Anda di halaman 1dari 74

SKRIPSI

ANALISIS KADAR VITAMIN C BUAH JAMBLANG (Syzigium cumini .L)


TERHADAP PENGARUH SUHU PENYIMPANAN DAN pH SECARA
SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

Disusun Oleh
ADITYA YULINDRA AGUNG PRABOWO
E0013002

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BHAKTI MANDALA HUSADA
2017
SKRIPSI

ANALISIS KADAR VITAMIN C BUAH JAMBLANG (Syzigium cumini .L)


TERHADAP PENGARUH SUHU PENYIMPANAN DAN pH SECARA
SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

Disusun Oleh:
ADITYA YULINDRA AGUNG PRABOWO
E0013002

Disusun untuk memenuhi syarat memperoleh gelar


Sarjana Farmasi pada Program Studi S1 Farmasi
Di STIKes BHAMADA Slawi
2017
PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Aditya Yulindra Agung Prabowo
Nim : E0013002
Dengan ini menyatakan bahwa dalam penelitian skripsi ini, saya :
1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mempu mengembangkan dan
mempertenggung jawabkan.
2. Tidak melakukan plagiasi terhadap naskah karya orang lain.
3. Tidak menggunakan karya rang lain tanpa menyebutkan sumber asli
atau tanpa izin pemilik karya.
4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data.
5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas
karya ini.
Jika di kemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya, dan telah
melalui pembuktian yang dapat dipertanggung jawabkan, ternyata memang
ditemukan bukti bahwa saya telah melanggar pernyataan ini, maka saya siap
dikenai sanksi berdasarkan aturan yang berlaku di STIKes Bhaki Mandala Husada
Slawi.
Demi kian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Slawi, 24 Juli 2017


Yang Menyatakan

Aditya Yulindra Agung Prabowo


PERSETUJUAN PEMBIMBING

Persetujuan Skripsi

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:

ANALISIS KADAR VITAMIN C BUAH JAMBLANG (Syzigium cumini .L)

TERHADAP PENGARUH SUHU PENYIMPANAN DAN pH SECARA

SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

Dipersiapkan dan disusun oleh:

ADITYA YULINDRA AGUNG PRABOWO

E0013002

Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing skripsi untuk diseminarkan di

hadapan penguji skripsi pada tanggal Juli 2017

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dinar Anggia Zen, M. Si., Apt. Desi Sri Rejeki, S. Si.


NIPY. 1990.11.09.14.086 NIPY. 1986.12.09.13.080
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:

ANALISIS KADAR VITAMIN C BUAH JAMBLANG (Syzigium cumini .L)

TERHADAP PENGARUH SUHU PENYIMPANAN DAN pH SECARA

SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

Dipersiapkan dan disusun oleh:

ADITYA YULINDRA AGUNG PRABOWO

E0013002

Telah diseminarkan di depan penguji pada tanggal 24 Juli 2017 dan dinyatakan

telah memenuhi syarat untuk diterima

Penguji I,

Oktariani Pramiastuti, M. Sc., Apt.


NIPY. 1978.10.09.11.065
Penguji II,

Dinar Anggia Zen, M. Si., Apt.


NIPY. 1990.11.09.14.086
Penguji III,

Desi Sri Rejeki, S. Si.


NIPY. 1986.12.09.13.080
PERSEMBAHAN

Dengan segala puji dan syukur kepada Allah SWT karena atas izin dan

karuniaNyalah maka skripsi ini dalat dibuat dan terselesaikan. Serta dukungan dan

do’a yang tiada hentinya dari orang-orang tercinta yang telah memberikan

dukungan moral maupun materi, karena tiada kata seindah lantunan do’a dan tiada

do’a yang paling khusuk selain do’a yang terucap dari orang tua. Ucapan

terimakasih saja takkan pernah cukup untuk membalas orang tau, karena itu

terimalah persembahan ini bukti cinta untuk bapak dan ibuku. Terimakasih yang

sebesar-besarnya untuk semuanya, akhir kata saya persembahkan skripsi ini untuk

kalian semua, orang-ornag yang saya sayangi.

“Tak perlu malu karena berbuat kesalahan, sebab

kesalahan akan membuatmu lebih bijak dari

sebelumnya”

vi
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin atas segala nikmat iman, islam, kesempatan

serta kekuatan yang telah diberikan Allah subhanahuwata’ala sehingga peneliti

dapat menyelesaikan penelitian skripsi ini. Sholawat beriring salam untuk

tuntunan dan suri tauladan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam beserta

keluarga dan sahabat Beliau yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Islam

yang sampai saat ini dapat dinikmati oleh seluruh manusia di penjuru dunia.

Penelitian ini disusun sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan

tugas Skripsi Progran Studi Farmasi di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti

Mandala Husada Slawi dengan judul “ANALISIS KADAR VITAMIN C BUAH

JAMBLANG (Syzigium cumini .L) TERHADAP PENGARUH SUHU

PENYIMPANAN DAN pH SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS”.

Dalam penulisan skripsi ini peneliti menyampaikan ucapan terima kasih

kepada:

1. Ibu Tri Agustina H, SST., M.Kes selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Bhakti Mandala Husada Slawi yang telah memberikan izin

kepada peneliti untuk melakukan penelitian.

2. Bapak Agung Nur Cahyanta, M.Farm., Apt selaku Ketua Program Studi S1

Farmasi STIKes Bhamada Slawi.

3. Ibu Dinar Anggia Zen, M.Si., Apt selaku Pembimbing I dan Ibu Desi Sri

Rejeki, S.Si selaku pembimbing II yang dengan tulus dan penuh kesabaran

vii
telah membimbing dan mengarahkan dan memotivasi dalam penulisan

proposal ini.

4. Ibu Oktariani Pramiastuti, M. Sc., Apt selaku Penguji yang senantiasa

memberikan pengarahan dalam menyelesaikan skripsi.

5. Seluruh Dosen Program Studi S1 Farmasi STIKes Bhamada Slawi, yang

telah membimbing dan mendidik selama peneliti melakukan kegiatan

perkuliahan dari semester satu hingga semester delapan.

6. Kedua orang tua yang paling saya sayangi dan saya cintai yang telah

memberikan semangat, terimakasih atas dukungan moral dan spiritual yang

diberikan.

7. Kepada teman-teman seperjuangan, terimakasih atas hari-hari yang dilalui

bersama. Semoga sukses menyertai kita dan semua pihak yang telah

membantu penulis yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Tidak ada sesuatu yang dapat diberikan atas jasa tersebut selain Do’a,

semoga Allah SWT membalas amal dan jasa baik beliau. Peneliti menyadari

bahwa penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik

dan saran dari semua pihak akan diterima dengan senang hati sebagai perbaikan

proposal ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca.

Slawi, 24 Juli 2017

Penulis

viii
ABSTRAK

Radikal bebas pada tubuh manusia dianggap berperan dalam proses


terjadinya beberapa penyakit. Radikal bebas dapat diredam menggunakan
antioksidan. Vitamin C memiliki sifat antioksidan dan efektif mengatasi radikal
bebas yang dapat merusak sel atau jaringan. Buah-buahan merupakan salah satu
sumber vitamin C terbesar, salah satunya yaitu buah Jamblang (Syzygium cumini
L.). Vitamin C bersifat mudah teroksidasi. Salah satu faktor lingkungan yang
mempengaruhi stabilitas vitamin C yaitu suhu penyimpanan dan pH.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu penyimpanan dan
pH terhadap kadar vitamin C buah Jamblang dengan metode Spektrofotometri
UV-Vis, dengan cara menyimpan sari buah Jamblang selama 3 hari dan 7 hari
pada suhu dingin (2-8 0C), suhu sejuk (9-15 0C) dan suhu kamar (15-28 0C).
Selain itu, sampel juga diatur pH menjadi 2, 3, 4, 7 dan 10. Data hasil perhitungan
kadar yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA, kemudian dilanjutkan dengan
uji Duncan taraf signifikasi 95 %.
Hasil penelitian didapatkan λ maksimum sebesar 283,5 nm, dengan
persamaan regresi linier y = 0,0348 + 0,0218x serta koefisien korelasi (r) sebesar
0,9983. Kandungan vitamin C awal sebelum dilakukan penyimpanan dan
pengaturan pH sebesar 2,79 ppm. Penyimpanan pada suhu dingin (2-8 0C) selama
7 hari lebih optimal untuk mempertahankan kandungan vitamin C buah Jamblang
yaitu sebesar 2,69 ppm. Kestabilan vitamin C pada buah Jamblang diperoleh pada
pH asam yaitu pH 2 dengan kadar vitamin C sebesar 1,54 ppm. Hasil uji Duncan
menunjukkan bahwa suhu penyimpanan dan pengaturan pH berpengaruh nyata
terhadap jumlah kadar vitamin C buah Jamblang (Syzygium cumini L.).
Kata kunci : Buah Jamblang (Syzygium cumini L.), suhu, pH, Spektrofotometri
UV-Vis, vitamin C.

