyak sekolah yang kekurangan guru. Untuk menutup kekurangan guru, pihak sekolah
kemudian menugaskan guru mengajar beberapa disiplin ilmu agar setiap peserta didik bisa
merasakan semua pelajaran yang wajib mereka dapatkan. Ketidaksesuaian disiplin ilmu dengan
bidang ajar ini berdampak pada proses pembelajaran menjadi tidak maksimal dan peserta didik
tidak menguasai secara keseluruhan materi yang diajarkan oleh guru tersebut. Kedua, program
Peningkatan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) guru yang masih rendah. Program PKB
dirancang untuk meningkatkan kompetensi guru melalui pengembangan diri karena ilmu
pengetahuan dan teknologi terus berkembang. Namun hal tersebut masih banyak guru yang tidak
mau mengembangkan diri untuk meningkatkan kompetensinya sesuai dengan perkembangan
zaman. Apabila hal ini terus berlangsung, maka guru tidak akan mempunyai kompetensi sesuai
dengan tuntutan pendidikan di era Revolusi Industri 4.0. ketiga, Apalagi Masih banyak calon
guru yang direkrut tanpa melalui sistem rekrutmen yang dipersyaratkan. Selain itu untuk sekolah
yang kekurangan guru, sering terjadi penerimaan guru hanya berlandaskan ijazah sarjana
kependidikan tanpa mempertimbangkan kemampuan calon guru tersebut dalam kegiatan
pendidikan dan pembelajaran yang bermutu.
Perkembangan revolusi 4.0 hal ini juga tentunya akan berimbas dengan guru. Bagaimana
guru dituntut harus kreatif dan inovatif dalam mengajarkan siswanya. Maka dari itu guru harus
menguasai bidang ITE dan tidak boleh tidak karena ini sudah menjadi tuntutan zaman. Untuk itu
dalam meningkatkan kemampuan professionalisme guru di era revolusi 4.0 maka guru harus
memperhatikan hal-hal berikut :
 Pertama, Educational competence, kompetensi mendidik atau pembelajaran berbasis
internet of thing sebagai basic skill. Guru tentunya harus dapat mengoperasikan
computer, karena di era saat ini dan nanti pembelajaran dengan computer akan lebih di
kedepankan. Dan juga harus menguasai internet. Karena di era saat ini internet sudah
menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan. Kal tidak bisa internet dan computer maka
guru akan tertinggal oleh waktu.
 Kedua, Competence for technological commercialization, punya kompetensi membawa
siswa memiliki sikap entrepreneurship (kewirausahaan) berbasis teknologi dan hasil
karya inovasi siswa. Guru harus dapat membina siswa kea rah entrepreneurship yang
berbasis teknologi, sebagai bekal mereka di kemudiaan hari. Internet akan lebih mudah
memasarkan produk inovasi siswa baik itu makanan, pakaian, mainan, atau lain-lainya.
Karena ke depan juga tentunya persaingan usaha akan lebih dasyat, untuk itu perlu sekali
bagi guru mengarahkan siswanya untuk berinovasi tanpa henti.
 Ketiga, Competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai
budaya, kompetensi hybrid dan keunggulan memecahkan masalah (problem solver
competence). Kemempuan lifeskill siswa haurs dibina dengan baik. Tentunya pembinaan
tersebut dalam berbagai bidang seperti sosial, budaya, politik dan ekonomi. Inilah tugas
guru yang harus dipenuhi di era revolusi 4.0 saat ini.
 Keempat, Competence in future strategies, dunia mudah berubah dan berjalan cepat,
sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa
depan berikut strateginya. Guru harus tajam dalam beranalisa memprediksi ke depan
yang akan terjadi dan menyiapkan bagaimana caranya agar siswa didiknya nanti dapat
menghadapi tuntutan moderennya zaman atau revolusi 4.0 yang sudah dimulai saat ini.
 Kelima, Conselor competence, mengingat ke depan masalah anak bukan pada
kesulitan memahami materi ajar, tapi lebih terkait masalah psikologis, stres akibat
tekanan keadaan yang makin kompleks dan berat, dibutuhkan guru yang mampu
berperan sebagai konselor/psikolog.

Perkembangan teknologi di era Revolusi Industri 4.0 melahirkan tantangan baru. Tantangan
di era ini adalah pengangguran sebagai akibat dari ketidakcukupan pengetahuan dan
keterampilan, ketimpangan sosial ekonomi akibat teknologi yang padat modal, serta ancaman
terhadap kelestarian lingkungan sebagai akibat eksploitasi sumber daya alam. Arus disrupsi
teknologi yang mengabaikan sentralitas pendidikan formal semakin berpotensi mempercepat
terempasnya makna penting dunia pendidikan di dalam tatanan baru masyarakat. Sebagai
dampaknya, kemiskinan struktural berpotensi menguat dan kesenjangan sosial ekonomi
antarwarga akan semakin besar.
