Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

KONSELING GIZI

KONSELING GIZI UNTUK CALON PENGANTIN


DAN IBU HAMIL

AMARUL ILMA TAKATSURI


18220007

PRODI D3 GIZI
POLITEKNIK KESEHATAN TNI AU ADISUTJIPTO
YAYASAN ADI UPAYA
TAHUN 2020

2
HALAMAN PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini saya Amarul Ilma Takatsuri


menyatakan bahwa laporan akhir praktikum Konseling Gizi dengan judul
“Konseling Gizi Untuk Calon Pengantin Dan Ibu Hamil” adalah pekerjaan saya
sendiri dan di dalamnya tidak terdapat karya orang lain. Apabila dikemudian hari
ditemukan karya orang lain dalam pekerjaan saya, maka saya siap menerima
sanksi yang berlaku.

Yogyakarta, 16 Maret 2020

Amarul Ilma Takatsuri

2
DAFTAR ISI

JUDUL ........................................................................................................ 1
HALAMAN PERNYATAAN .................................................................... 2
DAFTAR ISI ............................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 4
1.1. Latar Belakang ..................................................................................... 4
1.2. Tujuan ................................................................................................... 4
1.3. Sasaran .................................................................................................. 4
1.4. Manfaat ................................................................................................. 5
BAB II DASAR TEORI .............................................................................. 6
2.1. Konseling Gizi ...................................................................................... 6
2.2. Konseling Gizi Calon Pengantin .......................................................... 6
2.3. Lingkar Lengan Atas (LiLA) ................................................................ 6
2.4. Kekurangan Energi Kronik (KEK) ....................................................... 7
BAB III DESKRIPSI KASUS ..................................................................... 8
BAB IV DIALOG ....................................................................................... 9
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................... 13
5.1. Hasil ...................................................................................................... 13
5.2. Pembahasan .......................................................................................... 14
BAB VI PENUTUP...................................................................................... 15
6.1. Simpulan ............................................................................................... 15
6.2. Saran ..................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 16
LAMPIRAN ................................................................................................ 17

2
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kebutuhan gizi setiap orang berbeda-beda. Hal ini tergantung dari
beberapa hal, yang utama yaitu usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, dan
kondisi tubuh. Energi yang masuk ke dalam tubuh harus setidaknya sama
dengan energi yang dikeluarkan tubuh. Apabila terjadi ketidakseimbangan
dalam hal tersebut, maka tubuh dapat berisiko mengalami gizi kurang
maupun gizi lebih. Untuk itu, perlu diadakan semacam edukasi gizi oleh
orang yang berkompeten dalam bidang ini.
Edukasi gizi dapat dilakukan melalui berbagai cara salah satunya dengan
konseling. Konseling dapat dilakukan dimana saja dengan kondisi yang
kondusif dan kepada siapa saja. Salah satu sasaran konseling adalah
pasangan usia subur atau juga bisa terhadap calon pengantin. Pemberian
konseling ini dimaksudkan supaya saat berkeluarga dapat menjadi keluarga
yang sadar gizi dan dapat menghasilkan generasi penerus yang lebih baik.
Dan juga supaya mengurangi risiko terjadinya masalah gizi bagi pasangan
usia subur atau calon pengantin tersebut.

1.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah:
a. Untuk mengetahui contoh kasus konseling gizi pada calon pengantin.
b. Untuk mengetahui cara memberikan/ menyampaikan konseling yang
baik bagi calon pengantin.

1.3. Sasaran
Sasaran dari konseling gizi yang telah dilakukan sebelumnya ialah pada
calon pengantin dan ibu hamil, tetapi kedua sasaran tersebut dibagi untuk
beberapa kelompok dan penulis mendapat sasaran konseling gizi yaitu calon
pengantin.

2
1.4. Manfaat
Laporan ini memiliki manfaat yaitu sebagai evaluasi dari praktikum
konseling gizi yang telah dilakukan sebelumnya.

2
BAB II DASAR TEORI

2.1. Konseling Gizi


Konseling gizi merupakan salah satu bagian dari pendidikan gizi yang
bertujuan membantu masyarakat, kelompok atau individu untuk menyadari
dan mampu mengatasi masalah kesehatan dan gizi yang dialaminya. Dengan
demikian Konseling gizi adalah suatu proses memberi bantuan kepada orang
lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah
melalui pemahaman fakta-fakta, harapan, kebutuhan dan perasaan klien
(Sukraniti, dkk., 2018).