ix
ABSTRACT

Free radicals in the human body are considered to play a role in the process
of the occurrence of some diseases. Free radicals can be muted using antioxidants.
Vitamin C has antioxidant properties and effectively overcome free radicals that
can damage cells or tissues. Fruit is one source of vitamin C, one of which is the
fruit Jamblang (Syzygium cumini L.). Vitamin C is easily oxidized. One
environmental factor that affects the stability of vitamin C is storage temperature
and pH.
This study aims to determine the effect of storage temperature and pH on
vitamin C content of Jamblang fruit by Spectrofotometric UV-Vis method. This
research was conducted by storing Jamblang juice for 3 days and 7 days at cold
temperature (2-8 0C), cool temperature (9-15 0C) and room temperature (15-28
0
C). In addition, the sample also set the pH to 2, 3, 4, 7 and 10. Data obtained
from the calculation results obtained were analyzed with ANOVA, then continued
with Duncan test 95% significance level.
Result of research got maximum wavelength 283,5 nm, with linear
regression equation y = 0,0348 + 0,0218x and correlation coefficient (r) equal to
0,9983. Initial vitamin C content before the storage and setting pH of 2.79 ppm.
Storage at cold temperature (2-8 0C) for 7 days is more optimal to maintain the
vitamin C content of Jamblang fruit that is equal to 2.69 ppm. The stability of
vitamin C in Jamblang fruit was obtained at acidic pH that is pH 2 with vitamin C
level of 1.54 ppm. Duncan test results indicate that the storage temperature and
pH adjustment significantly affect the amount of vitamin C content of Jamblang
fruit (Syzygium cumini L.).
Keywords: Jamblang Fruit (Syzygium cumini L.), Temperature, pH,
Spectrophotometry UV-Vis, Vitamin C.

x
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR......................................................................................vi
ABSTRAK ......................................................................................................xvi
ABSTRACT......................................................................................................xi
DAFTAR ISI...................................................................................................xiii
DAFTAR BAGAN.............................................................................................x
DAFTAR GAMBAR......................................................................................xiv
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................xii

BAB 1. PENDAHULUAN.................................................................................1
1.1. Latar Belakang Penelitian.....................................................................1
1.2. Perumusan Masalah..............................................................................3
1.3. Tujuan Penelitian..................................................................................4
1.4. Manfaat Penilitian.................................................................................4
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................5
1.1. Tinjauan Pustaka...................................................................................5
1.1.1. Buah jamblang (Syzygium cumini L.)...............................................5

1.1.2. Vitamin C.........................................................................................7

1.1.3. Pengaruh Suhu Penyimpanan dan pH Terhadap Vitamin C.............9

1.1.4. Spektrofotometri UV-Vis................................................................10

1.2. Landasan Teori...................................................................................14


1.3. Hipotesis.............................................................................................15
BAB 3. METODE PENELITIAN..................................................................16
3.1. Waktu dan Tempat Penelitian.............................................................16
3.2. Alat dan Bahan....................................................................................16
3.3. Rancangan Penelitian..........................................................................16
3.4. Prosedur Penelitian.............................................................................17
3.4.1. Preparasi buah jamblang (Syzigium cumini L)...............................17

xi
3.4.2. Pembuatan Larutan Induk Vitamin C 100 ppm..............................17

3.4.3. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Larutan Vitamin C....17

3.4.4. Pembuatan Kurva Kalibrasi............................................................17

3.4.5. Penentuan Kadar Sampel................................................................18

3.5. Analisis Data.......................................................................................19


BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN..........................................................20
4.1. Determinasi Tanaman.........................................................................20
4.2. Analisis Kadar Vitamin C...................................................................20
BAB 5. PENUTUP...........................................................................................27
5.1. Kesimpulan.........................................................................................27
5.2. Saran...................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xii
DAFTAR BAGAN

Halaman

Bagan 1. Skema Penelitian................................................................................19

xiii
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Buah Jamblang..................................................................................6


Gambar 2. Struktur Vitamin C............................................................................8
Gambar 3. Skema Spektrofotometer UV-Vis.......................................................11

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Determinasi Tanaman Jamblang (Syzygium cumini L.).......................33


Lampiran 2. Surat Izin Kesbangpol dan Linmas......................................................34
Lampiran 3. Surat Izin BAPPEDA...........................................................................35
Lampiran 4. Surat Izin Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal.....................................36
Lampiran 5. Proses Penyiapan Sampel....................................................................37
Lampiran 6. ProsesPembuatan larutan induk Vitamin C 100 ppm..........................38
Lampiran 7. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Larutan Vitamin C.........39
Lampiran 8. Pembuatan Kurva Kalibrasi (2 ppm, 6 ppm, 10 ppm, 14 ppm dan
18 ppm)...............................................................................................40
Lampiran 9. Pengujian Absorbansi Sampel.............................................................41
Lampiran 10. Perhitungan Persamaan Linear..........................................................47
Lampiran 11. Perhitungan Kadar Vitamin C............................................................48
Lampiran 12. Analisis Data......................................................................................52

xv
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Pada era globalisasi ini, semakin banyak polusi yang disebabkan oleh

asap kendaraan maupun asap pabrik. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya

paparan radikal bebas yang cukup luas dikehidupan masyarakat. Radikal

bebas pada tubuh manusia dianggap berperan dalam proses terjadinya

beberapa penyakit (Winarsi, 2007).

Salah satu senyawa kimia yang dapat menyumbangkan satu atau lebih

elektron kepada radikal bebas sehingga radikal bebas dapat diredam yaitu

antioksidan. Peningkatan radikal bebas pada tubuh manusia terjadi terus

menerus dan tidak dapat terhindarkan akibat faktor stres oksidatif, radiasi

sinar UV, polusi udara dan lain-lain sehingga dapat mengakibatkan sistem

pertahanan antioksidan dalam tubuh tidak memadai lagi. Hal ini

menyebabkan tubuh memerlukan tambahan antioksidan dari luar (Ghani,

2011).

Antioksidan dari luar tubuh dapat diperoleh dalam bentuk sintesis dan

alami. Antioksidan alami dapat ditemukan dalam sayuran maupun buah-

buahan, biji-bijian serta kacang-kacangan. Vitamin C merupakan salah satu

bahan alam yang berpotensi sebagai antioksidan (Jin dkk., 2012; Miller,

1996; Prior, 2003; Pokorny dkk., 2001).

1
2

Sifat vitamin C mudah berubah akibat oksidasi namun stabil jika

merupakan kristal (murni). Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi

stabilitas dari vitamin C yaitu temperatur, radiasi cahaya dan udara

(khususnya oksigen, karbondioksida dan uap air). Demikian pula faktor

formulasi seperti ukuran partikel, pH, sifat dari air dan sifat pelarutnya.

Vitamin C memiliki kestabilan terhadap pH asam namun tidak pada pH netral

dan alkali. Penyimpanan vitamin C pada suhu rendah dapat mengurangi

kegiatan respirasi dan metabolisme, memperlambat proses penuaan,

mencegah kehilangan air dan mencegah kelayuan. Faktor penting yang

mempengaruhi respirasi dilihat dari segi penyimpanan adalah suhu.

Walaupun dalam keadaan temperatur rendah dan kelembaban terpelihara,

50 % vitamin C akan hilang dalam 3-5 bulan (Safaryani dkk., 2007).

Banyak vitamin C yang terdapat dalam buah-buahan terutama dalam

buah jeruk. Sebenarnya, selain jeruk masih banyak buah-buahan yang

mengandung vitamin C salah satunya adalah buah Jamblang (Syzygium

cumini L) atau sering dikenal sebagai buah duwet. Buah jamblang merupakan

buah lokal dari Indonesia yang memiliki rasa sepat masam, buah ini

menempati posisi kedua sebagai ratu vitamin C setelah jambu monyet

(Anacardium occidentale) (Perdana, 2010).

Buah jamblang diduga memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi

karena kandungan antosianin alaminya. Antosianin merupakan salah satu sub

kelas flavonoid yang penting bagi tanaman. Tidak hanya flavonoid, buah
3

jamblang juga mengandung beberapa senyawa golongan polifenol lain seperti

halnya tanin (Zhang dan Lin, 2009).

Kulit buah jamblang mengandung antosianin yang mampu berperan

sebagai penangkal radikal bebas. Selain antosianin, kulit buah jamblang

mengandung zat-zat antara lain Vitamin C, Vitamin A, Riboflavin, Kolin,

Asam Folat dan Asam Amino. Menurut penelitian yang sudah dilakukan,

pigmen antosianin dan senyawa-senyawa flavonoid lainnya terbukti memiliki

efek positif terhadap kesehatan (Ferry, 2015).