Dalam revolusi industri, mulai disadari bahwa tidaklah mungkin bagi guru untuk
memberikan semua ajaran yang diperlukan, karena yang lebih penting adalah mengajar peserta
didik tentang bagaimana belajar tersebut dapat menggunakan berbagai sumber sebagai ‘akibat’
dari perkembangan media elektronik. Pendidikan mulai difokuskan bagaimana pengajaran
kepada peserta didik dan ajaran selanjutnya akan di peroleh si pembelajar sepanjang usia
hidupnya melalui sumber dan saluran atau media/ sumber belajar.
Pada revolusi industri 4.0, guru tidak lagi berfungsi sebagai sentral dalam pembelajaran
atau teacher centered, namun berubah menjadi students centered dimana guru menjadi fasilitotor
bagi penyediaan kebutuhan belajar peserta didik dalam upaya melaksanakan ‘bagaimana belajar’
dengan menyaipkan sumber dan media pembelajaran, yang diperuntukan bukan saja bagi peserta
didik di sekitarnya melainkan juga yang jarak keberadaannya jauh lebih secara fisik.
Para guru perlu mengubah cara mengajar agar lebih menyenangkan dan menarik.
Demikian juga peran guru berubah dari sebagai penyampai pengetahuan kepada peserta didik,
menjadi fasilitator, motivator, inspirator, mentor, pengembang imajinasi, kreativitas, nilai-nilai
karakter, serta team work, dan empati sosial karena jika tidak maka peran guru dapat digantikan
oleh teknologi.
Guru harus mampu membangun atmosphere yang dapat memenuhi kebutuhan psikologis
peserta didik, yang meliputi: needs for competence, setiap peserta didik butuh merasa bisa,
artinya interaksi dalam pembelajaran mampu membuat peserta didik merasa bisa. Hal ini dapat
dilakukan dengan jalan memberikan penghargaan atas hasil belajar peserta didik. Needs for
Autonomy, setiap peserta didik butuh merasa ‘otonom’ dengan mendapat kebebasan dan
kepercayaan karena setiap pembelajar yang otonom tidak akan bergantung pada guru dalam
belajar. Needs for relatedness, setiap peserta didik membutuhkan merasa dirinya bagian dari
suatu kelompok, dan berinteraksi dalam kelompok. Jadi proses pembelajaran harus mampu
memupuk interaksi kolegialitas dan saling support. Sustainable learning, agar peserta didik
mampu melewati era disrupsi, dan memasuki era baru yang disebut Abundant Era, yaitu serba
melimpahnya informasi, media dan sumber belajar.
Dengan demikian peran guru tak tergantikan, karena teknologi tidak akan bisa menjadi
fasilitator, motivator, inspirator, mentor, pengembang imajinasi, kreativitas, nilai-nilai karakter,
serta team work, dan empati sosial. Teknologi juga tidak dapat menggantikan peran guru sebagai
pembentuk karakter peserta didik. Namun guru diharapkan untuk terus mengembangkan
kompetensinya sehingga masalah terkait dengan mutu pendidikan di Indonesia yang lebih rendah
dibandingkan dengan negara lain bisa segera kita selesaikan.
Adapun yang menjadi catatan yaitu, di Indonesia, masih banya sekali peralatan yang
mendukung untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Maka dari itu pemerintah melalukan
pemerataan pengadaan sarana dan prasarana agar tidak ada pendidikan yang keterbelakangan,
yang diharapkan adalah pemerataan pendidikan. Upaya pemerintah dalam pemerataan
pendidikan adalah yaitu setiap sekolah wajib menggunakan kurikulum 2013. Meskipun
penerapan kurikulum 2013 banyak sekali terjadi pro dan kontra. Maka dari itu di lakukan
pemerataan pengadaan sarana dan prasarana agar guru juga mendapatkan perlakuan yang sama
yaitu dengan mendapatkan pelatihan-pelatihan untuk menghadapi revolusi industri 4.0.
Salah pelatihan yang dapat diikuti oleh guru yaitu dengan mengikuti pelatihan E-training
Guru Melek IT (DOGMIT) Indonsia. Dimana dalam pelatihan ini bertujuan untuk membekali
guru-guru Indonesia agar bisa memiliki kompetensi di bidang IT. Karena dapat diketahui bahwa,
dalam era revolusi industri 4.0 yang menekankan pada pembelajaran berbasis teknologi modern,
penguasaan IT oleh guru merupakan ebutuhan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Karena karena
saat ini kita hidup di era media driven, dimana dengan mudah mengakses dan mengolah
informasi, berita, dan semua hal yang berasal dari internet.

Daftar pustaka :
 Syibrina Jihan Lubis - PENDIDIKAN DAN PELATIHAN UNTUK MENINGKATKAN
KOMPETENSI GURU DALAM MENGHADAPI REVOLUSI INDUSTRI 4.0, Vol 2
Tahun 2018, hal 601 – 603
 M. Anwar Nurkholis1, dan Badawi2 - PROFESIONALISME GURU DI ERA REVOLUSI
INDUSTRI 4.0
 Susilo Setyo Utomo - GURU DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0