2.2. Konseling Gizi Calon Pengantin


Konseling gizi bagi calon pengantin yaitu pelayanan yang mendukung
untuk peningkatan kualitas ibu sehat supaya akan lahir bayi dan generasi
yang sehat pula. Selain itu, pelayanan konseling gizi ditujukan untuk
meningkatkan pengetahuan calon pengantin tentang gizi sehingga terwujud
keluarga yang sadar gizi. Peningkatan pengetahuan sangat penting karena
dari calon pengantin inilah akan dimulai keluarga baru yang membutuhkan
manajemen gizi yang bagus agar tercukupi kebutuhan gizi keluarga.
Pelayanan yang diberikan antara lain yaitu pengukuran antropometri
sehingga calon pengantin khususnya calon pengantin perempuan diketahui
status gizinya untuk menjadi dasar pada tahap konseling selanjutnya. Selain
pengukuran antropometri, dikaji juga data biokimia (kadar Hb), data klinis,
riwayat dan kebiasaan makan dengan FFQ atau Food Recall, dan riwayat
keluarga, serta aktifitas sehari hari (Website Puskesmas Sedayu II Bantul,
2017).

2.3. Lingkar Lengan Atas (LiLA)


Lingkaran lengan atas (LILA) sudah digunakan secara umum di
Indonesia untuk mengidentifikasi ibu hamil risiko Kurang Energi Kronis
(KEK). Batas ibu hamil yang disebut sebagai risiko KEK jika ukuran LILA

2
kurang dari 23,5 cm. Intervensi diperlukan untuk Wanita Usia Subur (WUS)
atau ibu hamil yang menderita risiko KEK. KEK pada orang dewasa dapat
diketahui dengan indeks massa tubuh (IMT) yang diukur dari perbandingan
antara berat dan tinggi badan. Jika IMT kurang dari 18,5 dikatakan sebagai
KEK. Akan tetapi pengukuran IMT memerlukan alat pengukur tinggi badan
dan berat badan.
Dibandingkan dengan pengukuran antropometri lain, pita LILA adalah
alat yang sederhana dan praktis untuk mengukur risiko KEK. Berbagai
penelitian baik di Indonesia maupun di luar negeri menunjukkan bahwa
LILA merupakan salah prediktor yang cukup baik untuk menentukan risiko
KEK. Selain itu LILA juga digunakan untuk prediktor terhadap risiko
melahirkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan kematian neonatal dini
(kurang dari satu minggu setelah dilahirkan) (Sandjaja, 2009).

2.4. Kekurangan Energi Kronik (KEK)


Berdasarkan Depkes RI (2002), KEK adalah keadaan dimana ibu
penderita kekurangan makanan yang berlangsung pada Wanita Usia Subur
(WUS) dan pada ibu hamil. Kurang gizi akut disebabkan oleh tidak
mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang baik
(dari segi kandungan gizi) untuk satu periode tertentu untuk mendapatkan
tambahan kalori dan protein (untuk melawan) muntah dan mencret
(muntaber) dan infeksi lainnya. Gizi kurang kronik disebabkan karena tidak
mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau makanan yang baik
dalam periode atau kurun waktu yang lama untuk mendapatkan kalori dan
protein dalam jumlah yang cukup, atau disebabkan menderita muntaber atau
penyakit kronis lainnya.
Menurut Helena (2013), beberapa dampak dari KEK saat kehamilan
antara lain:
a. Akibat KEK pada ibu hamil yaitu terus menerus merasa letih,
kesemutan, muka tampak pucat, kesulitan sewaktu melahirkan, dan ASI

2
yang keluar tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi sehingga bayi
akan kekurangan air susu ibu pada waktu menyusui.
b. Akibat KEK saat kehamilan terhadap janin yaitu keguguran, janin
terganggu hingga bayi lahir dengan berat lahir rendah (BBLR),
Perkembangan otak janin terlambat, hingga kemungkinan nantinya
kecerdasaan anak kurang, bayi lahir sebelum waktunya (prematur), dan
kematian bayi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi KEK di antaranya jumlah asupan
energi, umur,beban kerja ibu hamil, penyakit atau infeksi, pengetahuan ibu
tentang gizi, dan pendapatan keluarga (Djamaliah, 2008).

2
BAB III DESKRIPSI KASUS

Calon pengantin perempuan (Nn. Asriyani/ A) bersama calon pengantin


laki-lakinya (Tn. Razak/ R) datang ke RS dengan tujuan melakukan konseling gizi
pranikah. Berdasarkan data antropometri, Nn. A memiliki LiLA 21 cm dan IMT
yang hanya 17,7. Kebiasaan makan Nn. A yaitu 1-2 kali sehari dan jarang
mengkonsumsi sayur dikarenakan sedang menjalani skripsi. Aktivitas fisiknya
yaitu rutin olah raga. Sedangkan Tn. R tidak mengalami gangguan/ masalah
apapun. Riwayat makannya baik dengan aktivitas fisik yang juga rutin olah raga.
Kemudian konselor memberikan edukasi dan alternatif solusi bagi kedua calon
pengantin tersebut.