Berdasarkan uraian diatas, peneliti ingin mencoba mengkaji atau

meneliti jumlah kadar vitamin C dari buah jamblang (Syzygium cumini L)

terhadap pengaruh suhu dan pH. Hal ini dikarenakan belum ada penelitian

sebelumnya yang meneliti tentang penentuan kadar vitamin C yang

terkandung dalam buah jamblang (Syzygium cumini L) terhadap pengaruh

suhu dan pH.

1.2. Perumusan Masalah

1. Berapa kadar vitamin C didalam buah jamblang (Syzygium cumini L) ?

2. Apakah suhu dan pH dapat mempengaruhi kadar vitamin C dalam buah

jamblang (Syzygium cumini L) ?


4

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penilitian ini yaitu :

1. Mengetahui kadar vitamin C yang terkandung pada buah jamblang

(Syzygium cumini L).

2. Mengetahui pengaruh kadar vitamin C pada buah jamblang (Syzygium

cumini L) terhadap suhu dan pH.

1.4. Manfaat Penilitian

Manfaat dari penelitian ini yaitu :

1. Memperoleh informasi ilmiah mengenai kandungan vitamin C dalam

buah jamblang (Syzygium cumini L).

2. Meningkatkan potensi tanaman jamblang (Syzygium cumini L) sebagai

salah satu penangkal radikal bebas.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Tinjauan Pustaka

1.1.1. Buah jamblang (Syzygium cumini L.)

Syzygium cumini L umumnya dikenal sebagai tanaman

jamblang, family Myrtaceae. Tanaman berbuah lokal Indonesia ini

sudah dilupakan oleh sebagian besar masyarakat. Kurangnya budidaya

tanaman jamblang ini menyebabkan tanaman ini mulai langka.

Jamblang ini memiliki banyak manfaat, hampir seluruh bagian

tumbuhan tersebut telah diketahui kegunaannya secara tradisional

(Dalimartha S, 2003).

Tanaman ini memiliki kegunaan sebagai obat yang sangat

potensial. Seluruh bagian tanaman seperti biji, buah, daun bunga, kulit

kayu memiliki berbagai sifat obat seperti antimikroba, antivirus,

antiinflamasi, antigenotoksik, antiulcerogenic, kardioprotektif,

antialergi, antikanker, kemoterapi preventif, radio protektif,

antioksidan, hepatoprotektor, antidiare, efek hipoglikemik dan

antidiabetes (Yadav dkk., 2014).

Buah jamblang memiliki bentuk lonjong sampai bulat telur,

seringkali membengkok, bermahkotakan cuping kelopak. Ukuran

buah berkisar antara 1-5 cm, dengan kulit buah tipis, licin dan

mengkilap. Buah jamblang berwarna hijau sebelum masak, kemudian

5
6

berubah menjadi merah hingga akhirnya menjadi ungu sampai hitam

pada saat buah benar-benar masak. Buah jamblang sering tumbuh

dalam gerombolan besar sekitar 10-40 buah. Daging buah jamblang

berwarna putih, kuning kelabu, sampai agak merah ungu dan hampir

tak berbau. Buah jamblang memiliki banyak sari buah dengan rasa

sepat masam sampai masam manis. Bentuk biji lonjong dan dapat

berukuran sampai 3,5 cm (BPPT, 2005; Mudiana, 2006).

Gambar 1. Buah Jamblang (Prasko, 2012)

Klasifikasi tanaman jamblang antara lain :

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivision : Spermatophyta

Division : Magnoliophyta

Class : Magnoliopsida-Dicotyledons

Subclass : Rosidae

Ordo : Myrtales

Family : Myrtaceae

Genus : Syzygium
7

Spesies : Syzygium cumini (L.) Skeels. (Anonim, 2014)

Bagian tertentu tanaman jamblang telah teruji memiliki berbagai

aktivitas farmakologi dengan beberapa kandungan senyawa yang telah

diketahui. Senyawa β-sitosterol, asam betulinat, eugenin, quersetin

kamferol, flavonoid dan tanin terdapat pada kulit batang jamblang.

Pada bagian bunga terkandung kaempferol, kuersetin, mirisetin,

kuersetin-3-glukosida, eugenol, dan triterpenoid. Akar jamblang

mengandung flavonoid, glikosida, dan isorhamnetin-3-O-rutinosida

(Ayynar, 2012).

Buah jamblang yang berasa sepat dan masam, mengandung

beberapa senyawa golongan polifenol seperti halnya tanin, antosianin,

glukosa, fruktosa, asam sitrat, sianidin diglikosida, petunidin, dan

malvidin. Selain mengandung senyawa golongan polifenol, dalam

buah jamblang juga terdapat beberapa vitamin seperti vitamin A,

vitamin B3 dan vitamin C. Kandungan vitamin C dalam 100 gram

buah jamblang segar mengandung vitamin C sebesar 14,30 mg

(Ayyanar, 2012; Ramya, 2012; Sari dkk., 2009).

1.1.2. Vitamin C

Vitamin C merupakan vitamin yang termasuk dalam kelompok

vitamin larut dalam air dan dikenal sebagai vitamin anti askorbat

karena berkhasiat menyembuhkan penyakit skorbut. Pada tahun 1928,

Zents Gyorgyi berhasil mengisolasi faktor anti askorbut yang

kemudian dinamakan asam hexuronik. Isolasi didapat jaringan


8

adrenal, jeruk dan kubis. Pada tahun 1932, ia bersama C. Glenn King

menyatakan bahwa asam hexuronik adalah vitamin C (Wardani,

2012).

Gambar 2. Struktur Vitamin C (Rowe, 2016)

Menurut (Perricone, 2007) Vitamin C merupakan asam askorbat,

senyawa kimia yang larut dalam air. Ascorbyl palmitate adalah asam

askorbat yang berkaitan dengan asam lemak untuk membuat sistem

pengantar yang larut di dalam lemak untuk vitamin C.

Adapun karakteristik dan manfaat vitamin C adalah:

a. Larut di dalam air (asam askorbat-L) atau larut di dalam lemak

(Vitamin C ester seperti ascorbyl palmitate).

b. Meningkatkan produksi kolagen.

c. Penting untuk berfungsinya neurotransmitters, termasuk

dopamine, serotonin, dan acetylcholine.

d. Berakumulasi di dalam sel darah putih untuk mempertahankan

respons imunitas yang kuat.

Vitamin C merupakan vitamin yang dapat dibentuk oleh

beberapa jenis spesies tanaman dan hewan dari prekusor karbohidrat.

Manusia tidak dapat mensintesis vitamin C dalam tubuhnya karena


9

tidak memiliki enzim L-gulonolakton oksidase. Manusia memerlukan

vitamin C dari luar tubuh untuk memenuhi kebutuhannya (Wardani,

2012).

Struktur vitamin C mirip dengan struktur monosakaridaa, tetapi

mengandung gugus enediol. Vitamin C memiliki gugus enediol yang

berfungsi dalam sistim perpindahan hidrogen yang menunjukan

peranan penting dari vitamin ini. Vitamin C mudah dioksidasi menjadi

asam L-dehidroaskorbat terutama jika terpapar cahaya, pemanasan

dan suasana alkalis (Thurnman dkk, 2000).

1.1.3. Pengaruh Suhu Penyimpanan dan pH Terhadap Vitamin C

Sifat vitamin C adalah mudah berubah akibat oksidasi namun

stabil jika merupakan kristal (murni). Salah satu faktor lingkungan

yang mempengaruhi stabilitas dari vitamin C yaitu temperatur, radiasi

cahaya dan udara (khususnya oksigen, karbondioksida dan uap air).

Demikian pula faktor formulasi seperti ukuran partikel, pH, sifat dari

air dan sifat pelarutnya. Vitamin C memiliki kestabilan terhadap pH

asam namun tidak pada pH netral dan alkali. Penyimpanan pada suhu

rendah dapat mengurangi kegiatan respirasi dan metabolisme,

memperlambat proses penuaan, mencegah kehilangan air dan

mencegah kelayuan. Walaupun dalam keadaan temperatur rendah dan

kelembaban terpelihara, 50 % vitamin C akan hilang dalam 3-5 bulan

(Safaryani dkk., 2007).


10

Laju respirasi merupakan petunjuk yang baik untuk daya simpan

buah dan sayuran sesudah dipanen. Intensitas respirasi dianggap

sebagai ukuran laju jalannya metabolisme, dan oleh karena itu sering

dianggap sebagai petunjuk mengenai potensi daya simpan buah dan

sayuran. Laju respirasi yang tinggi biasanya disertai oleh umur simpan

yang pendek. Hal itu juga merupakan petunjuk laju kemunduran mutu

dan nilainya sebagai bahan makanan. Faktor yang sangat penting yang

mempengaruhi respirasi dilihat dari segi penyimpanan adalah suhu.

Peningkatan suhu antara 0 0C – 35 0C akan meningkatkan laju

respirasi buah-buahan dan sayuran, yang memberi petunjuk bahwa

baik proses biologi maupun proses kimiawi dipengaruhi oleh suhu.

Pendinginan merupakan satu-satunya cara ekonomis untuk

penyimpanan jangka panjang bagi buah dan sayuran segar. Asas dasar

penyimpanan dingin adalah penghambatan respirasi oleh suhu tersebut

(Safaryani dkk., 2007).

1.1.4. Spektrofotometri UV-Vis

Beberapa metode yang dikembangkan untuk penentuan kadar

vitamin C diantaranya adalah metode spektrofotometri UV-Vis dan

metode iodimetri. Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk

penetapan kadar campuran dengan spektrum yang tumpang tindih

tanpa pemisahan terlebih dahulu. Hal ini disebabkan karena perangkat

lunaknya mudah digunakan untuk instrumentasi analisis dan


11

mikrokomputer, spektrofotometri banyak digunakan di berbagai

bidang analisis kimia terutama farmasi (Karinda, dkk., 2013).

Spektrofotometri merupakan metode pengukuran yang

didasarkan pada interaksi radiasi elektromagnetik dengan partikel, dan

akibat dari interaksi tersebut menyebabkan energi diserap atau

dipancarkan oleh partikel dan jumlah energi yang diserap atau

dipancarkan tersebut dihubungkan pada konsentrasi analit dalam

larutan (Anwar, 2006).

Gambar 3. Skema instrument UV-Vis (Rusli, 2009)

Spektroskopi adalah ilmu yang mempelajari materi dan

atributnya berdasarkan cahaya, suara atau partikel yang dipancarkan,

diserap atau dipantulkan oleh materi tersebut. Spektroskopi juga dapat

didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara cahaya

dan materi (Wardani, 2012).

Spektroskopi umumnya digunakan dalam kimia fisik dan kimia

analisis untuk mengidentifikasi suatu substansi melalui spektrum yang

dipancarkan atau diserap. Pada kimia organik metoda spektroskopi

digunakan untuk menetukan dan mengkonfirmasi struktur molekul,

untuk memantau reaksi, dan untuk mengetahui kemurnian suatu


12

senyawa. Alat untuk merekam spektrum disebut Spectrometer

(Wardani, 2012).

Metode pengukuran menggunakan prinsip spektrofotometri

adalah berdasarkan absorpsi cahaya pada panjang gelombang tertentu

melalui suatu larutan yang mengandung suatu zat yang akan

ditentukan konsentrasinya. Proses ini disebut “absorpsi”

spektrofotometri, dan jika panjang gelombang yang digunakan adalah

gelombang cahaya tampak, maka disebut sebagai “kolorimetri”,

karena memberikan warna. Selain gelombang cahaya tampak,

spektrofotometri juga menggunakan panjang gelombang pada

gelombang ultraviolet dan infra merah. Prinsip kerja dari metode ini

adalah jumlah cahaya yang diabsorpsi oleh larutan sebanding dengan

konsentrasi suatu zat dalam larutan. Prinsip ini dijabarkan dalam

Hukum Lambert-Beer, yang menghubungkan antara absorbansi

cahaya dengan konsentrasi pada suatu bahan yang mengabsorpsi

(Breysse dan Lees, 2003).

Perumusan dasar hukum Beer berkaitan dengan pelemahan

suatu radiasi sinar terhadap panjang gelombang, frekuensi, atau

jumlah gelombang. Dua aspek yang biasa dilakukan dalam mengukur

kuantitatif dari pelemahan cahaya adalah transmitansi dan absorbansi.

Transmitansi suatu larutan merupakan bagian dari cahaya yang

diteruskan melalui larutan. Berbeda dengan transmitansi, absorbansi

larutan bertambah dengan pengurangan kekuatan sinar. Bila ketebalan


13

benda atau konsentrasi materi yang dilewati cahaya bertambah, maka

cahaya akan lebih banyak diserap. Jadi absorbansi berbanding lurus

dengan ketebalan dan konsentrasi (Anwar, 2006).

Untuk radiasi monokromatik, penyerapan secara langsung

sebanding dengan panjang jalan melalui medium dan konsentrasi zat

penyerap. Sehingga didapat rumusan hukum Lambert-Beer melalui

persamaan sebagai berikut :

Bila konsentrasi dinyatakan dalam gram/ liter, maka :

A=abc

Dimana :

a = absortivitas (L.g-1.cm-1)

b = panjang sel/ lebar kuvet (cm)

c = konsentrasi analit (gram/ Liter)

Bila konsentrasi dinyatakan dalam mol/ liter, maka :

A=bc

Dimana :

 = absortivitas molar (L.mol-1.cm-1)

b = panjang sel/ lebar kuvet (cm)

c = konsentrasi analit (mol/ Liter) (Anwar, 2006).

Spektrofotometri biasanya melibatkan larutan, oleh karena itu

dibutuhkan wadah sampel untuk menaruh cairan ke dalam berkas

cahaya spektrofotometer. Wadah tersebut harus dapat meneruskan

energi radiasi dalam daerah spektral yang diminati, jadi wadah kaca
14

dapat digunakan pada daerah tampak, sel kuarsa atau kaca silika tinggi

dapat digunakan untuk daerah ultraviolet dan garam dapur alam untuk

inframerah. Haruslah diingat bahwa sel yang dimaksud semata-mata

yaitu wadah untuk sampel (Day, 2002)

1.2. Landasan Teori

Jamblang (Syzigium cumini (L.) Skeels) merupakan salah satu buah

lokal Indonesia. Buah jamblang diduga memiliki aktivitas antioksidan yang

tinggi karena kandungan antosianin alaminya. Antosianin merupakan salah

satu sub kelas flavonoid yang penting bagi tanaman. Kandungan flavonoid

yang tinggi ini membuat buah jamblang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Selain flavonoid, buah jamblang juga mengandung beberapa senyawa

golongan polifenol lain seperti tanin (Zhang dan Lin, 2009). Kandungan

senyawa lain dalam buah jamblang diantaranya antosianin, glukosa, fruktosa,

asam sitrat, sianidin diglikosida, petunidin, dan malvidin (Ayyanar dan

Pandurangan, 2012; Ramya dkk., 2012).

Vitamin C atau L-asam askorbat merupakan senyawa bersifat asam

dengan rumus empiris C6H8O6 (berat molekul = 176,12 g/ mol) dan larut

dalam air. Vitamin C merupakan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk

membantu membentuk kolagen dalam tulang, tulang rawan, otot, gigi,

pembuluh darah, membantu dalam penyerapan zat besi dan sebagai

antioksidan. Konsumsi dosis normal Vitamin C 60 – 90 mg/ hari. Vitamin C

banyak terkandung pada buah dan sayuran segar. (Ihsani, 2008; Asrul, 2010;

Masitoh S, 2014).
15

Perubahan keasaman dapat berbeda sesuai tingkat kematangan dan

tingginya suhu penyimpanan. Turunnya asam askorbat lebih cepat pada suhu

penyimpanan tinggi. Asam-asam amino dengan cepat berkurang selama

penympanan suhu rendah yaitu antara 6-20 0C tetapi stabil pada suhu 2 0C.

Kegiatan enzim-enzim katalase, pektinesterase, selulase dan amilase

meningkat selama penyimpanan. Perubahan lain yaitu penurunan ketegaran

dan kepadatan, warna oksidasi lemak dan melunaknya jaringan-jaringan serta

rasa pada bahan pangan (Safaryani dkk., 2007).

Pendinginan dapat memperlambat kecepatan reaksi-reaksi metabolisme,

dimana pada umumnya setiap penurunan suhu 8 0C, kecepatan reaksi akan

berkurang menjadi kira-kira setengahnya. Karena itu penyimpanan dapat

memperpanjang masa hidup jaringan-jaringan dalam bahan pangan, karena

keaktifan respirasi menurun. Perubahan yang terjadi antara lain kenaikan

kandungan gula, disusul penurunannya. Hal ini terjadi akibat pemecahan

polisakarida-polisakarida (Winarno dkk, l982; Safaryani dkk., 2007).

1.3. Hipotesis

Validasi dari metode analisis dengan menggunakan spektrofotometri

UV-Vis mampu mengidentifikasi Vitamin C pada buah Jamblang dengan

akurat dan teliti terhadap pengaruh suhu penyimpanan dan pH.


BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di laboratorium Kimia Farmasi, Prodi S1

Farmasi, STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi pada bulan Februari sampai

Juni 2017.