2
BAB IV DIALOG

Calon pengantin laki-laki : Razak (R)


Calon pengantin perempuan : Asriyani (A)
Konselor : Dita (D)

R : Assalamualaikum. (ketuk pintu)


D : Waalaikumussalam, silakan masuk.
A : Iya Bu, terima kasih.
D : Baik, sebelumnya saya sebagai ahli gizi di RS ini ingin menanyakan
tujuan mba dan mas datang ke pojok gizi RS kami. Namun sebelumnya
perkenalan dulu ya mas mba.
R : Nama saya Razak, umur 25 tahun, pekerjaan saya arsitektur.
A : Nama saya Asriyani, umur 21 tahun, saya mahasiswa UGM Fakultas
Teknik.
D : Oh baik mba mas, lalu keluhan mas sama mba ini apa ya? Bisa tolong
dijelaskan.
R : Jadi gini Bu, saya mau menikah dengan calon istri saya ini sekitar 5 bulan
lagi, setelah calon istri saya wisuda. Nah, kebetulah calon istri saya suka
olah raga tapi makannya tidak teratur.
A : Iya bu, soalnya saya itu kan masih skripsi dan banyak revisi dari dosen
saya, jadi makan saya tidak teratur.
D : Kalau boleh tau, data antropometri seperti BB, TB, dan tekanan darah mba
berapa ya?
A : Ooh ya Bu, saya tadi sudah diberi form data antropometrinya.
(menyerahkan form ke konselor)
D : Ooh baik mba, lalu mba sendiri pola makannya gimana ya?
A : Gak tentu si Bu, saya seringnya makan 2x sehari, tetapi kalau lagi padat
jadwalnya cuma sekali/ hari
R : Iya Bu, dia itu sudah saya ingatkan makan tetapi tetap ngeyel dan saya
juga sering mengantarkan makanan ke dia tetapi malah tidak dimakan.

2
D : Oh begitu, apakah ada keluhan lain yang ingin disampaikan?
R : Sudah si Bu, hanya itu aja. Kalau dari saya sendiri makannya teratur dan
saya juga sudah sering olah raga sama dia.
D : Baik mba mas, setelah saya lihat dari datanya, mba ini LiLA-nya Cuma 21
cm kurang dari 23,5 cm, nah kalau LiLA kurang dari 23,5 cm itu mba
berarti berisiko KEK. KEK itu Kekurangan Energi Kronik, jadi ini itu
berisiko tinggi pada WUS seperti mbaknya, penyebab KEK ini bisa terjadi
karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan. Selain itu beban kerja
juga merupakan faktor yang mempengaruhi KEK. Kalau saya boleh tau,
mbanya tinggal menunggu sidang atau masih skripsi?
A : Saya masih menyelesaikan skripsi soalnya saya banyak revisi dari dosen
saya.
R : Iya Bu, dia itu terlalu memaksakan diri untuk terus mengerjakan revisi
skripsi dari dosennya.
D : Ooh begitu, coba mbanya pelan-pelan ditingkatkan pola makannnya, kalau
bisa full 3x sehari. Sebelum ke kampus diusahakan sarapan atau kalau
benar-benar tidak sempat, bisa membawa bekal ataupun snack seperti roti,
arem-arem, dan yang lainnya. Olah raganya juga tetap dilanjutkan dan
juga kalau bisa tiap makan utama ada sayurnya walaupun Cuma 1 macam.
Dan 1 lagi mba, luangkan waktu untuk istirahat, jangan memaksakan diri,
nanti tubuh mba kelelahan.
A : Kalau saya benar-benar tidak sempat, gimana kalau saya makan snack aja
Bu? Karena kalau bawa bekal juga membutuhkan waktu yang lumayan
lama, harus memasak dulu, dll.
D : Iya gapapa mba, tetapi sedikit demi sedikit tetap diusahakan sarapan. Dan
pelan-pelan makannya ditingkatkan ya mba. Terus masnya juga harus ikut
memantau pola makan mbaknya
R : Iya Bu, saya juga akan berusaha mengontrol pola makannya dia.
D : Baik mas mba, apa masih ada keluhan lain yang ingin disampaikan?
A : Sepertinya sudah cukup Bu, hanya itu saja.

2
D : Jadi sesi konseling ini saya tutup ya mba, kalau berkenan bisa kita
jadwalkan untuk evaluasi dari yang sudah kita bahas hari ini.
A : Ooh iya Bu, saya kalau minggu depan bisanya hari Jum’at.
R : Baik mba, nanti saya masukkan jadwal saya.
D : Iya Bu terima kasih, saya izin pamit ya. Assalamualaikum.
R : Sama-sama mas mba, Waalaikumussalam.