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Spektrofotometri UV-

Vis Shimadzu 2450, alat-alat gelas seperti beaker gelas (pyrex), pipet ukur

(pyrex), labu ukur (pyrex), pipet tetes dan cuvet, syringe, neraca analitik, pH

meter (Hanna Instrumental), aluminium foil, serta kertas saring.

Bahan yang akan digunakan untuk penelitian ini yaitu asam askorbat

(Vitamin C), asam sitrat, asam fosfat pekat, akuades, dan buah jamblang

(Syzigium cumini L).

3.3. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental dan

penelitian deskritif, dengan variabel bebasnya yaitu suhu penyimpanan dan

pH, sedangkan variabel terikatnya yaitu kadar vitamin C pada buah jamblang

(Syzigium cumini L) dengan metode spektrofotometri UV-Vis.

16
17

3.4. Prosedur Penelitian

3.4.1. Preparasi buah jamblang (Syzigium cumini L)

Buah jamblang dicuci bersih, pisahkan bijinya dan kemudian

dipotong kecil-kecil kemudian diblender. Setelah diblender,

diambil larutannya lalu disaring kemudian larutan buah jamblang

(500 mL) disimpan pada suhu dingin (2-8 0C), suhu sejuk (9-15 0C)

dan suhu kamar (15-28 0C) selama 3 hari dan 7 hari.

3.4.2. Pembuatan Larutan Induk Vitamin C 100 ppm

Asam askorbat ditimbang sebanyak 50 mg kemudian

dimasukkan kedalam labu ukur 500 mL dan dilarutkan dengan

aquades sampai tanda batas (Wardani, 2012)

3.4.3. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Larutan Vitamin C

Dibuat konsentrasi 2 ppm dengan cara dipipet 1 mL larutan

vitamin C 100 ppm dan dimasukkan kedalam labu ukur 50 mL.

Lalu ditambahkan aquades sampai tanda batas dan dihomogenkan.

Diukur serapan maksimum pada panjang gelombang 200-400 nm

dengan menggunakan blanko aquades (Karinda, M dkk., 2013).

3.4.4. Pembuatan Kurva Kalibrasi

Dipipet larutan vitamin C 100 ppm kedalam labu ukur 50 mL

masing-masing sebesar 2 mL, 4 mL, 6 mL, dan 8 mL (4 ppm, 8

ppm, 12 ppm, dan 16 ppm). Kemudian dittambahkan aquades

hingga tanda batas lalu dihomogenkan dan diukur serapannya pada

panjang gelombang maksimum yang diperoleh (Wardani, 2012).


18

3.4.5. Penentuan Kadar Sampel

3.4.5.1. Pengaruh suhu dan lama penyimpanan

Sampel (buah jamblang) 1 mL dimasukkan dalam labu

ukur 10 mL lalu ditambahkan aquades sampai tanda batas

kemudian dihomogenkan dan diukur serapannya pada

panjang gelombang maksimum yang didapat (Karinda, M

dkk., 2013).

3.4.5.2. Pengaruh pH

Sampel (buah jamblang) 1 mL dimasukkan dalam labu

ukur 10 mL lalu ditambahkan aquades sampai tanda batas

kemudian dihomogenkan. Kemudian atur pH menjadi 2, 3, 4,

7 dan 10 dengan menambahkan asam asetat atau natrium

hidroksida. Setelah itu diukur serapannya pada panjang

gelombang maksimum yang didapat (Fodor dkk., 2007).


19

Buah Jamblang (Syzygium cumini .L)


Di Bersihkan , Dirajang, Di Blender
Sari buah Jamblang

Pengujian kadar vitamin C


dengan spektrofotometri UV-Vis.

Pengaruh Suhu dan Lama Pengaruh pH


Penyimpanan

Sampel (buah jamblang)


Sampel (500 mL) disimpan pada suhu
1 mL dalam labu ukur 10 mL
dingin(2-8 oC), suhu sejuk (8-15 oC) dan suhu
kamar (15-28 oC) selama 3 hari dan 7 hari
Atur pH menjadi 2, 3, 4, 7 dan 10
dengan ditambah asam asetat atau
Sampel (buah jamblang) 1 mL
natrium hidroksida
dalam labu ukur 10 mL

Diukur serapannya pada panjang


gelombang yang didapat

Analisis Data
Bagan 1. Skema Penelitian

3.5. Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA pada taraf signifikasi

95 %, dan jika ada beda nyata dilanjutkan uji Duncan (Rachmawati, 2009).
20

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental tentang pengaruh pH,

suhu dan lama penyimpanan terhadap kadar vitamin C buah Jamblang (Syzygium

cumini .L). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pH, suhu dan lama

penyimpanan memiliki pengaruh terhadap kadar vitamin C buah Jamblang.

4.1. Determinasi Tanaman

Determinasi tanaman bertujuan untuk mengetahui kebenaran identitas

suatu tanaman, apakah tanaman tersebut benar-benar tanaman yang

diinginkan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan dalam

pengumpulan bahan yang akan diteliti. Buah Jamblang (Syzygium cumini .L)

yang digunakan untuk penelitian ini dideterminasi di Laboratorium B iologi

Farmasi, Prodi S1 Farmasi, STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi.

Berdasarkan hasil determinasi, dapat dipastikan bahwa tanaman yang

digunakan dalam penelitian ini adalah spesies Syzygium cumini .L (Lampiran

1).

4.2. Analisis Kadar Vitamin C

Analisis kadar vitamin C pada buah Jamblang (Syzygium cumini .L)

dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Spektrofotometri UV-Vis

merupakan perangkat lunak yang mudah digunakan untuk instrumentasi

analisis dan mikrokomputer, selain itu banyak digunakan di berbagai bidang

analisis kimia terutama farmasi (Karinda, dkk., 2013).


21

Hal pertama yang dilakukan pada analisis kadar vitamin C yaitu

membuat larutan induk vitamin C 100 ppm, yang akan digunakan dalam

menentukan panjang gelombang maksimum dari larutan vitamin C pada

rentang 200-400 nm. Panjang gelombang maksimum merupakan panjang

gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal dari larutan baku pada

konsentrasi tertentu (Rohman, 2007).

Panjang gelombang maksimum larutan standar vitamin C dari hasil yang

diperoleh yaitu 283,5 nm. Selanjutnya langkah yang dilakukan yaitu

membuat deret larutan standar untuk menentukan kurva baku larutan standar

vitamin C. Deret larutan standar tersebut diukur absorbansinya pada panjang

gelombang maksimum yang didapatkan dengan menggunakan

spektrofotometri UV-Vis. Selanjutnya, absorbansi yang telah didapat

digunakan pada perhitungan persamaan regresi linier dari kurva.

0.5 Kurva Baku Larutan Standar Vitamin C


0.4
0.3 r = 0,9983
Absorbansi
0.2
0.1
0
2 ppm 6 ppm 10 ppm 14 ppm 18 ppm
Konsentrasi
Gambar 4. Grafik Kurva Baku Larutan Standar Vitamin C

Hasil dari perhitungan persamaan regresi linier diperoleh persamaan

garis y = 0,0348 + 0,0218x dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,9983.

Hasil tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat korelasi yang positif antara

kadar dan serapan, sehingga dengan meningkatnya konsentrasi, maka

absorbansi juga akan meningkat (Rohman, 2007).


22

Penentuan uji sampel dilakukan dengan cara memisahkan daging buah

jamblang dengan bijinya terlebih dahulu. Daging buah diblender dan disaring

sehingga didapat filtrat atau sari buah jamblang. Filtrat yang sudah didapat

disimpan pada suhu dingin (2-8 0C), suhu sejuk (8-15 0C) dan suhu kamar

(15-28 0C) selama 3 hari dan 7 hari. Sebelum dilakukan penyimpanan,

terlebih dahulu sampel dilakukan pengukuran absorbansi. Hal ini bertujuan

untuk mengetahui kadar vitamin C awal yang terkandung pada sampel

sebelum dilakukan variasi suhu penyimpanan.

Suhu Dingin Suhu Sejuk Suhu Kamar


Perlakuan
3 Hari 7 Hari 3 Hari 7 Hari 3 Hari 7 Hari
Replikasi 10,075 0,098
Replikasi 20,070 0,098
Replikasi 30,105 0,094
Kadar Rata-2,22

rata

Rata-rata Kadar Vitamin C terhadap Pengaruh Suhu dan Lama


Penyimpanan
3
2.5
Kadar (ppm)

2
3 Hari
1.5
7 Hari
1
0.5
0
Tanpa Perlakuan Suhu Dingin Suhu Sejuk Suhu Kamar

Suhu Penyimpanan (0C)

Gambar 5. Grafik Rata-rata Kadar Vitamin C pada Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan

Besarnya serapan yang dihasilkan, selanjutnya digunakan untuk

menghitung kadar vitamin C yang terkandung dalam sampel. Hasil penelitian


23

kadar rata-rata vitamin C awal (0 hari atau tanpa perlakuan) adalah 2,79 ppm.

Hasil perlakuan suhu dingin terhadap penurunan kadar vitamin C awal, lebih

rendah dibandingkan perlakuan suhu sejuk maupun suhu kamar. Hal ini

disebabkan pada suhu dingin, asam askorbat oksidase yang berperan dalam

perombakan vitamin C mengalami penurunan aktivitas akibat suhu pendinginan.

Stabilitas vitamin C biasanya meningkat dengan penurunan suhu penyimpanan,

akan tetapi selama pembekuan terjadi kerusakan jaringan yang cukup besar pada

bahan yang disimpan, sehingga menyebabkan stabilitas vitamin C menurun

(Andarwulan dkk, 1992; Safaryani, 2007).

Sampel pada suhu kamar memiliki penurunan kadar vitamin C paling

besar dibandingkan suhu penyimpanan yang lain. Hal ini disebabkan pada suhu

kamar respirasi berlangsung cepat, sehingga terjadi kenaikan jumlah asam-asam

organik yang mengakibatkan turunnya pH dari sampel. Umumnya vitamin C

cukup stabil dalam suasana asam. Selain itu pada suhu kamar, kondisi lingkungan

tidak dapat dikendalikan dari adanya panas dan oksigen, sehingga vitamin C lebih

mudah teroksidasi (Sudarmadji, 2007; Rachmawati, 2009).

Rata-rata Kadar Vitamin C terhadap Pengaruh pH


3
2.5
2
1.5
Kadar (ppm)
1
0.5 Kadar (ppm)
0
-0.5
Tanpa pH 2 pH 3 pH 4 pH 7 pH 10
Perlakuan
-1
Pengaturan pH

Gambar 6. Grafik Rata-rata Kadar Vitamin C terhadap Pengaruh pH


24

Selain pengaruh suhu penyimpanan, sampel juga diuji terhadap pengaruh

pH. Tujuannya yaitu untuk mengetahui apakah vitamin C dapat dipengaruhi dari

berbagai macam pH. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kadar vitamin C

tertinggi terdapat pada pH 2. Hal ini menunjukkan bahwa nilai pH memiliki

pengaruh pada stabilitas dari vitamin C, jika pH lebih tinggi dari 4 maka vitamin

C akan membusuk. Namun pada kasus pH 2 mengalami pembusukan yang lebih

sedikit, hal ini dikarenakan vitamin C yang teroksidasi yakni asam

dehidroaskorbat dapat menjadi asam askorbat kembali dengan adanya

penambahan asam. Selain itu larutan vitamin C paling stabil pada pH dibawah 4,

yakni pada rentang 2,1-2,6 (FAO/WHO, 1998; Fodor, 2008; Widiastuti, 2010;

Thurnman dkk, 2000; Wardani, 2012).

(-2H+)
Reduction

(+2H+)
Oxidation

Gambar 7. Reduksi-Oksidasi Asam Askorbat (Orozco dkk, 2012)

Selain dari pH asam, vitamin C juga dapat dipengaruhi oleh pH netral dan

pH alkali. Hal ini ditunjukkan dari hasil yang didapat lebih sedikit dibanding pH 2

dan pada saat sebelum dilakukan perubahan pH. Umumnya vitamin C lebih stabil

pada pH asam dibandingkan pH netral maupun pH alkali. Vitamin C dapat

dioksidasi menjadi asam L-dehidroaskorbat jika terpapar suasana alkali


25

(FAO/WHO, 1998; Fodor, 2008; Widiastuti, 2010; Thurnman dkk, 2000;

Wardani, 2012).

Hasil uji Duncan untuk lama penyimpanan 3 hari, menunjukkan bahwa

kadar vitamin C awal saling berbeda nyata pada suhu sejuk dan suhu kamar tetapi

tidak berbeda nyata pada suhu dingin. Sedangkan hasil uji Duncan tanpa

membandingkan kadar vitamin C awal, menunjukan bahwa pada perlakuan suhu

sejuk dibandingkan suhu dingin dan suhu kamar menunjukkan hasil berbeda tidak

nyata, namun pada suhu kamar dengan suhu dingin saling berbeda nyata.

Perlakuan yang disimpan selama 7 hari pada suhu kamar, suhu sejuk dan suhu

dingin dibandingkan dengan kadar vitamin C awal menunjukkan saling berbeda

nyata.

Hasil dari tiap suhu penyimpanan selama 3 hari dengan 7 hari juga

menunjukkan hasil saling berbeda nyata, namun tidak pada penyimpanan suhu

kamar. Hasil dari pengaruh pH menunjukkan bahwa pada perlakuan pH 2, 3, 4, 7,

10 dan tanpa perlakuan saling berbeda nyata, namun pada pH 3 dan pH 10

menunjukan saling berbeda tidak nyata.


BAB 5

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh

kesimpulan sebagai berikut :

1. Suhu berpengaruh nyata terhadap kandungan vitamin C pada buah

Jamblang. Semakin tinggi suhu maka kandungan vitamin C semakin

menurun.

2. Penyimpanan suhu dingin (2-8 0C) selama 7 hari lebih optimal untuk

mempertahankan kandungan vitamin C buah Jamblang yaitu sebesar 2,69

ppm, sedangkan kandungan vitamin C terendah terdapat pada

penyimpanan suhu kamar (15-28 0C) selama 3 hari yaitu sebesar 1,20

ppm.

3. Pengaturan pH berpengaruh nyata terhadap kandungan vitamin C pada

buah Jamblang. Kestabilan vitamin C pada buah Jamblang diperoleh

pada pH asam yaitu pH 2 dengan kadar vitamin C sebesar 1,54 ppm.

5.2. Saran

26
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh lama

penyimpanan terhadap kandungan vitamin C pada buah Jamblang. Hal ini

dilakukan untuk mengoptimalkan pengaruh pH, suhu dan lama penyimpanan

terhadap stabilitas vitamin C pada buah Jamblang.

27
DAFTAR PUSTAKA

Andarwulan, N. dan Sutrisno K. 1992. Kimia Vitamin. Rajawali. Jakarta


Anonim. 2014. USA Department Of Agriculture, http://plants.usda.gov. Diakses
pada Oktober 2016.

Anwar, Syamsul. 2006. Konsep Kimia Instrumental Seri: Kromatografi &


Spektrometri. Semarang: Universitas Diponegoro.
Ayyanar, M dan Pandurangan, SB. 2012. Syzygium cumini (L.) Skeels: A review
of its phytochemical constituents and traditional uses. Asian Pacific
Journal of Tropical Biomedicine, Vol. 3. No. 2.

Azwar, Asrul. 2010. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta: Bina Rupa


Aksara

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). 2005. Tanaman Obat


Indonesia. www.iptek.net.id/ind/od/tanobat. (diakses pada 26 Januari
2017)

Baliga, M S., Harshith P. Bhat., Bantwal Raghavendra Vittaldas Baliga., Rajesh


Wilson., Princy Louis Palatty. 2011. Phytochemistry, Traditional
Uses and Pharmacology of Eugenia jambolana Lam. (Black Plum):
A Review, Elsevier Ltd. Food Research International, Vol. 30. No.
30.

Breysse, PN & Lees, PSJ. 2003. Chapter 11. Analysis of Gases and Vapors.
Dalam buku The Occupational Environmen: Its Evaluation, control
and Management. 2nd edition. Salvatore R. DiNardieds. American
Industrial Hygene Association (AIHA) Press.

Dalimartha, S. 2003. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3. Jakarta: Trubus


Agriwidya.

Day JR, R. A. dan AL Underwood. 2002. Kimia Kuantitatif. Jakarta: PT.


Gramedia Pustaka Utama.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.

FAO/WHO. 1998. Expert Consultation on Human Vitamin and Mineral


Requirements, Vitamin C, Bangkok, Thailand, Food and Nutrition
Division FAO, Rome, pp. 73-80.

28
Ferry, I Gusti., Manuntun Manurung., Ni Made Puspawati. 2015. Efektivitas
Antosianin Kulit Buah Jamblang (Syzygium cumini) sebagai
Penurun Low Density Lipoprotein Darah Tikus Wistar yang
Mengalami Hiperkolesterolemia. Cakra Kimia (Indonesian E-
Journal of Applied Chemistry) Vol. 3. No. 12, Mei 2015.

Fodor P., Emese Jeney-Nagymate. 2007. The Stability of Vitamin C in Different


Beverages. Budapest: Corinus University of Budapest.
Ghani, Abdul. 2011. Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi-fraksi Hasil Pemisahan
Ekstrak Etil Asetat Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa)
dengan Metode Penangkapan Radikal DPPH (1,1-difenil-1-
pikrilhidarazil). Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Strata Satu UIN
Sunan Kalijaga.