2
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Praktikum

(Gambar 1. Pelaksanaan Praktikum Konseling Gizi Calon Pengantin)

(Gambar 2. Pelaksanaan Praktikum Konseling Gizi Calon Pengantin)

(Gambar 3. Pelaksanaan Praktikum Konseling Gizi Calon Pengantin)

2
5.2. Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, kelompok penulis
mendapat sasaran konseling gizi yaitu calon pengantin. Secara singkat
kasusnya adalah
terdapat keluhan/ masalah pada Nn. A karena memiliki LiLA 21 cm dan
IMT 17,7 sehingga dapat didiagnosis bahwa beliau mengalami risiko KEK.
Pola makan tidak teratur dengan aktivitas fisik yang rutin berolahraga.
Konselor memberi sedikit edukasi berupa faktor-faktor penyebab dan
dampak dari KEK. Setelah itu memberi beberapa alternatif solusi untuk
kedua calon pengantin dengan sedikit tawar-menawar.
Terdapat beberapa kekurangan dalam praktik konseling gizi calon
pengantin yang dilakukan, antara lain:
a. Konselor tidak menanyakan tanggal pernikahan dari calon pengantin.
b. Konselor tidak melakukan jabat tangan sehingga kurang terlihat ramah.
c. Seharusnya konselor mengatakan, “ Ada yang bisa saya bantu?” dan
bukan “Ada keluhan apa?” karena keluhan merupakan ranah dokter.
d. Penggunaan istilah “mas” dan “mba”, sebaiknya memanggil dengan
nama karena sudah ada perkenalan sebelumnya.
e. Pemilihan diksi yang kurang tepat di beberapa bagian sehingga terkesan
men-judge (menghakimi).
f. Konselor belum mengutarakan kembali poin-poin dari masalah yang
dikemukakan klien.
Untuk penyampaian materi konselor bahasanya sudah menggunakan
bahasa yang mudah dipahami oleh calon pengantin dan materinya sendiri
sudah dibuat supaya lebih sederhana. Sudah terjadi proses tawar menawar
solusi antara klien (calon pengantin) dan konselor. Penggunaan media
berupa leaflet pada konseling gizi ini cukup baik, hanya saja leaflet tersebut
hanya diberikan pada saat calon pengantinnya sudah selesai melakukan sesi
konseling jadi tidak terlalu maksimal manfaatnya.

2
BAB VI PENUTUP

6.1. Simpulan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
a. Diketahui salah satu contoh dari kasus konseling gizi bagi calon
pengantin dengan masalah yaitu risiko KEK.
b. Diketahui cara memberikan/ menyampaikan konseling gizi yang lebih
baik dengan melihat kekurangan yang ada pada praktikum sebelumnya.

6.2. Saran
Bagi klien (calon pengantin) supaya menyempatkan diri untuk datang
melakukan konseling gizi dan bagi konselor untuk lebih banyak belajar dari
pengalaman konseling sebelumnya supaya dalam konseling selanjutnya bisa
lebih maksimal.

2
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI, 2002. Pedoman Penanggulangan Ibu Hamil


Kekurangan Enargi Kronis. Direktorat Pembinaan Kesehatan
Masyarakat. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Djamaliah. (2008). Profil Ibu Hamil yang Mengetahui Kekurangan Energi Kronik
di Wilayah Kerja Puskesmas Klambu. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta

Helena. 2013. Gambaran Pengetahuan Gizi Ibu Hamil Trimester Pertama dan Pola
Makan dalam Pemenuhan Gizi di Wilayah Kerja Puskesmas Parsoburan
Kabupaten Toba Samosir. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Puskesmas Sedayu II Bantul. (2017). Konseling Gizi Calon Pengantin Sedayudua.


https://puskesmas.bantulkab.go.id/sedayu2/2017/09/15/konseling-gizi-
calon-pengantin-sedayudua/ (diakses pada 16 Maret 2020, pukul 21.08)

Sandjaja. (2009). Risiko Kurang Energi Kronis (KEK) Pada Ibu Hamil Di
Indonesia. Jurnal Gizi Indonesia. Vol. 2. No. 32. Hal. 128-138.

Sukraniti, Desak Putu, dkk. (2018). Konseling Gizi. Jakarta: Kementrian


Kesehatan Republik Indonesia.

2
LAMPIRAN

A. Media Konseling Gizi

(Gambar 4. Leaflet Konseling Gizi Calon Pengantin Bagian Depan)

(Gambar 5. Leaflet Konseling Gizi Calon Pengantin Bagian Belakang)