Jin, L., Yanlong Zhang., Linmao Yan., Yulong Guo., Lixin Niu. 2012. Phenolic
Compound and Antioxidan Activity of Bulb Extract of Six Lilium
Species Native to China. Molecules. Vol. 17. No. 8.

Karinda, Monalisa., Fatimawali., Gayatri Citraningtyas. 2013. Perbandingan Hasil


Penetapan Kadar Vitamin C Mangga Dodol dengan Menggunakan
Metode Spektrofotometri UV-Vis dan Iodometri. Jurnal Ilmiah
Farmasi UNSRAT Vol. 2 No. 01.
Masitoh, Siti. 2014. Titrasi Iodimetri Penentuan Kadar Vitamin C. Skripsi.
Jakarta: Program Studi Pendidikan Kimia UIN Syarif Hidayatullah.

Miller, AL. 1996. Antioxidant flavonoids: structure, function, and clinical usage.
Alternative Medicine Review, Vol. 1. No. 2.

Mudiana, D. 2006. Perkecambahan Syzygium cumini (L.) Skeels. Pasuruan: Balai


Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Orozco FG, Failla ML. 2013. Biological activities and bioavailability of


mangosteen xanthones: a critical review of the current evidence. J
Nut. Vol. 5 No.8.

Perdana, A. 2010. Vitamin C Tinggi pada Buah. Diakses 8 Januari 2011.


http://www.adityaperdana.web.id/vitamin-c-tinggi-padabuah.html
Perricone, N. 2007. The Perricone Prescription. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta
Pokorny, J., Yanishlieva, N., and Gordon, M. 2001. Antioxidant in food, Practical
Application. New York: CRC Press,

29
Prasko, 2012. Khasiat dan Manfaat Duwet. http://www.prasko.com (diakses, 26
Januari 2017).

Prior R L. 2003. Fruits and Vegetables in The Prevention of Cellular Oxidative


Damage. American Journal of Clinical Nutrition. Vol. 78. No. 3.

Rachmawati, Rani., Made Ria Defiani., Ni Luh Suriani. 2009. Pengaruh Suhu dan
Lama Penyimpanan terhadap Kandungan Vitamin C pada Cabai
Rawit Putih (Capsicum frustescens). Jurnal Biologi Vol. XIII. No. 2.
Ramya, S., Neethirajan, K., Jayakumararaj, R. 2012. Profile of bioactive
compounds in Syzygium cumini. Journal of Pharmacy Research,
Vol. 5. No. 8.

Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Cetakan I. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar.
Rowe, Raymond. C. 2006. Pharmaceutical Excipients. Fifth Edition. USA:
Pharmaceutical Press.
Rusli, Raisani. 2009. Penetapan Kadar Boraks pada Mie Basah yang Beredar di
Pasar Ciputat dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis
Menggunakan Pereaksi Kurkumin. Skripsi. Jakarta: fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah.
Safaryani, Nurhayati., Sri Haryanti., Endah Dwi Hastuti. 2007. Pengaruh Suhu
dan Lama Penyimpanan terhadap Penurunan Kadar Vitamin C
Brokoli (Brassica oleracea L.). Buletin Anatomi dan Fisiologi.
Volume. XV. No. 2.

Sari, P., Wijaya, C. H., Sajuthi, D., dan Supratman, U. 2009. Identifikasi Buah
Duwet (Syzygium cumini) Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi-diode Array Detection. Jurnal Teknologi dan Industri
Pangan, Volume. XX. No. 2.

Sudarmaji, S., B. Haryono dan Suhardi. 2007. Analisa Bahan Makanan dan
Pertanian. Liberty. Yogyakarta.

Surakhmad, Winarno. 1982. Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar. Bandung:


Teknik Tarsito.

Thurnman, D. I., Bender, d. A., Scott, J., dan Halsted, C. H. 2000. Water Soluble
Vitamins in Human Nutritions and Dietatics. United Kingdom:
Harcoourt Publishers Limited.
Wardani, L. A., 2012. Validasi Metode Analisis dan Penentuan Kadar Vitamin C
pada Minuman Kemasan dengan Spektrofotometri UV-Vis. Skripsi.

30
Depok: Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi
Kimia Universitas Indonesia.

Widiastuti, H. 2010. Standarisasi Vitamin C pada Buah Bengkuang (Pachyrhizus


erosus) secara Spektrofotometri UV-Vis. Jurnal Fitofarmaka Vol 2
No 1

Winarsi, H. 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Yogyakarta: Penerbit


Kanisius.

Yadav, Amita., JP Yadav Manila Yadav., Sandeep Kumar., Dushyant Sharma.


2014. Evaluation of In Vitro Antimicrobial Potential of Endophytic
Fungi Isolated From Eugenia jambolana Lam. International Journal
of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. Vol 6. No. 5.

Zhang, LL and Lin, YM. 2009. Antioxidant tannins from Syzygium cumini fruit.
African Journal of Biotechnology. Vol. 8 No. 10.

31
LAMPIRAN

32
Lampiran 1. Determinasi Tanaman Jamblang (Syzygium cumini L.)

33
Lampiran 2. Surat Izin Kesbangpol dan Linmas

34
Lampiran 3. Surat Izin BAPPEDA

35
Lampiran 4. Surat Izin Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal

36
Lampiran 5. Proses Penyiapan Sampel

Penimbangan Sampel Sampel diblender

Penyaringan Filtrat Penyimpanan Filtrat dalam Botol

37
Lampiran 6. ProsesPembuatan larutan induk Vitamin C 100 ppm

Penimbangan Vitamin C Vitamin C Dilarutkan pada Labu Ukur


100 mL

Pengenceran Konsentrasi Vitamin C

38
Lampiran 7. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Larutan Vitamin C

Larutan Vitamin C 2 ppm

Penentuan Panjang Gelombang Maksimum

39
Lampiran 8. Pembuatan Kurva Kalibrasi (2 ppm, 6 ppm, 10 ppm, 14 ppm dan 18
ppm)

Larutan Vitamin C konsentrasi 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, 10 ppm dan 12 ppm.

Larutan Vitamin C konsentrasi 14 ppm, 16 ppm, 18 ppm dan 20 ppm

40
Lampiran 9. Pengujian Absorbansi Sampel
A. Pengujian Sampel Tanpa perlakuan (Kadar Vitamin C awal)

Larutan Sampel 2 ppm Absorbansi Sampel


B. Pengujian Sampel Penyimpanan Suhu Kamar selama 3 hari

Larutan Sampel Setelah Disimpan Larutan Sampel 2 Absorbansi Sampel


pada Suhu Kamar Selama 3 Hari ppm

41
C. Pengujian Sampel Penyimpanan Suhu Kamar Selama 7 Hari

Larutan Sampel Setelah Disimpan Larutan Sampel 2 Absorbansi Sampel


pada Suhu Kamar Selama 7 Hari ppm

D. Penyimpanan Sampel pada Suhu dingin (2-8 0C)

Larutan Sampel Sebelum Disimpan pada Suhu Dingin

Alat Pendingin Untuk Menyimpan Sampel Suhu Dingin

42
E. Pengujian Sampel Penyimpanan Suhu dingin selama 3 hari

Larutan Sampel Setelah Disimpan Larutan Sampel 2 Absorbansi Sampel


pada Suhu Dingin Selama 3 Hari ppm

F. Pengujian Sampel Penyimpanan Suhu dingin selama 7 hari

Larutan Sampel Setelah Disimpan Larutan Sampel 2 Absorbansi Sampel


pada Suhu Dingin Selama 3 Hari ppm

G. Penyimpanan Sampel pada Suhu Sejuk (8-15 0C) Selama 3 hari dan 7 hari

Larutan Sampel Sebelum Disimpan Pengukur Suhu Sejuk


pada Suhu Sejuk

43
H. Pengujian Sampel Penyimpanan Suhu Sejuk (8-15 0C) Selama 3 Hari

Larutan Sampel Setelah Disimpan Larutan Sampel 2 Absorbansi Sampel


pada Suhu Sejuk Selama 3 Hari ppm

I. Pengujian Sampel Penyimpanan Suhu Sejuk (8-15 0C) Selama 7 Hari

Larutan Sampel Setelah Disimpan Larutan Sampel 2 Absorbansi Sampel


pada Suhu Sejuk Selama 3 Hari ppm

J. Pengujian Sampel pH 4

Larutan Sampel 2 ppm pH 4 Absorbansi Sampel

44
K. Pengujian Sampel pH 3

Larutan Sampel 2 ppm pH 3 Absorbansi Sampel


L. Pengujian Sampel pH 2

Larutan Sampel 2 ppm pH 4 Absorbansi Sampel


M. Pengujian SampelpH 7

Larutan Sampel 2 ppm pH 4 Absorbansi Sampel

45
N. Pengujian Sampel pH 10

Larutan Sampel 2 ppm pH 4 Absorbansi Sampel

46
Lampiran 10. Perhitungan Persamaan Linear

Konsentrasi (x) Absorbansi (y)


2 ppm 0,079
6 ppm 0,158
10 ppm 0,258
14 ppm 0,350
18 ppm 0,419
r = 0,9983

Persamaan Linier : y = a + bx

y = 0,0348 + 0,0218x

47
Lampiran 11. Perhitungan Kadar Vitamin C
A. Tanpa Perlakuan (Kadar Vitamin C Awal)

Replikasi 1 y=a+bx

0,088−0,0348
x= =2,44 ppm
0,0218

0,0992−0,0348
Replikasi 2 x= =2,62 ppm
0,0218

0,107−0,0348
Replikasi 3 x= =3,31 ppm
0,0218

2,44+2,62+3,31
Kadar Rata−rata= =2,79 ppm
3

B. Suhu Kamar (15-28 0C) Selama 3 Hari

0,059−0,0348
Replikasi 1 x= =1,11 ppm
0,0218

0,061−0,0348
Replikasi 2 x= =1,20 ppm
0,0218

0,063−0,0348
Replikasi 3 x= =1,29 ppm
0,0218

1,11+1,20+1,29
Kadar Rata−rata= =1,20 ppm
3

C. Suhu Kamar (15-28 0C) Selama 7 Hari

0,062−0,0348
Replikasi 1 x= =1,25 ppm
0,0218

0,062−0,0348
Replikasi 2 x= =1,25 ppm
0,0218

0,081−0,0348
Replikasi 3 x= =2,12 ppm
0,0218

1,25+1,25+2,12
Kadar Rata−rata= =1,54 ppm
3

D. Suhu Dingin (2-8 0C) Selama 3 Hari

48
0,075−0,0348
Replikasi 1 x= =1,84 ppm
0,0218

0,070−0,0348
Replikasi 2 x= =1,61 pp m
0,0218

0,105−0,0348
Replikasi 3 x= =3,22 ppm
0,0218
1,84+1,61+3,22
Kadar Rata−rata= =2,22 ppm
3
E. Suhu Dingin (2-8 0C) Selama 7 Hari

0,098−0,0348
Replikasi 1 x= =2,90 ppm
0,0218

0,094−0,0348
Replikasi 2 x= =2,72 ppm
0,0218

0,088−0,0348
Replikasi 3 x= =2,44 ppm
0,0218

2,90+2,72+2,44
Kadar Rata−rata= =2,69 ppm
3

F. Suhu Sejuk (8-15 0C) Selama 3 Hari

0,080−0,0348
Replikasi 1 x= =2,07 ppm
0,0218

0,060−0,0348
Replikasi 2 x= =1,16 ppm
0,0218

0,062−0,0348
Replikasi 3 x= =1,25 ppm
0,0218

2,07+1,16+1,25
Kadar Rata−rata= =1,49 ppm
3

G. Suhu Sejuk (8-15 0C) Selama 7 Hari


0,087−0,0348
Replikasi 1 x= =2,39 ppm
0,0218

0,088−0,0348
Replikasi 2 x= =2,44 ppm
0,0218

0,087−0,0348
Replikasi 3 x= =2,39 ppm
0,0218

49
2,39+2,44+2,39
Kadar Rata−rata= =2,41 ppm
3

H. pH 4

0,039−0,0348
Replikasi 1 x= =0,19 ppm
0,0218

0,039−0,0348
Replikasi 2 x= =0,19 ppm
0,0218

0,040−0,0348
Replikasi 3 x= =0,24 ppm
0,0218

0,19+0,19+0,24
Kadar Rata−rata= =0,21 ppm
3

I. pH 3

0,054−0,0348
Replikasi 1 x= =0,88 ppm
0,0218

0,052−0,0348
Replikasi 2 x= =0,79 ppm
0,0218

0,052−0,0348
Replikasi 3 x= =0,79 ppm
0,0218

0,88+0,79+0,79
Kadar Rata−rata= =0,82 ppm
3

J. pH 2

0,064−0,0348
Replikasi 1 x= =1,34 ppm
0,0218

0,064−0,0348
Replikasi 2 x= =1,34 ppm
0,0218

0,065−0,0348
Replikasi 3 x= =1,38 ppm
0,0218

1,34+1,34 +1,38
Kadar Rata−rata= =1,35 ppm
3

K. pH 10

50
0,037−0,0348
Replikasi 1 x= =0,10 ppm
0,0218

0,037−0,0348
Replikasi 2 x= =0,10 ppm
0,0218

0,037−0,0348
Replikasi 3 x= =0,10 ppm
0,0218

0,10+0,10+ 0,10
Kadar Rata−rata= =0,10 ppm
3

L. pH 7

0,019−0,0348
Replikasi 1 x= =−0,72 ppm
0,0218

0,019−0,0348
Replikasi 2 x= =−0,72 ppm
0,0218

0,019−0,0348
Replikasi 3 x= =−0,72 p pm
0,0218

−0,72+ (−0,72 ) +(−0,72)


Kadar Rata−rata= =−0,72 ppm
3

51
Lampiran 12. Analisis Data

A. Analisis Kadar Vitamin C terhadap Pengaruh Suhu Penyimpanan

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Kadar

N 21

Normal Parametersa Mean 2.0486

Std. Deviation .71691

Most Extreme Absolute .188


Differences

Positive .188

Negative -.159

Kolmogorov-Smirnov Z .863

Asymp. Sig. (2-tailed) .446

Berdasarkan Kolmogorov-S}mirnov Test jika probabilitas > 0,05 maka


H0 diterima, jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak. Diketahui normalitas

52
didapatkan harga signifikasi 0,863, hal ini menunjukkan bahwa data
terdistribusi normal.

Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic df1 df2 Sig.

5.276 6 14 .005

Uji homogenitas Levene Statistic jika probabilitas > 0,05 maka H 0


diterima, jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak. Diketahui nilai
probabilitas 0,005. Hal ini menunjukkan bahwa data tidak homogen.

53
ANOVA

Sum of Mean
Squares Df Square F Sig.

Between (Combined) 7.208 6 1.201 5.476 .004


Groups

Linear Contrast 18.03


3.956 1 3.956 .001
Term 6

Deviation 3.252 5 .650 2.965 .050

Within Groups 3.071 14 .219

Total 10.279 20

Berdasarkan uji ANOVA jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima,


jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak. Diketahui normalitas didapatkan
harga signifikasi 0,004, hal ini menunjukkan ada perbedaan bermakna. Uji
dilanjut menggunakan Uji Duncan.

Uji Duncan

54
Subset for alpha = 0.05

Perlakuan N 1 2 3

Suhu kamar 3 Hari 3 1.2000

Suhu sejuk 3 Hari 3 1.4933 1.4933

Suhu kamar 7 Hari 3 1.5400 1.5400

Suhu dingin 3 Hari 3 2.2233 2.2233

Suhu sejuk 7 Hari 3 2.4067

Suhu dingin 7 Hari 3 2.6867

Tanpa Perlakuan 3 2.7900

Sig. .413 .090 .192

55
B. Analisis Kadar Vitamin C terhadap Pengaruh pH

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Kadar

N 18

Normal Parametersa Mean .7583

Std. Deviation 1.15443

Most Extreme Differences Absolute .173

Positive .173

Negative -.118

Kolmogorov-Smirnov Z .735

Asymp. Sig. (2-tailed) .652

56
Berdasarkan Kolmogorov-S}mirnov Test jika probabilitas > 0,05 maka
H0 diterima, jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak. Diketahui normalitas
didapatkan harga signifikasi 0,652, hal ini menunjukkan bahwa data
terdistribusi normal.

Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic df1 df2 Sig.

10.683 5 12 .000

Uji homogenitas Levene Statistic jika probabilitas > 0,05 maka H 0


diterima, jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak. Diketahui nilai
probabilitas 0,005. Hal ini menunjukkan bahwa tidak homogen.

57
ANOVA

Sum of Mean
Squares Df Square F Sig.

Between (Combined) 22.226 5 4.445 124.072 .000


Groups

Linear Term Contrast 15.564 1 15.564 434.407 .000

Deviation 6.662 4 1.666 46.488 .000

Within Groups .430 12 .036

Total 22.656 17

Berdasarkan uji ANOVA jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima,


jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak. Diketahui normalitas didapatkan
harga signifikasi 0,004, hal ini menunjukkan ada perbedaan bermakna. Uji
dilanjut menggunakan Uji Duncan.

58
Duncan

Subset for alpha = 0.05

Perlakuan N 1 2 3 4 5

pH 7 3 -.7200

pH 10 3 .1000

pH 3 3 .2067

pH 4 3 .8200

pH 2 3 1.3533

Tanpa Perlakuan 3 2.7900

Sig. 1.000 .503 1.000 1.000 1.000

59